TariMarch 21, 2007 1:56 pm

Pura Mangkunegaran meriah, Sabtu (17/3) malam lalu. Meski hujan mengguyur kota sepanjang sore hingga malah, ratusan orang -pejabat dan pengusaha, hadir berbaur dengan keluarga dan kerabat kerajaan kecil pecahan Kraton Kasunanan Surakarta itu. Makan malam hanya menjadi ‘asesoris’ tambahan karena yang mereka tunggu hanyalah pertunjukan tari Bedhaya Dirada Meta.

Dirada Meta, yang makna harfiahnya Gajah Mengamuk, adalah tarian agung, pusaka peninggalan Raden Mas Said (1725-1795), gerilyawan perang, pendiri Pura Mangkunegaran. Selain Dirada Meta, RM Said juga menciptakan dua karya bedhaya lainnya, Anglir Mendhung dan Sukapratama.

Secara umum, pertunjukan malam itu bisa disebut sukses. Gerak tarinya bisa dinikmati, sementara suasana yang agung dan heroik bisa dibangun oleh Daryono dan kawan-kawan. Pertunjukan itu pasti akan sempurna andai mata tombak Trisula tak terlepas dari tongkat penyangga. Tak apa. Never mind!, menyitir Tukul Arwana. Kejadian semacam itu bisa dialami siapapun, meski sesungguhnya bisa diperhitungkan antisipasinya.

Yang mengganggu, menurut hemat saya, adalah proses ‘penciptaan’ tari Dirada Meta itu. Kecuali tembang Durma, tak ada lagi dokumentasi yang bisa dijadikan rujukan untuk menyusun gerak, apalagi untuk urusan pengadeganan. Riset pustaka memang sudah setahun dilakukan, tapi tak ada petunjuk yang bisa dijadikan acuan.

Lalu, jadilah Anglir Mendhung -satu-satunya peninggalan RM Said yang masih sering dipentaskan, sebagai rujukan utama. Dari sana, para periset yang hampir semuanya penari sekaligus dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta mencoba mengembangkan penggalian pada vokabuler gerak tari Wireng Wirun dan Bedhaya bedhah Madiun. Kebetulan, kedua tarian itu merupakan karya tari klasik yang memiliki pola, gaya dan vokabuler gerak baku tari Mangkunegaran.

Sampai di sini, pencarian sudah bisa disebut okay. Soal properti pentas, seperti tombak Trisula dan panah, bisa saja dipilih lantaran bisa dikaitkan dengan tema cerita, yakni perjuangan RM Said melawan gabungan pasukan Belanda, prajurit Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Saya (mungkin kita) bisa memaklumi kesulitan Daryono dan kawan-kawan dalam merekonstruksi tarian yang konon sudah 100 tahun lebih tak dipentaskan itu.

Tapi, ada satu hal yang mengganjal dan menurut saya bisa disebut dengan ‘cacat ilmiah’. Para pelaku riset dan rekonstruksi tari telah gegabah, mencomot batik motif Alas-alasan karya desainer Iwan Tirta sebagai kostum utama. Bukan soal cocok-tak cocoknya motif batik itu digunakan untuk tarian itu. ‘Pemenuhan unsur gegabah’ itu lantaran motif tersebut dipersembahkan oleh Iwan Tirta kepada keluarga Pura Mangkunegaran. Lain cerita kalau dia terlibat riset lalu sengaja menciptakan motif itu untuk kostum Dirada Meta.

Dalam Bedhaya Anglir Mendhung memang digunakan dodotan berbahan batik motif Alas-alasan. Hanya saja, Alas-alasan dalam Anglir Mendhung tak ada corak binatang seperti belalang, melainkan lebih banyak tetumbuhan hutan dan kaligrafi.

