Uluk SalamDecember 26, 2006 11:01 am

Enam tahun silam, sejumlah bom meledak hampir serentak di berbagai gereja di Jakarta. Sejak peristiwa itu, peringatan Natal selalu bikin cemas. Aparat bersiaga, tak jarang menenteng senjata. Begitu pula pemburu berita. Mereka terpaksa ikut-ikutan meronda. Kecemasan lantas menjadi penyakit bersama, tanpa memandang agama.


Pohon Natal tertinggi di Indonesia yang dibuat untuk merayakan Natal oleh umat Kristiani di Surakarta menjadi tontonan seluruh warga

Kini, semua orang bersukacita karena malam Natal berlangsung tanpa menorehkan catatan duka. Tragedi berdarah seakan menjadi peristiwa lumrah belaka. Dan kita cenderung lupa, siapapun dan minoritas apapun tak layak dianiaya. Apalagi, dengan alasan berbeda agama.

Mestinya kita sudah lelah, bosan dan gemas. Sebab setiap Desember menjelang, kita digiring pada kecemasan yang selalu berulang.

Karena itu, mestinya kita bersama-sama bangkit melawan, mewujudkan dengan tindakan supaya tak ada lagi kecemasan. Saatnya kita merajut kebersamaan, meniadakan prasangka keimanan dan mewujudkan perdamaian.

Selamat merayakan Natal saudara-saudaraku, semoga Allah selalu melimpahkan rahmat dan hidayahnya kepada kita semua. Siapkan diri kita, melawan adu domba……..

SorotDecember 21, 2006 11:23 am

Abu Bakar Ba’asyir selalu menarik perhatian. Yang tidak suka -entah dengan alasan apa, akan mengaitkannya dengan para pelaku Bom Bali I dan aksi-aksi serupa di tanah air. Yang pasti, mulai hari ini pula, media massa (nasional maupun asing) pasti akan diramaikan kembali dengan pro-kontra atas keputusan itu.

Siapa sesungguhnya Ba’asyir dan apa hubungannya dengan Imam Samudera dan kawan-kawan, tak ada salahnya saya mempublikasikan kembali tulisan saya tentang pendiri Pondok Pesantren Al Mukmin, Ngruki, Surakarta itu. Agak panjang, memang. Tapi, saya rasa tulisan yang pernah dipublikasikan The Jakarta Post edisi 8 Maret 2003. Semoga bisa menjadi referensi tambahan bagi Anda, terlepas dari setuju dan tidak setuju (sebab saya memang tak ingin Anda mengamini temuan saya).

Saya mengucapkan terima kasih kepada Shalahuddin, seorang sahabat yang sangat membantu saya hingga terwujudnya sebuah tulisan panjang, sehingga saya menjadi lebih paham megenai hubungan Ustad Ba’asyir, Pondok Ngruki dan beberapa hal terkait dengan tindakan kekerasan di Indonesia.

Tulisan berikut dipublikasikan dalam halaman khusus bertajuk Special Report berjudul Abu Bakar Ba’asyir at the center of controversy . Tulisan itu juga merupakan satu-kesatuan gagasan dengan tulisan lain pada edisi yang sama, berjudul Tracking the roots of Jamaah Islamiyah . Berikut tulisan yang saya maksud:

====================================================================================
Ba’asyir Di Simpang Kontroversi

Ngruki adalah ikon gerakan Islam radikal, simbol perjuangan pengagamaan negara dan tata pemerintahan yang menghalalkan segala cara. Setidaknya, itulah stigma yang diberikan oleh negara-negara barat pasca bom Bali yang menewaskan 186 orang lebih, 12 Oktober lalu. Selain nama kampung di pinggiran kota Solo bagian selatan itu, nama Abu Bakar Ba’asyir juga lekat dengan jaringan teroris internasional.

