KasusNovember 27, 2007 8:11 am

Hilangnya pusaka kerajaan sudah biasa terdengar. Keris dan senjata tradisional kerajaan dijual kerabat, pun rasanya sudah akrab di telinga awam di Surakarta, meski boleh jadi itu hanya gosip belaka. Seorang kerabat dekat Kraton Surakarta pernah melempar tuduhan tiga keris melayang, tak lama setelah Pakubuwono XII wafat. Mungkin itu sekadar bumbu penyedap, sebab sang penutur berasal dari salah satu kubu raja kembar.


Mbah Hadi sedang menjalani rekonstruksi proses pencurian lima arca Museum Radya Pustaka

Hampir sepekan setelah Mbah Hadi ditahan polisi sejak 18 Nopember, saya masih tak hirau soal hilangnya lima arca koleksi Museum Radya Pustaka. Ramainya pemberitaan media massa, pun saya anggap sebagai sensasi belaka. Mungkin saya sedang terjebak pada sebuah kriteria: manusia digigit anjing itu biasa, namun bila manusia menggigit anjing, itu baru berita! Bodohkah saya? Mungkin.

Asal tahu saja, saya terbiasa mendengar gosip hilangnya pusaka kerajaan, entah yang berbentuk keris atau senjata tradisional lainnya, bahkan sejak sepuluh tahun silam. Sejumlah penggosip bahkan menunjuk seorang figur publik sebagai makelar benda-benda pusaka. Meski kaya dan pernah jadi pejabat negara, sang makelar –menurut cerita si penggosip- lebih suka menginap di sebuah hotel bintang tiga dibanding hotel bintang empat yang bertebaran di Surakarta.

Munculnya nama Hashim Djojohadikusumo sebagai pemilik terakhir lima arca asli yang raib dari Radya Pustaka (Ciwa Mahadewa, Durga Mahisasuramardhini, Agastya, Mahakala, dan arca Durga Mahisasuramardhini II) tentu saja membuat saya kaget. Apakah dia pemain yang baru saya dengar namanya dalam dunia jual-beli benda-benda yang dilindungi Undang-undang tentang Cagar Budaya?

Pernyataan Hermawan Pamungkas yang menyebut kliennya, Hashim Djojohadikusumo, membeli kelima arca dari Hugo Kreijger, bekas kurator balai lelang Christie’s Amsterdam semata-mata agar benda itu tak jatuh ke tangan kolektor asing, memang mengundang simpati. Meski, pernyataan itu memunculkan kesan cynical karena seorang Hashim tampil bak pahlawan. Saya sendiri cenderung memuji sikap Hashim, apalagi dia mesti membayar cukup mahal: (menurut Hermawan) jutaan dolar Amerika!

Taruh kata ‘hanya’ US$ 1 juta dolar, berarti harga pukul rata setiap patung, minimal US$ 200 ribu. Padahal kita tahu, jutaan bisa berarti satu koma sekian, bahkan berlipat ganda. (kalau mengacu pada ambang batas kemiskinan versi Bank Dunia yang US$ 2 per keluarga, berarti harga satu arca bisa dipakai untuk hidup (miskin?!?) selama 273 tahun!).

Satu hal yang bisa sedikit banyak mempengaruhi banyak orang untuk ‘membenarkan’ sikap dan tindakan Hashim, adalah ketika Fad Zon –orang dekat Hashim, menyebut keluarga besar Soemitro Djojohadikusumo sedang menyiapkan sebuah museum, bekerja sama dengan Universitas Indonesia. Di museum itulah nantinya kelima arca itu akan ditempatkan, bersanding dengan koleksi benda-benda kuno dan bernilai seni tinggi milik keluarga besar Djojohadikusumo.

Kembali ke soal palsu-memalsu benda-benda bernilai sejarah (dan ekonomi) tinggi, mungkin para pencuri itu diilhami perajin fosil tiruan di Sangiran. Karena kelihaian mereka, orang awam akan kesulitan membedakan fosil sungguhan atau tulang-tulangan terbuat dari batu. Maka tak aneh, sering terdengar banyak orang rugi jutaan rupiah karena membeli fosil yang ternyata tiruan, hanya semata-mata berbekal informasi bahwa banyak orang di sekitar situs prasejarah Sangiran terlibat dalam jual-beli fosil yang ditemukan di ladang-ladang mereka.

