PeristiwaDecember 31, 2007 12:45 pm

Konversi lahan di lereng Gunung Lawu menjadi salah satu penyebab rusaknya struktur tanah, sehingga membuat sejumlah kawasan dilanda bencana tanah longsor. Perlu penelitian lebih mendalam, apakah meningkatnya eksploitasi akar pakis yang banyak dikonsumsi sebagai media tanam anthurium memiliki kontribusi kerusakan lingkungan.

Longsor di Ledoksari, Tawangmangu merenggut 34 nyawa. Pada waktu yang nyaris bersamaan, pada Rabu, 26 Desember, longsor serupa terjadi di enam kecamatan lainnya di Kabupaten Karanganyar, dan menewaskan 32 orang. Bupati Rina Iriani dan seluruh warganya berduka.

Sejumlah longsoran agak besar, terutama di Karangpandan, membuat akses transportasi dari Tawangmangu ke Karanganyar dan kota-kota lain di sekitar Surakarta terhambat. Selama dua hari, distribusi sayuran dari petani Tawangmangu ke pasar-pasar di sejumlah kota, ikut terganggu. Apalagi, beberapa longsoran kecil juga terjadi di jalur alternatif lewat wilayah Kecamatan Matesih.

Peristiwa longsor di belasan tempat itu mengingatkan saya pada peristiwa longsor di Desa Sijeruk, Kabupaten Banjarnegara, dua tahun silam. Di dua lokasi itu, selain banyak perbukitan dengan tebing curam, tanaman keras nyaris tiada. Karena itu, tak ada akar kuat yang sanggup menahan pergerakan tanah manakala curah hujan tinggi. Air tak bisa diserap tanah, sedang tanah di permukaan yang gembur mudah larut bersama derasnya air.

Di sekitar Tawangmangu, misalnya, kini tak banyak lagi pohon pinus. Hijaunya bukit-bukit di sana lebih disebabkan oleh suburnya tanaman jagung, yang menjadi sumber ekonomi sebagian besar penduduk. Juga oleh berbagai jenis tanaman hias yang memang dibudidayakan.

Saya pun teringat kata-kata Pak Ginting –seorang pengusaha anthurium di Cemani, Sukoharjo, dalam sebuah percakapan ringan, dua bulan silam. Ia bertutur, eksploitasi tanaman pakis yang tak terkontrol, akan membahayakan keseimbangan lingkungan di sekitar Gunung Lawu. Ia menunjuk contoh, banyak warga di lereng Lawu, terutama di kawasan atas, banyak berbisnis batang pakis dalam beberapa tahu terakhir. Volume perdagangannya pun terus berlibat seiring dengan booming bisnis anthurium.

Andai benar kata Pak Ginting, dimana tanaman pakis memiliki peran penting dalam menahan lajur air dan menjaga keseimbangan ekosistem hutan di pegunungan, maka longsor di beberapa tempat itu merupakan tragedi. Ibarat senjata makan tuan. Apalagi, Tawangmangu, Jenawi, Ngargoyoso, Karangpandan dan beberapa kecamatan sekitar lereng Gunung Lawu merupakan sentra tanaman anthurium, yang bahkan menjadi barometer bisnis tanaman mahal itu di Indonesia.

Jangankan ‘cuma’ puluhan juta, banyak tanaman jenmanii, wave of love dan beberapa varian anthurium dari daerah-daerah itu bisa laku sampai ratusan juta hingga dalam satuan miliar rupiah. Maka, tak aneh bila di daerah itu, kini banyak berseliweran mobil mewah. Orang-orang yang dulunya hidup pas-pasan, kini bisa naik berbagai jenis mobil keluaran terbaru, yang dimiliki setelah sukses berdagang daun.


Anthurium adalah jenis tanaman memanfaatkan akar pakis sebagai media tumbuhnya. Booming tanaman ini sejak beberapa tahun silam menjadikan kebutuhan akar pakis sangat tinggi ====>

Lihat saja sosok Sujarto –akrab disapa dengan sebutan Mbah Suyar, yang oleh sebagian orang di sana dijadikan figur panutan petani anthurium. Mbah Suyar adalah simbol sukses ‘pedagang daun’. Tangan dinginnya membuat ia sukses berbisnis tanaman yang digelutinya sejak awal 1990-an. Sebagai pegawai negeri yang bertugas nyopir ambulans dengan gaji tak seberapa, kini ia bisa memiliki tiga mobil baru dengan total pembelian nyaris Rp 1 miliar.

Sukses itu pula yang membuat ia terpilih sebagai penerima Danamon Award 2007 dalam kategori pengusaha menengah. Bahkan, Bupati Rina yang sangat kelewat terobsesi pada bisnis daun itu, sampai harus mendeklarasikan Karanganyar sebagai Kota Anthurium sejak pertengahan 2007.

