<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress/1.5.1-alpha" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
<channel>
	<title>Comments on: Setitik Nila pada Susu Polisi</title>
	<link>http://blontankpoer.blogsome.com/2007/02/07/setitik-nila-pada-susu-polisi-2/</link>
	<description>Just another WordPress weblog</description>
	<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 22:12:07 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=1.5.1-alpha</generator>

	<item>
		<title>by: pepey</title>
		<link>http://blontankpoer.blogsome.com/2007/02/07/setitik-nila-pada-susu-polisi-2/#comment-774</link>
		<pubDate>Wed, 24 Sep 2008 07:39:53 +0100</pubDate>
		<guid>http://blontankpoer.blogsome.com/2007/02/07/setitik-nila-pada-susu-polisi-2/#comment-774</guid>
					<description>cara membersihkan korup di kepolisian : bubarkan!!!!
kenapa ? karena dari tukang sapunya sekolah polisi sampai jendral besarnya adalah biang korup. mau sekolah polisi nyogok. sudah sekolah mau nilai bagus nyogok pelatih, mau tidak dipukul nyogok senior. mau jadi kapolsek nyogok. mau jadi kapolri sudah barang tentu nyogok para anggota DPR.
pulang kerumah nyogok istri, liat gambar porno nyogok WTS dasar pulisi.</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>cara membersihkan korup di kepolisian : bubarkan!!!!<br />
kenapa ? karena dari tukang sapunya sekolah polisi sampai jendral besarnya adalah biang korup. mau sekolah polisi nyogok. sudah sekolah mau nilai bagus nyogok pelatih, mau tidak dipukul nyogok senior. mau jadi kapolsek nyogok. mau jadi kapolri sudah barang tentu nyogok para anggota DPR.<br />
pulang kerumah nyogok istri, liat gambar porno nyogok WTS dasar pulisi.
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: cah ndeso</title>
		<link>http://blontankpoer.blogsome.com/2007/02/07/setitik-nila-pada-susu-polisi-2/#comment-764</link>
		<pubDate>Wed, 27 Aug 2008 20:20:00 +0100</pubDate>
		<guid>http://blontankpoer.blogsome.com/2007/02/07/setitik-nila-pada-susu-polisi-2/#comment-764</guid>
					<description>disini kita bicara obyektif, bukan membela siapa atau apa,.jika pola pikir anda tetap menggiring anda pada sebuah pembelaan obyek, berarti anda masih &quot;sempit&quot; bung,.saya hanya mencoba mengajak anda menengok dari sisi lain,tentunya dengan fakta dan investigasi yang tepat, bukan asumsi dan sekedar wacana debat kusir,masalah IP dan accesbility komputer,ini jaman modern om,.semua orang bisa dimana saja dan kapan saja akses internet,.(ndak usah keluar dari pokok permasalahan to),.he,.he,.
satu lagi,.mungkin saya dibanding anda tidak ada apa-apanya,pengalaman,pendidikan mungkin saya jauh dibawah anda,saya cuma petani desa,tapi saya punya nurani pada bangsa,.bukankah begitu sebaiknya bung blonty??,kecuali jika memang anda salah satu dari &quot;mereka&quot;,.
salam</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>disini kita bicara obyektif, bukan membela siapa atau apa,.jika pola pikir anda tetap menggiring anda pada sebuah pembelaan obyek, berarti anda masih &#8220;sempit&#8221; bung,.saya hanya mencoba mengajak anda menengok dari sisi lain,tentunya dengan fakta dan investigasi yang tepat, bukan asumsi dan sekedar wacana debat kusir,masalah IP dan accesbility komputer,ini jaman modern om,.semua orang bisa dimana saja dan kapan saja akses internet,.(ndak usah keluar dari pokok permasalahan to),.he,.he,.<br />
satu lagi,.mungkin saya dibanding anda tidak ada apa-apanya,pengalaman,pendidikan mungkin saya jauh dibawah anda,saya cuma petani desa,tapi saya punya nurani pada bangsa,.bukankah begitu sebaiknya bung blonty??,kecuali jika memang anda salah satu dari &#8220;mereka&#8221;,.<br />
salam
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: cah ndeso</title>
		<link>http://blontankpoer.blogsome.com/2007/02/07/setitik-nila-pada-susu-polisi-2/#comment-762</link>
		<pubDate>Mon, 25 Aug 2008 07:48:43 +0100</pubDate>
		<guid>http://blontankpoer.blogsome.com/2007/02/07/setitik-nila-pada-susu-polisi-2/#comment-762</guid>
					<description>MENULIS DENGAN OBYEKTIF,OBYEKTIF DALAM MENULIS
mungkin itu yang menjadi dasar kita dalam menulis dan menyampaikannya pada publik,sertai dengan fakta (apa, siapa, dimana, kapan dan bagaimana),.namun jika menulis hanya untuk &quot;suka-suka&quot; dan sa'enak udelnya sendiri, maka wajar jika dalam blog anda banyak komentar yang juga &quot;suka-suka&quot; dan seenak udelnya sendiri,.
ok' om??
SALAM


