SosokFebruary 6, 2006 11:20 am

Tanpa embel-embel Madonna sang superstar, Eko Supriyanto sesungguhnya seorang koreografer muda bertalenta kuat. Perkenalan dengan seni tari dimulai pada masa kecilnya di Magelang, saat ia berguru pada seorang guru tari tradisional yang memperkenalkannya pada tarian jenis Kuda Lumping dan Kubro Siswo, dua jenis tarian khas setempat.

Minatnya pada dunia tari kian kuat hingga ia melanjutkan jenjang pendidikan formalnya di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta. Belajar pada sejumlah koreografer senior di Solo dan sekitarnya, membuatnya kian matang dalam olah gerak dan mencipta sejumlah komposisi dan koreografi. Ia beruntung bisa mengikuti program pertukaran penari tingkat internasional dalam forum APPEX di Amerika.

Dari Amerika, ia berkenalan dengan sutradara opera ternama, Peter Sellars yang merekrutnya sebagai salah satu pendukung opera karya Sellars. Ia juga beruntung bisa meneruskan jenjang akademisnya hingga memperoleh gelar Master of Fine Arts/MFA dari University of California Los Angeles (UCLA) dalam bidang seni tari.

Kehidupan 4:32 am

Sajadah. Dialah salah satu dari sedikit yang tersisa dalam bencana tanah longsor di Desa Sijeruk, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, 4 Januari lalu. Hanya 15 meter dari sajadah, sedikitnya 40 orang terkubur hidup-hidup saat menjalankan shalat subuh. 75 orang dinyatakan mati sia-sia akibat tebing curam menggelontorkan tanahnya ke pemukiman warga di lembah

Kehidupan 4:22 am

Ratusan abdi dalem Puro Mangkunegaran, Surakarta melakukan kirab mengeliling kompleks kerajaan itu di Solo, Jawa Tengah, Senin malam, 30 Januari 2006. Terdapat dalam kotak yang ditandu adalah rompi kebesaran Pangeran Sambernyawa alias Raden Mas Said, pendiri Puro Mangkunegaran yang bergelar Mangkunegara I (1757-1795).

Kehidupan 4:13 am

Seorang anak menjerit ketakutan ketika boneka kodok menghampiri. Kodok lucu yang selalu muncul saat perayaan Imlek. Banyak orang, tak terbatas pada komunitas keturunan China, berebut tempat untuk bisa memberikan angpau kepada sang kodok (juga boneka naga), sebagai lambang kedermawanan dan pengharapan akan limpahan rejeki di kemudian hari

Fauna 4:03 am

Ternyata, tak semua anjing itu pemberani. Jadi, idiom populer ‘Awas Ada Anjing‘ juga mesti segera diganti karena mitos itu sudah diruntuhkan oleh seekor unggas yang berkeliaran di sekitar Gedung Ketoprak Balekambang, Solo

Fauna 3:59 am

Orang utan jenis ini, nyaris punah. Di Indonesia, populasi Pongo Pygmaeus tinggal beberapa ratus dan hanya terdapat di sebagian Kalimantan dan Sumatera. Si Pongo ini merupakan satu di antara lima koleksi Taman Satwa Taru Jurug, Solo pada 17 Maret 2004

Esai 3:46 am


Rapuhnya Sekolah Kami…..

Jauh dari kota tak lantas menyurutkan warga Desa Kendel, Kecamatan Kemusu, Boyolali, Jawa Tengah, dalam urusan menuntut ilmu. Semangat menuntut ilmu, bukan saja ditunjukkan saat kegiatan belajar-mengajar dilangsungkan. Di luar alat tulis dan buku pelajaran, sebagian bahkan terpaksa mengangkut meja belajar dari rumah, demi mengejar cita-cita.

Hampir seluruh penduduk di pelosok desa –tak jauh dari genangan Waduk Kedungombo, itu memiliki tingkat pendidikan memadai, minimal tamatan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA). Meski jenjang pendidikan dasar yang menjadi penentu dilalui dengan berkelesot di serambi masjid akibat ketiadaan ruang kelas.

Religiusitas, rupanya menjadi faktor kunci keberhasilan pendidikan di desa itu. Spirit bahwa mencari ilmu merupakan kewajiban bagi seorang muslim, membuat desa itu bebas buta huruf. Uniknya, mayoritas penduduk masih mempercayakan jenjang pendidikan dasar anak-cucu mereka ke satu-satunya Madrasah Ibtidaiyah (MI) “Al Ma’arif” yang ada di desa itu. Kecenderungan memadukan ilmu duniawi dengan ilmu agama itu, bahkan mengakibatkan dua sekolah dasar negeri di sana, nyaris gulung tikar akibat kekurangan murid.

Ironisnya, bangunan fisik MI “Al Ma’arif” yang didirikan pada 1969 itu kian rapuh. Ketiadaan dana, baik yang berasal dari Nahdlatul Ulama sebagai induk organisasinya maupun Departemen Agama yang membawahkannya, membuat gedungnya nyaris runtuh. Beberapa ruangan, bahkan harus disekat dengan papan untuk menampung 140 siswa/siswi dari Kelas I hingga Kelas VI. Untung, keceriaan selalu mewarnai kelas-kelas kumuh mereka………..