Mengenang Kejayaan Lurik Pedan
Tahun 1950-an adalah saat-saat menyenangkan bagi pemuda Rachmad. Lahir dari keluarga pengusaha tenun, ia termasuk sedikit dari orang-orang beruntung karena bisa mengenyam pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Apalagi, ia hanya berasal dari Pedan, sebuah kota kecamatan di pedalaman Klaten, sekitar 25 kilometer di selatan Surakarta.
Seperti umumnya pemuda kelas menengah, dia juga pernah dijangkiti ‘penyakit’ bosan sekolah sehingga ia keluar dari UI. Ia sempat pindah ke Fakultas Ekonomi Universitas Nasional, meski hanya dijalaninya selama tiga tahun. Di jurusan baru itulah, ia menemukan pilihan hidup baru. Ia mempraktekkan pengetahuan yang diperolehnya untuk mengembangkan usaha tenun lurik Atmo Prawiro, yang tak lain ayah kandungnya sendiri. Mulailah ia mencermati gaya hidup orang kota, seperti mode pakaian para tokoh dan kaum kaya juga jenis bahan yang mereka kenakan.
“Saya pernah membeli setelan jas terbuat dari wool untuk saya jiplak,” ujar Rachmad terkekeh, mengenang peristiwa tahun 1954 itu. Pulang ke Pedan, ia sudah memperoleh rumus jumlah benang yang harus dianyamnya dengan menggunakan mesin ayahnya. Singkat cerita, jas asli yang terbuat dari wool dengan motif kotak-kotak hitam-putih itu berhasil dibuatkan tiruannya. “Supaya tak melanggar hak cipta, saya menambahkan jumlah benang sehingga motifnya menjadi lebih besar dibanding aslinya,’ tuturnya. Lalu, jadilah setelah jas berbahan katun. Sekilas, kedua jenis bahan itu sulit dibedakan secara visual. Namun, ketika saya coba merabanya -seperti ditunjukkan Rachmad, 1 Agustus lalu, barulah saya tahu bedanya.
Di Pedan, ‘industri’ tenun lurik manual kini tersisa dua. Satu milik Rachmad yang mempekerjakan 70 orang -kebanyakan berusia lanjut, dan Ibu Diro yang skalanya lebih kecil. Sementara usaha Ibu Diro terseok-seok karena masih bertahan dengan jenis dan motif tradisional -seperti selendang dan jarik-, yang mulai kurang diminati, Rachmad masih menyukai eksperimen.
Saya teringat pernyataan Rachmad ketika saya menemuinya, sepuluh tahun lalu. Ketika itu, ia menyatakan sanggup membuat kain dengan bahan rambut. “Saya yakni bisa mengerjakannya,” tuturnya. Hiperbolis? Mungkin. Tapi, sesumbar Rachmad bukan bualan semata. Ia pernah menenun berbahan eceng gondok atau jenis-jenis tumbuh-tumbuhan yang biasa dipakai untuk bahan tikar atau karung goni. Eksperiman itu bahkan berbuah manis. Pada pertengahan 1980-an, ia keliling Bali dan menjajakan beberapa contoh barang produksinya, yang ketika itu dia buat dengan zat pewarna alami seperti dari dedaunan atau kulit buah mahoni. “Di Bali, saya bertemu orang Jerman. Dia langsung memesan dalam jumlah besar,” kenangnya.
Boleh jadi karena kampanye lingkungan sangat kuat di negeri-negrei barat, produk Rachmad cepat ludes di pasar luar negeri. “Yang saya dengar, kain buatan saya dijual seharga US$ 500 per meter,” ujarnya. Padahal, kepada orang Jerman itu, Rachmad hanya menawarkan harga Rp 5.000 per meter. Meski tahu harga jualnya, Rachmad tak menyesal atau kemaruk meraup untung besar. “Yang penting, produksi kami lancar,” imbuhnya.