Tingginya ilmu agama yang dimiliki menuntun jalan hidupnya menjadi sosok pendiam. Sikap diam itulah yang kemudian memancing spekulasi bahwa ia sesungguhnya adalah tokoh kunci gerakan penegakan kepemimpinan Islam yang lihai. Apalagi, hampir semua tersangka pelaku bom Bali mengaku kenal dengan Ba’asyir, dan sebagian menyebutnya ikut dalam rapat perencanaan peledakan.

Namun, kontroversi keberadaan Ba’asyir juga datang dari lingkungannya sendiri. Menurut Muhammad Achwan, terpidana penjara seumur hidup karena kasus peledakan sejumlah tempat ibadah di Malang, Jawa Timur awal 1985, meragukan Ba’asyir adalah orang penting yang terlibat dalam aksi biadab itu. Ia menduga ada pihak lain yang secara sadar dan sengaja merencanakan aksi teror di tengah sentimen terhadap figur pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Al Mukmin di Desa Ngruki, Sukoharjo tersebut.

Pihak lain tersebut, menurut Achwan, kemungkinan adalah orang-orang Islam yang memiliki militansi tinggi dan bersemangat menegakkan negara dan pemerintahan berdasar syariat Islam. Namun, tidak tertutup kemungkinan pula akan adanya peran intelijen militer dalam tubuh organisasi pelaku peledakan tempat hiburan Sari Club dan Paddy’s Café di Kuta, Bali.

“Ustad Abu (panggilan akrab untuk Ba’asyir) itu orang yang moderat dan bisa menerima perbedaan. Makanya, upaya penerapan syariat Islam di Indonesia dilakukan secara damai dan terbuka melalui pendirian Majelis Mujahidin. Sebagai Amirul Mukminin, ustad melarang pengikutnya melakukan tindakan kekerasan yang menyengsarakan orang tak bersalah,” ujar Achwan.

Ba’asyir sendiri memilih diam daripada merebut opini melalui media massa. Berkali-kali ia mengatakan tidak terganggu dengan ancaman-ancaman duniawi sepanjang tidak membahayakan keselamatan jiwanya. “Sifat beliau memang begitu. Sabar terhadap perlakuan buruk orang lain akan mendatangkan pahala,” ujar Achwan, salahseorang aktivis Majelis Mujahidin Jawa Timur itu.

Celah satu-satunya untuk memojokkan Ba’asyir diyakininya karena reputasi Ba’asyir bersama sesama pendiri pondok Abdullah Sungkar menentang asas tunggal Pancasila pada awal 1980-an. Sungkar pulalah yang getol menyerukan golput menjelang pemilihan umum 1977 sehingga keduanya berhadapan dengan Orde Baru pimpinan Soeharto. Keduanya pun lantas sama-sama melarikan diri ke Malaysia di mana dari negeri tetangga itu mereka tetap lantang menyuarakan ketidaksetujuannya dengan pemerintahan Soeharto melalui ceramah-ceramah.

Meski dua sekawan itu sama-sama berstatus musuh politik berbahaya bagi Soeharto, Ba’asyir dan Sungkar memiliki ciri kepemimpinan yang berbeda. Bila Ba’asyir dikenal santun dan sabar, Sungkar adalah sosok yang lugas dan lebih radikal. Sungkar juga memilih jalur perlawanan frontal terhadap Soeharto, di antaranya dengan mempersiapkan pasukan terlatih secara fisik dan mental. Karena itu, pengikut mendiang Abdullah Sungkar dikenal militan.

Muhammad Nursalim, bekas santri Ngruki yang kini memilih menjadi pegawai Departemen Agama di Kabupaten Sragen menguraikan panjang lebar garis perjuangan Abdullah Sungkar melalui tesis untuk memperoleh gelar Master Agama Islam di Universitas Muhammadiyah Surakarta. Dalam tesis berjudul Faksi Abdullah Sungkar dan NII Pada Masa Orde Baru itu, Nursalim memperlihatkan kiprah politik Sungkar membangun jaringan menurut pilihannya sendiri setelah ia menyatakan keluar dari keterlibatannya di kelompok Negara Islam Indonesia (NII).

