<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress/1.5.1-alpha" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
<channel>
	<title>Comments on: Kisah Jurnalis Main Pukul</title>
	<link>http://blontankpoer.blogsome.com/2007/12/17/kisah-jurnalis-main-pukul/</link>
	<description>Just another WordPress weblog</description>
	<pubDate>Fri, 06 Nov 2009 08:38:58 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=1.5.1-alpha</generator>

	<item>
		<title>by: LiputanOne</title>
		<link>http://blontankpoer.blogsome.com/2007/12/17/kisah-jurnalis-main-pukul/#comment-896</link>
		<pubDate>Wed, 24 Dec 2008 10:11:16 +0000</pubDate>
		<guid>http://blontankpoer.blogsome.com/2007/12/17/kisah-jurnalis-main-pukul/#comment-896</guid>
					<description>aq melu nulis. wah dulu pernah dapat cerita dr rekan jurnalis kalau pernah ada dua laporan yang sama, dengan redaksional yang sama persis, bisa muncul di dua harian di solo. keliatan copas banget. mas, jenengan jurnalis media mana?</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>aq melu nulis. wah dulu pernah dapat cerita dr rekan jurnalis kalau pernah ada dua laporan yang sama, dengan redaksional yang sama persis, bisa muncul di dua harian di solo. keliatan copas banget. mas, jenengan jurnalis media mana?
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: Feri</title>
		<link>http://blontankpoer.blogsome.com/2007/12/17/kisah-jurnalis-main-pukul/#comment-621</link>
		<pubDate>Mon, 11 Feb 2008 12:49:16 +0000</pubDate>
		<guid>http://blontankpoer.blogsome.com/2007/12/17/kisah-jurnalis-main-pukul/#comment-621</guid>
					<description>Kayaknya perlu dibenahi proses rekrutmen para jurnalis....ini Pe ER bagi lembaga-lembaga jurnalis untuk menghasilkan jurnalis yg punya kredibilitas. Semakin banyak yang kredibel yang bodrek pasti tersingkir dengan sendirinya.
(padahal saya juga cuman freelancer lho...)

Maju terus mas Blonty.</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>Kayaknya perlu dibenahi proses rekrutmen para jurnalis&#8230;.ini Pe ER bagi lembaga-lembaga jurnalis untuk menghasilkan jurnalis yg punya kredibilitas. Semakin banyak yang kredibel yang bodrek pasti tersingkir dengan sendirinya.<br />
(padahal saya juga cuman freelancer lho&#8230;)</p>
	<p>Maju terus mas Blonty.
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: Ulin Ni'am Yusron</title>
		<link>http://blontankpoer.blogsome.com/2007/12/17/kisah-jurnalis-main-pukul/#comment-554</link>
		<pubDate>Thu, 27 Dec 2007 03:41:22 +0000</pubDate>
		<guid>http://blontankpoer.blogsome.com/2007/12/17/kisah-jurnalis-main-pukul/#comment-554</guid>
					<description>Menyedihkan sekaligus menyenangkan. Menyedihkan karena kaum preman berbaju jurnalis. Menyenangkan karena di blog ini foto sedulur lanangku, konco sarungan loro lopo yang sudah sepuh, Imron Rosyid alias Renget, muncul sebagai foto sampul secara jelas welo-welo.... Good Om Blonty...</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>Menyedihkan sekaligus menyenangkan. Menyedihkan karena kaum preman berbaju jurnalis. Menyenangkan karena di blog ini foto sedulur lanangku, konco sarungan loro lopo yang sudah sepuh, Imron Rosyid alias Renget, muncul sebagai foto sampul secara jelas welo-welo&#8230;. Good Om Blonty&#8230;
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: kutub</title>
		<link>http://blontankpoer.blogsome.com/2007/12/17/kisah-jurnalis-main-pukul/#comment-552</link>
		<pubDate>Tue, 25 Dec 2007 01:46:53 +0000</pubDate>
		<guid>http://blontankpoer.blogsome.com/2007/12/17/kisah-jurnalis-main-pukul/#comment-552</guid>
					<description>lama saya tidak kewarnet. baru tahu ada email dari pak blontang. maaf baru balas

Kok malah gue dituduh tukang fitnah.
Gue kutub, saat ini sedang kuliah di UMS. aktif di pers mahasiswa. sedang belajar menulis jurnalistik, karena itu aktif di pers kampus

sebagai yunior wajib bagi gue untuk mencari tahu reputasi wartawan senior. salah satunya meliat model tulisan di blognya pak blontang por

saya tahu pak imron. tentu gue tidak dikenal pak imron. Posisinya sebagai wartawan tempo tentunya. majalah yang cukup bergensi membuat gue segan.