&lt;strong&gt;blonty:&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;&lt;strong&gt;cahndeso&lt;/strong&gt; dan &lt;strong&gt;bonggol&lt;/strong&gt;, Anda orang yang sama, kan? IP yang Anda gunakan menunjukkan bahwa Anda memakai akses (bahkan komputer) yang sama. Waktu yang Anda gunakan saat membuat komentar ini dan komentar sebelumnya, juga berurutan. 

Kalau mau komentar, dan mengolok-olok, mbok yang rapi, Mas....... Lain kali, ganti komputer, ganti akses atau warnet biar tampak rapi kerjaan Anda. Heheheh...&lt;/em&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>MENULIS DENGAN OBYEKTIF,OBYEKTIF DALAM MENULIS<br />
mungkin itu yang menjadi dasar kita dalam menulis dan menyampaikannya pada publik,sertai dengan fakta (apa, siapa, dimana, kapan dan bagaimana),.namun jika menulis hanya untuk &#8220;suka-suka&#8221; dan sa&#8217;enak udelnya sendiri, maka wajar jika dalam blog anda banyak komentar yang juga &#8220;suka-suka&#8221; dan seenak udelnya sendiri,.<br />
ok&#8217; om??<br />
SALAM</p>
	<p><strong>blonty:</strong> <em><strong>cahndeso</strong> dan <strong>bonggol</strong>, Anda orang yang sama, kan? IP yang Anda gunakan menunjukkan bahwa Anda memakai akses (bahkan komputer) yang sama. Waktu yang Anda gunakan saat membuat komentar ini dan komentar sebelumnya, juga berurutan. </p>
	<p>Kalau mau komentar, dan mengolok-olok, mbok yang rapi, Mas&#8230;&#8230;. Lain kali, ganti komputer, ganti akses atau warnet biar tampak rapi kerjaan Anda. Heheheh&#8230;</em>
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: bonggol</title>
		<link>http://blontankpoer.blogsome.com/2007/02/07/setitik-nila-pada-susu-polisi-2/#comment-761</link>
		<pubDate>Mon, 25 Aug 2008 07:40:22 +0100</pubDate>
		<guid>http://blontankpoer.blogsome.com/2007/02/07/setitik-nila-pada-susu-polisi-2/#comment-761</guid>
					<description>yah,.begitulah om blonty,.dalam kasus ini anda sebagai &quot;calo&quot; kasus atau apa??,.berpikir bisa nego sama kasat reskrim??,.
kita kembalikan ke permasalahan awal,.jika saudara atau kawan anda atau siapa sajalah tokoh yang anda munculkan,.memang itu konsekwensinya,.kenapa harus berbuat sendiri (memukuli para preman tsb),.toh ada polisi?, jika memang yang anda katakan tentang perbuatan preman itu sampai segitunya, knp tidak dilaporkan pada polisi saja??,ini negara hukum bung!!,biar aparat yang menangani,toh perbuatan preman tersebut juga sudah benar2 melanggar hukum dengan unsur perusakan ( dg membakar ),merusak fasilitas umum,..semua ada konsekuensinya,.dengan anda mau memberikan uang Rp. 5 juta pada Polisi berarti anda juga telah mendukung &quot;program sinting&quot; mereka,..terima saja konsekuensinya, saudara anda dipenjara karena kasus penganiayaan ya sudah konsekuensinya, dilain hal kecuali jika anda hanya bermaksud untuk menjual / mem-blow-up kasus tsb demi tendensi lain,
soal deal dari polisi ( Allahualam om,..),.tidak semua polisi begitu,saya bukan polisi tapi saya tahu hukum dan aturannya, yang pasti etikanya juga,.. 

