Pertengahan Januari 2001, tiga kantor berita foto asing kebobolan hampir bersamaan, karena menyiarkan sebuah foto hasil jepretan seorang fotografer freelance di Yogyakarta. Lima tahun berselang, giliran The Jakarta Post kecolongan. Yang aneh, subyeknya fotonya sama: Gunung Merapi! Modusnya hampir serupa, foto dikirim ke berbagai media itu saat kebanyakan jurnalis foto tak memilikinya. Seolah-olah, sang fotografer itu memperoleh foto eksklusif karena peka melihat tanda-tanda dan gejala.
Semua orang tahu, Gunung Merapi sedang menjadi pusat perhatian dunia –setidaknya yang tampak melalui pemberitaan media massa dalam beberapa pekan terakhir. Sebabnya, ia tidak sekadar ‘batuk-batuk’ yang membuat gelap langit akibat abunya bertebaran menyaingi awan. Lebih dari itu, isi perut bumi sudah merangkak hingga hampir menjelang Puncak Garuda, sebutan titik tertinggi ‘gundukan tanah’ raksasa itu. Sejumlah pemerintah daerah di sekitarnya, bahkan sudah menggelar simulasi evakuasi pengungsi.

Foto Gunung Merapi ini dibuat oleh Patmawitana dan disiarkan oleh AFP pada 12 Januari 2001. Foto di-download dari http://news.yahoo.com/
Muntahannya, diperkirakan bakal memiliki kadar petaka berlebih. Tentu bila dibandingkan dengan fakta-fakta yang sudah ditunjukkan gunung berapi teraktif sedunia itu sejak beberapa tahun terakhir. Merapi seperti sedang mangayubagyo, mengucapkan selamat datang kepada ratusan ahli dan pemerhati kegunungapian sedunia yang akan berbondong-bondong ke Yogyakarta pada kwartal ketiga tahun ini. Ya, mereka akan memperingati 1.000 tahun letusan Gunung Merapi dengan serangkaian diskusi, seminar, simposium dan entah apa lagi sebutannya.
Entah darimana idenya, sang fotografer freelance itu kembali menunjukkan kelebihannya dalam merekayasa foto berita, yang kebetulan dipajang sebagai foto headlines harian The Jakarta Post edisi 17 April 2006. Ia menuliskan dalam keterangan fotonya, bahwa foto Gunung Merapi yang lelehan apinya nyaris mencapai lembah itu dibuat pada Minggu, 16 April 2006 pukul 03.00 WIB.

Foto Gunung Merapi ini juga dibuat oleh Patmawitana dan disiarkan oleh The Jakarta Post edisi 17 April 2006. Foto di-scan dari The Jakarta Post
Entah berapa ribu nyawa sudah melayang andai kejadian seperti dilukiskan dalam foto itu benar adanya. Orang-orang yang tinggal di lereng barat gunung itu pasti hangus tak bersisa, saat dingin pagi melelapkan tidur mereka yang sudah nyenyak.
Saya, kebetulan menjadi salah satu orang yang dibuat panik. Tiba-tiba banyak orang bertanya –dengan menelpon atau berkirim pesan pendek, siapa sesungguhnya sosok fotografer ‘kreatif’ itu. Bibir kelu, hati terasa mendidih. Dan yang terucap hanya ungkapan kemarahan dan kutukan.
Seperti tiada akhir, banyak teman ikut bergunjing, meski saya tahu, sebagian dari mereka belum melihat foto itu di The Jakarta Post. Apalagi, beberapa koresponden televisi tiba-tiba ditelepon oleh staf redaksinya dan dimarahi karena tak berhasil memiliki rekaman peristiwa itu. Para koresponden itu dituduh kecolongan, bahkan dianggap tak becus bekerja.
Sementara, di Yogyakarta, para pejabat dan staf kantor BPPTK yang memiliki otoritas pemantauan aktivitas Gunung Merapi ‘kebakaran jenggot’, karena bahkan ada yang ditegur atasannya dari Jakarta. Entah, suasana seperti apa yang terjadi di redaksi The Jakarta Post manakala protes datang bertubi-tubi.
Padahal, di mana-mana, alur kerja redaksi media sudah jelas dan baku. Kepercayaan juga menjadi satu-satunya unsur terpenting dalam proses produksi sebuah pemberitaan. Meski staf redaksi juga bisa berbuat salah, mutu pemberitaan sangat ditentukan oleh moralitas pengisi hirarki ‘terendah’ dalam hirarki redaksional, yakni reporter atau pewarta foto dalam konteks media cetak. Akurasi dan validitas data ditentukan oleh pekerja lapangan ini.
Dalam kasus foto Gunung Merapi yang ditampilkan di The Jakarta Post edisi 17 April 2006 dan pernah dilansir tiga kantor berita asing pada awal 2001, itu sudah jelas dilakukan oleh orang yang menyebut diri dengan nama Patmawitana, sesuai kredit foto yang menyertainya.