kalau gue dituduh memfitnah bagaimana bisa. fitnah masalah apa aja ndak tahu. Fitnah apa ?dan resiko besar kalau saya ribut dengan senior. karena jurjur saja, gue butuh mereka

kalau tulisan gue salah pak, tolong dibenerkan. Gue kira foto itu memang pelakunya.

maaf deh,
tolong dihapus komentar yang lalu.  besok tak temui pak imron.

kutub

----- Original Message ----
From: BLONTANK POeR 
To: kutubnet@yahoo.com
Sent: Saturday, December 22, 2007 11:45:38 AM
Subject: konfirmasi


Saudara Kutub yth.
Terkait komentar Anda di blog saya (http://blontankpoer.blogsome.com/2007/12/17/kisah-jurnalis-main-pukul/), saya harap Anda melakukan klarifikasi terhadap pernyataan/tanggapan atas komentar Anda (lihat komentar #11).
 
Saya tidak ingin Anda menebar fitnah di blog saya.
 
Salam, 
blontypix

&lt;strong&gt;blonty:&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;Terima kasih atas tanggapan Anda. Maaf, kalau saya 'terpancing' untuk berprasangka kepada Anda. Kalau saja tanggapan Anda menggunakan tanda baca yang tepat dan Sdr. Imron tidak menanggapi komentar Anda, tentu saya tidak sampai 'diingatkan' akan memori yang mengusik hati kami. Keterangan foto yang saya tulis, saya kira sudah menjelaskan siapa yang berada di ruangan Kepala Polres Sragen. Sekali lagi, maaf.&lt;/em&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>lama saya tidak kewarnet. baru tahu ada email dari pak blontang. maaf baru balas</p>
	<p>Kok malah gue dituduh tukang fitnah.<br />
Gue kutub, saat ini sedang kuliah di UMS. aktif di pers mahasiswa. sedang belajar menulis jurnalistik, karena itu aktif di pers kampus</p>
	<p>sebagai yunior wajib bagi gue untuk mencari tahu reputasi wartawan senior. salah satunya meliat model tulisan di blognya pak blontang por</p>
	<p>saya tahu pak imron. tentu gue tidak dikenal pak imron. Posisinya sebagai wartawan tempo tentunya. majalah yang cukup bergensi membuat gue segan.</p>
	<p>kalau gue dituduh memfitnah bagaimana bisa. fitnah masalah apa aja ndak tahu. Fitnah apa ?dan resiko besar kalau saya ribut dengan senior. karena jurjur saja, gue butuh mereka</p>
	<p>kalau tulisan gue salah pak, tolong dibenerkan. Gue kira foto itu memang pelakunya.</p>
	<p>maaf deh,<br />
tolong dihapus komentar yang lalu.  besok tak temui pak imron.</p>
	<p>kutub</p>
	<p>&#8212;&#8211; Original Message &#8212;-<br />
From: BLONTANK POeR<br />
To: <a href="mailto:kutubnet@yahoo.com">kutubnet@yahoo.com</a><br />
Sent: Saturday, December 22, 2007 11:45:38 AM<br />
Subject: konfirmasi</p>
	<p>Saudara Kutub yth.<br />
Terkait komentar Anda di blog saya (http://blontankpoer.blogsome.com/2007/12/17/kisah-jurnalis-main-pukul/), saya harap Anda melakukan klarifikasi terhadap pernyataan/tanggapan atas komentar Anda (lihat komentar #11).</p>
	<p>Saya tidak ingin Anda menebar fitnah di blog saya.</p>
	<p>Salam,<br />
blontypix</p>
	<p><strong>blonty:</strong> <em>Terima kasih atas tanggapan Anda. Maaf, kalau saya &#8216;terpancing&#8217; untuk berprasangka kepada Anda. Kalau saja tanggapan Anda menggunakan tanda baca yang tepat dan Sdr. Imron tidak menanggapi komentar Anda, tentu saya tidak sampai &#8216;diingatkan&#8217; akan memori yang mengusik hati kami. Keterangan foto yang saya tulis, saya kira sudah menjelaskan siapa yang berada di ruangan Kepala Polres Sragen. Sekali lagi, maaf.</em>
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: ade</title>
		<link>http://blontankpoer.blogsome.com/2007/12/17/kisah-jurnalis-main-pukul/#comment-551</link>
		<pubDate>Sun, 23 Dec 2007 11:08:07 +0000</pubDate>
		<guid>http://blontankpoer.blogsome.com/2007/12/17/kisah-jurnalis-main-pukul/#comment-551</guid>
					<description>awalnya aku gak pernah berpikir jauh tentang rentannya profesi jurnalis dengan yang berbau contek-mencontek bahan berita, suap ataupun jotos... selama ini sistemnya kan 'konco'. harusnya kita tetap bisa bertanggungjawab pada perusahaan dan profesi.. 
jelas semua yang berprofesi sebagai jurnalis itu punya rasa idealisme tinggi dan diberlakukan hukum alam, siapa yg kuat akan bertahan yg lemah ya nyerah..
yah kita hrs bisa menempatin diri aja deh.. </description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>awalnya aku gak pernah berpikir jauh tentang rentannya profesi jurnalis dengan yang berbau contek-mencontek bahan berita, suap ataupun jotos&#8230; selama ini sistemnya kan &#8216;konco&#8217;. harusnya kita tetap bisa bertanggungjawab pada perusahaan dan profesi..<br />
jelas semua yang berprofesi sebagai jurnalis itu punya rasa idealisme tinggi dan diberlakukan hukum alam, siapa yg kuat akan bertahan yg lemah ya nyerah..<br />
yah kita hrs bisa menempatin diri aja deh..
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: IAN</title>
		<link>http://blontankpoer.blogsome.com/2007/12/17/kisah-jurnalis-main-pukul/#comment-550</link>
		<pubDate>Sun, 23 Dec 2007 05:13:44 +0000</pubDate>
		<guid>http://blontankpoer.blogsome.com/2007/12/17/kisah-jurnalis-main-pukul/#comment-550</guid>
					<description>BLONTHAN POER SAYA SIH SETUJU BANGET, JIKA STRINGER TAK RESMI ITU MEMANG BIKIN NGESELIN ATI DAN HARUS MENJADI PERHATIAN MEDIA// MEREKA HANY SISTEM JUAL BELI BERITA TANPA ADA KEBANGGAN SUATU BERITA TAYANG DIKARENAKAN KERJA KERAS/ PELUH KERINGAT DAN HARUS MENANTANG MAUT// 

