SorotMarch 31, 2006 9:55 am

——-147——–

Keluarga Indonesia,internet adalah sumber pengetahuan tapi juga mengundang pornografi & hal-hal negatif! Gunakan internet secara bijak & sehat
dari MENKOMINFO

Sent
31-Mar-2006
00:46:05

Entah siapa penyusunnya, pesan Pak Menteri yang disebarkan melalui jaringan Telkom Flexi sungguh menyebalkan! Dari pesan itu, terdapat beberapa hal yang secara telanjang (bukan bugil lho, Mas Mentrik!) menunjukkan kelemahan diri dan institusinya, bahwa MENKOMINFO -menteri yang menangani tetek bengek arus komunikasi dan informasi, adalah orang atau lembaga yang tak paham komunikasi massa dalam pengertian luas.

Dari sisi bahasa, ia telah menunjukkan dirinya sebagai orang yang tak mampu berbahasa Indonesia yang betul dan tepat. Penggantian kata sambung dan dengan simbol &, jelas merupakan kecerobohan. Yang demikian sangat tidak lazim dalam praktek komunikasi formal. Begitu pula dengan tidak adanya spasi setelah tanda koma (,) di antara kata Indonesia dan internet pada awal kalimat.

Pemakaian tanda seru (!), juga menunjukkan bahwa penyusun kalimat itu memposisikan diri atau memang memiliki kecenderungan situasi psikologis sebagai pemerintah (baca: pangreh alias tukang mrintah). Meski, bisa pula dibaca lain (mungkin agak tendensius), bahwa pesan itu mengisyaratkan bahwa karena secara faktual terdapat beragam infomasi pornografi & hal-hal negatif di dunia maya, maka Sang Pangreh merasa perlu untuk menertibken penggunaan daripada teknologi internet.

Sebab sejak kehadiran daripada teknologi internet di Indonesia, selain sisi positifnya, namun telah dirasakan bahwa teknologi itu juga mengakibatken terjadinya kebebasan daripada informasi yang kebablasen sehingga pada gilirannya mengakibatken moral generasi muda semangkin merosot.


Pesan singkat yang lucu itu…

Dari aspek komunikasi massa, pesan itu juga menunjukkan bahwa Mas Mentri kurang paham psikologi komunikasi dan tidak mengerti teknik komunikasi yang sangkil. Pemilihan waktu pengiriman pada pukul 00:46:05 (WIB) –meski itu dilakukan oleh mesin secara otomatis, bisa dibaca oleh orang awam, terutama yang tak berpendidikan dan belum lama mengunakan telepon nirkabel, bahwa Mas Mentri seperti ‘kurang kerjaan’ atau sebaliknya, Mas Mentri amat sangat sibuk sekali, sehingga baru sempat mengirim pesan PENTING itu pada tengah malam.

Atau memang itu target tersembunyi yang diharapkan? Supaya pendukung RUU Anti Pornografi menganggap Mas Mentri sedang siap-siap memanjatkan doa pada saat orang lain justru tidur lelap atau baru malah sedang sibuk browsing (baca: berputar-putar) mencari tempat dugem yang nyaman?!?

Mas Mentri… Mas Mentri….. Mbok hati-hati kalau bekerja. Siapapun antum, adalah representasi dari pemerintah Republik Indonesia, pembantu presiden yang prestasinya juga ditentukan oleh kinerja Anda dan institusi yang antum pimpin, loh.

Dari pilihan strategi komunikasi saja, Mas Mentri sudah keliru. Kalau memang ingin egaliter dan netral, mbok pesan pendek sampeyan diganti saja. Misalnya menggunakan pesan singkat sebagai berikut:

Klg Ind,internet adlh sbr pengtahuan tp jg undang pornografi & hal2 negatif! Gunakan internet scr bjk & sht!
dr MENKOMINFO

Dijamin lebih ‘lazim’ dan Mas Mentri kelihatan bergaya muda dan egaliter. Kayak ABG, gitu loh…………. OK?

Selamat belajar!