Yang lebih aneh lagi (entah, apa sesungguhnya nama penyakit bagi orang semacam itu), hanya menjawab enteng ketika saya memprotes pelanggaran etika yang sudah dilakukannya, kali ini dan lima tahun sebelumnya. Tak terlihat sama sekali perasaan bersalahnya, apalagi penyesalan. Bahwa akibat perbuatannya, jutaan orang telah tertipu secara terang-terangan, bahkan dengan cara yang kelewat tolol.
Lewat pesan pendek, ia menuliskannya secara singkat:
Terima kasih, maaf saya salah kirim fot,tadinya hanya utk referensi aja motret merapi.
Yang pasti, pelanggaran etika semacam itu merupakan dosa paling besar dalam jurnalisme. Tak ada alasan untuk memaafkan, apalagi kesalahan yang sama telah dilakukan berulang-ulang. Pantas saja kalau seorang teman, fotografer kantor berita asing berujar tegas: “Kami telah kompak, (menyebut tiga nama kantor berita) akan menolak semua kiriman foto dari dia!

Mari beramai-ramai kita kelitiki, telanjangi dan kita kuliti
Comment by WEDA — April 18, 2006 @ 12:37 pm
Waduh…sedih banget dengar jawabannya. Kok bisa begitu entengnya menjawab salah kirim untuk sebuah kesalahan besar.
Comment by fadli — April 19, 2006 @ 3:49 am
nice.
Comment by jojo — April 20, 2006 @ 4:48 am
lah kok nganyelke banget tumindak lan jawapane.
Comment by kere kemplu — April 20, 2006 @ 3:16 pm
Blon, kowe ki payah. Wis komentar akeh banget, tapi kowe sama sekali gak jelaskan s hal: Siapa nama fotografer yang kau maksud (apakah kowe sejenis makhluk yang suka menyembunyikan fakta?). Trus 2, sebutkan dong, pelanggaran etikanya dimana, jelaskan. Lha iki gak ana penjelasane sama sekali, kowe mung ngamuk thok!
(Riq, yen moco mbok sing teliti…. Ojo mung ngomentari (Opo fotografer kuwi malah isih mambu waris karo awakmu?). Jare Kang Tyo, kowe kan seneng nganggo kata segawon. Kok malah ora digunakke? Wis lali, piye? Soal pelanggaran etika, ben pembaca mikir dhewe. Etis apa ora yen kaya manipulasi data kaya ngono kuwi? Lagi pula, amarga aku dudu dosen, maka kubiarkan saja. Aku kan kafilah, yang biasa membiarkan ……… menggonggong)
Comment by thoriq — April 21, 2006 @ 2:54 pm
Saya Patmawitana photographernya
Saya ingin mengemukankan apa yang sebenarnya terjadi dalam pengiriman foto Merapi tersebut:
1. Saya bukan penipu
2. Foto tersebut merupakan rangkaian saya liputan tentang salak pondoh dan salak sisik naga di desa LEDOKNONGKO Turi Sleman dan Dusun Kelor ( Dusun Kelor pernah dilanda lahar merapi ) yang rencanannya untuk images The Jakarta Post. Anda bisa datang kesana dan membuktikan bahwa daerah tersebut pernah dilanda lahar merapi ini atas kisah Pemilik Joglo Kelor.
Kepala Dukuh Bapak Darmojo dan Pemilik Joglo Kelor R Sumadi yang menceritakan tentang sejarah Dusun Kelor yang terkenal lahar merapi sehingga tanah disekitar itu menjadi subur. Karena ada satu pohon kelor yang menjadi tolak bala atau penangkal dari mara bahaya merapi sehingga satu desa tidak terkena lahar merapi( Foto Merapi Meleleh itu ) Nara sumber yang saya hubungi adalah : dari Indomerapi pengelola salak pondoh dan sisik naga Ibu Ari 0274-7133191 atau 08179409881.
Foto merapi meleleh itu bagian dari Esai foto tentang Salak Pondoh dan Salak Sisik Naga yang ada dilereng Gunung Merapi dan Kisah Tentang Desa Kelor , saya wawancara dengan ke dua sesepuh desa Kelor tersebut dengan wartawan lintas kota Riyan saat itu
sebelum foto merapi itu muncul dan tidak ada kaitannya dengan news sehingga saya mengatakan salah pengiriman file ( yang sebelumnya saya mengirimkan foto-foto perkembangan terbaru tentang Gunung Merapi.
Saya berterima kasih atas komentar-komentar tentang foto itu , dan mohon di seledidik latar belakang foto itu terlebih dahulu
Terima kasih
patmawitana
(Sebaiknya, Saudara Patmawitana membuktikan dirinya tedak sedang menipu bila apa yang saya sampaikan memang salah sehingga terjadi penghakiman. Namun, ada baiknya Saudara Patmawitana memberikan klarifikasi dengan deskripsi yang cukup detil, termasuk tanggal pemotretan dan sebagainya. Sebab, persoalannya bukan pada dalam konteks apa Saudara Patmawitana membuat foto tersebut, melainkan atas alasan apa Saudara Patmawitana menyebut foto yang dimuat di The Jakarta Post dibuat dengan selisih waktu hampir lima tahun.
