SIEM, Festival Musik nonKomponis

Kamal Al-Bayati, musisi Irak sedang menari diiringi musik berirama Arab. Berkolaborasi dengan musisi Indonesia, namun musik yang disuguhkan tak lebih bagus dari musik-musik Islami yang mendominasi seluruh televisi televisi nasional saat Ramadhan
Solo International Ethnic Music memang festival unik. Digagas penuh ambisi, dieksekusi setengah hati. Sudah setahun gagasan di-launching, kurang dari sebulan publikasi terpampang. Tak heran kalau akhirnya hanya kelas musisi yang tampil, sementara para komponis disuguhkan bagai gula-gula, sebagai pelipur lara, pengalih perhatian untuk kanak-kanak.
Saya akan mengangguk segera bila Anda mengira saya sedang kecewa, lalu marah-marah di sini. Ya, saya tak marah-marah di sini saja. Kepada panitia pun, saya tak segan berteriak. Seorang jurnalis televisi dari perwakilan kantor berita asing di Jakarta pun saya sarankan agar mengurungkan niatnya menjadikan SIEM sebagai obyek liputan.
< --- Musisi Papua saat pawai menjelang pembukaan. Konon, mereka adalah 'pegawai' Pemda Papua yang ditugaskan di anjungan Papua, Taman Mini Indonesia Indah.
Saya punya argumentasi sederhana. Sebuah event tanpa standar kuratorial yang benar pasti akan melahirkan banyak cacat. Dan, keburukan akan menjadi kian sempurna manakala kurator tak kredibel dan organizing committee . tak berpengalaman mendominasi jalannya sebuah festival, apalagi dengan embel-embel ’international’.
Beruntung, publikasi tak terlalu gencar. Andai (minimal) setengah tahun silam sudah ada banyak iklan mengenai event itu, pasti akan melahirkan kekecewaan pada ratusan (mungkin ribuan) pelancong yang sudah merancang liburan ke Surakarta. Dampak bisa ditebak. Rumor negatif akan menyebar, lalu mengancam dunia pariwisata kota.
Lihat saja publikasi resmi panitia . Mereka tak pernah menyebutkan nama artis atau kelompok yang bakal tampil dalam festival. Saat konperensi pers digelar dua hari menjelang pembukaan acara pun, tak ada panduan memadai mengenai siapa saja yang bakal tampil, kecuali nama-nama para bintang seperti Dwiki Darmawan, Gilang Ramadhan, Djaduk Ferianto, juga Waldjinah.
Pencantuman nama negara (bukan nama ‘artis’-nya) dalam seluruh materi publikasi, menurut saya menunjukkan penyelenggara tak memiliki rasa percaya diri yang memadai. Bahkan kelewat inferior, sebuah mental bangsa terjajah, kaum inlander (meski negara telah merdeka). Asal sudah menyebut nama-nama negara asing, seolah-olah peristiwa tersebut sudah akan dengan sendirinya menjadi kelas dunia, menginternasional.
Sawung Jabo, salah satu penampil yang mengeluhkan tiadanya toilet bagi artis —>
Oalaahhh, Duh Gusti paringana eling Pak Walikota. Ingatkan pada dia agar pada masa mendatang tak lagi bisa dipermainkan siapa saja yang tiba-tiba datang membawa gagasan muluk. Tidak seperti sekarang, dimana uang hanya terbuang percuma. Saya sedih mendengar teman bertutur memperoleh undangan menonton dalam wujud mengenaskan: selembar kertas fotokopian selebar karcis parkir yang disahkan dengan stempel resmi panitia. Para pekerja pers yang berduyun-duyun ke konperensi pers pun, bahkan hanya memperoleh empat bendel informasi pendukung dalam bentuk kertas fotokopian, bukan cetak sablon, apalagi cetak offset. Sungguh ngirit (dan pelit) untuk peristiwa berbiaya tak kurang dari Rp 2,5 miliar (eh, konon malah sampai Rp 4 miliar!)