SosokMarch 30, 2006 10:38 am

Mas Tom Jualan Minyak? Jangan keliru dengan judul monolog yang dibawakan Butet Kartaredjasa. Mas Tom yang satu ini adalah pemilik kerajaan bisnis bernama PT. Humpuss, yang akhir-akhir ini sering kita dengar minta ‘cuti’ agar bisa keluar dari Nusakambangan. Tentu saja, dengan alasan paling logis: sakit! (Meski sesungguhnya lebih tepat bila diungkapkan dengan kata wallahualam)


Tommy Soeharto sedang keluar kompleks penjahat kakap menuju ‘kamar pribadi’, seusai melakukan shalat Idul Fitri di masjid yang terletak di kompleks LP Batu, Nusakambangan, 14 Nopember 2004

Harap maklum, hidup serba berkecukupan sejak orok pasti akan membuatnya tidak nyaman tinggal di balik jeruji besi seperti LP Batu, Nusakambangan. (Padahal, kamar Mas Tom paling enak, lho. Terpisah dari narapidana kakap lainnya, bahkan memungkinkan ‘pergi’ tanpa diketahui Bang Napi yang lain, tentu kecuali para sipir). Yang pasti, beberapa meter dari ruangan Mas Tom terdapat saluran telepon tetap (PSTN), sementara sinyal telepon seluler yang bisa
nyangkut di sana antara lain Telkomsel dan proXL (pengalaman berkunjung pada akhir 2004). Telepon satelit? Jelas oke banget!

Dengan keberadaan sinyal itu, tentu Mas Tom tak bakal kesulitan memperoleh akses informasi dari luar sehingga bisa sedikit terhibur. Apalagi, konon ada kabar dari orang dalam sendiri, yang menyatakan bahwa Mas Tom kerap dikunjungi beberapa sosok selebritis, orang-orang Humpuss, kerabat atau orang dekat, minimal dua kali dalam sepekan. Pasti, mereka membawa beragam oleh-oleh: dari makanan ringan hingga gosip ekonomi-politik tingkat tinggi.

Jadi, hidup di Nusakambangan bagi Mas Tom, pasti tak seseram atau semenderita para narapidana lainnya, apalagi yang dibayangkan banyak orang. Bisa jadi, orang terjebak pada image yang sengaja diciptakan, seolah-olah Nusakambangan bagai Alcatraz-nya Indonesia (meski aku juga tak tahu, apakah nama Alcatraz juga seseram namanya :p). Tak jelas pula, apakah Mas Tom yang satu ini juga seperti ‘napi kakap nan baik’ lainnya, turut dipekerjakan di kebun nan luas di sekitar LP Batu.


Ratusan orang antri minyak tanah di Gading, Surakarta, 19 September 2005

Yang pasti, Mas Tom tak peduli pada nasib kaum kecil di berbagai kota di Indonesia, yang harus antri panjang untuk memperoleh minyak dan bahan bakar sepanjang tiga bulan pada akhir tahun lalu. Seorang kakek berusia 75 tahun harus berjalan kaki sejauh lima kilometer dari rumahnya menuju sebuah pangkalan minyak tanah di Kota Surakarta. Di pangkalan itu, sang kakek menanti selama tuju jam untuk memperoleh jatah minyak sebanyak enam liter! (Pangkalan minyak itu berjarak tiga kilometer dari Dalem Kalitan, kediaman resmi keluarga Mas Tom di Surakarta.

Jangankan peduli terhadap perjuangan para pencari minyak untuk memasak. Hak penguasaan Blok Cepu yang diperolehnya dengan mudah dari Sang Romo saja diperjualbelikan, kok… Dengan enteng, pula! Makanya, tak perlu kaget kalau gegeran ExxonMobil vs Pertaminan dalam pengelolaan Blok Cepu (yang pasti didengar dan diketahuinya) pun tak digubrisnya. Yang penting, dia bisa memetik keuntungan besar dari praktek jual-beli ‘hak’ dengan Ampolec, yang ujung-ujungnya dibeli Exxon juga.

Mas Tom… Mas Toommmmm…………………………………………. Hidupmu nyaman benar!

