Fashion Show-nya Unik, Koreografinya Kedodoran
Tak seperti lazimnya peragaan busana, Iwan Tirta menyajikan suguhan menarik untuk publik di berbagai kota di Indonesia, tak terkecuali Surakarta. Menarik yang saya maksud adalah medium ekspresinya, yakni lewat langendriyan, sebuah opera Jawa. Bertajuk Tandhing Gendhing, opera itu berupa fragmen Mahabharata yang bertutur tentang pertikaian Pandhawa dan Kurawa.
Desainer bernama asli Nusjirwan Tirtaamidjaja itu menyiapkan desain khusus untuk masing-masing tokoh. Dia yakin, setiap motif batik memiliki filosofi sendiri-sendiri sehingga harus diselaraskan dengan watak dan sifat tokohnya. Rupanya, ia bukan tipe orang yang gegabah untuk urusan demikian. Bima atau Werkudara yang gagah dan lugas misalnya, tidak mungkin mengenakan kostum yang sama dengan Arjuna yang anggun penuh pesona, meski sama-sama berasal dari kultur ‘putih’-nya Pandawa.
Keseriusan Iwan Tirta dalam mencipta desain batik –termasuk berusaha melindungi hak ciptanya, agar tak dibajak seperti tempe- kian meyakinkan saya, bahwa pengetahuannya mengenai batik memang mahaluas dan layak dijadikan rujukan menimba pengetahuan tentang beraneka jenis corak dan motif batik yang hidup di berbagai kelompok masyarakat Indonesia.
Dalam sebuah kesempatan, saya bertanya kepadanya mengenai motif Alas-alasan karya Iwan yang digunakan untuk kostum tari Dirada Meta dalam sebuah acara di Pura Mangkunageran, beberapa bulan silam. Sontak ia menjawab: Itu ngawur! Saya baru diberitahu empat hari sebelum pementasan mengenai penggunaan batik itu untuk kostum tarian penting itu!

Rupanya, Iwan sependapat dengan saya, bahwa merekonstruksi sebuah tarian yang lama ‘punah’ tidaklah mudah. Ia menganalogikannya dengan proses rekonstruksi Candi Prambanan yang tidak boleh asal menyusun bebatuan. “Perlu riset panjang sebelum sampai pada sebuah kesimpulan. Apalagi, dalam kasus tari Dirada Meta sudah tak ada lagi acuannya, termasuk petunjuk teks dan gambar, baik untuk ragam gerak maupun kostumnya.
Saya jadi teringat betapa seluruh anggota yang terlibat dalam tim rekonstruksi tarian Dirada Meta hanya berkutat pada masalah ragam gerak dan gending iringannya yang lantas dihubung-hubungkan dengan peristiwa peperangan RM Said dan pasukannya melawan tentara kolonial Belanda di sebuah hutan di Blora. Rupanya, tim kreatif tarian itu bertindak simplistis, karena pertempuran berlangsung di hutan, maka motif Alas-alasan akan cocok untuk itu. Asal tahu saja, alas adalah bahasa Jawa yang padanan bahasa Indonesianya adalah ‘hutan’.
Satu hal yang patut diacungi jempol dari kerja keras Iwan Tirta adalah konsistensinya memajukan batik Indonesia, termasuk upaya pelestarian sejumlah motif batik yang hampir punah. Soal karya Tandhing Gendhing, maaf, saya hanya ingin berkomentar singkat saja. Koreografinya yang kedodoran menjadikan karya-karya batik Iwan Tirta jadi tampak terabaikan…… Hanya sekadar kostum!
Semoga di tempat-tempat lain bisa tampil lebih baik. Mumpung masih ada kesempatan.

kebudayaan batik memang patut untuk dilestarikan,karena itu merupakan salah satu unsur identitas bangsa.melalui peragaaan busana,kita tentu dapat lebih memperkenalkan budaya batik ke mancanegara.