Malam pertama, event ‘diselamatkan’ oleh iming-iming duet Waldjinah-Iga Mawarni (meski Iga urung tampil karena sakit di Jakarta). Sedang pada malam kedua, banyak penonton mulai beringsut pulang saat Sawung Jabo sedang menyuguhkan komposisi keduanya.
Banyak penonton tak sadar, artis mancanegara yang tampil bagai turis backpacker yang sedang plesiran di kota Surakarta. ‘Komponis’ asal Irak datang seorang diri tapi tampil bersama musisi entah dari mana. Begitu pula artis Korea yang tampil hanyalah diwakili puluhan anak-anak sekolah internasional di Jakarta yang pamer kebolehan paduan suara. Sementara artis dalam negeri, yang disebut mewakili Papua, Kalimantan dan Aceh, konon berasal dari anjungan daerah di Taman Mini Indonesia Indah.
Hebat, bukan?
Untung, para penonton tak dipungut bayaran . Kalau mereka disuruh bayar Rp 5.000 saja, saya berani bertaruh, Benteng Vastenburg hanya akan diisi penampil, panitia, kru panggung dan sedikit penonton. Juga sejumlah jurnalis kesepian atau datang karena paksaan penugasan.
Keterangan: Foto-foto di atas diambil dengan menggunakan Nokia 6275i


Foto-foto di atas diambil dengan menggunakan Nokia 6725i, la kameramu ke mana Tank?
Comment by sopril — September 5, 2007 @ 4:14 am
untunge penontonnya awam, seperti saya. memang lebih enak jadi wong bodho, ra mumet mikire. sing penting seneng. hehehe
Comment by bangsari — September 5, 2007 @ 9:37 am
hahaha.. untung aku nggak jadi nonton..
tahun depan, kalo masih mau dibikin lagi, harus ganti panitia! duit (konon Rp.4M) tuh bisa ndatengin banyak orang!
siapa yang nilep diut Rp4M!!!!
Comment by andra — September 5, 2007 @ 5:13 pm
holaaaaaa……dana 4M tau dari mana mas?anda detektif ya?hehehe….
Comment by jonathan davis — September 6, 2007 @ 4:22 am
SIEM… seni opoooo, seni kenthir. hari terakhir yang mengecewakan
Comment by aryopenangsang — September 6, 2007 @ 7:47 am
saya hanya penonton dan tidak terlibat apapun, kecuali menonton, tapi langkah pertama yang bagus buat penyelenggara tolong kalau bisa beri alamat rumah anda tunggu 2 ato 3 hari rumah kamu pasti hancur … biar orang yang kecewa dengan event ini binasa, sirik harus dihancurkan kalau ketemua detik inipun tak remug2 balungmu
Comment by itz — September 7, 2007 @ 5:06 am
Saya hanya penonton awam yang bertandang ke SIEM untuk cari tahu kayak gimana sih musik etnik itu. Karena terlalu bodho maka tak semua pertunjukan bisa saya nikmati, dan malah bikin mumet, sekali lagi itu karena saya penonton awam, bodho dan nggumunan.
Meskipun kekurangan ada dsana dan dsini tapi saya tetap salut sama panitia yang bisa menggelar event ini. Bayi yang belajar jalan itu butuh proses, analogi penyelenggaraan SIEM kurang lebih seperti itu.
Yang saya sayangkan, kenapa sampeyan musti menyarankan jurnalis televisi dari perwakilan kantor berita asing untuk tidak meliput SIEM? Bukankah itu bisa menjadi publikasi yang positif dibandingkan dengan berita2 bombastis semacam korupsi, pembunuhan Munir, atau kecelakaan pesawat?
Nyuwun pangapunten mbok bilih kulo wonten salah omong, suwun.
blonty: Saya memang kurang ajar, Mas… Demi nama baik Surakarta, lebih baik saya mencegah teman membuat ‘liputan besar’ (yang kita tahu dampaknya akan panjang), padahal dari awal sudah bisa diprediksi bahwa acara itu tidak layak untuk di-blow up secara besar-besaran. Kalau Anda tahu siapa saja profil artis yang tampil dalam forum itu, kemungkinan Anda akan setuju dengan cara berpikir saya.
