Menjadi pemulung adalah nasib. Dan, kata hadits, nasib bisa diubah dengan usaha. Ikhtiar. Mungkin, dalam kerangka mengubah nasib itulah, Bapak Tua yang kebetulan bernasib menjadi pemulung mencoba belajar. Selama setengah jam lebih, ia tekun menyimak kata demi kata yang meluncur dari mulut sejumlah wakil demonstran, yang berteriak lantang dari atas truk di Bundaran Gladag, Surakarta, Jumat (24/3) sore.
Ungkapan bernada nasionalistis, deras meluncur dari mulut orator yang silih berganti. Mereka sedang berbagi peran, membangun kesan (eh, maksudnya image building), supaya kuat kesan bahwa tuntutan mereka menolak kehadiran ExxonMobil sebagai pengelola Blok Cepu cukup beralasan dan didukung banyak pihak.

Sebagai orang yang terpinggirkan, Bapak Tua bernasib menjadi pemulung, itu pasti bangga. Generasi seusia anak-cucunya silih berganti memaki penguasa, karena menggadaikan Pasal 33 UUD 1945. Setidaknya, Bapak Tua itu bisa bernapas lega karena kini ia bisa punya harapan. Minimal anak-cucunya, kelak tak bernasib serupa dirinya, yang harus berjalan menyusuri penjuru kota, mendatangi pusat keramaian sambil berharap ada berkah meski berupa koran bekas alas duduk para demonstran, atau kemasan kosong air mineral yang telah ludes ditenggak orator yang sering kehausan. Sang Tua Pemulung tentu tak tahu asal-usul hitungan, bahwa dalam sebulan, operasi Blok Cepu bisa menambal kocek dua kabupaten dan dua provinsi yang berbatasan di sekitar Blok Cepu, hingga sedikitnya Rp 11 miliar dalam sebulan.
Harapan yang pasti segera mewujud hari itu, adalah banyaknya botol bekas air kemasan yang bisa dipungut untuk kemudian ditukar dengan sejumlah uang. Sebab tak jauh dari tempatnya berdiri mematung, bakal berserakan pula kardus bekas dan botol-botol bekas. Apalagi, hari itu puluhan jurnalis memperoleh perlakuan istimewa -meski meninggalkan rasa penasaran, karena liputan hari itu, mereka disuguhi beragam makanan ringan berikut air teh dalam kemasan, dan konferensi pers digelar di bawah tenda pesta yang mewah, yang didirikan secara paksa di tengah-tengah jalan raya.
Bapak Tua Pemulung itu pasti heran, karena ratusan orang bisa dan mau dengan sukarela berpanas-panas ‘membela’ nasib orang-orang kecil seperti dia. Rasa yang sama, tentu juga dialami para jurnalis peliput perjuangan para demonstran: Tumben, liputan unjuk rasa diberi hidangan istimewa. Jangan-jangan, demonstrasi para santri, pun sudah mengenal penggalangan dana dari donatur dan funding?!? Entah. Hanya Allah yang tahu.

Gambare “mengena” banget Kang. Pake kamera apa? Kliatan kontras antara mas-mas orator dan bapak tua itu.
Comment by biyan — April 3, 2006 @ 9:41 am
demo itu pertunjukan layar tancep dan wayangan. banyak penjual minuman datang, lantas botol berserakan, dan jadilah rezeki. bedanya, demo nggak mengundang minat bandar dadu dan rolet kere.
Comment by kere kemplu — April 5, 2006 @ 12:43 pm
mbah, udah pake kacamata belum? kalo belum, huebat tenan…kalo suda ya tetap hebat tenan.
Comment by rayapkayu — December 12, 2006 @ 4:17 pm
tema yang sangat unik menurut saya…karena di foto itu antara bapak pemulung dan bapak orator sama - sama memperjuangkan nasib..:D..oh iya.. saya boleh meminjam foto pejuang - pejuang itu gak mas..please..karena saya baru nih mas ngeblog..makasih ya sebelum nya mas yang hebat.
Comment by willi — September 9, 2008 @ 7:08 pm