KehidupanApril 20, 2006 2:35 am

Usai berkeliling mengunjungi sejumlah tempat di lereng Gunung Merapi -sekitar Cangkringan-Sleman dan Dukun-Magelang, Rabu (19/4) siang, Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah singgah di Selo, Boyolali. Panjang lebar ia bercerita mengenai rencana penanganan para korban bila Merapi benar-benar meletus. Cuma, Pak Menteri tak bisa menjawab ketika ditanya soal nasib 3.000 lebih warga dua desa di sekitar obyek wisata Deles, Klaten.


Bendera PMI yang menjadi penanda titik kumpul warga Desa Deles, Klaten, rupanya menarik perhatian bagi seorang bocah, sehingga ia memperlakukannya sebagai barang mainan yang mengasyikkan

Terletak di lereng selatan Merapi, desa tertinggi berada empat kilometer di bawah Merapi. Di desa ini, bahkan terdapat satu dusun kecil yang dihuni 24 jiwa, yang untuk keluar dusun saja memerlukan waktu satu jam untuk menyusuri jalan setapak. Tak ada akses jalan sama sekali, apalagi alat transportasi. Rupanya, dua desa di Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten ini belum masuk ‘agenda’ alias daerah yang harus diperhitungkan oleh pemerintah, walaupun sejumlah penduduk di sana mengaku sudah beberapa kali melihat lelehan lava, dan selalu berjaga semalaman secara bergantian, sejak senja tiba.


Di kala senggang, warga memanfaatkan waktu untuk bersantai. Tak ada kecemasan terhadap perkembangan Gunung Merapi

Demi kemanusian, berbagai langkah harus dilakukan untuk menekan potensi kerugian harta benda dan jumlah korban manusia. Sebab, otoritas Merapi pun rupanya tak bisa memprediksi, ke mana arah dampak letusan berupa lahar bakal mengalir… Kalau menyimak banyaknya lokasi penambangan dengan frekwensi pengambilan pasir dan batu sebanyak satu truk per menit, tak diragukan lagi bahwa wilayah itu memiliki potensi aliran lava dan lahar dingin yang disemburkan Merapi. Sementara di Deles, Klaten, jalan aspal -dan satu-satunya akses transportasi- selebar 10 meter rusak parah, sepanjang hampir empat kilometer. Evakuasi korban akan sulit dilakukan kalau muntahan Merapi mengarah ke selatan.


Seorang jurnalis televisi sibuk mengumpulkan stok gambar di sebuah pos ronda yang oleh orang iseng disebut sebagai Produk Gagal. Entah, apa maksud pesan yang disampaikan si pembuat grafiti usil itu

Untung belum terlambat. Setelah mengaku belum tahu-menahu situasi dan kondisi geografis dan demografis wilayah itu, Pak Menteri berjanji segera menyambangi Deles seusai dari kunjungan ke Boyolali. Sehingga, pemerintah setempat bisa memperbaiki jalan yang dirusak oleh truk-truk pengangkut pasir di sana, sementara pemasukan daerah dari sektor pertambangan jenis ini cukup besar. Jadi, warga tak jadi korban sia-sia andai Merapi benar-benar jadi marah.

KasusApril 18, 2006 1:22 am

Pertengahan Januari 2001, tiga kantor berita foto asing kebobolan hampir bersamaan, karena menyiarkan sebuah foto hasil jepretan seorang fotografer freelance di Yogyakarta. Lima tahun berselang, giliran The Jakarta Post kecolongan. Yang aneh, subyeknya fotonya sama: Gunung Merapi! Modusnya hampir serupa, foto dikirim ke berbagai media itu saat kebanyakan jurnalis foto tak memilikinya. Seolah-olah, sang fotografer itu memperoleh foto eksklusif karena peka melihat tanda-tanda dan gejala.

Semua orang tahu, Gunung Merapi sedang menjadi pusat perhatian dunia –setidaknya yang tampak melalui pemberitaan media massa dalam beberapa pekan terakhir. Sebabnya, ia tidak sekadar ‘batuk-batuk’ yang membuat gelap langit akibat abunya bertebaran menyaingi awan. Lebih dari itu, isi perut bumi sudah merangkak hingga hampir menjelang Puncak Garuda, sebutan titik tertinggi ‘gundukan tanah’ raksasa itu. Sejumlah pemerintah daerah di sekitarnya, bahkan sudah menggelar simulasi evakuasi pengungsi.