Semoga Saudara Patmawitana cukup paham dan mengerti maksud pernyataan saya -yang masih menggunakan logika dan Bahasa Indonesia)
Comment by patmawitana — May 10, 2006 @ 2:57 am
Klarifikasi :
1. Foto itu memang bukan foto news tapi hanya melengkapi kisah dari Bapak Sumadi ( Pemilik Joglo Kelor) di dusun Kelor yang pernah dilanda Lahar Merapi yang rencananya akan dimuat untuk halaman images dan memang ditugasi dari Mas PJ Leo untuk memotret tentang Salak yang ada dilereng Merapi dan saya menemukan Desa Ledoknongko dan Desa Kelor dan saya kirim bersama file-file salak pondoh ( bagai mana saya menceritakan nya jika tidak ada lahar meleleh yang pernah menimpa desa kelor). Pohon Kelor sebagai lambang penolak bala dari bahaya, mana dinamakan Desa Kelor atas wawancara saya dengan Bapak Sumadi (Pemilik Joglo Kelor ) di Ledoknongko Turi Sleman ) jika ingin membuktikan silahkan datang ke sana
2. Foto tersebut memang saya buat tahun 2001, saya cukup terkejut juga atas dimuatnya foto tersebut, sebelumnya saya juga mengirim foto-foto yang terbaru, dan kenapa JP juga tidak croscek dengan Badan(Pengamat Gunung Berapi) yang terkait sebelum memuat foto tersebut.
3. Teman saya dari Lintas Kota Yogyakarta ( Riyan) akan email saya perihal kisah dari Dusun Kelor yang terkena Lahar Merapi atas kebenarnya melalui email yang akan saya sampaikan. Riyan yang waktu itu ikut wawancara bersama saya.
Terima kasih
patmawitana
(Saudara Patmawitana, sebaiknya tidak usah membawa nama Mas PJ leo atau siapapun karena posisi Saudara adalah kontributor. Saudara juga tidak tahu diri kalau menyalahkan The Jakarta Post tidak melakukan crosscheck , sebab Saudara sudah dipercaya. Asumsinya, setiap jurnalis telah memiliki pemahaman akan kode etik jurnalistik yang harus dipegang teguh seorang jurnalis. Dengan menuliskan tanggal pemotretan pada 16 April 2006 pukul 03.00 WIB, berarti Saudara masuk kategori sengaja berbohong. Sebagai sarjana hukum, Saudara pasti tahu soal hukum)
Comment by patmawitana — May 11, 2006 @ 4:37 am
Mas Patmawitana, terkait foto itu saya cuma mau tanya dua hal saja. Sampeyan itu pendidikan terakhirnya apa sih, trus sebelumnya latar belakang pekerjaan sampeyan itu apa ya ? Matur nuwun (juga untuk pengasuh blog ini, Blontank)
Comment by Wahyoe — May 11, 2006 @ 8:22 am
Pendidikan terakhir saya sarjana hukum , saya belajar memotret sejak 1991-2006 ini ,belajar photography secara otodidak.
Terima kasih
patmawitana
Comment by patmawitana — May 12, 2006 @ 6:44 am
untung aku nggak dapat foto ini
he he he he he
Comment by kumoro — May 22, 2006 @ 2:05 pm
http://www.fotoartmagazine.gr/photographers/patmawitana/index.htm
Comment by anonim — May 29, 2006 @ 3:54 am
uh.. orang yang aneh. i would hate to be him at this point. kasian. yuk kita gebuki rek!
Comment by lew — October 4, 2006 @ 12:19 pm
waduh.. baru tau nih.. kckckc..
Comment by aRdho — November 14, 2006 @ 12:12 am
Sebaiknya Om Blontank menanyakan sama Mbak Sri Wahyuni dan Mas Tarko biro Yogyakarta , kenapa peristiwa itu bisa terjadi, dan merugikan The Jakarta Post…
Saya akan terjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan saya sebar ke links-links saya…
bahwa saya bukan penipu,tulisan ini malah tambah menipu lagi nantinya
saya rencana akan buat buku tentang Merapi dan Borobudur
terima kasih
patmawitana
Comment by patmawitana — May 21, 2007 @ 4:00 am
Mas Leo
Karena tulisan Blontank Poer yang penuh emosi, saya
berharap mas Leo mempertemukan saya dengan Sri
Wahyuni, Tarko, Blontank Poer, patma, dan Soeryo, atau
pejabat The Jakarta Post supaya mendengarkan pengakuan
Sri Wahyuni dan Tarko sebelum peristiwa foto itu
muncul HL di The Jakarta Post, apa yang mereka lakukan
sebelum peristiwa itu terjadi, supaya Blontank Poer
dalam tulisannya tidak hanya emosi belaka, kalau foto
itu dianggap sengaja saya lakukan untuk merugikan The
Jakarta Post
Jika dianggap merugikan The Jakarta Post dan Blontank
Poer
Terima kasih
patmawitana
freelance photographer
blonty: pembaca yang budiman, Anda pasti akan pusing ketika berada pada posisi saya ketika berhadapan dengan Sdr. Patmawitana, seperti komentar dia di atas. Kesalahan dia sudah sangat jelas, tapi tak pernah bisa merasakan. menanggapi pernyataan dia pun, sesungguhnya sudah salah. apalagi harus membuang waktu dan energi untuk membahasnya. saya berharap, Anda bisa terhibur dengan pernyataan-pernyataan Sdr. Patmawitana
Comment by patmawitana — August 2, 2007 @ 2:58 am
Mas Blontank :
Tolong Check saja file aslinya yang saya kirim di The Jakarta Post sebelum peristiwa itu terjadi : Saya tidak pernah merasa membuat teks seperti yang dituliskan The Jakarta Post yang dimuat 17 April 2006 itu , atau caption seperti itu.