&lt;strong&gt;blonty:&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;Matur nuwun, Mas/Mbak Bonggol. Seperti banyak orang, saya masih berharap hukum ditegakkan di negeri ini. Bahwa saya pesimis hukum bisa tegak, ya begitulah fakta yang kita jumpai sehari-hari tidak pernah menuntun saya pada pemahaman soal hukum yang seharusnya. 

Soal Anda polisi atau bukan, tak penting bagi saya. Komentar-komentar Anda justru menggiring saya pada prasangka, bahwa Anda bagian dari pembela obyek sorotan saya. Marahlah selagi bisa, mari kita perbaiki keadaan selagi mampu. Salam hormat saya untuk Anda.....&lt;/em&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>yah,.begitulah om blonty,.dalam kasus ini anda sebagai &#8220;calo&#8221; kasus atau apa??,.berpikir bisa nego sama kasat reskrim??,.<br />
kita kembalikan ke permasalahan awal,.jika saudara atau kawan anda atau siapa sajalah tokoh yang anda munculkan,.memang itu konsekwensinya,.kenapa harus berbuat sendiri (memukuli para preman tsb),.toh ada polisi?, jika memang yang anda katakan tentang perbuatan preman itu sampai segitunya, knp tidak dilaporkan pada polisi saja??,ini negara hukum bung!!,biar aparat yang menangani,toh perbuatan preman tersebut juga sudah benar2 melanggar hukum dengan unsur perusakan ( dg membakar ),merusak fasilitas umum,..semua ada konsekuensinya,.dengan anda mau memberikan uang Rp. 5 juta pada Polisi berarti anda juga telah mendukung &#8220;program sinting&#8221; mereka,..terima saja konsekuensinya, saudara anda dipenjara karena kasus penganiayaan ya sudah konsekuensinya, dilain hal kecuali jika anda hanya bermaksud untuk menjual / mem-blow-up kasus tsb demi tendensi lain,<br />
soal deal dari polisi ( Allahualam om,..),.tidak semua polisi begitu,saya bukan polisi tapi saya tahu hukum dan aturannya, yang pasti etikanya juga,.. </p>
	<p><strong>blonty:</strong> <em>Matur nuwun, Mas/Mbak Bonggol. Seperti banyak orang, saya masih berharap hukum ditegakkan di negeri ini. Bahwa saya pesimis hukum bisa tegak, ya begitulah fakta yang kita jumpai sehari-hari tidak pernah menuntun saya pada pemahaman soal hukum yang seharusnya. </p>
	<p>Soal Anda polisi atau bukan, tak penting bagi saya. Komentar-komentar Anda justru menggiring saya pada prasangka, bahwa Anda bagian dari pembela obyek sorotan saya. Marahlah selagi bisa, mari kita perbaiki keadaan selagi mampu. Salam hormat saya untuk Anda&#8230;..</em>
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: marem lhoh</title>
		<link>http://blontankpoer.blogsome.com/2007/02/07/setitik-nila-pada-susu-polisi-2/#comment-459</link>
		<pubDate>Tue, 11 Sep 2007 07:08:17 +0100</pubDate>
		<guid>http://blontankpoer.blogsome.com/2007/02/07/setitik-nila-pada-susu-polisi-2/#comment-459</guid>
					<description>Ya, begitulah Pak Purwoko, dalam menghadapi institusi atau Kasat Reserse yang frame berpikirnya bisa menjadikan kasus sebagai pembiayaan operasional, harus anda lawan dengan pendekatan kekuasaan seperti yang kau terima dalam mata kuliah gersospol. Kasat yang mungkin pangkatnya Kapten atau AKP takutnya kan pada atasannya yang Kapolres. Kapolres takutnya sama wartawan yang kalau Pak Purwoko diangel-angel trus ditakut-takuti wadul atau nulis ke Kapolwil hingga Kapolda. Yo wis yen tujuane menangguhkan perkara tanpa membayar, takut-takuti saja si Kasat atau Kapolresnya. Gitu aja repot bro....he..he..ojo terlalu serius mundak tambah uwanmu mengko </description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>Ya, begitulah Pak Purwoko, dalam menghadapi institusi atau Kasat Reserse yang frame berpikirnya bisa menjadikan kasus sebagai pembiayaan operasional, harus anda lawan dengan pendekatan kekuasaan seperti yang kau terima dalam mata kuliah gersospol. Kasat yang mungkin pangkatnya Kapten atau AKP takutnya kan pada atasannya yang Kapolres. Kapolres takutnya sama wartawan yang kalau Pak Purwoko diangel-angel trus ditakut-takuti wadul atau nulis ke Kapolwil hingga Kapolda. Yo wis yen tujuane menangguhkan perkara tanpa membayar, takut-takuti saja si Kasat atau Kapolresnya. Gitu aja repot bro&#8230;.he..he..ojo terlalu serius mundak tambah uwanmu mengko
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: bangsari</title>
		<link>http://blontankpoer.blogsome.com/2007/02/07/setitik-nila-pada-susu-polisi-2/#comment-205</link>
		<pubDate>Thu, 08 Feb 2007 08:24:34 +0000</pubDate>
		<guid>http://blontankpoer.blogsome.com/2007/02/07/setitik-nila-pada-susu-polisi-2/#comment-205</guid>
					<description>kadang saya berpikir, kayanya negeri kita lebih parah dari negeri yang sering dicontohkan sebagai buruk dalam kitab-kitab suci.

