SorotMay 31, 2006 11:47 am

Sahrul Fuad Nurrohman masih berusia enam bulan. Wajahnya penuh bintik merah, karena dua malam terakhir selalu dikeroyok nyamuk. Jumlah serangga jenis ini mulai berbiak pesat sejak hujan mengguyur Dusun Teluk, Desa Kragilan di Gantiwarno, jauh di selatan Kabupaten Klaten, Sabtu (27/5) malam atau belasan jam setelah gempa berkekuatan 5,9 skala Richter meluluhlantakkan desa berpenghuni 1.000 orang lebih itu. Kotoran hewan, sisa makanan yang tumpah berbaur dengan puing rumah dan perabotan. Sebuah media pembiakan yang tepat bagi tumbuhnya nyamuk-nyamuk yunior.

Jalan utama yang menghubungkan dusun itu dengan dunia luar merekah. Satu-satunya jembatan di desa itu juga hancur, meski masih bisa dilalui kendaraan roda dua. Namun, persoalan yang muncul kemudian bisa ditebak: desa itu tak bisa diakses para relawan untuk sekadar membagi bahan makanan atau obat-obatan. Tragis! Satu-satunya warung yang menyediakan sembako dan kebutuhan sejenis obat nyamuk, pun roboh. Namun, dagangannya habis dijarah pencuri yang datang dari luar desa itu, pada malam pertama, ketika penduduk panik mencari sanak saudara dan mengurus keluarga, khususnya para balita dan orang tua.

Penderitaan mereka -juga ribuan kaum ‘tunawisma’ dadakan di berbagai desa, tak kunjung sirna. Bahkan hingga tiga hari usai gempa, tak kunjung datang bantuan. Jangankan makanan dan obat-obatan. Tenda untuk pengungsi pun belum tersedia. Mereka pun tidur beratap langit, dengan alas tikar seadanya, yang berhasil dikais dari puing-puing bangunan mereka.

Rakyat mulai cemas. Lapar tak bisa ditahan, dahaga tak terbendung. Para orang tua yang memang tak sanggup berbuat apa-apa, lantas membiarkan anak-anak mereka menadahkan tangan setiap ada mobil melintas. Mengemis. Mobil telah ditegaskan sebagai simbol status sosial, sehingga yang papa ‘wajib’ meminta belas kasih kaum kaya. Tak semua dermawan memang. Sebab, kemacetan jalan-jalan menuju lokasi bencana telah dipenuhi wisatawan dadakan. Di balik kaca mobil berpendingin udara, mereka berjalan pelan, melihat kiri-kanan, sesekali mengeluarkan handphone untuk sekadar membantu ingatan, atau dijadikan sekadar kenang-kenangan.

Minimnya bantuan pemerintah menjadi bukti mandulnya kepekaan sosial mereka. Seorang relawan bantuan komunikasi bertutur, sejak gempa terjadi, Bupati Klaten memilih keliling kota. Di Kecamatan Tulung, Selasa (30/5) lalu, ia dijadwalkan menyerahkan bantuan bagi murid-murid SMP di sana, sehingga kedatangan Presiden Yudhoyono hanya disambut Wakil Bupati. Yang tak kalah menyedihkan dan membuat banyak orang geram dan para korban gempa marah adalah keputusan Bupati yang mengatur mekanisme distribusi bantuan: setiap warga diminta membuat proposal permohonan bantuan, lengkap dengan data jumlah korban. Tentu, proposal harus dikuatkan dengan stempel Kantor Desa dan Kantor Kecamatan.

Entah apa yang bakal terjadi kemudian. Ketika para korban membuat rumah-rumahan ala kadarnya, bahkan di lahan persawahan, sementara pejabat pemerintah bersama staf lebih asyik menghitung dan mencatat jumlah bantuan. Semoga, rakyat yang kian lapar tidak marah sehingga meluapkan penderitaannya dengan protes sosial…. Semoga.