Foto Gunung Merapi ini dibuat oleh Patmawitana dan disiarkan oleh AFP pada 12 Januari 2001. Foto di-download dari http://news.yahoo.com/

Muntahannya, diperkirakan bakal memiliki kadar petaka berlebih. Tentu bila dibandingkan dengan fakta-fakta yang sudah ditunjukkan gunung berapi teraktif sedunia itu sejak beberapa tahun terakhir. Merapi seperti sedang mangayubagyo, mengucapkan selamat datang kepada ratusan ahli dan pemerhati kegunungapian sedunia yang akan berbondong-bondong ke Yogyakarta pada kwartal ketiga tahun ini. Ya, mereka akan memperingati 1.000 tahun letusan Gunung Merapi dengan serangkaian diskusi, seminar, simposium dan entah apa lagi sebutannya.

Entah darimana idenya, sang fotografer freelance itu kembali menunjukkan kelebihannya dalam merekayasa foto berita, yang kebetulan dipajang sebagai foto headlines harian The Jakarta Post edisi 17 April 2006. Ia menuliskan dalam keterangan fotonya, bahwa foto Gunung Merapi yang lelehan apinya nyaris mencapai lembah itu dibuat pada Minggu, 16 April 2006 pukul 03.00 WIB.


Foto Gunung Merapi ini juga dibuat oleh Patmawitana dan disiarkan oleh The Jakarta Post edisi 17 April 2006. Foto di-scan dari The Jakarta Post

Entah berapa ribu nyawa sudah melayang andai kejadian seperti dilukiskan dalam foto itu benar adanya. Orang-orang yang tinggal di lereng barat gunung itu pasti hangus tak bersisa, saat dingin pagi melelapkan tidur mereka yang sudah nyenyak.

Saya, kebetulan menjadi salah satu orang yang dibuat panik. Tiba-tiba banyak orang bertanya –dengan menelpon atau berkirim pesan pendek, siapa sesungguhnya sosok fotografer ‘kreatif’ itu. Bibir kelu, hati terasa mendidih. Dan yang terucap hanya ungkapan kemarahan dan kutukan.

Seperti tiada akhir, banyak teman ikut bergunjing, meski saya tahu, sebagian dari mereka belum melihat foto itu di The Jakarta Post. Apalagi, beberapa koresponden televisi tiba-tiba ditelepon oleh staf redaksinya dan dimarahi karena tak berhasil memiliki rekaman peristiwa itu. Para koresponden itu dituduh kecolongan, bahkan dianggap tak becus bekerja.

Sementara, di Yogyakarta, para pejabat dan staf kantor BPPTK yang memiliki otoritas pemantauan aktivitas Gunung Merapi ‘kebakaran jenggot’, karena bahkan ada yang ditegur atasannya dari Jakarta. Entah, suasana seperti apa yang terjadi di redaksi The Jakarta Post manakala protes datang bertubi-tubi.

Padahal, di mana-mana, alur kerja redaksi media sudah jelas dan baku. Kepercayaan juga menjadi satu-satunya unsur terpenting dalam proses produksi sebuah pemberitaan. Meski staf redaksi juga bisa berbuat salah, mutu pemberitaan sangat ditentukan oleh moralitas pengisi hirarki ‘terendah’ dalam hirarki redaksional, yakni reporter atau pewarta foto dalam konteks media cetak. Akurasi dan validitas data ditentukan oleh pekerja lapangan ini.

Dalam kasus foto Gunung Merapi yang ditampilkan di The Jakarta Post edisi 17 April 2006 dan pernah dilansir tiga kantor berita asing pada awal 2001, itu sudah jelas dilakukan oleh orang yang menyebut diri dengan nama Patmawitana, sesuai kredit foto yang menyertainya.

Yang lebih aneh lagi (entah, apa sesungguhnya nama penyakit bagi orang semacam itu), hanya menjawab enteng ketika saya memprotes pelanggaran etika yang sudah dilakukannya, kali ini dan lima tahun sebelumnya. Tak terlihat sama sekali perasaan bersalahnya, apalagi penyesalan. Bahwa akibat perbuatannya, jutaan orang telah tertipu secara terang-terangan, bahkan dengan cara yang kelewat tolol.

Lewat pesan pendek, ia menuliskannya secara singkat:

Terima kasih, maaf saya salah kirim fot,tadinya hanya utk referensi aja motret merapi.

