
Pembalap cilik beradu cepat, bahkan memacu semangat dengan mengajak sang kura-kura kesayangan menemani berlaga.
Indonesia pernah punya crosser legendaris bernama Popo Hartopo. Reputasinya terukir dengan memenangi kejuaraan Asia selama tiga kali berturut-turut di Jepang. Sempat redup, kini dunia motocross kita mulai bangkit. Banyak sekolah balap berdiri meski biayanya mencapai Rp 50 juta per tahun. Sayang, banyak crosser kita masih mengendarai motor ilegal.
Disebut ilegal, sebab kebanyakan motor trail, terutama merk-merk terkemuka, kebanyakan masuk tanpa bayar pajak. Begitu kata teman, seorang promotor balapan trail. “Kecuali satu merk asal Eropa, saya berani jamin semua kendaraan itu masuk ke Indonesia lewat jalur ilegal,” kata teman yang minta identitasnya disembunyikan.
Soal memasukkan motor lewat jalan haram, rupanya bukan tanpa sebab. Belasan tahun silam, Pemerintah pernah memberi dispensasi kepada organisasi yang menaungi dunia adu balap. Setiap motor yang diimpor untuk keperluan olahraga keras ini dibebaskan dari pajak barang mewah dan bebas bea masuk. Rupanya, dispensasi itu diselewengkan oknum pengurus. Alhasil, “Ijin impor 10 unit, yang datang 100 unit,” seorang sumber mengibaratkan. Akibat peristiwa itu, pemerintah menghentikan kebijakan pemberian dispensasi itu.
Maka tak aneh, motor 125 cc seharga sekitar Rp 100 juta per unit itu membanjiri pasar gelap sejak beberapa tahun silam. Seorang crosser akan tahu kemana harus memperoleh motor-motor buatan Jepang, tanpa harus mendatangi agen tunggal pemegang merk (ATPM). Konon, ATPM pun tak pernah punya stok kendaraan built up ini.
Menyaksikan praktek perdagangan gelap semacam ini, sebagian penggiat olahraga motocross gerah. Bukan saja lantaran banyak oknum melakukan penyelewengan, namun juga kesal sebab ATPM juga ogah mendatangkan motor balap itu ke Indonesia. Konon, mengimpor motor jenis ini tak ekonomis. Pasar tak secerah motor bebek. Benarkah?
Jimmy Budhijanto menyangkal. Menurut pemilik ATPM motor merk KTM sekaligus promotor klub balap Coyote- KTM ini, pajak dan bea masuk tak bisa dijadikan alasan produsen membuka gerainya di Indonesia. Buktinya, meski harga motor KTM berada di kisaran Rp 90 juta hingga Rp 125 juta, toh angka penjualannya juga bagus. “Harga motor hanya merupakan komponen kecil dalam olahraga motocross. Yang mahal justru untuk pembinaan atlet, latihan rutin dan saat mengikuti perlombaan,” ujar Jimmy.
Jimmy benar. Sekolah balap kini mulai bermunculan di Jakarta, Surakarta dan Yogyakarta. Peminatnya lumayan banyak, terutama anak-anak, meski biaya kursusnya, konon ada yang mencapai Rp 50 juta per tahun. MNE, sebuah klub di Jakarta, bahkan berani mengirim dan membiayai crosser papan atas kita, Aep Dadang untuk berlaga dalam satu musim kompetisi di Australia.

Kini, yang diperlukan adalah sportifitas para stakeholders. Pemerintah perlu membuka kembali kemudahan berupa dispensasi, namun para jangan ada lagi permainan pengurus organisasi olahraga yang memanfaatkan dispensasi untuk memperkaya diri. Bila ini terjadi, “Saya yakin dalam sepuluh tahun ke depan, kita bisa memiliki crosser-crosser handal, yang mampu bersaing dalam kancah internasional,” ujar Judiarto, Ketua Ikatan Motor Indonesia (IMI) Jakarta.

Ini mirip dengan pemain sepakbola cilik/yunior yang punya prestasi. Kalau sudah masuk tingkatan senior, justru amburadul. Salah binaan yang pasti.
Comment by Hedi — June 14, 2007 @ 4:11 am
Ah soal lama. Tapi saya mendua. Dikasih motor trail BM juga mau.
Comment by Paman Tyo — June 15, 2007 @ 5:30 am
ooo … kuwi motor import tooo..
sudah terlanjur menuduh orang2 bengkel yang takkiraain do hebat2, iso bongkar pasang nggawe motor trail dewe.
Comment by granita — June 16, 2007 @ 2:00 am
Ilegal juga nggak masalah, lha wong nggak bakalan dipake di jalan raya, dan nggak diminta tunjuk STNK pas mo balapan.
Nggak cuman trail, tapi juga Harley, bebas semprit pas mogleng2 di jalanan, pulisinya takut kali ye.
Comment by Putra Daerah — June 19, 2007 @ 9:00 am
aduh, sayah naik ojek aja masih serem, apalgi naik trail yah? huhuhu… tengkyu kunjungannya ke blog ku yah mas.. jadi maluuuu… ihikhik… masih di solo kah?
Comment by dinda van medan — June 20, 2007 @ 6:17 am
mas boleh nanya ya? 1.aq ada ktm 250 trus kl mo nyari spare partnya kira2 dimana mas ya? 2.engine saya suratnya cuman faktur trus kl mo ngurus surat2 nya gimana? thank’s a lot
Comment by michael adam — November 16, 2007 @ 7:00 am
Ngga semua illegal, buktinya saya punya Hyosung sy beli diATPMnya langsung bisa OTR, hrganya juga ga tinggi2 amat. Coba aja klo ga percaya ke bilangan ITC-Cipete/Fatmawati. Polri juga ambil disitu.S/Part disiapin juga jadi ga kuatir
blonty: Saya hanya menuliskan apa yang saya lihat dan dengar dari pelakunya, Mas… Bahwa banyak kekurangan dan kekeliruan, biarlah itu menjadi tanggung jawab saya, berikut segala konsekwensinya
Comment by Johny — January 7, 2008 @ 9:35 am
Dear all,
Saya lagi cari motor trail enduro 2nd buatan jepang yang cc nya 125 s/d 200 cc,apakah ada yang tahu dimana tempatnya.tolong inifo by email atau phone.0813 1427 2233, thanks (Abas)
Comment by Abas — February 8, 2008 @ 8:03 am
semoga banyak lagi pembalap yang berbakat…???
Comment by indra jack — June 16, 2008 @ 6:43 am