Enam tahun silam, sejumlah bom meledak hampir serentak di berbagai gereja di Jakarta. Sejak peristiwa itu, peringatan Natal selalu bikin cemas. Aparat bersiaga, tak jarang menenteng senjata. Begitu pula pemburu berita. Mereka terpaksa ikut-ikutan meronda. Kecemasan lantas menjadi penyakit bersama, tanpa memandang agama.

Pohon Natal tertinggi di Indonesia yang dibuat untuk merayakan Natal oleh umat Kristiani di Surakarta menjadi tontonan seluruh warga
Kini, semua orang bersukacita karena malam Natal berlangsung tanpa menorehkan catatan duka. Tragedi berdarah seakan menjadi peristiwa lumrah belaka. Dan kita cenderung lupa, siapapun dan minoritas apapun tak layak dianiaya. Apalagi, dengan alasan berbeda agama.
Mestinya kita sudah lelah, bosan dan gemas. Sebab setiap Desember menjelang, kita digiring pada kecemasan yang selalu berulang.
Karena itu, mestinya kita bersama-sama bangkit melawan, mewujudkan dengan tindakan supaya tak ada lagi kecemasan. Saatnya kita merajut kebersamaan, meniadakan prasangka keimanan dan mewujudkan perdamaian.
Selamat merayakan Natal saudara-saudaraku, semoga Allah selalu melimpahkan rahmat dan hidayahnya kepada kita semua. Siapkan diri kita, melawan adu domba……..

Selamat natal!
Comment by aRdho — December 27, 2006 @ 10:16 am
setuju, pakde! lha wong urip kalo berkelahi melulu setiap hari kok yo ngga asyik. apa pada ngga bosen gitu?
kalo rukun kan yo enak. ayem, tentrem…
)
(weh, kok malah aku sing menggurui? maaf, pakde…
Comment by bangsari — December 29, 2006 @ 8:19 am
weh.. Cah SOlo toh?
*tos
ayo gabung CahAndong kang!!
Comment by zam — December 30, 2006 @ 4:44 am
saya suka membaca tulisan-tulisan yang ada dalam website anda.
Comment by jeng anin — July 30, 2007 @ 2:03 am
fotonya bagus mas, cuma eventnya yang menurut saya ga pas, sangat ga pas. napa mesti orang yang berjilbab (nb. muslim) yang lagi liat pohon natal.
ini bisa sangat sensitif bagi sebagian yang radikal. mungkin mereka (yang radikal tsb) menganggap inilah cara orang nasrani mengibarkan pemurtadan … sepertinya damai dan penuh kasih, tapi sebenarnya sedang menhunus pedang misionarisnya. terimakasih … coba di telaah lagi. untuk sanggahan tolong kirim ke email saya.
blonty: Kenapa mesti sensitif melihat foto orang berjilbab melihat ponon Natal?!? Menurut saya, pesan perdamaian harus didengungkan. Kapan saja, dimana saja. Tak perlu menebar prasangka ada upaya pemurtadan dan sebagainya. Konflik antarumat beragama di Indonesia (juga di daerah lain), sering dipicu oleh prasangka yang dibumbui argumentasi subyektif.
Apakah tidak boleh seorang muslimah berjilbab mengunjungi Candi Borobudur yang notabene candi Budha dan sering digunakan untuk peribadatan umat Budhis? Rasanya, memahami agama tidak boleh sesederhana itu. Aqidah tidak akan luntur sepanjang diimani sepenuh hati. Seorang muslim masuk gereja pun tidak berdosa sepanjang seseorang itu masih mengenakan sahadat pada jiwa, hati dan raganya.
Comment by ares — September 12, 2007 @ 3:19 am
selamat merayakan natal 2007 dan berbahagia di tahun baru 2008 Tuhan memberkati.
blonty: Terima kasih. Meski saya muslim, saya hargai pernyataan Anda. Semoga damai menyertai kita semua. Saya, Anda dan kita semua, pasti rindu pada kedamaian dan kerukunan sebagai sesama umat Tuhan
Comment by Willem A. Kana — December 21, 2007 @ 10:08 am
Sejuknya kalo semua org seperti anda. Salut!
Comment by Nath Kei — January 4, 2008 @ 3:16 pm