Seorang sahabat bertutur, ayahnya yang seorang pembina mental narapidana berganti agama lantaran melihat kesalehan seorang tahanan. Bahkan, anak-anaknya lantas disekolahkan di pondok pesantren. Pemuda nakal di desa saya sesumbar, tak takut masuk penjara lantaran yakin bakal ‘naik kelas’ bila di biodatanya berisi pengalaman mondok di losmen prodeo. Sementara, di kantor polisi para polisi yang masih berstatus magang juga belajar kekerasan dari senior-seniornya. Para tahanan sementara pun dijadikan obyek kekerasan sambil menunggu berkas perkaranya disetor ke kejaksaan.
Itulah potret sekolah alternatif di negeri kita. Dengan caranya sendiri-sendiri, mereka bisa memaknai penjara. Sepupu saya yang sempat mondok sepekan di kantor polisi, misalnya, menjadi takut luar biasa bertindak gegabah dan emosional. Ia menyesali tindakannya bersama tiga temannya menganiaya remaja berandalan yang tinggal bertetangga. Bahkan, ia merasa hidupnya menjadi sia-sia karena ketakutan tak bakal memperoleh surat pernyataan berkelakuan baik alias SKKB di kemudian hari. Apalagi, ia sudah menganggur setahun lantaran habis masa kontrak dengan sebuah perusahaan asing di Cikarang. Untuk bisa survive dengan menjadi buruh, ia memerlukan SKKB untuk senjata.
Nasi telah menjadi bubur, mentalnya kerasnya menjadi lembek lantaran salah bertindak. Kini, yang tersisa hanyalah kenangan pahit di balik jeruji kamar tahanan. Ada yang getir, ada pula yang lucu superkonyol. Ia berkisah, kakinya sering ditindih dengan kaki kursi yang lantas diduduki seorang polisi. Kepala diraih dan dibenturkan ke terali besi ia alami berulang kali. Ditinju, juga sudah belasan kali. “Setiap pergantian piket, mereka pasti memukul atau menganiaya saya,” tutur sepupuku.
Usai memukul, sang polisi -baik yang magang maupun yang senior, akan menanyakan sakit atau tidaknya dihajar. Kalau menjawab lirih, tindakan yang sama akan diulang. Tapi kalau menjawab dengan lantang, maka tindakan itu akan dianggap menantang. Buk! Pukulan atau tendangan, akan segera mengenai bagian tubuh yang mana saja sesuai selera.
Apapun kasusnya, tak ada perbedaan perlakuan. Lex specialis seperti istilah plesetan. Kejahatan sistemik dan komunal, sepertinya sudah menjadi hukum tersendiri di lembaga kepolisian (meski saya yakin sesungguhnya polisi-polisi baik hati jumlahnya masih mendominasi). Makanan, rokok atau air mineral yang dibawa sanak-saudara tahanan sementara misalnya, tak pernah sampai ke tangan yang berhak. Semua itu berubah menjadi setoran’ untuk para petugas jaga. Mungkin agar tak ngantuk atau bete, karena yang dilihatnya hanya yang itu-itu saja.
Sepupuku berceritera, kalau pagi-pagi dihidangkan nasi urap (makanan mewah di tahanan), itu berarti isyarat. Sebab pada siang harinya, masing-masing tahanan akan kebagian giliran: entah pukulan, tendangan atau tindakan kekerasan lainnya. Saya baru paham, ternyata polisi juga belajar ilmu gizi. Dengan makan nasi gudhangan, stamina fisik akan menjadi lebih prima dari hari biasa. Karena itu, pukulan sekeras apapun akan bisa diterima tubuh lantaran adanya suntikan vitamin, protein dan karbohidrat memadai.
Yang superkonyol, pun tak lupa dituturkan sepupu saya sembari tertawa. Seorang pendatang baru tinggal di sel sebelahnya. Remaja 18 tahun itu ditangkap polisi lantaran melakukan pemerkosaan gadis belia. Di sel itu, sang remaja dipaksa tahanan kriminal lainnya (rata-rata residivis) untuk melakukan onani dengan balsam. Setiap malam, ia disuruh menyanyi sampai para tahanan mengantuk. “Kalau telinga kanan dijewer, orang itu harus menyanyi dan baru boleh berhenti kalau telinga kiri sudah dijewer,” tutur sepupuku. Ia ngeri menyaksikan kuping menjadi saklar switch on dan switch off.