Yang pasti, pelanggaran etika semacam itu merupakan dosa paling besar dalam jurnalisme. Tak ada alasan untuk memaafkan, apalagi kesalahan yang sama telah dilakukan berulang-ulang. Pantas saja kalau seorang teman, fotografer kantor berita asing berujar tegas: “Kami telah kompak, (menyebut tiga nama kantor berita) akan menolak semua kiriman foto dari dia!

SorotApril 17, 2006 2:55 am

Bagi sebagian orang, Sala atau yang nama resminya Surakarta, merupakan kota kecil yang indah. Tak terlalu bising dan tidak memiliki tingkat kemacetan seperti Yogyakarta, Sala lantas menjadi tempat tetirah yang menyenangkan. Bila mampu mengumpulkan banyak teman, pasti akan kian dalam terpesona.

Secara politis, Sala memiliki sejarah panjang sebagai kota pergerakan. Konflik etnis Jawa dengan keturunan Cina sudah muncul berabad-abad silam. Kedekatan bangsawan kerajaan Surakarta dengan kolonialis Belanda juga telah melahirkan banyak tokoh nasionalis. Dampak perpecahan di dalam Sarekat Islam, bahkan pernah mewarnai sejarah Indonesia kontemporer yang berpuncak pada peristiwa 1965 berikut dampak ikutannya yang menelan ribuan jiwa melayang sia-sia.

Belakangan, kota ini bahkan go international lantaran ‘mampu’ menampilkan sosoknya yang penuh paradoks: kaum fundamentalisnya hidup berdampingan dengan kaum pemadat, pemabuk, meski jumlahnya sama-sama tak terlalu besar. Sudah puluhan jurnalis berkaliber internasional –seperti fotografer spesialis perang James Nachtwey dan jurnalis dari berbagai media (seperti ABC, CNN, El Mundo, Time, The Telegraph dan lain-lain) bolak-balik ke Sala.

Secara sosial-ekonomi, kota itu juga memiliki keunikan yang tak dimiliki kota-kota lain. Perputaran jumlah uang di Surakarta, konon bahkan lebih besar dibanding Semarang, meski terpautnya tak terlalu besar. Cukup beralasan rasanya, kalau status institusi kepolisian harus ditingkatkan, dari Kepolisian Resor Kota (Polresta) menjadi Kepolisian Kota Besar (Poltabes), sejak awal Maret lalu. Asal tahu saja, kota ini memiliki tingkat kriminalitas tinggi, seperti pembunuhan, peredaran narkotika, perampokan bersenjata api hingga kasus korupsi.


Foto diolah untuk menghindari trial by the press dan menegakkan prinsip prejudice of innocent , selain juga karena alasan kemanusian dan pertemanan :p

Ditilik dari perkembangan budaya, masyarakat kota ini juga memiliki daya pikat. Kaum tradisionalis –untuk menyebut pelaku seni tradisi, hidup berdampingan dengan mereka yang bermadzhab kontemporer. Ibarat toko, Sala adalah toko kelontong: menyediakan beraneka macam kebutuhan. Semua tersedia

Beragam keunikan itulah, barangkali yang telah memikat seorang teman, yang sejak empat tahun lalu mulai senang tetirah, walau cuma sehari dua, menjauhi Jakarta yang bising dan tak bersahabat. Apalagi, ia memiliki keterbatasan, sehingga aktivitasnya sebagai jurnalis kerap terganggu. Entah, sudah berapa banyak karya jurnalistik yang sudah dihasilkannya sejak hampir setahun meneguhkan niat, menetap dan memulai hidup baru di Sala. Saya berteman kian akrab dengannya sejak beberapa tahun terakhir, meski sudah saling kenal sejak belasan tahun silam.

Ia unik dan memiliki semangat hidup yang luar biasa. Bahkan, saya mengagumi kisah hidup dan prestasinya (termasuk sebagai koresponden media asing), meski aku mengenali lewat sosoknya yang pernah ditokohkan oleh MetroTV, sementara sisi lain hidupnya muncul beberapa saat di sebuah program tayangan populer Trans TV.

Tapi, potret hidupnya berubah dan membuat saya kecewa. Setengah percaya, selebihnya heran, ketika tiba-tiba saya mendengarnya sudah mendekam di balik jeruji besi Poltabes Surakarta sejak awal April. Polisi membawanya secara paksa karena ia membelanjakan uang palsu, pecahan Rp 100.000 untuk membeli sebuah tiket tanda masuk seharga Rp 7.500.

