Ba’asyir (yang) Selalu Kontroversial
Abu Bakar Ba’asyir selalu menarik perhatian. Yang tidak suka -entah dengan alasan apa, akan mengaitkannya dengan para pelaku Bom Bali I dan aksi-aksi serupa di tanah air. Yang pasti, mulai hari ini pula, media massa (nasional maupun asing) pasti akan diramaikan kembali dengan pro-kontra atas keputusan itu.

Siapa sesungguhnya Ba’asyir dan apa hubungannya dengan Imam Samudera dan kawan-kawan, tak ada salahnya saya mempublikasikan kembali tulisan saya tentang pendiri Pondok Pesantren Al Mukmin, Ngruki, Surakarta itu. Agak panjang, memang. Tapi, saya rasa tulisan yang pernah dipublikasikan The Jakarta Post edisi 8 Maret 2003. Semoga bisa menjadi referensi tambahan bagi Anda, terlepas dari setuju dan tidak setuju (sebab saya memang tak ingin Anda mengamini temuan saya).
Saya mengucapkan terima kasih kepada Shalahuddin, seorang sahabat yang sangat membantu saya hingga terwujudnya sebuah tulisan panjang, sehingga saya menjadi lebih paham megenai hubungan Ustad Ba’asyir, Pondok Ngruki dan beberapa hal terkait dengan tindakan kekerasan di Indonesia.
Tulisan berikut dipublikasikan dalam halaman khusus bertajuk Special Report berjudul Abu Bakar Ba’asyir at the center of controversy . Tulisan itu juga merupakan satu-kesatuan gagasan dengan tulisan lain pada edisi yang sama, berjudul Tracking the roots of Jamaah Islamiyah . Berikut tulisan yang saya maksud:
====================================================================================
Ba’asyir Di Simpang Kontroversi
Ngruki adalah ikon gerakan Islam radikal, simbol perjuangan pengagamaan negara dan tata pemerintahan yang menghalalkan segala cara. Setidaknya, itulah stigma yang diberikan oleh negara-negara barat pasca bom Bali yang menewaskan 186 orang lebih, 12 Oktober lalu. Selain nama kampung di pinggiran kota Solo bagian selatan itu, nama Abu Bakar Ba’asyir juga lekat dengan jaringan teroris internasional.
Tingginya ilmu agama yang dimiliki menuntun jalan hidupnya menjadi sosok pendiam. Sikap diam itulah yang kemudian memancing spekulasi bahwa ia sesungguhnya adalah tokoh kunci gerakan penegakan kepemimpinan Islam yang lihai. Apalagi, hampir semua tersangka pelaku bom Bali mengaku kenal dengan Ba’asyir, dan sebagian menyebutnya ikut dalam rapat perencanaan peledakan.
Namun, kontroversi keberadaan Ba’asyir juga datang dari lingkungannya sendiri. Menurut Muhammad Achwan, terpidana penjara seumur hidup karena kasus peledakan sejumlah tempat ibadah di Malang, Jawa Timur awal 1985, meragukan Ba’asyir adalah orang penting yang terlibat dalam aksi biadab itu. Ia menduga ada pihak lain yang secara sadar dan sengaja merencanakan aksi teror di tengah sentimen terhadap figur pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Al Mukmin di Desa Ngruki, Sukoharjo tersebut.
Pihak lain tersebut, menurut Achwan, kemungkinan adalah orang-orang Islam yang memiliki militansi tinggi dan bersemangat menegakkan negara dan pemerintahan berdasar syariat Islam. Namun, tidak tertutup kemungkinan pula akan adanya peran intelijen militer dalam tubuh organisasi pelaku peledakan tempat hiburan Sari Club dan Paddy’s Café di Kuta, Bali.
“Ustad Abu (panggilan akrab untuk Ba’asyir) itu orang yang moderat dan bisa menerima perbedaan. Makanya, upaya penerapan syariat Islam di Indonesia dilakukan secara damai dan terbuka melalui pendirian Majelis Mujahidin. Sebagai Amirul Mukminin, ustad melarang pengikutnya melakukan tindakan kekerasan yang menyengsarakan orang tak bersalah,” ujar Achwan.
Ba’asyir sendiri memilih diam daripada merebut opini melalui media massa. Berkali-kali ia mengatakan tidak terganggu dengan ancaman-ancaman duniawi sepanjang tidak membahayakan keselamatan jiwanya. “Sifat beliau memang begitu. Sabar terhadap perlakuan buruk orang lain akan mendatangkan pahala,” ujar Achwan, salahseorang aktivis Majelis Mujahidin Jawa Timur itu.