Kekerasan demikian, ternyata lumrah saja di penjara. Alih-alih mencegahnya, polisi jaga justru tertawa dan ikut menikmati peristiwa demikian. Sebuah papan putih mencolok bertuliskan larangan menganiaya tahanan yang terpampang di samping petugas jaga, rupanya hanyalah hiasan semata. Mungkin, maksudnya baik, agar para keluarga tahanan tak memiliki rasa kuatir akan keselamatan sanak-saudaranya selama ‘bersekolah’ di sana.
Baca juga: Setitik Nila pada Susu Polisi

cuma bisa nyebut nama Gusti Allah…melihat org tega dan gembira menyiksa orang lain dan dijadikan lelucon..
hewan aja kali nggak kayak gitu ya…*ngenes*
Comment by siberia — February 9, 2007 @ 10:49 am
Itulah mimesis. Proses tiru-meniru. Demikian juga kekerasan. Tanpa kita sadari kita pun telah melakukan mimesis pada kekerasan yang terjadi di sekitar kita. Selanjutnya, tanyakan pada Rene Gerard. Salam kenal, Bung! Nice blog. I like it!
Comment by musafir muda — February 9, 2007 @ 4:42 pm
jadi ingat saat seorang kawan arsitektur mengambil judul “penjara” sebagai judul tugas akhirnya. Serba salah, dibuat manusiawi diprotes pembimbing “emangnya hotel!”, dibuat nir fasilitas diprotes “emangnya kamp penyiksaan!” …
Comment by granita — February 12, 2007 @ 8:52 am
aku kebetulan menemukan dirimu, mas blonthank. pernah aku kebetulan masuk ke penjara Rebibia Itali yang menampung para mafiosi. di situ aku pura-pura sok tahu apa artinya pilihan hidup ketika seseorang harus berganti fisionomi kalau mau nyawa tak melayang, ketika orang lebih baik pilih buka rahasia ke negara daripada mati diganyang teman sendiri, ketika olahraga jalan cepat berdua mondar-mandir serentang 20 meter saja masih lebih bagus daripada tak ada penyaluran tenaga tak tersalur. kabarmu bagaimana?
blonty: halo-halo, Om Pras….. kabarku apik-apik wae. aku saiki wis netep neng Solo. wah, suwi banget kita tak bersua, ya? apa awakmu ya isih sering tilik Utan Kayu yen pas neng Indonesia? :p aku dhewe wis jarang dolan TUK. ketoke, kanca-kanca lawas cacahe mung sethithik, marakke kikuk yen doaln mrana…. kapan ana rencana tilik Salatiga-Ambarawa?
Comment by Prasetyohadi — February 19, 2007 @ 7:19 pm
Sadis yaaa ceritanya.
Temen-temen kampung saya juga cerita yang sama kalau masuk “pesantren” (sebutan anak cilincing buat hotel prodeo).
Bagus ini tulisannya Mas.
@Prasetyohadi: Kapan kejadiannya?
Comment by arifkurniawan — February 26, 2007 @ 1:43 pm
tulisannya nya bagus mas…
soal kekerasan yang satu ini jarang ada yang ekspos..,aku buat link di blog ku ya mas….
Comment by saidilang — May 12, 2007 @ 10:16 pm
SALUT BANGET MA BLOG INI PAK DE!!selalu ditunggu yang baru…
Comment by anak baru — December 19, 2007 @ 2:33 pm
That is well known that cash can make people autonomous. But what to do if someone doesn’t have money? The one way is to receive the business loans or just term loan.
Comment by GertrudeGuthrie — August 6, 2011 @ 5:15 am
bagus banget tulisannya pak! saya paki untuk referensi tugas saya ya..
Comment by bgsbramantya — September 18, 2011 @ 3:20 am
All people deserve wealthy life time and home loans or sba loan can make it better. Because freedom depends on money.
Comment by home loans — November 7, 2011 @ 2:31 am
Polisi macam apa dinegeri INDONESIA ini??, padahal gajinya Kita-kita juga yang bayar!! kita yang GAJI !! POLISI APAPUN NAMANYA = satu kata untuknnya ” POLISI BAJINGAN”, namanya
Comment by Toro — November 15, 2011 @ 1:36 am