Kalau saja bisnis pakis, yang jadi media utama budidaya anthurium menjadi salah satu penyebab rusaknya struktur tanah di lereng Gunung Lawu, agaknya Bu Bupati harus meninjau ulang kebijakannya menjadikan daerahnya sebagai Kota Anthurium. Setidak-tidaknya, ia harus mencari alternatif cara untuk melindungi alam, demi anak-cucunya kelak.

Setidaknya, jangan sampai peristiwa longsor di Ledoksari terulang kembali. Kesuksesan puluhan warga Dusun Mogol, Ledoksari berdagang anthurium menjadi sia-sia, kalau ujung-ujungnya hanya membuat mereka terkubur sia-sia, meski bersama harta berlimpah.

Kepada keluarga korban longsor, saya ucapkan bela sungkawa sedalam-dalamnya. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa mereka selama di dunia, semoga dijauhkan pula dari siksa kubur, serta bagi keluarga yang ditinggalkan dikaruniakan kesabaran dalam menghadapi cobaan dari-Nya. Amin.

KehidupanDecember 19, 2007 10:51 am

Kuburan, bagi saya, bukan semata tempat jasad dipendam, tempat ruh menanti proses penimbangan dosa dan amal baik. Kuburan juga merupakan cermin maya bagi mereka yang masih berpijak pada tanah. Bagi pendosa seperti saya, melintas di dekat kuburan bisa menggelorakan rasa takut, meski bagi kaum sufi seperti Jalaludin Rumi, kematian justru merupakan peristiwa yang sangat dinanti.

Pernah pada suatu masa, saya menyukai rumah sakit dan kuburan sebagai tempat pelarian. Ketika kalut mendera atau sedih sedang singgah, saya selalu segera memacu sepeda motor ke dua tempat itu. Melihat orang berduka di lorong rumah sakit, sudah cukup menawarkan hati yang risau. Begitu pula saat mengunjungi kuburan –apalagi pada malam hari, rasa takut segera menyergap sehingga ketenangan kembali datang.

Tapi itu hanyalah cerita masa lalu. Kini, ketika menjumpai kuburan, ingatan yang melintas hampir selalu didominasi oleh tangisan pilu ditingkah deru buldozer. Kuburan segera berubah jadi gedung pencakar langit atau pusat perbelanjaan. Kadang, hati terusik pada cekcok tak perlu karena berziarah dicurigai sebagai perilaku syirik, menyekutukan Tuhan. Berkunjung ke kuburan dianggap meminta sesuatu dari yang mati.

Kuburan, dengan kacamata apapun kita melihatnya, bagi saya tetap sesuatu yang menarik. Mungkin sama tertariknya dengan Arbain Rambey, meski wartawan KOMPAS itu lebih menyukai kuburan tua sebagai subyek fotonya.

Di Jawa pedalaman seperti Surakarta dan sekitarnya, misalnya, sebagian besar masyarakatnya masih mengagungkan hubungan dengan leluhurnya, bahkan hingga sekian generasi di atasnya. Ritual nyadran adalah salah satunya. Dalam tradisi ini, orang berduyun-duyun ke pusara leluhur dan kerabat untuk mendoakan arwahnya. Ada yang dengan membaca surat Yasin dan tahlil bagi sebagian umat Islam, ada pula yang mendoakan dengan keyakinan agamanya sendiri-sendiri.

Kuburan memang hanya sebuah nisan atau gundukan tanah yang diberi tanda. Tapi derajad penghormatannya bisa beraneka rupa. Ada yang dibuat rumah-rumahan sederhana, ada yang dikelilingi tirai putih seperti makam para wali, ada pula yang dikitari lantai marmer yang mewah dengan bangunan mewah berbahan kayu jati tebal berukir seperti makam keluarga Soeharto di Giribangun.

Namun, ada pula pemakaman yang sederhana seperti yang saya jumpai di sebuah desa di Jepara. Di atas sebidang tanah tak seberapa luas, saya hanya menjumpai sedikit makam bernisan. Selebihnya, hanya kayu-kayu penanda yang ‘ditanam’ pada tanah yang nyaris datar. Pada setiap Kamis menjelang senja, bergiliran orang datang membaca doa. Di tepian kuburan, terdapat puluhan dingklik, semacam bangku kecil untuk duduk seraya berdoa, yang memakan waktu rata-rata 30 menit pada setiap makam yang dikunjungi.

Saya hanya bisa menebak-nebak, jangan-jangan bentuk kuburan itu merupakan kompromi kaum muslim di sana. Ada puritanisme yang harus diperjuangkan, yakni untuk tidak mengotori makam leluhur dengan nisan yang dipersepsikan sebagai peninggalan kebudayaan animisme-dinamisme, namun tetap datang berziarah dengan membacakan surat Yasin dan mengumandangkan tahlil sebagai pengamalan ajaran Islam tradisional sebagaimana dibawa Wali Songo.