PeristiwaMay 27, 2006 2:35 pm

Aku terpaksa memajukan jadwal bangunku, hampir empat jam lebih dari kebiasaan. Bukan karena suara berisik yang bersumber pada kaca jendela dan almari yang mengusikku. Namun, goyangan itu betapa kuatnya! Di luar rumah, segera muncul suara gaduh bersahutan, dan sebagian jerit kaum perempuan.

Aku baru sadar, yang membangunkanku adalah gempa hebat, yang kemudian kutahu dari siaran televisi, bahwa gempa itu berkekuatan 5,9 sekala Richter. Aku segera beranjak pergi, karena aku menduga bakal terjadi letusan besar dari Gunung Merapi. Istriku mencegahku pergi. Namun, akhirnya ia ikut pergi bersamaku.


Rekaman lensa atas dampak gempa tektonik yang bersumber di kedalaman laut selatan, nuh jauh di selatan Yogyakarta

Awalnya, aku lihat suasana Hotel Novotel, sebab kuyakin para tamu berhamburan keluar. Nihil! Hotel terasa senyap sehingga aku mengarahkan sepeda motorku ke rumah nenek istriku di Karangnongko, tak jauh dari Merapi. Kami kuatir, nenek yang berusia hampir 100 tahun itu tak sanggup menjauh dari rumah bila keadaan memburuk. Alhamdulillah, semua aman-aman saja.

Segera aku berbelok ke Rumah Sakit Tegalyoso, Klaten. Usai memotret beberapa, aku mencoba mencari subyek bidikan. Dan….. masya Allah, aku melihat sepupuku keluar dari bangsal menyelip di antara korban dan para anggota keluarga korban. Rupanya, gempa telah menyapu sebagian besar rumah di Kecamatan Gantiwarno, sebagian Wedi dan Prambanan. “Istriku tertimpa atap rumah, kulit kepalanya terkelupas. Adik iparku juga patah tulang,” ujar sepupuku.

Belum sempat terucap di ruang sebelah mana istrinya dirawat, sepupuku sudah mengabarkan ada sepupuku yang lain tergolek lemah. Lengan kanannya patah. Kelu. Aku hanya bisa menangis. Lalu, aku mengabarkan kejadian itu pada ayahku, yang rupanya belum tahu keadaan keponakan-keponakannya. Sambil mengabarkan keadaan keluarga di rumah yang baik-baik saja, ayah gantian memberi kabar buruk. Ada satu sepupuku yang lain meninggal dengan amat menyedihkan. Tertimpa atas rumah dan tembok rumah tetangganya. Innalillahi wa inna ilaihi raji’uun. Semoga Allah mengampuni semua dosa-dosanya…

Sorot 3:03 am

Konflik horisontal bukan mustahil akan terjadi, menyusul reaksi berlebihan massa Front Pembela Islam (FPI) terhadap pernyataan KH Abdurrahman “Gus Dur” Wahid dalam sebuah dialog antaretnis dan agama di Purwakarta, 23 Mei lalu. Di Jakarta, baik pendukung Gus Dur maupun massa FPI sama-sama bersiap diri untuk ‘perang’. Di Jember dan Madiun, Jawa Timur, warga Nahdlatul Ulama sudah show of force, mengumumkan kesiapannya berhadapan dengan massa FPI.


Gus Dur bersama para pengikutnya

Banyak orang tahu, kedua kelompok massa Islam ini sama-sama memiliki militansi tinggi, juga loyalitas yang ekstratinggi terhadap para pemimpinnya. Masih terlintas dalam ingatan kita, sebagian warga NU pernah mendeklarasikan diri sebagai pasukan berani mati untuk membela Gus Dur yang hendak dijatuhkan oleh sebuah konspirasi politik tingkat tinggi.

Sementara FPI, juga memiliki prestasi tinggi, khususnya dalam hal penutupan paksa sejumlah tempat hiburan di Jakarta. Mereka sama sekali tidak surut nyali, bahkan ketika berhadapan dengan para preman yang ‘bekerja’ sebagai semacam ‘tentara’ bayaran bagi para pengusaha tempat hiburan.

