KasusJuly 1, 2009 4:29 am

Kalau pergi ke Candi Borobudur atau ke Pantai Samas atau Parangtritis dari Kota Yogyakarta, Anda akan menjumpai reklame yang disponsori sebuah merek rokok di depan pos-pos polisi lalu lintas, dengan tulisan mencolok: Obsesi Polisi: Siap Melayani Masyarakat. Sekilas, reklame itu memberi petunjuk seragam, bahwa dimana ada reklame itu, di situ juga polisi siap setiap saat untuk diminta pelayanannya oleh masyarakat.

Dua tahun lebih saya memperhatikan reklame semacam itu, yang ternyata dipasang di seluruh pos polisi lalu lintas yang ada di sepanjang utama dari Yogyakarta menuju Magelang, Solo atau ke arah Bantul. Hingga menjelang pergantian tanggal dari 30 Juni ke 1 Juli, tadi malam, saya masih menyaksikan reklame-reklame itu masih tegak berdiri, seolah menjadi petunjuk keberadaan polisi, sumbangan sebuah produsen rokok yang menjadikan obsesi sebagai tema utama kampanye pemasarannya.

Kalau di televisi iklan rokok itu menawarkan menjadi sutradara atau orator sebagai obsesi, menurut saya masih jauh lebih bagus meski kemasan pesannya tidak menarik. Terobsesi menjadi sutradara memberi pesan bahwa betapa tingginya derajat sutradara dalam sebuah kerja seni, baik itu dalam pembuatan film, maupun penciptaan karya tari, teater dan sebagainya.

Begitu pula dengan obsesi menjadi orator, maka citra yang disodorkan kepada khalayak adalah betapa hebatnya seorang orator. Selain harus memiliki kadar intelektualistas tertentu, seorang orator pasti mampu menyampaikan menyampaikan gagasannya secara memikat sehingga memiliki daya mempengaruhi orang lain.

Bagaimana bila kalimat Siap Melayani Masyarakat dijadikan sebagai SEBATAS obsesi bagi polisi?

Kalau saya seorang pejabat kepolisian yang memiliki kewenangan, maka tidak hanya akan memerintahkan pencopotan reklame-reklame itu. Kalau perlu, saya akan melakukan upaya hukum, setidaknya pernyataan keberatan atau somasi atas ditonjolkannya –bahkan bertahun-tahun, bahwa kesiapan melayani masyarakat hanyalah sebuah obsesi.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, obsesi berarti gangguan jiwa berupa pikiran yang selalu menghantui atau sangat sukar dihilangkan. Obsesi sendiri merupakan kata serapan dari Bahasa Inggris obsession yang berarti 1. godaan, gangguan pikiran, obsesi. 2. kesurupan/kemasukan setan.

Kalau mendasarkan pada pengertian gangguan jiwa yang selalu menghantui, maka Obsesi Polisi: Siap Melayani Masyarakat bisa dimaknai dengan bahasa yang kurang lebih demikian: kesiapan melayani masyarakat hanyalah semacam gangguan kejiwaan bagi polisi, sehingga tak tersisa ruang kesadaran untuk mewujudkannya. Padahal, sesuai mandat undang-undang, melayani masyarakat merupakan kewajiban setiap individu polisi, apalagi secara kelembagaan, sebab tugas polisi adalah menjaga keamanan dan ketertiban dalam setiap sendi kehidupan kemasyarakatan.

Lain halnya kalau pesan itu dimaksudkan sebagai olok-olok atas kenyataan bahwa persepsi masyarakat terhadap kinerja aparat kepolisian belum sepenuhnya memuaskan. Contohnya, penuntasan kasus-kasus besar yang dianggap lamban seperti terjadi pada penyelidikan kematian Nasrudin yang diduga melibatkan Antasari Azhar hingga razia lalu lintas atau tempat-tempat hiburan yang dianggap sering melanggar privasi masyarakat.

Sebagai warga negara yang baik dan merindukan dampak positif kinerja aparat kepolisian untuk mewujudkan tatana kehidupan kemasyarakatan yang aman, nyaman dan tenteram, maka saya sangat berkeberatan dengan pernyataan ‘kesiapan melayani’ hanya sebagas sebagai obsesi. Citra buruk akibat ulah sebagian oknum polisi tidak boleh dibenarkan dengan reklame menyesatkan semacam itu.

Kepolisian –bersama-sama dengan institusi kejaksaan dan pengadilan, bagi saya adalah ujung tombak yang mengawal terwujudnya kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang demokratis. Masyarakat yang sejahtera dan berkeadilan mustahil terwujud bila hukum tidak dikedepankan dan supremasi sipil dikesampingkan.

Penyelewengan aparat birokrasi berupa korupsi, kolusi dan nepotisme yang merugikan masyarakat mustahil dibongkar dan disidangkan tanpa bukti kerja aparat kepolisian yang terukur dan transparan. Pers yang bebas hanyalah pelengkap untuk memantau kinerja mereka sebagai mandat dari publik untuk mengawal tegaknya supremasi hukum.

Oleh karena itu, kesiapan melayani masyarakat tidak boleh lagi hanya menjadi obsesi, dimana kantor-kantor polisi tampak seperti rumah sakit bagi para penderita gangguan jiwa. Melayani masyarakat adalah kewajiban. Dan, kesiapan adalah sikap mental atau moralitas setiap anggota kepolisian. Bukan gangguan kejiwaan.

Berikut adalah sejumlah catatan saya tentang dunia kepolisian:
Star Mild Lecehkan Polisi
Razia Semau Gue ala Polisi Surakarta
Penjara adalah Sekolah
Setitik Nila pada Susu Polisi

TeaterJune 21, 2009 9:30 pm

Urusan mencari visa untuk bisa menginjakkan kaki di Amerika adalah urusan njlimet, verifikasi yang ekstrahati-hati, bahkan dengan semangat prasangka berlebihan. Apalagi di Kedutaan Amerika di Jakarta, yang dari arah Stasiun Gambir bisa kita saksikan sehari-hari seperti zona perang: kawat berduri, panser dan polisi Indonesia bersenjatakan senapan serbu.

