KasusAugust 7, 2007 5:52 am


Pertunjukan balet di Taman Budaya Surakarta

Dua puluh tahun tinggal di Surakarta sudah cukup membuat saya ‘tahu banyak’ tentang isi perut kota itu, yang menurut saya memang benar-benar unik. Namun, dari sekian jenis keunikan yang ada, hanya kelompok masyarakat bernama seniman yang menurut saya paling unik di antara yang unik-unik itu. Ada dua lelucon yang akhir-akhir ini jadi perbincangan para seniman –makhluk yang saya sebut unik itu!

Pertama, sebuah festival musik etnik berskala internasional yang akan digelar 1-5 September mendatang. Meski tak ada publikasi yang memadai, namun event itu sudah menjadi perbincangan sebagian kecil masyarakat Surakarta. Gemuruh, nyaris gaduh. Boleh jadi, hal itu merupakan bukti telepati masih menjadi bentuk komunikasi paling efektif pada kelompok masyarakat yang telah melahirkan berbagai macam aliran kebatinan itu.

Yang jelas, gemuruhnya perbincangan festival itu –baik yang pro maupun kontra- sudah menggiring asumsi sebagian pihak yang terlibat penyelenggaraan, bahwa masyarakat di Surakarta ‘sudah sangat peduli’. Apalagi, delegasi musisi dari delapan negara akan hadir meramaikan perhelatan agung, dan akan tampil bersama sejumlah seniman musik dari berbagai kelompok etnis dari Sabang hingga Merauke.

‘Kepedulian’ itu diharapkan akan bermuara pada suksesnya acara yang terwujud dalam sebuah keramahan a la orang timur dalam menjamu para tamu. Entah itu dalam memperlakukan para delegasi selama di penginapan, saat plesiran menikmati suasana Kota Budaya, maupun applaus (dan tentu saja) berjubelnya manusia di tengah Benteng Vastenburg selama pesta musik berlangsung.

Jujur, saya pesimis acara itu bisa berlangsung sesuai harapan penyelenggara, meski saya berharap event itu menuai sukses besar. Alasannya sederhana saja: sayang kalau uang ratusan juta (atau miliar?) rupiah harus melayang sia-sia. Alasan lainnya, saya tak kuat mendengar omongan orang yang mendiskreditkan warga Surakarta. Jelek-jelek, saya sudah merasa bagian dari warga Surakarta Yang Berbudaya.

(Saya sudah sering tersinggung ketika mendengar umpatan banyak orang yang kecewa karena hanya menjumpai ‘menu’ yang itu-itu saja, baik pada saat Festival Sriwedari, Festival Bonrojo maupun festival-festival dan bentuk keramaian lainnya, tahun demi tahun. Bagaimana industri pariwisata bakal berkembang kalau pendatang selalu dikecewakan?)

Peristiwa kedua yang tak kalah lucunya adalah ‘keresahan massal’ sejumlah seniman lantaran Pak Murtidjono pensiun sebagai Kepala Taman Budaya Jawa Tengah yang berkantor di Surakarta. Mereka kuatir, setelah Pak Murti pensiun, Taman Budaya akan dikelola birokrat pariwisata yang mereka anggap tak tahu kesenian (dan karena itu akan mengesampingkan ekspresi kreatif dan kerja intelektual seniman).

Kelucuan itu, sepanjang yang saya ketahui, sebagian dari yang resah itu adalah orang-orang yang selama ini kurang peduli, bahkan banyak yang tak suka kepada sosok Pak Murti. Sebagian lainnya, justru terdiri dari orang-orang dalam alias birokrat kesenian yang selama ini justru menikmati eksentrisitas Pak Murti. Gaya bahasa Pak Murti yang ceplas-ceplos dan lugas dijadikan alasan untuk tidak menyukainya (bahkan menyerangnya), kendati visi dan kebijakan Pak Murti sangat jelas dan berpihak pada seniman dan kemajuan seni/kebudayaan.