Anda sms saya mengata-ngatai menolol-nololkan saya : tapi menurut saya anda yang terlalu tolol : melalui sms: Sri Wahyuni memaksa saja seolah-olah saya dengan sengaja melakukan hal itu dengan sangaja, padahal Sri Wahyuni dan Tarko yang memulai persoalan ini sebelum foto itu muncul :
Judulnya di ganti saja : The Jakarta Post kena lahar , Tarko Tertawa-tawa, Sri Wahyuni memerah wajahnya, P J Leo terlelap tidur, Blontank Poer yang kebakar jengotnya
Terima kasih
patmawitana
Comment by patmawitana — August 4, 2007 @ 1:45 am
Mas Blontank
Saya sangat mencintai pekerja saya sebagai photographer dan saya sangat bangga foto-fotoku bisa dimuat the jakarta post, termasuk mertua dan anak saya , tetapi ada ken arok di dalam The Jakarta Post yang tidak senang kalau foto-fotoku dimuat di media berbahasa inggris itu,saya sendiri tidak pernah tahu kantor The Jakarta Post itu berada dan menghadap kemana kantornya, saya hanya kontak dengan sahabat saya PJ Leo yang selalu memuat foto-fotoku, mungkin kah saya melakukan itu. Tolong Sri Wahyuni harus mengaku di hadapan Blontank Poer apa yang sebenarnya terjadi ? ada dua perkara soal merapi itu :
1 . Masalah dengan Sri Wahyuni dan Tarko
2 . Masalah : saya tidak pernah merasa membuat teks atau ception yang dituliskan di The Jakarta Post 17 April 2007
3 . The Jakarta Post beberapa kali memakai credit foto saya selalu keliru : di antaranya :
ditulis JP/antara ,JP/Ridlo Ariyanto, JP/Ahmad Solikhan , padahal foto foto yang dimuat itu foto saya, padahal saya tidak pernah mengirim ke Antara, atau ke Reuters, AP, AFP , jika tidak diminta mereka
Terima kasih
salam yakin makmur sejahtera
patmawitana
Comment by patmawitana — August 4, 2007 @ 2:56 am
Om Blontank Poer
jika anda penulis profesional saya ingin menanyakan hal ini
1.Apakah bisa sebuah tulisan bisa diajukan ke Dewan Pers tentang kebenarnya?
2.Apakah bisa juga penulis dituntut ke pengadilan ?
3.Kalau benar-benar tidak pernah merasa membuat caption dan tulisan pada sebuah foto yang dimuat HL The Jakarta Post
4. Senandainya seorang photographer dipaksakan untuk mengaku sengaja bahwa perbuatnya terhadap The Jakarta Post dibawah tekanan? apa yang anda lakukan
5. Seandanya diajukan ke Dewan Pers bagaimana ?
6. Mas Blontank Poer menulis sesuatu berita berdasarkan emosi belaka? tanpa menelusuri lebih dalam apa yang benarnya terjadi dibalik suatu peristiwa ?
7. Apa tidak malu jika seorang photographer ternyata tidak terbukti kalau sengaja melakukan seolah-olah dipaksa untuk mengakui oleh sesorang ?
8 Dimanakah hati nurani anda sebagai photographer atau penulis pada posisi seperti saya?
9 Om Blontank Poer sebenarnya tahu apa yang terjadi dan berpikir secara logika ada apa dengan patmawitana ? sengajakah patmawitana melakukan itu? apakah tidak ada tekanan dari seseorang hanya karena masalah sepele : uang-uang-uang
10 Apakah seorang patmawitana berhak membela diri karena memang tidak pernah merasa membuat teks atau caption yang dimuat di The Jakarta Post tanggal 17 April 2006 itu
11. Ada ribuan pertanyaan untuk Sri Wahyuni dan Tarko S ? Apakah Mas Blontank Poer juga menanyaai mereka dengan bertatap muka tidak hanya sms?
12 Jika dua wartawan ini mengakui kesalahannya suatu saat apa yang anda lakukan terhadap mereka?
13 Jujurkan kedua wartawan JP ini?
14.Tolong dikembangkan lagi lebih dalam dengan pertanyaan-pertanyaan dan investivigasi
ini bukan bualan belaka , tetapi mencari kebenaran yang sesungguhnya
Terima kasih
patmawitan
Comment by patmawitana — August 8, 2007 @ 8:42 am
Dear : Blontank Poer
Om Blontank Poer mau-maunya di bodohi 2 orang wartawan The Jakarta Post itu, mereka sangat terlibat dengan masalah foto Merapi itu. Saya hanya kasihan sampeyan sudah cape-cape nulis?