Indonesia bagi Amerika adalah salah satu sarang teroris dunia, musuh utama Amerika sejak Bush berkuasa dan merasa tak punya musuh lagi setelah isu komunis dianggap usang. Apalagi, secara (mungkin) kebetulan, Amerika dan Indonesia telah ‘dipersatukan’ oleh kehadiran musuh yang sama: teroris beraroma Islam. Runtuhnya menara kembar WTC dan lelehan besi beton tempat hiburan di Legian adalah potret betapa sekelompok teroris Islam adalah musuh bersama.

Dan, ruwetnya birokrasi pengurusan visa adalah imbas. Amerika harus hati-hati, jangan sampai kemasukan orang Indonesia, apalagi berdalih kunjungan wisata. Mencegah lebih baik daripada mengobati, walau upaya pencegahan itu dilakukan dengan ketakutan dan prasangka teramat sangat. Dan itu pula yang mengilhami Goenawan Mohamad menulis Visa, sebuah naskah drama, yang berpijak pada perubahan sikap staf kedutaan Amerika terhadap calon tamu negaranya.

Maka yang terbayang di benak saya seusai membaca Visa, adalah ruang antrian yang bersih, teratur, dan suasana hening menegangkan. Hal yang sekurang-kurangnya bisa dibaca dari luar tembok pembatas kompleks: antrian panjang, di bawah sengatan sinar mentari, diawasi petugas pengamanan khusus yang disewa kedutaan serta polisi Indonesia bersenjata laras panjang!

***

Namun, bayangan tetaplah bayangan dan harapan akan kebenaran atas suasana serba tegang dan menyeramkan di Kedutaan Amerika, lenyap begitu menyaksikan pementasan Visa oleh Teater Lungid di Taman Budaya Surakarta, 21 Juni, malam. Bangku panjang untuk antri pemohon visa, mestinya jenis statis. Karenanya, sangat mengganggu ketika para aktor memindah kursi-kursi murahan (dan bertolak belakang dengan citra Amerika yang kaya dan moderen) seenaknya, demi blocking yang tampak semaunya.

Ruang tunggu menjadi gaduh oleh dialog antar-pengantri visa, yang keseluruhannya tampak mencitrakan sebagai kelas pekerja rendahan, buruh murah yang diidentikkan dengan TKI. Ya, Tenaga Kerja Indonesia! Padahal, di sana ada pengusaha berdarah Cina dan memiliki stereotip kaya. Juga ibu-ibu yang ingin berkunjung sekadar ingin menengok cucu setelah empat tahun tak bertemu.

Calon pengunjung Amerika, umumnya berbeda dengan calon pendatang ke Malaysia. Kalau tak untuk bekerja, urusan bisnis atau misi kesenian, pakansi, ya itu tadi: menengok cucu atau sanak-kerabat. Berbeda dengan rata-rata orang Indonesia yang datang ke Malaysia dengan kepentingan nyaris seragam: berharap hujan emas lantaran tak sanggup menghadapi hujan batu di negeri sendiri.

Dalam satu hal, eksplorasi Lungid cukup berhasil, terutama saat menghadirkan monitor besar sebagai pengganti desk staf verifikasi kelengkapan data formulir yang sudah harus diisi sebelumnya oleh para pemohon visa. Tapi sayangnya, ya baru pada sisi itulah tampak kepiawaian Djarot BD sebagai sutradaranya. Dialog pun masih tampak kedodoran, apalagi menilik pada salah satu aktor utama, yang mendominasi suasana, namun dengan intonasi yang selalu keras, dan monoton.

Catatan lain yang menurut saya perlu dilekatkan pada penggarapan Visa, adalah adaptasi naskah dari bahasa Indonesia ke Jawa. Dialog dan sejumlah persoalan yang ingin disampaikan Goenawan Mohamad seperti kehilangan ruh, kurang menyentuh. Bisa jadi, banyaknya pernyataan-pernyataan filosofis dan yang berasosiasi dengan problem-problem kotemporer menyangkut hubungan Barat-Timur terlalu di awang-awang bagi Trisno Santosa sebagai penerjemah dan Djarot yang mengadaptasinya kemudian.

Boleh jadi juga, oleh sebab ketelanjuran persepsi saya terhadap aktor/aktris Lungid, yang tak lain dan tak bukan adalah penerus spirit Teater Gapit, yang lebih akrab dengan problem-problem sosial kaum kelas bawah, kaum urban yang terdesak oleh modernitas. Dan baru kali ini, mereka bertemu dengan naskah yang mewakili dunia kelas atas, yang selama ini telanjur dilawan karena menjadi momor, terutama lewat kerja kreatif mereka memanggungkan naskah-naskah Bambang Widoyo SP yang berpihak pada kaum kalah dan tertindas itu.

Rasanya, bedah naskah dan mencocokkannya dengan situasi yang sesungguhnya dengan kerumitan mengurus visa di Kedutaan Amerika bisa menjadi jalan tengah untuk lebih membumikan naskah Goenawan Mohamad. Apalagi cukup banyak seniman-seniman asal Solo yang beberapa saat terakhir pernah berhubungan dengan Kedutaan Amerika. Juga, orang yang terbiasa berurusan dengan mereka, baik sebelum dan sesudah sejumlah peristiwa yang memupuk paranoia bangsa dan penguasa Amerika. Prinsipnya, menempatkan riset dan observasi sebagai hal penting, apalagi untuk bentuk garapan realis.

Dua bulan masih cukup untuk membuat perubahan-perubahan, sebelum pementasan Visa yang sesungguhnya dilangsungkan di Salihara, di kompleks ‘kerajaan’ baru Goenawan Mohamad dan teman-teman dalam menggiatkan kegiatan-kegiatan kultural dan humaniora di Jakarta. Untuk pementasan kali ini, bolehlah kita terima (seperti yang mereka niatkan), sebagai ajang uji coba.

Semoga, masih ada perbaikan sehingga proses penggarapan yang telah berlangsung tiga bulan sebelumnya, tidak menguap sia-sia…..

performing artsMay 28, 2009 3:20 am

Indonesia Performing Arts Mart (IPAM) akan digelar di Solo, 3-6 Juni mendatang. IPAM seperti tak menawarkan keragaman pilihan kepada para buyers, mengingat materi penampil didominasi oleh artis-artis ‘lokal’, yakni seniman-seniman dari Solo dan sekitarnya. Lebih khusus lagi, mereka berasal dari STSI-Connections, yakni staf atau alumnus STSI (kini ISI) Surakarta.

