SorotAugust 30, 2006 6:30 pm

Tempo Interaktif pada Rabu, 30 Agustus 2006 pukul 16:42 WIB menurunkan laporan tentang kewajiban pengelola warung internet mendata pengunjungnya dan melaporkannya kepada Indonesia Security Incident Response Team on Information Infrastructure, sebuah tim bentukan kantor Menteri Komunikasi dan Informatika.

Sekilas, tujuannya memang terkesan mulia, karena pemerintah ingin meminimalisir berbagai bentuk tindak kejahatan melalui sarana internet seperti carding, pembobolan situs dan terorisme (sehingga asumsinya, masyarakat jadi teperhatikan atau dilindungi oleh aparat pemerintah sebagai pemegang mandat mengelola negara). Supaya kelihatan gagah, bahkan disertakan sanksi (lebih tepat disebut ancaman) bagi pengelola warnet yang tak melaporkan identitas pengunjungnya, bila sewaktu-waktu terjadi cybercrime di warnet bersangkutan.

“Saya sudah meneken Peraturan Menteri tentang Pengamanan Pemanfaatan Jaringan Telekomunikasi Berbasis Protokol Internet,” kata Menteri Komunikasi dan Informatika Sofyan Djalil seperti dikutip Tempo Interaktif.

Di satu sisi, terobosan Pak Menteri lumayan kreatif, meski pada sisi lainnya, kebijakan itu terkesan terburu-buru. Bukan semata-mata karena ‘wajib lapor’ diberlakuan mulai pekan ini dan tanpa sosialisasi terlebih dahulu. Lebih dari itu, kebijakan ini akan memiliki potensi disalahgunakannya data atau identitas pengguna internet di warung internet, apalagi bila tak ada jaminan yang tegas, bahwa tim akan menjaga kerahasiaan identitas -apapun alasannya, sepanjang tidak membahayakan keselamatan negara.

Tentu, pemerintah harus menyatakan bahwa bila di kemudian hari terjadi penyelewengan atas data yang dimilikinya, maka oknum yang menyalahgunakan itu juga akan memperoleh sanksi pidana dan sanksi administratif sekaligus sebagai jaminan bahwa tim, aturan dan mekanisme pemantauan pengguna internet itu bukan semata-mata dilatari oleh sikap paranoia yang berlebihan, oleh sebab aparatur yang seharusnya bekerja untuk itu ternyata belum mampu menunjukkan kinerja yang memuaskan.

Menurut hemat saya, kebijakan demikian terlalu berlebihan, apalagi bila menyimak prestasi aparat kepolisian dalam melacak jejak penjahat di internet sangat pantas dibanggakan. Pada sekitar awal 2001 misalnya, polisi bisa menangkap sejumlah carder di Semarang dengan barang bukti berupa sejumlah kacamata merk Oakley dan benda-benda ‘aneh’ lainnya. Begitu pula di Yogyakarta, banyak pembobol kartu kredit berhasil ditangkap, bahkan ketika kata cybercrime belum sepopuler kini.

Mau tahu prestasi lainnya? Yang paling mutakhir, polisi bisa melacak orang-orang yang diduga berada di balik situs-situs yang dijadikan alat propaganda, sarana pelatihan dan pengenalan jenis-jenis senjata serta media rekruitmen anggota baru sebuah jaringan teroris. Kemampuan polisi kita sudah sangat pantas dibanggakan, karena itu sudah sewajarnya masyarakat mengapresiasi dan menghargai kinerja semacam ini.

Jangan sampai, pengusaha warnet menjadi ‘agen’ pengumpul dan penyetor data secara gratisan, sementara kelalaian (pasti tidak disengaja) bisa berbuntut fatal bagi pemilik usaha. Seperti halnya telepon (fixed line maupun yang bergerak) yang merupakan sarana komunikasi personal, maka internet juga harus dibiarkan berkembang sesuai kodrat seperti yang dimaui penemunya.

Kita tahu ada istilah kuno, bahwa teknik dan kemampuan penjahat selalu selangkah lebih maju dibandingkan dengan polisi. Tapi, justru di situlah sesungguhnya maksud Tuhan menghadirkan ‘kejahatan’ supaya yang merasa ‘tidak jahat’ bisa membedakan baik dan buruk, karena itu terus berupaya menjaga dirinya tetap baik. Biarkan kemampuan polisi (untuk menjaga kebaikan tetap ada di muka bumi) terus berkembang secara alamiah daripada berusaha mendikte dan ‘mendidik’ polisi dengan cara memposisikan sesuatu di luar kelompok yang bernama polisi itu sebagai penjahat atau berpotensi berbuat jahat, sehingga harus dicegah ’sejak dini’ dengan segala cara.

Upaya pencegahan terhadap munculnya kejahatan tak boleh dilakukan dengan cara-cara penghakiman. Seperti lazimnya proses peradilan, harus ada berita acara pemeriksaan, ada proses penuntutan dan pembelaan, juga ada majelis hakim yang bertindak sebagai wasit. Jadi, tak perlu ada ketakutan apalagi paranoia terhadap kehadiran sebuah teknologi di tengah kehidupan modern seperti sekarang.