Kepala Poltabes sendiri menyatakan kalau teman saya itu baru masuk kategori ‘coba-coba’. Sebab, dari dua orang yang ditangkap sebelumnya untuk kasus serupa, tak memberi petunjuk adanya kerjasama di antara mereka. Tapi, barang bukti berupa scanner, printer dan beberapa lembaran uang palsu yang belum sempat digunting sudah cukup untuk menjatuhkan sanksi hukum berat kepadanya.

Aneh. Sebab saya tahu, seharusnya ia tak perlu melakukan hal tercela semacam itu. Ia bersahabat dengan orang baik dan kaya raya. Bahkan, andai mau, ia bisa meminta (dan pasti dituruti) bila hanya untuk sekadar hidup layak di kota perantauannya yang baru. Ingin rasanya saya menjenguknya. Tapi ketakutan gagal menyembunyikan rasa kecewa, selalu membuat saya mengurungkan niat itu.

Saya memang masih dan akan tetap menganggapnya sebagai teman. Karena itu, saya tak tega menampilkan sosoknya secara utuh, sebagaimana Tommy $oeharto yang jelas-jelas banyak memanfaatkan uang rakyat untuk kepentingan diri dan keluarganya.

Mas, maafkan karena saya belum bisa menyapamu… Saya masih berharap uang palsu itu memang hanya kabar bohong belaka, meski polisi menyebutnya sebagai fakta yang benar adanya.

SorotApril 16, 2006 2:58 pm

Ada asap, pasti ada api –entah yang berkobar menjilat-jilat atau yang berlindung di balik sekam. Awam pun hanya bisa menebak-nebak, mereka-reka sosok si pembuat api. Seperti ketika tiba-tiba muncul bantahan dari seorang politisi di Koran Tempo, pekan lalu, bahwa Partai Demokrat tidak pernah menyatakan sedang mencari figur selain Jusuf Kalla untuk mendampingi Susilo Bambang Yudhoyono dalam Pemilu 2009.

Memang itu bukan berita besar. Apalagi, menurut isi berita tersebut, sang politisi menyatakan ada kekeliruan sebab ia merasa tidak menyatakan ihwal rencana pergantian pasangan ‘pengantin republik’ itu kepada wartawan sebuah koran berbahasa Inggris yang dijadikan rujukan pemberitaan Koran Tempo. Bukan mustahil, kekeliruan dilakukan oleh sang wartawan. Namun, bukan tidak mungkin pula, pernyataan seperti itu benar adanya. Dan sudah lazim di negeri ini, seorang narasumber membantahnya pernyataannya sendiri dengan menyalahkan wartawan dan medianya, manakala pernyataannya ternyata terbukti kontraproduktif atas kepentingannya sendiri.

Baik. Tak usah menguras energi untuk menerka-nerka. Mendingan kita melihat gaya pasangan pemimpin puncak Indonesia itu. Meski Presiden Republik Indonesia masih Susilo Bambang Yudhoyono, namun pernyataan-pernyataan yang mengisyaratkan adanya kebijakan baru, hampir selalu datang dari Wakilnya, Jusuf Kalla. Isyarat kekalahan Pertamina melawan ExxonMobil dalam pengelolaan ladang minyak Blok Cepu, misalnya, dimunculkan melalui pernyataan bahwa Pertamina tak memiliki cukup uang untuk membiayai rencana eksplorasi.

Kini, kabar terbaru yang tak kalah menyentak adalah keinginan pemerintah mengubah pola konsumsi bahan bakar bagi seluruh mesin pembangkit listrik di Indonesia, dari bahan bakar minyak (solar) menjadi batu bara. Tak tanggung-tanggung, Pak Wapres membuat tenggat selambat-lambatnya dua setengah tahun ke depan, semua mesin pembangkit sudah melahap batu bara. Proyek pembangkit listrik berbahan bakar batu bara senilai US$ 8 miliar bahkan akan dijadikan crash program, dengan dalih akan menghasilkan tambahan pasokan bagi perusahaan setrum negara (PLN) daya sebesar 10 ribu megawatt dan dari proyek itu, pemerintah bisa ‘istirahat’ menaikkan tarif listrik selama lima tahun. Populis? Mungkin.

Dengan mencermati alasannya secara apa adanya, mungkin saja kebijakan itu akan meringankan beban hidup rakyat, yang kebanyakan orang miskin. Tapi, semudah itukah mengimplementasikan kebijakan prestisius dan obsesif itu?