KALAU BEGINI SISTEM JUAL BELI, TIDAK UBAHNYA SEPERTI LONTHE YANG JUGA HANYA BISA JUAL BELI TUBUH// KALAU KITA JUAL BELI BERITA DAN DAPAT UANG BANYAK// TANPA MIKIR BERITA DARI MANA/ YA// SEKIAN DULU YANG BUNG//  </description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>BLONTHAN POER SAYA SIH SETUJU BANGET, JIKA STRINGER TAK RESMI ITU MEMANG BIKIN NGESELIN ATI DAN HARUS MENJADI PERHATIAN MEDIA// MEREKA HANY SISTEM JUAL BELI BERITA TANPA ADA KEBANGGAN SUATU BERITA TAYANG DIKARENAKAN KERJA KERAS/ PELUH KERINGAT DAN HARUS MENANTANG MAUT// </p>
	<p>KALAU BEGINI SISTEM JUAL BELI, TIDAK UBAHNYA SEPERTI LONTHE YANG JUGA HANYA BISA JUAL BELI TUBUH// KALAU KITA JUAL BELI BERITA DAN DAPAT UANG BANYAK// TANPA MIKIR BERITA DARI MANA/ YA// SEKIAN DULU YANG BUNG//
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: Wahyoe</title>
		<link>http://blontankpoer.blogsome.com/2007/12/17/kisah-jurnalis-main-pukul/#comment-549</link>
		<pubDate>Sat, 22 Dec 2007 05:00:28 +0000</pubDate>
		<guid>http://blontankpoer.blogsome.com/2007/12/17/kisah-jurnalis-main-pukul/#comment-549</guid>
					<description>Mendingan dagang saja kaya Blonty ini, resmi, jelas, dan halal. Ketimbang sakit hati gara-gara diktegorikan wartawan bodrek (bondo erek-erek/berbekal kertas untuk corat-coret) hehehe... nggih mboten pakdhe Blonty....</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>Mendingan dagang saja kaya Blonty ini, resmi, jelas, dan halal. Ketimbang sakit hati gara-gara diktegorikan wartawan bodrek (bondo erek-erek/berbekal kertas untuk corat-coret) hehehe&#8230; nggih mboten pakdhe Blonty&#8230;.
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: imron</title>
		<link>http://blontankpoer.blogsome.com/2007/12/17/kisah-jurnalis-main-pukul/#comment-548</link>
		<pubDate>Sat, 22 Dec 2007 04:10:29 +0000</pubDate>
		<guid>http://blontankpoer.blogsome.com/2007/12/17/kisah-jurnalis-main-pukul/#comment-548</guid>
					<description>maaf pak blo, minjem blog. Saya ingin kenalan Kutub Pranyoto, yang mengaku kenal saya tetapi saya tidak pernah merasa kenal apalagi ngaku kepada dia sebagai wartawan Tempo. Komentnya mengingatkan saya akan fitnah yang pernah saya alami. Jangan-jangan, si Kutub Pranyoto, ini biang keladinya. (sekali lagi maaf pak Blo)</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>maaf pak blo, minjem blog. Saya ingin kenalan Kutub Pranyoto, yang mengaku kenal saya tetapi saya tidak pernah merasa kenal apalagi ngaku kepada dia sebagai wartawan Tempo. Komentnya mengingatkan saya akan fitnah yang pernah saya alami. Jangan-jangan, si Kutub Pranyoto, ini biang keladinya. (sekali lagi maaf pak Blo)
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: sinuhun.eka.hari.wibawa</title>
		<link>http://blontankpoer.blogsome.com/2007/12/17/kisah-jurnalis-main-pukul/#comment-547</link>
		<pubDate>Sat, 22 Dec 2007 03:25:34 +0000</pubDate>
		<guid>http://blontankpoer.blogsome.com/2007/12/17/kisah-jurnalis-main-pukul/#comment-547</guid>
					<description>sebuah realitas yg menyedihkan... monggo silahkan memberikan penilaian seperti kenyataannya. semoga ini menjadi pelajaran berharga, bagi siapapun yg bekerja sebagai pewarta2 (khususnya televisi)