Kemarin dulu, pemilik nomor telepon harus menyetor data pribadi (dengan ancaman dihanguskan). Kini, mau berselancar di dunia maya, juga dipaksa pamer KTP (bayangkan ketampanan atau kecantikan Anda memiliki ekses ditaksir penjaga warnet, bahkan hingga tergila-gila kepada Anda, meski marital status Anda sudah diketahuinya pula, lalu dia nekad mengajak berkencan entah di kamar hotel, apartemen, atau rela bahkan hanya beralaskan rumput ilalang).

Jangan-jangan………………………

(Ah, kenapa Bapak yang satu itu selalu menggodaku supaya mengingat kembali kejadian-kejadian masa lalu?!? Atau sebaliknya, justru saya kelewat serius merespon pancingan humor yang seleranya memang tak selaras dengan sense of humor yang dikaruniakan-Nya untukku?!? Alangkah tolol dan sia-sianya hidup ini…)

Catatan tambahan:
Pernyataan agak berbeda mengenai rencana Menkominfo tentang rencana pengawasan penggunaan saluran internet bisa dilihat di Batam Pos, termasuk pernyataan seorang anggota DPR RI. (Revisi: Selasa, 5 September 2006 pukul 16:59 WIB)

KehidupanAugust 15, 2006 8:14 am

Koran Tempo edisi 14 Agustus 2006 menurunkan sebuah tulisan menarik. Mengutip sejumlah sumber -termasuk majalah TIME sebagai rujukan utama, koran itu mengabarkan pesan penting dan menyejukkan. Yakni, kisah seorang muslim bernama Wajeeh Nuseibeh yang menjaga Gereja Makam Kudus di Yerusalem. (Mungkin yang dimaksud ‘makam’ di sini adalah penyederhanaan istilah untuk menyebut tempat itu sebagai lokasi penyaliban Yesus dan tempat kebangkitan Isa Almasih -Penulis)

Lelaki berusia 55 tahun, itu menjadi juru kunci secara turun-temurun. Kata koran itu, moyang Nuseibeh adalah orang Arab, prajurit Khalifah Umar bin Khaththab yang ditugasi menjaga gereja itu semasa khalifah yang terkenal arif bijaksana itu menguasai Yerusalem pada 638 masehi. Uniknya, Nuseibeh dan generasi-generasi sebelumnya juga bertindak sebagai ‘wasit’, sebab gereja itu diperebutkan oleh tujuh sekte dalam Kristen.

Namun, kendati bertikai memperebutkan gereja, tujuh sekte itu ‘kompak’ dalam menggaji Wajeeh Nuseibeh rata-rata sekitar Rp 45 ribu per bulan sehingga pendapatan resminya menjadi sebesar Rp 315 ribu dalam sebulan. Meski berpendapatan resmi cukup kecil, namun Nuseibeh bisa memperoleh pendapatan lebih besar, karena ia berhak memperoleh tambahan dari tip atau honornya sebagai pemandu bagi wisatawan/pengunjung gereja itu. Ladang zaitun yang luas milik keluarganya -yang menjadi sandaran hidup mereka, sudah musnah akibat perang, ketika Israel menjajah Yordania pada 1967.

Foto: Katherine Kiviat for TIME >>>>>

Nuseibeh mengaku memperoleh kepercayaan dari orang-orang Kristen dari sekter yeng berbeda itu, yang sudah berabad-abad dihinggapi kecurigaan dan kebencian antarsesama. “Kaum Kristen menilai aku netral,” katanya. Ia pun tegas menjawab ketika ada orang yang mempertanyakan ‘kadar’ ke-Islam-annya gara-gara menjadi juru kunci makam suci umat Kristiani itu. “Kami tidak fanatik. Kami menghormati kaum Kristen,” ujar Nuseibeh.

Sikap Nuseibeh adalah teladan yang sangat baik. Tak hanya untuk umat Islam atau Kristen, tapi seluruh umat manusia di muka bumi, bahkan mereka yang tidak beragama sekalipun. Dunia mesti dirawat, pesan damai harus selalu disemaikan seperti halnya kita bernafas.

Ketika saya tunjukkan tulisan di Koran Tempo, itu kepada seorang kiai di Surakarta, sang kiai yang juga aktivis kerukunan umat beriman itu justru menyodorkan contoh kerjasama Islam-Kristen lainnya. “Markas Bunda Theresa di Calcutta itu juga wakaf keluarga muslim, lho,” ujarnya.

Saya tersipu. Ternyata yang saya ketahui barulah salah satu contoh saja yang semula kuanggap berita besar. Tapi, saya tetap berusaha menenangkan diri, sambil menghibur hati sekadar untuk memanipulasi fakta cubluk ing pangertosan. “Coba kalau berita-berita semacam itu dipublikasikan secara massif, tentu aku tak bakal jadi korban ketidaktahuan,” gumamku, anglelipur ati.