Semoga, Pak Kalla sudah membuat hitung-hitungan matang. Misalnya, seberapa besar cadangan tambang batu bara berikut jumlah produksinya, serta kaitannya dengan peta perdagangan batu bara di pasar internasional. Sebab, mengubah jenis bahan bakar juga berarti harus ada investasi baru bagi pengadaan mesin-mesin pelahap batu bara, untuk menggantikan ‘metabolisme’ tubuh pembangkitan yang sudah berjalan, bahkan berpuluh-puluh tahun.

Belum lagi kalau mengusik pemilik ide pembangkit listrik tenaga batu bara yang tak lain adalah adik Sang Wapres sendiri, Achmad Kalla. Konon, realisasi proyek itu akan menguntungkan perusahaan milik keluarga Kalla dan Kelompok Bakrie milik Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Aburizal Bakrie.

Uniknya, seperti yang sudah-sudah, Presiden de jure seperti kekeuh memegang prinsip ‘diam itu emas’, seperti pendahulunya. Kontroversi tak kunjung ditengahi, diredam atau dicarikan penyelesaiannya. Padahal, meski tak harus disejajarkan dengan hak veto, sikap dan keputusannya dinantikan banyak pihak.

Lebih dari itu, Susilo Bambang Yudhoyono juga perlu segera mengakhiri kebiasaan rakyat mengisi hari-harinya dengan teka-teki, setidaknya ketika harus menjawab pertanyaan siapa Presiden yang sesungguhnya. Membiarkan rakyat dalam kebingungan, jelas bukan merupakan sikap yang bijak. Apalagi, isu pencarian calon pendamping untuknya pada Pemilu 2009 terlanjur terlontar, meski kemudian diralat kembali.

SorotApril 8, 2006 9:08 am

Melalui pengeras suara yang sengaja dikeras-keraskan, seorang orator menyebut tayub, lengger dan tarian sejenisnya sebagai produk manusia tak beradab. Ratusan massa –mayoritas teenagers, lainnya menyahut dengan menyeru kebesaran nama dan kekuasaan Allah SWT. Seolah-olah, profesi penari tayub dan lengger adalah jenis pekerjaan yang dilaknat Tuhan, karena semata-mata hanya bertujuan untuk merangsang nafsu lawan jenisnya.


Penari tayub sedang mendatangi penonton. Tawaran menari diwujudkan melalui penyerahan sampur (selendang) kepada penonton. Kesempatan pertama, biasanya diberikan kepada tokoh masyarakat atau tuan rumah yang mengundang sebagai simbol penghormatan

Dengan logika paling sederhana (meski terkesan agak sufistik): andaikan mereka disimbolkan sebagai yang buruk dan penggoda iman, seseorang justru akan dimudahkan dalam memperoleh pahala ‘hanya’ dengan menahan diri agar tak larut ke dalam suasana yang ditawarkan sang penggoda. Andai setuju cara berpikir demikian, berarti Anda toleran, dan mengakui prinsip pluralisme yang diajarkan pula dalam Islam melalui sebuah ayat yang berbunyi “…bagimu agamamu, bagiku agamaku.”

Tentu saja, hal demikian bukan berarti menyederhanakan persoalan dengan menggunakan analogi asal-asalan, melainkan sekadar meniru kecerdikan Abu Nawas ketika berhadapan dengan orang-orang yang terlalu percaya diri dan merasa dirinya paling benar dan paling baik dibanding yang lain.

Tayub, lengger dan tarian sejenisnya, tetap harus diakui sebagai sebuah produk kebudayaan. Soal baik-buruk, cocok-tak cocok, tergantung ukuran yang dipakai oleh sang penilai, yang tak lain adalah komunitas di luar pelaku itu sendiri. Bisa jadi, penari lengger masa kini tidak ‘sereligius’ Srinthil yang dilukiskan oleh Ahmad Tohari melalui trilogi Ronggeng Dukuh Paruk yang kini sudah disatukan dalam satu novel tebal (memasukkan kembali bagian-bagian yang dulu dianggap berpotensi mengundang amarah Orde Baru). Namun, menempatkan Srinthil dan para ronggeng sejajar dengan pelacur juga terlalu berlebihan.


Seperti halnya tayub dan jaipong, lengger termasuk jenis tari pergaulan. Ia tidak dipertunjukkan secara berjarak seperti pada tarian-tarian produk kerajaan, namun berbaur dengan publiknya. Tarian demikian lebih egaliter, satu dengan yang lain sama-sama menjadi bagian.

