SIEM, Festival Musik Asal-asalan
Sebuah festival digelar, banyak persoalan terhampar. Ada yang curiga pada motif di balik pesta, tak sedikit pula yang pesimis terhadap kesuksesan acara. Yang sudah pasti, rumor siapa untung dan siapa pula yang buntung, sudah merebak ke seantero kota.

Benteng Vastenburg, situs bersejarah yang digunakan sebagai lokasi Festival Internasional Musik Etnik 2007
Saya adalah satu dari sebagian orang yang pesimis pada suksesnya acara Solo International Ethnic Music Festival ( SIEM). Tak cuma pesimis, saya bahkan merasa menjadi orang yang paling kecewa dengan manajemen penyelenggaraan yang menurut saya, sungguh awut-awutan. Sejak semula, saya sudah mengusulkan kepada ketua penyelenggara agar tegas merombak susunan panitia, terutama di jajaran board of artistic-nya.
Argumentasi saya sederhana, sebuah festival -apalagi seambisius SIEM, harus dirancang secara sungguh-sungguh dan dengan perencanaan yang matang. Sistem kuratorial menjadi bagian paling penting dibanding faktor-faktor lainnya, seperti manajemen penyelenggaraan dan sebagainya. Untuk itu, kredibilitas kurator menjadi syarat mutlak untuk menghasilkan pertunjukan yang menarik, dan tentu saja bisa dipertanggungjawabkan.

Folkcorn, sebuah kelompok musik etnik asal Belanda. Dimotori seorang perempuan Belanda kelahiran Probolinggo, Jawa Timur
Usulan semacam itu sudah saya sampaikan sekira enam bulan silam, ketika Ketua Penyelenggara mengajak berbincang perihal ambisinya membuat acara. Rupanya, waktu bergulir sangat cepat. Sang Ketua mulai kecapekan mengurus rumor patgulipat sebagian panitia. Ia juga pusing menghadapi resistensi sejumlah seniman Surakarta atas acara yang hendak digelarnya, hingga kemudian ia mengajak kembali berbincang dengan saya.
Tapi, pembicaraan tetaplah sebatas obrolan. Tanpa komitmen, tak ada pula kesepakatan. Sang Ketua tetap berjalan dengan idenya, saya pun tetap yakin dengan pendirian saya, bahwa SIEM hanya akan menjadi forum mubazir, buang-buang duit dan merugikan masa depan pariwisata Surakarta. Seperti festival-festival yang rutin digelar sebuah event organizer bersama Dinas Pariwisata Surakarta, hasilnya kerap membuat kecewa.

Anak-anak sekolah internasional Korea di Jakarta, sedang berpawai menjelang festival. Mereka tergabung dalam kelompok Korea Choir
Orang sering berharap banyak pada festival demikian, namun yang lahir hanyalah kekecewaan. Persoalannya sama dan selalu berulang: tak ada sistem dan standar kuratorial yang jelas, serta digelar oleh segelintir orang yang memang tak paham benar dengan bidang pekerjaan yang sedang dilakoninya.
Keterangan: Foto-foto di atas diambil dengan menggunakan Nokia 6275i

Jadi, banyak pengisi acara yang diundang ke SIEM kurang bagus, ya? Wah untung dong saya, yang ga jadi ke sana
Comment by Hedi — September 3, 2007 @ 3:41 am
Tapi koq semalam aq lihat acaraE TE-O-PE BE-GE-TE?apalagi waktu Mas Dwiki and the next generation tampil,itu mungkin akan menjadi pengalaman yang menarik bwtQ ^_^
Nanti malem aq akan lihat lg,kn ad penampilan dari Gilang Ramadhan!!!!!
Comment by surya — September 4, 2007 @ 4:58 am
pertama memang tak sempurna, jangan cuman ngeritik tapi kasih solusi. emang udah liat? lihat dulu baru komentar.