revolusi dari teknologi analog, ke teknologi digital, memang membuat segalanya lebih mudah. demikian juga dg televisi. jika dulu harus membeli kamera video analog dg harga puluhan juta, skr hanya cukup 2jt sudah dpt handycam minidv (sdh memenuhi standar tv -utk kstnya). jika demikian, bukan mustahil tukang becak kita kasih handycam &amp;amp; sedikit penjelasan gambar, akan dapat mjd pedagang gambar. bln puasa tahun lalu, saya sedikit berbagi ilmu dg santri kilat di ponpes al muayyad, windan, sukoharjo, mereka adalah anak2 jalanan. hanya 2 kali pertemuan masing2 berdurasi 1,5jam, mereka sdh dpt melakukan pengambilan gbr -sing penting padang &amp;amp; dadi.

saya tdk hendak mengatakan gambar saya sempurna, tapi setidaknya saya tetap menggunakan kaidah2 baku videografi (saya tidak yakin 2 tsk kasus pemukulan di sragen itu tahu tentang hal tersebut)

intinya, klo budaya seperti ini terus terpelihara, maka profesi video journalist akan mjd sangat murah. bukan tdk mungkin, suatu saat saya akan kehilangan status sbg wartawan tv (yg saat ini msh dipandang 'kasta atas' oleh sebagian orang), krn kantor lbh memilih mengumpulkan gbr dari masyarakat. AREP DADI OPO AWAK'E DHEWE ??? nyalon bupati ? jelas sulit, krn ga punya uang. mau ngrampog ? ga punya cukup keberanian. atau jd tukang becak, trus dodolan gambar ???

mari kita instropeksi diri. matur nuwun pa'de pung blontank, yg sudah keraya2 bikin tulisan ini di blog'nya.