Tanyakan saya kepada mereka ? Apakah mereka tidak di gaji oleh The Jakarta Post? Kurang gajinya sehingga harus menganggu saya saat saya liputan ? Jika om Blontank Poer professional mesti menanyakan masalah merapi ini dengan Sri Wahyuni dan Tarko, semua editor photo di Jakarta saya tahu masalahnya apa? terutama Koran Tempo yang sudah memblacklis nama photographer yogyakarta itu (TK ).
Atau anda tanyakan Emmy Fitri wartawati The Jakarta Post, saya sudah ceritakan semuanya kepada wartawati ini, dan saya sempat di wawancara dengan wartawan Kompas nanya Hernowo, saya juga sudah ceritakan semua masalah dan latarbelakang foto merapi itu jika om Blontank Poer menganggap saya dengan sengaja melakukan itu.
Saya dipaksa dua orang wartawan itu seolah-olah saya sengaja melakukannya itu semua
Oke Om Blontank Poer…
Tolong carikan kebenaran yang benar-benarnya
jujur sejujur jujurnya
Jangan sampai anda menyesal seumur hidup anda ?
Anda tahu masalah PJ Leo dan Tarko ?
Oke
terima kasih
patmawitana
Comment by patmawitana — August 15, 2007 @ 3:23 am
Om Blontank
Sri Wahyuni dan Tarko S , sangat terlibat dengan foto merapi itu, sebelum peristiwa itu terjadi dan membuat anda emosi berat..
Tolong tanyai mereka dan intrograsi mereka sehingga merugikan The Jakarta Post dan Anda ?
Saya merasa kasihan dengan Anda jika tidak menanyakan detail apa penyebabnya?
Mengapa PJ Leo bertengkar dengan Tarko ?
ada apa dengan Mereka?
Kalau dibongkar dua wartawan ini tidak punya etika dan hati nurani?
Pelanggaran etika kerja , etika jurnalistik, dan etika pers?
Pelajaran berharga buat The Jakarta Post dan wartawannya ?
Apakah dua wartawan ini kekurangan gaji? apa malah tidak digaji oleh The Jakarta Post?
Terima kasih
patmawitana
Comment by patmawitana — August 18, 2007 @ 2:22 am
Om Blontank Peor
Jika suatu saat patmawitana tidak terbukti bersalah,menurut dewan pers dan the jakarta post bisa minta maaf atas kesalahan yang dibuatnya
apa yang anda lakukan?
Saya tidak pernah merasa membuat caption seperti yang dituliskan The Jakarta Post
Adi yang jaga malam waktu itu, hanya menanyakan kapan foto itu dibuat, saya hanya bilang malam hari sekitar pukul 02.30 wib , dan saya tidak tahu kalau foto itu akan dimuat keesokan harinya?
Biasanya Mas PJ Leo yang memuat foto-foto saya, dan memberi tahu kalau akan dimuat besok paginya?
Adi tidak mengatakan kalau akan dimuat besok paginya, saya pikir tidak akan pernah dimuat foto itu di The Jakarta Post, karena Adi memang tidak pernah memuat foto-foto saya.
Om Blontank Poer harus mengecek di The Jakarta Post foto Asli dan Captions yang saya kirimkan saat itu sebelum peristiwa itu terjadi
Setelah itu saya ada tekanan dari dua wartawan tersebut , bahwa saya seolah-olah sengaja melakukannya dan dibuatlah surat hubungan kerja sama lagi dengan The Jakarta Post
Hal ini penting buat Anda dan The Jakarta Post
Terima kasih
patmawitana
Comment by patmawitana — August 19, 2007 @ 5:30 am
Mas Blontank
Saya merasa dirugikan oleh 2 wartawan The Jakarta Post, dan anda mestinya tahu akan hal itu, tolong jangan sembunyikan dari kenyataan ini
Mereka jelas-jelas melanggar etika jurnalistik,hanya karena persaingan yang tidak sehat..
jujur saja Mas Blontank…
Dunia akhirat saya tidak pernah merasa membuat caption yang dituliskan The Jakarta Post 17 April 2006 yang lalu itu…
Tolong buktikan saja di kantor The Jakarta Post dan Dewan Pers
Kalau saya tidak salah Anda harus memperbaiki nama baik saya
Patmawitana
Comment by patmawitana — September 3, 2007 @ 1:47 am
Date: Mon, 27 Aug 2007 02:35:43 -0700 (PDT)
From: “BLONTANK POeR” View Contact Details Add Mobile Alert
Yahoo! DomainKeys has confirmed that this message was sent by yahoo.com. Learn more
Subject: RE: Tulisan Blontank Poer dan klarifikasi saya
To: “patmawitana witana”
uruslah sendiri. jangan lagi menuhi-menuhi mailbox-ku dengan pesan sampahmu.
gugat saja kalau anda memang yakin anda benar….
sekali lagi, jangan lagi kirim email ke saya.
