Satu Perayaan, Dua Penyelenggara, Satu Wajah

Kesenian sungguh dunia yang unik. Setidaknya, begitulah yang saya pahami, setelah mengenal banyak komunitas dan pelaku seni. Perayaan Hari Tari Internasional di Surakarta pada 29 April lalu, misalnya, dirayakan dengan penuh persaingan –yang menurut hemat saya- tidak bermutu.
Petugas humas Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, misalnya, mengeluhkan proposal permintaan dana kepada Dinas Pariswisata setempat dikabulkan, namun setelah dana cair justru dialihkan kepada pihak lain, sebuah event organizer yang memang memiliki relasi sangat dekat dengan pejabat Dinas Pariwisata. Oleh sang event organizer, dana itu juga digunakan untuk membuat perayaan Hari Tari Internasional.
Kekecewaan kedua yang dialami ISI Surakarta, mereka gagal acara mencatatkan perayaan berupa pentas tari selama 24 jam pada 29-30 April itu ke Museum Rekor Indonesia (MURI). Alasannya, “MURI minta duit untuk proses pencatatan itu, sementara kami tak memiliki budget untuk itu,” ujar sang petugas humas itu.
Yang pasti, petinggi MURI akhirnya datang ke Surakarta dan memberikan penghargaan berupa pencatatan dalam daftar rekor Ter…. itu kepada sang event organizer yang berhasil menyelenggarakan pentas Tari Gambyong massal dengan menampilkan 1.000 penari.
Seperti dalam dunia lembaga swadaya masyarakat, sebuah momentum perayaan bisa memiliki status SEKSI atau TIDAK SEKSI. KeSEKSIan itu, jelas merujuk pada besar-kecilnya peluang menggaet dana dari lembaga penyedia dana, apakah itu sebuah kantor pemerintah maupun lembaga donor.
Tapi, begitulah kekuatan uang. Dia luwes, menggoda dan siap mengadu domba kepada siapa saja yang mau menyediakan diri secara sadar untuk ‘terlena’ atau ‘khilaf’.
Masih beruntung, perayaan Hari Tari Internasional di ISI berlangsung cukup meriah. Selama 24 jam penuh, banyak orang berkerumun –meski sebagian besar para pengisi acara dan mahasiswa setempat- di sekitar kampus, tempat berlangsungnya perayaan.
Sayang, sedikit cacat dipertontonkan secara kasat mata di lembaga tinggi kesenian itu. Pertunjukan seorang penampil –kebetulan mahasiswa ISI Surakarta- dirusak oleh sang dosen sendiri. Belum usai Bobby, nama mahasiswa itu, menyelesaikan pertunjukannya, sang dosen sudah menyusul pentas di sebelahnya, sehingga bukan saja penampilan geraknya tak bisa dinikmati, tapi iringan musiknya dikacaukan dengan suara cemeti yang mengiringi penampilan sang dosen.
Satu cacat lainnya, panitia sangat ceroboh mempekerjakan mahasiswanya sendiri dalam hal mendokumentasi dalam bentuk video. Sang kameraman begitu ngawur, masuk dalam stage hanya untuk mengambil detil-detil pertunjukan.

Mungkin, begitulah cara ISI Surakarta mengingatkan saya untuk semakin teguh agar tak mudah gegabah mempercayai semangat berkesenian mereka…………..
Bantahan:
Heru Prasetya, Ketua Mataya Art and Heritage, event organizer yang selama ini kerap bekerja sama dengan Dinas Pariwisata menemui saya, menyatakan bantahannya, bahwa pihaknya menggunakan dana Dinas Pariwisata Kota Surakarta untuk menggelar tarian 1.000 penari Gambyong bertepatan pada Hari Tari Internasional.
Meski di blog ini tak menyebut nama event organizer yang dikelolanya, ia merasa perlu memberi klarifikasi. “Saya sudah menemui petugas humas ISI Surakarta menjelaskan duduk persoalan dana itu. Saya sudah menegaskan kepada dia, bahwa kami tak memperoleh apalagi menggunakan dana Dinas Pariwisata untuk acara itu,” ujar Heru. (Updated: Kamis, 10 Mei 2007 pukul 15.00 WIB)
Bagi saya, Mbah Maridjan adalah sosok unik. Saat ratusan jurnalis mendatanginya lantaran Gunung Merapi sedang menggeliat, tahun lalu, ia menyodorkan teladan dan nasihat menarik. Saat lava pijar rutin meleleh siang-malam, ia mendaki. Ia sedang menjalankan sebuah laku, membersihkan jalan menuju tempat penting dalam kosmologi kekuasaan Jawa, sebuah tempat dimana sesaji Kerajaan Kasultanan Nyagogyakarta Hadiningrat biasa diletakkan.
Akibat pendiriannya yang teguh (oleh sebagian pejabat dianggap ‘mbalela’ karena mbeguguk ngutha waton) dengan menolak meninggalkan rumah, Mbah Maridjan lantas berubah citra menjadi sosok pembangkang. Ia bahkan -secara terbuka- berani menolak perintah Sultan Hamengkubuwono X, penguasa kultural kerajaan yang dulu memberinya status sebagai abdi dalem dengan tugas menjadi juru kunci Gunung Merapi. Peritah Sultan HB X, bagi dia hanyalah perintah Gubernur, bukan raja.
Pertunjukan Membaca Ruang Batu karya Eko Supendi, Surakarta.
Dulu, pada kurun 1990-an, saya sering terlibat (secara tidak langsung) dalam proses penyusunan komposisi tari sejumlah mahasiswa. Akibat intensitas pergaulan yang demikian tinggi saat itu, saya sering digiring pada sikap menyederhanakan persoalan alias nggebyah uyah. Anehnya, tebakan saya jarang meleset: jenis vokabuler gerak dan gaya (karya) mahasiswa itu pasti akan begitu-begitu saja, tergantung selera dosen pembimbingnya.
Pertunjukan Rahwana Wirudha karya Samsuri, Surakarta.
Selepas adegan 10 menit itu, barulah kekacauan mendominasi karya. Hampir 80 menit lamanya, seratusan penonton seperti dibuat bingung. Bukan saja karena visualisasi gagasan yang kian tak jelas, alur cerita pun serasa melompat-lompat. Kadek terkesan terlalu bernafsu untuk menghasilkan karya baru setelah pada 2006 ia absen menghadirkan karya komposisi. Kadek, misalnya, teledor dalam meriset inti pesan yang terkandung dalam Serat Centhini. Siapa, bagaimana dan peran apa sosok Tambangraras dan Amongraga dalam Serat Centhini, lupa dicermatinya. Ia lebih terpesona pada Centhini, sosok abdi setia yang sesungguhnya merupakan representasi penutur dalam kisah hidup Tambangraras-Amongraga.
Pada situasi semacam ini, apa yang bisa diharapkan dari tingginya frekwensi pertunjukan? Sebagai ruang apresiasi? Sulit rasanya menyebut peristiwa kesenian (khususnya tari) kini sebagai ruang apresiasi. Bagi orang yang ‘gemar’ menonton pementasan tari, mungkin cukup setahun saja untuk bisa menyimpulkan, bahwa ada kecenderungan kemandegan eksplorasi gagasan dan visualisasi gerak. Kebanyakan koreografer kita miskin vokabuler gerak. Yang ada hanyalah sistem cut and glue, mengambil dari sana lalu dijahit di sini dengan bumbu stilisasi dan modifikasi seperlunya.