Saya jadi teringat masa-masa pascakerusuhan Mei 1998 di Surakarta, ketika mengajak seorang kiai mengunjungi GKI Sangkrah, ngobrol ngalor-ngidul dengan beberapa remaja di gereja itu. Eh, ternyata responnya luar biasa. Beberapa hari berselang, sang kiai diminta tampil di mimbar gereja di hadapan jemaat seusai kebaktian. Sungguh peristiwa menyejukkan dan membahagiakan, sebab kebanyakan jemaat gereja itu adalah keturunan Tionghoa yang baru saja dianiaya, entah oleh kekuasaan apa. Rumah-rumah mereka dibakar, toko-toko mereka juga dijarah lalu dimusnahkan.

*Terima kasih pada Pdt. Mungki A. Sasmita, Amir Sidharta, Goenawan Mohamad, Trisno S. Sutanto, KH. M Dian Nafi’, dr. Sofyan Tan dan teman-teman Jaring, MADIA dan Teater Gidag-gidig

SorotAugust 14, 2006 10:50 am

Tahun 1950-an adalah saat-saat menyenangkan bagi pemuda Rachmad. Lahir dari keluarga pengusaha tenun, ia termasuk sedikit dari orang-orang beruntung karena bisa mengenyam pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Apalagi, ia hanya berasal dari Pedan, sebuah kota kecamatan di pedalaman Klaten, sekitar 25 kilometer di selatan Surakarta.

Seperti umumnya pemuda kelas menengah, dia juga pernah dijangkiti ‘penyakit’ bosan sekolah sehingga ia keluar dari UI. Ia sempat pindah ke Fakultas Ekonomi Universitas Nasional, meski hanya dijalaninya selama tiga tahun. Di jurusan baru itulah, ia menemukan pilihan hidup baru. Ia mempraktekkan pengetahuan yang diperolehnya untuk mengembangkan usaha tenun lurik Atmo Prawiro, yang tak lain ayah kandungnya sendiri. Mulailah ia mencermati gaya hidup orang kota, seperti mode pakaian para tokoh dan kaum kaya juga jenis bahan yang mereka kenakan.

“Saya pernah membeli setelan jas terbuat dari wool untuk saya jiplak,” ujar Rachmad terkekeh, mengenang peristiwa tahun 1954 itu. Pulang ke Pedan, ia sudah memperoleh rumus jumlah benang yang harus dianyamnya dengan menggunakan mesin ayahnya. Singkat cerita, jas asli yang terbuat dari wool dengan motif kotak-kotak hitam-putih itu berhasil dibuatkan tiruannya. “Supaya tak melanggar hak cipta, saya menambahkan jumlah benang sehingga motifnya menjadi lebih besar dibanding aslinya,’ tuturnya. Lalu, jadilah setelah jas berbahan katun. Sekilas, kedua jenis bahan itu sulit dibedakan secara visual. Namun, ketika saya coba merabanya -seperti ditunjukkan Rachmad, 1 Agustus lalu, barulah saya tahu bedanya.

Di Pedan, ‘industri’ tenun lurik manual kini tersisa dua. Satu milik Rachmad yang mempekerjakan 70 orang -kebanyakan berusia lanjut, dan Ibu Diro yang skalanya lebih kecil. Sementara usaha Ibu Diro terseok-seok karena masih bertahan dengan jenis dan motif tradisional -seperti selendang dan jarik-, yang mulai kurang diminati, Rachmad masih menyukai eksperimen.

Saya teringat pernyataan Rachmad ketika saya menemuinya, sepuluh tahun lalu. Ketika itu, ia menyatakan sanggup membuat kain dengan bahan rambut. “Saya yakni bisa mengerjakannya,” tuturnya. Hiperbolis? Mungkin. Tapi, sesumbar Rachmad bukan bualan semata. Ia pernah menenun berbahan eceng gondok atau jenis-jenis tumbuh-tumbuhan yang biasa dipakai untuk bahan tikar atau karung goni. Eksperiman itu bahkan berbuah manis. Pada pertengahan 1980-an, ia keliling Bali dan menjajakan beberapa contoh barang produksinya, yang ketika itu dia buat dengan zat pewarna alami seperti dari dedaunan atau kulit buah mahoni. “Di Bali, saya bertemu orang Jerman. Dia langsung memesan dalam jumlah besar,” kenangnya.

Boleh jadi karena kampanye lingkungan sangat kuat di negeri-negrei barat, produk Rachmad cepat ludes di pasar luar negeri. “Yang saya dengar, kain buatan saya dijual seharga US$ 500 per meter,” ujarnya. Padahal, kepada orang Jerman itu, Rachmad hanya menawarkan harga Rp 5.000 per meter. Meski tahu harga jualnya, Rachmad tak menyesal atau kemaruk meraup untung besar. “Yang penting, produksi kami lancar,” imbuhnya.