Comment by patmawitana — September 3, 2007 @ 1:52 am
Mas Blontank
Jangan Sudah , saya juga punya hak membela diri
,karena saya tidak pernah merasa membuat caption
seperti itu dalam foto saya yang asli saya kirimkan ke
The Jakarta Post. Ada temen anda kerja tidak
profesional,temen-teman saya dari TEMPO dan PANTAU
(Andreas Harsono )membela saya untuk di ajukan ke
Dewan Pers dan The Jakarta Post.Hanya untuk mencari
kebenaran dan kejujuran saya.
Karena memang foto itu saya tujukan memang untuk
Images bukan untuk Newspictures, jadi tidak ada
pikiran dan benak saya untuk Newspictures ,
Tolong di cek kebenarannya
Terima kasih
patmawitana
— BLONTANK POeR wrote:
> Sudahlah, Patma.
> Jangan Anda memenuhi mailbox saya dengan pesan
> sampah.
> Protes Anda tak berguna diarahkan kepada saya.
> Silakan langsung ke Pemred The Jakarta Post atau
> mengadu ke Dewan Pers sekalian. Capek saya…..
>
> Lagi pula, tidak relevan Anda menuliskan hal
> demikian dengan melakukan Cc ke banyak pihak yang
> belum tentu tahu duduk persoalannya serta tidak
> memiliki kepentingan langsung dengan foto Anda yang
> jadi kasus itu.
>
> blt
>
> patmawitana witana wrote:
> Dear ; Om Blontank Poer dan Adek
>
> Saya merasa dirugikan oleh dua wartawan JP ,sebalum
> peristiwa itu terjadi,Sri Wahyuni mempersulit saya
> dalam pengiriman foto-foto untuk JP saat itu, karena
> semuat foto -foto harus melalui dia,padahal saya
> sudah
> terbiasa dengan mengirimkan langsung ke editor The
> Jakarta Post,dan membingungkan saya, dan foto saya
> yakin tidak bakal dimuat. Tanyakan saja , dan soal
> telpone anda bisa cek direkening Telpne Telkom
> Yogya,
> atas nomer telpone biro JP di Yogyakarta.
> dan Saya tidak merasa membuat caption seperti yang
> di
> tuliskan JP tanggal 17 April 2007 ,karena memang
> untuk
> halaman Images, bukan untuk News Pictures,karena
> memang saya kirim dalam satu rangkaian foto-foto
> untuk
> Images,dalam pikiran saya tidak akan dimuat.
> Tolong Mas Blontank cek foto asli dan caption yang
> saya tuliskan saat itu,karena memang berhubungan
> dengan Wisata Merapi di Turi , Desa Ledoknongko,
> Dusun
> Kelor dan berkaitan dengan lahar merapi
>
> Terima kasih
> patmawitana
> — BLONTANK POeR wrote:
>
> > Terima kasih Adek.
> > Jujur, aku bingung ngadepi Patma yang hampir
> > setiap pekan kirim email ke saya untuk klarifikasi
> > dan semacamnya. Testimoni saya sudah jelas ditulis
> > di blog
Comment by patmawitana — September 3, 2007 @ 1:53 am
> — BLONTANK POeR wrote:
>
> > Terima kasih Adek.
> > Jujur, aku bingung ngadepi Patma yang hampir
> > setiap pekan kirim email ke saya untuk klarifikasi
> > dan semacamnya. Testimoni saya sudah jelas ditulis
> > di blog
> >
>
(http://blontankpoer.blogsome.com/2006/04/18/menipu-dengan-foto/).
> > Jawaban dia selalu lucu, sehingga aku benar-benar
> > bingung.
> >
> > Belakangan, email Patma menyebut dia bisa
> > memperkarakan tulisanku secara hukum (dengan
> > menyitir pendapat Andreas Harsono, Pantau). Tapi
> tak
> > apa. Bukan soal bagiku. Malah, kalau sampai ke
> > pengadilan justru akan menarik perhatian dan
> justru
> > akan bermanfaat pula bagi kemajuan jurnalisme di
> > Indonesia.
> >
> > Sebaliknya, aku akan meminta The Jakarta Post
> > menuntut balik Patma yang telah mengirimkan foto
> > bohong dan telah menipu banyak orang dan merugikan
> > nama baik The Jakarta Post dan dunia jurnalisme
> itu
> > sendiri.
> >
> > Patma, saya tunggu gugatanmu. Untuk Adek, silakan
> > forward email ini ke teman-teman supaya tahu duduk
> > perkaranya…..
> >
> > salam,
> > blt
> >
> > Adek BERRY wrote:
> > Setelah membaca tulisan Blontank - yang
> > sangat benar itu - dalam blognya. Saya sedikit
> > terhibur, karena sudah sejak lama, jauh sebelum
> > insiden Jakarta Post, AFP tidak welcome pada
> > stringer yang melakukan kejahatan fotografi.
> >
> > Kalau bisa mencermati alasan mengapa semua email,
> > sms dan bentuk komunikasi yang lain tak pernah
> > dijawab awak kita.
> >
> > Kita tidak mau menyakiti secara personal.
