
Dag Dig Dug, yang naskahnya dibuat oleh Putu Wijaya digarap dengan bagus oleh Teater Gidag-gidig, Solo dan dipertunjukkan di Teater Arena, Taman Budaya Surakarta, 2 Juni 2005.

Dag Dig Dug, yang naskahnya dibuat oleh Putu Wijaya digarap dengan bagus oleh Teater Gidag-gidig, Solo dan dipertunjukkan di Teater Arena, Taman Budaya Surakarta, 2 Juni 2005.
Jihad memiliki beragam makna, sebanyak kriteria kebenaran yang dianut oleh masing-masing penafsirnya. Maka, tak ada salahnya menghormati perbedaan yang pasti akan muncul dengan beragam manifestasinya. Sepanjang tak ada pelanggaran hak hidup dan hak asasi yang dimiliki kelompok lain, serta tak ada pemaksaan kehendak dan tafsir akan kebenaran atas orang lain, maka biarkan saja. Jaman yang akan mengujinya. Tuhan, pasti dan akan selalu adil. Selamanya……………
Wayang ini masuk kategori wayang pinggiran. Ia bukan jenis kesenian produk kerajaan, melainkan lahir dari komunitas kebudayaan di lereng Gunung Merapi, Magelang, Jawa Tengah. Tak jelas benar, apakah jenis ini merupakan produk kebudayaan yang memiliki kaitan dengan ritus pemujaan terhadap penunggu alam Merapi, atau sekadar gubahan seniman masa kini. Yang jelas, mahkota yang terbuat dari bulu-bulu unggas itu, mungkin lebih tepat disebut sebagai efek keterpengaruhan yang disebarluaskan oleh teknologi televisi. Apalagi, belum ada literatur sejarah yang memberi gambaran adanya hubungan komunitas lereng Merapi dengan suku Indian, nun jauh di seberang benua.
Wayang Klithik hampir mirip dengan wayang kulit. Bedanya, boneka untuk Wayang Klithik terbuat dari kayu, sehingga terlihat lebih tebal. Coraknya juga sama. Pola pertunjukan Wayang Klithik juga sama dengan wayang kulit. Perbedaan yang mencolok hanyalah layar terdapat di sisi kanan dan kiri dalang, sementara di depan sang dalang justru tanpa layar. Penyebabnya adalah, boneka Wayang Klithik yang tebal dan tidak tembus cahaya sehingga tak memungkinkan adanya ‘bayangan berbentuk’ yang jatuh pada layar.

Seorang ibu sedang bermain-main dengan anaknya di tengah ribuan santri yang sedang mempersiapkan diri melakukan unjuk rasa menentang pemuatan kartun Nabi Muhammad. Aksi yang berlangsung di Solo, Jumat (24/2) siang itu diikuti oleh sedikitnya 20 ribu umat Islam dari berbagai kota sekitar.

Pasukan santri berkuda bersama sedikitnya 20 ribu umat Islam dari aliansi sejumlah organisasi Islam dan pondok pesantren dari berbagai kabupaten/kota melakukan unjuk rasa bersama di Surakarta, Jawa Tengah, Jumat (24/2) sore. Mereka mendesak pemerintah segera mengesahkan UU Antipornografi dan Pornoaksi serta mengecam pembuatan kartun Nabi Muhammad. Massa berkumpul di Lapangan Kottabarat dilanjutkan dengan long march sepanjang 5 kilometer hingga Alun-alun Utara Kraton Surakarta.

Babakan Ciwaringin, Cirebon, 8 Oktober 2004
Menganyam tali kasih, mungkin merupakan hal biasa bagi manusia-manusia gaul. Tapi bagi komunitas santri, apalagi yang mendalami ilmu agama di pondok-pondok salafy, berduaan bukanlah peristiwa mudah. Ada banyak kaidah fiqh yang mesti dijadikan rujukan dan bahan pertimbangan. Beruntung, kedua sejoli itu sudah terbebas dari segala dalil yang membatasi mereka berduaan. Ada banyak orang di sekitar mereka. Selamatlah mereka di dunia dan akhirat. Amin

DA-M Theatre dari Jepang ini termasuk kelompok dengan produk kerja teater yang ‘mencerdaskan’ aku pribadi. Memang, aku sulit memahami jalinan cerita yang coba dirajut dan mereka beri label Aruku itu. Tapi, aku bisa menikmati pertunjukan mereka, sajian tata artistik yang diperkenalkannya lewat tabung-tabung neon berserakan dan intensitas gerak para pemainnya. Sungguh, aku merasa masih lebih bingung menikmati pertunjukan Mas Putu Wijaya.
Kesan kumuh biasa dilekatkan pada kehidupan pelaku seni tradisi, termasuk seniman Wayang Orang Sriwedari. Padahal, kotoran bisa jadi ditimbulkan saat renovasi atau pengecatan ruangan berlangsung, seperti yang menimpa meja rias Sutopo Gareng, 55 tahun (kiri) dengan Eko Wahyu, 36 tahun.

