Indonesia Performing Arts Minimalis
Sebuah proyek besar baru saja usai digelar. Seniman kembali menjadi obyek eksploitasi kaum berdasi. Seperti anak menari di depan ayah-ibu dan keluarganya sendiri, tak ada kepuasan berarti. Padahal, sang anak sudah sanggup hidup mandiri, bahkan menemukan komunitasnya sendiri.
Pementasan Panji Klaras Keboan Sikep oleh Sri Production, Sidoarjo, Jawa Timur
Begitulah kesan saya terhadap Indonesia Performing Arts Mart (IPAM) 2007 yang berlangsung di kampus ISI Surakarta, 6-7 Juni. Konon, tak satupun buyer hadir dalam event yang digelar oleh Kantor Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata itu. Kalaupun terlihat beberapa orang asing menghadiri rangkaian pertunjukan tari, musik dan teater itu, konon kebanyakan mereka hanyalah pelancong dan sebagian kecil merupakan observer yang ‘dibawa’ oleh salah seorang tokoh seni pertunjukan Indonesia yang terlibat dalam kepanitiaan IPAM .
Kalau ukuran kesuksesan acara adalah penonton yang berjejal, maka IPAM kali ini sukses besar. Seluruh bangku terisi, bahkan banyak yang berdiri berdesakan. Tapi jangan salah, selain gratis, kebanyakan mereka adalah mahasiswa ISI yang (mungkin) terpaksa menonton karena ada tugas mata kuliah kritik tari. Boleh jadi, itu merupakan bagian dari bentuk mobilisasi penonton, yang sebagian sudah mengenal karya para penampil dari Surakarta yang mendominasi jumlah peserta. Apalagi, karya-karya seniman setempat sudah pernah dipentaskan di kota yang sama.
Seperti yang saya duga sebelumnya, IPAM kali ini sama saja dengan festival-festival versi pemerintah lainnya. Konsep tak jelas, jaringan tak punya, meski dana saya yakin banyak tersedia. Mentalitas proyek masih kental, meski melibatkan banyak dewa-dewa kesenian dalam dewan kuratorial.

Suara-suara, koreografi Mugiyono Kasido
Repotnya, sehebat apapun seorang kurator di negeri ini, tak banyak yang bersikap independen dan militan. Saya menyebut demikian, sebab hanya sedikit orang yang saya kenal berani memilih mundur dari sebuah kepanitiaan manakala berhadapan dengan birokrat yang tak memiliki visi yang jelas, yang berpihak pada kemajuan peradaban dan dinamika kesenian itu sendiri.
Alasan saya sederhana saja. Apa yang bisa diperoleh dari IPAM IV kali ini, bila pemberitahuan kepastian tampil bagi peserta hanya kurang dari sepekan sebelum perhelatan digelar? Ada seorang seniman yang bertutur kepada saya, bahwa ia baru dihubungi pada 1 Juni untuk tampil pada 7 Juni.
Seorang lagi, namanya dicoret beberapa hari sebelum acara meski seniman ini justru dihubungi/diundang sendiri oleh panitia pusat pada awal Maret 2007. Pencoretan itu, rupanya hanya dipicu oleh ‘kecerewetan’ manajer si seniman menanyakan persoalan surat kontrak dan hak-haknya sebagai penampil unggulan. Anehnya, seniman ini akhirnya tetap tampil karena diminta kembali oleh panitia, kira-kira empat hari sebelumnya. Namun, nama dan profil kelompok ini tak ada di dalam buku acara. Aneh, bukan?
Lakon Gathik Glindhing oleh kelompok Sahita============>
Lazimnya event serupa yang diadakan Singapura atau negara-negara lainnya, kesiapan panitia sudah tampak sejak dua tahun sebelumnya. “Semua urusan administrasi sudah selesai, paling lambat enam bulan sebelum acara dimulai. Bahkan, tiket pun sudah di tangan sejak jauh-jauh hari,”ujar I Wayan Sadra, komponis yang kerap diundang dalam festival internasional di berbagai negara di Asia, Eropa dan Amerika.
Kurang profesionalnya panitia semakin nampak bila kita menyimak minimnya publikasi. Jangankan di luar negeri atau dalam cakupan nasional. Di Surakarta, kota tempat berlangsungnya acara yang konon untuk mempertemukan buyer/maesenas dari luar negeri dengan seniman Indonesia, pun nyaris tak ada. Kalaupun dijumpai spanduk, hampir bisa dipastikan itu hanya ada di sekitar kampus ISI .
Seorang teman bertutur, saat diundang pada acara serupa di Singapura, pihaknya sudah menerima undangan sejak setahun sebelumnya. Dalam undangan, bahkan sudah tercantum siapa saja yang bakal hadir dalam acara itu, baik mereka yang berkategori buyer, kurator, pengelola pusat kesenian, dan tentu saja profil seniman berikut karya yang bakal disertakan dalam acara tersebut.