Comment by warga solo — September 4, 2007 @ 3:06 pm
ehm untuk jadi orang bijak mudah banget mas blontank, tapi kadang panjenengan persulit. Surakarta butuh suport dan solusi dr kegiatan2 festival.Ada nafas baru dalam mewujudkan bentuk tontonan adalah suatu yang patut diberi ruang. agar saat evaluasi bisa dijadikan pijakan kedepan untuk yang lebih sempurna. Matur nuwun.
Comment by gitri — September 6, 2007 @ 8:46 am
SIEM acara paling berkualitas yang pernah saya liat ,selama 2 tahun tinggal di solo, pokoknya keren
Comment by anwar — September 8, 2007 @ 4:01 am
weleh2… sy mbaca jadi ngeri,(thang, kw nek gawe ukoro jan ngedap-edapi),benar… mungkin sistem dan standar kuratorial yang perlu di benahi, banyak pengisi acara tampil dg durasi terlalu lama (bosan), Mbek-e india nari thok suuuwi koyo 17-an, tapi maju terus seni pertunjukan solo.
Comment by burhan — September 11, 2007 @ 8:48 am
Oalah mas…mas..Beruntung Solo ada event se-berkualitas ini. Nyuwun sewu, tolong anda sekali-kali bertanya dengan panitia yang bersangkutan. Jadi tidak asal (nyuwun sewu) njeplak.
Yang penting itu menurut saya, ada permulaan, ada yang berani memulai. Boleh ngritik, boleh nyaran, tapi tolong lebih cerdas, obyektif, dan nggak waton (nyuwun sewu malih) njeplak.
Saya tau wong anda ni bukan orang Solo, jadi ya wajar.
Comment by Hakim — October 4, 2007 @ 6:59 pm
Antara Taman Budaya, Blonthank Poer & SIEM-fc
(tulisan ini sebagai reaksi logis dari artikel mas Blonthank Poer di-blog garapannya yang banyak menyoroti aktivitas kesenian pada umumnya da SIEM-fc pada khususnya)
Teman-teman seniman termasuk saya mengakui bahwa mas Murtidjono, sebagai ex-direktur Taman Budaya Jawa Tengah (dulu Taman Budaya Surakarta/TBS), dengan sikap pragmatis-nya, menuai keberhasilan yang luar biasa. Cara-cara yang sangat sederhana dia lakukan sebagai jawaban kunci, yaitu harus selalu bisa atau pura-pura bisa dekat dengan para seniman itu sendiri. Dalam hal ini, mas Murtidjono yang lurahnya para seniman itu, selalu berperilaku, berbahasa, bergaya dan bahkan berpakaian seperti para seniman itu. Mas Murtidjono merupakan figur yang selalu tidak setuju dengan adanya birokrasi yang ruwet dan berthele-thele ala pemerintah. Tentu saja, selain harus memutar roda kesenian dan menjalankan institusi yang dilurahi, mas Murtidjono juga harus memikirkan sebuah strategi praktis dan pragmatis agar kekuasaannya tidak pernah digoyang maupun diusik.
Itulah kunci sukses yang menjadikan mas Murtidjono sangat disegani, dihormati dan dipuji-puji sebagai lurah handal yang selalu bisa dekat dengan para seniman. Ini bukan isapan jempol tetapi sebuah kenyataan.