Andai bentrokan dua kubu sampai terjadi –meski kita berharap jangan sampai mewujud, maka yang sesungguhnya pantas digugat adalah kinerja dan profesionalitas polisi kita. Sebab, ketidaktegasan aparat kepolisianlah sesungguhnya menjadi pemicu adanya oknum masyarakat yang lantas dengan penuh rasa percaya diri mengambil alih tugas-tugas polisioner hingga ekstrakonstitusional, bahkan dengan cara kekerasan.


Sejumlah aktivis Islam melakukan aksi pemusnahan minuman keras di sebuah rumah makan sekaligus tempat hiburan di pinggiran Surakarta, 18 Oktober 2005

Diakui atau tidak, banyak orang telah diliputi rasa was-was, bahkan ketakutan yang sangat mendalam, terutama oleh tindakan dan potensi kekerasan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok yang mengatasnamakan agama. Seolah-olah, Indonesia adalah negara agama, sehingga seluruh pranata sosial, hukum, budaya dan politik harus mengacu pada salah satu agama.

Pasal 29 Undang-undang Dasar 1945 –bahkan yang sudah direvisi, pun masih menjamin kebebasan beragama, yang tentu saja untuk menjalankan kewajiban sebagai umat beragama sesuai keyakinan dan pilihan masing-masing. Berangkat dari pemahaman bahwa polisi sebagai aparat penegak hukum sehingga harus menjalankan amanat konstitusi secara adil dan tidak diskriminatif, maka sudah saatnya aparat kepolisian segera berbenah diri.

Seluruh masyarakat –apapun etnis dan agamanya, menginginkan dan berhak akan kedamaian dan kebebasan. Sebaliknya, negara dan pemerintah sebagai penyelenggara negara wajib segera mewujudkan terciptanya kedamaian dan kebebasan itu sebagai hak-hak konstitusional warga negara, sebab rakyat sudah melakukan seluruh kewajiban yang dituntut negara, di antaranya seperti ditunjukkan dengan cara membayar beragam jenis pajak dan lain-lainnya.


Ratusan anggota PDI Perjuangan Surakarta sedang bersiap-siap melakukan unjuk kekuatan menentang aksi razia tempat-tempat hiburan oleh sejumlah aktivis Islam di Surakarta, 23 Oktober 2005

Mayoritas bangsa Indonesia sudah muak dengan aksi-aksi kekerasan dan intimidasi oleh sebagian kelompok kecil masyarakatnya. Sementara, kecemasan terus menggelayuti mayoritas bangsa ini pula, karena para penyelenggara negara tak kunjung melaksanakan kewajiban konstitusionalnya.

Sikap aparat penegak hukum, utamanya polisi, yang lebih sering melakukan mediasi alias mendamaikan dua kelompok yang tengah berseteru atau terlibat konflik, merupakan contoh paling buruk bagi upaya penegakan hukum di Indonesia. Akar persoalan tak pernah tersentuh, karena pihak-pihak yang beperkara cenderung disuruh melupakan masalahnya.

Andai konflik terbuka antara pendukung Gus Dur dan simpatisan FPI sampai terjadi, penulis yakin akan banyak kelompok yang melibatkan diri. Dan orang cenderung memilih berpihak pada kelompok yang selama ini dianggap sebagai ‘sahabat’, dan pasti akan ada satu pihak lagi yang diposisikan sebagai ‘musuh bersama’.

Ketakutan, was-was dan dendam pasti akan berbaur, sementara pilihan yang akan diambil selalu jauh dari pertimbangan akal sehat. Siapa yang akan jadi korban jelas sudah bisa diprediksi sejak dini. Akankah kita tega melihat mereka terluka atau mati sia-sia?

Selama masih menggunakan akal sehat, kita akan berkata tegas: tidak! Tapi, apa yang akan terjadi hari ini atau esok? Wallahu a’lam bishawab

KehidupanMay 22, 2006 8:04 am


Mbah Maridjan sedang diwawancarai belasan media, termasuk sejumlah stasiun televisi asing seperti CNN, ABC News, Reuters dan lain-lain

Kebanyakan orang sering salah kaprah menerjemahkan makna kata modern. Modernitas seolah-olah menjadi nilai akhir sebuah skala, dimana tradisionalitas diposisikan secara berlawanan. Dan, Mbah Maridjan adalah contoh menarik. Lelaki berusia 79 tahun itu diperintah Sultan Hamengkubuwono IX menjadi juru kunci Gunung Merapi. Karena posisinya itu, nama Maridjan lantas diidentikkan dengan klenik atau hal-hal mistis lainnya.