Nama Jamaah Islamiyah dipilih Sungkar untuk menandai eksistensi kelompoknya. Selain memberi bekal dasar-dasar agama untuk menciptakan kader militan, Sungkar juga menerapan metode baku dalam membangun kekuatan. Selain bekal agama, untuk menjadi pengikutnya, seseorang harus melewati tahapan-tahapan seleksi, mulai penggemblengan fisik seperti ilmu beladiri hingga olah senjata.

Saat Sungkar meninggal pada 24 Oktober 1999, sedikitnya 5.000 pengikutnya telah mengikuti program latihan kemiliteran dengan terjun langsung dalam kancah peperangan di Mindanau, Pilipina Selatan dan perang Afghanistan melawan Uni Soviet. Tak jelas, berapa sesungguhnya jumlah pengikut Sungkar.

Militansi yang tinggi dan kepatuhan total pada Abdullah Sungkar itu pula yang konon membuat para pengikutnya kurang menyukai gaya kepemimpinan Abu Bakar Ba’asyir. Kemungkinan adanya konflik di antara keduanya pun masih gelap hingga kini.

Yang jelas, seorang bekas anggota Komando Jihad sumber The Jakarta Post di Jawa Timur yang tak mau disebut identitasnya, menyebut Ba’asyir terlalu kompromi dengan pemerintah Indonesia. Upayanya mensosialisasikan pemberlakuan syariat Islam secara terbuka, bahkan melalui pendirian Majelis Mujahidin adalah sebuah kekeliruan besar.

“Prinsip perjuangan dalam organisasi yang dikembangkan Ustad Abdullah Sungkar itu model perjuangan bawah tanah. Haram hukumnya mereka membuka identitas diri,” ujar sumber itu. Karena itulah, mantan buron politik Orde baru itu menyebut tak ada orang yang tahu persis jumlah pengikut Sungkar,baik di Indonesia maupun Malaysia dan negara-negara lainnya.

Boleh jadi, peristiwa itulah yang kemudian menyebabkan banyak pengikut Sungkar menolak ber-bai’at kepada Ba’asyir dalam sebuah rapat internal di Solo, tak lama setelah Sungkar meninggal. Sumber itu menyebut, dari tujuh syarat yang wajib dipenuhi, dua syarat paling ringan pun tidak dimiliki oleh Ba’asyir. Yakni, memiliki pengalaman lapangan di medan perang sesungguhnya dan mau berjuang secara tertutup alias bawah tanah.

Dikonfirmasi mengenai cerita itu, Muhammad Achwan yang selalu mendampingi Ba’asyir bila memasuki wilayah Jawa Timur itu hanya menukas pendek. “Ustad Abu memang memilih sosialisasi syariat Islam secara terbuka dibanding sembunyi-sembunyi, sambil memberi pendidikan politik,” ujar Achwan.

Sebelum terjadi tragedi bom Bali yang menewaskan 186 orang pada 12 Oktober, sumber The Jakarta Post di Majelis Mujahidin Jawa Timur mengaku sempat diminta Ba’asyir untuk ‘melobi’ sebuah kelompok radikal yang diduga akan melakukan tindakan kekerasan. Mereka melakukan pertemuan hingga 11 kali antara akhir Agustus hingga akhir September. Di antaranya, pertemuan dilakukan di Masjid Mujahidin dan di Jalan Tidar (Surabaya), sebuah tempat di Lamongan dan Mojokerto. Namun, upaya membujuk agar tak ada aksi kekerasan itu kandas.

Achwan juga mengaku pernah mendengar upaya lobi itu. Pasalnya, menurut dia, Ba’asyir meyakini gerakan bersenjata tidak bisa dilakukan dalam kondisi sekarang. Bahkan, sikap Ba’ayir itu kian menguat ketika media-media asing gencar memberitakan soal keterkaitan (linkage) antara Jamaah Islamiyah dengan Al-Qaeda seperti ditunjukkan dalam kasus pengakuan Omar Al-Faruq.

