
Dag Dig Dug, yang naskahnya dibuat oleh Putu Wijaya digarap dengan bagus oleh Teater Gidag-gidig, Solo dan dipertunjukkan di Teater Arena, Taman Budaya Surakarta, 2 Juni 2005.

Dag Dig Dug, yang naskahnya dibuat oleh Putu Wijaya digarap dengan bagus oleh Teater Gidag-gidig, Solo dan dipertunjukkan di Teater Arena, Taman Budaya Surakarta, 2 Juni 2005.
Jihad memiliki beragam makna, sebanyak kriteria kebenaran yang dianut oleh masing-masing penafsirnya. Maka, tak ada salahnya menghormati perbedaan yang pasti akan muncul dengan beragam manifestasinya. Sepanjang tak ada pelanggaran hak hidup dan hak asasi yang dimiliki kelompok lain, serta tak ada pemaksaan kehendak dan tafsir akan kebenaran atas orang lain, maka biarkan saja. Jaman yang akan mengujinya. Tuhan, pasti dan akan selalu adil. Selamanya……………
Wayang ini masuk kategori wayang pinggiran. Ia bukan jenis kesenian produk kerajaan, melainkan lahir dari komunitas kebudayaan di lereng Gunung Merapi, Magelang, Jawa Tengah. Tak jelas benar, apakah jenis ini merupakan produk kebudayaan yang memiliki kaitan dengan ritus pemujaan terhadap penunggu alam Merapi, atau sekadar gubahan seniman masa kini. Yang jelas, mahkota yang terbuat dari bulu-bulu unggas itu, mungkin lebih tepat disebut sebagai efek keterpengaruhan yang disebarluaskan oleh teknologi televisi. Apalagi, belum ada literatur sejarah yang memberi gambaran adanya hubungan komunitas lereng Merapi dengan suku Indian, nun jauh di seberang benua.
Wayang Klithik hampir mirip dengan wayang kulit. Bedanya, boneka untuk Wayang Klithik terbuat dari kayu, sehingga terlihat lebih tebal. Coraknya juga sama. Pola pertunjukan Wayang Klithik juga sama dengan wayang kulit. Perbedaan yang mencolok hanyalah layar terdapat di sisi kanan dan kiri dalang, sementara di depan sang dalang justru tanpa layar. Penyebabnya adalah, boneka Wayang Klithik yang tebal dan tidak tembus cahaya sehingga tak memungkinkan adanya ‘bayangan berbentuk’ yang jatuh pada layar.

Seorang ibu sedang bermain-main dengan anaknya di tengah ribuan santri yang sedang mempersiapkan diri melakukan unjuk rasa menentang pemuatan kartun Nabi Muhammad. Aksi yang berlangsung di Solo, Jumat (24/2) siang itu diikuti oleh sedikitnya 20 ribu umat Islam dari berbagai kota sekitar.

Pasukan santri berkuda bersama sedikitnya 20 ribu umat Islam dari aliansi sejumlah organisasi Islam dan pondok pesantren dari berbagai kabupaten/kota melakukan unjuk rasa bersama di Surakarta, Jawa Tengah, Jumat (24/2) sore. Mereka mendesak pemerintah segera mengesahkan UU Antipornografi dan Pornoaksi serta mengecam pembuatan kartun Nabi Muhammad. Massa berkumpul di Lapangan Kottabarat dilanjutkan dengan long march sepanjang 5 kilometer hingga Alun-alun Utara Kraton Surakarta.

Babakan Ciwaringin, Cirebon, 8 Oktober 2004
Menganyam tali kasih, mungkin merupakan hal biasa bagi manusia-manusia gaul. Tapi bagi komunitas santri, apalagi yang mendalami ilmu agama di pondok-pondok salafy, berduaan bukanlah peristiwa mudah. Ada banyak kaidah fiqh yang mesti dijadikan rujukan dan bahan pertimbangan. Beruntung, kedua sejoli itu sudah terbebas dari segala dalil yang membatasi mereka berduaan. Ada banyak orang di sekitar mereka. Selamatlah mereka di dunia dan akhirat. Amin

DA-M Theatre dari Jepang ini termasuk kelompok dengan produk kerja teater yang ‘mencerdaskan’ aku pribadi. Memang, aku sulit memahami jalinan cerita yang coba dirajut dan mereka beri label Aruku itu. Tapi, aku bisa menikmati pertunjukan mereka, sajian tata artistik yang diperkenalkannya lewat tabung-tabung neon berserakan dan intensitas gerak para pemainnya. Sungguh, aku merasa masih lebih bingung menikmati pertunjukan Mas Putu Wijaya.
Kesan kumuh biasa dilekatkan pada kehidupan pelaku seni tradisi, termasuk seniman Wayang Orang Sriwedari. Padahal, kotoran bisa jadi ditimbulkan saat renovasi atau pengecatan ruangan berlangsung, seperti yang menimpa meja rias Sutopo Gareng, 55 tahun (kiri) dengan Eko Wahyu, 36 tahun.

Lorong ini kutemukan di jembatan yang melintang di atas Bengawan Solo, sekitar lima kilometer ke arah timur dari pusat Kota Solo. Lorong yang selalu sepi, meski di dua sisinya melintas ribuan kendaraan berat-ringan, dari pagi hingga mentari kembali menyapa keesokan harinya.