Sophan, Harley dan Petinggi Caper

Nahas itu seperti Coca Cola bisa menimpa siapa saja, terjadi kapan saja dan dimana saja. Kecelakaan tak pernah pilih-pilih korban. Kalau kini saya merasa sedih, kenapa Sophan Sophiaan yang harus tewas secara mengenaskan. Almarhum termasuk satu di antara sedikit politisi Indonesia yang masih punya hati, sehingga sejarahnya tak pernah dicoreng dengan catatan pelanggaran hukum.
Ia pun memilih mundur dari parlemen, tak lama setelah ia –karena kedudukannya sebagai ketua fraksi, ‘terpaksa’ harus membacakan sikap partainya untuk memakzulkan Abdurrahman Wahid dari kursi kepresidenan. Belakangan, ia keluar dari PDI Perjuangan dan ikut membidani lahirnya Partai Demokrasi Pembaruan bersama Laksamana Sukardi, Roy BB Janis dan Arifin Panigoro.
Kalaupun saya getun, kecewa pada almarhum, adalah pilihannya untuk ikut-ikutan konvoi motor gede, bahkan mengetuai kepanitiaan show of force para pengusaha, pensiunan dan pejabat aktif. Sebuah kegiatan, yang menurut saya, jauh dari sikap solider terhadap puluhan juta kaum dhuafa yang kini sedang cemas menghadapi rencana kenaikan harga bahan bakar minyak.
Saya tak alergi dan cemburu bila ada orang memiliki Harley Davidson atau motor gede jenis apapun. Itu hak setiap orang untuk membelanjakan kekayaannya dan memenuhi hasrat pribadinya. Yang saya benci adalah sikap kekanak-kanakan mereka saat berkerumun, ketika bergerombol.

Harley Davidson Ultra yang mengantar kepergian abadi Sophan Sophian
Perhatikan perbedaan sikap pengendara motor gede. Saat melaju sendirian, mereka tampak sopan meski sering terkesan caper, cari-cari perhatian.
Namun ketika beramai-ramai –setidaknya lima kendaraan, yang kita saksikan adalah unjuk kekuasaan, menang-menangan. Berjalan memenuhi badan jalan dengan, kombinasi lampu dan suara sirene memberi tanda agar pengguna lain menyingkir. Polisi, juga kerap memanjakan mereka: dengan fasilitas pengawalan atau mensterilkan jalur lintasan.
Dalam situasi demikian, para pengguna jalan raya pilih menyingkir. Mereka tahu, polisi tak pernah segan mengeluarkan surat tilang bagi ‘pembangkang’. Polisi memang sedang berperan sebagai ‘sirkus’ jalanan, sebab ada kekuatiran memperoleh teguran atasan yang biasanya ‘nyelip’ di antara rombongan bikers istimewa seperti demikian.
Gerombolan (pemilik) motor gede adalah segelintir pemilik hak superistimewa di republik ini. Meski bukan pahlawan pembentuk negara, kebanyakan mereka sudah merasa sebagai pahlawan. Membagi sembako untuk si miskin saja sudah merasa punya andil memperbaiki negeri. Padahal, nilai satu paket sembako, paling-paling hanya setara dengan tiga-empat liter Pertamax Plus yang dikonsumsi motor-motor mewah mereka, yang belum tentu cukup untuk melajukan motor mereka sejauh jarak Solo-Yogya.
Saat melepas jenazah Sophan menuju pesawat dari ruang tunggu VIP Bandara Adi Sumarmo, Solo, Sabtu (17/5) siang, seorang panitia dengan lantang menyemangai peserta tur melalui pengeras suara. Katanya, tur bertajuk Jalur Merah-Putih yang menempuh rute sejauh 1908 kilometer itu, adalah bagian dari kontribusi mereka menggugah kesadaran publik dengan momentum peringatan Seabad Kebangkitan Nasional.
Kredibilitas acara hura-hura itu, bahkan disebutkan memiliki legalitas kuat: termaktub dalam PP No. 5/2008 yang konon berisi rangkaian kegiatan peringatan seabad gerakan dr. Wahidin dan kawan-kawan. Maka, wajar saja kalau priviledges diperolehnya. Tak hanya singgah (dan pesta) di pendopo-pendopo kabupaten/kota, namun juga kebebasan mereka melintasi di jalan tol, yang bahkan tak dilakukan polisi militer saat mengawal rombongan Presiden.
Begitulah keistimewaan pemilik Harley dan motor gede. Meninggalnya Sophan, semoga menjadi cermin bagi mereka (meski saya tak yakin mau) untuk ‘kembali ke jalan yang benar’.
Tumbal tetaplah tumbal. Sophan hanya akan jadi kenangan heroisme peringatan kebangkitan. Buktinya, pengakuan apakah Sophan jatuh lalu terlindas dua sepeda motor lain saja, hingga kini belum ada. Keretakan kedua paha korban yang bisa menjadi petunjuk awal pun dilupakan.
Saya kuatir, pernyataan Fahmi Idris bahwa Sophan Sophiaan menderita vertigo hanya menjadi pengalih perhatian. Begitu pula, catatan sudah jatuhnya 40 korban di lokasi kecelakaan Sophan, tiba-tiba menghiasi semua media massa.
Semoga apa yang saya tulis di atas, semua salah. Sehingga saya tidak bergosip, apalagi melakukan fitnah.
Selama jalan Sophan Sophiaan, semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosamu dan menerima semua kebaikanmu dan ikhtiar politikmu menjadi jariyyah yang tak pernah putus. Amin.