Lorong ini kutemukan di jembatan yang melintang di atas Bengawan Solo, sekitar lima kilometer ke arah timur dari pusat Kota Solo. Lorong yang selalu sepi, meski di dua sisinya melintas ribuan kendaraan berat-ringan, dari pagi hingga mentari kembali menyapa keesokan harinya.

Waktu Batu #3:, Jakarta 27-28 September 2004
Teater Garasi, Yogyakarta boleh disebut sebagai kelompok teater yang paling berpengaruh di Indonesia pada kurun 2000-an. Bukan sekadar tingkat pencapaian artistik semata yang menjadikan karya-karya Garasi mengundang decak kagum para publik seni Indonesia dan mancanegara.

Waktu Batu #3:, Jakarta 27-28 September 2004
Keseriusan anak-anak muda –yang dipimpin Yudi Ahmad Tajudin alias Ogleng, dalam menyikapi kesenianlah yang menjadikan kelompok ini laris diundang tampil di luar negeri. Dalam menyiapkan sebuah garapan, misalnya, mereka rela menghabiskan waktu berbulan-bulan hanya untuk menyiapkan naskah dan melakukan riset pendukung untuk memperkaya konsepnya.

Waktu Batu #3:, Jakarta 27-28 September 2004
Tak hanya riset pustaka, kelompok ini juga aktif mendiskusikan temuan mereka dengan sejumlah pakar, pelaku sejarah atau saksi peristiwa, selain antar-mereka sendiri: para aktor, kru artistik, penulis naskah dan sutradara. Yang paling tampak nyata menyita energi adalah ketika mereka menggarap lakon Waktu Batu, yang hingga repertoar Waktu Batu #3 (2004), mereka memerlukan waktu riset hingga lebih dari tiga tahun.

Waktu Batu #3:, Jakarta 27-28 September 2004
Sama dengan dua repertoar sebelumnya, Waktu Batu #1: Kisah-kisah yang Bertemu di Ruang Tunggu (2002) dan Waktu Batu #2:Ritus Seratus Kecemasan dan Wajah Siapa yang Terbelah (2003), Waktu Batu #3: Deus ex Machina dan Perasaan-perasaanku Padamu masih mendasarkan pada tiga tema dasar, yakni waktu, transisi dan identitas. Kegelisahan mereka akan waktu ditelusuri melalui riset dan reinterpretasi atas teks mitologi, yang dalam hal ini memfokuskan ruwatan Murwakala, yang dalam kosmologi Jawa diwujudkan dalam upaya-upaya menolak bala.

Waktu Batu #3:, Jakarta 27-28 September 2004
Sementara sejarah dijadikan sebagai acuan untuk membaca transisi dalam berbagai aspek kebudayaan manusia untuk menemukan identitas, yang potretnya bisa ditemukan pada kompleksnya problema modernitas di Indonesia. Maka, tak aneh lagi bila Teater Garasi dengan Waktu Batu #3: Deus ex Machina dan Perasaan-perasaanku Padamu ditunjuk sebagai ‘wakil teater’ Indonesia bersama Teater Kubur (Jakarta) untuk tampil dalam Art Summit Indonesia IV di Jakarta, akhir September 2004 bersama sejumlah kelompok-kelompok kesenian (teater, tari dan musik) papan atas dari berbagai negara.

Waktu Batu #3:, Jakarta 27-28 September 2004
Teater Garasi yang semula adalah Unit Kegiatan Mahasiswa di Fisipol Universitas Gadjah Mada, bisa disebut sebagai salah satu dari sedikit kelompok teater kampus yang berhasil membangun identitas, dan sukses dalam mensejajarkan diri dengan kelompok-kelompok teater ‘profesional’ papan atas di Indonesia. Maka, bukan hal aneh kalau karya yang sama diundang untuk dipertontonkan dalam Insomnia 48 di The Art House at The Old Parliament House, Singapura, sebulan kemudian.
Wawan Sofwan adalah aktor tulen. Ia mematangkan talenta keaktorannya di Studiklub Teater Bandung (STB), sebuah kelompok teater yang pamornya dan reputasinya belum tertandingi dalam hal penyutradaraan naskah-naskah realis. Dari bekal itu, kini ia memilih mengembangkan format pertunjukan ‘serba tunggal’ seperti monolog, monoplay atau drama-reading lewat MainTeater, sebuah organisasi ramping yang terdiri para penggiat seni pertunjukan, khususnya teater di Bandung.

