Gempa di Bumi, Guncang di Hati
Aku terpaksa memajukan jadwal bangunku, hampir empat jam lebih dari kebiasaan. Bukan karena suara berisik yang bersumber pada kaca jendela dan almari yang mengusikku. Namun, goyangan itu betapa kuatnya! Di luar rumah, segera muncul suara gaduh bersahutan, dan sebagian jerit kaum perempuan.
Aku baru sadar, yang membangunkanku adalah gempa hebat, yang kemudian kutahu dari siaran televisi, bahwa gempa itu berkekuatan 5,9 sekala Richter. Aku segera beranjak pergi, karena aku menduga bakal terjadi letusan besar dari Gunung Merapi. Istriku mencegahku pergi. Namun, akhirnya ia ikut pergi bersamaku.

Rekaman lensa atas dampak gempa tektonik yang bersumber di kedalaman laut selatan, nuh jauh di selatan Yogyakarta
Awalnya, aku lihat suasana Hotel Novotel, sebab kuyakin para tamu berhamburan keluar. Nihil! Hotel terasa senyap sehingga aku mengarahkan sepeda motorku ke rumah nenek istriku di Karangnongko, tak jauh dari Merapi. Kami kuatir, nenek yang berusia hampir 100 tahun itu tak sanggup menjauh dari rumah bila keadaan memburuk. Alhamdulillah, semua aman-aman saja.
Segera aku berbelok ke Rumah Sakit Tegalyoso, Klaten. Usai memotret beberapa, aku mencoba mencari subyek bidikan. Dan….. masya Allah, aku melihat sepupuku keluar dari bangsal menyelip di antara korban dan para anggota keluarga korban. Rupanya, gempa telah menyapu sebagian besar rumah di Kecamatan Gantiwarno, sebagian Wedi dan Prambanan. “Istriku tertimpa atap rumah, kulit kepalanya terkelupas. Adik iparku juga patah tulang,” ujar sepupuku.
Belum sempat terucap di ruang sebelah mana istrinya dirawat, sepupuku sudah mengabarkan ada sepupuku yang lain tergolek lemah. Lengan kanannya patah. Kelu. Aku hanya bisa menangis. Lalu, aku mengabarkan kejadian itu pada ayahku, yang rupanya belum tahu keadaan keponakan-keponakannya. Sambil mengabarkan keadaan keluarga di rumah yang baik-baik saja, ayah gantian memberi kabar buruk. Ada satu sepupuku yang lain meninggal dengan amat menyedihkan. Tertimpa atas rumah dan tembok rumah tetangganya. Innalillahi wa inna ilaihi raji’uun. Semoga Allah mengampuni semua dosa-dosanya…

Innalillahi, turut berduka cita untuk semua korban gempa di Jogja……
serasa mimpi, sekian seriangnya saya ke jogja, kota ke-3 saya setelah Solo dan Jakarta, kini hancur berantakan……..
Comment by akbar nugroho — May 29, 2006 @ 11:52 am
Dalam dunia gempa itu pasti hukum alam karna semua mereka banyak dosa. Dan tuhan juga marah melihat mereka banyak dosa yg ditimpa mereka yaitu cara mematikannya. Sebentar tahun kemudian lagi dunia kìåmat. Terima Kasih.
Comment by Antoni. S — March 7, 2008 @ 12:21 am