Dan, benar. Dari perkenalan itulah, omzet usahanya bisa mencapai Rp 100 juta hingga Rp 120 juta per bulan. Padahal, masa itu merupakan saat paceklik bagi industri tenun. “Akibat banyaknya mesin-mesin tekstil yang menyerbu Indonesia, saya sempat beralih pekerjaan sebagai pemborong padi di Karanganyar. Usaha kami collapse,” tuturnya. Perkenalannya dengan pembeli asal Jerman itu, jelas menjadi sebuah berkah tak ternilai bagi Rachmad, yang pada akhir 1960-an sudah sanggup membeli sepeda motor BMW seri R-27.
Kian lama, kain-kain produksi Rachmad kian diminati konsumen. Pesanan mengalir bukan hanya dari Jerman, namun juga Jepang, Amerika dan beberapa negara Eropa lainnya. Beberapa pemesan, bahkan sangat percaya kepada kepiawaian Rachmad meramu benang-benang buatan dengan pewarna hasil eksperimennya. Kadang-kadang, pemesan hanya mengirim motif kasar melalui faksimili dengan sejumlah catatan dan keterangan yang dikehendakinya. Usahanya pun kerap menjadi ajang observasi atau praktek lapangan mahasiswa jurusan tekstil atau desain interior dari beberapa perguruan tinggi ternama seperti Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) atau Institut Teknologi Bandung (ITB).
Malah, tak jarang mahasiwa datang hanya berbekal uang. “Mereka cuma mempresentasikan keinginannya dan kami yang membuatnya. Mahasiswa tinggal pulang membawa hasil untuk dipresentasikan dalam ujian tugas akhir, lalu jadilah mereka sebagai sarjana,” ujarnya terkekeh.
Tapi, itu hanyalah sepenggal kisah manis masa lalu. Sebab, kini tenun lurik sudah sekarat, digerus kecenderungan konsumen yang kian pragmatis. Bahan-bahan katun, wool, linen atau polyester keluaran pabrik-pabrik modern, jelas memiliki karakteristik yang berbeda dengan kain yang dibuat dengan mesin tenun manual milik Rachmad. Meski menggunakan jenis benang yang sama, hasilnya akan sangat nyata bedanya.
Satu hal yang masih menjadi semangat berkaryanya, hanyalah keinginannya tetap mempertahankan keberadaan tenun lurik Pedan. Kalaupun masih ada siswa sekolah mode bergengsi di Jakarta yang menyambanginya, hal itu hanyalah menjadi pelipur lara. Begitu pula, ketika beberapa motif kainnya dibeli orang Amerika lalu ditambahkan label Ocean Pacific sebelum beredar di butik-butik mahal di kota-kota besar.
Kini, ia tinggal menjadi satu-satunya penjaga agar lurik Pedan tak segera menjadi catatan sejarah. Satu matanya sudah rusak, dan satu lagi terkena katarak akut. Ia menolak dilakukan operasi. “Kalau gagal, dan saya menjadi buta, siapa yang akan mengawasi tenun saya?” ujarnya. Maklum, dari enam anaknya, hanya satu yang tertarik meneruskan usahanya
(Terima kasih kepada Paman Tyo, yang sudah mengingatkan saya untuk tidak bosan membual)


wahhh apik tenan iki! terus paman patih! terussss! bertambah lagi dokumen berharga yang bisa dirujuk banyak orang. suwun.
Comment by paman tyo — August 14, 2006 @ 1:08 pm
saya sangat senang memebaca cerita tentang bapa rachmad, dan saya sangat berharap bisa bertemu dan berkunjung ke tempat bapa,karena saya dan teman saya ada rencana membuat projeck tentang tanaman eceng gondok.mohon informasi.darma
Comment by sudarma r tambunan — October 19, 2006 @ 7:42 am
gimana bisa mendapatkan kain lurik ‘udan liris’ sepotong saja?