Kontrabass hanyalah salah satu dari sekian karya pertunjukan yang disutadarai sekaligus dimainkannya sendiri, tak terbatas di Bandung dan Jakarta, namun hingga ke beberapa pusat kesenian di Eropa. Pertunjukan yang mengangkat karya Patrick Süßkind berjudul Der Kontrabass di GoetheHaus, Jakarta 9 Maret 2004 lalu, merupakan salah satu unjuk kemampuan Wawan dalam akting tragikomedi tentang sosok lelaki pecundang.

Kontrabass, berkisah tentang sosok musisi yang memainkan kontrabass dalam sebuah kelompok orkestra dengan latar belakang Jerman tempo dulu. Lelaki itu, piawai membawakan komposisi karya Mozart, Beethoven, Schubert dan banyak lagi, seperti Cosi van tutte atau semacam Symphony no. 5. Tapi, ada konflik pada dirinya, yang mencintai Sarah, seorang penyanyi sopran di kelompoknya. Harga dirinya terusik, karena ia merasa perannya sebagai pemain kontrabass tak diperhitungkan. Sementara ia berkeyakinan, harmoni sebuah orkestrasi menjadi mustahil bila terdapat penyimpangan dari salah satu atau lebih instrumen musik yang dimainkan.

Prajurit Ketanggung
Memperingati ulang tahun ke-261 yang jatuh pada 17 Pebruari 2006, Pemerintah Kota Surakarta, Jawa Tengah menyelenggarakan kirab agung pada Jumat (17/2) sore. Peringatan kali ini menjadi bersejarah karena pertama kali diikuti perwakilan dari Kasultanan Yogyakarta, yakni prajurit Lombok Ijo dan prajurit Ketanggung. Kelahiran kota Surakarta ditandai dengan pindahnya kompleks kerajaan Mataran dari Kartasura ke Desa Sala, Surakarta pada 1745. Kraton Surakarta pecah menjadi dua, Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta pada 1755.

Panyot pun Padam
Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta menjadi saksi bisu dinamika tari Indonesia. Malam itu, 14 Desember 2004, tujuh koreografer muda tampil sebagai finalis ‘kompetisi’ penciptaan gerak tari. Seperti dapat diduga, ketujuh finalis memang rata-rata masih pantas disebut muda, bahkan dalam pengertian denotatif. Seperti pada fase pertumbuhan manusia, masa muda memiliki banyak ciri-ciri yang khas.

Air Kehidupan
Sifat naif, misalnya, ditunjukkan oleh Aldri (Bekasi). Komposisi Air Kehidupan yang disusunnya berpijak pada vokabuler gerak tari bedhaya, termasuk dalam penempatan blocking lima penarinya dan penggunaan belasan kendi berisi air sebagai elemen artistiknya. Tak ada kedalaman eksplorasi Aldri, terutama terhadap filosofi benda yang dijadikan perangkat artistik. Sifat serupa juga ditunjukkan Lalu Suryadi (Lombok) yang menyajikan Wangsa Menak.

Mikrokosmos
Kecenderungan pamer teknik dan kamus gerak, sangat menonjol karena hampir seluruhnya menyajikan gerak yang mudah dijumpai persamannya dengan khazanah gerak yang pernah disajikan koreografer-koreografer senior lainnya, atau mengambil apa adanya dari vokabuler gerak tari-tari tradisi. Tak ada yang serius mengeksplorasi lebih dalam, bahkan untuk sekadar memodifikasi atau membuat stilisasi gerak. Sudiharto (Yogyakarta) yang mengusung Mikrokosmos, misalnya, sangat kelihatan terinspirasi oleh Penumbra karya Martinus Miroto, yang tak lain adalah guru tarinya di ISI Yogyakarta.

Meraba Raga
Yang menarik perhatian dari forum pencarian bibit-bibit baru itu, adalah tampilnya tiga pencipta asal Solo: Ni Kadek Yulia (Rene-Indahku), Rini Endah (Meraba Raga) dan Danang Pamungkas (Panyot pun Padam). Penampilan ketiganya, selain mendominasi aplaus penonton, juga menyita perhatian para juri yang terdiri dari koreografer Boy G Sakti, Wiwik Sipala dan wartawan Efix Mulyadi.

Rene-Indahku
Bukan hanya kemampuan teknik yang dikuasai seluruh penari pendukung karya-karya mereka, namun ketiga koreografer dari ’satu atap’ –mereka sama-sama berlatar belakang pendidikan di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta, itu mampu menyajikan pola gerak dan vokabuler yang beragam, meski tak terlalu baru. Kecenderungan pamer teknik, sudah tak terasa pada mereka. Sayang, tingkat kesulitan teknis yang berhasil ditaklukkan, kekayaan khazanah gerak dan kedalaman tema eksplorasi tema yang tampak pada Meraba Raga, luput dari perhatian para juri. Hingga akhirnya, Danang yag dinobatkan sebagai penampil terbaik.