negeri yang buruk dalam kitab suci biasanya hanya memiliki satu kebrobrokan. kau sodom karena perbuatan sodominya, mesir karena kedzaliman fir'aunnya, kaum luth karena homo seksualitasnya dll.

negeri kita melakukan semuanya pada saat yang sama. pelakunya juga merata di segala lapisan, bisa siapa saja, mulai dari penguasa hingga masayarakt umum.

gimana tuh?</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>kadang saya berpikir, kayanya negeri kita lebih parah dari negeri yang sering dicontohkan sebagai buruk dalam kitab-kitab suci.</p>
	<p>negeri yang buruk dalam kitab suci biasanya hanya memiliki satu kebrobrokan. kau sodom karena perbuatan sodominya, mesir karena kedzaliman fir&#8217;aunnya, kaum luth karena homo seksualitasnya dll.</p>
	<p>negeri kita melakukan semuanya pada saat yang sama. pelakunya juga merata di segala lapisan, bisa siapa saja, mulai dari penguasa hingga masayarakt umum.</p>
	<p>gimana tuh?
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: <strongPaman Tyo</title>
		<link>http://blontankpoer.blogsome.com/2007/02/07/setitik-nila-pada-susu-polisi-2/#comment-204</link>
		<pubDate>Wed, 07 Feb 2007 10:24:34 +0000</pubDate>
		<guid>http://blontankpoer.blogsome.com/2007/02/07/setitik-nila-pada-susu-polisi-2/#comment-204</guid>
					<description>Suatu hari saya kecopetan. Pencopetnya tertangkap. Dia mengaku bersalah dan minta maaf kepada saya, pakai menyembah segala. Saya lihat dompet si copet. Ada KTP, uang beberapa ribu, dan... foto gadis kecil, anaknya. Saya tak tega. Bagi satpam dan polisi tentu soal tak selesai.

Tapi saya tak terima waktu copet dihajar dan disterum di ruang satpam mal. Orang sudah ngaku salah dan minta ampun, sendirian pula, kok dikeroyok penuh aniaya. Saya membantu mengusap darahnya.

Sampai di polisi permainan dimulai. Dompet saya disita, jadi bukti, tapi semua jenis kartu dan uang boleh saya bawa.