Comment by stupa — December 19, 2006 @ 2:33 pm
Ingkang kanormatan Bp. Blontank Poer
Artikel ini membuat bulu kuduk ini merinding, mengingatkan masa-masa kecil saya sekitar tahun 60-an.
Ketika itu hampir setiap rumah di kampungku (Rendeng Kidul) terdengar suara berisik mesin tenun kayu yang diongklek siang — malam bergantian, paling tidak ada alat klos-klosan yang diputar siang-malam, untuk mengikatkan benang ke dalam kletek maupun kleting.
Sungguh roda kehidupan saat itu terus berputar tiada henti2nya menggambarkan suatu daerah yang penuh dinamika pembangunan.
Seandainya masa itu bisa bertahan, mungkin pedanku telah jadi sumber kehidupanku, bahkan sumber kehidupan bangsaku.
Namun ketika kebijakan pemerintah kala itu (Hartarto)tidak mau melirik potensi daerahku, sehingga masa itu tinggal menjadi kenangan dan impian, bahkan generasi yang baru sama sekali tidak tahu.
KAPAN KAMPUNGKU KEMBALI SEPERTI YANG DULU????? KAPAN….KAPAN??
Kini banyak generasi muda yang terpaksa harus hijrah ke Jakarta, mengadu nasib yang tak menentu.
Seaindainya sekarang masih ada yang seperti Pak Rahmat. Dengan menggalang saudara2 kita yang telah tersebar di mana2, dengan bekal ilmu yang mereka telah miliki (Para sarjana dan bahkan para doktor dan profesor), tidak mustahil kampungku akan kembali seperti sedia kala.
Salam,
Wasi.
Comment by Wasi jolodoro — February 16, 2007 @ 7:26 am
selamah Mbah Rahmat, jangan [pernah bosan jaya terus pokok’e lurik pedan
Comment by eri nofianto — June 16, 2007 @ 11:59 am
inspired, whispering moment. salute.
akan aku coba cari jalan lain untuk pedan
Comment by agus — August 25, 2007 @ 5:41 pm
Saestu sanget menawi kaos2 ingkang beredar teng bali menikko damelan tiyang jowo.
kulo tasih remen lurik pedan.
saking cah jobodan pedan. 085624895014
Comment by pramudho subroto putro — November 23, 2007 @ 7:46 pm
kagem mbah rahmad tasih wedangan wonten warungipun mbah wiryo njih?
kgem bapak blontank poer matur suwun ingkang kathah, ingkang purun ngungkap LURIK Pedan
RoeZvcx.Dps.Bali.
Comment by roezvcx — February 1, 2008 @ 1:41 am
rame sak niki blog blontank poer. mas SUCK-Q-JO ( SAKIJO) meniko asline tiyang pedan tp sok2an ngaku wong bali,hee..hee…
kagem blontank poer nyuwun artikel ttg pariwisata di klota klaten. matur nuwun
blonty: Nyuwun pangapunten, Kangmas. Sanajan lare Klaten, kawula mandar dereng nate nyerat punapa kemawon bab kawontenan Klaten. Mugi-mugi, wekdal ngajeng kawula saged ngaturaken jampi kapang panjenengan ngengingi Klaten. Mugi kangmas Bali van Klaten punika priyayi ingkang nomer telponipun sampun sinerat wonten ing telepon kawula. Ndherek tepung, matur nuwun.
Comment by Subroto — February 2, 2008 @ 11:17 am
boleh saya tau alamat lengkap gallery Pak rahmat?
Comment by dian — March 13, 2008 @ 7:29 am
apik tenan, kalo bisa fotonya di tambahin, kasih ket lebih spesifik…
Comment by adjie — March 14, 2008 @ 9:42 am
pakde blontank,badhe nyuwun no telponoipun saged. ingkang kolo wingi ical amargi gantos hp. niki wonten konco ingkang badhe tanglet sesuatu. no hpne kulo ingkang sinerat wonten inggil. matur nuwun.