Republik Aeng-aeng, Solo memang suka bikin ulah, bikin kegiatan-kegiatan sensasional. Kelompok yang dibentuk oleh praktisi iklan luar ruang, Mayor Haristanto itu, kembali membuat ulah dalam rangka memperingati ulang tahun Kota Surakarta ke-261. Belasan pemuda ia ajak mengepel Jalan Slamet Riyadi sepanjang lima kilometer pada Kamis, 16 Pebruari siang.
Separuh badan jalan protokol itu, mulai perempatan Gendengan dan berakhir di depan Balaikota, dipel dengan menggunakan karung goni. Seorang anggota kelompok itu menaburkan serbuk deterjen yang disemprot dengan air sebanyak lima tangki yang disediakan Dinas Pemadam Kebakaran setempat.
Koreografi terbaru Wied Sendjajani (Solo) yang dipentaskan di Taman Budaya Surakarta, pertengahan 2005. Koreografer yang juga dikenal sebagai pelukis itu hampir selalu melibatkan anak-anak ke dalam hampir seluruh koreografinya. Ia selalu memasukkan idiom-idiom gerak tari klasik Jawa ke dalam karya-karya baletnya.

Mbak Wied, hampir selalu mempertaruhkan apa saja yang dimilikinya untuk membuat karya-karya balet. Karena minim sponsor, ia harus membiayai sendiri seluruh poduksinya. Uniknya, ia tak mau masuk ke dalam wilayah balet komersial yang sesungguhnya berpotensi meringankan beban produksinya. Sebab di Kota Solo, pebalet-pebalet Surabaya paling sering tampil untuk memeriahkan pesta-pesta keluarga menengah atasnya.

Tarian klasik Pura Mangkunegaran, Surakarta, yang bertutur tentang konflik antar-perempuan karena berebut pengaruh asmara dengan bangsawan kerajaan. Di satu pihak adalah simbol perempuan lokal sebangsa dengan si bangsawan, satu pihak lagi mewakili sosok perempuan pendatang, yang diwujudkan dengan sosok-sosok keturunan China.
Srimpi Srimpet adalah sebuah parodi yang sesungguhnya. Menilik dari judul tarian yang diciptakan oleh Wahyu Widayati alias Inong itu, imajinasi kita akan segera mengarah pada beragam jenis tarian agung ciptaan raja-raja di Jawa seperti Kasunanan Surakarta dan Mangkunegaran. Yang lazim diketahui umum, Srimpi diperankan oleh penari yang cantik-cantik, perawan dan dipertunjukkan dalam peristiwa-peristiwa khusus kerajaan.

Wahyu Inong Widayati
Oleh Inong, Srimpi dijadikan sebagai bahan olok-olok. Kerumitan tata cara penyajian dan kebutuhan iringan, bumbu mistis yang dilekatkan pada jenis tarian agung kerajaan itu (oleh kerajaan), dia jadikan pijakan untuk proses penciptaan. Musik iringan, misalnya, digantikannya dengan tembang-tembang Jawa. Penari yang seharusnya diam hening, diubahnya menjadi sosok-sosok yang bawel, kadang-kadang genit dan selengekan.

Cap adiluhung yang dilekatkan pada tarian itu hanyalah wujud halus keangkuhan keluarga kerajaan, karena semata-mata dilatari oleh alasan tak mau disaingi, apalagi oleh seniman atau aktor-aktor di luar tempok istana. Apalagi, banyak orang masih mempertanyakan, kenapa seorang penari bedaya atau srimpi harus berstatus perawan (virgin) dan tidak sedang menstruasi saat naik di atas pentas, yang biasanya dihadiri oleh raja, keluarga dekat beserta tamu-tamu istimewa kerajaan.
Ratusan warga Desa Pancot, Karanganyar, Jawa Tengah melakukan ritual tahunan Suryo Jawi, berupa ruwatan untuk kuda tunggangan di Taman Balekambang, Tawangmangu, Selasa siang, 14 Pebruari 2006. Ruwatan itu diperuntukkan bagi sedikitnya 120 kuda yang biasa digunakan sebagai sarana transportasi wisata di Tawangmangu yang terletak di lereng Gunung Lawu. Ruwatan itu dilakukan setiap bulan Suro atau Muharram dalam kalender Islam, yang bermakna memohon kecukupan rejeki dan kesehatan, baik untuk si kuda maupun pemiliknya.

