Jangan Kapok Pelesiran karena SIEM
Kalau Anda menganggap saya getol ‘menyerang’ Solo International Ethnic Music , percayalah itu bukan berarti saya menolak kehadiran peristiwa semacam itu di Kota Surakarta. Saya hanya tidak setuju jika gagasan (dan misi) yang baik semacam itu diserahkan kepada orang-orang yang memiliki kompetensi dan reputasinya tak teruji. (Artinya, saya berharap event semacam ini tidak berlalu sia-sia karena memang memiliki potensi menjadi lebih bagus asal digarap serius)

Berjubelnya pengunjung selama lima hari festival berlangsung, tidak bisa dijadikan alasan penyelenggara menepuk dada. Itu bukan bukti kesuksesan acara. Sebaliknya, kian banyak yang datang, kian berlipat pula beban ‘dosa moral’ yang seharusnya dipertanggungjawabkan penyelenggara. Etnisitas dimanipulasi, dijadikan magnet penarik massa.
Saya yakin, sepulang menonton festival, banyak orang akan keliru membedakan mana musik etnik dan mana pula ‘pop kontemporer’ yang menggunakan instrumen musik etnik sebagai sumber bunyi untuk menambah kekuatan instrumen barat modern seperti drum, gitar atau keyboard elektrik. Perkawinan alat musik modern dengan gamelan Jawa atau gamelan Bali, misalnya, bisa diartikan sebagai musik etnik.
Sekali lagi, panitia telah gegabah dalam merancang dan mewujudkan sebuah festival musik dengan menggunakan label etnisitas. Bukan hanya itu, panitia juga ‘menipu’ publik dengan memperkenalkan penari yang menyukai musik sebagai seorang musisi. Neerja Srivastava (India) adalah penari Kathak, namun dihadirkan di panggung dengan iringan tabla. Kamal al-Bayati juga koreografer sekaligus penari berdarah Irak namun diklaim sebagai musisi (padahal, para pengiringnya, konon dari Institut Kesenian Jakarta).
Mau bukti lagi? Karagouna-Karditsa adalah grup tari asal Yunani yang sedang melakukan tur kesenian di beberapa kota di Indonesia. Karena grup ini membawa serta musisi sebagai pengiring, maka ditampilkanlah mereka sebagai ‘kelompok musik etnik’ yang mewakili Yunani.
Nasi telah menjadi bubur. Kita hanya bisa berharap, andai festival itu bakal dilanjutkan lagi pada masa mendatang, maka harus ada standar kuratorial yang jelas. Untuk itu, maka harus tepat memasang orang-orang yang berkompeten dan cukup memiliki wawasan musik yang memadai dalam dewan artistik.
Sebab, amburadulnya festival ini tak lepas dari peran Yasudah sebagai ‘pemikir tunggal’. Padahal, Yasudah yang saya kenal bukanlah pemikir kebudayaan. Sebagai musisi, pun dia jarang terlibat dalam proyek-proyek pementasan, apalagi pada event-event bergengsi di berbagai kota di Indonesia.
Lihatlah semrawutnya pikiran dia seperti terlihat dalam katalog resmi festival. Pada halaman TEMA, POSITIONING, TUJUAN & KONSEP, ia menuliskan kalimat yang tak mudah dipahami. Begini:
…Dari azas tunggal humanitas hingga berbagai ragam kehidupan yang ada, kita adalah bersaudara!!! Namun demikian, mengapa terjadi krisis berbagai faktor dan habitat kehidupan manusia di hampir seluruh penjuru bumi saat ini?…Marilah kita tanya pada hati & jiwa kita masing-masing.
Untuk POSITIONING, Yasudah menulis begini: ”Memposisikan Musik Etnik di tengah Dinamika Kebudayaan*, guna meningkatkan kwalitas apresiasi masyarakat seluas-luasnya pada Seni & Budaya, hingga merambah pada hal-hal yang mendasar & mendesak realisasinya.