Saya tak bermaksud meremehkan kualitas karya-karya artis yang saya sebut ‘lokal’ di atas, atau mengabaikan kerja keras dewan kuratornya yang kebanyakan juga berasal dari ISI Surakarta. Apapun alasannya, sulit bagi kurator dan penyelenggara untuk memilih calon penampil dengan reputasi tertentu, berikut kualitas produk kreatif para komponis dan koreografer.

Hingga dua bulan silam, perbincangan mengenai IPAM sudah ramai di kalangan seniman di Solo. Bahkan, beberapa seniman yang sudah mendengar bakal diundang pun masih ragu, sebab undangan resmi sebagai bukti keikutsertaan mereka dalam IPAM tak kunjung datang, bahkan hingga beberapa pekan sesudahnya.

Persoalan klasik mengemuka: nilai kontrak!

Hingga sebulan silam, para calon penampil masih belum tahu nilai kontrak pada event rutin ‘milik’ Departemen Pariwisata, Seni dan Budaya itu. Akibatnya, para artis harus disibukkan dengan urusan keuangan hingga ke dinas terkait di Provinsi Jawa Tengah. Mereka yakin akan memperoleh honor dari penyelenggara, namun masih ragu akan besarannya, sehingga dikuatirkan hasil kalkulasinya tidak sepadan dengan biaya proses penciptaan dan latihan.

Pangkal persoalannya ada pada pemerintah, dalam hal ini Departemen Pariwisata, Seni dan Budaya. IPAM masih disikapi sebagai sebuah proyek, yang orientasinya hanya pada kerja-kerja administratif dengan output berupa laporan pertangungjawaban (LPJ).

Mestinya, IPAM bisa dijadikan sebagai forum kompetisi, dimana seniman-seniman Indonesia terdorong membuat karya-karya monumental untuk ditampilkan dalam forum semacam itu. Apalagi ada unsur market di dalam IPAM, sehingga ‘konsumen’ benar-benar memperoleh ‘produk-produk bermutu’ Made in Indonesia! Dengan demikian, calon penampil juga memiliki harapan ‘dibeli’ oleh para manajer festival atau para kurator dari berbagai institusi seni dari luar negeri.

Pertanyaan selanjutnya, apakah para kurator, manajer festival dan pengelola gedung-gedung kesenian akan datang melihat-lihat produk seni kita dalam IPAM? Saya termasuk orang yang meragukan hal itu bakal terjadi. Kurator dan manajer festival, biasanya punya network di berbagai negara. Mencari track record artis juga sudah bukan hal sulit atas peran Mbah Gugel, hantu lucu yang serba tahu itu.

Belum lagi, persiapan yang terkesan tak matang dari segi ketersediaan waktu bagi penyelenggara. Kita tahu, tak mudah mengundang orang-orang penting selevel kurator, manajer atau maesenas asing dalam waktu kurang dari dua bulan. Mereka, jelas jauh lebih serius dalam menyikapi kerja-kerja seni dibanding sebagian besar ‘orang-orang seni’ kita, apalagi kalangan birokrasi!

Kritik yang lainnya, adalah soal penyelenggaraan. Pada level teknis pemanggungan dan support pada wilayah artistik, orang-orang Solo sudah cukup mampu. Namun mengelola event dengan sebutan festival dalam arti yang luas, saya masih menyangsikan kemampuannya. Strategi pencitraan dan isu besar yang bakal dijadikan sebagai sebuah tawaran masih menjadi problem besar di Solo. Apalagi hal-hal yang dianggap remeh, seperti ketersediaan informasi yang memadai akan sebuah event, juga rekam jejak artis-artis penampilnya yang bukan sekadar overview yang bombastis.

Sekali lagi, mepetnya waktu yang tersedia tak bakal memungkinkan panitia pelaksana leluasa berkreasi merancang event. Visi yang tak terlalu jelas dan pelimpahan kewenangan operasional dari Departemen Pariwisata, Seni dan Budaya yang setengah hati menjadi kendala lain, di luar masalah administrasi proyek.

Sedang bagi seniman, jelas mereka tak sanggup menyiapkan karya bermutu dalam waktu yang singkat, meskipun ‘hanya’ sebuah refreshing untuk karya-karya yang sudah jadi.

Aneh, memang. Penyakit lama yang sepertinya enggan beranjak dari dunia birokrasi kita, dimana kerja-kerja kesenian masih diperlakukan sama dengan lelang proyek pengadaan barang dan jasa. Saya kuatir, komisi dan akrobat akuntansi masih mendominasi kepala dan hati kalangan birokrasi. Semoga, yang saya kemukakan ini hanya fiksi…

performing artsMay 17, 2009 2:00 pm

Beberapa bulan silam, saya menginisiasi sebuah pertemuan kecil. Kami membahas sebuah konsep penyelenggaraan festival seni pertunjukan yang dikaitkan dengan upaya mem-branding Kota Solo menjadi salah satu kota festival. Pesertanya tak banyak, beberapa dari Jakarta. Ada budayawan yang tak diragukan lagi komitmen moralnya pada seni pertunjukan, sastra, senirupa dan kegiatan kebudayaan lainnya.

Ada juga komponis yang bermukim di Solo, dan dikenal memiliki jaringan luas serta sering terlibat sebagai artis tamu pada festival-festival bergengsi di seluru dunia. Juga ada seorang tokoh yang selama ini dikenal sebagai manajer festival dengan pengalaman sangat banyak dan berhasil. Ada pula seorang redaktur budaya, yang bersama-sama turut merancang sebuah festival di Solo. Dari pihak Solo, ada Walikota dan kepala Dinas Pariwisata dan beberapa staf. Diskusi santai namun intens, belangsung pada malam dan siang hari, dimana Pak Wali Jokowi aktif dan antusias, tanpa sejenak pun meninggalkan forum.