Karena terjebak pada citra, latar belakang pendidikan seseorang lantas seolah-olah menentukan status sosial, dan ujung-ujungnya, orang yang tak mengenyam pendidikan formal diposisikan sebagai orang terbelakang. Mbah Maridjan, tentu tak masuk dalam perkecualian, sehingga ia selalu dikalahkan oleh sosok-sosok yang memiliki atribut formal, baik yang berupa gelar kesarjanaan maupun strata jabatan dan kekuasaan.


Lava pijar meluncur sejauh hampir empat kilometer dari puncak Merapi, Senin 15 Mei 2005 pukul 05:03:07 WIB

Semakin berkuasa (secara politik maupun akademis) seseorang, maka ia cenderung memiliki hak untuk menentukan posisinya sendiri, yang tentu akan memilih lebih tinggi dibanding orang yang tak mengenyam pendidikan formal memadai. Ujungnya, orang cenderung meremehkan nilai-nilai tradisional yang diyakini sebagian kelompok masyarakat, betapapun sebenarnya nilai-nilai tradisi itu memiliki bobot kearifan lokal.

Mbah Maridjan, misalnya, pantang menyebut awan panas Merapi dengan nama wedhus gembel. Begitu pula dengan sebutan lainnya seperti mbledhos, njeblug dan sebagainya yang maknanya sama, yakni meletus. Gunung Merapi disebutnya dengan Eyang Merapi karena ia dianggap sebagai pusat kehidupan dan asal mula Pulau Jawa. Sementara aktivitas Merapi cukup disebutnya sebagai reaksi sang Eyang atas perilaku manusia yang hidup di sekitarnya.


Awan panas (wedhus gembel) meluncur ke arah Kali Boyong dan Kali Krasak pada Senin, 15 Mei 2006 pukul 05:53:10 WIB

Kearifan lokal semacam itulah yang disebut ngelmu, sebuah pengetahuan yang merujuk pada gabungan pengalaman empiris dan keyakinan mistis yang lantas mengendap menjadi pemahaman spiritual. “Kalau sekarang Eyang Merapi marah, tak lain karena banyak manusia terlalu rakus menumpuk kekayaan duniawi dengan merusak alam di sekitar Merapi. Dulu, ketika orang mengambil pasir Merapi sebatas untuk makan dan hidup layak, Eyang Merapi tidak marah,” ujar Maridjan.

“Lihat, apa yang terjadi kini? Karena kerakusan, orang mendatangkan banyak backhoe (alat berat sejenis escavator untuk mengeruk pasir) untuk memindahkan pasir berbagai luar kota, dari harga belasan ribu menjadi ratusan ribu. Pemerintah juga begitu, membiarkan perusakan alam terus berlangsung sehingga kini diperingatkan dengan bencana,” ujar Maridjan. Juru kunci Merapi itu yakin, masyarakat di daerah-daerah yang bebas penambangan pasir dengan alat berat akan selamat.

Sudah waktunya, pemerintah dan kaum terpelajar mulai belajar pada nilai-nilai dan kepercayaan lokal. Tidak harus menjadi klenik atau percaya mistik, namun cukup dengan kerelaan untuk menangkap pesan-pesan universal dari orang-orang semacam Mbah Maridjan, atau masyarakat di sekitar Merapi, yang meyakini Sang Eyang tidak akan berulah kalau tak disakiti.


