Seorang reporter harian Radar Solo dianiaya sesama jurnalis gara-gara memberitakan praktek sogok dan pemerasan. Uniknya, penganiayaan terjadi di ruang Kepala Humas Pemerintahan. Kapolres sudah menjamin pengusutan akan dituntaskan dan akan dikawal hingga proses persidangan. Sebuah tragedi dalam dunia jurnalisme.

Puluhan jurnalis dari berbagai media mendatangi Kapolres Sragen untuk menuntut penuntasan pengusutan penganiayaan terhadap sesama jurnalis
Nahas nian nasib Gunawan. Lantaran memberitakan keluhan beberapa kepala sekolah yang mengaku diperas oleh sejumlah jurnalis televisi nasional, ia dihardik oleh sejumlah stringer ‘tidak resmi’. Bahkan, dua di antara tiga stringer itu melayangkan bogem mentah ke wajah Gunawan.
Secara etika, pemberitaan Gunawan berjudul Diperas Wartawan ‘Bodrex’, Kepala Sekolah Lapor DPRD yang diturunkan Radar Solo edisi Kamis, 15 Desember 2007 itu sudah benar dan berimbang. Ia mengutip pernyataan dua anggota DPRD Sragen yang pernah menerima keluhan kepala sekolah itu, yang konon berkisar antara Rp 250 ribu hingga Rp 1 juta.
Narasumbernya, seorang kepala sekolah, dibuat anonim karena menyangkut keselamatan. Gunawan pun tidak menyebut nama orang dan nama stasiun televisi nasional, karena kedua orang yang memukul itu –Heri Respati alias Amir dan Joko Piroso [lihat foto di bawah: Respati (kiri) dan Joko], bukanlah stringer resmi stasiun televisi. Keduanya hanyalah stringer lepas yang ‘menjual’ hasil liputannya kepada sejumlah stringer/koresponden resmi televisi lokal dan nasional yang berdomisili di sekitar Kota Surakarta.
Persoalan itu sempat mencemaskan sejumlah jurnalis di Surakarta. Laporan penganiayaan oleh korban ke Polres Sragen dikuatirkan akan membal lantaran selama ini polisi merasa ‘sangat terbantu’ oleh jurnalis televisi. Bahkan, di beberapa daerah, jurnalis televisi memperoleh perlakuan lebih istimewa dibanding reporter koran atau majalah. Polisi misalnya, belum mau bicara sebuah kasus (terutama kriminal), bila belum ada jurnalis televisi di sebuah ruangan. Polisi tak (mau) tahu, apakah sang pembawa handycam itu koresponden resmi atau suruhan seorang stringer/koresponden resmi.
Jurnalisme televisi, terutama di daerah, memang banyak yang amburadul, meski tidak semua begitu. Kloning berita –satu gambar di-copy ramai-ramai, tak jarang tayang di sejumlah stasiun. Ada simbiosis-mutualisme di sana. Stringer/koresponden resmi untung dobel. Selain tak perlu capek-capek liputan tapi punya bahan laporan, dia untung dari selisih honor. Bila sekali tayang diberi honor Rp 250 ribu, maka keuntungan akan bejibun karena satu materi kopian cuma dihargai antara Rp 25 ribu hingga Rp 50 ribu.
Bagi stringer ‘tak resmi’ juga untung. Praktek amplop yang membudaya di lingkungan narasumber menjadikan pundi-pundinya kian aman lantaran seringnya memperoleh uang saku seusai liputan. Padahal, satu peristiwa bisa dikloning untuk beberapa stringer/koresponden malas yang bekerja untuk sejumlah stasiun televisi yang berbeda. Di Surakarta, bahkan ada seseorang yang namanya berkibar sebagai tukang kloning. Ia rajin mengkopi gambar video lalu membagi (menjual) ke sejumlah koresonden stasiun televisi berbeda.
Anehnya, pada stringer/koresponden resmi tak pernah teliti sebelum ‘mempekerjakan’ stringer. Jangankan membekali kode etik jurnalistik, pengetahuan dasar pun mereka peroleh di lapangan. Sebab, media yang mempekerjakannya pun banyak yang lalai untuk membekali mereka dengan pendidikan jurnalistik televisi, yang sudah tentu berbeda dengan jurnalisme untuk media cetak.
Yang menyedihkan, pengelola stasiun televisi juga merasa tak memiliki harga diri. Kalau saja mereka mau mencermati berita yang masuk ke redaksi lalu membandingkannya dengan staisun-stasiun televisi lain, saya yakin dia akan mudah ‘membaca’ mana gambar video hasil kloning, mana pula yang asli hasil reportase korespondennya senditi.