Prinsipnya, Solo akan menggelar festival yang periodisasinya pasti: dua tahunan. Bergantian dengan SIEM yang rencananya juga akan dibuat dua tahun sekali. Gagasannya bisa dibilang sederhana, meski pelaksanaannya akan rumit dan penuh tantangan dan kendala, meski wajar sifatnya.

Pijakannya jelas. Solo merupakan gudang seniman pertunjukan. Ada Konservatori (kini SMK), ada Institut Seni Indonesia (ISI), juga banyak sanggar/kelompok-kelompok kerja seni (tari, teater, musik) dan budaya. Pada masa lalu, Solo punya legenda Wayang Orang Sriwedari yang hingga kini masih eksis. Juga seni ketoprak di Balekambang.

Dalam percaturan seni pertunjukan kontemporer, Solo masih jadi salah satu kota utama sebagai penyangga seni pertunjukan di Indonesia. Terutama dalam bidang tari, banyak koreografer (nasional dan internasional) yang berkolaborasi atau melibatkan seniman-seniman Solo sebagai artis pendukungnya.

Singkat cerita, ketemulah satu usulan konsep festival, yang pelaksanaannya baru bisa dimulai tahun depan. Pertimbangannya, tak mungkin menghadirkan artis dengan bobot kesenimanan tertentu (unggul) dari luar tanpa pertimbangan waktu yang matang. Setahun adalah batas minimal sebuah persiapan agar menghasilkan event yang bermutu, bermanfaat, dan ‘nendang’!

Untuk menapak ke sana, pun perlu pertimbangan kuratorial yang matang. Siapa artis yang diundang, mesti ditelisik dengan jernih dan obyektif. Tren dialog multikultur juga harus jadi pertimbangan, sebab menghadirkan seniman-seniman internasional dan nasional yang berbiaya mahal akan sia-sia manakala tak memberi dampak apa-apa terhadap Surakarta dan masyarakatnya.

Ada aspek apresiasi, yakni artis penampil bisa jadi rujukan ‘belajar’ atau ‘dialog’ bagi sesama pelaku dan penggiat seni. Juga bisa membangkitkan partisipasi, dimana semua komponen merasa terlibat dan memiliki event demikian. Efeknya juga mesti dikalkulasi melalui prediksi, sejauh mana memberi dampak citra atau imaji bagi sebuah kota yang sedang tumbuh menapaki sebagai MICE City atau Kota Pertemuan, Wisata, Konvensi dan Pameran/Eksibisi.

Dampak ekonomi juga mesti dijadikan sebagai salah satu tujuan, dimana karya-karya kreatif bisa dinikmati publik yang lebih luas, sehingga pelakunya bisa memperoleh manfaat ekonomis dan kesejahteraan.

Bagaimana soal pembiayaan?

Ini memang masalah krusial dan harus menjadi perhatian utama. Dan, pada teman-teman yang terlibat dalam diskusi ketika itu, semua ditemukan komitmen moral yang sama. Bahwa penyelenggaraan event besar pesta seni pertunjukan bisa dicipta/direkayasa tanpa harus membebani anggaran Pemerintah Kota.

Dengan dana tak terlalu besar, berarti kegiatan ‘pesta’ semacam itu tidak mengurangi publik untuk memperoleh hak-haknya sebagai warga negara yang membayar pajak, retribusi dan sejenisnya. Hak untuk memperoleh jaminan kesehatan, akses ekonomi, dan sebagainya.

Solusinya adalah, melibatkan pihak ketiga, seperti perusahaan-perusahaan dengan alokasi promosi/marketing dan CSR-nya, lembaga-lembaga funding untuk kebudayaan, juga pusat-pusat kebudayaan asing yang intens melakukan kerja-kerja diplomasi merekatkan hubungan persaudaraan antarbangsa melalui jalur kebudayaan.

Tantangannya, jelas sungguh berat. Mentalitas penyikapan kegiatan kebudayaan mesti diubah. Dari sekadar ‘menjalankan sebuah proyek’ harus digeser menjadi sebuah kerja besar dengan landasan perhitungan strategi kebudayaan yang matang. Dan ini, terletak pada aparatur birokrasi dalam institusi negara/pemerintah. Goodwill dan komitmen moral seorang walikota tak ada gunanya tanpa dikawal sebuah sikap aparatus pendukungnya.

Keberhasilan sebuah kerja kesenian/kebudayaan tak bisa diukur hanya dari keramaian dan kemeriahaan penyelenggaraannya semata. Apalagi bila hanya mendasarkan pada besaran publisitasnya semata.

Pukulan balik justru akan menjadi sandungan berat ke depannya, manakala publikasi besar-besaran sebuah peristiwa sudah diyakini sebagai kebenaran yang sesungguhnya, sementara faktanya, materi tampilannya tak memberi dampak apa-apa, baik kebanggaan bagi si seniman yang tampil, komunitas seniman di sekitar venue acara, juga masyarakatnya dalam artian yang lebih luas.

Pedagang makanan/kuliner, pengrajin cinderamata, pengrajin/produsen batik, industri jawa seperti travel, hotel-hotel dan jasa-jasa lainnya adalah mereka-mereka yang mestinya memperoleh manfaat atas sebuah peristiwa. Bila mereka memperoleh manfaat, otomatis multiplier effects-nya akan merambah kemana-mana.

Melalui forum ini, saya harap Anda berkenan memberikan masukan, catatan dan kritik. Tak bijak kalau Anda hanya bercerita sisi baiknya semata, sebab sisi-sisi lain yang ‘negatif’ perlu dikemukakan pula, agar kelak bisa jadi masukan dan bahan pertimbangan untuk menghasilkan sebuah event besar yang bermutu, dan memberi manfaat kepada banyak pihak. Tak cuma masyarakat Solo dan sekitarnya, namun juga Indonesia dan peradaban manusia pada umumnya.

Prinsipnya, beberapa beberapa hal penting dijadikan pertimbangan, di antaranya:

Pertama, penyelenggaraan harus ditangani oleh orang yang profesional dan memiliki pengalaman yang matang. Meng-handle artis asing tak semudah mengurus wisatawan biasa.