Saya yakin, Anda pasti akan masuk kategori sangat jenius bila bisa memahami maksud kalimat-kalimatnya. Kalau saya, sepanjang ikhtiar yang mampu dan sudah saya lakukan, ternyata saya hanya sanggup untuk ‘memaklumi’. Itu pun dengan agak berat hati. Apalagi kalau membaca uraian TUJUAN Jangka Panjang, yang ditulisnya begini:
Menanggapi mendesaknya krisis iklim dan meningkatnya pemanasan global: “Bila kubilang bahwa Musik Etnik adalah Gizi Asli Bunyi Lingkungan hidup,…Bagaimanakah selanjutnya?” (Sungguh keterlaluan! Merangkai kata saja tak bisa, kok berani bikin festival besar-besaran!!!)

Terakhir, saya ingin memohon dengan sangat kepada Anda, pembaca yang budiman. Tolong sebarluaskan ke handai-taulan, sanak, kerabat dan kenalan, agar jangan kapok datang ke Surakarta. Percayalah, amburadulnya festival kemarin bukan salah warga Surakarta, dan sebagian panitia yang menentukan jalannya acar festival, bukanlah orang-orang yang cakap di bidangnya. Jangan kapok datang ke Surakarta.
Kalau tahun depan ada lagi event serupa (semoga juga masih di tempat yang sama), tapi masih dikelola mereka-mereka, bolehlah Anda tidak datang. Tolong kasihani Walikota Joko Widodo. Dia baik dan tulus. Kebetulan saja kalau kali ini dia terjerembab, terperosok ke lubang selokan. Dan itu pun, bukan salah dia pula, melainkan memang ada orang yang menuntun dia dan menjerumuskan dia……

Untuk para penggagas Solo International Ethnic Music (yang tulus karena ingin memajukan pariwisata Surakarta), percayalah yang Anda lakukan merupakan kontribusi bagi kemajuan kota. Hanya saja, Anda harus jujur dan arif menyikapi pro-kontra, termasuk kekecewaan seperti yang saya lontarkan di sini. Banyaknya orang yang gela, getun dan sebagainya, sesungguhnya merupakan ekspresi yang mendalam atas kecintaan mereka akan dinamika perubahan sosial sebuah kota yang bernama Surakarta. Tinggal bagaimana Anda bisa mengelolanya dengan baik dan tepat sasaran.
Keterangan: Foto-foto di atas diambil dengan menggunakan Nokia 6275i

wah, ojo2 suk mben neng jakarta bareng ki. sebagai sesama orang udik, sama-sama mudik ke jakarta, ke rumah mertua…
Comment by jun — September 9, 2007 @ 12:49 pm
mas…saya orang solo asli, rumah saya di Semanggi etan rumah sakit Kustati, saya kerjanya di tangerang, memang waktu SIEM diadakan saya pengin banget pulang dan ingin nonton, sangking kebeletnya saya hanya bisa lihat di TV dan sungguh kaget ketika saya buka situs dan ternyata ada tulisan mas Blontheng, mas sebagai orang solo saya sangat menghargai kerja keras mereka yang sudah berani menghadirkan sebuah festifal internasional seperti itu, tolonglah mas ndak usah terlalu capek memikirkan yang kadang-kadang opini atau masukan kita malah membuat orang sakit hati, jangan-jangan mas iri ya ndak diajak sebagai panitia…heheh.. gojeg lho mas…buat mas blontheng buikin dong acara Klaten ‘potogarpi’ internasional fesifal…OK Mas Blontheng Semangat yoo….
Comment by denny — September 20, 2007 @ 11:06 am
Wah, Mas Blonty… setahu saya (yang masih muda dan belum banyak berpengalaman ini) masalah kuratorial memang dari dulu menyimpan banyak potensi konflik.