> > Tolonglah belajar dari semua ini.
> >
> > cheers
> > adek
> >
> >
> >
> >
> >
> > ———————————
> > From: patmawitana witana
> > [mailto:patmawitana@yahoo.com]
> > Sent: Thu 8/23/2007 10:31 AM
> > To: Adek BERRY
> > Subject: Tulisan Blontank Poer dan klarifikasi
> saya
Comment by patmawitana — September 3, 2007 @ 1:54 am
> > blontank poer
> > messenger: blontank2000
> > mobile: +62 (81) 7484 2894
> > main electronic address: blontank-poer@lycos.com
> >
Comment by patmawitana — September 3, 2007 @ 1:55 am
Saya sudah baca blog blontank. Saya tidak mau memihak siapa2x. Yang aku lihat kamu salah memahami essay foto itu apa? Gunung Merapi meletus dalam foto kamu itu tidak perlu dihadirkan karena pembaca akan tahu kalau desa tersebut bekas terkena lahar. Foto merapi tanpa lahar dan adem ayem pun sudah cukup baik. Jadi wajar pihak JP mungjkin salah memahami karya anda.
Jadi kaliyan seperti ada kehilangan komunikasi
Comment by patmawitana — September 3, 2007 @ 2:05 am
http://www.pattayadailynews.com/shownews.php?IDNEWS=0000002535
Comment by patmawitana — September 3, 2007 @ 2:10 am
http://english.sina.com/p/1/2007/0307/105691.html
Comment by patmawitana — September 3, 2007 @ 2:12 am
http://www.nemsplace.co.uk/news.php?150.p=36
Comment by patmawitana — September 3, 2007 @ 2:14 am
http://blog-indonesia.com/blog.php?page=4&blogger=3063
Comment by patmawitana — September 3, 2007 @ 2:15 am
http://www.pattayadailynews.com/shownews_adver.php?IDNEWS=0000002535
Comment by patmawitana — September 3, 2007 @ 2:17 am
http://www.balibago.in/bbs/bbs12/sbu2_bbs.cgi
Comment by patmawitana — September 3, 2007 @ 2:21 am
http://conann.com/aggregator/sources/36?page=318
Comment by patmawitana — September 3, 2007 @ 2:25 am
http://www.sfgate.com/cgi-bin/object/article?f=/n/a/2007/03/06/international/i173910S00.DTL&o=0
Comment by patmawitana — September 3, 2007 @ 2:31 am
Mas Blontank Poer
Saya kan bantu menyebarkan berita ini, sampai kemana-mana ? Jangan kawatir akan saya bantu
Nuwun
patmawitana
Comment by patmawitana — September 3, 2007 @ 2:34 am
http://www.zonezero.com/02/patmawitana.html
Comment by patmawitana — September 3, 2007 @ 2:45 am
http://www-cgi.cnn.com/ASIANOW/asiaweek/99/0514/feat1.html
Comment by patmawitana — September 3, 2007 @ 2:45 am
http://www.zonezero.com/02/
Comment by patmawitana — September 3, 2007 @ 2:46 am
http://www.thejakartapost.com/yesterdaydetail.asp?fileid=20060304.W01
Comment by patmawitana — September 3, 2007 @ 2:47 am
http://www.foto8.com/links/index.html
Comment by patmawitana — September 3, 2007 @ 2:50 am
http://www.tmcnet.com/usubmit/2006/02/22/1395806.htm
Comment by patmawitana — September 3, 2007 @ 2:50 am
http://news.sina.com.cn
Comment by patmawitana — September 3, 2007 @ 2:53 am
http://search.pbase.com/jnana/prambanan
Comment by patmawitana — September 3, 2007 @ 2:53 am
http://www.planetmole.org
Comment by patmawitana — September 3, 2007 @ 2:58 am
http://www.fotoartmagazine.com/
Comment by patmawitana — September 3, 2007 @ 2:59 am
Meskipun saya tidak tertarik debat kusir ini saya juga terkejut oleh penampilan foto Patmawitana di halaman depan Jakarta Post pagi itu (saya lupa tanggalnya)tahun lalu. Karena sudah waspada beberapa hari sebelumnya dengan menugaskan stringer di Yogyakarta untuk melihat Merapi, kantor juga menegur stringer Yogya kenapa kecolongan. Tetapi melihat beberapa fakta, termasuk melihat fakta bahwa beberapa fotografer yang siaga mengabadikan Merapi malam itu tidak mendapat foto samam sekali, dan setelah croscheck dengan menelpon Leo JP hingga 3 kali, kita sangat yakin bahwa foto itu bukan foto seperti yang tercantum dalam captionnya.
Memang kita pernah kecolongan pada tahun 2001 oleh foto Patmawitana yang dikirim 2 kali berturut-turut. Foto lahar Gunung Merapi yang sama dikirim 2 kali dengan tanggal berbeda.