Warga Belang, Desa Tlogolele, Kecamatan Selo, Boyolali sedang merawat tanaman di ladang. Meski hanya berjarak kurang dari tiga kilometer dari Merapi, 400-am warga di sana merasa tetap aman sehingga enggan mengungsi

Coba hitung, berapa miliar rupiah uang rakyat telah dikeluarkan untuk membiayai para pengungsi –juga untuk membiayai perjalanan rombongan Presiden dan Wakil Presiden yang melakukan peninjau lapangan ke lokasi-lokasi pengungsian di sekitar Merapi, sejak status Merapi ditetapkan dari waspada menjadi awas. (Jangan lupa, hitung pula ekses mobilisasi pengungsi seperti korupsi bahan makanan hingga pungutan liar para oknum petugas yang mengutip uang rokok kepada rombongan pers dan wisatawan lokal yang hendak melihat Merapi dari jarak lebih dekat dan harus melewati portal dan barikade aparat).

Mbah Maridjan telah memberi contoh menarik. Ia berterima kasih, Badan Penelitian dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian serta Badan Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Kegunungapian telah siaga dan memberi peringatan dini kepada publik sesuai kapasitas dan tanggung jawab keilmuan mereka. Namun, karena Merapi dianggapnya sebagai makhluk yang ‘hidup’, Maridjan juga mengajak banyak pihak untuk mengakrabi dan lebih bersahabat dengan Eyang Merapi. Caranya, ya itu tadi, jangan merusak alam di sekitar gunung berapi teraktif di dunia itu.

KehidupanMay 13, 2006 7:00 pm

Terhadap Gunung Merapi, siapapun harus awas. Meskipun ia ‘hanya’ berwujud gundukan tanah, namun geliatnya siap memakan korban. Salah satu calon ‘korban’ yang selamat adalah Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Stasiun Metro TV, selama dua hari melansir rencana Wakil Presiden mengumumkan status Gunung Merapi dari status ‘waspada’ menjadi ‘awas’ lewat running text. Masih menurut stasiun televisi milik Surya Paloh itu, disebutkan bahwa Kalla akan mengumumkan status baru itu pada Kamis (11/5) saat dirinya mengunjungi sejumlah pos pengungsian ‘calon korban potensial’ letusan Merapi di Sleman dan Magelang.


Foto diambil dari Deles, Klaten, Sabtu (13/5) pukul 18.34 WIB

Entah kenapa, Daeng Kalla tak jadi mengumumkan status baru itu, yang rencananya dilakukan di Pendopo Kabupaten Magelang. Sebab, kalau hal itu dilakukan, maka kewibawaan Jusuf Kalla beserta lembaga yang diwakilinya -Istana wakil Presiden, akan terkena getahnya. Sebab, keputusan status Merapi bukanlah keputusan politik, melainkan keputusan ilmiah yang mendasarkan pada situasi terakhir keadaan perut Merapi dengan rujukan fakta dan data akurat menyangkut isi ‘gundukan raksasa’ itu.

Untung, Daeng Kalla awas terhadap dampak keputusannya atas perubahan status Merapi. Jadi, dia tak jadi kecolongan. Sebab, ratusan ilmuwan (bahkan ribuan kaum intelektual di seluruh dunia) sedang memantau setiap gerak-gerik Merapi, apalagi sebagian dari mereka akan berkumpul di Yogyakarta untuk menggelar hajatan besar, memperingati 1.000 tahun letusan dahsyat Merapi, yang ketika itu, 1006, telah menelan korban sedikitnya 3.000 nyawa melayang sia-sia. Bukan tak mungkin, majalah National Geographic akan mengangkat isu Gunung Merapi sebagai laporan utamanya pada bulan-bulan itu.


Foto diambil dari Deles, Klaten, Sabtu (13/5) pukul 19.18 WIB

Saya geli ketika membaca running text di Metro TV itu dan berharap kesalahan semata-mata ‘berada pada pihak redaksi Metro TV‘ dibanding Istana Wakil Presiden. Sebab, kesan yang muncul, status bahaya Gunung Merapi bisa disejajarkan dengan kasus politik kenegaraan sehingga memerlukan keputusan politik untuk mengubah statusnya, bahkan melalui pernyataan resmi seorang wakil presiden. [Kadar geli itu hampir sejajar dengan peristiwa beberapa waktu silam, ketika Presiden Megawati Soekarnoputri diberitakan oleh banyak media massa akan menggelar sujud syukur (maaf, saya lupa peristiwa persisnya). Sebab, sepanjang yang saya tahum sujud syukur adalah ungkapan spontanitas atas rahmat Tuhan, bukan sesuatu yang direncanakan, apalagi diatur oleh sebuah aturan protokoler].