Meski sebagai peristiwa bisa dinikmati, prosesi ritual itu bagai api yang membara dalam sekam. Keinginan Pemerintah Kabupaten Karanganyar cukup mulia. Untuk mendongkrak kesejahteraan masyarakat dan pemasukan daerah melalui event wisata, pemerintah mendorong dihidupkannya kembali kekayaan budaya subkultur yang memang sangat beragam. Ada perayaan Dhukutan, Wahyu Kliyu dan banyak lagi yang sengaja dipromosikan sebagai event tetap.
Anehnya, ada sekelompok penganut paham keagamaan tertentu yang menganggap kebijakan itu sebagai tindakan yang mendukung praktik syiri’, sinkretis dan sebagainya, sehingga mereka menggunakan caranya sendiri, tentu atas nama agama, untuk menentang dan menggagalkan. Anehnya, cara yang ditempuh tidak berbudaya, bahkan cenderung mengandalkan kekuatan fisik dan massa.

Slamet Gundono, harus diakui sebagai dalang muda yang kreatif. Semula, sebagai pengagum almarhum Ki Nartosabdho, ia ingin menjadi dalang wayang kulit yang bergaya klasik. Kemampuan dan karakter vokalnya (antawacana, Jw.) cukup bagus, bahkan bisa disebut reinkarnasinya Ki Narto. Soal olah gerak boneka wayang alias sabet juga standar.
Cuma, dia kalah dalam persaingan antar-dalang. Lobi dan jaringan dengan konsumen dan broker sudah dikuasai dalang-dalang mainstream, yaitu Ki Manteb Sudharsono dan Ki Anom Suroto untuk gaya Surakarta dan Ki Hadi Sugito untuk gaya Yogyakarta. Karena itulah, ia mengembangkan gaya pertunjukan sendiri, seperti wayang suket yang boneka wayangnya terbuat dari rumput atau wayang gremeng yang dimainkan tanpa boneka wayang kulit. Nyatanya, dia sukses dengan hasil eksplorasi kreatifnya. Baik ditilik secara eksistensialis maupun dari sudut pandang ekonomis.
Sutradara merangkap pimpinan Teater Mandiri, Jakarta. Karya-karya dramanya unik. Maksudnya, aku sering bingung menangkap maksudnya. Selalu miskin kata! Tentu harus dimaklumi, karena aku lahir dan dibesarkan dalam lingkungan yang lebih memajukan tradisi lisan, dan sangat jauh dari keinginan mengembangkan tradisi membaca –baik teks maupun simbol.

Begitulah aku, yang karena latar belakangku, menjadi lebih suka menyimak pertunjukan oleh kelompok-kelompok yang lebih suka berkomunikasi dengan teks seperti Teater Gandrik, Studiklub Teater Bandung (STB), Actors Unlimited (AUL) atau Teater Gidag-gidig. Kalaupun ada kelompok yang pelit berbagi kalimat, pertunjukan Kelompok Payung Hitam masih mudah dan enak dinikmati.

A. Muhaimin Iskandar, Ketua Umum DPP Partai Kebangkitan Bangsa versi Muktamar Semarang, pusing menghadapi perlawanan pengurus pusat tandingan yang dibentuk oleh Saifullah Yusuf, sepupunya sendiri. Saling gugat antara kedua kelompok yang berseberangan, hingga kini masih berlangsung kendati secara politis, PKB versi Muhaimin memperoleh dukungan politik dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Mantan Presiden Soeharto sedang berbincang lepas dengan keluarganya seusai nyekar mendiang istrinya di makam keluarga, kompleks Astana Giribangun di Matesih, Karanganyar, Jawa Tengah, pertengahan 1997.

Fitri, koreografer muda asal Solo, mempertunjukkan koreografi hasil kolaborasinya dengan Tita, perupa yang bermukim di Yogyakarta. Judul karya itu mengingatkan pada salah satu lakon teater fenomenal di Indonesia pada awal 1990-an, berjudul Migrasi Dari Ruang Tamu. Kebetulan, penulis naskah lakon drama itu adalah Afrizal Malna , yang dalam koreografi terlibat sebagai tim artistik.

Teater Koma, Jakarta mementaskan lakon Republik Togog di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 31 Juli 2004

Seribuan aktivis masjid, santri sejumlah pondok pesantren dan pelajar Islam di Surakarta melakukan unjuk rasa menentang pemuatan kartun Nabi Muhammad di sejumlah media barat di Bundaran Gladag, Surakarta, Jawa Tengah, Jumat (10/2). Selain mengutuk pelakunya, mereka mendesak pemerintah Indonesia memutus hubungan diplomatik dan ekonomi dengan Denmark, Norwegia, Prancis, New Zealand, Australia, Inggris dan Amerika Serikat. Massa juga mengancam akan melakukan pengusiran warga asing dari Surakarta.