Dan, benar. Dari perkenalan itulah, omzet usahanya bisa mencapai Rp 100 juta hingga Rp 120 juta per bulan. Padahal, masa itu merupakan saat paceklik bagi industri tenun. “Akibat banyaknya mesin-mesin tekstil yang menyerbu Indonesia, saya sempat beralih pekerjaan sebagai pemborong padi di Karanganyar. Usaha kami collapse,” tuturnya. Perkenalannya dengan pembeli asal Jerman itu, jelas menjadi sebuah berkah tak ternilai bagi Rachmad, yang pada akhir 1960-an sudah sanggup membeli sepeda motor BMW seri R-27.

Kian lama, kain-kain produksi Rachmad kian diminati konsumen. Pesanan mengalir bukan hanya dari Jerman, namun juga Jepang, Amerika dan beberapa negara Eropa lainnya. Beberapa pemesan, bahkan sangat percaya kepada kepiawaian Rachmad meramu benang-benang buatan dengan pewarna hasil eksperimennya. Kadang-kadang, pemesan hanya mengirim motif kasar melalui faksimili dengan sejumlah catatan dan keterangan yang dikehendakinya. Usahanya pun kerap menjadi ajang observasi atau praktek lapangan mahasiswa jurusan tekstil atau desain interior dari beberapa perguruan tinggi ternama seperti Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) atau Institut Teknologi Bandung (ITB).

Malah, tak jarang mahasiwa datang hanya berbekal uang. “Mereka cuma mempresentasikan keinginannya dan kami yang membuatnya. Mahasiswa tinggal pulang membawa hasil untuk dipresentasikan dalam ujian tugas akhir, lalu jadilah mereka sebagai sarjana,” ujarnya terkekeh.

Tapi, itu hanyalah sepenggal kisah manis masa lalu. Sebab, kini tenun lurik sudah sekarat, digerus kecenderungan konsumen yang kian pragmatis. Bahan-bahan katun, wool, linen atau polyester keluaran pabrik-pabrik modern, jelas memiliki karakteristik yang berbeda dengan kain yang dibuat dengan mesin tenun manual milik Rachmad. Meski menggunakan jenis benang yang sama, hasilnya akan sangat nyata bedanya.

Satu hal yang masih menjadi semangat berkaryanya, hanyalah keinginannya tetap mempertahankan keberadaan tenun lurik Pedan. Kalaupun masih ada siswa sekolah mode bergengsi di Jakarta yang menyambanginya, hal itu hanyalah menjadi pelipur lara. Begitu pula, ketika beberapa motif kainnya dibeli orang Amerika lalu ditambahkan label Ocean Pacific sebelum beredar di butik-butik mahal di kota-kota besar.

Kini, ia tinggal menjadi satu-satunya penjaga agar lurik Pedan tak segera menjadi catatan sejarah. Satu matanya sudah rusak, dan satu lagi terkena katarak akut. Ia menolak dilakukan operasi. “Kalau gagal, dan saya menjadi buta, siapa yang akan mengawasi tenun saya?” ujarnya. Maklum, dari enam anaknya, hanya satu yang tertarik meneruskan usahanya

(Terima kasih kepada Paman Tyo, yang sudah mengingatkan saya untuk tidak bosan membual)

KehidupanAugust 11, 2006 7:22 am


Dua pemuda di Surakarta sedang mengisi formulir pendaftaran pasukan jihad Libanon/Palestina, Jumat (11/2) pagi

Seorang sahabat, sebut saja namanya Adjat. Hampir sepekan ia berada di Libanon, tepatnya di perbatasan negara itu dengan Israel. Kami sering bertukar kabar, bahkan frekwensinya jadi lebih tinggi dibanding ketika Adjat berada di Surakarta atau di Jakarta. Mungkin, dia bukan siapa-siapa bagi kita, terlebih bila kita mendudukkan posisinya sebagai pekerja. Tapi, semua kesaksian darinya bisa kita lihat di layar kaca televisi kita, sambil asyik mengunyah kacang atau menyeruput teh panas

Kita tegang menyaksikan kekerasan demi kekerasan yang dilakukan pasukan Israel di Libanon, termasuk serangan membabi buta yang tak hanya mengenai tentara musuhnya, namun termasuk menewaskan anak-anak dan perempuan sipil tak bersalah. Tapi, sang kawan -yang kutahu sudah kehilangan saraf takut itu sejak bertahun-tahun lalu, justru minta bercanda meminta kiriman makanan dari Indonesia.

Begini bunyi pesan yang dikirim Rabu, 9 Agustus pukul 22.19 WIB (sekitar pukul 7 malam waktu Beirut):

mungkin serangan israel akan lebih dahsyat malam ini, roket yg diluncurkan hisbullah hari ini menghajar kota kfar giladi di israel dan membunuh 12 orang. skrg aku lg istirahat dan berfikir….lho, aku kan blom kemasukan makanan dr tadi pagi…..kirim soto gading bisa?

Saya bingung menjawabnya. Mau kujawab serius, takut dianggap tak tahu diri atau tidak mau ‘menemani’, tapi kalau kujawab cengengesan, takutnya dituduh menganggap persoalan di sana tak serius. Repot memang. Akhirnya, aku berlagak bijak tapi memilih kalimat standar untuk membalasnya dengan menyatakan selalu berdoa untuk keselamatannya.