@rtWorkMarch 26, 2006 6:00 am

Dear friends…
To the point
saja, aku sedang jualan kaos (lihat foto di bawah ini). Ya, itung-itung merealisasikan cita-cita menjadi pedagang, walau masih berskala kecil-kecilan. Cuma, mohon maaf kalau hasrat berdagangku terkesan memanipulasi, eh… memanfaatkan moment pro-kontra RUU Anti-Pornografi yang sableng dan tak masuk akal itu (walau dalam hati kecilku sebenarnya masih curiga, jangan-jangan pemunculan RUU itu sesungguhnya merupakan agenda tersembunyi, yang sesungguhnya ‘hanya’ untuk melihat seberapa besar kelompok militan Islam di Indonesia kontemporer! Tahu kan, siapa yang jagoan begituan?)

Kembali ke soal dagangan, percayalah. Kaosnya bagus, berbahan katun (dijamin bukan transgenik). Desain? Silakan lihat sendiri… Aku sih kuatir saja, andai RUU Anti-Pornografi itu disahkan, situs bersejarah seperti Candu Sukuh yang dibuat para ‘perupa’ jaman baheula (eh, sekitar abad XIV) akan dihancurin oleh oknum anggota laskar militan. Sebab, selain dianggap porno, bisa saja mereka berkilah sebagai upaya mencegah tindakan musyrik sebab menyembah berhala.

Nah, sekarang sampai pada inti masalahnya: kalau ingin memiliki kaos itu, silakan pesan lewat email. Harga dipatok Rp 50 ribu per buah ditambah ongkos kirim. Untuk kota-kota seperti Jakarta plus (Jabodetabek) dan Bandung tarifnya Rp 15 ribu, Yogyakarta, Semarang dan Surabaya ongkosnya Rp 10 ribu. Semua pengiriman akan menggunakan jasa paket kilat TIKI.

Buruan kalau mau beli! Pesanan ditutup pada Rabu, 29 Maret 2006 dan pengiriman akan dimulai dua hari kemudian. Sekadar promosi dagang, Mas Garin Nugroho sudah memesan 20 buah, lho! (mungkin mau dipakai seragam demo Anti-RUU APP Hehehehe…………..)

Jangan lupa, setiap pemesanan silakan menyertakan pilihan warna dan ukuran (dari anak usia 3 tahun sampai yang supertambun tetap dilayani, kok). Sekali lagi, jangan lupa memberitahukan alamat pengiriman dan nomor kontaknya.

SosokMarch 23, 2006 12:02 pm

Kamis, 23 Maret 2006 pukul 18.31 WIB. Sebuah pesan pendek yang dikirim oleh orang dekat sang obyek pesan, muncul di layar telepon genggamku.

Gus Dur masuk RSCM lagi. Kali ini kliatannya serius… Ada kmungkinan gagal ginjal… jadi prlu prsiapan utk cuci darah…

Seperti banyak orang, aku mencemaskan keadaan kesehatan Gus Dur. Berita singkat lewat telepon genggam itu pasti bukan guyonan seperti kata Kang Sobary di Solo, sepekan lalu, bahwa Gus Dur kerap menjadikan rumah sakit sebagai ‘alat untuk’ merenungkan sesuatu atau menghindari dari keinginan banyak orang untuk bertemu.


Kak Blonty ikut makan malam bersama Gus Dur di Solo (Foto: Kang Ngishom)

Ada banyak hal yang belum selesai dikerjakannya. Juga, belum tuntas ilmunya tersebar pada beberapa orang yang kelak bisa menggantikan kedudukannya, setidaknya menjadi pemikir Islam yang moderat, toleran, cerdas, bisa mengayomi (dan memperjuangkan kaum minoritas yang ditindas), namun tetap menjadi rujukan bagi siapapun pengambil keputusan penting di negeri ini.

Semoga lekas sembuh, Kiai Durrahman…..

Fauna 7:54 am

Dua ekor lumba-lumba (Delphinidae), Brahma dan Kumbara sedang beraksi menghibur anak-anak sekolah dasar di Lapangan Penumping, Surakarta, Jawa Tengah, Kamis (23/3) siang. Pertunjukan lumba-lumba itu digelar secara berkeliling dari kota ke kota lain oleh AGA Enterprize, asal Kendal, Jawa Tengah. Konon, mamalia itu ditangkap di perairan Karimunjawa dan memerlukan pelatihan selama dua tahun sebelum dipertunjukkan.

