<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress/1.5.1-alpha" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
<channel>
	<title>Comments on: Setitik Nila pada Susu Polisi</title>
	<link>http://blontankpoer.blogsome.com/2007/02/07/setitik-nila-pada-susu-polisi-2/</link>
	<description>Just another WordPress weblog</description>
	<pubDate>Wed, 20 Aug 2008 15:33:57 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=1.5.1-alpha</generator>

	<item>
		<title>by: marem lhoh</title>
		<link>http://blontankpoer.blogsome.com/2007/02/07/setitik-nila-pada-susu-polisi-2/#comment-459</link>
		<pubDate>Tue, 11 Sep 2007 07:08:17 +0100</pubDate>
		<guid>http://blontankpoer.blogsome.com/2007/02/07/setitik-nila-pada-susu-polisi-2/#comment-459</guid>
					<description>Ya, begitulah Pak Purwoko, dalam menghadapi institusi atau Kasat Reserse yang frame berpikirnya bisa menjadikan kasus sebagai pembiayaan operasional, harus anda lawan dengan pendekatan kekuasaan seperti yang kau terima dalam mata kuliah gersospol. Kasat yang mungkin pangkatnya Kapten atau AKP takutnya kan pada atasannya yang Kapolres. Kapolres takutnya sama wartawan yang kalau Pak Purwoko diangel-angel trus ditakut-takuti wadul atau nulis ke Kapolwil hingga Kapolda. Yo wis yen tujuane menangguhkan perkara tanpa membayar, takut-takuti saja si Kasat atau Kapolresnya. Gitu aja repot bro....he..he..ojo terlalu serius mundak tambah uwanmu mengko </description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>Ya, begitulah Pak Purwoko, dalam menghadapi institusi atau Kasat Reserse yang frame berpikirnya bisa menjadikan kasus sebagai pembiayaan operasional, harus anda lawan dengan pendekatan kekuasaan seperti yang kau terima dalam mata kuliah gersospol. Kasat yang mungkin pangkatnya Kapten atau AKP takutnya kan pada atasannya yang Kapolres. Kapolres takutnya sama wartawan yang kalau Pak Purwoko diangel-angel trus ditakut-takuti wadul atau nulis ke Kapolwil hingga Kapolda. Yo wis yen tujuane menangguhkan perkara tanpa membayar, takut-takuti saja si Kasat atau Kapolresnya. Gitu aja repot bro&#8230;.he..he..ojo terlalu serius mundak tambah uwanmu mengko
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: bangsari</title>
		<link>http://blontankpoer.blogsome.com/2007/02/07/setitik-nila-pada-susu-polisi-2/#comment-205</link>
		<pubDate>Thu, 08 Feb 2007 08:24:34 +0000</pubDate>
		<guid>http://blontankpoer.blogsome.com/2007/02/07/setitik-nila-pada-susu-polisi-2/#comment-205</guid>
					<description>kadang saya berpikir, kayanya negeri kita lebih parah dari negeri yang sering dicontohkan sebagai buruk dalam kitab-kitab suci.

negeri yang buruk dalam kitab suci biasanya hanya memiliki satu kebrobrokan. kau sodom karena perbuatan sodominya, mesir karena kedzaliman fir'aunnya, kaum luth karena homo seksualitasnya dll.

negeri kita melakukan semuanya pada saat yang sama. pelakunya juga merata di segala lapisan, bisa siapa saja, mulai dari penguasa hingga masayarakt umum.

gimana tuh?</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>kadang saya berpikir, kayanya negeri kita lebih parah dari negeri yang sering dicontohkan sebagai buruk dalam kitab-kitab suci.</p>
	<p>negeri yang buruk dalam kitab suci biasanya hanya memiliki satu kebrobrokan. kau sodom karena perbuatan sodominya, mesir karena kedzaliman fir&#8217;aunnya, kaum luth karena homo seksualitasnya dll.</p>
	<p>negeri kita melakukan semuanya pada saat yang sama. pelakunya juga merata di segala lapisan, bisa siapa saja, mulai dari penguasa hingga masayarakt umum.</p>
	<p>gimana tuh?
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: <strongPaman Tyo</title>
		<link>http://blontankpoer.blogsome.com/2007/02/07/setitik-nila-pada-susu-polisi-2/#comment-204</link>
		<pubDate>Wed, 07 Feb 2007 10:24:34 +0000</pubDate>
		<guid>http://blontankpoer.blogsome.com/2007/02/07/setitik-nila-pada-susu-polisi-2/#comment-204</guid>
					<description>Suatu hari saya kecopetan. Pencopetnya tertangkap. Dia mengaku bersalah dan minta maaf kepada saya, pakai menyembah segala. Saya lihat dompet si copet. Ada KTP, uang beberapa ribu, dan... foto gadis kecil, anaknya. Saya tak tega. Bagi satpam dan polisi tentu soal tak selesai.

