
Panyot pun Padam
Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta menjadi saksi bisu dinamika tari Indonesia. Malam itu, 14 Desember 2004, tujuh koreografer muda tampil sebagai finalis ‘kompetisi’ penciptaan gerak tari. Seperti dapat diduga, ketujuh finalis memang rata-rata masih pantas disebut muda, bahkan dalam pengertian denotatif. Seperti pada fase pertumbuhan manusia, masa muda memiliki banyak ciri-ciri yang khas.

Air Kehidupan
Sifat naif, misalnya, ditunjukkan oleh Aldri (Bekasi). Komposisi Air Kehidupan yang disusunnya berpijak pada vokabuler gerak tari bedhaya, termasuk dalam penempatan blocking lima penarinya dan penggunaan belasan kendi berisi air sebagai elemen artistiknya. Tak ada kedalaman eksplorasi Aldri, terutama terhadap filosofi benda yang dijadikan perangkat artistik. Sifat serupa juga ditunjukkan Lalu Suryadi (Lombok) yang menyajikan Wangsa Menak.

Mikrokosmos
Kecenderungan pamer teknik dan kamus gerak, sangat menonjol karena hampir seluruhnya menyajikan gerak yang mudah dijumpai persamannya dengan khazanah gerak yang pernah disajikan koreografer-koreografer senior lainnya, atau mengambil apa adanya dari vokabuler gerak tari-tari tradisi. Tak ada yang serius mengeksplorasi lebih dalam, bahkan untuk sekadar memodifikasi atau membuat stilisasi gerak. Sudiharto (Yogyakarta) yang mengusung Mikrokosmos, misalnya, sangat kelihatan terinspirasi oleh Penumbra karya Martinus Miroto, yang tak lain adalah guru tarinya di ISI Yogyakarta.

Meraba Raga
Yang menarik perhatian dari forum pencarian bibit-bibit baru itu, adalah tampilnya tiga pencipta asal Solo: Ni Kadek Yulia (Rene-Indahku), Rini Endah (Meraba Raga) dan Danang Pamungkas (Panyot pun Padam). Penampilan ketiganya, selain mendominasi aplaus penonton, juga menyita perhatian para juri yang terdiri dari koreografer Boy G Sakti, Wiwik Sipala dan wartawan Efix Mulyadi.

Rene-Indahku
Bukan hanya kemampuan teknik yang dikuasai seluruh penari pendukung karya-karya mereka, namun ketiga koreografer dari ’satu atap’ –mereka sama-sama berlatar belakang pendidikan di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta, itu mampu menyajikan pola gerak dan vokabuler yang beragam, meski tak terlalu baru. Kecenderungan pamer teknik, sudah tak terasa pada mereka. Sayang, tingkat kesulitan teknis yang berhasil ditaklukkan, kekayaan khazanah gerak dan kedalaman tema eksplorasi tema yang tampak pada Meraba Raga, luput dari perhatian para juri. Hingga akhirnya, Danang yag dinobatkan sebagai penampil terbaik.

sumpah photonya keren banget……………… and saya sangat mendukung atas semua yang diprogramkan dan di tampilkan dalam BLONTYPIX THANKS..
Comment by danang pamungkas — May 15, 2006 @ 5:52 am
Wah wah wah… fotone mas Blonty sangar tenannnnn
Comment by Eko Solonet — July 27, 2007 @ 11:39 pm
wow….what amazing foto? ckckck
indah adalah KITA
Comment by atay — June 16, 2009 @ 10:34 am
Salam Budaya n salam kenal
Halo mas Blonthank Poer, Saya Sudiharto. Wah fotonya bagus-bagus tetapi Maaf mas ada sesuatu yang mengganjal pada diri saya atas tulisan mas Blonthank…
Maaf kalau kata-kata dan rasa keberatan saya ini nantinya menyinggung anda, sy tidak bermaksud seperti itu, hanya meluruskan saja…
Saya sangat keberatan atas tulisan yang anda tulis yang mengatakan bahwa MICROCOSMOS terinspirasi dari Penumbra…itu tidak benar.
Memang sy salah satu murid dari Mas Miroto tetapi mengenai karya saya MICROCOSMOS itu tidak ada hubungannya dengan Penumbra. Embrio dari karya itu adalah SENGKETA,karya sy untuk Resital Tari di ISI pada tahun 1999. Awalnya karya itu memakai property 2 Barongan, kemudian sy coba kembangkan menjadi tari tunggal untuk forum pementasan koreografer muda di Jogja, property Barongan kemudian saya ganti dengan menggunakan 2 topeng n sy kasih judul DUA SATU. Kemudian dalam forum The Next Wafe sy olah lg jadi Trio, sy kasih judul MICROCOSMOS. Jadi nggak ada hubungannya dengan Penumbranya Mas Miroto karena embrionya dari karya Resital saya di ISI.
Saya juga akan katakan disini sekalian bahwa karya karya tunggal sy yg saya kasih judul DUA SATU itu adalah awal ketika saya buat koreografi menggunakan topeng di kaki dan juga selangkangan n topengnya saya perlakukan seperti bermain bola (sy tendang n injak). Waktu itu ditentang…
Kemudian mas Miroto ada tour ke Belanda,sebagian dari adegan itu justru muncul disitu…Kalu anda ingin tau lebih banyak mohon dicek lg…karena seandainya nnt suatu saat anda melihat pertunjukan tunggal sy memakai 2 topeng dikaki dan selangkangan…juga akan mengatakan itu terinspirasi dari Penumbra…WAH SALAH ITU MAS.
Saya tidak mau mengatakan lebih jauh tentang cerita itu…nnt malah salah persepsi. Cuma kalau anda pingin tau yang sebenarnya bisa dicek lewat Anter Asmorotedjo atau Agung Gunawan,2 penari saya pada pertunjukan MICROCOSMOS waktu itu, tetapi kalau merasa tidak perlu cek ya itu tergantung pada diri anda…
Saya mohon dengan hormat dan secara baik tulisan mas Blonthang itu bisa direvisi. Saya keberatan dengan tulisan tersebut karena hal itu akan menjadi hal yang kurang baik nantinya bagi mas Miroto dan bagi saya sendiri.
Saya mengetahui tulisan itu baru kemarin lewat browsing internet di Argentina karena sy saat ini tinggal di Argentina…
Salam budaya n saya minta maaf kalau kata-kata saya kurang berkenan atau menyinggung anda n mohon kiranya tulisan tersebut bisa direvisi.
Chao…
Sudiharto
Comment by Sudiharto — February 25, 2012 @ 7:27 am
Mas Blonthank…
Mungkin perlu juga belajar n tau tentang vocabulary tari tradisi…jadi nantinya agar tidak salah mengomentari karya seseorang yang lain nantinya…
Comment by Sudiharto — February 25, 2012 @ 7:37 am