Korban Gempa dan Lapindo Dihibur Pelawak Pemula
Amien Rais adalah pelawak paling hebat di Indonesia, setidaknya hingga bulan Mei ini. Bukan politisi saja yang terpingkal-pingkal, para korban gempa baik di Klaten dan Bantul bisa lupa akan derita tinggal di tenda. Dana rehabilitasi dan rekonstruksi yang tak kunjung dipenuhi pemerintah, pun terlupakan. Begitu pula dengan para korban lumpur Lapindo di Porong, Sidoarjo. Terima kasih lho Pak Amien….. Anda penghibur sejati, yang sukses meski baru pada taraf pemula.
Serius! Lawakan panjenengan sungguh memukau. Sebagai profesor di fakultas ilmu sosial-politik, Anda sukses menggelitik mahasiswa untuk lebih serius mengkaji model komunikasi politik yang Anda pilih saat ‘bertinju’ melawan Presiden SBY dalam kaitan dana kampanye calon presiden dari Departemen Kelautan dan Perikanan. Kaum pro-reformasi pun bisa memperoleh pijakan baru untuk melakukan tafsir ulang atas makna kata ‘reformasi’ ketika Anda, secara tiba-tiba berdamai menyusul gertakan reaksioner Sang Presiden.
Asli! Saya tidak ndobol! Persoalan besar dan menjadi headline media massa selama berhari-hari, langsung sirna begitu Anda bertemu Pak SBY di Bandara Halim Perdanakusumah. Yang semacam itu, pasti tidak akan terjadi kalau bukan dilakukan oleh orang-orang terpilih seperti Pak Amien, tokoh reformasi yang dulu menumbangkan kekuasaan otoriter yang dibangun selama puluhan tahun oleh Soeharto.
Coba simak baik-baik pernyataan Pak Amien saat konferensi pers di kediamannya, Senin (28/5) siang. Pak Amien bilang, dia sudah bersepakat dengan Pak SBY untuk mengakhiri ’sengketa politik’ mereka, sebab apa yang telah mereka perbuat dan ucapkan beberapa hari sebelumnya, ternyata tak memberi manfaat apa-apa bagi bangsa ini, selain hanya menguntungkan media massa.
Kepada praktisi media, sebaiknya Anda tak usah gusar, apalagi tersinggung. Toh, seperti sudah menjadi kodrat, media massa di Indonesia hanyalah sekumpulan kambing hitam. Mendingan disikapi saja sebagai tugas kenabian, bahwa media massa harus menyediakan diri sebagai pengganti ketika kambing hitam yang sesungguhnya (yang dibeli dengan dana korupsi) sudah telanjur dijadikan sebagai hewan kurban tahunan, ketika para politisi ingin memoles diri supaya tampak saleh.
Pak Amien…… Pak Amien…….
Eh, Pak SBY, tumben panjenengan bisa sereaktif begitu, to? Sampai serius menggelar jumpa pers di istana segala, padahal mungkin saja Pak Amien cuma mau iseng-iseng guyon, siapa tahu namanya berkibar kembali di langit biru seperti pada masa reformasi dulu.
(Saya menganggap Pak SBY serius hanya lantaran tak melihat gerakan-gerakan tangannya saat berbicara saat jumpa pers, loh….)

sengketa apane?!! sampeyan gusar pa ora, kang?
blonty: Begini lho, Kang. Kalau satu pihak menjawab persoalan yang dilontarkan pihak lainnya, lalu pihak pelontar masalah menarik kembali ucapannya, bahkan seolah ‘menganulir’ ucapannya sendiri, mesti kita sebut apa? Menurut saya, lebih pas disebut sengketa karena memang pokok masalah yang sedang dipersoalkan kedua belah pihak (meski kemudian melebar ke banyak pihak) mengandung unsur tawar-menawar. Hehehehe…..
Jujur, aku jengkel dan kecewa dengan sikap Pak Amien. Mestinya, biarkan saja persoalan itu diselesaikan melalui jalur hukum untuk membuktikan siapa yang berbohong dan tidak jujur. Negera ini akan kacau kalau pemimpinnya mencla-mencle dengan ucapannya sendiri. Apa ya pantas, elit politik memberi contoh semacam itu kepada rakyatnya? Kalau memang benar, kenapa harus takut? (Kecuali ada udang di balik rempeyek!)
Comment by anakperi — May 30, 2007 @ 12:26 pm
tapi pengusutan tetap jalan terus…
Comment by Anang — May 31, 2007 @ 5:12 am
wah, nyang-nyangan juga bukan, je… tawar-munawar kan proses information check (jarene kumpeni lho, kang…). Ini masing-masing baru maju sekali, trus sudah… Memang basa-basi thok…, naikin popularitas.
Comment by anakperi — May 31, 2007 @ 10:08 am