
Suasana Bandara Hang Nadhim, Batam, 14 September 2006
Orang awam pasti akan kesulitan mencari kaitan hubungan Detasemen Khusus Antiteror Polri (yang dikenal dengan sebutan Densus-88, terutama setelah sukses menangkap banyak anggota jaringan teroris di Indonesia) dengan utang negara, baik Indonesia maupun negara-negara miskin lainnya. Sesuai kekhususannya, anggota detasemen ini bekerja secara rapi, tertutup, dan baru disebut ketika berhasil melakukan operasi.
Foto: AFP/Jay Directo via website Australian Associated Press
Namun, di Kepulauan Riau, keberadaan organisasi ini justru tampil menonjol, terutama sejak pekan kedua September. Banyak media massa, terutama di Batam, memberitakan operasi terbuka organisasi itu. Seperti pada 14 September siang, sebuah mobil station wagon warna gelap diparkir persis di depan terminal kedatangan Bandara Hang Nadim, Batam. Pemilik mobil itu mudah dikenali, sebab di kaca belakang dan di sisi kanan mobil terpampang tulisan berukuran besar dengan warna mencolok, yang menunjuk detasemen khusus institusi kepolisian.
Rupanya, keberadaan Densus-88 di berbagai pintu masuk Batam itu ditujukan untuk ‘mengamankan’ kota kepulauan itu dari serbuan ‘teroris amatir’, yang sesungguhnya berusaha menyuarakan penolakan dominasi dan intervensi lembaga pemberi utang kelas kakap itu terhadap para pengutangnya. Caranya, ya berkumpul bersama para sesama aktivis antiutang dari berbagai negara untuk mendiskusikannya secara bersama.
Soal dipilihnya kota Batam, tak lain dan tak bukan sebab kota itu berbatasan dengan Singapura. Sementara di negeri singa itu sedang berkumpul para petinggi negara dari berbagai penjuru dunia untuk mengikuti pertemuan tahunan IMF/World Bank untuk membicarakan berbagai hal mengenai utang-piutang kelas kakap, para aktivis juga berkumpul untuk mengkritik lembaga rentenir itu.
>>>> Foto: EPA/Komang via Australian Associated Press website
Kembali ke soal kaitan Densus-88 dan utang, boleh jadi karena para kebanyakan polisi kita memang tak tahu-menahu, bahwa sebagian anggaran kepolisian di seluruh Indonesia juga berasal dari utang luar negeri (tahun ini saja, hampir seperlima dari total APBN dialokasikan ‘hanya’ untuk membayar cicilan utang). Puluhan juta orang tetap miskin, bahkan sebagian justru menjadi kian miskin lantaran negara dibelit persoalan harus membayar utang pada saat duit benar-benar sulit dikumpulkan.
Para anggota polisi kita mungkin tak terpikir, saat mereka mengawasi (istilah bakunya mengamankan) unjuk rasa petani yang menolak impor beras, sesungguhnya mereka sedang berhadapan dengan orang-orang yang sedang memperdengarkan suara isi perut mereka yang keoroncongan, sekaligus ratapan akan ketakutan mereka terhadap nasib masa depan generasi mereka.
Dari hati yang paling dalam (wuiih….. sok perasa), saya sungguh berharap gagasan agar polisi berpendidikan minimal setingkat akademi yang pernah bergema pada masa lampau bisa terwujud. Selain bila diajak ngobrol bisa ‘nyambung’, mereka juga akan sanggup memahami kaitan utang dengan nasib sebuah bangsa, selain menjadi lebih mengerti, bahwa ekspresi menentang perilaku IMF dan World Bank (apapun bentuknya, asal cerdas dan beradab), juga termasuk ibadah (itu kalau mau sok religius!)
Catatan:
Supaya asyik, halaman ini diperbaiki dengan menambah foto. Revisi dilakukan pada 15 September pukul 20.51 WIB

Saya sungguh tertarik dengan densus 88. Mungkinkah mereka juga punya semacam spy layaknya di M16 atau CIA, jika diangkat menjadi novel pastilah menarik apalagi jika film. Saya salah satu dari orang yang ingin hal itu terjadi dan ikut terlibat dalam pembuatannya.
Comment by Ardiyanto P — June 1, 2007 @ 10:24 am
Kalo sdh tahu apa, siapa dan gimana densus 88 akan tersenyum simpulaja membaca posting bang blontang ini.Tapi semua orang punya perut sendiri2 yang bisa bersuara jika lapar dan kentut jika kenyang jadi apa tulisannya tidak masalah. Saya bukan orang densus 88 dan juga bukan lawannya jadi saya adalah bukan siapa2. Tapi dunia terorisme ada di kehidupan saya. Itulah dinamika dan romantika kehidupan dunia dan disitu saya menikmati kehidupannya.
Comment by aljibom — November 2, 2007 @ 4:14 pm
memang DENSUS 88 ANTI TEROR MABES POLRI jago ce
Comment by poteng — November 24, 2007 @ 6:11 am
tak bisa dipungkiri …Densus 88 AT…Wanteror..memang hebat, saya yakin densus 88 AT menyadari bahwa Densus 88 AT juga milik Rakyat Indonesia…juga dibiayai oleh Rakyat Indonesia….saya juga yakin bahwa Rakyat Indonesia juga bangga dengan Densus 88 AT..karena rakyat juga merasa bahwa Densus 88 AT adalah miliknya….