PementasanMappasiori Waju oleh Anging Mamiri Foundation, Makassar
Di sini? Perilaku birokrat dan mentalitas proyek, memang sulit diterima akal sehat.


Top !!! Solo butuh wong-2 koyo pak blonthank !!!
Comment by roedywan bebek — September 8, 2007 @ 8:00 am
Antara Taman Budaya, Blonthank Poer & SIEM-fc
(tulisan ini sebagai reaksi logis dari artikel mas Blonthank Poer di-blog garapannya yang banyak menyoroti aktivitas kesenian pada umumnya da SIEM-fc pada khususnya)
Teman-teman seniman termasuk saya mengakui bahwa mas Murtidjono, sebagai ex-direktur Taman Budaya Jawa Tengah (dulu Taman Budaya Surakarta/TBS), dengan sikap pragmatis-nya, menuai keberhasilan yang luar biasa. Cara-cara yang sangat sederhana dia lakukan sebagai jawaban kunci, yaitu harus selalu bisa atau pura-pura bisa dekat dengan para seniman itu sendiri. Dalam hal ini, mas Murtidjono yang lurahnya para seniman itu, selalu berperilaku, berbahasa, bergaya dan bahkan berpakaian seperti para seniman itu. Mas Murtidjono merupakan figur yang selalu tidak setuju dengan adanya birokrasi yang ruwet dan berthele-thele ala pemerintah. Tentu saja, selain harus memutar roda kesenian dan menjalankan institusi yang dilurahi, mas Murtidjono juga harus memikirkan sebuah strategi praktis dan pragmatis agar kekuasaannya tidak pernah digoyang maupun diusik.
Itulah kunci sukses yang menjadikan mas Murtidjono sangat disegani, dihormati dan dipuji-puji sebagai lurah handal yang selalu bisa dekat dengan para seniman. Ini bukan isapan jempol tetapi sebuah kenyataan.
Taman Budaya Surakarta (Jawa Tengah) terlepas dari segala aktivitas seninya, juga menjadi ajang mas Murtidjono untuk kongko-kongo, rasan-rasan, ngrumpi, nyebar gossip dan lain sebagainya, diluar ruang kantornya. Komunitas Ngisor Pelem adalah satu bukti lagi bahwa mas Murtidjono punya strategi yang cantik. Komunitas yang bernaung dibawah pohon mangga dikomplek TBS, banyak melahirkan cantrik2 setia yang siap membela kepentingan para punggowonya . Mas Blonthank Poer adalah salah satu diantaranya. Setelah ngawula (nyantrik) sekian banyak tahun dibawah naungan pohon mangga, mas Blonthank Poer yang mempunyai hobi fotografi akhirnya bisa menambatkan hidupnya didunia pemberitaan. Sebagai wartawan handal dari koran yang katanya, atau lebih tepatnya, beranggapan punya standard internasional, mas Blonthank Poer tidak pernah melupakan induk semangnya yang telah menyuapi, mengajarkan berdiri dengan kedua kakinya dan melatih menyusun kata-kata hingga membuat kalimat indah didalam setiap tulisannya. Mas Blonthank Poer mempunyai KESETIAAN YANG SANGAT TERUJI terhadap TBS dan lurahnya, mas Murtidjono, yang visi dan kebijaksanaannya sangat jelas dan berpihak pada seniman dan kemajuan seni/kebudayaan. (itu kata mas Blonthank Poer lho, dalam tulisannya, di-blog mas Blonthank Poer sendiri yang berjudul “Keunikan (Seniman) Surakarta” - 7 Agustus 2007; jam 05:52 - diakhir paragraf IV)
Seberapa besar visi dan kebijaksanaan mas Murtidjono dan keberpihakannya pada seniman dan kemajuan seni/kebudayaan?
Setelah berkumpul dengan mas Murtidjono dan para senimannya selama lebih kurang 26 tahun, saya tidak pernah bisa melihat visi, kebijakan dan keberpihakan mas Murtidjono pada seniman dan kemajuan seni/kebudayaan, seperti yang dikatakan mas Blonthank Poer.