Tapi saya tak terima waktu copet dihajar dan disterum di ruang satpam mal. Orang sudah ngaku salah dan minta ampun, sendirian pula, kok dikeroyok penuh aniaya. Saya membantu mengusap darahnya.

Sampai di polisi permainan dimulai. Dompet saya disita, jadi bukti, tapi semua jenis kartu dan uang boleh saya bawa.

Tak sampai sepekan saya menerima telepon dari polisi. Keluarga si pencopet ingin kasus dibekukan, dan saya &quot;dimohon&quot; mau mencabut perkara (lho ini kan bukan delik aduan).

Alasan kemanusiaan langsung mendorong saya mengiayakan. Saya tak peduli polisi akan memeras berapa dari mereka, karena kalau tersangka ditahan bayarannya akan lebih mahal. Saya ingat gadis kecil dalam foto di dompet bapaknya yang nyopet itu...

Sampai di kantor polisi saya meminta ketemu si tersangka. Sejumlah alasan berbelit dikemukakan, intinya permintaan saya ditolak.

Yo wis. Kasus saya cabut. Ikhlas. Tak mendidik, memang. Tapi bagi saya ada yang lebih nggak mendidik: koruptor dan pengemplang duit BLBI (milik rakyat) juga boleh diampuni kok.

Lho, ini komentar apa posting tandingan sih? Biarin. Lebih gampang komen daripada bikin buku. :D


&lt;strong&gt;blonty :&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;posting tandingan juga tak apa-apa kok, Paman. &lt;a href=&quot;http://blontankpoer.blogsome.com/2007/02/07/setitik-nila-pada-susu-polisi-2/&quot; target=_blank&quot;&gt;Ini&lt;/a&gt; saya tandingi kembali, supaya lebih lengkap &lt;a href=&quot;http://blontankpoer.blogsome.com/2007/02/07/setitik-nila-pada-susu-polisi-2/&quot; target=_blank&quot;&gt;kisah dan ceriteranya&lt;/a&gt;. hehehehe.....&lt;/em&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>Suatu hari saya kecopetan. Pencopetnya tertangkap. Dia mengaku bersalah dan minta maaf kepada saya, pakai menyembah segala. Saya lihat dompet si copet. Ada KTP, uang beberapa ribu, dan&#8230; foto gadis kecil, anaknya. Saya tak tega. Bagi satpam dan polisi tentu soal tak selesai.</p>
	<p>Tapi saya tak terima waktu copet dihajar dan disterum di ruang satpam mal. Orang sudah ngaku salah dan minta ampun, sendirian pula, kok dikeroyok penuh aniaya. Saya membantu mengusap darahnya.</p>
	<p>Sampai di polisi permainan dimulai. Dompet saya disita, jadi bukti, tapi semua jenis kartu dan uang boleh saya bawa.</p>
	<p>Tak sampai sepekan saya menerima telepon dari polisi. Keluarga si pencopet ingin kasus dibekukan, dan saya &#8220;dimohon&#8221; mau mencabut perkara (lho ini kan bukan delik aduan).</p>
	<p>Alasan kemanusiaan langsung mendorong saya mengiayakan. Saya tak peduli polisi akan memeras berapa dari mereka, karena kalau tersangka ditahan bayarannya akan lebih mahal. Saya ingat gadis kecil dalam foto di dompet bapaknya yang nyopet itu&#8230;</p>
	<p>Sampai di kantor polisi saya meminta ketemu si tersangka. Sejumlah alasan berbelit dikemukakan, intinya permintaan saya ditolak.</p>
	<p>Yo wis. Kasus saya cabut. Ikhlas. Tak mendidik, memang. Tapi bagi saya ada yang lebih nggak mendidik: koruptor dan pengemplang duit BLBI (milik rakyat) juga boleh diampuni kok.</p>
	<p>Lho, ini komentar apa posting tandingan sih? Biarin. Lebih gampang komen daripada bikin buku. <img src='http://blontankpoer.blogsome.com/wp-images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
	<p><strong>blonty :</strong> <em>posting tandingan juga tak apa-apa kok, Paman. <a href="http://blontankpoer.blogsome.com/2007/02/07/setitik-nila-pada-susu-polisi-2/" target=_blank">Ini</a> saya tandingi kembali, supaya lebih lengkap <a href="http://blontankpoer.blogsome.com/2007/02/07/setitik-nila-pada-susu-polisi-2/" target=_blank">kisah dan ceriteranya</a>. hehehehe&#8230;..</em>
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
</channel>
</rss>
