
Pura Mangkunegaran meriah, Sabtu (17/3) malam lalu. Meski hujan mengguyur kota sepanjang sore hingga malah, ratusan orang -pejabat dan pengusaha, hadir berbaur dengan keluarga dan kerabat kerajaan kecil pecahan Kraton Kasunanan Surakarta itu. Makan malam hanya menjadi ‘asesoris’ tambahan karena yang mereka tunggu hanyalah pertunjukan tari Bedhaya Dirada Meta.
Dirada Meta, yang makna harfiahnya Gajah Mengamuk, adalah tarian agung, pusaka peninggalan Raden Mas Said (1725-1795), gerilyawan perang, pendiri Pura Mangkunegaran. Selain Dirada Meta, RM Said juga menciptakan dua karya bedhaya lainnya, Anglir Mendhung dan Sukapratama.
Secara umum, pertunjukan malam itu bisa disebut sukses. Gerak tarinya bisa dinikmati, sementara suasana yang agung dan heroik bisa dibangun oleh Daryono dan kawan-kawan. Pertunjukan itu pasti akan sempurna andai mata tombak Trisula tak terlepas dari tongkat penyangga. Tak apa. Never mind!, menyitir Tukul Arwana. Kejadian semacam itu bisa dialami siapapun, meski sesungguhnya bisa diperhitungkan antisipasinya.
Yang mengganggu, menurut hemat saya, adalah proses ‘penciptaan’ tari Dirada Meta itu. Kecuali tembang Durma, tak ada lagi dokumentasi yang bisa dijadikan rujukan untuk menyusun gerak, apalagi untuk urusan pengadeganan. Riset pustaka memang sudah setahun dilakukan, tapi tak ada petunjuk yang bisa dijadikan acuan.
Lalu, jadilah Anglir Mendhung -satu-satunya peninggalan RM Said yang masih sering dipentaskan, sebagai rujukan utama. Dari sana, para periset yang hampir semuanya penari sekaligus dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta mencoba mengembangkan penggalian pada vokabuler gerak tari Wireng Wirun dan Bedhaya bedhah Madiun. Kebetulan, kedua tarian itu merupakan karya tari klasik yang memiliki pola, gaya dan vokabuler gerak baku tari Mangkunegaran.
Sampai di sini, pencarian sudah bisa disebut okay. Soal properti pentas, seperti tombak Trisula dan panah, bisa saja dipilih lantaran bisa dikaitkan dengan tema cerita, yakni perjuangan RM Said melawan gabungan pasukan Belanda, prajurit Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Saya (mungkin kita) bisa memaklumi kesulitan Daryono dan kawan-kawan dalam merekonstruksi tarian yang konon sudah 100 tahun lebih tak dipentaskan itu.
Tapi, ada satu hal yang mengganjal dan menurut saya bisa disebut dengan ‘cacat ilmiah’. Para pelaku riset dan rekonstruksi tari telah gegabah, mencomot batik motif Alas-alasan karya desainer Iwan Tirta sebagai kostum utama. Bukan soal cocok-tak cocoknya motif batik itu digunakan untuk tarian itu. ‘Pemenuhan unsur gegabah’ itu lantaran motif tersebut dipersembahkan oleh Iwan Tirta kepada keluarga Pura Mangkunegaran. Lain cerita kalau dia terlibat riset lalu sengaja menciptakan motif itu untuk kostum Dirada Meta.
Dalam Bedhaya Anglir Mendhung memang digunakan dodotan berbahan batik motif Alas-alasan. Hanya saja, Alas-alasan dalam Anglir Mendhung tak ada corak binatang seperti belalang, melainkan lebih banyak tetumbuhan hutan dan kaligrafi.

Kalau saja para aktor di balik rekonstruksi tari itu tak berpretensi mencipta Dirada Meta seperti aslinya, mungkin tak perlu lagi disoal. Rujukan kostum, mungkin bisa digali lewat produk-produk motif batik yang semasa dengan RM Said, misalnya Parang Rusak dan tentu masih ada beberapa yang lain.
Kenapa saya menjadi sewot dan cerewet dengan urusan beginian, tak lebih karena para aktor rekonstruksi itu masih ingin mencipta ulang Bedhaya Sukapratama. Karya ini, dipastikan akan lebih sulit untuk direkonstruksi. Sebab, hingga kini masih belum diketahui, kapan Sukapratama pernah dipentaskan. (Atau, jangan-jangan malah belum pernah sekalipun ditampilkan di muka umum, kecuali saat menghibur gerilyawan yang menyertai RM Said di sela-sela jeda perang mereka?!?)

foto seni pertunjukkanmu selalu “mak nyuuusss” ..
Comment by granita — March 22, 2007 @ 1:31 am
lebih seabad proses pewarisannya putus, kira-kira kenapa ya, mas?
foto & ulasannya bikin penasaran pol…
blonty: wah, gak tahu juga. kenapa, ya? dugaan, para penelitinya saja yang kurang serius. di Universitas Leiden atau KITLV, misalnya, banyak dokumen-dokumen Jawa atau Indonesia. mungkin bisa digali dan ditelisik dengan cermat. kabarnya, sih, ada orang bernama Clara Berkel, seorang doktor dan peneliti di Leiden. konon, orang itu fasih berbahasa Jawa karena lama meneliti tembang-tembang dan tarian Jawa, khususnya yang terkait dengan kraton-kraton Mataram dan sempalan Mataram
Comment by anakperi — March 24, 2007 @ 4:35 am
Sayang sekali pementasan yang seharusnya sangat sakral tersebut harus menggunakan kostum yang (maaf) tidak pas. Tidak pas yang saya maksud adalah tidak ada keterlibatan emosional terhadap tari yang dipentaskan.