Celah satu-satunya untuk memojokkan Ba’asyir diyakininya karena reputasi Ba’asyir bersama sesama pendiri pondok Abdullah Sungkar menentang asas tunggal Pancasila pada awal 1980-an. Sungkar pulalah yang getol menyerukan golput menjelang pemilihan umum 1977 sehingga keduanya berhadapan dengan Orde Baru pimpinan Soeharto. Keduanya pun lantas sama-sama melarikan diri ke Malaysia di mana dari negeri tetangga itu mereka tetap lantang menyuarakan ketidaksetujuannya dengan pemerintahan Soeharto melalui ceramah-ceramah.
Meski dua sekawan itu sama-sama berstatus musuh politik berbahaya bagi Soeharto, Ba’asyir dan Sungkar memiliki ciri kepemimpinan yang berbeda. Bila Ba’asyir dikenal santun dan sabar, Sungkar adalah sosok yang lugas dan lebih radikal. Sungkar juga memilih jalur perlawanan frontal terhadap Soeharto, di antaranya dengan mempersiapkan pasukan terlatih secara fisik dan mental. Karena itu, pengikut mendiang Abdullah Sungkar dikenal militan.
Muhammad Nursalim, bekas santri Ngruki yang kini memilih menjadi pegawai Departemen Agama di Kabupaten Sragen menguraikan panjang lebar garis perjuangan Abdullah Sungkar melalui tesis untuk memperoleh gelar Master Agama Islam di Universitas Muhammadiyah Surakarta. Dalam tesis berjudul Faksi Abdullah Sungkar dan NII Pada Masa Orde Baru itu, Nursalim memperlihatkan kiprah politik Sungkar membangun jaringan menurut pilihannya sendiri setelah ia menyatakan keluar dari keterlibatannya di kelompok Negara Islam Indonesia (NII).
Nama Jamaah Islamiyah dipilih Sungkar untuk menandai eksistensi kelompoknya. Selain memberi bekal dasar-dasar agama untuk menciptakan kader militan, Sungkar juga menerapan metode baku dalam membangun kekuatan. Selain bekal agama, untuk menjadi pengikutnya, seseorang harus melewati tahapan-tahapan seleksi, mulai penggemblengan fisik seperti ilmu beladiri hingga olah senjata.
Saat Sungkar meninggal pada 24 Oktober 1999, sedikitnya 5.000 pengikutnya telah mengikuti program latihan kemiliteran dengan terjun langsung dalam kancah peperangan di Mindanau, Pilipina Selatan dan perang Afghanistan melawan Uni Soviet. Tak jelas, berapa sesungguhnya jumlah pengikut Sungkar.
Militansi yang tinggi dan kepatuhan total pada Abdullah Sungkar itu pula yang konon membuat para pengikutnya kurang menyukai gaya kepemimpinan Abu Bakar Ba’asyir. Kemungkinan adanya konflik di antara keduanya pun masih gelap hingga kini.
Yang jelas, seorang bekas anggota Komando Jihad sumber The Jakarta Post di Jawa Timur yang tak mau disebut identitasnya, menyebut Ba’asyir terlalu kompromi dengan pemerintah Indonesia. Upayanya mensosialisasikan pemberlakuan syariat Islam secara terbuka, bahkan melalui pendirian Majelis Mujahidin adalah sebuah kekeliruan besar.
“Prinsip perjuangan dalam organisasi yang dikembangkan Ustad Abdullah Sungkar itu model perjuangan bawah tanah. Haram hukumnya mereka membuka identitas diri,” ujar sumber itu. Karena itulah, mantan buron politik Orde baru itu menyebut tak ada orang yang tahu persis jumlah pengikut Sungkar,baik di Indonesia maupun Malaysia dan negara-negara lainnya.
Boleh jadi, peristiwa itulah yang kemudian menyebabkan banyak pengikut Sungkar menolak ber-bai’at kepada Ba’asyir dalam sebuah rapat internal di Solo, tak lama setelah Sungkar meninggal. Sumber itu menyebut, dari tujuh syarat yang wajib dipenuhi, dua syarat paling ringan pun tidak dimiliki oleh Ba’asyir. Yakni, memiliki pengalaman lapangan di medan perang sesungguhnya dan mau berjuang secara tertutup alias bawah tanah.