Topeng Endhel, merupakan salah satu kekayaan kultur Jawa Tengah dalam cabang seni tradisi, yang pamornya kini berangsur surut. Sawitri yang mempertunjukkan Topeng Endhel di Taman Budaya Surakarta, akhir Juli 2005 lalu menjadi salah satu seniman yang masih setia mempertahankan keberadaan tari topeng di luar tarian serupa yang dihidupi oleh kerajaan, seperti Kraton Surakarta, Pura Mangkunegaran dan kraton-kraton lain di Pulau Jawa.

Sianne W Halim (Surabaya), satu dari sedikit koreografer kontemporer Indonesia yang menggunakan vokabuler balet sebagai dasar penciptaan.

Prinsip umum pelaku seni tradisi: tak ada penonton, anjing pun jadi…..
Golf, jelas bukan jenis olah raga yang cocok untuk orang sibuk seperti Aburizal Bakrie, Menteri Koordinator bidang Kesejahteraan Rakyat dalam kabinet revised edition pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. Tapi jalan kaki, apalagi sejauh hampir 10 kilometer di bawah terik matahari juga bukan hal yang tepat untuk seorang menteri.

Namun, itulah kenyataan yang harus dihadapi Ical, panggilan akrab untuk pemilik kelompok usaha Grup Bakrie itu. Jalan macet karena puluhan ribu manusia tumpah ruah ingin ‘menyaksikan’ proses evakuasi jenazah korban bencana tanah longsor Desa Sijeruk, Banjarnegara, 5 Januari lalu, membuat mobil yang ditumpangi Ical harus diparkir lima kilometer dari lokasi bencana. Akibatnya, Ical yang disertai Menteri Percepatan Derah Tertinggal Saifullah Yusuf dan Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah harus rela jalan kaki, berdesakan dengan rakyat kebanyakan.
Karena regenerasi merupakan keniscayaan, maka harus disusun perencanaan. Seperti dilakukan para aktivis Hisbuth Tahrir Indonesia Surakarta, maka mendidik tunas militan dan teguh dalam keyakinan harus dilakukan sejak dini seperti tampak dalam sebuah aksi unjuk rasa pada 16 Januari 2006.

Bagi aktivis Hisbuth Tahrir, kebanyakan orang sudah melupakan misi dasar untuk membangun peradaban baru. Masa depan haram digadaikan.
Bagi delapan keluarga (56 jiwa) penduduk Dusun Tegalsari, Desa Kayen, Kecamatan Juwangi, Boyolali, Jawa Tengah, sumur masih merupakan barang mewah. Pada musim penghujan, mereka mengandalkan sungai kecil yang selalu mengalirkan air jernih. Tapi, ketika musim kemarau tiba, sungai mengering.

Beruntung, dasar sungai itu masih memungkinkan digali lagi. Maka, warga di sana membuat cekungan-cekungan kecil untuk menampung rembesan air permukaan yang tak seberapa. Dalam satu jam, air jernih yang tersaring alamiah oleh batuan kapur akan terkumpul hingga 25 liter. Dari rembesan itu, mereka bisa memasak dan minum secukupnya. Cuma, untuk urusan mandi, mereka masih sanggup bertahan hingga dua hari tanpa guyuran air jernih nan mahal itu.

Boleh jadi, mereka akan marah bila kelak, tahu bila Si Emas Biru sudah mulai diperdagangkan, menyusul diberlakukannya Undang-undang tentang Sumber Daya Air yang memang memandang air sebagai komoditas baru yang boleh diperdagangkan. Ironis! Sebab tak jauh dari tempat tinggal mereka, air selalu menggenang di Waduk Kedungombo.

Publikasi kartun Nabi Muhammad oleh sebuah penerbitan di Denmark yang disusul publikasi serupa di media-media barat terus menyulut amarah umat Islam. Di Solo, Jawa Tengah, puluhan mahasiswa yang berafiliasi dengan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) berunjuk rasa di halaman kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Selain mengutuk Denmark, para mahasiswa juga meminta agar pemerintah Indonesia memutuskan hubungan diplomatik dengan Denmark.
Bau anyir menyergap ketika aku melintas di jalan samping masjid kecil, sekitar 1 kilometer dari lokasi tanah longsor Desa Sijeruk, Kabupaten Banjarnegara. Rupanya, sumber bau berasal dari genangan air di sekitar masjid itu, yang ternyata sisa untuk memandikan jenazah yang baru ditemukan, dua hari setelah peristiwa memilukan itu.

Dari balik kaca, kulihat seorang ustad sedang khusyuk berdoa usai melakukan shalat jenazah untuk para korban. Aku berusaha mendekat dan memasuki masjid. Di dalam masjid, bau anyir yang berasal dari cairan tubuh mayat lebih terasa menusuk hidung. Bulu kuduk merinding. Aku teringat Dia Yang Maha Kuasa, pemilik bumi, langit dan seisinya. Anganku melayang pada Surat Yaasiin ayat 82.
Aku masih beruntung bisa bersaksi. Karena dengan begitu, aku jadi teringat akan kebesaran kuasa-Nya.

