MusikOctober 30, 2008 10:33 am

Sejak Juli lalu, bahkan hingga beberapa hari silam, banyak teman berolok-olok kepada saya. Kalimatnya beragam. Muaranya jelas, mereka mempertanyakan alasan sikap diam saya terhadap pelaksanaan Solo International Ethnic Music (SIEM) Festival . Emangnya saya siapa?

Mungkin, teman-teman menilai saya berubah. Saya tidak lagi secerewet sebelumnya, yang menyebut SIEM sebagai festival asal-asalan , festival nonkomponis dan sebagainya. Karena perubahan sikap itulah, maka muncul tafsir dan tuduhan, bahwa saya memperoleh sesuatu atau terlibat dalam kepanitiaan.

Aneh juga rasanya, seseorang begitu mudahnya menghakimi orang lain, meski sejatinya saya paham, bahwa dunia kesenian tak berbeda jauh dengan politik. Banyak intrik, bejibun gosip. Makanya, anggap saja sudah lazim kalau di antara mereka lalu saling intip.

Mungkin Anda akan bertanya, dimana posisi saya? Maka, saya akan menjawab begini: saya berada di antara mereka.

Kebetulan saya berkawan dengan mereka semua, maka komplitlah gosip yang saya terima. Setidaknya, lebih banyak dibanding gosip yang dipunya orang pada masing-masing blok, kubu, atau apapun namanya.

Sejatinya, saya hanyalah penonton yang punya harapan manfaat terhadap peristiwa semacam itu. Mungkin berlebihan, mungkin pula terlalu mengangankan sesuatu yang ideal, sehingga terkesan sangat emosional. Monggo saja bila Anda ingin menilai saya. Memaki-maki sikap saya, pun silakan saja.

Umpatan, cacian bahkan ancaman seperti terlihat pada komentar-komentar pembaca tulisan saya terdahulu, toh itu juga ekspresi kemarahan sesaat. Bagi komentator yang kebetulan panitia SIEM
, tentu saja mereka tidak rela bila kerja kerasnya dikritik secara terbuka.

Baik saya, panitia, publik seni dan masyarakat awam sekalipun, pasti memilik harapan yang sesungguhnya baik. Yang membedakan dan kadang membuat seolah-olah berbenturan, biasanya karena alasan kepentingan yang memang beraneka ragam.

Kendang Rampak, karya tari yang menempatkan musik sebagai tempelan sajian.

Bagi yang tidak suka terhadap saya, kali ini, Anda punya kesempatan tertawa sepuasnya. Mau nyukur-nyukurin juga boleh. Ceritanya begini:

Pada tengah hari, 6 Agustus 2008 silam, wajah saya disiram air teh sebanyak satu gelas. Yang menyiram seorang teman pula, yang tersinggung atas tanggapan saya terhadapnya atas sebuah perkara. Ternyata, nama SIEM dibawa-bawa, karena saya dianggap mempengaruhi seseorang, sehingga pelaksanaan SIEM pertama itu menjadi ternoda, hanya oleh sebuah kata-kata. Padahal, demi Allah, tak pernah saya menyuruh atau memanfaatkan seseorang untuk menyerang atau mengganggu kepentingan orang lain.

Tak perlu saling curiga. Penyiram teh itu bukan anggota kelompok orang-orang di dalam kepanitiaan, yang pernah mencerca, menyerang dan mengancam-ancam saya melalui tanggapannya di blog saya.

Kalau sudah puas tertawa, mari kembali ke pokok persoalan semula. Asal Anda tahu saja, saya termasuk salah satu dari (mungkin) sekian orang yang mendorong Mas Bambang Sutejo untuk kembali mengadakan SIEM Festival. Alasan saya sederhana saja, saya tak rela kalau Mas Bambang dipojokkan seperti layaknya seorang tersangka. Apalagi, gosipnya dia tidak transparan dalam keuangan, meski yang saya dengar pula, dia mesti nombok atas kekurangan biaya. Makanya, dia memilih tidak membuka posisi keuangan akhir penyelenggaraan festival pertama.

Catatan saya atas dua kali pelaksanaan SIEM Festival sederhana saja. Pertama, dibentuk dewan kurator yang sifatnya tetap untuk jangka waktu tertentu. Anggota dewan kurator berjumlah ganjil, sedikitnya terdiri dari tiga orang. Kalau perlu, dari dua atau tiga kelompok yang berseberangan. Sebab, terdapat kecenderungan seorang kurator memilih teman-teman dan anggota jaringannya sendiri.

Dengan perbedaan sikap dan jaringan antarkurator, maka materi penampil akan lebih beragam. Dengan demikian, publik menjadi punya banyak pilihan.

Kedua, untuk posisi-posisi tertentu, panitia mesti diisi oleh orang-orang yang punya pengalaman pengorganisasian memadai, kredibel, dan memiliki sikap mental yang baik sehingga bisa melayani tamu dengan baik pula. Kalau tak ada pilihan, tak usah ragu melibatkan event organizer yang profesional.