Adjat, memang akrab dengan perang -bahkan mungkin seperti kedekatan kita dengan keyboard komputer. Tapi, kadang-kadang saya merenung, mikir jero. Kenapa orang suka berperang, seperti halnya yang baru saja saya saksikan Jumat (11/8) pagi, ketika ratusan pemuda dan orang-orang berusia mendekati separuh baya, bersemangat ingin turut berperang di Libanon atau Palestina.

Saya tahu, keinginan mereka berperang tak lebih sekadar dilatari alasan emosional semata (entah karena dendam terhadap Israel), kendati beberapa dari mereka saya yakini didorong oleh panggilan jiwa dan semangat solidaritas seiman-seagama. Tapi, kenapa harus terlibat perang? Bukankah lebih baik melakukan ‘jihad’ kemanusiaan, misalnya menggalang dana untuk mensuplai obat-obatan, makanan dan pakaian bagi para korban perang?

Mungkin, mereka sudah imun dengan kekerasan. Atau, sebaliknya justru karena belum pernah mengalami perasaan tertekan yang mendalam seperti pengalaman Adjat di medan perang.

aku br pulang..(disortir)……penguburan. suasananya emosional banget. satu keluarga, ibu dan 4 anaknya meninggal. salah satunya hancur lan gosong segede fino(nama anak bontot Adjat, baru masuk Sekolah Dasar, bulan lalu), aku hampir nangis shootingnya….. moga2 kegilaan ini cepet selesai ya…. [Rabu, 9 Agustus pukul 22.19 WIB (sekitar pukul 7 malam waktu Beirut)]

Semoga, mereka mengurungkan niatnya untuk ikut berperang dan memilih jihad dalam bentuk yang lebih konkret dan bermanfaat, termasuk mencarikan solusi damai demi tata kehidupan lebih bermartabat pada masa yang akan datang.

STOP PERANG, HENTIKAN KEKERASAN!

SorotAugust 10, 2006 9:13 am

Protes Anti Perang di depan Kedutaan Israel di Seoul, Korea Selatan, 10 Agustus 2006. Foto: JUNG YEON-JE/AFP (Sumber: website Australian Associated Press)

Israel bagai raksasa tak terkalahkan. Kebiadabannya nyaris sempurna karena didukung habis-habisan oleh pemerintah Amerika. Bukan hanya Palestina, Libanon sudah terkena getah murka tentara Yahudi. Suriah dan Iran sudah digertaknya, tinggal menunggu kejutan baru (yang sesungguhnya tak sudah bisa diduga sebelumnya, sebab markas Perserikatan Bangsa-bangsa saja tak luput dari serangan bom mereka). Hampir seluruh penduduk bumi miris, marah dan mengutuk kebiadaban Israel.

Keluarga pengungsi Libanon di sebuah pantai di Libanon bagian selatan, 9 Agustus 2006. Foto: MOHAMED MESSARA/EPA (Sumber: website Australian Associated Press)

Di Indonesia, wacana jihad sudah berseliweran. Gemanya, bahkan mengalahkan rencana pemerintah yang ingin terlibat dalam pengiriman tentara -bersama Malaysia dan Brunei, untuk misi perdamaian di Timur Tengah. Simaklah berita televisi dan koran-koran kita, yang tak henti menyiarkan rencana kelompok ini, laskar itu dan front tertentu ke Palestina/Libanon. Apa yang akan terjadi di tanah seberang bukan lagi jadi pertimbangan. Mati syahid lebih mulia daripada mengutuk dan meratap sepanjang hari. Begitu argumentasi para mujahid.

Banyak orang bisa memahami kegelisahan sebagian masyarakat kita yang ingin berjihad di sana. Tapi, banyak pula pihak yang mulai kuatir dengan besarnya semangat perang sebagian lainnya. Invasi Irak atas Kuwait yang kemudian melibatkan Amerika telah memicu sentimen agama di Indonesia pada awal 1990-an. Seolah-olah, peristiwa itu menjadi kelanjutan Perang Salib.

Tentara Israel menangkap anggota Hisbullah di Libanon Selatan yang berbatasan dengan Israel. Foto: AFP (Sumber: http://news.yahoo.com)

Beberapa tokoh lintas-agama di Surakarta, pun berembug, sekaligus mengantisipasi bila gairah jihad sebagian masyarakat di sekitar Surakarta tak terbendung, baik dalam pengertian kwalitatif maupun potensi jumlah calon mujahid.