Berita terkait:
Jurnalisme Amburadul

setuju kang blonty…
demikianlah kalo harga diri sudah terjual oleh rupiah maka kritikan pun berbalas dendam yang dilampiaskan secara fisikli…padahal itu merupakan cerminan kualitas pribadi mereka sendiri…
tapi keadaan ini juga tak bisa dilepaskan dari aroma persaingan dunia tv yang semakin ketat…menyiratkan lemahnya kontrol kualitas insan tv di pusat…seakan menerima mentah2 isinya takut keduluan stasiun saingan…kalo perlu dengan label EKSKLUSIVITAS…mana pernah mereka mengecek secara teknis jurnalitknya…peristiwa bunuh diri di sebuah rt di kampung terpencil saja bisa menghiasi layar kaca berita kriminal…
semoga kita dapat mengambil pelajaran dari kejadian tersebut…tolak kriminalisasi pers…
-salam-
Comment by andika — December 17, 2007 @ 12:49 pm
Sebuah titik balik. Itu yang ada dalam pikiran saya setelah membaca artikel pak blonty. mengutip Judul buku karangan Chapra “Titik balik peradaban”, bahwa di masa depan semoga akan dipetik pasca tragedi ini. Titik balik yang akan merubah motivasi dan semangat kerja rekan rekan jurnalis di Surakarta, khususnya rekan jurnalis tivi.
Comment by onggobroto — December 17, 2007 @ 2:28 pm
Ya beginilah kalo aspek rupiah yang dikejar mereka yang mengaku berprofesi wartawan. Tanpa pernah memikirkan apa makna dari berita yang mereka siarkan yang penting duit segera di tangan. Akibatnya, sepak sana tendang sini tonjok sana tinju sini, tak peduli wartawan yang benar-benar melakukan kontrol. Siapa pun yang mengkritik diharjarnya. Wah!
Kelemahan dunia jurnalistik yang klasik : teknik amburadul, etik sami mawon…. Sebuah refleksi bagi yang ingin menjadi jurnalis yang baik.
Comment by yadi p — December 17, 2007 @ 2:29 pm
setuju pak blontank, cuma saya kagak disebut itu dari televisi mana. tolong sebutin dong.
Comment by robert — December 18, 2007 @ 2:28 am
lah itu kan pak imron fotonya…
oh diakah yang jadi stringer dimaksud..?
padahal ngakunya wartawan tempo..ternyata wartawan bodrek ya…baru tahu saya…
(kutub)
blonty: Mas/Pak/Bu/Mbak Kutub, sebaiknya Anda tidak membuat prasangka yang tidak perlu, apalagi membuat fitnah. Terkait dengan tanggapan atas komentar Anda (lihat: #11), saya jadi ikut terpancing, jangan-jangan Anda ikut dalam konspirasi menebar fitnah beberapa waktu lalu. Saya tahu persis kredibilitas Imron, juga beberapa teman yang saya anggap ‘terlibat’ dalam konspirasi fitnah dan pembunuhan karakter terhadap Saudara Imron.
Percayalah, ‘perang’ atau persaingan kerja intelektual tidak mudah. Perlu kecakapan dan dukungan ‘infrastruktur’ yang memadai. Hanya orang-orang kerdil dan hipokrit yang suka menebar kasak-kusuk, tanpa pernah berani menampakkan muka. Andai benar bahwa Anda adalah salah seorang yang terlibat dalam konspirasi kotor semacam itu, alangkah kasihannya hidup Anda. Semoga saya salah menilai Anda…..
Comment by kutub pranyoto — December 18, 2007 @ 6:05 am
OKNUM…
kalo tidak mau tersangkut-sangkut karna berprofesi yang sama, gampang kok caranya… pakailah cara yang paling manjur… itu adalah perilaku segelintir ‘oknum’.
Mas Blontang… masih inget gak?
Beberapa tahun yang lalu, kalo gak salah paska sidang umum 2004, ada rekan wartawan tulis media massa yang cukup terkenal dan besar juga menjadi korban penganiayaan para rekan2 ‘oknum’ bodrex di gedung DPR…
sama seperti di daerah ’sampeyan’ itu, ada pro dan kontra dari anggota dewan…
intinya, saya mau komentar aja Mas Blon…
justru diteruskan ato tidaknya kasus ini menjadi cermin, sejauh mana ke-resmian dan ke-bodrex-kan mereka… ato sejauh mana tingkat kejurnalisme-an temen2 di SOlo…
Kalo dulu ada slogan..