Sebagian arca yang masih tersimpan di kompleks museum. Sebuah tim ahli yang terdiri dari arkeolog dan ahli naskah-naskah kuno sedang diterjunkan untuk menginventarisasi koleksi museum yang didirikan sejak 1890-an –>

Kini, kita hanya bisa berharap agar hasil inventarisasi koleksi Museum Radya Pustaka tidak kian membuat kita terkaget-kaget. Selain lima arca yang sudah terbukti hilang dari museum (dan digantikan arca tiruan untuk mengelabui publik), seorang bekas pegawai honorer museum menyebut masih ada enam koleksi lagi yang belum diketahui rimbanya, termasuk sebuah benda terbuat dari kristal pemberian Napoleon Bonaparte (15 Agustus 1769 – 5 Mei 1821) untuk penguasa Surakarta pada masa itu.

Janji Hashim melalui pengacaranya, Hermawan Pamungkas, bahwa pihaknya akan membantu polisi dengan menyerahkan surat kepemilikan arca yang ditandatangani Pakubuwono XIII untuk diteliti di laboratorium forensik, diharapkan bisa menjadi pintu masuk untuk mengungkap proses pencurian dan mata rantai penjualan benda-benda bernilai sejarah dan berguna untuk kemajuan ilmu pengetahuan.

Pengakuan Heru Suryanto, yang oleh pengacaranya disebut hanya membeli arca-arca itu dari Kepala Museum Radya Pustaka, KRH Darmo Dipuro alias Mbah Hadi lalu menjualnya kepada Hugo Kreijger, harus diuji kebenarannya dengan menelisik satu-persatu pihak-pihak yang terlibat dalam persekongkolan jahat itu.

Pengakuan Heru bahwa dia yang memalsukan kop surat, stempel dan redaksional surat kepemilikan Pakubuwono XIII, juga mesti dilakukan crosscheck berulang-ulang. Seperti lazimnya sebuah sindikat, bisa jadi terdapat tangan-tangan kuat yang memaksa Heru untuk mengaku paling bertanggung jawab, sehingga mata rantai terputus pada satu orang saja.


Suparjo dan Jarwadi sedang menjalani rekonstruksi proses pemindahan arca ke dalam mobil yang diawasi tersangka Heru Suryanto, seorang pedagang benda-benda kuno.

Siapa tahu, kasus arca Radya Pustaka bisa menjadi pintu gerbang untuk membuka jaringan pencuri, pemalsu, penjual dan penadah benda-benda kuno. Semoga, kasus itu juga kian membukakan mata banyak pihak, terutama pemerintah (dari tingkat kota hingga pusat) agar memperhatikan nasib ratusan arca batu dan perunggu di dalam museum, peninggalan sejarah lainnya serta 6.000-an judul buku, kitab dan dokumen yang berusia 200-an tahun yang ada di sana.

Tanpa dukungan peralatan penyimpanan yang memadai dan pengatur suhu dan kelembaban ruangan yang tepat, benda-benda itu bakal rusak dimakan jaman. Ke depan, anak-cucu kita tak bisa belajar apa-apa dari nenek moyangnya.

SorotNovember 20, 2007 10:28 am

Jangankan pil BK, Lexotan, Rohibnol atau ganja yang dulu kami sebut ‘protein nabati’, putauw dan sabu-sabu pun sudah saya sentuh. Alhamdulillah, saya tak pernah memakainya.

Kita sering salah memperlakukan para drug abuser(s). Seolah-olah kita lebih baik, lebih suci dibanding para pecandu. Kita lupa, kebanyakan pecandu narkotika adalah korban, terlepas dari apapun alasan mereka yang lantas ‘akrab’ dengan narkotika dan zat-zat psikotropika. Saya termasuk orang yang akrab dengan kaum pemabuk, bahkan sejak duduk di bangku Kelas 1 sebuah sekolah menengah pertama favorit di Klaten.