Soal pemilihan kostum, gerakan erotis dan bahasa tubuh (seperti lirikan mata penari) yang dianggap mengundang birahi, misalnya, tentu tak bisa sepenuhnya ditimpakan kepada para penari. Dalam tata krama pergaulan, tak dibenarkan seseorang untuk merusak suasana gembira banyak orang. Apalagi, tarian semacam itu semula sengaja digelar atau diadakan sebagai wujud rasa syukur seusai panen raya, atau hiburan pelengkap pesta pernikahan dan sejenisnya.

Namun, yang namanya piktor atau pikiran kotor, selalu saja dicari alasan untuk menelanjangi lawan jenisnya, bahkan hanya berdasar pada tatapan mata atau suara. Dalam diri seorang piktor, imajinasi dan fantasi akan dibebaskan bahkan dimanjakan seliar-liarnya, betapapun subyeknya tidak merasa atau mengetahui dirinya sedang di-obok-obok Si Piktor.


Srimpi Ludira Madu. Produk kebudayaan Kraton Surakarta yang konon harus dilakukan oleh penari lajang, tidak sedang haid dan masih virgin.

Tahukah Anda, ada sebagian kritikus tari menyebut syarat keperawanan dan tidak haid bagi penari srimpi dan bedaya hanya semata-mata merupakan alasan bagi penguasa kerajaan untuk memanipulasi ketaatan abdi dalem untuk kepentingan hasrat seksualnya secara sewenang-wenang?

Bagi saya, membiarkan orang lain berkreasi adalah bagian dari proses tawar-menawar kebudayaan itu sendiri. Selama kita tidak menempatkan mereka sebagai penggoda dan pengganggu, kita juga akan tetap memiliki hak untuk tidak digoda. Tergantung bagaimana kita menempatkan diri, termasuk ketika berada di tengah-tengah mereka. Biarkan semua proses berjalan alamiah, tanpa pemaksaan dan penindasan.

Tak ada salahnya kita berkaca pada teladan Sunan Kudus, yang melarang santri-santrinya menyembelih sapi lantaran di sekitar tempatnya bermukim terdapat masyarakat Hindu, yang menempatkan sapi sebagai makhluk suci utusan di bumi para dewa. Bahkan, Sang Sunan mengabadikan arsitektur Hindu sebagai ciri masjid yang didirikannya.

Sebuah perbedaan yang indah, bukan?

KehidupanApril 6, 2006 8:29 am

Tingkah laku kaum bangsawan dan kalangan the have selalu menarik perhatian orang kebanyakan –termasuk penulis. Peristiwa yang sesungguhnya (mungkin saja) wajar bagi kelompok mereka, bisa menjadi lucu atau aneh bagi kelompok yang lain. Yang sudah pasti dan banyak bukti, perilaku kaum the have memiliki kontribusi besar secara psikologis, terhadap mayoritas manusia penghuni planet bumi.

Ada banyak contoh di sekitar kita. Gosip skandal asmara seorang artis yang dibeber melalui tabloid hiburan atau program entertainment di semua saluran televisi, misalnya, membuat banyak orang bisa melepas penat akibat sulitnya mengais rejeki untuk menyambung hidup. Orang jadi terhibur, sehingga kulit wajah tak mudah berkerut. Penuaan dini kaum jelata bisa dihambat oleh tontonan perilaku selebritis –entah itu artis sinetron, penyanyi dangdut atau pejabat (re-)publik.

Peran menghibur yang tak kalah dahsyatnya dibanding skandal asmara para artis, juga sudah ditunjukkan dengan sempurna oleh Krisnina Maharani, istri mantan Ketua DPR Akbar Tandjung. Tak kurang dari 100 ibu-ibu –termasuk Ibu Megawati, didatangkannya dari Jakarta. Mereka (terdiri atas para istri pejabat, pengusaha dan istri diplomat) menyesaki restoran Roemahkoe, miliknya di Surakarta, Rabu (5/4) malam. Dalam keterangan pers sehari sebelumnya, Nina menyebut mereka ingin berwisata ke Laweyan, pusat kerajinan batik yang pernah menjadi simbol kejayaan pengusaha pribumi pada awal abad XX.

Untung, Menteri Pariwisata Jero Wacik buka kartu. Rupanya, acara pesta malam itu dalam rangka ulang tahun Nina, yang kelahiran Surakarta, 46 tahun lalu. Makanya, sebelum acara pelesiran dimulai, mereka dijamu dengan pesta meriah dengan aneka menu tradisional, khas Surakarta. Untuk melengkapi pelesiran, karena para ibu-ibu itu mau mengunjungi sejumlah rumah usaha batik, Nina membagikan buku sejarah yang diterbitkan yayasannya (dan di-launching malam itu pula), yang berjudul Mbok Mase: Pengusaha Batik di Laweyan Solo Awal Abad 20.