Kedua, kuratorial sangat mutlak. Sebuah festival tak akan bisa melibatkan seniman-seniman berkualitas bila sistem kuratorialnya lemah. Kriteria kurator menjadi penting, sebab mereka harus obyektif, independen, memiliki network nasional/internasional yang bagus, terbuka terhadap keragaman (multikultur) serta memiliki kredibilitas di kancah seni/kebudayaan dunia. Kurator yang kredibel akan mampu mendongkrak bobot sebuah event dan menumbuhkan kepercayaan artis dan manajer festival dari seluruh penjuru dunia, sehingga dialog peradaban melalui kerja-kerja kesenian/kebudayaan bisa terwujud.

Ketiga, semua pihak harus terlibat, terutama stakeholder lokal di sekitar venue, sebab merekalah penyangga utama event untuk bisa terlaksana dengan baik.

Keempat, penyelenggara harus memiliki komitmen moral yang bagus terhadap penyelenggaraan festival, sehingga memiliki kiat untuk meminimalisir pengeluaran negara/pemerintah, di antaranya dengan melibatkan sponsorship dan jaringan penyedia dana (funding agency) tanpa merusak bobot/nilai sebuah event.

Saya harap, Anda sudi meninggalkan catatan-catatan Anda di sana, sebab catatan di atas belumlah memiliki arti apa-apa tanpa dilengkapi masukan-masukan Anda.

Terima kasih.

KasusMarch 4, 2009 4:48 pm

Bermula dari sebuah pesan spamming di nomor Telkomsel saya dengan pengirim Mocoplus pada Rabu, 4 Maret 2009 pukul 15.57 (Foto 1). Bagi yang tak paham, pesan demikian pastilah menggiurkan. Iming-iming pulsa membuat orang mudah tergoda. Apalagi, harga sekali kirim sms kini sudah murah.

Saya coba kirim sms ke sesama Simpati- Telkomsel, pulsa hanya terpotong Rp 100 (untuk maksimal 160 karakter). Sedang ke operator lain ( XL), pulsa berkurang Rp 150 untuk jumlah karakter yang sama. Setidaknya, itulah fakta empiris yang saya peroleh ketika mencoba menguji janji manis Mocoplus, sekitar pukul 20-an.

Saya pun mendaftar dengan mengetikkan REG GPC lalu saya kirim ke nomor 9910, sesuai perintah. Tak lama, dua sms datang berurutan. Yang pertama begitu menggoda, berupa sebuah kalimat berita (Foto 2), yang rupanya sebuah pancingan usang. Sms kedua berisi pertanyaan. Semacam kuis yang jawabannya bisa dilihat pada sms sebelumnya (Foto 3).


Saya coba ikuti terus alur permainannya, sebab saya sudah menaruh curiga dan dendam lama terhadap sms spam model demikian. Hak publik sering dikelabuhi dengan iming-iming yang seolah-olah menggiurkan, sementara logika bisnis tak pernah kenal istilah merugi. Perusahaan-perusahaan content provider/CP menjamur, sementara regulator terkesan tutup mata terhadap ulah CP.

Foto 5 mengejutkan saya. Sebab mestinya, pemberitahuan itu muncul pada awal-awal. Setidaknya, sebelum pesan seperti terlihat pada Foto 2 dan Foto 3 muncul ke handphone saya. Oh, iya, sebelum terlupa, saya sudah mencatat nilai pulsa saya sebelum gunakan untuk registrasi. Posisi awalnya Rp 44.895,5 dan berubah menjadi Rp 40.695,5. Jadi, menurut kalkulator di Alcatel jadul saya, pulsa berkurang sebesar Rp 4.200.

Well. Kalau dihitung, hingga tercatat sebagai peserta ke-69, berarti si CP ‘hanya’ memperoleh Rp 289.800. Kalau 40 peserta awal memperoleh pulsa masing-masing Rp 50 ribu, berarti CP harus mengeluarkan voucher pulsa senilai Rp 2.000.000. Anda yakin, CP berani nombok, kan?

Kalau Anda menjawab YA, mungkin Anda berasumsi sayalah orang terakhir yang mengirim sms registrasi. Padahal, untuk mencapai ‘titik impas’ dalam pengertian CP bisa menutup pengeluaran voucher, dia hanya butuh 476,19 pendaftar! Asumsikan bila pesan serupa di-broadcast ke 10 persen dari total pengguna Simpati (yang sudah mencapai 45 juta seperti rilis Telkomsel pada 2 Pebruari 2009), lalu satu persen (45 ribu) penerima sms spam itu mendaftar.

Saya ikuti lagi permainannya. Pada Foto 6 atau sms yang kesekian, baru ada pemberitahuan bahwa saya sudah terdaftar sebagai peserta permainan. Di situ juga baru diberitahukan, bahwa setiap kali menjawab, terkena biaya Rp 1.000 yang dipotong langsung dari nilai pulsa yang tersisa.

Aneh bin ajaib. Sejak saya menjawab pertanyaan pertama (Foto 3) hingga pemberitahuan benar/salahnya jawaban saya, baru diberitahukan 10 menit kemudian, setelah dua pemberitahuan ‘penting’ mengenai biaya dan sebagainya itu Foto 7. Anda bisa menebak arahnya. Kalau kita menjawab/mengikuti kuis lagi, maka pulsa akan kembali terpotong Rp 1.000.

Tapi, saya putuskan untuk mengakhiri permainan. Pengujian dan pembuktian rasa penasaran itu saya anggap cukup. Saya lalu mengetikkan UNREG GP dan mengirimkannya ke 9910.

Ah, rupanya, untuk menyudahi permainan pun saya harus membayar Rp 350, yang lantas dijawab oleh mesin seperti terlihat pada Foto 8.

Melalui posting ini, saya mengajak semua orang untuk berhati-hati menyikapi sms spam model demikian. Kita dimanjakan oleh iming-iming, padahal diporotin pelan-pelan. Seolah-olah asyik, padahal gak ada asyiknya sama sekali.

Kepada perusahan-perusahaan content provider, sebaiknya Anda jangan mengelabuhi publik. Operator seluler, dalam kasus saya ini adalah Telkomsel, mestinya juga jangan asal mudah membuat kontrak kerja sama. Saya tahu, orang berbisnis itu dalam rangka mencari keuntungan, tapi menyembunyikan informasi yang berpotensi merugikan konsumen, mutlak harus dihindari. Hak konsumen mesti dihargai, sebab bisnis juga mengenal etika.