Ketika itu, jangankan pil BK, gelek pun sudah saya lihat, sentuh dan membaunya. Begitu pula saat di bangku SMA, kembali saya dekat dengan sebagian dari mereka. Rupanya, ‘komunitas’ korban itu kian banyak saya jumpai, bahkan bersahabat saat kuliah. Saya, bahkan pernah menyimpan beragam jenis pil setan seperti Lexotan, Rohibnol, Revortril sebanyak dua selongsong bekas film serta segenggam canabis sativa kering.

Salahkah saya memilikinya? Jawabnya tergantung Anda. Dulu, saya ‘dimusuhi’ teman-teman aktivis organisasi kerohanian Islam di fakultas. Saya tahu, bagi orang ‘awam’ seperti mereka, menggeneralisir merupakan pekerjaan mudah. Apalagi, mereka orang-orang pintar yang secara konsisten dan konsekwen mengamalkan pelajaran logika induktif (kebetulan, tiga kali mengulang, saya tak kunjung lulus mata kuliah dasar umum/MKDU ini).

Pernah, seorang dari mereka menggebrak meja ketika saya menyodorkan kelemahan-kelemahan mereka. Ketika itu, seorang teman menyebut teman-temanku yang ‘kaum pemabuk’ sebagai kerak kampus, biang onar dan segala macam sebutan jelek lainnya. Yang membuat kemarahan saya kian memuncak adalah ketika mereka menyinggung praktek Kristenisasi di permukiman warga sekitar kampus.

Kira-kira, begini yang saya katakan ketika itu: Apa yang Anda lakukan ketika proses Kristenisasi berlangsung di sekitar kalian tinggal? Apakah selama ini, kehadiran Anda juga sudah bermanfaat bagi mereka? Kepada saya yang akrab dengan ‘kaum pemabuk’ saja, Anda sudah memandang saya seperti kafir nan jahiliyah?!?

Saya katakan kepada mereka, apapun alasan seseorang menjadi akrab dengan alkohol, ganja dan pil setan, pada dasarnya mereka adalah orang-orang kesepian. Ketika hadir seseorang yang dianggap ‘bersih’ dalam kehidupannya, mereka sudah merasakan penghormatan luar biasa. Apalagi mau mendengarkan curhat atas problem-problem mereka. Bahwa mabuk itu perbuatan tidak baik, mereka sangat tahu. Tapi kebencian akan segera timbul manakala secara serta-merta dikatakan kepada mereka bahwa mabuk itu dosa.

Jujur, saya salut dengan keluarga besar Roy Marten yang mau menerima kenyataan yang dialami Roy. Dukungan keluarga dekat, yang saya tahu, menjadi sangat penting untuk menolong orang-orang seperti Roy keluar dari jerat barang haram semacam itu.

Tapi, ada praktek tak terpuji yang hingga kini masih dibiarkan. Korban narkotika rupanya merupakan pasar dan lahan bisnis bagi kaum cerdik pandai. Karena alasan malu atau demi menjaga martabat dan kehormatan keluarga, kini banyak keluarga memilih menyerahkan anggota keluarganya yang jadi korban narkotika ke panti-panti rehabilitasi yang jumlahnya ratusan di sepanjang Jakarta-Sukabumi, juga di kota-kota lain.

Kebanyakan mereka hanya percaya seratus persen kepada terapis, tapi ogah terlibat proses penyembuhan. Ironisnya, banyak pengelola panti rehabilitasi yang memanipulasi ketidaktahuan korban dan keluarganya. Di antaranya, dengan menerapkan praktek pengobatan dengan cara mengurangi dosis dari konsumsi rata-rata korban narkotika . Tak jarang, banyak pula yang menjerumuskan dengan metode detoksifikasi, seolah-olah itu merupakan satu-satunya jalan menyembuhkan.

Saya yakin, banyak orang tak percaya dengan kisah teman saya, seorang pecandu yang pernah saya ‘titipkan’ proses penyembuhannya kepada seorang terapis yang punya pengalaman menangani para korban kecanduan narkotika di Amerika Serikat. Kebetulan, teman saya sudah malang-melintang ke sejumlah psikiater dan pengelola panti rehabilitasi korban narkotika.

“Dari pengalaman saya mendatangi beberapa terapis dan psikiater, ternyata saya justru menjumpai sejumlah asisten terapis yang nyambi menjual sabu-sabu,” kata teman itu. Duh!!!

Foto: www.kapanlagi.com