Semua orang tahu, lumba-lumba adalah makhluk cerdas dan inspiratif. Secara hiperbolis, Iwan Fals menyanjung peran lumba-lumba saat cemas mengawasi tenggelamnya kapal Tampomas di perairan Masalembo, puluhan tahun silam. Waktu tsunami meluluhlantakkan Aceh, si lumba-lumba juga memberi sinyal bahkan mengawal para korban yang tersapu ombak hingga ke laut lepas.

Kadang, hidup memang aneh. Banyak manusia yang dianugerahi otak, akal dan rasa justru jarang membuat teladan. Sebagian, seperti para koruptor dan pengemplang utang justru enak-enak bergembira dengan fasilitas dan keberuntungan hidupnya sementara sebagian besar lainnya menderita.

TariMarch 20, 2006 10:23 am

Koreografer Sardono Waluyo Kusumo melakukan daur ulang karya lamanya berjudul Hutan Plastik di Taman Ismail Marzuki, 15 Oktober 2004. Saat itu, ia berkolaborasi dengan Ananda Sukarlan, pianis yang sedang naik daun.

Sejatinya, konon Hutan Plastik merupakan garapan teater-tari yang cukup dahsyat. Namun, saat dilakukan kolaborasi dengan Ananda yang juga melibatkan sejumlah waria Taman Lawang, karya itu malah jadi aneh. Kotor di panggung akibat penataan artistik yang kedodoran dan blocking yang serampangan. Boleh jadi, Mas Don, begitu ia akrab disapa, sudah mulai lelah. Beberapa karya-karya terakhirnya hanya merupakan pengulangan seperti Opera Diponegoro dari yang sebelumnya. Dan anehnya, pengulangan itu tak menuai keberhasilan alias tak sesempurna garapan pertamanya.

Entah karena sibuk sebagai rektor atau yang lain, Mas Don memang tampak mulai sulit menelorkan karya-karya tari yang kuat seperti yang sudah dilakoninya…..

KehidupanMarch 18, 2006 6:20 am

Air virtual kurang lebih diartikan sebagai jumlah air yang dibutuhkan untuk memproduksi bahan makanan, seperti padi, sayur-sayuran, buah-buahan dan sebagainya, sejak pembibitan hingga dipanen untuk kemudian dikonsumsi. Hitung-hitungan para ahli tanaman itu, kini digunakan sebagai acuan para kapitalis pedagang air dunia untuk lebih memberi nilai pada air.


Petani di Andong, Boyolali, ini berpikir bahwa hanya dengan bercocok tanam pada, keluarga mereka bisa makan, meski para ahli tanaman menganggap perilaku bertani itu sama saja dengan tindakan mengekploitasi air

Kesimpulannya, tanaman pangan rata-rata menyerap air jauh lebih banyak daripada kebutuhan manusia untuk hidup sehari-hari, seperti untuk minum maupun keperluan mandi dan sanitasi. Mendasarkan pada menipisnya cadangan air dunia, kini banyak orang beramai-ramai memikirkan bagaimana usaha menghemat air. Sebuah pemikiran mulia andaikata kaum miskin dan orang tak berpunya benar-benar terbukti telah diposisikan sebagai pihak yang harus memperoleh prioritas pertama.

Yang umum terjadi, para pedagang air dunia telah berkolusi dengan lintah darat berwajah malaikat seperi IMF, World Bank, ADB dan sebagainya. Lembaga-lembaga ini, lebih sering menempatkan diri sebagai fasilitator para mafia air terutama di negara-negara sedang berkembang. Utang digelontorkan terus ke PDAM-PDAM tanpa melalui pertimbangan potensi dan kemampuan membayar utangnya. Targetnya, bila utang itu kemudian default, maka masuklah para mafia air untuk mengakuisisi PDAM.