Kalau saja para aktor di balik rekonstruksi tari itu tak berpretensi mencipta Dirada Meta seperti aslinya, mungkin tak perlu lagi disoal. Rujukan kostum, mungkin bisa digali lewat produk-produk motif batik yang semasa dengan RM Said, misalnya Parang Rusak dan tentu masih ada beberapa yang lain.

Kenapa saya menjadi sewot dan cerewet dengan urusan beginian, tak lebih karena para aktor rekonstruksi itu masih ingin mencipta ulang Bedhaya Sukapratama. Karya ini, dipastikan akan lebih sulit untuk direkonstruksi. Sebab, hingga kini masih belum diketahui, kapan Sukapratama pernah dipentaskan. (Atau, jangan-jangan malah belum pernah sekalipun ditampilkan di muka umum, kecuali saat menghibur gerilyawan yang menyertai RM Said di sela-sela jeda perang mereka?!?)

PeristiwaMarch 15, 2007 9:12 am

Rupanya, Departemen Perhubungan mulai serius dan hati-hati dalam mengatur kinerja sektor transportasi publik. Buktinya, Adam Air sempat dilarang terbang oleh otoritas Bandara Adi Sumarmo, Surakarta, Kamis (15/2).

Pesawat bernomor penerbangan KI-161 yang mengangkut 99 orang, termasuk empat kru, itu seharusnya meninggalkan Bandara Adi Sumarmo pukul 10.08 WIB menuju Cengkareng. Namun, lantaran petugas pre-flight check tak memiliki lisensi untuk menyatakan pesawat Boeing 737-200 tersebut laik terbang, maka otoritas Bandara melarangnya meninggalkan Surakarta.

Semoga, keputusan otoritas Bandara Adi Sumarmo yang melarang terbang sementara Adam Air bukan lantaran sedang ada inspeksi mendadak dari Direktorat Sertifikasi Kelaikan Udara di sana. Bukan pula lantaran banyaknya kejadiakn kecelakaan pesawat udara di berbagai tempat di Indonesia.

Satu gosip yang sempat mampir di telinga saya, sang teknisi Adam Air itu tidak memiliki kompetensi mengecek mesin pesawat. “Yang dia miliki hanya lisensi untuk pengecekan perangkat elektronik. Itu pun sudah kedaluarsa,” ujar sumber itu.

Andai isu itu benar, alangkah menyedihkannya. Demi mengejar keuntungan bisnis penerbangan sampai lalai memperhatikan keselamatan penumpangnya.

Meski demikian, kompromi telah diambil. Manajemen Adam Air telah mendatangkan teknisinya yang bertugas di Bandara Adi Sutjipto, Yogyakarta untuk mengecek kelaikan terbang pesawat tersebut. Hasilnya, pesawat bisa terbang kembali, meski penumpang terpaksa menunggu selama tiga jam.

“Aneh, mosok pesawat tak boleh terbang karena alasan administrasi,” ujar Basuki, seorang penumpang asal Turisari, Surakarta.

Basuki, mungkin juga penumpang lain, mungkin tak tahu-menahu soal regulasi penerbangan, termasuk prosedur keselamatan yang tak boleh dilanggar oleh perusahaan penerbangan. Barangkali, Basuki-Basuki yang lain juga mengira kalau mekanisme pengaturan penerbangan pesawat seperti halnya antrian jalan bagi bus-bus di terminal. Tepat jam dan menitnya, maka pesawat harus meninggalkan bandara.

Tentu saja, ketidakmengertian yang demikian tak bisa dijadikan alasan bagi perusahaan penerbangan untuk mengabaikan hak-hak konsumen.

Uluk Salam 8:47 am

Tanpa tahu maksud dan tujuan pengirimnya, tiba-tiba saja saya kedatangan loper elektronik. Si kurir cerdas itu, pun tak meninggalkan pesan sepatah katapun kecuali menyisakan jejak berupa alamat sang pengirim.