Potensi konflik itu antara lain:
1. Siapa yang mengkuratori siapa. Artinya simpel, kekuatan sang kurator dalam ilmu kuratorial, amat dipertanyakan.
2. Siapa yang dikuratori. Nah kalau ini berat, contoh, anak mantan presiden mau pameran foto. Nah kuratornya bingung, tidak diluluskan, resiko tinggi. Diluluskan, sama saja nipu publik.
3. Kuratorial tumpang tindih dengan kepentingan publik. Contoh; demi mensukseskan acara pariwisata kabupaten X, maka para kurator difasilitasi hidup senikmat mungkin oleh Pak Bupati.
4. Prinsip Ekonomi. Contoh; Bulan anu, si A lukisannya laku 100 juta. Si B jelas panas. Maka ia kongkalikong dengan kurator untuk menaikkan harga lukisannya. Kalau ndak salah, bulan puasa ini, SERRUM mengangkat tema ini deh sebagai bahan kuliah terbang. Judulnya KURATOR=MAKELAR.
Ya, itu kira-kira diatas memang salah satu potensi konflik kuratorial, Mas Blonty.
Sekedar berbagi pengalaman nih, Mas Blonty.
Saya pernah diundang untuk menghadiri hajatan para warga yang hobi corat-coret dari seluruh kampung di penjuru dunia. Nah, untuk acara ini, kami sudah dipanggil sejak tiga tahun sebelumnya.
Mengapa?
1. Agar publik menilai, sejauh mana dedikasi kami pada bidang yang kami geluti.
2. Agar kami siap-siap secara profesional untuk melakoni hajatan itu.
3. Agar warga seluruh kampung tahu. Bahwa acara ini sudah dirancang dengan baik dan terencana.
Apapun yang terjadi, semoga Surakarta semakin membudaya. Amiinnn.
Oh ya untuk #2: Mas Denny, dari tulisan ini dan tulisan-tulisan beliau yang lalu, Mas Blontank ini punya tradisi oposisi yang membangun. Kalimat-kalimat yang dipakai tidak bertendensi iri atau dengki.
(*Mas Blonty, maap yoo komennya panjang sejali. Hehehe*)
blonty: makasih, Mas Arif. komentar panjang tak jadi soal, toh saling melengkapi. saya paham sepenuhnya maksud Anda. dalam kasus SIEM, saya ‘merasa’ tahu betul apa yang dimaui sang inisiator. enam bulan sebelum acara, saya diajak sharing soal acara itu. saya sudah mengnemukakan panjang lebar. tak ada kontak langsung, tapi sang inisiator tahu saya sering ngasih masukan lewat temannya. ujung-ujungnya, ketika sang inisiator (baca: pembawa dana) kebingungan karena terjadi krisis internal, dia mengontak saya ngajak ketemuan. ketika itu (dua pekan menjelang pelaksanaan) saya sarankan, segera gunakan ‘hak’ untuk merombak sistem kuratorial, atau menunda pelaksanaan untuk mencari pengisi acara yang bermutu (terutama untuk menyelamatkan event tersebut).
Soal kuratorial untuk acara itu, Insya Allah saya agak mengerti walaupun tak terlalu banyak. di Surakarta ada beberapa nama komponis yang cukup independen untuk menjalankan kuratorial. saya tahu persis, mereka punya jaringan sangat luas, baik di dalam negeri maupun internasional. sayang, orang-orang tersebut tak dilibatkan. padahal saya tahu reputasi mereka (di Masyarakat Seni pertunjukan Indonesia/MSPI, dimana saat itu didominasi para etnomusikolog dari berbagai pelosok Indonesia) yang sudah sering menggelar festival musik etnik sepanjang 1990-an, baik di Flores, Jakarta, maupun kota-kota besar di Indonesia.