Simak saja perdebatan yang muncul dalam 4th World Water Forum di Mexico, 16-22 Maret ini. Pasti, pemikiran mantan bos IMF Michel Camdessus akan mendominasi agenda konferensi yang dipenuhi para broker, lintah darat hingga boneka-boneka kapitalis seperti para menteri urusan air. Camdessus Paper yang diperkenalkan sejak konferensi serupa di Kyoto, 2003, antara lain berisi skema pembiayaan (dengan utang) dalam rangka ‘pengaturan’ distribusi air.

PeristiwaMarch 15, 2006 12:00 pm

Rancangan Undang-undang tentang Antipornografi dan Pornoaksi memang bikin gerah. Semua politisi, seperti sedang bermain-main. Mereka membuat keruh suasana lantas nantinya akan pada tampil seperti pahlawan.


Didik Nini Thowok bersama 500-an penari Tayub sedang berpawai menolak RUU Antipornografi

Yang putih, yang merah, kuning dan apapun warnanya menjadi tak usah repot-repot mengail di air keruh. Ikan sudah menggelepar, tinggal ditangkapi pakai tangan kosong, atau bahkan pakai saringan kelapa supaya dapat banyak. Yang hijau (karena merasa putih), bisa bereksperimen tentang gagasan penerapan syariat Islam, sehingga pada pemilu mendatang bisa mendulang suara.


Puluhan seniman dari berbagai cabang kesenian mempertunjukkan ekspresi berkesenian mereka

Yang abangan begitu pula. Mereka bisa saja ikut-kutan mendorongnya, sehingga muncul antipati terhadap gagasan-gagasan sektarian dari Si Putih. Akibatnya, mereka tinggal berharap, siapa tahu pada pemilu nanti, mereka yang kurang sreg dengan penerapan syariat Islam bisa berbondong-bondong memenuhi kotak-kotak pemungutan suara. Politisi, memang selamanya susah dipercaya!


Pernyataan Komunitas Bebas Berekspresi menyerukan pembubaran Pansus RUU Antipornografi & Pornoaksi dan meminta dana pembahasan dialihkan untuk menanggulangi kemiskinan dan bencana alam

Kehidupan 4:52 am

Dunia anak-anak adalah dunia bermain. Untuk belajar pun, tak seharusnya orang tua memaksa, supaya belajar tidak menjadi beban/kewajiban. Biarkan mereka tumbuh sesuai fase perkembangan kejiwaannya. Munculnya berita anak lari dari rumah, ingin mencari kebebasan -bahkan dengan menjadi gelandangan atau pengamen cilik- sesungguhnya banyak dipicu masih adanya pemaksaan kehendak orang tua untuk merekayasa masa depan anak-anaknya. Biarkan mereka tumbuh secara alamiah….. STOP kekerasan terhadap anak!

@rtWorkMarch 8, 2006 8:28 am

Jika batasan pornografi yang harus dilarang adalah suatu peristiwa, tindakan atau ekspresi yang memancing birahi, maka batasan semacam itu sama saja dengan menyederhanakan persoalan. Baik anggota parlemen atau pemerintah (dua pihak yang selalu mengklaim sebagai wakil rakyat) sampai meloloskan Rancangan Undang-undang tentang Anti-Pornografi dan Pornoaksi menjadi Undang-undang, maka tak ada salahnya kalau menyebut mereka telah mengalami kesesatan yang nyata.


Kalau pornografi adalah hantu, coba pikirkan. Mungkin Anda sakit jiwa….. Atau barangkali terlalu bodoh!

Saya yakin, bila undang-undang itu diberlakukan, maka polisi sebagai pengawal berjalannya pelaksanaan hukum akan segera dipensiun dini, atau bahkan akan dialihkan fungsinya menjadi sekadar penjaga bank, kompleks perkantoran atau petugas ronda di kampung-kampung. Sebab, perannya akan segera diambil alih oleh para anggota laskar yang berseragam militer, karena mereka akan merasa memiliki ‘mandat’ untuk menumpas berbagai macam bentuk kemaksiatan sesuai referensi yang mereka miliki.

Jadi, bila Amerika kerap diidentikkan sebagai Polisi Dunia, maka anggota laskar merupakan Polisi Moral. Sebab, mereka merasa sebagai wakil ‘resmi’ Tuhan di bumi.