Dalam sambutannya yang sangat datar, Nina menunjukkan rasa bangganya bisa menerbitkan buku karangan Soedarmono, sejarawan Universitas Sebelas Maret Surakarta itu. Dengan buku itu, ia mengaku ingin memberi kontribusi pengetahuan yang bermanfaat bagi generasi mendatang. Tentu, cita-cita mulia semacam itu harus diberi apresiasi. Setidaknya, turut membesarkan hatinya karena menandai ulang tahunnya secara lebih bermutu.

Namun sayang, Ibu Nina lupa kalau penerbitan buku itu terkesan ‘keburu nafsu’ sehingga kontribusi kepada generasi mendatang bisa berarti mengajarkan keteledoran. Salah cetaknya terlalu banyak, penggalan katanya serampangan, bahkan untuk penulisan abad pada judul buku pun menjadi sangat kelihatan ngawurnya, padahal buku itu diangkat dari tesis program master Soedarmono di Universitas Gadjah Mada.

Jangan-jangan, anggaran alokasi dana pesta lebih besar dari alokasi biaya penerbitan buku, sehingga Ibu Nina telanjur kehabisan dana untuk membayar penyunting dan ahli bahasa untuk menyempurnakan ‘kontribusi’-nya.

Coba tanyakan contoh pertanyaan berikut kepada anak Ibu Nina (yang dulu , kata koran-koran, ngaku pernah malu karena nama ayahnya ditulis dalam buku karangan Nurlaila):

Anakku, lingkari huruf di depan jawaban yang benar (boleh lebih dari satu):
a.Abad 20
b.Abad XX
c.Abad ke-20
d.Abad ke-XX
e.Semua benar
f.Semua salah

Selamat mengerjakan pekerjaan rumah!

KehidupanApril 3, 2006 9:05 am

Menjadi pemulung adalah nasib. Dan, kata hadits, nasib bisa diubah dengan usaha. Ikhtiar. Mungkin, dalam kerangka mengubah nasib itulah, Bapak Tua yang kebetulan bernasib menjadi pemulung mencoba belajar. Selama setengah jam lebih, ia tekun menyimak kata demi kata yang meluncur dari mulut sejumlah wakil demonstran, yang berteriak lantang dari atas truk di Bundaran Gladag, Surakarta, Jumat (24/3) sore.

Ungkapan bernada nasionalistis, deras meluncur dari mulut orator yang silih berganti. Mereka sedang berbagi peran, membangun kesan (eh, maksudnya image building), supaya kuat kesan bahwa tuntutan mereka menolak kehadiran ExxonMobil sebagai pengelola Blok Cepu cukup beralasan dan didukung banyak pihak.

Sebagai orang yang terpinggirkan, Bapak Tua bernasib menjadi pemulung, itu pasti bangga. Generasi seusia anak-cucunya silih berganti memaki penguasa, karena menggadaikan Pasal 33 UUD 1945. Setidaknya, Bapak Tua itu bisa bernapas lega karena kini ia bisa punya harapan. Minimal anak-cucunya, kelak tak bernasib serupa dirinya, yang harus berjalan menyusuri penjuru kota, mendatangi pusat keramaian sambil berharap ada berkah meski berupa koran bekas alas duduk para demonstran, atau kemasan kosong air mineral yang telah ludes ditenggak orator yang sering kehausan. Sang Tua Pemulung tentu tak tahu asal-usul hitungan, bahwa dalam sebulan, operasi Blok Cepu bisa menambal kocek dua kabupaten dan dua provinsi yang berbatasan di sekitar Blok Cepu, hingga sedikitnya Rp 11 miliar dalam sebulan.

Harapan yang pasti segera mewujud hari itu, adalah banyaknya botol bekas air kemasan yang bisa dipungut untuk kemudian ditukar dengan sejumlah uang. Sebab tak jauh dari tempatnya berdiri mematung, bakal berserakan pula kardus bekas dan botol-botol bekas. Apalagi, hari itu puluhan jurnalis memperoleh perlakuan istimewa -meski meninggalkan rasa penasaran, karena liputan hari itu, mereka disuguhi beragam makanan ringan berikut air teh dalam kemasan, dan konferensi pers digelar di bawah tenda pesta yang mewah, yang didirikan secara paksa di tengah-tengah jalan raya.