Maklum, label bahwa Surakarta merupakan ’sarang teroris’ telanjur mendunia. Dan, anehnya orang percaya pada labelling semacam itu, terlebih setelah pemerintah Amerika Serikat, Australia dan Perserikatan Bangsa-bangsa menyebut Ustad Abu Bakar Ba’asyir bersama sejumlah nama seperti Dulmatin, Umar Patek dan sebagainya sebagai anggota satu jaringan teroris yang harus diburu dan dipenjarakan. (Laporan Sidney Jones tentang Ngruki Network jelas turut memperkeruh suasana dan memunculkan efek baru, yakni lahirnya gerakan radikalisme baru)

Foto: David Furst/AFP (Sumber: http://news.yahoo.com)

Beberapa gagasan antisipasi itu, antara lain adalah membuat sebuah kampanye untuk menegaskan bahwa konflik Israel-Palestina yang kini melebar ke Libanon, bukanlah konflik agama.

Jadi, tak perlu lagi ada pihak-pihak yang ikut-ikutan ‘latihan perang’ atau berekesperimen di dalam negeri, hanya lantaran niatnya berjihad di Paletina-Libanon tak kesampaian karena terkendala dana dan masalah-masalah teknis lainnya.

Secara pribadi, sebenarnya saya merindukan adanya aksi bersama –entah berupa demonstrasi atau bentuk-bentuk kegiatan lainnya– yang diikuti umat Islam dan umat Kristiani di Surakarta untuk mengutuk agresi militer Israel dan menuntut penghentian perang. Juga, mendesak Perserikatan Bangsa-bangsa untuk bertindak tegas dan adil dalam menyikapi konflik di Timur Tengah, meski harus bersikap keras terhadap Israel dan Amerika.

SorotAugust 8, 2006 9:27 am

Film terbaru Garin Nugroho –Opera Jawa, baru saja diputar dalam rangka pembukaan semacam Festival Film tingkat Asia (yang dimotori Garin dan NETPAC) di Yogyakarta, Senin (7/8) malam. Banyak yang berdecak kagum, terutama karena film itu dianggap puitis dan gambarnya yang memang sungguh indah (harap maklum, urusan gambar pada film ini ditangani oleh ‘orang bersih’ dari Malaysia, yang selama ini dikenal lewat garapan iklan-iklannya yang mayoritas merupakan produk toiletris dan kosmetik). Namun, tak sedikit pula yang nyeletuk, bahwa film Garin kali ini terlalu nyeni.

Tapi, yang namanya sudah watak saya, film itu tetap saja ‘layak’ diusilin. Soal bahasa, misalnya, telah menerbitkan kecurigaan saya terhadap seorang Garin, keturunan Jawa yang juga cukup lama hidup di Yogyakarta dan Semarang. Jangan-jangan, Garin seperti umumnya generasi Jawa kelahiran 1970-an hingga 1990-an, yang mengenal Bahasa Jawa hanya ‘hanya’ lewat bahasa tutur dalam pergaulan sehari-hari, yang sebagian kosa katanya justru merupakan serapan (kalau tak ingin disebut gado-gado) dari Bahasa Indonesia?!?

Dalam dialog yang berupa tembang (mengadopsi langendriyan), Opera Jawa menggunakan bahasa gado-gado. Bukan Bahasa Jawa halus (inggil) dan tengahan madya, namun bahasa campur aduk antara Jawa dengan kosa kata serapan dari Bahasa Melayu/Indonesia. Akibatnya, watak kata seperti yang seharusnya dikehendaki dan menguatkan suasana menjadi kurang terasa bobotnya. Kurang nges, kata orang Jawa.

Atas keraguan ini, Garin sudah menyatakan secara lisan kepada saya, bahwa pilihan bahasa gado-gado itu memang disengaja. Alasannya, kultur dan pola pikir masyarakat Jawa memang sudah berubah. Ya sudah, tak apalah. Namanya juga teman sendiri…. mosok mau berantem! :p Aku cuma mengingatkan pada dia, bahwa subtitel Bahasa Indonesianya juga banyak yang mengganggu. Untuk orang non-Jawa, mungkin tak ada persoalan. Namun, kalau yang membaca subtitel itu orang Jawa yang masih (sok) nJawani seperti saya, pasti akan misuh-misuh. Beberapa terjemahan dialognya dadi orang muni!

Soal gambar, pasti oke. Kita mafhum dengan selera gambar GN –inisial sutradara yang sempat lama tinggal di Karang Tengah Permai itu. Tapi, kehadiran Theo (eh, Teoh Eng Gian, Director of Photography Opera Jawa) yang hanya beberapa hari menjelang pengambilan gambar, menurut saya menjadi kelemahan atas produk film yang dibuat khusus dalam rangka peringatan 250 tahun komponis besar WA Mozart itu. Teoh seperti fotografer atau kamera person asing yang terjebak pada eksotika kultur, alam dan segala macam yang dijumpainya di Indonesia (seperti juga kecenderungan kita saat berada di tempat yang sama sekali baru dijumpai). Akibatnya, hal yang biasa menurut kita menjadi sangat luar biasa di mata Teoh, sehingga ketika menyaksikan gambar-gambarnya, akan terasa sangat ekstrem. Opera Jawa seperti menyodorkan lukisan surealis, meski subyeknya sudah lama kita kenal sebagai yang realis.