Comment by subroto — April 19, 2008 @ 6:33 am
anda telah memberikan konten informasi yang bermakna untuk anak cucu kita
Comment by abah edod — April 21, 2008 @ 4:14 am
Sungguh luar biasa…
Comment by AJ Susmana — June 17, 2008 @ 12:09 pm
lurik pedan memang hebat masih bisa bertahan ,tapi rata-rata penenunnya sudah sepuh-sepuh (tua),gimana kelanjutannya bilamana tidak ada regenerasi ? seperti halnya kotagede yang terkenal peraknya,tapi benarkah perak tersebut buatan kotagede ?
Comment by SABAR RIADY — July 17, 2008 @ 8:31 am
selamat buat Pak Rahmat, tetapi sayang tidak ada generasi yang melanjutkan kegigihan dan kepiaweannya, pada hal saya tahu bahwa Pak Rahmat sudah sangat tua, tetapi kami juga salut untuk Pemda Klaten (Pak Bupati Sunarno) yang mengambil kebijakan untuk pemakaian lurik Pedan bagi pegawai dan pelajar di Kabupaten Klaten. Selamat.
Comment by hartono — October 16, 2008 @ 1:11 am
Siapa bilang pak.Rahmad gak punya genre.
Kalo ada kesempatan anda boleh berkunjung ke kota kami pedan. Di sini anda akan mejumpai beberapa pabrik tenun, nah diantara pabrik tenun yg masih ada itu anak didik dari pak Rahmad, anak kandung dari pak Rahmad pun juga sudah ada yg berdiri sendiri.
Comment by Bayu kuncung — November 29, 2008 @ 8:56 am
Maturnuwun Mbah Rahmad … kulo generasi mudo inggih asli Pedan, ananging lare² sakpuniko mboten “bangga” kaliyan produk piyambak, langkung “bangga” kaliyan produk “barat”. Mbok pangembating projo sami nggatosaken produk asli daerah, contonipun: manawi Jum’at/Sabtu ngagem rasukan lurik .. dados lurik Pedan/Pekalongan/Kudus saget wunggu saking “sare panjang….”..
Comment by SUBANDIYO — December 24, 2008 @ 2:50 am
saya ingin berkunjung ke galerynya pak rahmat kalo boleh tau ada di mana? krn saya mau beli
Comment by dibia — December 24, 2008 @ 9:09 am
Bapak, maaf boleh saya minta no.telp dan alamat tempat tenun lurik tersebut,terima kasih
Comment by windi adriyani — January 4, 2009 @ 3:22 pm
pak,maaf boleh saya dapat no telp & alamat Bp Rahmad, terima kasih pak
Comment by windi adriyani — January 4, 2009 @ 3:54 pm
alamat dari Lurik pak Rahmad ada di :
jl. pedan-ceper, desa kedungan,pedan,klaten.
Semoga lurik pedan tetap abadi dan menunjukkan eksistensinya kembali.
Comment by andra — January 30, 2009 @ 5:18 pm
pripun kabaripun, pak Rahmat,SAYA TIANG COMBONGAN PEDAN RENCANGIPUN MAS SAPTO,SAGET NYUWUN NO HP NIPUN?MUGI2 LURIK PEDAN TETAP JAYA….
Comment by singgih warsito — February 21, 2009 @ 10:12 am
generasi muda pedan jarang engkang purun nguri2 peninggalan leluhur ( lurik ) !!nggrantes.
“lare ngemplak” domsl: jaktim
Comment by agoes — May 30, 2009 @ 6:48 pm
bagus sekali lurik pedan masih menjadi baju adat yang terkenal sekali di Jogja.
Comment by sabila shofa tsabitah — August 29, 2009 @ 7:09 am
kalau dilihat dari halaman ini memang benar2 ingin dikenang
karena tidak dicantumkan alamat2 yang dapat dikunjungi untuk melihat hasil2/produk lurik PEDAN
sayaaaaang
Comment by mo — October 28, 2009 @ 6:06 am