Bapak Tua Pemulung itu pasti heran, karena ratusan orang bisa dan mau dengan sukarela berpanas-panas ‘membela’ nasib orang-orang kecil seperti dia. Rasa yang sama, tentu juga dialami para jurnalis peliput perjuangan para demonstran: Tumben, liputan unjuk rasa diberi hidangan istimewa. Jangan-jangan, demonstrasi para santri, pun sudah mengenal penggalangan dana dari donatur dan funding?!? Entah. Hanya Allah yang tahu.

SorotApril 1, 2006 7:53 am

Senin, 3 Mei 2004, pukul 07:11:22 WIB. Beberapa judul berita sebuah koran pagi baru kubaca, sembari menunggu posisi badan burung besi mendatar sepenuhnya. Tapi aku terpaksa menghentikan scanning judul berita dan mengalihkan pandangan pada satu titik dari lantai berkarpet biru. Setelah kuperhatikan secara saksama, ternyata ada kabel terkelupas. Mungkin akibat karet pelindung yang menutup kabel juga sudah hilang, entah oleh sebab apa.


Letak kabel yang terkelupas

Hampir bisa dipastikan, kabel terkelupas akibat terlalu sering terinjak alas kaki, karena letaknya yang berada di antara bangku penumpang. Pikiran pun melayang, berandai-andai, lantas menerbitkan kekuatiran yang teramat dalam. Kuatir, andai kabel itu merupakan instalasi yang menghubungkan sumber daya (power) listrik dengan perangkat elektronik di cockpit. Tentu saja, nyawa akan tergadai sia-sia karena berada pada ketinggian di atas 3.000 kaki dengan kecepatan lebih dari 500 km/jam.

Sebuah pertanyaan beserta foto kabel sialan itu segera kukirimkan ke bagian hubungan masyarakat dan customer care Garuda . Sial, tak pernah ada jawaban, hingga sekarang. Jangan-jangan, Pak Pujobroto yang jadi manajer Humas dan staf-stafnya tak tahu cara melayani pelanggan, atau tak menghayati kerja public relations. Atau, lebih dari itu, ia tak tahu cara menggunakan surat elektronik?!?


Pesawat Garuda Indonesia sedang bersiap take off di landas pacu Bandara Adi Sumarmo

Keselamatan penerbangan, rupanya belum sepenuhnya menjadi prioritas utama bagi pengelola maskapai penerbangan, termasuk Garuda Indonesia, perusahaan penerbangan komersial dan terbaik di negeri ‘adil makmoer’ ini. Mungkin, energi para petinggi perusahaan itu sedang terkuras untuk memikirkan cara mengembalikan utang sebesar US$ 800 juta!!!

Apapun alasannya, entah sedang bingung memikirkan utang atau sebab lainnya, pengelola usaha penerbangan tak boleh mengabaikan keselamatan penumpang dan awaknya. Apalagi, dengan dalih efisiensi, lantas menekan anggaran melalui jalan pintas seperti memakai ban vulkanisir atau membeli suku cadang kategori bogus untuk menjalankan armada pesawatnya.


Pesawat jenis MD-82 milik maskapai Lion Air memilih tempat ‘parkir’ yang lebih lapang dibanding jatah yang sudah disediakan oleh PT. Angkasa Pura, pengelola Bandara Adi Sumarmo, Solo, 30 November 2004

Ironis, karena pemerintah baru menerbitkan peraturan mengenai prosedur pemeriksaan pesawat sebelum terbang, larangan penggunaan ban vulkanisir untuk nose landing gear dan sebagainya, setelah banyak jatuh korban nyawa tak berdosa. Beberapa pesawat milik Lion Air, misalnya, terlalu sering mengalami kecelakaan ‘ringan’ justru setelah terjadi peristiwa nyungsep di kuburan tak juh dari Bandar Udara Adi Sumarmo, Solo, akhir November 2004. Mandala Airlines yang dulunya adem ayem, pun menggemparkan dunia akibat gagal terbang sehingga ratusan nyawa terpanggang sia-sia. Begitu pula Adam Air yang mendarat sesuka hati.

Sudah sebegitu o’on-kah para pengusaha ‘angkot udara’ beserta pemegang otoritas penerbangan kita, sehingga untuk menerjemahkan program menekan laju pertumuhan penduduk, pun mereka juga memilih jalan pintas superkonyol?!?

Semoga Allah menghukum orang-orang yang dholim karena mengabaikan hak hidup orang-orang yang telah menghidupi perusahaan penerbangan….. Amin