Tapi, ya itulah Garin. Seorang sutradara yang memiliki kemampuan luar biasa, terutama dalam menggabungkan beragam potensi (manusia, alam, produk budaya) yang dijumpainya. GN sangat jitu memilih Rahayu Supanggah, etnomusikolog yang piawai memainkan alat musik rebab (alat ini sangat cocok untuk mengungkapkan perasaan sedih, ngangut, dan ungkapan batin yang mendalam) sebagai penata musik untuk filmnya. Juga pelibatan Eko Supriyanto yang kental keterpengaruhan vokabuler gerak American Dance-nya, atau Martinus Miroto yang cenderung fanatik pada tari tradisi alusan gaya Yogyakarta. Bahkan, keterlibatan sejumlah perupa dan seniman instalasi seperti Sunaryo, Nindityo, Agus Suwage, Tita Rubi, S. Teddy dan almarhum Hendro Suseno, juga turut menghidupkan cerita lewat setting ciptaan mereka.

Andai tak bertemu Rahayu Supanggah, saya yakin Opera Jawa tak bakal seberhasil ini. Bukan semata karena kemampuannya membangun suasana percintaan yang getir melalui suara rebab, namun juga ditopang oleh sosok Mas Panggah yang kaya referensi barat sehingga ia tak sulit menangkap apa yang diinginkan Garin selaku sutradara. [Maklum, kebanyakan (maaf) tukang ngrebab kita adalah seniman-seniman ndesit, yang hanya paham roman agraris, atau roman di balik panggung tobong ketoprak atau wayang orang. Kalaupun agak ‘agung’, paling ya saat ngamen ngiringi karonsih dalam resepsi pernikahan]

Tapi sudahlah, mau apalagi. Wong maunya Opera Jawa memang seperti itu. Apapun, film itu tetap menyisihkan sedikit optimisme pada saya. Bahwa suatu ketika, penonton film itu (terutama yang tidak tinggal di Yogyakarta atau Surakarta), pasti akan terpesona. Kalau sudah begitu, mereka akan segera menghubungi travel agent dan piknik ke Jawa. Berarti, Opera Jawa akan menyemarakkan kembali dunia pariwisata kita, yang terpuruk sejak ada Bom Bali.

Selamat datang devisa!!!

RALAT:
- Nama lengkap Theo sudah dicantumkan
- Komponis Rahayu Supanggah yang semula disebut terlibat dalam film
Bulan Tertusuk Ilalang ternyata keliru. Sebab yang menyusun ilustrasi musik dimaksud adalah almarhum Ki Sutarman
(Ralat dibuat pada Kamis, 10 Agustus 2006 pukul 14.47 WIB. Mohon maaf atas kekeliruan tersebut, terima kasih untuk Gunawan Rahardja)

SorotAugust 4, 2006 9:25 am

Siapa yang menguasai media (massa), maka dialah yang akan memainkan peran besar dalam berbagai sisi kehidupan publik. Tak aneh, kalau kekuasaan $oeharto yang langgeng tiga dekade karena ditopang kepiawaiannya menguasai media massa lewat produk-produk kebijakan yang mengekang kebebasan pers.

Kini, jaman sudah berubah. Euforia kebebasan menjangkiti semua kalangan, terlebih setelah regulasi media massa dibuka sedemikian longgar sejak era Habibie yang lantas diteruskan oleh pembubaran Departemen Penerangan oleh Presiden Abdurrahman Wahid. Banyak orang berlomba-lomba membuat perusahaan pers, dari yang konvensional lewat media cetak, internet dan penyiaran.

Sayangnya, kekuasaan pemilik industri media massa masih kalah dibanding yang dimiliki para pedagang, para content provider dan content developer. Lihatlah saluran seluruh stasiun televisi kita. Kebanyakan jam tayang (slot) sudah dimiliki para pedagang karena alasan yang sangat beragam kendati sesungguhnya bermuara pada dalih yang seragam: keterbatasan sumberdaya manusia!

Maka, tak mengherankan kalau jenis tayangan yang mendominasi televisi kita hanya berupa hiburan, utamanya gosip selebritis [yang baru saja diharamkan oleh para kiai Nahdlatul Ulama karena alasan bergunjing (ghibah) itu merupakan perbuatan dosa]. Selebihnya, berupa sinetron-sinetron murahan yang diproduksi secara massal dengan tema-tema seragam. Tak kurang sinetron kita dibuat oleh tangan-tangan ceroboh, berselera rendah dan tak paham semiotika.


Kekurangan itu, rupanya masih belum cukup, meski kritik sering datang bertubi-tubi. Alhasil, sinetron kita menjadi tambah lucu dan menjengkelkan. Lihat saja sinetron-sinetron ‘Islami’ produksi MD Entertainment dan production house lain di saluran televisi kesayangan Anda. Ada yang seragam namun kerap dilupakan, ‘hanya’ karena dianggap remeh. Penyebutan Pak Ustad hampir selalu hadir. Meski tampak sepele, hal itu sesungguhnya menunjukkan betapa penulis skenario, sutradara dan para artisnya sesungguhnya lemah dalam berbahasa (kendati kalau mau dikuliti lagi, sesungguhnya hal itu menunjukkan keringnya kadar keberagamaan mereka).