Taman Budaya Surakarta (Jawa Tengah) terlepas dari segala aktivitas seninya, juga menjadi ajang mas Murtidjono untuk kongko-kongo, rasan-rasan, ngrumpi, nyebar gossip dan lain sebagainya, diluar ruang kantornya. Komunitas Ngisor Pelem adalah satu bukti lagi bahwa mas Murtidjono punya strategi yang cantik. Komunitas yang bernaung dibawah pohon mangga dikomplek TBS, banyak melahirkan cantrik2 setia yang siap membela kepentingan para punggowonya . Mas Blonthank Poer adalah salah satu diantaranya. Setelah ngawula (nyantrik) sekian banyak tahun dibawah naungan pohon mangga, mas Blonthank Poer yang mempunyai hobi fotografi akhirnya bisa menambatkan hidupnya didunia pemberitaan. Sebagai wartawan handal dari koran yang katanya, atau lebih tepatnya, beranggapan punya standard internasional, mas Blonthank Poer tidak pernah melupakan induk semangnya yang telah menyuapi, mengajarkan berdiri dengan kedua kakinya dan melatih menyusun kata-kata hingga membuat kalimat indah didalam setiap tulisannya. Mas Blonthank Poer mempunyai KESETIAAN YANG SANGAT TERUJI terhadap TBS dan lurahnya, mas Murtidjono, yang visi dan kebijaksanaannya sangat jelas dan berpihak pada seniman dan kemajuan seni/kebudayaan. (itu kata mas Blonthank Poer lho, dalam tulisannya, di-blog mas Blonthank Poer sendiri yang berjudul “Keunikan (Seniman) Surakarta” - 7 Agustus 2007; jam 05:52 - diakhir paragraf IV)
Seberapa besar visi dan kebijaksanaan mas Murtidjono dan keberpihakannya pada seniman dan kemajuan seni/kebudayaan?
Setelah berkumpul dengan mas Murtidjono dan para senimannya selama lebih kurang 26 tahun, saya tidak pernah bisa melihat visi, kebijakan dan keberpihakan mas Murtidjono pada seniman dan kemajuan seni/kebudayaan, seperti yang dikatakan mas Blonthank Poer.
Saya justru melihat kegagalan mas Murtidjono dalam mengelola Taman Budaya Jawa Tengah. Tutur kata mas Murtidjono yang ceplas-ceplos, cara berpakaiannya yang cenderung eksentrik dan perilaku serta gayanya yang menyerupai seniman-senimannya ternyata hanya mampu meraih simpati mereka dan menghamburkan uang negara dengan cara membiarkan sebagian bawahannya menyunat uang negara yang diperuntukkan sebagai dana stimulan bagai seniman yang berpentas/pameran di Taman Budaya dan tidak pernah menuai keberhasilan yang segnifikan tetapi justru selalu menjadi beban yang berkepanjangan bagi Taman Budaya itu sendiri dan Pemerintah Kota. Sebagai lurah Taman Budaya yang menyandang gelar sarjana Filsafat dan dengan sikap pragmatis-nya, mas Murtidjono, tidak pernah berhasil mencapai tataran konsep dan strategi dalam mendefinisikan nama dari institusi yang dipimpinnya, sehingga gagal dalam menjadikan kota Solo kota yang Berkesenian dan kota Budaya. Mungkin itu yang membuat beberapa teman kerja dan seniman lainnya akhirnya memutuskan untuk mengejar karir dilain tempat.
Sebagai ex-cantrik TBS yang baik dan sangat peduli kota Solo, seharusnya mas Blonthank Poer mampu melayangkan kritik terhadap institusi yang pernah membesarkan namanya, yang mampu mendekatkan mas Blonthank Poer dengan Ford Foundation, mbak Jennifer Lindsay dan yang lainnya, jika masih ada.
Saya melihat rasa tidak senangnya mas Blonthank Poer kepada Solo International Ethnic Music festival & conference, sebagai hal yang tidak proporsional dan hanya karena menaruh rasa simpati kepada para pungowo-punggowonya di Taman Budaya Jawa Tengah yang tidak mampu menggetarkan kota Solo seperti yang telah dilakukan oleh Bambang Sutedjo, Puthut, Gembong, Iga Mawarni, Yasudah dkk dalam menggarap SIEM-fc. Langkah2 taktis, strategis, cerdas dan cantik memberikan SIEM-fc sukses, punya resonansi yang kuat dan multiplyer effect yang cukup segnifikan, walaupun, dalam hal ini, saya juga menyayangkan adanya kelemahan kuratorial dalam pemilihan delegasi, tetapi organizing committee yang kata mas Blonthank Poer tidak berpengalaman, mau belajar dengan baik sehingga mampu meng-eksekusi sebuah perhelatan international dengan sangat cerdas dan cemerlang. Perlu diketahui, mas Blonthank Poer, mas I Wayan Sadra yang kebetulan juga sebagai penampil di SIEM-fc dengan karya usangnya dan mas-mas seniman lainnya, bahwa mereka yang datang ke Benteng Vastenburg tidak hanya tertarik dengan bangunan bersejarah yang sudah lama tertutup oleh rimbunnya belantara semak belukar, tetapi mereka sangat terkesima dengan yang ditampilkan didalamnya. Saya sebagai penonton yang hanya sempat menikmati sajian di hari ke-4 dan 5, juga terkesima seperti ribuan penonton lainnya. dan sangat respect terhadap orang-orang gila dkk yang berani mengambil langkah kontroversial untuk menggelar SIEM-fc di Benteng Vastenburg pada tanggal 1 – 5 September 2007 yang baru lalu.