Daeng, selamat ya….. Kali kemarin, Anda tak kebablasan. Sebab kini Anda tahu, status AWAS untuk Merapi baru diumumkan pemilik otoritas ilmiah/akademisnya, pada Sabtu (13/5) pukul 8.30 WIB atau dua hari setelah kunjungan Anda ke lokasi pengungsian.

KehidupanMay 10, 2006 9:54 am

20 April 2006 adalah hari membahagiakan bagi seorang sahabat. Pada Kamis siang itu, ia resmi menikahi perempuan pujaannya, setelah dua tahun berpacaran dan separuh waktunya dihabiskan untuk menyetarakan frekwensi religiusitasnya. Keduanya sama-sama berproses. Yang lelaki, mencoba mengerti dan mengikuti spirit Kristiani pada kekasihnya, sebaliknya sang perempuan juga berusaha mengerti keyakinan pasangannya.

Singkat kata, keduanya menikah secara Islam, setelah beberapa pekan sebelumnya sang perempuan mengikrarkan diri menjadi muslimah. Selesai. Tak ada gejolak dalam keluarga sang perempuan. Kedua orangtua dan adiknya tetap seorang Kritiani yang taat, namun menerima paham Islam dalam keluarga mereka.

Tak ada yang aneh memang. Memilih Islam adalah pilihan. Tak ada paksaan dari calon suami. Bukan pula terpengaruh ‘intimidasi’ laskar-laskar Islam yang akhir-akhir ini cenderung ofensif menyerang pemeluk agama lain, termasuk mengharamkan pernikahan beda agama. Saya tahu betul, sahabat saya itu seorang apolitis, bukan pula penganut Kejawen. Kalaupun ada yang ‘mengalah’ dalam proses ‘penyatuan’ mereka, semata-mata dilandasi kerelaan demi perjuangan besar mereka: membentuk keluarga baru dengan tujuan dan harapan baru.

Dalam kebanyakan keluarga Jawa, mudah kita jumpai adanya perbedaan keyakinan dalam sebuah keluarga. Bukan hanya terdiri pemeluk Islam dan Kristen, tak jarang ada pula pemeluk Buddha di dalamnya. Meski harus diakui, jejak Jawanisasi Islam yang diwariskan para wali masih berpengaruh kuat, yang salah satu ‘ekses’-nya adalah muncul kesan seolah-olah ada dominasi Islam dalam keluarga demikian. Seperti terjadi pada setiap perayan Idu Fitri, yang Kristen dan Buddha pun mengunjungi keluarga muslim untuk bersilaturahmi. Ucapan selamat Natal, pun akan dilontarkan yang muslim pada setiap menjelang pergantian tahun.

Seperti terjadi saat mengantar sahabat yang hendak menikah itu, tanpa sadar terlihat adanya salib dan kaligrafi tergantung pada spion dalam mobil mempelai. Rupanya, dalam keluarga besar sahabat saya itu pun terdapat ‘populasi seimbang’, antara yang muslim dan Kristiani berjumlah sama empat-empat. Tak ada percekcokan, tak ada permusuhan.

Berpijak pada beberapa potret demikian, rasanya sulit menerima adanya permusuhan berdarah-darah seperti terjadi di Ambon, Poso dan beberapa daerah lain. Kebanyakan pemeluk Islam dan Kristen di Indonesia bukanlah kelompok masyarakat yang mengagungkan Perang Salib sepanjang masa, sehingga selalu menegakkan pedang untuk kemudian diayunkan demi ‘membela’ agama.

Saya yakin, wajah Islam yang sesungguhnya tidak sedemikan buruk karena brutalisme sebagian kecil kaum muslim (juga Kristen) di Indonesia lebih merupakan korban politisasi agama, entah oleh siapa. Kalau saja umat Islam Indonesia –yang mayoritas itu, mau meniru teladan Nabi Muhammad SAW seperti terlihat pada Piagam Madinah, mustahil konflik antarpemeluk agama bisa terjadi, apalagi sampai berkepanjangan.