Dikonfirmasi mengenai cerita itu, Muhammad Achwan yang selalu mendampingi Ba’asyir bila memasuki wilayah Jawa Timur itu hanya menukas pendek. “Ustad Abu memang memilih sosialisasi syariat Islam secara terbuka dibanding sembunyi-sembunyi, sambil memberi pendidikan politik,” ujar Achwan.
Sebelum terjadi tragedi bom Bali yang menewaskan 186 orang pada 12 Oktober, sumber The Jakarta Post di Majelis Mujahidin Jawa Timur mengaku sempat diminta Ba’asyir untuk ‘melobi’ sebuah kelompok radikal yang diduga akan melakukan tindakan kekerasan. Mereka melakukan pertemuan hingga 11 kali antara akhir Agustus hingga akhir September. Di antaranya, pertemuan dilakukan di Masjid Mujahidin dan di Jalan Tidar (Surabaya), sebuah tempat di Lamongan dan Mojokerto. Namun, upaya membujuk agar tak ada aksi kekerasan itu kandas.
Achwan juga mengaku pernah mendengar upaya lobi itu. Pasalnya, menurut dia, Ba’asyir meyakini gerakan bersenjata tidak bisa dilakukan dalam kondisi sekarang. Bahkan, sikap Ba’ayir itu kian menguat ketika media-media asing gencar memberitakan soal keterkaitan (linkage) antara Jamaah Islamiyah dengan Al-Qaeda seperti ditunjukkan dalam kasus pengakuan Omar Al-Faruq.
“Bila cara itu dilakukan, pemerintah Amerika dan Indonesia kian giat menekan gerakan Islam yang sedang tumbuh,” ujar Achwan. Ia menunjuk keluarnya peraturan pemerintah pengganti undang-undang (Perppu) tentang Antiterorisme sebagai salah satu contoh.
Di Surakarta, tempat Sungkar membangun karir politiknya pun, pengikutnya tidak banyak. “Setahu saya, yang bisa disebut pengikut Ustad Sungkar tak sampai sepuluh orang,” ujar M. Rodli, mantan Ketua Parta Keadilan Surakarta yang sempat melakukan investigasi dan advokasi terhadap Abu Bakar Ba’asyir.
Meski menghormati Ba’asyir, kata Rodli, mereka tidak memiliki kesetiaan atau ketaatan terhadap Ba’asyir yang dalam tesis tentang Faksi Sungkar disebut-sebut sebagai pengarang Tarbiyah Islamiyah, buku wajib dalam organisasi yang dikembangkan bersama Sungkar. “Kalau hormat (terhadap Ba’asyir) iya, karena Ustad Abu itu orang tua. Tapi soal ketaatan, belum tentu,” ujar Rodli.
Sikap moderat Ba’asyir bahkan sempat mengagetkan kalangan Islam di Solo. Ceritanya, Fraksi Pembaruan DPRD Surakarta mengundang Ba’asyir sebagai narasumber diskusi untuk menyusun rencana penyusunan peraturan daerah (Perda) tentang peredaran minuman keras, awal 2002 lalu. Fraksi gabungan Partai Bulan Bintang, Partai Keadilan dan Partai Persatuan Pembangunan itu getol menolak peredaran minuman beralkohol, sehingga berharap Ba’asyir akan memberi fatwa yang melegakan.
Tapi yang dikemukakan Ba’asyir sungguh di luar dugaan mereka. Petinggi Pondok Al Mukmin itu mentolerir peredaran minuman keras asal tidak dijajakan dekat sekolah dan tempat ibadah. Selain itu, para penjaja minuman cukup menempelkan tulisan “Haram untuk Muslim” di dekat botol yang dipajang.
Lebih mengagetkan, Ba’asyir juga mengecam dan menolak aksi perusakan terhadap warung-warung yang menjual minuman keras. Alasannya? “Karena kebanyakan penjualnya adalah orang yang lemah secara ekonomi. Oleh karena itu, Ustad Abu menganggap sama berdosanya menghancurkan modal hidup mereka,” ujar Rodli.
====================================================================================

susah hidup di negeri ini. punya pendirian diancam, bertindak benar malah diburu dan di penjara. iki piye?
Comment by bangsari — December 26, 2006 @ 9:45 am
segala tindakan manusia dibumi ini hanya Tuhan yang menilai. walaupun segala tindakan jahat ditutupi, tetapi keadilan Tuhan tidak akan terhalangi.
jadi benar salah semua ada di tangan Tuhan, manusia tidak dapat sembarang membunuh untuk memaksakan kehendaknya sendiri.