Saya, yang bekerja pada kantor berita Reuters biro Jakarta, hari-hari itu bertugas menyunting foto yang datang dari daerah. Saya waspada karena melihat foto yang datang hari itu mirip sekali dengan foto yang pernah saya sunting seminggu sebelumnya. Saya telpon Patma untuk konfirmasi, Patma meyakinkan saya bahwa itu foto malam sebelumnya. Saya ragu, akhirnya saya tahan foto itu dengan tidak menyiarkannya setelah saya berkonsultasi dengan rekan senior di kantor.
Keraguan saya terjawab setelah saya mendapat software dari kantor Singapore. Dari software itu bisa terlihat metadata foto, mulai dari tanggal dan jam dijepret, jenis kamera yang dipake, data tehnis, bahkan nomor jepretan. Dan, nyatanya 2 foto berbeda tanggal pada captionnya itu merupakan jepretan tunggal yang dikirim berulang.
Sejak saat itu biro Jakarta mencari seseorang di Yogyakarta yang kita anggap lebih jujur pada profesinya. Dan, meskipun tidak mem-blacklistnya (nanti saya sebutkan kenapa itu dilakukan), sejak saat itu, kita lebih-lebih waspada terhadap foto kiriman dari Patmawitana.
Sesungguhnya ketidakjujuran seperti ini tidak terjadi hanya pada kasus Patmawitana, beberapa fotografer lainnya pun di Indonesia pernah melakukannya dengan sengaja. Dari pengalaman saya menyunting foto beberapa tahun, hal itu pernah terjadi beberapa kali. Saya tak tahu kenapa itu dilakukan, juga dengan alasan apa. Bisa jadi alasan ekonomi, bisa jadi alasan sensasi, seperti yang disebut diatas,
Yang harus dipahami seorang jurnalist, kredibilitas adalah segalanya. Kita, wartawan, adalah saksi bagi banyak pihak (masyarakat) untuk bercerita dengan foto atau tulisan tentang apa yang kita lihat dengan tidak melebih-lebihkan, mengubah, menambah, bahkan beropini di dalamnya tentang apa yang sedang terjadi disana. Fakta yang kita lihat adalah sesungguhnya.
Apakah kita jujur? Tanyakan pada diri sendiri sebelum mengirim foto.
Apakah kita layak dipercaya?
Kalau semua jawabnya ya maka kirimkan itu.
Kalau jawabnya tidak, maka jangan kirim foto itu karena kita, dengan sadar, menjadikan diri sendiri saksi buat orang lain yang tidak ada disana.
Kita–wartawan–adalah saksi yang layak dipercaya.
salam,
beawiharta
Comment by beawiharta — September 4, 2007 @ 10:39 am
Dear : Mas Beawiharta
Terima kasih mas Bea,Saya tidak merasa mengirimkan foto itu ke Reuters, AP, AFP, dan memang untuk esai foto (Images) The Jakarta Post berkaitan dengan Desa Wisata Merapi yang pernah terkenal lahar Merapi, jadi tidak ada pikiran sengaja mengirimkan foto itu ke The Jakarta Post, saya juga tidak menyangka kalau foto itu akan dimuat di The Jakarta Post.Dan saya tegaskan saya tidak pernah menulis caption seperti yang dituliskan The Jakarta Post 17 April 2006 pagi itu. Menurut Santirta dari Tempo, hal ini hanya kesalahan komunikasi saya antara saya dan The Jakarta Post.Saya jadi binggung waktu itu, dan harus bagaimana?
Saya dipaksa 1 wartawan The Jakarta Post tentang foto itu , seolah-olah saya berbuat sengaja melakukan hal itu?
Saya ingin ke Dewan Pers dan membuktikan semua ini ? Kejujuran saya …
Semoga Blontank Poer tidak hanya emosional saja.
Terima kasih
patmawitana
Comment by patmawitana — September 5, 2007 @ 2:13 am
Dear : Beawiharta
Tahun 2006 saya tidak pernah merasa mengirimkan foto Merapi ke Reuters,AP,AFP, dan yang saya kirim pastilah yang terbaru dan bisa di cek di mertadata setiap foto,kalau tahun 2001 memang saya kirim foto -foto untuk Reuters dan AFP.
Terakhir sebelum saya saya lepas dari The Jakarta Post , PJ Leo menyarankan untuk menghapus semua file yang sudah saya kirimkan ke The Jakarta Post? saya tetap simpan file -file itu baik-baik sebagai bukti otentik nantinya
Dan saya dianjurkan kirim ke media lain, sebenarnya PJ Leo dan salah satu pejabat The Jakarta Post masih ada yang menginginkan foto-foto saya, tetapi….emosi duluan
Terima kasih
patmawitana
Comment by patmawitana — September 5, 2007 @ 2:28 am
Saya pikir penjelasan dari yang Pro seperti Beawiharta sudah cukup…nggak perlu lagi pokrol bambu.
Nggak puas ya bawa saya ke Dewan Pers. Gitu aja kok repot.
Salam
Feri,
Freelancer juga.
Comment by Feri — February 9, 2008 @ 7:44 pm
bisa nggak di foto copy
Comment by ray shifa — March 4, 2008 @ 2:38 am
blontank ………hatimu memang blontank/lurik
Comment by jamal — May 4, 2008 @ 10:17 am