PeristiwaMay 6, 2006 6:01 am

Kabut selalu menunjukkan sikap tak bersahabat terhadap siapa pun yang mendekati dirinya. Angkuh, tapi selalu berusaha tenang dan menampakkan diri sebagai yang perkasa. Merapi, bahkan seperti mengejek puluhan pemburu foto yang mengitarinya dengan mengumbar senyum manis, namun kerap mengeluarkan ludah api.

Seperti tampak pada Jumat malam (5/5) pukul 19.48 WIB, Merapi seperti sedang berkolaborasi dengan sang bulan. Hanya belasan menit, kabut menghilang digantikan gugusan awan yang menaungi merapi. Awan putih, sinar rembulan yang lembut dan merah ludah api Merapi, nampak bagai goresan warna yang tertata di atas kanvas. Meski, goresan itu tak sepenuhnya menunjukkan ketegasan: apakah hendak dibuat lukisan realis, surealis atau sekadar bermain-main komposisi warna abstrak.

KehidupanMay 2, 2006 8:39 am

Kewajiban belajar memang tak mengenal batas waktu. Begitu pun dengan sumber belajar yang tak pula terbatas. Sejak pagi hingga datang pagi pada esok hari, kita boleh terus belajar –asal kuat fisik dan mental. Cuma, jangan sekali pun Anda bernafsu menyekolahkan anak, keponakan, cucu, adik, atau apapun Anda menyebutnya, ke SMP yang satu ini. Walau buka 24 jam, ‘sekolah alam’ ini sama sekali tak cocok untuk keluarga Anda.

‘Sekolah alam’ yang menurut papan penunjuk disebut SMP 24 JAM tak lain adalah sekolah yang sesungguhnya, yang cocok dan hanya cocok untuk pemerhati lingkungan, peneliti sosial, aktivis lembaga swadaya masyarakat atau pejabat pemerintahan.

Di SMP 24 JAM ini, seorang pejabat pemerintah bisa menguji kecakapannya dalam berhitung. Misalnya, total pemasukan bulanan atas pungutan retribusi sebesar Rp 2.000 setiap truk berisi pasir atau batu kali yang melewati pos penjagaan, yang frekwensinya bahkan dua truk per menit! Dari angka rupiah tadi, bisa pula dijadikan dasar untuk mengutak-utik anggaran, misalnya berapa biaya yang harus dialokasikan untuk perbaikan aspal dan sebagainya. (Tentu saja, ukuran kemahiran berhitung tetap akan ditentukan oleh kepandaian menyulap angka dalam pembukuan dan menyelipkan sebagian angka ke dalam buku tabungan, dan lolos dari penelusuran petugas PPATK)

Bagi pemerhati lingkungan, peneliti atau NGO-wan/NGO-wati, menghitung jumlah pasir yang diangkut sekian ratus atau ribuan truk per hari bisa melahirkan banyak gagasan baru nan kreatif. Misalnya, bisa dijadikan bahan untuk menggertak pemerintah agar mengalokasikan sebagian dana untuk perbaikan tingkat kesehatan masyarakat di sepanjang jalan yang dilalui truk-truk pengangkut pasir, sebab debu tebal terus beterbangan menyelusup melalui mulut, hidung lalu ke paru-paru dari pagi hingga pagi kembali. (Saya yakin, banyak pejabat lebih suka mencari keuntungan pribadi daripada berbuat baik untuk rakyatnya, meski tak perlu mengeluarkan dana dari saku pribadi)

Namun, kerusakan lingkungan yang berdampak pada ketidakseimbangan ekologis bisa pula dimanfaatkan sebagai senjata bagi banyak pihak (tak peduli aparat negara, peneliti maupun aktivis Lembaga Sedot Money, atau kolaborasi antarmereka) untuk memupuk keuntungan pribadi (dan kelompok). Tentu, banyak cara bisa dipilih, termasuk menggedor para cukong pemilik alat-alat berat di lokasi penambangan untuk sekadar ‘berbagi keuntungan’.