RENUNGKAN ITU USTAD………….
Comment by nuclear atomic — January 24, 2007 @ 7:36 am
FUCK CAN BE HAPPEN ………..
Comment by nuclear atomic — January 24, 2007 @ 7:38 am
dan manusia tidak dapat sembarang berprasangka, berbicara dan menuduh tanpa ada bukti nyata atas apa yang dia sangkakan, dia bicarakan dan dia tuduhkan,
RENUNGKAN ITU WAHAI MANUSIA . . . .
Comment by ibnu mansour — February 1, 2007 @ 3:49 am
ustads anda calon dakwah islam yg bener sy ingin sekali belajar sm anda betul kata anda tegakkan syariat islam walau harus dgn darah majulah wahai mujahidin majulah untuk mati syahid
Comment by daud — February 16, 2007 @ 9:58 am
perang telah bergema mujahidin telah bangkit dan tak ada yg bisa menghalangi sampai yg disembah hanya ALLAH yg esa allahhhhhhhhhh huuuuuuuuuuuuuu akbarrrr
Comment by daud abdul rasyid — February 16, 2007 @ 10:05 am
weh, wak abu semoderat itu toh? Ga nyangka saya. Jadi yang mengajarkan kekerasan itu sebenere siapa ya?
Comment by wadehel — March 1, 2007 @ 7:47 am
Al Ustadz Abu Bakar Baasyir di era Orde Baru adalah simbol perlawanan. Maka dari itu wajar jika kemudian kekuasaan jaman ini (metamorfose Orde Baru) menghadiahi Beliau dengan Penjara.Sebab tidak ada stock lagi Tokoh yang melawan. Beliau adalah Tokoh yang dituakan dalam sejarah perlawanan di Indonesia saat ini. Saya berjumpa beberapa kali dalam beberapa liputan. Kini terkesan Ustadz yang insya Allah sholeh itu seperti hanya milik MMI (Majelis Mujahidin Indonesia) Padahal alangkah indah jika Ustadz Abu menjadi milik umat. Sudah sepuh pasti semakin bijak. Semoga kita semua adalah bagian dari manusia yang diberikan bekal iman dan petunjuk dari Allah. amin
Comment by matai aulia — March 31, 2007 @ 1:42 pm
saya salah seorang penggemar anda, maju terus ust. abu jangan hiraukan mereka yang dholim, isy karima au mut shahidan hidup mulia atau mati syahid tul ga’????
Comment by qonita — April 8, 2007 @ 3:06 am
yang bener Ustad moderat? wah,, kalo gitu amerika senang dong, sayang amat yah? sama dengan aa gym dong?
Comment by abu naqib — May 17, 2007 @ 5:59 am
Poligami atas nama Alloh dan nafsu, membuat para kyai, ulama dan tokoh muslim lainnya menjadi cabul. Padahal jelas sekali poligami merendahkan derajat wanita. Membunuh juga atas nama agama. Kekerasan atas nama agama. Kenapa menjadi begini?
Waktu jaman Majapahit, orang Jawa (Gajah Mada, dll) membuat nusantara makmur dan jaya. Orang jawa berkebudayaan tinggi, kreatif dan toleran.
Setelah Islam masuk di Jawa, negara kita hancur korban dari penajahan Belanda, Jepang, dsb. Korban dari korupsi, kekerasan/teror, malapetaka. Dan korban dari imperialisme Arab (Indonesia adalah negara pemasok jemaah haji yang terbesar di dunia). Bangsa Arab ini memang hebat sekali karena telah berhasil menemukan cara untuk memasukkan devisa untuk mereka sendiri. Sedangkan situasi ekonomi negara kita dalam keadaan yang sangat parah. Imperialisme Arab ini memang sangat kejam. Turun-temurun sampai anak-cucu, tidak tahu sampai kapan, nusantara diharuskan membayar “pajak” kepada Imperialisme Arab ini dengan alasan: kewajiban menjalankan rukun Islam.
Padahal, sebelum Islam (agama impor) masuk ke Jawa, orang Jawa sudah memiliki agama universal yaitu agama Kejawen.
Bagaimana caranya supaya orang Jawa kembali bisa memakmurkan negara kita yang tercinta ini?
Comment by Saleh Aziz — June 12, 2007 @ 7:28 am