“Bila cara itu dilakukan, pemerintah Amerika dan Indonesia kian giat menekan gerakan Islam yang sedang tumbuh,” ujar Achwan. Ia menunjuk keluarnya peraturan pemerintah pengganti undang-undang (Perppu) tentang Antiterorisme sebagai salah satu contoh.

Di Surakarta, tempat Sungkar membangun karir politiknya pun, pengikutnya tidak banyak. “Setahu saya, yang bisa disebut pengikut Ustad Sungkar tak sampai sepuluh orang,” ujar M. Rodli, mantan Ketua Parta Keadilan Surakarta yang sempat melakukan investigasi dan advokasi terhadap Abu Bakar Ba’asyir.

Meski menghormati Ba’asyir, kata Rodli, mereka tidak memiliki kesetiaan atau ketaatan terhadap Ba’asyir yang dalam tesis tentang Faksi Sungkar disebut-sebut sebagai pengarang Tarbiyah Islamiyah, buku wajib dalam organisasi yang dikembangkan bersama Sungkar. “Kalau hormat (terhadap Ba’asyir) iya, karena Ustad Abu itu orang tua. Tapi soal ketaatan, belum tentu,” ujar Rodli.

Sikap moderat Ba’asyir bahkan sempat mengagetkan kalangan Islam di Solo. Ceritanya, Fraksi Pembaruan DPRD Surakarta mengundang Ba’asyir sebagai narasumber diskusi untuk menyusun rencana penyusunan peraturan daerah (Perda) tentang peredaran minuman keras, awal 2002 lalu. Fraksi gabungan Partai Bulan Bintang, Partai Keadilan dan Partai Persatuan Pembangunan itu getol menolak peredaran minuman beralkohol, sehingga berharap Ba’asyir akan memberi fatwa yang melegakan.

Tapi yang dikemukakan Ba’asyir sungguh di luar dugaan mereka. Petinggi Pondok Al Mukmin itu mentolerir peredaran minuman keras asal tidak dijajakan dekat sekolah dan tempat ibadah. Selain itu, para penjaja minuman cukup menempelkan tulisan “Haram untuk Muslim” di dekat botol yang dipajang.

Lebih mengagetkan, Ba’asyir juga mengecam dan menolak aksi perusakan terhadap warung-warung yang menjual minuman keras. Alasannya? “Karena kebanyakan penjualnya adalah orang yang lemah secara ekonomi. Oleh karena itu, Ustad Abu menganggap sama berdosanya menghancurkan modal hidup mereka,” ujar Rodli.
====================================================================================

SorotDecember 5, 2006 6:51 am

Ibu negara Ani Yudhoyono gembira. Di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, 22 November lalu, ia menerima secara simbolis pengembalian 48 ekor orangutan (pongo pygmaeus) dari pemerintah Thailand yang diwakili oleh duta besar negara itu untuk Indonesia, Atchara Seriputra. Tuntas? Rupanya belum. Pemerintah Indonesia, mestinya segera menelusuri keberadaan puluhan orangutan lainnya, yang diduga hingga kini masih menjalani ‘profesi’ sebagai petinju di sana.

Ya, puluhan orangutan asal Indonesia diduga masih menjalani profesi gila itu di sana, termasuk di Safari World, kebun binatang tersohor di Thailand. Tapi, Anda pasti mafhum, karena orangutan tak mengenal ekonomi uang, maka perputaran baht tak bisa mereka nikmati seluruhnya, apalagi dikirim ke Indonesia sebagai devisa.

Upaya pengembalian satwa dilindungi (bahkan oleh organisasi PBB) itu ke Indonesia, rupanya bukan perkara gampang. Kebetulan, dalam kasus orangutan di Thailand itu terbentur pada tembok kekuasaan yang dibangun Thaksin. Di luar itu, keberpihakan negara –tepatnya para birokrat kita, ternyata masih lemah.