Tanpa mengurangi rasa hormat penulis kepada banyak pihak dalam kategori yang sudah saya sebut di atas, ada baiknya kalau ‘geliat’ Gunung Merapi kali ini dijadikan sebagai momentum untuk menebar kebajikan. Pasir dan bebatuan yang disediakan alam sebanyak 1,2 juta meter kubik per tahun, tentu sudah mendatangkan banyak keuntungan (tak usah jauh-jauh membandingkan pendapatan dan manfaat yang diperoleh para sopir truk, kernet, tukang bongkar-muat beserta keluarganya, sebab mereka benar-benar memeras keringat untuk memperolehnya).

Tapi, bagaimana nasib anak-anak di sekitar lokasi penambangan dan di sepanjang jalan yang telah menjadi korban debu beterbangan? Ketika berangkat sekolah, mereka sudah dipaksa menghirup debu dengan beragam partikel yang dikandungnya. Begitu pula saat mereka pulang sekolah. Adakah yang peduli dengan kondisi kesehatan ibu-ibu yang sedang menyusui, sementara bagi di gendongan pun turut menghisap udara yang penuh kotoran?

Gunung Merapi dan penambangan pasir Kali Woro adalah guru, yang selama 24 jam penuh mengajarkan kepada kita agar selalu berkaca, berpikir dan berbuat, untuk orang lain dan untuk masa depan peradaban. Sekali-kali, jangan salah membaca! Penambangan yang beroperasi selama 24 jam nonstop berarti pelajaran yang tak pernah jemu menggedor nurani dan akal sehat kita.

KehidupanMay 1, 2006 9:57 am

Hari-hari menjelang bahaya Gunung Merapi adalah hari-hari pusing pagi aparat pemerintah daerah dan relawan di sekitar gunung yang sedang menggeliat itu. Sementara, dibanding Magelang, Sleman dan Boyolali, Klaten termasuk yang sukses mengurus warganya. Meski semua sama-sama percaya klenik — tahayul bahwa letusan Merapi tak akan terjadi tanpa wangsit sebelumnya, namun warga sekitar Deles, Kecamatan Kemalang lebih siap dan rela mengungsi barang beberapa hari.

Tapi, yang namanya masalah tetap saja menjadi problem (upfff!, ya sudah jelas!). Orang-orang gunung, yang memang akrab dengan alam berikut tanda-tanda alam, selalu diliputi kecemasan ketika dipaksa harus menganggur -dalam pengertian hanya disuruh duduk, makan, tidur dan seterusnya selama berhari-hari- hanya menunggu kabar yang belum pasti, kapan Merapi nakal memuntahkan amarah.

Mereka bukan semata bete lantaran tak lagi bisa pergi merumput hingga jauh ke arah lereng gunung, lebih dari itu, mereka diliputi rasa cemas, kalau-kalau harta benda miliknya (termasuk ternak lembu kesayangannya) dijarah orang-orang jahil. Pengalaman petaka Merapi pada 1994, misalnya, membuat warga Dusun Belang, desa terakhir di sekitar Tlogolele, Selo, Boyolali, yang hanya berjarak ’sepelemparan batu’ dengan punggung Merapi, harus berhati-hati sebelum memutuskan mengungsi.

Pasalnya, mengiringi amuk Merapi tahun itu, mereka hanya menjumpai puluhan kepala sapi berikut kaki-kaki yang berserakan sepulang dari pengungsian. Sedang bagian tubuh yang berdaging sudah dibawa lari entah kemana, oleh ‘maling tiban’, gerombolan pencuri sapi yang merangkap profesi sebagai jagal dan pedagang daging.

Namun, satu hal yang hampir luput dari perhatian banyak pihak adalah soal nasib pendidikan anak-anak di pengungsian. Di Klaten, ratusan murid dari tiga sekolah yang daerahnya rawan harus digabung dengan murid di lokasi penampungan. Padahal, ruang kelas SD di lokasi pengungsian justru berubah fungsi menjadi barak. Alhasil, mereka pun sama-sama mengungsi ke rumah-rumah penduduk, belajar secara lesehan dan para guru pun bergantian mengajar.