kalaupun ada kekecewaan yang agak mendalam pada saya, hanyalah karena beberapa tokoh kuncinya tak memiliki ketegasan sikap dalam mengurus festival tersebut. ibarat sudah ada duit, masak untuk belanja saja tak mau memilih…. aneh, kan? dan saya yakin, kalau para anggota board of artistic-nya adalah beberapa orang yang saya sebutkan, Insya Allah, mereka bisa memadukan berbagai kepentingan. untuk festival semacam SIEM, jelas harus ada kompromi. mencari artis yang bisa memberikan suguhan musik yang enak didengar, atraktif dan komunikatif, namun tidak mengorbankan sikap musikal para seniman penampil. bagaimanapun, kita juga harus menghormati prinsip, kredo dan pilihan sikap bermusik setiap seniman. demikian, Mas Arif….(juga para pembaca yang budiman)
Comment by arifkurniawan as bangaiptop — September 25, 2007 @ 12:37 pm
Waks, sebagai kaum awam, bagis saya asal ada bebunyian dan hati saya tertaut terus teubuh saya bergerak mpun asik puniko. Kerena itu, sebetulnya saya ngebet untuk datang liat SIEM tapi nggak bisa. Denger cerita dari temen di Solo, tentunya sebagai sesami awam, katanya asyik banget. Saya tambah nyesel nggak liat. Tapi setelah baca tulisan kang Blonty, rasa sesalku berkurang juga. Ngapain bawa-bawa kata etnik, kalo nggak etnik beneran… enakan dengerin MP3. Ngomong2 kalo soal publikasi event-nya ketoke sih, lumayan. Paling orak aku sing jarang moco koran kok yo, krungu soal kabar SIEM. Sing nyekel publikasi si Harnug ya?
Nuwun…
Comment by emhade — October 5, 2007 @ 4:36 am
yang terhormat mas Blonty,
mungkin ada baiknya kalau panjenengan mau menguraikan semua kegiatan yang mana panjenengan ada didalamnya sebagai panitya.Supaya kita-kita ini bisa belajar dari pengalaman mas Blonty dalam me-manage sebuah event/kejadian yang mustinya selalu sukses luar biasa.
Tolong ya mas ditulis di-blog ini atau di-woro2-kan kemana saja. Saya akan lebih seneng kalau mas Blonty bisa mempresentasikan secara kronologis dan menyebutkan posisi mas Blonty dalam kepanityaan tersebut. Saya kira ada juga baiknya kalau bukti-bukti keberhasilan itu secara rinci dan runtut panjenengan print-out dan panjenengan berikan kepada dedengkot-dedengkotnya SIEM, supaya predikat asalbunyi yang panjenengan dapat dari yang membaca tulisan panjenengan bisa panjenengan tepis sendiri.
Kata banyak orang “Tiada yang lebih indah dari pada memberikan bukti nyata”
matur nuwun mas Blonty.
-salam-
blonty: Mas Adi Pras Yth.
Saya tidak punya pengalaman apapun dalam menyelenggarakan sebuah festival atau event serupa. Saya bukan apa-apa, bukan siapa-siapa pula. Saya hanyalah penonton, peminat seni pertunjukan -yang hanya kenal beberapa seniman- lalu merasa agak paham tentang ‘jerohan’ kesenian dan dunia persilatan seni(man).
Kalau ada yang tak setuju dengan komentar saya di blog ini, ya biar saja itu menjadi dinamika itu sendiri, meski sebagian ada pula yang (ternyata) telanjur menggemari prinsip saur manuk alias debat kusir kasar-kasaran (seperti orang kerdil yang mengatasnamakan diri sebagai Murtidjono).
Mas Adi, saya tidak ikut kepanitian SIEM. Bahwa saya tidak setuju dengan manajemen penyelenggaraan SIEM, Anda bisa melihat sikap saya melalui tulisan-tulisan di sini. Yang pasti, sejak hari pertama hingga berakhir, saya selalu datang menonton. Itu semata-mata karena saya ingin menguji prediksi (dan prasangka) saya sebelumnya. Yang jelas, tidak fair kalau saya menilai dan mengkritik tanpa saya sendiri hadir di forum itu.
Salam
Comment by adi prasetya — October 16, 2007 @ 6:35 am