Seorang teman yang kebetulan aktivis perlindungan satwa liar dan satwa langka, bercerita bahwa belum lama ini ketemu dengan orang Belanda yang ingin mengembalikan belasan ekor Jalak Bali (Leucopsar rothschildi) yang ada di negaranya. Kata orang Belanda itu, ia bahkan punya data lengkap pemilik burung langka itu di seantero Eropa. Jumlahnya tak tanggung-tanggung, ada 300 ekor lebih! Padahal, di Indonesia tinggal enam pasang yang hidup di habitatnya, sementara tujuh ekor lainnya dipiara perseorangan di Pulau Bali.

“Upaya pengembalian sudah berlangsung sejak beberapa tahun lalu. Namun, surat-surat yang dikirim ke kementrian terkait tak pernah dibalas hingga kini. Padahal, orang itu ingin mengembalikan secara sukarela, bahkan atas biaya mereka sendiri. Mereka cuma butuh jaminan pemerintah, bahwa burung-burung itu akan dikembalikan ke habitatnya,” ujar sang teman. Itulah Indonesia!

Sang teman masih ingat betul pengalamannya beberapa waktu lalu, ketika melakukan investigasi penjualan satwa liar di Jakarta. Rupanya, mata rantai sindikat penjualan satwa liar sudah sangat ruwet. Bukan hanya oknum di kantor Badan Konservasi Sumberdaya Alam DKI Jakarta, tapi pat-gulipat juga melibatkan aparat bea cukai dan petugas Bandara Soekarno-Hatta. Sejumlah satwa langka yang sudah tertangkap saat hendak diselundupkan, ternyata dijual kembali oleh para oknum tadi.

Kembali pada keberadaan Si Pongo di Thailand, ternyata jumlahnya masih banyak. Pada September 2002 saja, terdeteksi ada 140 ekor orangutan di sana, 120 di antaranya menghuni Safari World, kebun binatang seluas 100 hektar di Bangkok. Investigasi selama setahun sejak Oktober 2002 menunjukkan hasil yang membuat miris. Setidaknya, 5-10 ekor orangutan masih diselundupkan ke Thailand setiap bulan. Diduga, populasi orangutan di habitat aslinya (karena Pongo tidak ditemukan di belahan bumi manapun) di Kalimantan Tengah dan Kaimantan Timur tak lebih dari 7.000 ekor.

Asal tahu saja, penyelundupan kera ke Thailand itu merupakan praktek kotor terbesar di seluruh dunia dalam 50 tahun terakhir! Padahal, menyelundupkan kera jenis ini bukan pekerjaan mudah. Yang paling mungkin adalah menirim bayi-bayi orangutan, sementara untuk bisa memperoleh bayi-bayi itu, mau tidak mau harus dilakukan dengan jalan kekerasan dan sangat tidak bermoral: membunuh induk si bayi! (Sebab Pongo dewasa sangat kuat dan sangat melindungi bagi-bayinya, sehingga tak ada manusia yang sanggup memenangkan perkelahian dengannya tanpa senjata modern dan mematikan).

performing artsDecember 3, 2006 12:21 pm

Konser opera kontemporer The King’s Witch (Calon Arang) bisa disebut sebagai peristiwa kesenian paling wah di Indonesia, tahun ini. Bukan hanya nama-nama besar –seperti komponis Tony Prabowo, penyair Goenawan Mohamad, konduktor Joel Sachs, dan Teater Garasi bergabung untuk proyek itu. Konon, pertunjukan selama tiga hari dan berlangsung di dua lokasi berbeda di Jakarta itu menelan biaya hingga Rp 2 miliar!