Marilah kita sama-sama jujur, melihat semuanya dengan jernih dan mengedepankan obyektifitas. Dalam kurun waktu puluhan tahun, dimulai dari sejak berdirinya Taman Budaya Jawa Tengah, sudah banyak macam tontonan yang dipentaskan. Saya hampir yakin, lebih dari 95% yang digelar di SIEM-fc pernah ditampilkan di Taman Budaya Jawa Tengah yang merupakan markas seniman-seniman handal di Solo. Hampir semua kesenian dari Sabang – Merauke dan dari belahan bumi manapun pernah pernah singgah disana. (kalau gak percaya tanya saja pada mas Murtidjono). Yang membuat saya heran, mengapa tidak ada masyarakat Solo yang tahu?. Kalaupun ada yang tahu, jumlahnya bisa dihitung dengan jari tangan. Parameter semacam apa yang dipakai mas Blonthank Poer beserta para punggowo-nya mas Murtidjono untuk mengukur nilai sebuah sukses? Apakah ini hanya sebuah pelampiasan dari rasa iri dan ketidak mampuan menggarap sebuah tontonan?
Sebetulnya bukan hanya institusi mas Murtidjono saja yang tidak punya parameter yang jelas dalam mengukur sebuah sukses, ISI-Solo dan SMKI juga punya ukuran sukses yang tidak jelas dan hanya berdasar pada jumlah teman-teman seniman yang datang untuk melihat. Jumlah warga Solo yang, kalau tidak salah hitung, mendekati angka 600.000 hanyalah patung-patung yang tidak masuk dalam hitungan mereka. Saya sendiri tidak tahu dimana posisi mas Blonthank Poer, sebagai teman-teman seniman atau salah satu dari sekian banyak patung.
p.s. saya juga membuka diskusi melalui e-mail
silahkan tulis ke tamanbudaya@yahoo.co.au
Comment by wahyu indrawan — October 8, 2007 @ 12:04 pm
Etika & Blonthank Poer
Blonthank Poer yang asuhan Taman Budaya Surakarta (sekarang menjadi Taman Budaya Jawa Tengah) adalah sosok manusia kerdil yang pernah saya kenal. Badannya yang relatif kecil, matanya yang tidakakan bisa melihat dengan sempurna tanpa kacamata dan kulitnya yang sawo terlalu matang menjadi ciri fisik yang mudah dikenali, jika dia berdiri sendirian dipadang luas bersama dengan domba-domba Jesus yang berbulu putih bersih. Ciri-ciri yang lain dari Blonthank Poer adalah ambisnya melebihi Hitler ataupun Napoleon. Bahkan, demi ambisinya Blonthank Poer tidak segan merogoh koceknya sampai anak-istrinya tidak kebagian nafkah.
Jika Blonthank Poer mulai tidak senang dengan orang lain, sampai keujung nerakapun akan dikejar untuk dimaki-maki, dicelakakan dan ditutup semua kemungkinan geraknya sampai orang lain tersebut benar-benar mati kutu. Untuk keperluan ini Blonthank Poer rela mengeluarkan duit untuk bayar suruhannya atau untuk apapun yang perlu dia biayai, sampai-sampai ank-istri yang menangis karena kelaparan tidak digubrisnya.