Perangi Preman pada Wartawan..
sekarang..
Perangi Wartawan yang jadi Preman…
Maju terus Mas Blon..
-Veda-
Comment by veda — December 19, 2007 @ 7:36 am
Profesi jurnalistik sekarang sudah tidak istimewa lagi ya.Publik sudah underestimate sama wartawan (sama halnya persepsi mereke ke polisi).
di situs http://bataknews.wordpress.com/ bahkan ada polling persepsi soal wartawan. Hasilnya luar biasa: 60 % lebih mengatakan: Orang yang suka memeras pejabat.
Comment by evan — December 19, 2007 @ 8:14 am
meski ga begitu banyak yang saya tahu soal dunia wartawan, tp 3 tahun saya rasa cukup untuk mengetahui karakter wartawan!!kadang lucu plus heran juga pas liat wartawan senior yang jelas institusinya jadi “bodrex” alias gorok petinggi2 daerah…tp mereka bakal sakit hati kalo tahu ada “bodrex” beneran yang berkeliaran..ato mungkin, mereka takut lahannya bakal keambil ya??yang saya tahu, menjadi wartawan adalah sebuah hobi!!untuk sebuah profesi, wartawan terlalu berat untuk digeluti..bener ga pak de??
blonty: Memang ada, masih ada wartawan senior (junior pun ada pula) yang menyalahgunakan posisinya dan menjual medianya untuk mencari keuntungan pribadi. Namun, tak semua wartawan begitu.
Bahwa profesi wartawan itu terlalu berat untuk digeluti, memang demikianlah adanya. Risiko di lapangan terlalu banyak, apalagi kalau liputannya kritis terhadap sebuah kebijakan dan sebagainya. Belum lagi godaan uang di lapangan…..
Comment by anak baru — December 19, 2007 @ 2:04 pm
Byuh! Edan tenan. Menyedihkan.
Dulu malah ada A, seorang jurnalis, dipukuli jurnalis palsu B ketika berpapasan. Penyebabnya: si A melapor ke polisi bahwa namanya dicatut oeh B untuk pemerasan, amplop, dan sebagainya. B marah karena sempat ditahan gara-gara itu. Aneh kan?
Comment by Paman Tyo — December 20, 2007 @ 1:05 pm
sebuah realitas yg menyedihkan… monggo silahkan memberikan penilaian seperti kenyataannya. semoga ini menjadi pelajaran berharga, bagi siapapun yg bekerja sebagai pewarta2 (khususnya televisi)
revolusi dari teknologi analog, ke teknologi digital, memang membuat segalanya lebih mudah. demikian juga dg televisi. jika dulu harus membeli kamera video analog dg harga puluhan juta, skr hanya cukup 2jt sudah dpt handycam minidv (sdh memenuhi standar tv -utk kstnya). jika demikian, bukan mustahil tukang becak kita kasih handycam & sedikit penjelasan gambar, akan dapat mjd pedagang gambar. bln puasa tahun lalu, saya sedikit berbagi ilmu dg santri kilat di ponpes al muayyad, windan, sukoharjo, mereka adalah anak2 jalanan. hanya 2 kali pertemuan masing2 berdurasi 1,5jam, mereka sdh dpt melakukan pengambilan gbr -sing penting padang & dadi.
saya tdk hendak mengatakan gambar saya sempurna, tapi setidaknya saya tetap menggunakan kaidah2 baku videografi (saya tidak yakin 2 tsk kasus pemukulan di sragen itu tahu tentang hal tersebut)
intinya, klo budaya seperti ini terus terpelihara, maka profesi video journalist akan mjd sangat murah. bukan tdk mungkin, suatu saat saya akan kehilangan status sbg wartawan tv (yg saat ini msh dipandang ‘kasta atas’ oleh sebagian orang), krn kantor lbh memilih mengumpulkan gbr dari masyarakat. AREP DADI OPO AWAK’E DHEWE ??? nyalon bupati ? jelas sulit, krn ga punya uang. mau ngrampog ? ga punya cukup keberanian. atau jd tukang becak, trus dodolan gambar ???
mari kita instropeksi diri. matur nuwun pa’de pung blontank, yg sudah keraya2 bikin tulisan ini di blog’nya.