(YLKI, tidak cukupkah bukti untuk melakukan advokasi kepada konsumen telepon seluler?)

Content provider yang dalam kasus saya adalah Mocoplus saya anggap telah berbohong karena menyembunyikan informasi biaya registrasi, yang ternyata sebesar Rp 4.200. Dan, Telkomsel juga saya anggap terlibat dalam tindakan Mocoplus yang merugikan konsumen, karena turut menyiarkan informasi spamming demikian.

Entah karena kelalaian atau tidak, yang pasti Telkomsel bisa saja saya sebut: turut bersama-sama melakukan…..

Anda masih tergiur iming-iming demikian????? Silakan berderma kalau kebodohan demikian bisa diyakini membawa Anda masuk surga!

Update:

Sebagai pembanding, simaklah pesan yang dikirim melalui operator Fren, yang menyebutkan biaya sms registrasi sebesar Rp 2.000 (Foto 9). Dengan pemberitahuan demikian, seseorang jadi punya pilihan untuk mengambil keputusan: merespon penawaran atau menghapus pesan.

Catatan:
Bila Anda merasa dirugikan dengan peristiwa-peristiwa serupa, Anda bisa mengirimkan pengaduan ke BRTI (Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia), bisa melalui SMS ke 0815-893-0000 atau melalui email ke pengaduan@brti.or.id

PeristiwaFebruary 14, 2009 3:27 pm

Sepulang Jum’atan, saya mampir di warung tempat teman-teman biasa nongkrong. Belum sempat duduk, seorang teman mengajak motret perayaan Hari Kasih Sayang di sebuah supermarket. Pada saat yang hampir bersamaan, sebuah unjuk rasa menentang perayaan Valentine’s Day juga terjadi di Solo, Jumat siang itu.

Saya memilih yang pertama. Menyaksikan, apalagi meliput ajakan kedua, tak menarik bagi saya. Mereka punya sikap, demikian pula saya.

Diselenggarakan oleh sebuah komunitas gereja, perayaan itu cukup unik. Pesertanya orang-orang lanjut usia, bahkan ada yang untuk berjalan pun harus ditopang tongkat, juga kotak penyangga. Kehangatan dan kasih sayang mereka terpancar. Sebagian bahkan menangis ketika pasangannya menyatakan cinta kasih (dan suka duka hidup) mereka dengan pengeras suara, dan di depan banyak orang.

Sepanjang perjalanan, saya membayangkan ungkapan kasih sayang seperti apa yang nantinya akan saya saksikan. Sekadar peluk cium, atau malah ada yang bergaya ala teenagers nan metropolis: lips kissing.

Macam-macam rupanya. Ada perempuan yang menunjukkan kasih sayangnya dengan cara mengelap wajah pasangan dengan sapu tangan. Ada yang menuntun istrinya, jalan pelan-pelan karena nenek renta sudah tak sanggup tegak menapak red carpet, arena utama kontes pengungkapan kasih sayang.

Saya tersenyum geli, kadang tergelak menyaksikan sebagian ulah para manula yang tampil sambil bercanda. Tapi juga iri, sebab saya merasa bukanlah seorang lelaki yang romantis. Mungkin ini kelemahan seorang yang baru menapaki jalan baru, meninggalkan gaya hidup bohemian yang lama saya jalani.

Kalaupun saya tak merayakan Valentine’s Day, itu lebih karena hati kecil belum bisa menerima. Nalar juga menggiring saya pada kesadaran, bahwa kasih sayang yang berbeda, yang penuh kejutan, tak perlu dibuktikan dengan perayaan sekali dalam setahun itu. Bukan lantaran agama, bukan pula oleh sebab sentimen budaya.

Jujur, saya tak suka dengan gerakan menentang perayaan Valentine’s Day. Karena itu, saya juga akan ikut menentang, bila ada kelompok yang memaksakan kehendak, lalu melibatkan instrumen negara untuk turut campur pada wilayah privat dengan cara membuat kebijakan pelarangan perayaan Hari Kasih Sayang.

Bagimu agamamu, bagiku agamaku. Begitu Allah memerintahkan umatNYA agar menjunjung tinggi dan menghargai perbedaan dan keragaman. Karena Islam, maka saya percaya dan menjalankan sepenuhnya. Islam juga menyuruh agar manusia saling mengasihi dan menyayangi, terhadap sesama, juga yang berbeda. Terhadap alam saja disuruh Tuhan untuk merawat, apalagi sesama manusia?!? Begitulah keyakinan saya.

Dari Valentine’s Day, justru saya menemukan kaca. Cermin untuk melihat diri saya, yang ternyata bukanlah orang yang romantis. Menyatakan kasih sayang kepada istri pun, saya masih sering kedodoran. Hehehe…..

Happy Valentine, pakDHE……….

SorotFebruary 13, 2009 9:48 am

Meski bukan muslim yang saleh, saya paling risih dengan bunyi dering telepon saat shalat berjamaah di masjid. Apalagi, pada momentum Jum’atan alias shalat Jum’at. Soal ketidakpedulian seseorang mengaktifkan nada panggil telepon genggam, saya sudah sangat sering menjumpai.

Sama dengan abai dan dungunya orang-orang yang membiarkan bunyi nada panggil teleponnya terdengar banyak orang di tengah-tengah pertunjukan tari, musik atau drama di gedung-gedung kesenian. Orang dungu, memang tak sanggup mengenal ruang dan waktu, apalagi soal harmoni sosial!

Muslim elementary level semacam saya saja tahu, bagaimana saya tak menyebut orang-orang demikian sebagau dungu nan tolol?!? Memang, Al Qur’an tidak melarang orang berlaku demikian. Lahirnya ayat-ayat Allah yang terlampau jauh dengan perkembangan teknologi kini tak bisa dijadikan alasan berkilah alias ngeles. Kalau bercakap-cakap saat khatib berkotbah saja dilarang, tentu kita harus pandai-pandai mengembangkan tafsir.