Sebagai wartawan foto, dikalangan wartawan Solo, Blonthank Poer adalah salah satu manusia pertama yang dilehernya sudah tergantung camera SLR digital merek Canon. Saya tahu camera itu sebetulnya cukup berat untuk digantungkan dilehernya, tetapi demi kebanggaan dan kesombongannya Blonthank Poer selalu mencoba untuk berdiri tegak dan membusungkan dadanya. Pada saat Blonthank Poer membuka mulut, ceplas-ceplosnya sangat identik dengan guru besarnya - pak Murtidjono - yang dilengser dari Taman Budaya Jawa Tengah karena sudah uzur. Yang membedakan Blonthank Poer dengan guru besarnya adalah caranya berpakaian yang tidak eksentrink tapi cenderung udik dan rambut yang tidak gondrong dan dicat ala bule (mungkin kakeknya Blonthank Poer seorang tukang cukur yang selalu mengreliya kepalanya disaat dia sedang lelap tidur)
Kalau saya perhatikan perilaku dan wicaranya, seolah-olah Blonthank Poer selalu meluangkan waktunya untuk tidur disaat gurunya mengajarkan sopan santun dan tata krama, kemungkinan……. itu menjadi alasan utama mengapa Blonthank Poer menjadi murid terkasih dari guru besarnya yang merasa sukses mengepalai Taman Budaya walaupun tidak punya konsep dan strategi yang jelas dalam pengelolaannya dan cenderung menghamburkan uang negara.
Dalam setiap liputan berita, perilaku Blonthank Poer menjadikan saya sedih. Seolah-olah nilai-nilai dasar etika yang harus dimiliki setiap insan dimuka bumi ini tidak diperhatikan lagi. Perilaku yang semaunya sendiri terlihat jelas pada diri Blonthank Poer. Apalagi jika saat wawancara tiba, seorang Blonthank Poer selalu menggunakan bahasa yang vulgar, seolah-olah setiap yang diwawancarai mempunyai masalah pribadi berkepanjangan dengannya. Etika Jurnalisme tidak digubris dan peduli setan dengan perasaan orang lain. Obyektivitas selalu diletakkan pada urutan terakhir, karena Blonthank Poer adalah orang yang selalu merasa dirinya paling bisa dan paling tahu semuanya ……………………..
(tolong mas Blonthank diteruskan sendiri atau suruhan temannya yang tahu banyak tentang diri anda yang cukup ganjil ini)
Comment by Murtidjono — October 9, 2007 @ 8:52 am
band kami udah punya single lagu ciptaan sendiri, bagaimana caranya mengirim demo lagu kami ini?? mohon balasannya
Comment by ardani — May 27, 2008 @ 9:39 am
Friend, what the Blog for?
Reminding you without critique, that blog doesn’t mean narcistist expression……
Blog and Bloger in wider means is not merely relies on how some one being a dare to convey himself/herself/themselves transparenthly via the web which will able to reach broader reader around the world. But, Blog and Bloger also determining the “health of though”, “core of value”, “paradigm”, “references” and afterword, Blog is a miror of the personality enrichments of the Bloger itself, as well.
Blog, Bloger, and Criticism.
Blog can present with critic. But, critic has a rule and ethic. Critic are not merely screams and shouts. Critics is an expression of though and personality taste, which intuition and the impression from the depth of heart by the criticus.
So, friend. Go Home now….. start to learn……. and the next convention you will be a delegates………
blonty: Komentarnya bagus, Mas. Umpama saya tahu artinya, pasti saya akan mengatakan lebih bagus lagi. Bagi saya, orang yang bisa ber-Bahasa Inggris pasti hebat, sehebat orang bisa berbahasa Jawa halus. Harap maklum, Mas Katmo. Kuliah saja tak sempat lulus
Comment by Citro Sukatmo — July 7, 2008 @ 10:14 am