salam damai. tuhan memberkati (mumpung arep natalan)
Comment by sinuhun.eka.hari.wibawa — December 22, 2007 @ 3:25 am
maaf pak blo, minjem blog. Saya ingin kenalan Kutub Pranyoto, yang mengaku kenal saya tetapi saya tidak pernah merasa kenal apalagi ngaku kepada dia sebagai wartawan Tempo. Komentnya mengingatkan saya akan fitnah yang pernah saya alami. Jangan-jangan, si Kutub Pranyoto, ini biang keladinya. (sekali lagi maaf pak Blo)
Comment by imron — December 22, 2007 @ 4:10 am
Mendingan dagang saja kaya Blonty ini, resmi, jelas, dan halal. Ketimbang sakit hati gara-gara diktegorikan wartawan bodrek (bondo erek-erek/berbekal kertas untuk corat-coret) hehehe… nggih mboten pakdhe Blonty….
Comment by Wahyoe — December 22, 2007 @ 5:00 am
BLONTHAN POER SAYA SIH SETUJU BANGET, JIKA STRINGER TAK RESMI ITU MEMANG BIKIN NGESELIN ATI DAN HARUS MENJADI PERHATIAN MEDIA// MEREKA HANY SISTEM JUAL BELI BERITA TANPA ADA KEBANGGAN SUATU BERITA TAYANG DIKARENAKAN KERJA KERAS/ PELUH KERINGAT DAN HARUS MENANTANG MAUT//
KALAU BEGINI SISTEM JUAL BELI, TIDAK UBAHNYA SEPERTI LONTHE YANG JUGA HANYA BISA JUAL BELI TUBUH// KALAU KITA JUAL BELI BERITA DAN DAPAT UANG BANYAK// TANPA MIKIR BERITA DARI MANA/ YA// SEKIAN DULU YANG BUNG//
Comment by IAN — December 23, 2007 @ 5:13 am
awalnya aku gak pernah berpikir jauh tentang rentannya profesi jurnalis dengan yang berbau contek-mencontek bahan berita, suap ataupun jotos… selama ini sistemnya kan ‘konco’. harusnya kita tetap bisa bertanggungjawab pada perusahaan dan profesi..
jelas semua yang berprofesi sebagai jurnalis itu punya rasa idealisme tinggi dan diberlakukan hukum alam, siapa yg kuat akan bertahan yg lemah ya nyerah..
yah kita hrs bisa menempatin diri aja deh..
Comment by ade — December 23, 2007 @ 11:08 am
lama saya tidak kewarnet. baru tahu ada email dari pak blontang. maaf baru balas
Kok malah gue dituduh tukang fitnah.
Gue kutub, saat ini sedang kuliah di UMS. aktif di pers mahasiswa. sedang belajar menulis jurnalistik, karena itu aktif di pers kampus
sebagai yunior wajib bagi gue untuk mencari tahu reputasi wartawan senior. salah satunya meliat model tulisan di blognya pak blontang por
saya tahu pak imron. tentu gue tidak dikenal pak imron. Posisinya sebagai wartawan tempo tentunya. majalah yang cukup bergensi membuat gue segan.
kalau gue dituduh memfitnah bagaimana bisa. fitnah masalah apa aja ndak tahu. Fitnah apa ?dan resiko besar kalau saya ribut dengan senior. karena jurjur saja, gue butuh mereka
kalau tulisan gue salah pak, tolong dibenerkan. Gue kira foto itu memang pelakunya.
maaf deh,
tolong dihapus komentar yang lalu. besok tak temui pak imron.
kutub
—– Original Message —-
From: BLONTANK POeR
To: kutubnet@yahoo.com
Sent: Saturday, December 22, 2007 11:45:38 AM
Subject: konfirmasi
Saudara Kutub yth.
Terkait komentar Anda di blog saya (http://blontankpoer.blogsome.com/2007/12/17/kisah-jurnalis-main-pukul/), saya harap Anda melakukan klarifikasi terhadap pernyataan/tanggapan atas komentar Anda (lihat komentar #11).
Saya tidak ingin Anda menebar fitnah di blog saya.
Salam,
blontypix
blonty: Terima kasih atas tanggapan Anda. Maaf, kalau saya ‘terpancing’ untuk berprasangka kepada Anda. Kalau saja tanggapan Anda menggunakan tanda baca yang tepat dan Sdr. Imron tidak menanggapi komentar Anda, tentu saya tidak sampai ‘diingatkan’ akan memori yang mengusik hati kami. Keterangan foto yang saya tulis, saya kira sudah menjelaskan siapa yang berada di ruangan Kepala Polres Sragen. Sekali lagi, maaf.