Comment by nanny — September 8, 2007 @ 4:11 am
Antara Taman Budaya, Blonthank Poer & SIEM-fc
(tulisan ini sebagai reaksi logis dari artikel mas Blonthank Poer di-blog garapannya yang banyak menyoroti aktivitas kesenian pada umumnya da SIEM-fc pada khususnya)
Teman-teman seniman termasuk saya mengakui bahwa mas Murtidjono, sebagai ex-direktur Taman Budaya Jawa Tengah (dulu Taman Budaya Surakarta/TBS), dengan sikap pragmatis-nya, menuai keberhasilan yang luar biasa. Cara-cara yang sangat sederhana dia lakukan sebagai jawaban kunci, yaitu harus selalu bisa atau pura-pura bisa dekat dengan para seniman itu sendiri. Dalam hal ini, mas Murtidjono yang lurahnya para seniman itu, selalu berperilaku, berbahasa, bergaya dan bahkan berpakaian seperti para seniman itu. Mas Murtidjono merupakan figur yang selalu tidak setuju dengan adanya birokrasi yang ruwet dan berthele-thele ala pemerintah. Tentu saja, selain harus memutar roda kesenian dan menjalankan institusi yang dilurahi, mas Murtidjono juga harus memikirkan sebuah strategi praktis dan pragmatis agar kekuasaannya tidak pernah digoyang maupun diusik.
Itulah kunci sukses yang menjadikan mas Murtidjono sangat disegani, dihormati dan dipuji-puji sebagai lurah handal yang selalu bisa dekat dengan para seniman. Ini bukan isapan jempol tetapi sebuah kenyataan.
Taman Budaya Surakarta (Jawa Tengah) terlepas dari segala aktivitas seninya, juga menjadi ajang mas Murtidjono untuk kongko-kongo, rasan-rasan, ngrumpi, nyebar gossip dan lain sebagainya, diluar ruang kantornya. Komunitas Ngisor Pelem adalah satu bukti lagi bahwa mas Murtidjono punya strategi yang cantik. Komunitas yang bernaung dibawah pohon mangga dikomplek TBS, banyak melahirkan cantrik2 setia yang siap membela kepentingan para punggowonya . Mas Blonthank Poer adalah salah satu diantaranya. Setelah ngawula (nyantrik) sekian banyak tahun dibawah naungan pohon mangga, mas Blonthank Poer yang mempunyai hobi fotografi akhirnya bisa menambatkan hidupnya didunia pemberitaan. Sebagai wartawan handal dari koran yang katanya, atau lebih tepatnya, beranggapan punya standard internasional, mas Blonthank Poer tidak pernah melupakan induk semangnya yang telah menyuapi, mengajarkan berdiri dengan kedua kakinya dan melatih menyusun kata-kata hingga membuat kalimat indah didalam setiap tulisannya. Mas Blonthank Poer mempunyai KESETIAAN YANG SANGAT TERUJI terhadap TBS dan lurahnya, mas Murtidjono, yang visi dan kebijaksanaannya sangat jelas dan berpihak pada seniman dan kemajuan seni/kebudayaan. (itu kata mas Blonthank Poer lho, dalam tulisannya, di-blog mas Blonthank Poer sendiri yang berjudul “Keunikan (Seniman) Surakarta” - 7 Agustus 2007; jam 05:52 - diakhir paragraf IV)
Seberapa besar visi dan kebijaksanaan mas Murtidjono dan keberpihakannya pada seniman dan kemajuan seni/kebudayaan?
Setelah berkumpul dengan mas Murtidjono dan para senimannya selama lebih kurang 26 tahun, saya tidak pernah bisa melihat visi, kebijakan dan keberpihakan mas Murtidjono pada seniman dan kemajuan seni/kebudayaan, seperti yang dikatakan mas Blonthank Poer.
Saya justru melihat kegagalan mas Murtidjono dalam mengelola Taman Budaya Jawa Tengah. Tutur kata mas Murtidjono yang ceplas-ceplos, cara berpakaiannya yang cenderung eksentrik dan perilaku serta gayanya yang menyerupai seniman-senimannya ternyata hanya mampu meraih simpati mereka dan menghamburkan uang negara dengan cara membiarkan sebagian bawahannya menyunat uang negara yang diperuntukkan sebagai dana stimulan bagai seniman yang berpentas/pameran di Taman Budaya dan tidak pernah menuai keberhasilan yang segnifikan tetapi justru selalu menjadi beban yang berkepanjangan bagi Taman Budaya itu sendiri dan Pemerintah Kota. Sebagai lurah Taman Budaya yang menyandang gelar sarjana Filsafat dan dengan sikap pragmatis-nya, mas Murtidjono, tidak pernah berhasil mencapai tataran konsep dan strategi dalam mendefinisikan nama dari institusi yang dipimpinnya, sehingga gagal dalam menjadikan kota Solo kota yang Berkesenian dan kota Budaya. Mungkin itu yang membuat beberapa teman kerja dan seniman lainnya akhirnya memutuskan untuk mengejar karir dilain tempat.