Saya justru melihat kegagalan mas Murtidjono dalam mengelola Taman Budaya Jawa Tengah. Tutur kata mas Murtidjono yang ceplas-ceplos, cara berpakaiannya yang cenderung eksentrik dan perilaku serta gayanya yang menyerupai seniman-senimannya ternyata hanya mampu meraih simpati mereka dan menghamburkan uang negara dengan cara membiarkan sebagian bawahannya menyunat uang negara yang diperuntukkan sebagai dana stimulan bagai seniman yang berpentas/pameran di Taman Budaya dan tidak pernah menuai keberhasilan yang segnifikan tetapi justru selalu menjadi beban yang berkepanjangan bagi Taman Budaya itu sendiri dan Pemerintah Kota. Sebagai lurah Taman Budaya yang menyandang gelar sarjana Filsafat dan dengan sikap pragmatis-nya, mas Murtidjono, tidak pernah berhasil mencapai tataran konsep dan strategi dalam mendefinisikan nama dari institusi yang dipimpinnya, sehingga gagal dalam menjadikan kota Solo kota yang Berkesenian dan kota Budaya. Mungkin itu yang membuat beberapa teman kerja dan seniman lainnya akhirnya memutuskan untuk mengejar karir dilain tempat.
Sebagai ex-cantrik TBS yang baik dan sangat peduli kota Solo, seharusnya mas Blonthank Poer mampu melayangkan kritik terhadap institusi yang pernah membesarkan namanya, yang mampu mendekatkan mas Blonthank Poer dengan Ford Foundation, mbak Jennifer Lindsay dan yang lainnya, jika masih ada.
Saya melihat rasa tidak senangnya mas Blonthank Poer kepada Solo International Ethnic Music festival & conference, sebagai hal yang tidak proporsional dan hanya karena menaruh rasa simpati kepada para pungowo-punggowonya di Taman Budaya Jawa Tengah yang tidak mampu menggetarkan kota Solo seperti yang telah dilakukan oleh Bambang Sutedjo, Puthut, Gembong, Iga Mawarni, Yasudah dkk dalam menggarap SIEM-fc. Langkah2 taktis, strategis, cerdas dan cantik memberikan SIEM-fc sukses, punya resonansi yang kuat dan multiplyer effect yang cukup segnifikan, walaupun, dalam hal ini, saya juga menyayangkan adanya kelemahan kuratorial dalam pemilihan delegasi, tetapi organizing committee yang kata mas Blonthank Poer tidak berpengalaman, mau belajar dengan baik sehingga mampu meng-eksekusi sebuah perhelatan international dengan sangat cerdas dan cemerlang. Perlu diketahui, mas Blonthank Poer, mas I Wayan Sadra yang kebetulan juga sebagai penampil di SIEM-fc dengan karya usangnya dan mas-mas seniman lainnya, bahwa mereka yang datang ke Benteng Vastenburg tidak hanya tertarik dengan bangunan bersejarah yang sudah lama tertutup oleh rimbunnya belantara semak belukar, tetapi mereka sangat terkesima dengan yang ditampilkan didalamnya. Saya sebagai penonton yang hanya sempat menikmati sajian di hari ke-4 dan 5, juga terkesima seperti ribuan penonton lainnya. dan sangat respect terhadap orang-orang gila dkk yang berani mengambil langkah kontroversial untuk menggelar SIEM-fc di Benteng Vastenburg pada tanggal 1 – 5 September 2007 yang baru lalu.
Marilah kita sama-sama jujur, melihat semuanya dengan jernih dan mengedepankan obyektifitas. Dalam kurun waktu puluhan tahun, dimulai dari sejak berdirinya Taman Budaya Jawa Tengah, sudah banyak macam tontonan yang dipentaskan. Saya hampir yakin, lebih dari 95% yang digelar di SIEM-fc pernah ditampilkan di Taman Budaya Jawa Tengah yang merupakan markas seniman-seniman handal di Solo. Hampir semua kesenian dari Sabang – Merauke dan dari belahan bumi manapun pernah pernah singgah disana. (kalau gak percaya tanya saja pada mas Murtidjono). Yang membuat saya heran, mengapa tidak ada masyarakat Solo yang tahu?. Kalaupun ada yang tahu, jumlahnya bisa dihitung dengan jari tangan. Parameter semacam apa yang dipakai mas Blonthank Poer beserta para punggowo-nya mas Murtidjono untuk mengukur nilai sebuah sukses? Apakah ini hanya sebuah pelampiasan dari rasa iri dan ketidak mampuan menggarap sebuah tontonan?
Sebetulnya bukan hanya institusi mas Murtidjono saja yang tidak punya parameter yang jelas dalam mengukur sebuah sukses, ISI-Solo dan SMKI juga punya ukuran sukses yang tidak jelas dan hanya berdasar pada jumlah teman-teman seniman yang datang untuk melihat. Jumlah warga Solo yang, kalau tidak salah hitung, mendekati angka 600.000 hanyalah patung-patung yang tidak masuk dalam hitungan mereka. Saya sendiri tidak tahu dimana posisi mas Blonthank Poer, sebagai teman-teman seniman atau salah satu dari sekian banyak patung.
Comment by wahyu indrawan — October 8, 2007 @ 12:08 pm