Semoga dapat membuka mata semua orang, rakyat kecil agar lebih hemat, pejabat agar lebih memperhatikan kondisi jalan, si Kaya lebih dermawan, masih banyak cara2 yang lain…….
Comment by anto020681 — May 27, 2008 @ 3:14 pm
entah kenapa malam ini aku ingin mbuka blog mu kng. eh ternyata aku nemu soal sophan sophian.. ijin kasih coment kang.
seribu satu persen,akus etuju dengan pendapatmu kang… sayang kenapa harus sophan yang seblumnya saya tahu sopan yang meninggal ya kang. kenapa nggak yang lain… kalau yang lain .. mungkin aku akan lebih ridho kang…
kenapa nggak si itu saja…yang motornya dikasih tanda bintang satu bintang dua atau bintang tiga atau malah (kalau ada yang bintang tujuh ) saja yang mati ya kang…
kembali ke soal gerombolan kang… di kota kita tercinta ini saja mungkin bisa jadi sedikit cermin kala malam minggu menjelang.
jangankan yang naik harley bareng-bareng gitu…wong yang naik tiger atau tundher bareng aja kemakinya minta ampun kok…
ya ampun deh… semoga aja yang wira-wiri itu bukan termasuk orang yang ikut demo anti kenaikan harga BBM, apalagi yang terima BLT…
sori kang agak panjang. Soale aku lagi sedih dan sendiri.. salam kang…
Comment by arisudewo — June 1, 2008 @ 4:34 pm
kang blontang, aku ya miris krungu Sophan meninggal. Kok tidak ketika dia sedang membela rakyat, kok tidak ketika di kursi dewan yang lebih ‘terhormat’. Kalaua hanya untuk menampilkan hobi, kenapa semua orang harus repot. Sayang seribu sayang.
Comment by ambar — June 2, 2008 @ 11:33 pm
Sepertinya saya kenal foto diatas itu, coba lihat di www.inilah.com (foto iPhA/2008-05-17 16:10:00)
Comment by kandar — June 27, 2008 @ 5:17 am
kang kasih comment dunk ke blogs abdi: http://kandarkasep.blogspot.com/
hatur nuhun kang…
Comment by kandar — June 27, 2008 @ 5:19 am