Jalan raya adalah cermin peradaban manusia. Kadang kelucuan kita terpampang di sana. Begitu pula kedewasaan seseorang, mudah ditemukan di jalan raya.

Di jalanan Jakarta yang riuh, pengemudi saling sodok. Untuk sampai di tempat tujuan tepat waktu, dijadikan dalih untuk mengabaikan tata krama berlalu-lintas. Mikrolet, bus kota, mobil pribadi dan sepeda motor bagai berebut lahan. Kemacetan timbul karena orang cenderung egois, enggan berbagi dengan pengguna jalan lainnya.
Penyakit demikian, rupanya tak hanya ada di Jakarta. Di Pringkuku, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, misalnya, orang biasa berdesak-desakan saat naik kendaraan umum. Meski banyak angkutan sejenis mengantre, calon penumpang tetap saja tak sabar menanti giliran. Pengemudi juga merasa diuntungkan lantaran jejalan penumpang. Ora urus, tidak peduli! Termasuk soal keselematan yang menjadi hak semua orang.
Di Giriwoyo, Wonogiri, saya juga menjumpai hal serupa. Puluhan pelajar SLTP berdesak-desakan di atas mobil bak terbuka. Sepertinya, mereka bukan sekadar nebeng. Sebab, lama saya ikuti, mobil itu tak kunjung berhenti. Mobil berbelok ke satu arah, menuju pedesaan, tempat para pelajar itu berasal.

Di Baturetno, masih Kabupaten Wonogiri, saya menjumpai seorang anak yang membonceng sepeda motor pada seorang pedagang mainan anak-anak. Posisinya sama dengan seorang bocah perempuan yang duduk membelakangi sang ayah, di atas sepeda motor sepulang mencari rumput pada suatu petang, di Klaten.
Bagi saya, kedua orang tua itu pantas disebut pembunuh berdarah dingin. Sadar atau tidak, perilaku berlalu lintas yang demikian berpotensi mencelakai orang lain. Pengereman mendadak atau tancap gas secara tiba-tiba merupakan peristiwa lumrah di jalan raya, dan bisa saja tindakan demikian merupakan refleks semata saat menyikami ‘dinamika’ di jalan.
Andai tancap gas tiba-tiba, kedua pembonceng bisa terjatuh karena kehilangan keseimbangan secara tiba-tiba pula. Mengacu pada hukum gaya (seperti kata guru fisika SMA dulu), bila pembonceng terjatuh, maka ia akan mengikuti arah laju kendaraan. Artinya, bisa saja kepala bagian belakang yang akan terlebih dahulu membentur aspal yang keras. Kita tahu, otak kecil yang menjadi organ vital, rentan pada benturan.

Masih lebih menghibur tindakan awak truk (yang saya jumpai di Klaten), yang memanfaatkan angin untuk mengeringkan, atau sekadar mengusir bau badan yang telanjur melekat pada pakaian yang semula dikenakan. Daripada menjemur di rumah, yang entah kapan bakal sampai, mendingan memanfaatkan tali pengaman muatan sebagai jemuran berjalan.
Jalan raya, memang pantas disebut sebagai cermin kita yang senyatanya. Beradab atau tidaknya seseorang, bisa dilihat dari perilakunya di jalan raya.

duh ngeriii banget liat anak-anak kecil di dalam bok mobil itu, supirnya tega bener….
Comment by mbahjadol — April 17, 2008 @ 7:59 pm
ooo, suwe ora posting, lama nggak update blog, ternyata mlaku-mlaku tekan pacitan…napak tilas SBY?)
Comment by dhodho — April 18, 2008 @ 3:39 am
yang jadi masalah kedewasaan
ato jangan-jangan keterbatasan … ?
:( …
Comment by granita — April 18, 2008 @ 5:54 am
apalagi kelakuan supir metromini atau kopaja.
Makanya yang punya mobil sering-sering ngasih tumpangan, kaya di di jalur 3 in one itu lhoo
Comment by doyok — April 18, 2008 @ 10:16 am
dari sisi pasokan, keterbatasan emang kerasa terutama di daerah. frekuensi KRD di parung dan sukabumi misalnya.
Comment by kakangmas — April 23, 2008 @ 6:25 am
itu lah indonesia….. hidup indonesia……semoga tetap raya heheheheheheheheheheh
Comment by ari — April 29, 2008 @ 1:49 pm
Ya, bisa juga karena kepekso, mas. Niat hati ingin beli mercy, tapi duit cuma cukup buat beli tiwul.
Kok ngilang, ke mana aja mas?
Comment by Dony — May 8, 2008 @ 5:01 pm
YAKINLAH SUMPAH HANYA DI INDONESIA….ORANGNYA BEROTOT KAWAT TULANG BESI…..
Comment by EBIT — July 5, 2008 @ 8:18 am