Sejumlah anggota Komisi Pertahanan DPR RI seperti Permadi dan Djoko Susilo sedang melakukan inspeksi persenjataan yang dimiliki Komandu Pasukan Khusus (Kopassus) TNI Angkatan Darat di Markas Kopassus Grup-2, Kartasura, Jawa Tengah.
Kunjungan anggota parlemen itu dalam rangka mengumpulkan bahan dan data dalam rangka pengembangan persenjataan sebagai alat pertahanan di Indonesia. Semua angkatan dalam tubuh TNI (Darat, Laut dan Udara) membutuhkan pembaruan alat-alat pertahanan serta perbaikan sejumlah peralatan pertahanan yang sudah out of date dibanding peralatan yang dimiliki negara-negara tetangga.
Tanpa embel-embel Madonna sang superstar, Eko Supriyanto sesungguhnya seorang koreografer muda bertalenta kuat. Perkenalan dengan seni tari dimulai pada masa kecilnya di Magelang, saat ia berguru pada seorang guru tari tradisional yang memperkenalkannya pada tarian jenis Kuda Lumping dan Kubro Siswo, dua jenis tarian khas setempat.

Minatnya pada dunia tari kian kuat hingga ia melanjutkan jenjang pendidikan formalnya di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta. Belajar pada sejumlah koreografer senior di Solo dan sekitarnya, membuatnya kian matang dalam olah gerak dan mencipta sejumlah komposisi dan koreografi. Ia beruntung bisa mengikuti program pertukaran penari tingkat internasional dalam forum APPEX di Amerika.

Dari Amerika, ia berkenalan dengan sutradara opera ternama, Peter Sellars yang merekrutnya sebagai salah satu pendukung opera karya Sellars. Ia juga beruntung bisa meneruskan jenjang akademisnya hingga memperoleh gelar Master of Fine Arts/MFA dari University of California Los Angeles (UCLA) dalam bidang seni tari.

Sajadah. Dialah salah satu dari sedikit yang tersisa dalam bencana tanah longsor di Desa Sijeruk, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, 4 Januari lalu. Hanya 15 meter dari sajadah, sedikitnya 40 orang terkubur hidup-hidup saat menjalankan shalat subuh. 75 orang dinyatakan mati sia-sia akibat tebing curam menggelontorkan tanahnya ke pemukiman warga di lembah

Ratusan abdi dalem Puro Mangkunegaran, Surakarta melakukan kirab mengeliling kompleks kerajaan itu di Solo, Jawa Tengah, Senin malam, 30 Januari 2006. Terdapat dalam kotak yang ditandu adalah rompi kebesaran Pangeran Sambernyawa alias Raden Mas Said, pendiri Puro Mangkunegaran yang bergelar Mangkunegara I (1757-1795).

Seorang anak menjerit ketakutan ketika boneka kodok menghampiri. Kodok lucu yang selalu muncul saat perayaan Imlek. Banyak orang, tak terbatas pada komunitas keturunan China, berebut tempat untuk bisa memberikan angpau kepada sang kodok (juga boneka naga), sebagai lambang kedermawanan dan pengharapan akan limpahan rejeki di kemudian hari

Ternyata, tak semua anjing itu pemberani. Jadi, idiom populer ‘Awas Ada Anjing‘ juga mesti segera diganti karena mitos itu sudah diruntuhkan oleh seekor unggas yang berkeliaran di sekitar Gedung Ketoprak Balekambang, Solo

Orang utan jenis ini, nyaris punah. Di Indonesia, populasi Pongo Pygmaeus tinggal beberapa ratus dan hanya terdapat di sebagian Kalimantan dan Sumatera. Si Pongo ini merupakan satu di antara lima koleksi Taman Satwa Taru Jurug, Solo pada 17 Maret 2004

Rapuhnya Sekolah Kami…..
Jauh dari kota tak lantas menyurutkan warga Desa Kendel, Kecamatan Kemusu, Boyolali, Jawa Tengah, dalam urusan menuntut ilmu. Semangat menuntut ilmu, bukan saja ditunjukkan saat kegiatan belajar-mengajar dilangsungkan. Di luar alat tulis dan buku pelajaran, sebagian bahkan terpaksa mengangkut meja belajar dari rumah, demi mengejar cita-cita.

Hampir seluruh penduduk di pelosok desa –tak jauh dari genangan Waduk Kedungombo, itu memiliki tingkat pendidikan memadai, minimal tamatan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA). Meski jenjang pendidikan dasar yang menjadi penentu dilalui dengan berkelesot di serambi masjid akibat ketiadaan ruang kelas.

