
Koreografer Sardono Waluyo Kusumo melakukan daur ulang karya lamanya berjudul Hutan Plastik di Taman Ismail Marzuki, 15 Oktober 2004. Saat itu, ia berkolaborasi dengan Ananda Sukarlan, pianis yang sedang naik daun.
Sejatinya, konon Hutan Plastik merupakan garapan teater-tari yang cukup dahsyat. Namun, saat dilakukan kolaborasi dengan Ananda yang juga melibatkan sejumlah waria Taman Lawang, karya itu malah jadi aneh. Kotor di panggung akibat penataan artistik yang kedodoran dan blocking yang serampangan. Boleh jadi, Mas Don, begitu ia akrab disapa, sudah mulai lelah. Beberapa karya-karya terakhirnya hanya merupakan pengulangan seperti Opera Diponegoro dari yang sebelumnya. Dan anehnya, pengulangan itu tak menuai keberhasilan alias tak sesempurna garapan pertamanya.
Entah karena sibuk sebagai rektor atau yang lain, Mas Don memang tampak mulai sulit menelorkan karya-karya tari yang kuat seperti yang sudah dilakoninya…..

walah, jebul jape methe to….sampeyan koncone fadjri yo, kang?
Comment by pecas ndahe — March 20, 2006 @ 11:56 am
jape methe? aha! nama blonthank ini sudah lama saya kenal, tapi belon pernah tatap muka. kalo fadjri, yang mana? si raihul “rfx” yang kesasar ngurusi yayasan seni itu? kalo pecas ndahe, itu termasuk the living legend dan bikin saya minder. dia top, penuh welas asih lan kawicaksanan.
lha apa hubungannya sama prof don? ndak ada. cuma heran, kenapa ya dia dulu masih bisa blusukan ke hutan borneo segala. barangkali pak blonthank benar, dia skrg kurang waktu. lagian dulu kan nggak punya kafe dan nggak ngurusi rumah tua segala. ah bu amnah yang tahu ‘kali ya bgmn ngelola waktu pak don. btw wkt dongeng dari dirah dulu pak don nyomot anaknya gerson poyk kan ya? apa itu anak sekarang jg jadi penari?
Comment by kere kemplu — March 23, 2006 @ 1:34 am