Begitu kira-kira pertimbangan saya. Daripada publikasi besar-besaran tapi justru membawa dampak buruk pada masa mendatang, mendingan menyiapkan pekerjaan yang baik di lain kesempatan, lalu didukung secara habis-habisan pula. Asal tahu saja, kalau peristiwa kemarin memang pantas diperhitungkan, pasti media-media terkemuka di Indonesia akan mengirim para jurnalisnya yang memang punya cukup referensi mengenai musik dan peristiwa budaya lainnya. Salam
Comment by Dony Alfan — September 7, 2007 @ 1:56 pm
bapak yg baik, saya agak merasa sakit hati dengan ulasan bapak.. yah, saya memang merasakan beberapa kekurangan dalam penyelenggaraan.. percayalah, setiap kegiatan itu PASTI ada cacatnya.. tapi apa salahnya to pak, kalo Solo itu mencoba untuk bangkit, memunculkan kesan ‘kota budaya’ yg hanya bisa kita omongin dulu? saya jadi nangis waktu bapak mengulas tentang warga Papua yg menurut bapak ‘hanya’ pegawai TMII.. Apa salahnya memang? toh yg kita ambil nilai dan keseniannya, BUKAN orangnya yg berasal dari mana..
Hargai orang2 yg seudah mencoba untuk menyelenggarakan ini.. Hargai kerja keras mereka, kalaupun ada kritik, tolong sampaikan pada tempatnya.. Karena kritik walaupun menyakitkan, nantinya dapat dijadikan bahan evaluasi panitia.. Salut buat bapak yg dengan berani sudah menyampaikan kekurangan kegiatan ini..
Saya cinta Solo, dan saya bangga dengan diselenggarakan SIEM ini..
Salam,
Puspa.
Comment by puspa — September 8, 2007 @ 8:44 am
segala hal itu ada kekurangan bang.
kalo musisinya ‘cuma’ orang dalam negeri emangnya kenapa. yang penting kan dia bisa mewakili musik dunia.
Comment by arum — September 8, 2007 @ 12:07 pm
yang di-FESTIVaL-kan itu musiknya.. bukan orangnya… jd apa salahnya ‘pegawai’ pemda papua dari anjungan TMII yang tampil.. toh musiknya tetap PAPUA.
kalau misalnya ada SIEM yang ke dua, saya sarankan Anda ikutan jadi Dewan Pertimbangan… mungkin halaman ini lebih mentolerir kekurangan yang ada..
Comment by dewi — September 21, 2007 @ 3:01 am
ga ada salahnya orang berpendapat demikian, begitu pula bp blonty saya ngga menyalahkan segi pandang orang beda-beda tapi dari segi saya SIEM memang kurang dalam artian dari segi acaranya, saya sempat menonton dan datang 2 kali pada saat opening dan closing semua penonton yg datang agak kecewa dan pernah saya berpapasan dengan mereka dan berkata sambil mengerutu “acara opo iki ger koyo ngene tok, sui tenan acarane molor-molor” dari sinilah saya berpendapat masyarakat solo hanya sekedar ingin tau saja dengan keramaian tsb, jadi saya rasa ngga begitu bagus juga kalo di blow up karena tempatnya yang tidak begitu siap dan kesannya dipaksakan untuk dipakai…thx
Comment by cc — September 23, 2007 @ 1:34 pm
wah sebuah tulisan yang membuat saya sebagai orang awam yang ga terlalu mudeng dgn tulisan dgn istilah-istilah “tinggi” berpikir kok kayaknya ada nada yang tidak objektif dalm tulisan anda…
Mungkin akan berbeda kalimatnya kalo anda terlibat atau paling tidak tahu bagaimana proses pelaksanaan SIEM mulai dari perencanaan, pre-event ampe event…Bukankah lebih baik kita melihat proses daripada “hanya” melihat hasil sebelum kita mengkomentari sesuatu?
Ada yang ingin saya tanyakan, bagaimana anda begitu yakin kalo dana untuk SIEM mencapai 2,5 eh malah nyampe 4 miliar?Knp anda hanya menyebut ” konon “?