Innisisri, satu-satunya kelompok musik yang tampil dalam pembukaan festival

Ketiga, festival musik etnik adalah forum bagi penggiat dan pelaku world music. Mereka bukan berasal dari kategori musik mainstream, sehingga penyikapan penyelenggaraan tidak mengacu pada festival rock atau pertunjukan-pertunjukan sejenis, yang ukuran kesuksesannya hanya pada berjubelnya penonton. Percayalah, asal gratisan, sebuah tontonan apapun pasti bakal ramai.

Dengan materi penampil yang beragam dan berkualitas, kepanitiaan yang andal dan profesional, serta sikap penyelenggaraan yang benar, maka peristiwa SIEM Festival bisa menjadi calendar of event Surakarta, sejalan dengan gebrakan Walikota Jokowi yang mengarahkan Surakarta menjadi daerah tujuan wisata yang mendunia.

Lambang Sari, tari gaya Bali yang diiringi musik rekaman

Dengan demikian, tak bakal terjadi pula, sebuah festival musik etnik namun dibuka dengan tari-tarian, seperti saat pembukaan SIEM Festival, 28 Oktober 2008. Dalam karya tari berjudul Kendang Rampak itu, komponis dan musisi hanya berperan sebagai pengiring tarian karya Irawati Kusumorasri.

Atau, supaya penonton tidak terkecoh nama besar Guruh Soekarnoputro yang menyajikan tarian gaya Bali berjudul Lambang Sari, dengan iringan…………musik rekaman!!!

Sayang duitnya, sayang peristiwanya. Bila Anda berasal dari luar kota dan telanjur terlalu berharap pada festival ini, tetaplah sudi berkunjung ke Surakarta. Jangan kapok karena SIEM .

Silakan baca pula kritik dari KOBOI URBAN, yang menyebut SIEM Etnik Bohongan

SorotOctober 27, 2008 4:58 pm

Penyelenggaraan konferensi keempat anggota Organisasi Kota-kota Pusaka Dunia (Organization of World Heritage Cities) regional Euro-Asia di Surakarta bisa dibilang berhasil. Sukses. Lebih dari 500 orang penting berdatangan dari penjuru Eropa-Asia.

Tak hanya puluhan walikota dari 37 negara yang berkunjung, 93 walikota se-Indonesia pun turut meramaikan perhelatan, menyambut kunjungan para sahabat, delegasi dari 63 kota di Eropa dan Asia. Bahkan, sejumlah walikota Indonesia juga bersepakat membentuk Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) yang dideklarasikan Sabtu (25/10) malam.

Dari sisi target jangka pendek, Pemerintah Kota Surakarta sudah menuai sukses. Dari target hanya delegasi dari 31 negara, malah kelebihan enam. Hanya dua negara anggota OWHC Euro-Asia saja yang absen. Kehadiran mereka diharapkan membawa berkah dalam rentang waktu yang lebih panjang, yakni kunjungan warga dunia ke Surakarta akibat informasi betapa menariknya Surakarta sebagai daerah kunjungan wisata baru di Jawa, setelah Yogyakarta.

Penyambutan cukup meriah. Puluhan ribu warga kota berderet di sepanjang jalan utama, menyambut para walikota yang dikirab di tengah kota.Para delegasi tampak tersenyum puas.

Sebagai perantau yang hampir setiap hari menghirup nafas kehidupan Surakarta, banyak celah yang terasa kurang, bahkan menodai obsesi Walikota Joko Widodo dalam mempersiapkan Surakarta sebagai kota MICE, meeting, incentive travel, convention and exhibiton.

Dalam dunia jasa, faktor keramahan sudah menjadi keniscayaan. Namun soal adab atau tata krama, belum tentu sama pada setiap bangsa. Ada satu contoh, yang mungkin dianggap remeh oleh sebagian orang, namun berpotensi menjadi persoalan besar di kemudian hari.

Pada banyak meja undangan terlihat sampah makanan berserakan. Gelas kosong tak disingkirkan, begitu pula daun pembungkus jajanan. Padahal, puluhan waiter dan waitress sudah disiapkan. Saya kuatir, faktor keterbatasan pengalaman melayani tamu menjadi penyebab. Mungkin, mereka tak bisa disalahkan sepenuhnya. Apalagi kalau pengusaha catering –yang memenangi tender pengadaan makanan, sejatinya tidak G.A.U.L. alias kuper. Bagaimana mungkin orang kuper bisa mengajarkan jenis pelayanan yang baik kepada para pelayannya?

Asal tahu saja, di Surakarta, banyak pengusaha catering mempekerjakan waiter dan waitress seadanya. Biasanya, para pemuda kampung yang tidak punya pekerjaan tetap. Dan, seperti kebiasaan yang kita jumpai dalam pesta-pesta pernikahan, piring dan gelas kotor sering menumpuk dan berserakan. Kadang di atas meja, atau di bawah meja-kursi tamu, yang baru dibersihkan ketika acara usai, tetamu sudah meninggalkan bangku.