Datang ke masjid demi niat menunjukkan cinta dan patuhnya pada perintah Tuhan, bisa berbuah fatal, apalagi bagi orang-orang dengan tataran keimanan yang serba pas pada ambang batas. Sering, jujur saja, saya jadi marah dengan keadaan demikian. Malah, kebiasaan buruk yang mengumpat sering terpicu, meski kemudian saya mengucap syukur. Sebab, jebul saya masih muslim yang tahu adab dan semisaleh.

Banyak pemilik telepon seluler tak paham, ulah mereka membuat banyak tembok masjid jadi kotor tak karuan sebab takmir masjid terpaksa memasang pengumuman (yang kadang) asal-asalan hingga merusak keindahan. Malah, sepekan silam, saya menjumpai seseorang lelaki berusia 30-an meninggalkan tempat duduknya saat kotbah berlangsung demi menjawab panggilan. Lucu, tapi begitulah adanya.

Kualitas iman boleh pas-pasan, asal mengupayakan peningkatan meski hanya sebatas kemampuan. Tanpa ajaran agama pun, sepanjang masih waras, mestinya seseorang berupaya bertindak, berperilaku dan menciptakan perubahan yang lebih baik keesokan hari dan seterusnya.

Menilik tipografi yang sama persis dengan yang dipatenkan, saya yakin papan ini dibuat dengan perencanaan matang dan melibatkan tim kreatif profesional dan jempolan

Tapi, yang namanya manusia memang banyak warna. Anda tak banyak perilaku dungu ditunjukkan di banyak tempat dan kesempatan, saya yakin Telkomsel tidak perlu melihatnya sebagai peluang untuk beriklan secara murah tapi mengena (eh, yang begituan itu bikinan Telkomsel sendiri atau produk Ad Agency-nya, ya?). Entahlah.

Yang pasti, kehadiran peringatan a-la Telkomsel seperti yang saya lihat di Masjid Al Khoir, Timuran, Solo seperti itu cukup menarik. Sambil mengingatkan perlunya menjaga kekhusyukan ibadah (karenanya bakal beroleh pahala karena amal jariyah-nya), Telkomsel bisa beriklan secara murah sekaligus. Murah, sebab Telkomsel tak perlu membayar pajak reklame. Soal menyumbang uang kebersihan atau tidaknya terhadap masjid yang dipasangi iklannya, hanya Allah yang tahu.

Yang mengganjal di batin saya hanya satu. Copywriting yang berbunyi: Apalagi bagi pengguna kartuHALO & Simpati yang sinyalnya ada di mana-mana, menurut saya mengandung unsur kesombongan, riya’ sebab ada kesan merendahkan operator lain yang sinyalnya byar-pet (meski harus diakui, coverage operator yang satu ini memang terluas dengan pelanggan terbesar di Indonesia).

Kalau sombong saja dilarang oleh Islam, bagaimana menyusun teks yang baik supaya tidak dimurkai Allah, ya?

(Maaf, relijiusitas saya sedang kambuh)

PeristiwaFebruary 8, 2009 3:01 pm

Memarut kelapa itu asyik, meski bisa mendorong mulut jadi berisik kalau jari tergores lantaran kurang hati-hati. Saya baru tahu, ternyata ada trik khusus dalam memarut kelapa. Arah parutan harus berbeda, antara untuk dibuat santan atau untuk bikin srundeng alias abon nira.

Kalau saja hujan masih menimpa Surakarta dan sekitarnya, mungkin tulisan semacam ini tak akan pernah ada di blog saya. Langit yang cerah sejak Jumat sore membuat saya tak punya alasan lain untuk tidak pulang kampung, sampai akhirnya saya harus menunjukkan solidaritas saya, mencungkil lantas memarut kelapa. Tengah malam itu, saya harus menemani istri memasak, membuat hidangan bersahaja untuk sebuah rapat kampung esok hari.

Malam itu, istriku memerlukan santan. Baru satu teratasi, ibuku menyela. Mengingatkan akan arah parutan agar saya tak salah. Karena akan diperas untuk memperoleh santan, bidang putih harus berada di bawah. Sebaliknya, bidang kekuningan alias kulit kelapa harus berada di bawah bila ampas hendak di-srundeng-kan.

Tapi, bukan soal parut-memarut yang menarik. Lebih dari itu, justru pengetahuan baru terkait dengan kegunaan hasil parutan, sekaligus bangkitnya kenangan lamalah yang saya dapat. Memori jadul muncul kembali.

Dulu, sewaktu masih duduk di bangku SMA, saya paling suka di dapur. Membuat telor dadar dan telor mata sapi adalah kesukaan saya, selain mengiris tipis-tipis beberapa biji kentang sebelum saya goreng lalu saya simpan dalam kaleng biskuit. Satu kaleng biskuit penuh kentang, biasanya akan habis dalam dua hari. Agar crispy, saya dikasih tahu bapakku agar direndam beberapa saat terlebih dahulu ke dalam banyu injet, air kapur.

Keasyikan suasana dapur itu terus ada dan sering saya lakukan hingga kini. Memasak mi instan menjadi mahir, apalagi sejak berstatus sebagai anak kos, 22 tahun silam. Selain, oleh sebab dipaksa keadaan.

Bikin wedang kopi dan teh, saya juga berani mengklaim sebagai rada jagoan. Hehehe… Saya punya resep menyeduh kopi menjadi lebih enak meski dengan kualitas kopi yang pas-pasan. Meramu beberapa merek teh pun saya bisa, sebab banyak teman berkomentar enak seusai menyeduh teh buatanku (bisa jadi, mereka berbohong karena tak enak hati).

Kembali ke urusan parut-memarut kelapa, yang paling mengasyikkan adalah ketika saya menyantap sisa-sisa parutan. Uenak dan……

SorotFebruary 5, 2009 10:08 am

Banyak peziarah Wali Songo dari Jawa Timur mengakhiri rutenya dengan singgah di makam Pak Harto. Kata mereka, beliau dianggap manusia luar biasa semasa hidupnya, sehingga mereka merasa perlu mendoakannya.