Bung, itu berhubungan dgn uang yang begitu banyak. Janganlah memperkeruh keadaan dengan mencantumkan sesuatu yang ga jelas kebenarannya…
Saya sebagai penikmat musik etnik, merasa sangat bisa menikmati apa yang disuguhkan oleh SIEM. Walaupun saya pun sadar, bgt banyak kekuranganya. Tapi buat saya itu ga terlalu mengganggu, terbayar oleh hentakan musik dan seni. Itu kalo memang anda ke acara itu untuk menikmati musik, bukan hanya ” mencari ” cacat…he3x…
Comment by natalie — October 4, 2007 @ 7:45 pm
Wah, mau naya nech kok anda bisa menyebut angka 2,5 - 4 miliar hanya dengan kata “konon”????
bung itu jumalh yang begitu besar, kalo emang anda ga tau itu bnr or ga janganlah memperkeruh keadaan..Dari kalimat itu saya malah males untuk melihat tulisan anda di ats sebagai sebuah kritikan yang membangun, saya hanya melihat sebagai sebuah tulisa yang hanya mencari kesalahn orang dan mencari cact orang… ya elah marilah sebagai orang yang peduli dgn seni atau cinta ama solo kita bikin acara SIEM benar-benar menjadi acara internasional yang lebih baik dari tahun 2007.
Knp anda tidak masuk dlm kepanitaannya untuk tahu prosesnya dan memperbaiki apa yang kurang…
mungkin itu akan lebih bijaksana…
Btw saya setuju kalo kita ga perlu siapa yang maen tapi apa dan bagimana mereka bermain. Kebetulan saya punya kesempatan untuk ngobrol, mengikuti bagimana delegasi benar-benar menyiapkan aksi mereka dengan serius. Merka bnr2 all out…Apakah anda tidak melihat itu?
Saya penasaran, apakah anda datang ke SIEM untuk pertunjukkannya atau hanya untuk mencari cacatnya???
Thanx…
Comment by natalie — October 4, 2007 @ 8:03 pm
Antara Taman Budaya, Blonthank Poer & SIEM-fc
(tulisan ini sebagai reaksi logis dari artikel mas Blonthank Poer di-blog garapannya yang banyak menyoroti aktivitas kesenian pada umumnya da SIEM-fc pada khususnya)
Teman-teman seniman termasuk saya mengakui bahwa mas Murtidjono, sebagai ex-direktur Taman Budaya Jawa Tengah (dulu Taman Budaya Surakarta/TBS), dengan sikap pragmatis-nya, menuai keberhasilan yang luar biasa. Cara-cara yang sangat sederhana dia lakukan sebagai jawaban kunci, yaitu harus selalu bisa atau pura-pura bisa dekat dengan para seniman itu sendiri. Dalam hal ini, mas Murtidjono yang lurahnya para seniman itu, selalu berperilaku, berbahasa, bergaya dan bahkan berpakaian seperti para seniman itu. Mas Murtidjono merupakan figur yang selalu tidak setuju dengan adanya birokrasi yang ruwet dan berthele-thele ala pemerintah. Tentu saja, selain harus memutar roda kesenian dan menjalankan institusi yang dilurahi, mas Murtidjono juga harus memikirkan sebuah strategi praktis dan pragmatis agar kekuasaannya tidak pernah digoyang maupun diusik.
Itulah kunci sukses yang menjadikan mas Murtidjono sangat disegani, dihormati dan dipuji-puji sebagai lurah handal yang selalu bisa dekat dengan para seniman. Ini bukan isapan jempol tetapi sebuah kenyataan.