Kita tahu, apalagi blogger sejati, pasti sangat mengenal selebritis dunia maya yang satu ini. Andai pun tak mengenal wajahnya, namun jejak hidupnya mudah terlacak. Ia bagai pelayan Tuhan di bumi. Perilakunya pun mirip-mirip kaum Jesuit yang selalu datang, membaur dan menyatu dengan kaum terpinggirkan. Ia memberi daya hidup, selalu mengingatkan agar kita tak pernah lupa, apalagi abai dengan apa yang terjadi di lingkungan terdekat kita.

Setiap tarikan nafasnya, Sang Sufi Tak Kasat Mata selalu mengajak kita berpaling pada hal-hal kebendaan. Sementara dengus embusan nafasnya, selalu mendorong kita untuk bertindak, setidaknya merenung dan merefleksi diri.

Rasanya, kita masih bisa bersepakat untuk mengapresiasi kelebihan Sang Sufi ini, lalu mengucap syukur kepada-Nya, karena telah mendatangkan mesias ke dunia. Berimanlah kepada Dia Sang Pencipta, karena engkau beruntung telah mengenal dan selalu dituntun oleh Domba Yang Tak Pernah Tersesat ini untuk jangan pernah berpaling dari-Nya.

PeristiwaMarch 11, 2007 11:44 am

Tersungkurnya burung besi jenis Boeing 737-400 bernomor penerbangan GA-200 milik Garuda Indonesia di Yogyakarta, Rabu (7/3) pagi, menghebohkan dunia.
Soal penyebab jatuh dan dampak berupa terbakarnya puluhan penumpang, sudah pasti menjadi sorotan. Tapi, banyaknya penumpang kewarganegaraan Australia-lah yang kemudian membuat peristiwa itu menjadi luar biasa.

Karena itu, tak aneh kalau Presiden Susilo Bambang Yudhoyono segera memerintahkan aparat, termasuk intelijen melakukan penyelidikan kemungkinan adanya faktor-faktor nonteknis terhadap peristiwa tersebut. Bisa jadi, itu merupakan langkah diplomatis yang tepat. Maklum, Australia merupakan sekutu Amerika yang selalu bawel akibat paranoid akan kata ‘terorisme’, sementara di pesawat nahas itu terdapat sejumlah orang penting dari Kedutaan Besar Australia di Jakarta. Di antaranya adalah Brice Steele, Head of Australian Federal Police di Jakarta.

Soal kemungkinan sabotase, bisa saja dimunculkan pemerintah dan masyarakat Australia bila Pemerintah Indonesia dan otoritas penyelidik kecelakaan itu tak sigap bertindak. Apalagi, banyaknya Australian di dalam pesawat itu dalam rangka tugas khusus, yakni mengawal Menteri Luar Negeri Australia Alexander Downer yang akan melakukan penandatanganan semacam kontrak kerjasama dengan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Untung, negeri kita tak tambah runyam, karena tak satu pun pernyataan ‘provokatif’ muncul dari Menteri Downer yang sempat menjenguk para korban, para anggota penyelidik dari Komite Keselamatan Transportasi Australia maupun penyelidik dari Australian Federal Police.

Meski demikian, bukan berarti persoalan penyelidikan kecelakaan serta identifikasi korban menjadi urusan mudah. Tata krama politik mengharuskan penyelidik, khususnya KNKT, harus memberi kesempatan kepada tim khusus dari Australia. Baik untuk penelitian di lapangan maupun penentuan identitas korban.

Khusus mengenai identifikasi korban, seorang anggota tim forensik Indonesia bertutur, dia dan seluruh anggota tim yang tergabung dalam Disaster Victim Identivication (DVI) Indonesia harus nglegani tim negeri jiran. Para penyelidik Australia itu mengulang-ulang proses identifikasi, bahkan menggunakan temuan final tim Indonesia yang sudah bisa memastikan identitas lima korban terbakar asal Australia itu. “Ya mau gimana lagi. Asal mereka marem, kami juga senang,” ujar seorang dokter anggota tim kepada penulis.