salam damai. tuhan memberkati (mumpung arep natalan)</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>sebuah realitas yg menyedihkan&#8230; monggo silahkan memberikan penilaian seperti kenyataannya. semoga ini menjadi pelajaran berharga, bagi siapapun yg bekerja sebagai pewarta2 (khususnya televisi)</p>
	<p>revolusi dari teknologi analog, ke teknologi digital, memang membuat segalanya lebih mudah. demikian juga dg televisi. jika dulu harus membeli kamera video analog dg harga puluhan juta, skr hanya cukup 2jt sudah dpt handycam minidv (sdh memenuhi standar tv -utk kstnya). jika demikian, bukan mustahil tukang becak kita kasih handycam &amp; sedikit penjelasan gambar, akan dapat mjd pedagang gambar. bln puasa tahun lalu, saya sedikit berbagi ilmu dg santri kilat di ponpes al muayyad, windan, sukoharjo, mereka adalah anak2 jalanan. hanya 2 kali pertemuan masing2 berdurasi 1,5jam, mereka sdh dpt melakukan pengambilan gbr -sing penting padang &amp; dadi.</p>
	<p>saya tdk hendak mengatakan gambar saya sempurna, tapi setidaknya saya tetap menggunakan kaidah2 baku videografi (saya tidak yakin 2 tsk kasus pemukulan di sragen itu tahu tentang hal tersebut)</p>
	<p>intinya, klo budaya seperti ini terus terpelihara, maka profesi video journalist akan mjd sangat murah. bukan tdk mungkin, suatu saat saya akan kehilangan status sbg wartawan tv (yg saat ini msh dipandang &#8216;kasta atas&#8217; oleh sebagian orang), krn kantor lbh memilih mengumpulkan gbr dari masyarakat. AREP DADI OPO AWAK&#8217;E DHEWE ??? nyalon bupati ? jelas sulit, krn ga punya uang. mau ngrampog ? ga punya cukup keberanian. atau jd tukang becak, trus dodolan gambar ???</p>
	<p>mari kita instropeksi diri. matur nuwun pa&#8217;de pung blontank, yg sudah keraya2 bikin tulisan ini di blog&#8217;nya.</p>
	<p>salam damai. tuhan memberkati (mumpung arep natalan)
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: Paman Tyo</title>
		<link>http://blontankpoer.blogsome.com/2007/12/17/kisah-jurnalis-main-pukul/#comment-545</link>
		<pubDate>Thu, 20 Dec 2007 13:05:15 +0000</pubDate>
		<guid>http://blontankpoer.blogsome.com/2007/12/17/kisah-jurnalis-main-pukul/#comment-545</guid>
					<description>Byuh! Edan tenan. Menyedihkan.

Dulu malah ada A, seorang jurnalis, dipukuli jurnalis palsu B ketika berpapasan. Penyebabnya: si A melapor ke polisi bahwa namanya dicatut oeh B untuk pemerasan, amplop, dan sebagainya. B marah karena sempat ditahan gara-gara itu. Aneh kan?</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>Byuh! Edan tenan. Menyedihkan.</p>
	<p>Dulu malah ada A, seorang jurnalis, dipukuli jurnalis palsu B ketika berpapasan. Penyebabnya: si A melapor ke polisi bahwa namanya dicatut oeh B untuk pemerasan, amplop, dan sebagainya. B marah karena sempat ditahan gara-gara itu. Aneh kan?
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: anak baru</title>
		<link>http://blontankpoer.blogsome.com/2007/12/17/kisah-jurnalis-main-pukul/#comment-541</link>
		<pubDate>Wed, 19 Dec 2007 14:04:08 +0000</pubDate>
		<guid>http://blontankpoer.blogsome.com/2007/12/17/kisah-jurnalis-main-pukul/#comment-541</guid>
					<description>meski ga begitu banyak yang saya tahu soal dunia wartawan, tp 3 tahun saya rasa cukup untuk mengetahui karakter wartawan!!kadang lucu plus heran juga pas liat wartawan senior yang jelas institusinya jadi &quot;bodrex&quot; alias gorok petinggi2 daerah...tp mereka bakal sakit hati kalo tahu ada &quot;bodrex&quot; beneran yang berkeliaran..ato mungkin, mereka takut lahannya bakal keambil ya??yang saya tahu, menjadi wartawan adalah sebuah hobi!!untuk sebuah profesi, wartawan terlalu berat untuk digeluti..bener ga pak de??

&lt;strong&gt;blonty:&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;Memang ada, masih ada wartawan senior (junior pun ada pula) yang menyalahgunakan posisinya dan menjual medianya untuk mencari keuntungan pribadi. Namun, tak semua wartawan begitu. 