Taman Budaya Surakarta (Jawa Tengah) terlepas dari segala aktivitas seninya, juga menjadi ajang mas Murtidjono untuk kongko-kongo, rasan-rasan, ngrumpi, nyebar gossip dan lain sebagainya, diluar ruang kantornya. Komunitas Ngisor Pelem adalah satu bukti lagi bahwa mas Murtidjono punya strategi yang cantik. Komunitas yang bernaung dibawah pohon mangga dikomplek TBS, banyak melahirkan cantrik2 setia yang siap membela kepentingan para punggowonya . Mas Blonthank Poer adalah salah satu diantaranya. Setelah ngawula (nyantrik) sekian banyak tahun dibawah naungan pohon mangga, mas Blonthank Poer yang mempunyai hobi fotografi akhirnya bisa menambatkan hidupnya didunia pemberitaan. Sebagai wartawan handal dari koran yang katanya, atau lebih tepatnya, beranggapan punya standard internasional, mas Blonthank Poer tidak pernah melupakan induk semangnya yang telah menyuapi, mengajarkan berdiri dengan kedua kakinya dan melatih menyusun kata-kata hingga membuat kalimat indah didalam setiap tulisannya. Mas Blonthank Poer mempunyai KESETIAAN YANG SANGAT TERUJI terhadap TBS dan lurahnya, mas Murtidjono, yang visi dan kebijaksanaannya sangat jelas dan berpihak pada seniman dan kemajuan seni/kebudayaan. (itu kata mas Blonthank Poer lho, dalam tulisannya, di-blog mas Blonthank Poer sendiri yang berjudul “Keunikan (Seniman) Surakarta” - 7 Agustus 2007; jam 05:52 - diakhir paragraf IV)
Seberapa besar visi dan kebijaksanaan mas Murtidjono dan keberpihakannya pada seniman dan kemajuan seni/kebudayaan?
Setelah berkumpul dengan mas Murtidjono dan para senimannya selama lebih kurang 26 tahun, saya tidak pernah bisa melihat visi, kebijakan dan keberpihakan mas Murtidjono pada seniman dan kemajuan seni/kebudayaan, seperti yang dikatakan mas Blonthank Poer.
Saya justru melihat kegagalan mas Murtidjono dalam mengelola Taman Budaya Jawa Tengah. Tutur kata mas Murtidjono yang ceplas-ceplos, cara berpakaiannya yang cenderung eksentrik dan perilaku serta gayanya yang menyerupai seniman-senimannya ternyata hanya mampu meraih simpati mereka dan menghamburkan uang negara dengan cara membiarkan sebagian bawahannya menyunat uang negara yang diperuntukkan sebagai dana stimulan bagai seniman yang berpentas/pameran di Taman Budaya dan tidak pernah menuai keberhasilan yang segnifikan tetapi justru selalu menjadi beban yang berkepanjangan bagi Taman Budaya itu sendiri dan Pemerintah Kota. Sebagai lurah Taman Budaya yang menyandang gelar sarjana Filsafat dan dengan sikap pragmatis-nya, mas Murtidjono, tidak pernah berhasil mencapai tataran konsep dan strategi dalam mendefinisikan nama dari institusi yang dipimpinnya, sehingga gagal dalam menjadikan kota Solo kota yang Berkesenian dan kota Budaya. Mungkin itu yang membuat beberapa teman kerja dan seniman lainnya akhirnya memutuskan untuk mengejar karir dilain tempat.
Sebagai ex-cantrik TBS yang baik dan sangat peduli kota Solo, seharusnya mas Blonthank Poer mampu melayangkan kritik terhadap institusi yang pernah membesarkan namanya, yang mampu mendekatkan mas Blonthank Poer dengan Ford Foundation, mbak Jennifer Lindsay dan yang lainnya, jika masih ada.