Comment by kutub — December 25, 2007 @ 1:46 am
Menyedihkan sekaligus menyenangkan. Menyedihkan karena kaum preman berbaju jurnalis. Menyenangkan karena di blog ini foto sedulur lanangku, konco sarungan loro lopo yang sudah sepuh, Imron Rosyid alias Renget, muncul sebagai foto sampul secara jelas welo-welo…. Good Om Blonty…
Comment by Ulin Ni'am Yusron — December 27, 2007 @ 3:41 am
Kayaknya perlu dibenahi proses rekrutmen para jurnalis….ini Pe ER bagi lembaga-lembaga jurnalis untuk menghasilkan jurnalis yg punya kredibilitas. Semakin banyak yang kredibel yang bodrek pasti tersingkir dengan sendirinya.
(padahal saya juga cuman freelancer lho…)
Maju terus mas Blonty.
Comment by Feri — February 11, 2008 @ 12:49 pm
aq melu nulis. wah dulu pernah dapat cerita dr rekan jurnalis kalau pernah ada dua laporan yang sama, dengan redaksional yang sama persis, bisa muncul di dua harian di solo. keliatan copas banget. mas, jenengan jurnalis media mana?
Comment by LiputanOne — December 24, 2008 @ 10:11 am
knp ng’ ada videox kah.. nahc yg saya cari videox jie
Comment by yusri — November 23, 2010 @ 12:40 pm
If you want to buy a house, you would have to receive the personal loans. Furthermore, my sister all the time uses a consolidation loan, which supposes to be the most reliable.
Comment by Lou32Lane — December 11, 2011 @ 5:26 pm
Hmm it appears like your blog ate my first comment (it was extremely long) so I guess I’ll just sum it up what I submitted and say, I’m thoroughly enjoying your blog. I as well am an aspiring blog writer but I’m still new to everything. Do you have any tips for first-time blog writers? I’d genuinely appreciate it.
Comment by Corinne — October 30, 2012 @ 12:37 am
Hi, this weekend is fastidious for me, as this time i am reading this wonderful educational article here at my residence.
Comment by party — February 17, 2013 @ 11:22 am
Pretty great post. I simply stumbled upon your blog and wished to mention that I’ve really loved surfing around your blog posts. In any case I’ll be subscribing on your feed and I hope you write again very soon!
Comment by http://www.Melbournefooddistributors.com.au/ — February 17, 2013 @ 12:08 pm
This post will help the internet people for setting up new blog or even a blog from start to end.
Comment by massage mermaid — February 17, 2013 @ 1:25 pm
What i don’t understood is if truth be told how you’re no longer actually much more neatly-appreciated than you may be right now. You are very intelligent. You know therefore considerably in terms of this subject, made me in my view believe it from numerous numerous angles. Its like women and men aren’t interested except it is one thing to do with Woman gaga! Your individual stuffs excellent. Always handle it up!
Comment by Micki — February 17, 2013 @ 1:29 pm
What’s up colleagues, fastidious piece of writing and good urging commented at this place, I am really enjoying by these.
Comment by motorradtour spanien — February 17, 2013 @ 5:04 pm
Today, I went to the beach front with my kids. I found a sea shell and gave it to my 4 year old daughter and said “You can hear the ocean if you put this to your ear.” She placed the shell to her ear and screamed. There was a hermit crab inside and it pinched her ear. She never wants to go back! LoL I know this is totally off topic but I had to tell someone!
Comment by Online Clothes shopping — February 18, 2013 @ 1:57 am
A person essentially assist to make significantly posts I would state. That is the very first time I frequented your web page and up to now? I amazed with the analysis you made to create this particular submit amazing. Wonderful process!
Comment by Paulette — February 18, 2013 @ 3:10 am
When I initially commented I clicked the “Notify me when new comments are added” checkbox and now each time a comment is added I get three e-mails with the same comment. Is there any way you can remove people from that service? Many thanks!
Comment by http://www.hiphampers.com.au — February 18, 2013 @ 11:20 am
Hmm is anyone else having problems with the images on this blog loading? I’m trying to figure out if its a problem on my end or if it’s the blog. Any feedback would be greatly appreciated.
Comment by Marlene — May 3, 2013 @ 1:07 pm
Неllo, i thinκ that і ѕaw you visіtеd my wеblοg so i сamе to “геturn the favог”.І am trying tο finԁ things to enhаnсe my website!ӏ supρosе its ok to use a feω of yοur іdeas! ! Feel frее to visіt my page :: mebel jati jepara
Comment by mebel jati jepara — May 9, 2013 @ 7:56 pm