Mas Poer, kalau ada acara Jumenengan di Mangkunegaran dan tari yang dipentaskan adalah Bedhaya Anglir Mendhung tolong dimasukkan di sini yaaaa. Terima kasih
Comment by desita — May 7, 2007 @ 5:18 am
Di mataku Bedhaya Dirada Meta merupakan hasil kerja sama yang bagus antara ISI Surakarta sebagai pencetus ide menggali/ merekontruksi tari Dirada Meta dan Mangkunegaran sebagai sumber tari tersebut. Yang satu menyodorkan ide dan yang lain menyambut dengan tangan terbuka.Jejaring kerja bareng ini yang seyogyanya diteruskan untuk mewujudkan karya-karya seni yang tidak saja terbatas tari, yang akan memperkaya jagad seni.
blonty: Weleh…weleh…. Yang namanya jejaring, seniman itu jagonya, Mbak. Soal ide apalagi. Wong kerjaan seniman itu cuma menyampaikan ide, kok. Hehehehe…. Masalahnya, dalam kasus Dirada Meta ada kata kunci: REKONSTRUKSI. Nah, rekonstruksi itu merupakan kerja intelektual yang sangat berat. Ada banyak tahapan riset, seperti teks-teks sejarah, antropologi, senirupa, dll. Dan, yang namanya rekonstruksi itu waktunya tidak bisa buru-buru kalau mengejar akurasi. Mungkin, untuk gerak sudah ketemu dengan mengacu sejumlah khazanah gerak tari-tari klasik kraton. Tapi soal kostum dan sebagainya?
Agak lucu kalau semua pencapaian itu ‘dilemahkan’ dengan penggunaan batik buatan Iwan Tirta yang bisa disebut “yasan enggal”, yang ide pembuatannya pun bukan untuk proyek rekonstruksi itu. Begitu, Mbak…. (Jadi, ini bukan soal meremehkan atau tidak menghargai pekerjaan beliau-beliau yang terlibat dalam proyek rekonstruksi itu)
Comment by ira — May 29, 2007 @ 5:04 pm
Weleeehhh…mantap kritik-nya, biar ke depan Mangkunegaran lebih “hati” dan tidak lagi “gegabah”…masih banyak PR soalnya…
salam,
Latief
Comment by latief — June 6, 2007 @ 10:47 am
Mas, boleh cerita sedikit tentang bedhaya yg satu lagi gak, Sukapratama itu…. pingin tau aja asal muasalnya & menceritakan tentang apa…
Comment by Bertho — July 31, 2007 @ 3:31 am
Sebenarnya saya sudah cukup bersyukur bahwa masih ada yang mau mencoba menghidupkan kembali warisan budaya nan luhur ini. Tapi masukan anda masuk akal juga ya mas. Sudah disampaikan ke pihak-pihak yang terkait agar mereka bisa memperbaiki diri? BTW, gambarnya tolong diperbanyak dong
Comment by Ari — September 26, 2007 @ 9:52 am
saya pengen banget tau tentang tarian mangkunegaran yang dulu sering dibawakan oleh putri kesanyangan mangkunegara 1.
tari itu bertempo cepat, menggunakan gendewo, dibawakan oleh 9 penari wanita. pakaian seperti srikandi yang mau berperang, rambut terurai…….pokoke detailnya banyak sekali……….
saya pernah meliharnya dalam mimpi saya……..dan saya sangat tertarik untuk mengetahuinya………….
saya juga bisa membawakan beberapa bagian gerakannya, tetapi dalam waktu2 tertentu saja……..
mungkin ada yang bisa membantu saya……….karena setelah saya pelajari tari itu sekarang tidak pernah lagi di pentaskan……….
Comment by mita — January 22, 2008 @ 7:40 am
Itulah bangsa Indonesia bila ada saudaranya yang meneliti dan membuahkan sebuah karya, yang dilihat selalu kelemahannya terlebih dahulu.
Kostum diradameta jelas memang jauh dari kenyataannya, mengingat keterbatasan dana ketika terjadi penelitian, jangankan pemerintah banyak kerabat Mangkunegaran yang muda2 kurang punya respon positif. Kita bersyukur Iwan tirta mau pinjamkan sementara kain alas-alasannya, bila tidak maka tidaklah mungkin terjadi pergelaran tari tersebut. Sehingga memang perlu diciptakan kostum khusus untuk itu.
Kami sangat menghargai dan salut kepada mas Daryono dan teman2nya yang telah melakukan penelitian selama 1 tahun, tentu dengan susah payah. Bisa dimaklumi sejarah tentang Pangeran Sambernyowo masih banyak yang ditahan diLeiden, Belanda, maklum bila dibongkar semuanya bisa memalukan Pemerintah Belanda, dan mungkin keraton lainnya.
Mudah2an masyarakat pemerhati Mangkunegaran akan terus mendukung penelitian selanjutnya yaitu Bedhaya Sukapratama, walaupun dengan data yang seminim mungkin. Tarian2 sakral seperti Anglirmendung, Dirada meta, Suka Pratama jelas pernaha ditarikan di Puro Mangkunegaran 200 tahunan lalu, karena tercatat dalam Babad Tutur dan Babad Lelampahan yang copynya baru dikembalikan belanda tahn 1994. Dan bila anda membaca buku “PRAJURIT PEREMPUAN JAWA” ; An Kumar (ada di gramedia, didalamnya juga tercatat bahwa bedhaya2 tersebut pernah ditarikan di Puro MN. Jadi Bedhaya2 tersebut bukan khayalan, atau karang karangan saja. Gitu Lho.
Comment by SUDARMOJO — June 6, 2008 @ 2:14 am