KasusDecember 17, 2007 11:29 am

Seorang reporter harian Radar Solo dianiaya sesama jurnalis gara-gara memberitakan praktek sogok dan pemerasan. Uniknya, penganiayaan terjadi di ruang Kepala Humas Pemerintahan. Kapolres sudah menjamin pengusutan akan dituntaskan dan akan dikawal hingga proses persidangan. Sebuah tragedi dalam dunia jurnalisme.


Puluhan jurnalis dari berbagai media mendatangi Kapolres Sragen untuk menuntut penuntasan pengusutan penganiayaan terhadap sesama jurnalis

Nahas nian nasib Gunawan. Lantaran memberitakan keluhan beberapa kepala sekolah yang mengaku diperas oleh sejumlah jurnalis televisi nasional, ia dihardik oleh sejumlah stringer ‘tidak resmi’. Bahkan, dua di antara tiga stringer itu melayangkan bogem mentah ke wajah Gunawan.

Secara etika, pemberitaan Gunawan berjudul Diperas Wartawan ‘Bodrex’, Kepala Sekolah Lapor DPRD yang diturunkan Radar Solo edisi Kamis, 15 Desember 2007 itu sudah benar dan berimbang. Ia mengutip pernyataan dua anggota DPRD Sragen yang pernah menerima keluhan kepala sekolah itu, yang konon berkisar antara Rp 250 ribu hingga Rp 1 juta.

Narasumbernya, seorang kepala sekolah, dibuat anonim karena menyangkut keselamatan. Gunawan pun tidak menyebut nama orang dan nama stasiun televisi nasional, karena kedua orang yang memukul itu –Heri Respati alias Amir dan Joko Piroso [lihat foto di bawah: Respati (kiri) dan Joko], bukanlah stringer resmi stasiun televisi. Keduanya hanyalah stringer lepas yang ‘menjual’ hasil liputannya kepada sejumlah stringer/koresponden resmi televisi lokal dan nasional yang berdomisili di sekitar Kota Surakarta.

Persoalan itu sempat mencemaskan sejumlah jurnalis di Surakarta. Laporan penganiayaan oleh korban ke Polres Sragen dikuatirkan akan membal lantaran selama ini polisi merasa ‘sangat terbantu’ oleh jurnalis televisi. Bahkan, di beberapa daerah, jurnalis televisi memperoleh perlakuan lebih istimewa dibanding reporter koran atau majalah. Polisi misalnya, belum mau bicara sebuah kasus (terutama kriminal), bila belum ada jurnalis televisi di sebuah ruangan. Polisi tak (mau) tahu, apakah sang pembawa handycam itu koresponden resmi atau suruhan seorang stringer/koresponden resmi.

Jurnalisme televisi, terutama di daerah, memang banyak yang amburadul, meski tidak semua begitu. Kloning berita –satu gambar di-copy ramai-ramai, tak jarang tayang di sejumlah stasiun. Ada simbiosis-mutualisme di sana. Stringer/koresponden resmi untung dobel. Selain tak perlu capek-capek liputan tapi punya bahan laporan, dia untung dari selisih honor. Bila sekali tayang diberi honor Rp 250 ribu, maka keuntungan akan bejibun karena satu materi kopian cuma dihargai antara Rp 25 ribu hingga Rp 50 ribu.

Bagi stringer ‘tak resmi’ juga untung. Praktek amplop yang membudaya di lingkungan narasumber menjadikan pundi-pundinya kian aman lantaran seringnya memperoleh uang saku seusai liputan. Padahal, satu peristiwa bisa dikloning untuk beberapa stringer/koresponden malas yang bekerja untuk sejumlah stasiun televisi yang berbeda. Di Surakarta, bahkan ada seseorang yang namanya berkibar sebagai tukang kloning. Ia rajin mengkopi gambar video lalu membagi (menjual) ke sejumlah koresonden stasiun televisi berbeda.

Anehnya, pada stringer/koresponden resmi tak pernah teliti sebelum ‘mempekerjakan’ stringer. Jangankan membekali kode etik jurnalistik, pengetahuan dasar pun mereka peroleh di lapangan. Sebab, media yang mempekerjakannya pun banyak yang lalai untuk membekali mereka dengan pendidikan jurnalistik televisi, yang sudah tentu berbeda dengan jurnalisme untuk media cetak.

Yang menyedihkan, pengelola stasiun televisi juga merasa tak memiliki harga diri. Kalau saja mereka mau mencermati berita yang masuk ke redaksi lalu membandingkannya dengan staisun-stasiun televisi lain, saya yakin dia akan mudah ‘membaca’ mana gambar video hasil kloning, mana pula yang asli hasil reportase korespondennya senditi.

Berita terkait:
Jurnalisme Amburadul