Sebagai ex-cantrik TBS yang baik dan sangat peduli kota Solo, seharusnya mas Blonthank Poer mampu melayangkan kritik terhadap institusi yang pernah membesarkan namanya, yang mampu mendekatkan mas Blonthank Poer dengan Ford Foundation, mbak Jennifer Lindsay dan yang lainnya, jika masih ada.
Saya melihat rasa tidak senangnya mas Blonthank Poer kepada Solo International Ethnic Music festival & conference, sebagai hal yang tidak proporsional dan hanya karena menaruh rasa simpati kepada para pungowo-punggowonya di Taman Budaya Jawa Tengah yang tidak mampu menggetarkan kota Solo seperti yang telah dilakukan oleh Bambang Sutedjo, Puthut, Gembong, Iga Mawarni, Yasudah dkk dalam menggarap SIEM-fc. Langkah2 taktis, strategis, cerdas dan cantik memberikan SIEM-fc sukses, punya resonansi yang kuat dan multiplyer effect yang cukup segnifikan, walaupun, dalam hal ini, saya juga menyayangkan adanya kelemahan kuratorial dalam pemilihan delegasi, tetapi organizing committee yang kata mas Blonthank Poer tidak berpengalaman, mau belajar dengan baik sehingga mampu meng-eksekusi sebuah perhelatan international dengan sangat cerdas dan cemerlang. Perlu diketahui, mas Blonthank Poer, mas I Wayan Sadra yang kebetulan juga sebagai penampil di SIEM-fc dengan karya usangnya dan mas-mas seniman lainnya, bahwa mereka yang datang ke Benteng Vastenburg tidak hanya tertarik dengan bangunan bersejarah yang sudah lama tertutup oleh rimbunnya belantara semak belukar, tetapi mereka sangat terkesima dengan yang ditampilkan didalamnya. Saya sebagai penonton yang hanya sempat menikmati sajian di hari ke-4 dan 5, juga terkesima seperti ribuan penonton lainnya. dan sangat respect terhadap orang-orang gila dkk yang berani mengambil langkah kontroversial untuk menggelar SIEM-fc di Benteng Vastenburg pada tanggal 1 – 5 September 2007 yang baru lalu.
Marilah kita sama-sama jujur, melihat semuanya dengan jernih dan mengedepankan obyektifitas. Dalam kurun waktu puluhan tahun, dimulai dari sejak berdirinya Taman Budaya Jawa Tengah, sudah banyak macam tontonan yang dipentaskan. Saya hampir yakin, lebih dari 95% yang digelar di SIEM-fc pernah ditampilkan di Taman Budaya Jawa Tengah yang merupakan markas seniman-seniman handal di Solo. Hampir semua kesenian dari Sabang – Merauke dan dari belahan bumi manapun pernah pernah singgah disana. (kalau gak percaya tanya saja pada mas Murtidjono). Yang membuat saya heran, mengapa tidak ada masyarakat Solo yang tahu?. Kalaupun ada yang tahu, jumlahnya bisa dihitung dengan jari tangan. Parameter semacam apa yang dipakai mas Blonthank Poer beserta para punggowo-nya mas Murtidjono untuk mengukur nilai sebuah sukses? Apakah ini hanya sebuah pelampiasan dari rasa iri dan ketidak mampuan menggarap sebuah tontonan?
Sebetulnya bukan hanya institusi mas Murtidjono saja yang tidak punya parameter yang jelas dalam mengukur sebuah sukses, ISI-Solo dan SMKI juga punya ukuran sukses yang tidak jelas dan hanya berdasar pada jumlah teman-teman seniman yang datang untuk melihat. Jumlah warga Solo yang, kalau tidak salah hitung, mendekati angka 600.000 hanyalah patung-patung yang tidak masuk dalam hitungan mereka. Saya sendiri tidak tahu dimana posisi mas Blonthank Poer, sebagai teman-teman seniman atau salah satu dari sekian banyak patung.
Comment by wahyu indrawan — October 8, 2007 @ 5:23 pm