Bahwa profesi wartawan itu terlalu berat untuk digeluti, memang demikianlah adanya. Risiko di lapangan terlalu banyak, apalagi kalau liputannya kritis terhadap sebuah kebijakan dan sebagainya. Belum lagi godaan uang di lapangan..... &lt;/em&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>meski ga begitu banyak yang saya tahu soal dunia wartawan, tp 3 tahun saya rasa cukup untuk mengetahui karakter wartawan!!kadang lucu plus heran juga pas liat wartawan senior yang jelas institusinya jadi &#8220;bodrex&#8221; alias gorok petinggi2 daerah&#8230;tp mereka bakal sakit hati kalo tahu ada &#8220;bodrex&#8221; beneran yang berkeliaran..ato mungkin, mereka takut lahannya bakal keambil ya??yang saya tahu, menjadi wartawan adalah sebuah hobi!!untuk sebuah profesi, wartawan terlalu berat untuk digeluti..bener ga pak de??</p>
	<p><strong>blonty:</strong> <em>Memang ada, masih ada wartawan senior (junior pun ada pula) yang menyalahgunakan posisinya dan menjual medianya untuk mencari keuntungan pribadi. Namun, tak semua wartawan begitu. </p>
	<p>Bahwa profesi wartawan itu terlalu berat untuk digeluti, memang demikianlah adanya. Risiko di lapangan terlalu banyak, apalagi kalau liputannya kritis terhadap sebuah kebijakan dan sebagainya. Belum lagi godaan uang di lapangan&#8230;.. </em>
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: evan</title>
		<link>http://blontankpoer.blogsome.com/2007/12/17/kisah-jurnalis-main-pukul/#comment-540</link>
		<pubDate>Wed, 19 Dec 2007 08:14:55 +0000</pubDate>
		<guid>http://blontankpoer.blogsome.com/2007/12/17/kisah-jurnalis-main-pukul/#comment-540</guid>
					<description>Profesi jurnalistik sekarang sudah tidak istimewa lagi ya.Publik sudah underestimate sama wartawan (sama halnya persepsi mereke ke polisi).
di situs http://bataknews.wordpress.com/ bahkan ada polling persepsi soal wartawan. Hasilnya luar biasa: 60 % lebih mengatakan: Orang yang suka memeras pejabat.</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>Profesi jurnalistik sekarang sudah tidak istimewa lagi ya.Publik sudah underestimate sama wartawan (sama halnya persepsi mereke ke polisi).<br />
di situs <a href='http://bataknews.wordpress.com/' rel='nofollow'>http://bataknews.wordpress.com/</a> bahkan ada polling persepsi soal wartawan. Hasilnya luar biasa: 60 % lebih mengatakan: Orang yang suka memeras pejabat.
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: veda</title>
		<link>http://blontankpoer.blogsome.com/2007/12/17/kisah-jurnalis-main-pukul/#comment-539</link>
		<pubDate>Wed, 19 Dec 2007 07:36:17 +0000</pubDate>
		<guid>http://blontankpoer.blogsome.com/2007/12/17/kisah-jurnalis-main-pukul/#comment-539</guid>
					<description>OKNUM...
kalo tidak mau tersangkut-sangkut karna berprofesi yang sama, gampang kok caranya... pakailah cara yang paling manjur... itu adalah perilaku segelintir 'oknum'.
Mas Blontang... masih inget gak?
Beberapa tahun yang lalu, kalo gak salah paska sidang umum 2004, ada rekan wartawan tulis media massa yang cukup terkenal dan besar juga menjadi korban penganiayaan para rekan2 'oknum' bodrex di gedung DPR...
sama seperti di daerah 'sampeyan' itu, ada pro dan kontra dari anggota dewan...
intinya, saya mau komentar aja Mas Blon...
justru diteruskan ato tidaknya kasus ini menjadi cermin, sejauh mana ke-resmian dan ke-bodrex-kan mereka... ato sejauh mana tingkat kejurnalisme-an temen2 di SOlo...
Kalo dulu ada slogan..
Perangi Preman pada Wartawan..
sekarang..
Perangi Wartawan yang jadi Preman...

Maju terus Mas Blon..
-Veda-</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>OKNUM&#8230;<br />
kalo tidak mau tersangkut-sangkut karna berprofesi yang sama, gampang kok caranya&#8230; pakailah cara yang paling manjur&#8230; itu adalah perilaku segelintir &#8216;oknum&#8217;.<br />
Mas Blontang&#8230; masih inget gak?<br />
Beberapa tahun yang lalu, kalo gak salah paska sidang umum 2004, ada rekan wartawan tulis media massa yang cukup terkenal dan besar juga menjadi korban penganiayaan para rekan2 &#8216;oknum&#8217; bodrex di gedung DPR&#8230;<br />
sama seperti di daerah &#8217;sampeyan&#8217; itu, ada pro dan kontra dari anggota dewan&#8230;<br />
intinya, saya mau komentar aja Mas Blon&#8230;<br />
justru diteruskan ato tidaknya kasus ini menjadi cermin, sejauh mana ke-resmian dan ke-bodrex-kan mereka&#8230; ato sejauh mana tingkat kejurnalisme-an temen2 di SOlo&#8230;<br />
Kalo dulu ada slogan..<br />
Perangi Preman pada Wartawan..<br />
sekarang..<br />
Perangi Wartawan yang jadi Preman&#8230;</p>
	<p>Maju terus Mas Blon..<br />
-Veda-
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: kutub pranyoto</title>
		<link>http://blontankpoer.blogsome.com/2007/12/17/kisah-jurnalis-main-pukul/#comment-537</link>
		<pubDate>Tue, 18 Dec 2007 06:05:27 +0000</pubDate>
		<guid>http://blontankpoer.blogsome.com/2007/12/17/kisah-jurnalis-main-pukul/#comment-537</guid>
					<description>lah itu kan pak imron fotonya...
oh diakah yang jadi stringer dimaksud..?