Saya melihat rasa tidak senangnya mas Blonthank Poer kepada Solo International Ethnic Music festival & conference, sebagai hal yang tidak proporsional dan hanya karena menaruh rasa simpati kepada para pungowo-punggowonya di Taman Budaya Jawa Tengah yang tidak mampu menggetarkan kota Solo seperti yang telah dilakukan oleh Bambang Sutedjo, Puthut, Gembong, Iga Mawarni, Yasudah dkk dalam menggarap SIEM-fc. Langkah2 taktis, strategis, cerdas dan cantik memberikan SIEM-fc sukses, punya resonansi yang kuat dan multiplyer effect yang cukup segnifikan, walaupun, dalam hal ini, saya juga menyayangkan adanya kelemahan kuratorial dalam pemilihan delegasi, tetapi organizing committee yang kata mas Blonthank Poer tidak berpengalaman, mau belajar dengan baik sehingga mampu meng-eksekusi sebuah perhelatan international dengan sangat cerdas dan cemerlang. Perlu diketahui, mas Blonthank Poer, mas I Wayan Sadra yang kebetulan juga sebagai penampil di SIEM-fc dengan karya usangnya dan mas-mas seniman lainnya, bahwa mereka yang datang ke Benteng Vastenburg tidak hanya tertarik dengan bangunan bersejarah yang sudah lama tertutup oleh rimbunnya belantara semak belukar, tetapi mereka sangat terkesima dengan yang ditampilkan didalamnya. Saya sebagai penonton yang hanya sempat menikmati sajian di hari ke-4 dan 5, juga terkesima seperti ribuan penonton lainnya. dan sangat respect terhadap orang-orang gila dkk yang berani mengambil langkah kontroversial untuk menggelar SIEM-fc di Benteng Vastenburg pada tanggal 1 – 5 September 2007 yang baru lalu.
Marilah kita sama-sama jujur, melihat semuanya dengan jernih dan mengedepankan obyektifitas. Dalam kurun waktu puluhan tahun, dimulai dari sejak berdirinya Taman Budaya Jawa Tengah, sudah banyak macam tontonan yang dipentaskan. Saya hampir yakin, lebih dari 95% yang digelar di SIEM-fc pernah ditampilkan di Taman Budaya Jawa Tengah yang merupakan markas seniman-seniman handal di Solo. Hampir semua kesenian dari Sabang – Merauke dan dari belahan bumi manapun pernah pernah singgah disana. (kalau gak percaya tanya saja pada mas Murtidjono). Yang membuat saya heran, mengapa tidak ada masyarakat Solo yang tahu?. Kalaupun ada yang tahu, jumlahnya bisa dihitung dengan jari tangan. Parameter semacam apa yang dipakai mas Blonthank Poer beserta para punggowo-nya mas Murtidjono untuk mengukur nilai sebuah sukses? Apakah ini hanya sebuah pelampiasan dari rasa iri dan ketidak mampuan menggarap sebuah tontonan?
Sebetulnya bukan hanya institusi mas Murtidjono saja yang tidak punya parameter yang jelas dalam mengukur sebuah sukses, ISI-Solo dan SMKI juga punya ukuran sukses yang tidak jelas dan hanya berdasar pada jumlah teman-teman seniman yang datang untuk melihat. Jumlah warga Solo yang, kalau tidak salah hitung, mendekati angka 600.000 hanyalah patung-patung yang tidak masuk dalam hitungan mereka. Saya sendiri tidak tahu dimana posisi mas Blonthank Poer, sebagai teman-teman seniman atau salah satu dari sekian banyak patung.
Comment by wahyu indrawan — October 8, 2007 @ 12:00 pm
Etika & Blonthank Poer
Blonthank Poer yang asuhan Taman Budaya Surakarta (sekarang menjadi Taman Budaya Jawa Tengah) adalah sosok manusia kerdil yang pernah saya kenal. Badannya yang relatif kecil, matanya yang tidakakan bisa melihat dengan sempurna tanpa kacamata dan kulitnya yang sawo terlalu matang menjadi ciri fisik yang mudah dikenali, jika dia berdiri sendirian dipadang luas bersama dengan domba-domba Jesus yang berbulu putih bersih. Ciri-ciri yang lain dari Blonthank Poer adalah ambisnya melebihi Hitler ataupun Napoleon. Bahkan, demi ambisinya Blonthank Poer tidak segan merogoh koceknya sampai anak-istrinya tidak kebagian nafkah.
Jika Blonthank Poer mulai tidak senang dengan orang lain, sampai keujung nerakapun akan dikejar untuk dimaki-maki, dicelakakan dan ditutup semua kemungkinan geraknya sampai orang lain tersebut benar-benar mati kutu. Untuk keperluan ini Blonthank Poer rela mengeluarkan duit untuk bayar suruhannya atau untuk apapun yang perlu dia biayai, sampai-sampai ank-istri yang menangis karena kelaparan tidak digubrisnya.