Religiusitas, rupanya menjadi faktor kunci keberhasilan pendidikan di desa itu. Spirit bahwa mencari ilmu merupakan kewajiban bagi seorang muslim, membuat desa itu bebas buta huruf. Uniknya, mayoritas penduduk masih mempercayakan jenjang pendidikan dasar anak-cucu mereka ke satu-satunya Madrasah Ibtidaiyah (MI) “Al Ma’arif” yang ada di desa itu. Kecenderungan memadukan ilmu duniawi dengan ilmu agama itu, bahkan mengakibatkan dua sekolah dasar negeri di sana, nyaris gulung tikar akibat kekurangan murid.

Ironisnya, bangunan fisik MI “Al Ma’arif” yang didirikan pada 1969 itu kian rapuh. Ketiadaan dana, baik yang berasal dari Nahdlatul Ulama sebagai induk organisasinya maupun Departemen Agama yang membawahkannya, membuat gedungnya nyaris runtuh. Beberapa ruangan, bahkan harus disekat dengan papan untuk menampung 140 siswa/siswi dari Kelas I hingga Kelas VI. Untung, keceriaan selalu mewarnai kelas-kelas kumuh mereka………..


Para pelayat meninggalkan kediaman Hernianto, 29 tahun, seusai mengikuti prosesi pemakaman di Desa Sayangan, Kecamatan Polokarto, kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, Sabtu (4/2) siang. Hernianto, terpidana 12 tahun dalam kasus Bom Bali I meninggal di LP kerobokan, Denpasar, Jumat (3/2) pukul 16.00 WITA atau 15.00 WIB akibat komplikasi sejumlah penyakit seperti diabetes, anemia dan saluran kandung kemih.

Jenazah Hernianto, 29 tahun, sedang diangkat untuk dimasukkan ke liang lahat di
pemakaman umum tak jauh dari rumahnya di Desa Sayangan, Kecamatan Polokarto,
Kabupaten Sukoharjo, Sabtu (4/2) siang. Hernianto, terpidana 12 tahun dalam kasus
Bom Bali I meninggal di LP kerobokan, Denpasar, Jumat (3/2) pukul 16.00 WITA atau
15.00 WIB, akibat komplikasi sejumlah penyakit seperti diabetes, anemia dan saluran
kandung kemih.
Jenazah Jaringan Pelaku Bom Bali

Puluhan anggota Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) sedang melakukan shalat jenazah
untuk Hernianto, 29 tahun di Masjid Syuhada, tak jauh dari rumah almarhum di Desa
Sayangan, Kecamatan Polokarto, Kabupaten Sukoharjo, Sabtu (4/2) siang. Hernianto,
terpidana 12 tahun dalam kasus Bom Bali I meninggal di LP Kerobokan, Denpasar,
Jumat (3/2) pukul 16.00 WITA atau 15.00 (WIB) akibat komplikasi sejumlah penyakit
seperti diabetes, anemia dan saluran kandung kemih

Membaca Ruang Batu, sebuah ekperimentasi yang memadukan performance art dan koreografi oleh Eko Supendi (Surakarta)
Wonogiri, 30 Juli 2005

Artika Sari Devi, pemain Sinta dalam Sinta Obong, film terbaru Garin Nugroho yang dipersiapkan khusus untuk festival seni dalam rangka memperingati 250 tahun Wolfgang Amadeuz Mozart

Takiko Iwabuchi (Japan) mempertunjukkan sebuah koreografi
memikat berjudul Be… dalam Indonesian Dance Festival (IDF).
Jakarta, 16 Juli 2004

In Love with the Locus, sebuah koreografi karya Min Tanaka (Japan)
Gedung Kesenian Jakarta, 15 Juli 2004

Koreografer I Nyoman Sura (Denpasar) mempersembahkan Bulan Mati/Laku Sang Bulan.
Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki.
Jakarta, 16 Juli 2004

Ritus Diri, sebuah koreografi Hartati.
Gedung Kesenian Jakarta, 15 September 2004

Gumarang Dance Company mempertunjukkan koreografi berjudul
Api Dalam Sekam di Gedung Kesenian Jakarta, 20 Agustus 2004

Anggota resimen Para Komando sedang berlatih beladiri di markas Kopassus Grup-2 di Kartasura, Jawa Tengah.
Megawati Soekarnoputri. Menjadi Presiden Indonesia karena bersedia bersekongkol menggulingkan KH Abdurrahman Wahid.

Harry Roesli atau lebih akrab dengan sapaan Kang Harry , komponis sekaligus musisi, guru banyak artis pop Indonesia.