padahal ngakunya wartawan tempo..ternyata wartawan bodrek ya...baru tahu saya...

(kutub)

&lt;strong&gt;blonty:&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;Mas/Pak/Bu/Mbak Kutub, sebaiknya Anda tidak membuat prasangka yang tidak perlu, apalagi membuat fitnah. Terkait dengan tanggapan atas komentar Anda (lihat: &lt;strong&gt;#11&lt;/strong&gt;), saya jadi ikut terpancing, jangan-jangan Anda ikut dalam konspirasi menebar fitnah beberapa waktu lalu. Saya tahu persis kredibilitas Imron, juga beberapa teman yang saya anggap 'terlibat' dalam konspirasi fitnah dan pembunuhan karakter terhadap Saudara Imron.

Percayalah, 'perang' atau persaingan kerja intelektual tidak mudah. Perlu kecakapan dan dukungan 'infrastruktur' yang memadai. Hanya orang-orang kerdil dan hipokrit yang suka menebar kasak-kusuk, tanpa pernah berani menampakkan muka. Andai benar bahwa Anda adalah salah seorang yang terlibat dalam konspirasi kotor semacam itu, alangkah kasihannya hidup Anda. Semoga saya salah menilai Anda.....&lt;/em&gt; </description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>lah itu kan pak imron fotonya&#8230;<br />
oh diakah yang jadi stringer dimaksud..?</p>
	<p>padahal ngakunya wartawan tempo..ternyata wartawan bodrek ya&#8230;baru tahu saya&#8230;</p>
	<p>(kutub)</p>
	<p><strong>blonty:</strong> <em>Mas/Pak/Bu/Mbak Kutub, sebaiknya Anda tidak membuat prasangka yang tidak perlu, apalagi membuat fitnah. Terkait dengan tanggapan atas komentar Anda (lihat: <strong>#11</strong>), saya jadi ikut terpancing, jangan-jangan Anda ikut dalam konspirasi menebar fitnah beberapa waktu lalu. Saya tahu persis kredibilitas Imron, juga beberapa teman yang saya anggap &#8216;terlibat&#8217; dalam konspirasi fitnah dan pembunuhan karakter terhadap Saudara Imron.</p>
	<p>Percayalah, &#8216;perang&#8217; atau persaingan kerja intelektual tidak mudah. Perlu kecakapan dan dukungan &#8216;infrastruktur&#8217; yang memadai. Hanya orang-orang kerdil dan hipokrit yang suka menebar kasak-kusuk, tanpa pernah berani menampakkan muka. Andai benar bahwa Anda adalah salah seorang yang terlibat dalam konspirasi kotor semacam itu, alangkah kasihannya hidup Anda. Semoga saya salah menilai Anda&#8230;..</em>
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: robert</title>
		<link>http://blontankpoer.blogsome.com/2007/12/17/kisah-jurnalis-main-pukul/#comment-535</link>
		<pubDate>Tue, 18 Dec 2007 02:28:23 +0000</pubDate>
		<guid>http://blontankpoer.blogsome.com/2007/12/17/kisah-jurnalis-main-pukul/#comment-535</guid>
					<description>setuju pak blontank, cuma saya kagak disebut itu dari televisi mana. tolong sebutin dong.</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>setuju pak blontank, cuma saya kagak disebut itu dari televisi mana. tolong sebutin dong.
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: yadi p</title>
		<link>http://blontankpoer.blogsome.com/2007/12/17/kisah-jurnalis-main-pukul/#comment-534</link>
		<pubDate>Mon, 17 Dec 2007 14:29:13 +0000</pubDate>
		<guid>http://blontankpoer.blogsome.com/2007/12/17/kisah-jurnalis-main-pukul/#comment-534</guid>
					<description>Ya beginilah kalo aspek rupiah yang dikejar mereka yang mengaku berprofesi wartawan. Tanpa pernah memikirkan apa makna dari berita yang mereka siarkan yang penting duit segera di tangan. Akibatnya, sepak sana tendang sini tonjok sana tinju sini, tak peduli wartawan yang benar-benar melakukan kontrol. Siapa pun yang mengkritik diharjarnya. Wah!
