OlahragaFebruary 27, 2007 11:04 am

Menyaksikan kejuaraan nasional Motocross 2007 di Surakarta, 24-25 Pebruari kemarin, yang disponsori perusahaan rokok dan Pertamina, saya merinding. Bukan oleh serunya persaingan para crosser, tapi karena melihat banyaknya anak-anak –bahkan ada yang masih berusia 6 tahunan– ‘berpartisipasi’ dalam event semacam itu.

Yang terbayang di benak saya adalah anak-anak yang ingusnya kadang masih belepotan itu menangis meraung-raung karena patah tulang akibat terjatuh saat berusaha adu cepat melompati superbowl. Atau terjatuh saat gagal melewati tikungan tajam yang becek, yang bisa jadi akan membuatnya tertimpa motor yang semula dikendarainya sendiri. Bahwa sebagian besar dari mereka sudah cukup trampil mengemudikan motor, itu soal lain. Maksudnya, saya pancen sengaja mengesampingkannya.

Pemandangan yang menurut saya ganjil, adalah ketika ayah si bocah memegangi motor di garis START, sementara ibunya melihat dari kejauhan dengan mimik optimistis: menguarkan harapan sang anak bakal jadi pembalap hebat. Kelak. Saya mereka-reka, peristiwa demikian pastilah hanya merupakan obsesi orang tua yang dipaksakan kepada si bocah. Dalam hemat saya, anak seusia itu belumlah memiliki referensi memadai untuk berpikir muluk-muluk. Berbeda kalau sang bocah sudah menginjak remaja.

Bagi saya, sirkuit bukanlah arena permainan ketangkasan seperti terserak di mal-mal di hampir seluruh kota. Masih banyak pilihan olahraga prestasi, semisal tenis lapangan atau sepakbola, yang di samping menyehatkan, juga berguna untuk membentuk watak sportif sejak masa kanak-kanak.

Dunia balapan, bagi saya merupakan dunia anak muda dan orang dewasa. Pergaulan di arena semacam itu, justru melahirkan kompetisi negatif, sebab pembicaraan jenis spare-parts dan asesoris balapan yang dipakai akan selalu identik dengan belanja barang, yang tentu tak ada yang berharga murah. Belum lagi naluri kanak-kanak yang masih selalu ingin menonjolkan diri –tanpa tahu baik atau buruknya– sehingga bisa saja sekali waktu mereka mencuri-curi kesempatan mengendarai sepeda motor di jalan raya. Terbayangkah repotnya jadi orang tua kalau kecelakaan menimpa anak-anak mereka? Tak takutkah akan trauma yang bakal membekas dalam diri anak di kemudian hari?!?

Saya ingat cerita teman saya tentang kisah mantan crosser. Pembalap itu memiliki ketrampilan mumpuni, baik mengendarai motor atau mengemudikan mobil. Beberapa kali, kudengar ia pernah berlaga jadi stunt man partikelir: menabrakkan mobil atau menjatuhkannya di jurang demi menggerus pundi-pundi perusahaan asuransi. Sama takutnya saya pada cerita seorang bekas pembalap yang lihai menjadi joki sepeda motor, lalu menggunakan ketrampilannya untuk menjambret atau ’sekadar’ mangambil ‘cacing’ yang melingkar di leher perempuan yang dijumpainya di jalan.

Panorama 10:07 am

Senin (26/2) menyajikan sore yang indah di hadapan saya. Sebuah lengkungan warna-warni menghiasi langit Kota Surakarta. Pelangi sore itu, merupakan pelangi kedua yang menyapaku selama bulan Pebruari. Oh, alangkah indahnya kumpulan tujuh warna yang dibiaskan oleh ‘prisma-prisma air’ ketika cahaya putih matahari menubruknya.

Sudah dua puluh tahun lebih saya tak pernah bersua dengan pelangi. Terakhir, saya melihat pelangi di atas hamparan padi di belakang dusunku, di pedalaman Klaten sana. Kemunculan pelangi pada sore itu menjadi penghiburan buat saya, setelah dipaksa oleh bapak agar saya menyiangi rumput di sela-sela tanaman padi yang belum genap sebulan ditanam. Selama tiga hari, saya harus melakukan kegiatan rutin itu sejak sepulang sekolah, seusai makan siang. Tak boleh tidur siang, begitu pula bermain.

Akan halnya pelangi, yang merupakan spektrum cahaya, bukan saja menghibur pekerja di sawah seperti saya. Guru taman kanak-kanak, bahkan harus melatih dan merangsang imajinasi anak sekaligus menciptakan suasana riang dengan menjadikannya sebagai lagi wajib di sekolah. Para pasangan muda hingga orang tua, pun tidak boleh tidak hafal lagu itu, demi mengungkapkan kecintaannya pada bocah, si buah hati.

Usia beringsut, jatah hidup menyusut. Saya kembali berkenalan dengan pelangi yang diciptakan tokoh musik Ngak-Ngik-Ngok di tanah, Koes Bersaudara. Bila semasa kanak-kanak, syair lagu Pelangi bisa bermanfaat untuk mengenalkan eksistensi Tuhan, Tony Koeswoyo menjadikan pelangi bagai Pak Pos, yakni pengantar pesan (untuk kekasih). Kenapa demikian, sudah jelas karena basis pendukung Koes Bersaudara adalah para remaja dan yang berusia selebihnya, yang naluri seksualnya sudah tumbuh dan berkembang.

Kian menua, pelangi yang saya kenal kian bias, bahkan kelewat ekstrem. Ada istilah Koalisi Pelangi, juga Kabinet Pelangi. Tentu saja, kata bentukan ini sulit dimengerti oleh anak-anak, sebab pelangi yang melekat pada kata koalisi dan kabinet, bukan lagi ciptaan Tuhan. Ia juga bukan lagi penyampai pesan untuk kekasih yang dicintai, melainkan ‘kekasih’ temporer.

Pelangi dalam khazanah politik ini lebih banyak dilatari oleh tujuan-tujuan praktis dan superpragmatis, bahkan hanya oleh segelintir politisi dan partai politik. Meski pada dasarnya merupakan spektrum ‘warna’ yang berasal dari pantulan cahaya putih, tapi mereka bukan lagi sosok putih dan baik. Tentu, ini bukan berarti saya tak percaya kepada janji-janji dan citra putih yang mereka tampilkan. Meski sangat sedikit, saya percaya masih ada sisa ’sinar putih’ dari sekumpulan politisi yang kerap menggelar ’sidang para setan’ itu.

Di tengah bangsa yang majemuk dan berpopulasi besar, pada negeri yang tak lagi bergigi secara ekonomi dan di tengah arus persaingan politik yang mengedepankan perut ini, tentu orang seperti saya hanya bisa berharap pada para pelangiwan/pelangiwati untuk kembali menata diri. Berperilaku dan tampil seperti pelangi yang saya kenal semasa bocah dulu: pelangi yang indah, yang benar-benar ciptaan Tuhan. Bukan pelangi yang suka ngutil uang rakyat dan menggemukkan pundi-pundi keluarga dan kekasih-kekasih gelap mereka.