Sebagai wartawan foto, dikalangan wartawan Solo, Blonthank Poer adalah salah satu manusia pertama yang dilehernya sudah tergantung camera SLR digital merek Canon. Saya tahu camera itu sebetulnya cukup berat untuk digantungkan dilehernya, tetapi demi kebanggaan dan kesombongannya Blonthank Poer selalu mencoba untuk berdiri tegak dan membusungkan dadanya. Pada saat Blonthank Poer membuka mulut, ceplas-ceplosnya sangat identik dengan guru besarnya - pak Murtidjono - yang dilengser dari Taman Budaya Jawa Tengah karena sudah uzur. Yang membedakan Blonthank Poer dengan guru besarnya adalah caranya berpakaian yang tidak eksentrink tapi cenderung udik dan rambut yang tidak gondrong dan dicat ala bule (mungkin kakeknya Blonthank Poer seorang tukang cukur yang selalu mengreliya kepalanya disaat dia sedang lelap tidur)
Kalau saya perhatikan perilaku dan wicaranya, seolah-olah Blonthank Poer selalu meluangkan waktunya untuk tidur disaat gurunya mengajarkan sopan santun dan tata krama, kemungkinan……. itu menjadi alasan utama mengapa Blonthank Poer menjadi murid terkasih dari guru besarnya yang merasa sukses mengepalai Taman Budaya walaupun tidak punya konsep dan strategi yang jelas dalam pengelolaannya dan cenderung menghamburkan uang negara.
Dalam setiap liputan berita, perilaku Blonthank Poer menjadikan saya sedih. Seolah-olah nilai-nilai dasar etika yang harus dimiliki setiap insan dimuka bumi ini tidak diperhatikan lagi. Perilaku yang semaunya sendiri terlihat jelas pada diri Blonthank Poer. Apalagi jika saat wawancara tiba, seorang Blonthank Poer selalu menggunakan bahasa yang vulgar, seolah-olah setiap yang diwawancarai mempunyai masalah pribadi berkepanjangan dengannya. Etika Jurnalisme tidak digubris dan peduli setan dengan perasaan orang lain. Obyektivitas selalu diletakkan pada urutan terakhir, karena Blonthank Poer adalah orang yang selalu merasa dirinya paling bisa dan paling tahu semuanya ……………………..
(tolong mas Blonthank diteruskan sendiri atau suruhan temannya yang tahu banyak tentang diri anda yang cukup ganjil ini)
Comment by murtidjono — October 9, 2007 @ 8:53 am
ngoomong emang gampang mas,,mas,,
blonty: Begitulah nyatanya. Lidah saya memang ‘belum’ bertulang…….
Comment by IHWAN — January 6, 2008 @ 10:53 am
aku tidak tahu bagaimana cara menilai kesenian itu bagus atau tidak.yang aku tahu saat pertunjukkan berakhir menyenangkan hati ya itu bagus, tapi kalau malah bikin bingung ya itu jelek.nyuwun sewu mawon mas atau mbak,dalam siem di solo beberapa waktu lalu,aku malah bingung.apalagi dalam pementasan yang terakhir.gimana tidak bingung,musik yang dimainkan pating gedabrah sak karepe dewe.apalagi yang menari mengiringi alunan musik.di hari terakhir bahkan ada orang tua yang hanya geleng-geleng,maju mundur,muter-muter dan lainnya.pokoknya lucu-lucu tingkahnya.itu baik atau tidak aku juga tidak tahu.tp aneh aja.seperti suka-suka aja gitu lho gerakannya.
terlepas pro dan kontra yang terjadi dalam penyelenggaraannya,menurutku siem biasa-biasa saja.tidak ada yang menarik dan terkesan.tapi besok masih ada siem lagi khan,mudah-mudahan lebih bagus lagi….suwun…..
Comment by marini — January 25, 2008 @ 8:17 am