Hal-hal lucu lainnya yang sering dilewatkan adalah yang menyangkut detil-detil artistik. Seorang tukang becak yang maunya mewakili kemiskinan misalnya, ditampilkan dengan pakaian bersih dan tampak baru dibuat untuk keperluan shooting. Seorang anak dari keluarga miskin juga diperankan oleh pemain ganteng, berkulit bersih mulus, dan gigi berkawat. (Padahal, sinetron itu ingin menggambarkan keluarga miskin, yang bahkan untuk makan saja susah namun ’sanggup’ membeli kawat gigi berharga jutaan untuk sang anak) .

Ah, mungkin saya terlalu usil dan cerewet………

OlahragaAugust 2, 2006 9:31 am

Baru tahu, ternyata nonton pertandingan sepakbola memang mengasyikkan. Padahal, semula saya sudah ogah-ogahan menyaksikan putaran delapan besar Liga Djarum Indonesia. Andai bukan karena tuntutan perut (maklum, jongos! :p), mungkin saya sudah melewatkan pengalaman akan peristiwa yang ternyata bisa menjadi medium katarsis itu. Bebas berteriak, boleh pula memaki –asal tak terlalu keras dan menusuk hati. Pokoknya happy!


Seperti halnya para supporter, saya memanfaatkan hari-hari pertandingan untuk sekadar melepas penat pikir, mengalihkan (sejenak) kemarahan akan kebiadaban Amerika dan Israel terhadap rakyat tak berdosa di Palestina dan Libanon. Lebih dari itu, saya bisa memanfaatkannya untuk nyapih hawa karena setiap saat rasanya pingin nesu atas sikap para pemimpin republik yang memiliki hobi berkelahi hingga kewajibannya mengatasi bencana yang dialami banyak rakyatnya menjadi keteteran.

Oh…. Lihatlah kembang api itu! Yang dibakar dan diarahkan ke tengah-tengah lapangan saat dua kesebelasan berlaga adu kuat dan kebolehan di Stadion Manahan, Surakarta, 27 Juli lalu. Andai kembang api itu jatuh tepat pada saat para pemain sedang berdesakan berebut bola, mungkin akan muncul sejarah baru: pemain sepakbola terpaksa harus keluar lapangan karena menderita luka bakar!

Seperti saya, mungkin para supporter yang jauh-jauh datang dari Semarang dan Pasuruan itu juga punya masalah pribadi, meski penyebabnya bisa pula berbeda-beda (ingat, ada pula fans berat klub sepakbola yang hobi berkelahi sehingga bisa disewa pemimpin klub untuk bikin ribut saat kekalahan menghampiri). Karena itu, di stadion, dalam suasana seperti itu, mereka bisa menumpahkan semua ekspresi perasaannya, tanpa perlu ragu, apalagi malu.

Apakah memang begitu potret psikologi sebagian masyarakat Indonesia? Entahlah. Sebagian masyarakat kita, sepertinya masih mengidap penyakit kejiwaan yang telanjur kronis. Di lingkungan sosial terkecil seperti keluarga pun, sudah banyak masalah. Ada yang disebabkan oleh pengangguran, himpitan ekonomi, hingga persoalan sosial-politik lokal. Karena itu, berbagai peristiwa yang bisa mendatangkan kerumunan akan segera berubah fungsi menjadi medium katarsis. Pertandingan sepakbola dan pertunjukan musik (campursari, dangdut, tarling) adalah beberapa contoh peristiwa yang mudah dijumpai di sekitar kita.


Namun, ekspresi semacam itu rupanya bukan monopoli orang kebanyakan. Para pemain sepakbola kita, pun seperti kejangkitan penyakit serupa. Sportifitas yang memiliki makna mulia bila dijalankan dengan sungguh-sungguh pun, rupanya sudah dihindari oleh para olahragawan kita. Selama sepekan lebih pertandingan Liga Djarum Indonesia 2006 berlangsung, para penonton selalu disuguhi pertunjukan yang jauh dari semangat sportif itu. Sliding, tackling yang juga dibenarkan dalam hukum sepakbola lebih banyak dipelesetkan menjadi trik untuk mengulur waktu, psy war hingga mencederai musuh demi kemenangan.


Sekali lagi, saya benar-benar baru tahu, kalau ternyata dunia persepakbolaan kita memang lucu juga. Lebih menghibur dibanding Srimulat atau penampilan Aming. Apalagi kalau melihat kemampuan mereka bermain silat. Wah! Kaki bisa kemana-mana, bahkan ketika tak ada bola. Sebagian besar juga punya gaya seragam: mengangkat kedua tangan setelah sukses mengakibatkan lawannya berguling-guling (dan biasanya akan berlagak mengerang kesakitan). Seolah-olah, mereka melakukannya secara tak sengaja. Sebuah trik kuno dan kasar yang menggelikan.