Kalimat itu meluncur dari bibir Pak Sukirno, penanggung jawab Astana Giribangun, kompleks makam keluarga mantan Presiden Soeharto di Matesih, Karanganyar. Jumat pagi, dua pekan silam, merupakan kali pertama kedatangan saya setelah jasad Soeharto bersemayam di sana. Kali ini, saya datang mewakili kantor berita asing yang mengutus saya mencarikan bahan untuk sebuah story tentang mantan penguasa Orde Baru itu.

Agak mencengangkan memang. Soeharto bahkan masih dielu-elukan bak pahlawan. Pada hari libur, pengunjung bahkan mencapai 4.000 orang, sedang pada hari-hari biasa ‘hanya’ berkisar pada angka (minimal) 200 orang!

Ada banyak indikator, betapa Soeharto masih memiliki pesona. Puluhan pedagang kakilima, kini memenuhi area parkir B, yang terletak di bawah parkir utama. Aneka makanan dan minuman dijajakan. Juga oleh-oleh. Populasi tukang ojek pun melimpah –hingga seratus lebih, pertanda ada banyaknya orang yang tak sanggup berjalan mendaki demi menghampiri makam. Asal tahu saja, hanya mobil bermesin prima yang sanggup mencapai area parkir utama, yang terletak nyaris di puncak bukit.

Cinderamata pun tak kurang banyaknya dijajakan. Bahkan, di samping kantor pengelola, kini dibuat semacam toko aneka macam souvenir bergambar Pak Harto. Omzet toko ini, pun lumayan besar, rata-rata di atas Rp 1 juta dalam sehari. Ada kaos, kalender, jam dinding, gantungan kunci hingga buku-buku tentang….siapa lagi kalau bukan Si Mbah?!?

Sebagai bentuk apresiasi terhadap keikhlasan peziarah yang sengaja datang mendoakan ayahnya, Tommy pun rela menguras kocek pribadinya. Ia membangun jalan baru sepanjang 300 meter di sebelah utara makam, yang terhubung dengan area parkir baru yang sanggup menampung 50 bus besar sekaligus. Masjid yang semula hanya cukup untuk 300 jamaah, kini diperlebar sehingga sanggup menampung 800 orang.

“Keluarga tak sanggup membalas kebaikan mereka, sehingga diwujudkan dengan membuat sarana yang memudahkan bagi peziarah,” tambah Pak Kirno.

Soeharto luar biasa?

Kalau saya yang ditanya, maka jawaban saya singkat saja: biasa-biasa aja. Bagi saya, Soeharto hanya luar biasa dalam sedikit hal, seperti suksesnya membangun imperium kekuasaan yang ditopang tentara superperkasa, sekaligus membagun pamor kerajaan bisnis bagi orang-orang di lingkaran terdekatnya.

Kendati demikian, saya harus menghargai pendapat seorang peziarah dari Kalimantan namun asli mBantul, pada pagi itu. “Kalau tak ada Pak Harto , tak ada transmigrasi. Kalau tak ada transmigrasi, mungkin banyak tetangga saya di Bantul yang sekarang masih hidup miskin di tanah kelahiran mereka sendiri,” ujar lelaki 40-an tahun itu, yang datang bersama istri dan kedua anaknya.

Ia mengaku sengaja mampir untuk mendoakan Soeharto. Kebetulan, ia baru saja menengok keluarganya dan hendak bertolak ke Kalimantan melalui bandara Juanda, Surabaya. “Saya tahu persis, banyak transmigran asal Jawa yang kini hidup makmur, anak-anaknya sudah bergelar sarjana,” kata lelaki yang bekerja sebagai pegawai negeri itu.

Kembali ke soal peziarah wali, sejujurnya ada perasaan tak percaya. Kalau sekadar piknik sambil mendoakan, sih, mongga-monggo saja. Toh, sebagai sesama muslim, mendoakan merupakan teladan kemuliaan, yang berbuah pahala. Kekuatiran saya justru bila sampai tersesat, lantas menempatkan Soeharto bak wali, seperti halnya para sunan penyebar Islam di masa lampau.

Penggusuran dan penganiayaan warga sekitar Waduk Kedungombo, tragedi Tanjung Priok, terbunuhnya tokoh-tokoh agama dengan dalih dukun santet dan sebagainya, tak lain merupakan sisi buruk yang menodai ‘kewalian’ Soeharto dengan sekian banyak kebaikan yang telah diperbuatnya.

Mau mendoakan silakan, tapi jangan sampai menempatkannya berlebihan. Kasihan…(deh, lu…)

(Biarkan Soeharto jadi urusan orang-orang partai politik yang gatal dukungan pada pemilu mendatang)

SorotJanuary 21, 2009 7:32 am

Menjadi seorang Obama tidaklah mudah. Menyaksikan siaran pesta inaugurasinya lewat saluran HBO Signature dan pelantikan melalui siaran langsung di CNN, yang terbayang adalah rasa takut, cemas. Cemas bila sewaktu-waktu peluru nyasar merobohkan Obama, yang dimuntahkan dari senapan otomatis dari tangan-tangan orang Amerika yang belum siap menerima naiknya seorang Afro-Amerika dalam tampuk kekuasaan. Beruntung, Amerika kini sudah bukan lagi Amerika yang W-A-S-P.

Obama, kini dinanti dunia. Harapan besar ditumpukan kepadanya. Dari penyelesaian Palestina-Israel, penarikan pasukan multinasional di Irak, hingga dialog Amerika dan Barat dengan komunitas Islam internasional. Obama yang tidak rasis (meski pernah jadi korban rasialisme) adalah pembaru tata hubungan global di masa depan.

Harapan besar itu, rupanya masih harus diuji sang waktu. Apakah Obama benar-benar bisa membawa angin perubahan, atau dia sendiri yang bakal jadi korban. Sejujurnya, saya takut Obama tak tuntas memimpin. Bisa jadi ia diserang kelompok-kelompok yang masih yakin kelompok kulit putih adalah ras unggul, atau militan Islam yang tidak puas dengan pola penyelesaian ketimpangan Barat-Timur, Utara-Selatan dalam segala bentuknya.

Kita semua berharap, Obama benar-benar hadir bersama perubahan yang ingin diciptakannya bersama masyarakat internasional. Mari kita sambut dialog baru versi Obama……..