Kalaupun benar pementasan tersebut menelan dana sebesar itu, sesungguhnya bukan sebuah masalah. Tak ada salahnya, seorang seniman mencari dana untuk membiayai proses kreatifnya. Apalagi, lebih dari 50 orang artis (musik, teater dan tari) terlibat dalam The King’s Witch (Calon Arang) tersebut, dengan hampir setengahnya didatangkan dari Amerika Serikat. Itu belum termasuk belasan orang yang terlibat dalam manajemen produksi.

Apa yang dilakukan seorang (banyak) seniman dan tim produksi pada sebuah proses kreatif, pada hakekatnya adalah sedang bekerja pula. Karena itu, tak ada salahnya bila dari pekerjaannya, seseorang memperoleh imbalan (dalam dunia kesenian sering disebut dengan honor), karena (sama dengan manusia lainnya) seniman juga butuh makan dan memenuhi kebutuhan hidup lainnya.

Namun, namanya memang sudah tidak suka dengan salah satu artisnya (yang kebetulan merupakan figur publik), seorang teman yang sempat melihat booklet pertunjukan itu, tetap saja berupaya mencari celah untuk memojokkannya. Ia misalnya, menuduh sang artis telah menjalin hubungan yang disebutnya ‘tak baik’ dengan Sukanto Tanoto, bos konglomerasi Grup Raja Garuda Mas, hanya karena ia mendapati nama Tanoto Foundation tercantum sebagai salah satu sponsor. Begitu pula dengan logo Medco Energi, perusahaan milik Arifin Panigoro yang juga menjadi sponsor pertunjukan tersebut.

Tentu, sulit bagi saya untuk menjelaskan kepada sang teman tadi. Di kepalanya, prasangka sudah sedemikian dalam terpatri, sehingga keterlibatan Medco Energi dan Tanoto Foundation dalam pendanaan pertunjukan tersebut seolah-olah telah menunjukkan sebuah ‘persekutuan terkutuk’. Seolah-olah kesenian merupakan sesuatu yang agung dan suci, sementara kedua lembaga tersebut dicap sebagai racun atau polutan, hanya karena menghubungkannya dengan kinerja dan profil seorang Sukanto Tanoto dan Arifin Panigoro.

Celakanya, saya sengaja datang jauh-jauh dari Surakarta untuk menyaksikan acara tersebut atas undangan Tony Prabowo. Meski dengan biaya sendiri, argumentasi yang bisa dinilai ‘membela’ Tony dan kawan-kawan itu bisa ‘menjerumuskan’ saya sebagai advokat yang bias nan subyektif!

Mungkin teman saya itu lupa, bahwa produk kesenian bisa menjadi jembatan persahabatan antarbangsa, sementara senimannya sesungguhnya layak menyandang julukan sebagai diplomat pula. Tarian Cak dan Legong, misalnya, telah menjadi sihir mahakuat bagi orang-orang dari berbagai negara nun jauh di seberang lautan untuk datang ke Bali, kendati pada masa lampau menenggelamkan nama Indonesia (lantaran Bali dianggap sebagai bukan dari bagian Indonesia).

Semoga, prasangka teman saya itu hanya sebatas potret atas ketidaktahuannya semata. Sebab, banyak dari masyarakat kita masih lebih parah dalam hal prasangka dan penghakiman terhadap hasil-hasil kerja kesenian dan seniman. Bahwa ada sebagian orang yang berperilaku dan berpenampilan sesuka hati hanya semata-mata karena ingin dicap sebagai seniman, harus diakui hal itu masih banyak terjadi. Tapi, sebaiknya tak perlu pula terburu-buru mengatakan “Dasar seniman!” hanya karena seseorang tampil atau berkerja secara tak sama dengan lingkungannya.

Pertunjukan Pastoral, kuartet gesek dan dua soprano yang dimainkan oleh Momenta String Quartet dengan Nyak Ina Raseuki (Ubiet) dan Binu D. Sukaman. Pastoral diilhami oleh sajak 12-bagian karya Goenawan Mohamad

Lazim tak lazim sangat ditentukan oleh sudut pandang dan referensi seseorang. Tak ada yang perlu dianggap aneh………………..