Tak sampai sepekan saya menerima telepon dari polisi. Keluarga si pencopet ingin kasus dibekukan, dan saya &quot;dimohon&quot; mau mencabut perkara (lho ini kan bukan delik aduan).

Alasan kemanusiaan langsung mendorong saya mengiayakan. Saya tak peduli polisi akan memeras berapa dari mereka, karena kalau tersangka ditahan bayarannya akan lebih mahal. Saya ingat gadis kecil dalam foto di dompet bapaknya yang nyopet itu...

Sampai di kantor polisi saya meminta ketemu si tersangka. Sejumlah alasan berbelit dikemukakan, intinya permintaan saya ditolak.

Yo wis. Kasus saya cabut. Ikhlas. Tak mendidik, memang. Tapi bagi saya ada yang lebih nggak mendidik: koruptor dan pengemplang duit BLBI (milik rakyat) juga boleh diampuni kok.

Lho, ini komentar apa posting tandingan sih? Biarin. Lebih gampang komen daripada bikin buku. :D


&lt;strong&gt;blonty :&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;posting tandingan juga tak apa-apa kok, Paman. &lt;a href=&quot;http://blontankpoer.blogsome.com/2007/02/07/setitik-nila-pada-susu-polisi-2/&quot; target=_blank&quot;&gt;Ini&lt;/a&gt; saya tandingi kembali, supaya lebih lengkap &lt;a href=&quot;http://blontankpoer.blogsome.com/2007/02/07/setitik-nila-pada-susu-polisi-2/&quot; target=_blank&quot;&gt;kisah dan ceriteranya&lt;/a&gt;. hehehehe.....&lt;/em&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>Suatu hari saya kecopetan. Pencopetnya tertangkap. Dia mengaku bersalah dan minta maaf kepada saya, pakai menyembah segala. Saya lihat dompet si copet. Ada KTP, uang beberapa ribu, dan&#8230; foto gadis kecil, anaknya. Saya tak tega. Bagi satpam dan polisi tentu soal tak selesai.</p>
	<p>Tapi saya tak terima waktu copet dihajar dan disterum di ruang satpam mal. Orang sudah ngaku salah dan minta ampun, sendirian pula, kok dikeroyok penuh aniaya. Saya membantu mengusap darahnya.</p>
	<p>Sampai di polisi permainan dimulai. Dompet saya disita, jadi bukti, tapi semua jenis kartu dan uang boleh saya bawa.</p>
	<p>Tak sampai sepekan saya menerima telepon dari polisi. Keluarga si pencopet ingin kasus dibekukan, dan saya &#8220;dimohon&#8221; mau mencabut perkara (lho ini kan bukan delik aduan).</p>
	<p>Alasan kemanusiaan langsung mendorong saya mengiayakan. Saya tak peduli polisi akan memeras berapa dari mereka, karena kalau tersangka ditahan bayarannya akan lebih mahal. Saya ingat gadis kecil dalam foto di dompet bapaknya yang nyopet itu&#8230;</p>
	<p>Sampai di kantor polisi saya meminta ketemu si tersangka. Sejumlah alasan berbelit dikemukakan, intinya permintaan saya ditolak.</p>
	<p>Yo wis. Kasus saya cabut. Ikhlas. Tak mendidik, memang. Tapi bagi saya ada yang lebih nggak mendidik: koruptor dan pengemplang duit BLBI (milik rakyat) juga boleh diampuni kok.</p>
	<p>Lho, ini komentar apa posting tandingan sih? Biarin. Lebih gampang komen daripada bikin buku. <img src='http://blontankpoer.blogsome.com/wp-images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
	<p><strong>blonty :</strong> <em>posting tandingan juga tak apa-apa kok, Paman. <a href="http://blontankpoer.blogsome.com/2007/02/07/setitik-nila-pada-susu-polisi-2/" target=_blank">Ini</a> saya tandingi kembali, supaya lebih lengkap <a href="http://blontankpoer.blogsome.com/2007/02/07/setitik-nila-pada-susu-polisi-2/" target=_blank">kisah dan ceriteranya</a>. hehehehe&#8230;..</em>
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
</channel>
</rss>