(Satu keunikan Pak Murti yang tak diketahui banyak orang adalah ‘pembiaran’ perilaku sebagian bawahannya yang suka menyunat duit negara yang diperuntukkan sebagai dana stimulan bagi seniman yang berpentas/pameran di Taman Budaya, sepanjang tidak melampaui batas! Padahal, banyak dari mereka telah dihukum dengan beragam caranya sendiri, seperti dimutasi jadi tukang antar surat dinas, non-job, atau dipermalukan di hadapan para staf dan komunitas seni, demi memunjulkan efek jera).

Begitulah sekilas keunikan ‘seniman’ di Surakarta yang sempat saya ketahui (meski tak pernah menjadi mengerti…..)

PeristiwaAugust 6, 2007 11:15 am

Tak seperti lazimnya peragaan busana, Iwan Tirta menyajikan suguhan menarik untuk publik di berbagai kota di Indonesia, tak terkecuali Surakarta. Menarik yang saya maksud adalah medium ekspresinya, yakni lewat langendriyan, sebuah opera Jawa. Bertajuk Tandhing Gendhing, opera itu berupa fragmen Mahabharata yang bertutur tentang pertikaian Pandhawa dan Kurawa.

Desainer bernama asli Nusjirwan Tirtaamidjaja itu menyiapkan desain khusus untuk masing-masing tokoh. Dia yakin, setiap motif batik memiliki filosofi sendiri-sendiri sehingga harus diselaraskan dengan watak dan sifat tokohnya. Rupanya, ia bukan tipe orang yang gegabah untuk urusan demikian. Bima atau Werkudara yang gagah dan lugas misalnya, tidak mungkin mengenakan kostum yang sama dengan Arjuna yang anggun penuh pesona, meski sama-sama berasal dari kultur ‘putih’-nya Pandawa.

Keseriusan Iwan Tirta dalam mencipta desain batik –termasuk berusaha melindungi hak ciptanya, agar tak dibajak seperti tempe- kian meyakinkan saya, bahwa pengetahuannya mengenai batik memang mahaluas dan layak dijadikan rujukan menimba pengetahuan tentang beraneka jenis corak dan motif batik yang hidup di berbagai kelompok masyarakat Indonesia.

Dalam sebuah kesempatan, saya bertanya kepadanya mengenai motif Alas-alasan karya Iwan yang digunakan untuk kostum tari Dirada Meta dalam sebuah acara di Pura Mangkunageran, beberapa bulan silam. Sontak ia menjawab: Itu ngawur! Saya baru diberitahu empat hari sebelum pementasan mengenai penggunaan batik itu untuk kostum tarian penting itu!

Rupanya, Iwan sependapat dengan saya, bahwa merekonstruksi sebuah tarian yang lama ‘punah’ tidaklah mudah. Ia menganalogikannya dengan proses rekonstruksi Candi Prambanan yang tidak boleh asal menyusun bebatuan. “Perlu riset panjang sebelum sampai pada sebuah kesimpulan. Apalagi, dalam kasus tari Dirada Meta sudah tak ada lagi acuannya, termasuk petunjuk teks dan gambar, baik untuk ragam gerak maupun kostumnya.

Saya jadi teringat betapa seluruh anggota yang terlibat dalam tim rekonstruksi tarian Dirada Meta hanya berkutat pada masalah ragam gerak dan gending iringannya yang lantas dihubung-hubungkan dengan peristiwa peperangan RM Said dan pasukannya melawan tentara kolonial Belanda di sebuah hutan di Blora. Rupanya, tim kreatif tarian itu bertindak simplistis, karena pertempuran berlangsung di hutan, maka motif Alas-alasan akan cocok untuk itu. Asal tahu saja, alas adalah bahasa Jawa yang padanan bahasa Indonesianya adalah ‘hutan’.

Satu hal yang patut diacungi jempol dari kerja keras Iwan Tirta adalah konsistensinya memajukan batik Indonesia, termasuk upaya pelestarian sejumlah motif batik yang hampir punah. Soal karya Tandhing Gendhing, maaf, saya hanya ingin berkomentar singkat saja. Koreografinya yang kedodoran menjadikan karya-karya batik Iwan Tirta jadi tampak terabaikan…… Hanya sekadar kostum!

Semoga di tempat-tempat lain bisa tampil lebih baik. Mumpung masih ada kesempatan.