Kelemahan dunia jurnalistik yang klasik : teknik amburadul, etik sami mawon.... Sebuah refleksi bagi yang ingin  menjadi jurnalis yang baik.</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>Ya beginilah kalo aspek rupiah yang dikejar mereka yang mengaku berprofesi wartawan. Tanpa pernah memikirkan apa makna dari berita yang mereka siarkan yang penting duit segera di tangan. Akibatnya, sepak sana tendang sini tonjok sana tinju sini, tak peduli wartawan yang benar-benar melakukan kontrol. Siapa pun yang mengkritik diharjarnya. Wah!<br />
Kelemahan dunia jurnalistik yang klasik : teknik amburadul, etik sami mawon&#8230;. Sebuah refleksi bagi yang ingin  menjadi jurnalis yang baik.
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: onggobroto</title>
		<link>http://blontankpoer.blogsome.com/2007/12/17/kisah-jurnalis-main-pukul/#comment-533</link>
		<pubDate>Mon, 17 Dec 2007 14:28:02 +0000</pubDate>
		<guid>http://blontankpoer.blogsome.com/2007/12/17/kisah-jurnalis-main-pukul/#comment-533</guid>
					<description>Sebuah titik balik. Itu yang ada dalam pikiran saya setelah membaca artikel pak blonty. mengutip Judul buku karangan Chapra &quot;Titik balik peradaban&quot;, bahwa di masa depan semoga akan dipetik pasca tragedi ini. Titik balik yang akan merubah motivasi dan  semangat kerja rekan rekan jurnalis di Surakarta, khususnya rekan jurnalis tivi. </description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>Sebuah titik balik. Itu yang ada dalam pikiran saya setelah membaca artikel pak blonty. mengutip Judul buku karangan Chapra &#8220;Titik balik peradaban&#8221;, bahwa di masa depan semoga akan dipetik pasca tragedi ini. Titik balik yang akan merubah motivasi dan  semangat kerja rekan rekan jurnalis di Surakarta, khususnya rekan jurnalis tivi.
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: andika</title>
		<link>http://blontankpoer.blogsome.com/2007/12/17/kisah-jurnalis-main-pukul/#comment-532</link>
		<pubDate>Mon, 17 Dec 2007 12:49:03 +0000</pubDate>
		<guid>http://blontankpoer.blogsome.com/2007/12/17/kisah-jurnalis-main-pukul/#comment-532</guid>
					<description>setuju kang blonty...
demikianlah kalo harga diri sudah terjual oleh rupiah maka kritikan pun berbalas dendam yang dilampiaskan secara fisikli...padahal itu merupakan cerminan kualitas pribadi mereka sendiri...
tapi keadaan ini juga tak bisa dilepaskan dari aroma persaingan dunia tv yang semakin ketat...menyiratkan lemahnya kontrol kualitas insan tv di pusat...seakan menerima mentah2 isinya takut keduluan stasiun saingan...kalo perlu dengan label EKSKLUSIVITAS...mana pernah mereka mengecek secara teknis jurnalitknya...peristiwa bunuh diri di sebuah rt di kampung terpencil saja bisa menghiasi layar kaca berita kriminal...
semoga kita dapat mengambil pelajaran dari kejadian tersebut...tolak kriminalisasi pers...
-salam-</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>setuju kang blonty&#8230;<br />
demikianlah kalo harga diri sudah terjual oleh rupiah maka kritikan pun berbalas dendam yang dilampiaskan secara fisikli&#8230;padahal itu merupakan cerminan kualitas pribadi mereka sendiri&#8230;<br />
tapi keadaan ini juga tak bisa dilepaskan dari aroma persaingan dunia tv yang semakin ketat&#8230;menyiratkan lemahnya kontrol kualitas insan tv di pusat&#8230;seakan menerima mentah2 isinya takut keduluan stasiun saingan&#8230;kalo perlu dengan label EKSKLUSIVITAS&#8230;mana pernah mereka mengecek secara teknis jurnalitknya&#8230;peristiwa bunuh diri di sebuah rt di kampung terpencil saja bisa menghiasi layar kaca berita kriminal&#8230;<br />
semoga kita dapat mengambil pelajaran dari kejadian tersebut&#8230;tolak kriminalisasi pers&#8230;<br />
-salam-
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
</channel>
</rss>