Comment by tombak — November 25, 2007 @ 9:35 am
Memang kurang ajar dan gak punya otak, masak negara semiskin ini masih buat satuan khusus anti teror. Duit buat gaji mereka dari mana?
Comment by Ariani Savina — December 17, 2007 @ 9:27 am
gue pengin jadi den 88 seriuuussss…86
Comment by dwi — February 21, 2008 @ 1:12 pm
gue yakin bangetttt!!kalo DENSUS 88 bisa memusnahkan teroris!!gue 100% dukung lho!!hjar ja tu teroris yang merusak nama bangsa indonesia di mata dunia.oce bro…!!!!!!go!go!go!destroy all terrorist in the world!!!!!!
Comment by bambang — March 11, 2008 @ 10:51 am
Kulo pngen buanget dadi polisi!!opo maneh mlebu DENSUS wolu-wolu!!!!wihhhhh sueneng banget atiku!!
Comment by ryo — March 11, 2008 @ 11:04 am
menurut gua sih densus 88 sdh membuktikan kl teroris itu ada dan akan mensensarakan rakyat ..coy
Comment by satria — March 24, 2008 @ 6:49 am
tank. piye kabar mu, apenk….yo
Comment by edy burmansyah (batam) — April 7, 2008 @ 4:23 pm
densus 88 apa salep kulit 88?
Comment by kopdang — April 28, 2008 @ 7:45 am
brafo den 88.
Comment by edy — July 6, 2008 @ 1:27 am
apakah densus punya satuan penembak jitunya
Comment by alfuan — November 1, 2008 @ 12:59 pm
Pinter boongnya kali ya…
Comment by maxi — November 5, 2008 @ 6:13 am
jadi maksud nya? lalu bagaimana jika saya ingin menjadi detasemen 88
Comment by lia — January 19, 2009 @ 5:25 am
d 88 adalah cita-cita dan impian saya
Comment by thomas — May 9, 2009 @ 3:55 pm
mas blonty,
bolehkah saya kutip sebagian atau seluruhnya tulisan anda tentang densus ini untuk melengkapi tulisan saya tentang densus 88 dalam buku almanak reformasi sektor keamanan 2009 — dengan menyebut nama dan alamat blog anda sbg referensi?
salam
item
Comment by al item — June 15, 2009 @ 12:31 pm
Wah…. Densus 88 itu bikinan amerika lho, tadinya saya juga senang dengan densus 88, tapi sejak saya membaca artikel majalah FEER bahwa densus 88 itu dibiayai amerika sebesar 150Milyar, jadi ada sedikit keraguan..
Comment by big sam — July 18, 2009 @ 6:20 pm
lha ya kalau bikin tulisan mbok ya cara pandangnya jangan hanya dari satu sisi, shg bisa obyektiflah, apakh yg posting thread ini udah tahu situasi di pulisi, kok kayaknya hanya menyalahkan aja, cobaah jadi pulisi ( kalau bisa diterima ? hehehe ) , terus yg disebut “teroris amatir “, aku kok tak setuju walaupun kata itu dlm tanda kuti. masalahnya adalah apakah para pengunjuk rasa itu murni petani, atau buruh tani yg dibiayai oleh ” amerika ”
Comment by adam — July 23, 2009 @ 7:06 am
yang menulis blog itu berarti tidak bisa melihat apa yang dibutuhkan rakyat, rakyat gak butuh orang yang hanya bisa ngomong saja, yang bisanya hanya menyelah pada hal pada dirinya tidak mempunyai potensi apa - apa, pesan saya jadi lah pemuda yang bisa membaktikan diri kepada rakyat seperti pepatah ” JANGAN DITANYA APA YG TELAH NEGARA BERIKAN KEPADA KAMU TAPI TANYAKAN KEPADA KAMU APA YANG TELAH KAMU BERIKAN UNTUK NEGARA”
Comment by rudi — July 30, 2009 @ 8:39 am
Teroris tetap teroris, Jihad tetap Jihad maju terus DENSUS 88 Go..Go…Goo…>>>>
Comment by ron2 — August 8, 2009 @ 9:15 am
saya menilai tulisan anda kurang proporsional,tidak sebanding dengan hasil kerja densus 88…sekalipun di balik densus 88 itu penuh dengan konspirasi,pada kenyataannya densus 88 adalah yang terbaik untuk bangsa ini…selamat berjuang densus 88.doa kami bersama kalian…
Comment by budi — October 19, 2009 @ 2:05 am
yang bikin tulisan uenak buanget kalo nulis , keliatan kalo punya otak dangkal. kalo mau bikin karya tulis harus punya banyak referensi jangan asal njeplak. sebelum ngomongin sumber dana-nya densus, coba sampean cari data atau tanya sama SBY , mampu ndak pemerintah mencukupi biaya operasional POLRI. masih untung ada yg mau mbantu kalo ndak . pemerintah dan orang kaya sampean cuma bisa ngomong dan mencela tanpa bisa ngasih solusi.
Comment by adi satrio — January 11, 2011 @ 2:45 pm