Mungkin, sampah-sampah itu tak perlu ada di atas meja pesta para tamu, peserta konferensi WHC, bila panitia mengenali siapa tamu-tamu mereka, juga kesadaran untuk mempertaruhkan nama baik warga kota, juga pemerintahnya. Sekolah-sekolah pariwisata, dari tingkat menengah hingga level diploma, tersebar di seantero kota. Tentu, siswa/i dan mahasiswa/i itu bisa dipekerjakan, hitung-hitung kerja praktek dapat bayaran.

Noda kedua, yang menurut saya cukup fatal adalah klaim bangunan kampung Solo kuno yang menjadi bagian dari ekspo di halaman Pura Mangkunegaran. Menamakan diri Kampoeng Solo Koeno, sebuah kompleks rumah dilengkapi kandang kerbau –lengkap dengan dua kerbau asli di dalamnya. Anehnya, kandang itu diletakkan di bagian kiri depan, bersebelahan dengan gerbang masuk rumah.

Lazimnya, kerbau tidak pernah menjadi among tamu, yang menyambut kedatangan seseorang. Kandang, dalam masyarakat Jawa, terdapat di belakang rumah, sisi kiri, terpaut agak jauh dengan sumur yang terpisah dari bangunan utama.

Uniknya, ketika seorang teman –dosen jurusan Seni Rupa ISI Surakarta, memprotes pada pemilik bangunan, sang pemilik menjawab semaunya. Sang dosen bertanya, kenapa rumah khas Solo menggunakan ornamen ukir motif pedalaman Purwodadi, dan meletakkan dokar Kudus di halaman rumah ‘Jawa’.

Tak cuma itu, lesung, tempat menumbuk padi, yang dipajang di teras pun berasal dari pesisiran, termasuk perahu yang dijadikan pajangan, juga berasal dari kawasan pantai utara, yang bentuk dan fungsinya sangat berbeda dengan perahu Surakarta yang biasa digunakan untuk berdagang dengan menyusuri Sungai Bengawan Solo dan sebagainya.

Bagi Pak Dosen, tindakan semacam itu membohongi publik, bahkan membodohi banyak orang, termasuk para tamu. Sajian semacam itu, apalagi dalam forum bernuansa heritage, harus mempertimbangkan banyak faktor. Mulai antropologi budaya, aspek sosiologis, hingga pertimbangan-pertimbangan arkeologis.

Mau tahu kesalahan fatal lainnya? Lihatlah pendapa Pura Mangkunegaran yang diubah fungsi dan filosofinya. Tiga sisi utama, samping kiri-kanan dan depan, ditutup dengan kain dan aneka rupa demi memajang barang dagangan. Lalu?

So, what?!? Gitu, loh…..

KasusOctober 26, 2008 12:05 pm

Sebuah panggilan dari nomor 02187186xx masuk ke telepon saya, Jumat (24/10) pukul 11.12 WIB. Rupanya, pemilik suara dari seberang itu adalah Pak Atmono, salah satu pimpinan Bank Mandiri Cabang Jakarta Cimanggis. Beliau melakukan konfirmasi sekaligus menyatakan permintaan maafnya atas komplain, seperti yang saya kirim ke contact center, sepuluh hari sebelumnya. Terlambat, namun lebih baik daripada tidak sama sekali.

Dalam pembicaraan kami, Pak Atmono menyatakan bahwa ‘kebijakan’ calon nasabah harus memiliki nomor telepon tetap (fixed line) tidak dikenal di perusahannya. Pencantuman nomor telepon seluler, pun dianggap lebih baik daripada tidak ada sama sekali. Nomor telepon hanyalah pelengkap identitas nasabah, yang kemungkinan bermanfaat bila suatu ketika bank ingin melakukan korespondensi dengan nasabahnya.

Secara pribadi, saya salut dengan upaya Bank Mandiri Cabang Jakarta Cimanggis merawat calon nasabahnya. Apalagi, Pak Atmono bersama dua stafnya mendatangi kediaman mertua saya, yang kebetulan tidak jauh dari Bank Mandiri Cabang Jakarta Cimanggis, bahkan meninggalkan kenang-kenangan boneka untuk dua keponakan kami, dan sebuah jam dinding.

Sebuah kehormatan bagi saya, meski sejatinya saya sudah menyatakan Pak Atmono tak perlu repot-repot ke rumah. Dengan pernyataan beliau lewat telepon pun –apalagi dengan bahasa Jawa yang halus, sudah terbit apresiasi saya terhadap upaya Bank Mandiri. Kata Pak Atmono, sekalian silaturahmi, untuk kenalan, dan kebetulan beliau priyayi berasal dari dalam benteng Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Tulisan ini pun, saya tulis dalam rangka menyampaikan apresiasi dan hormat saya atas kerja public relations Pak Atmono itu, yang kebetulan sempat ternoda oleh tindakan salah seorang customer service officer, ketika melayani kami. Sang CSO, rupanya masih terjebak pada anggapan, bahwa mudahnya memperoleh SIM card telepon seluler membuat seseorang menanggalkan nomor lamanya, dan selalu berganti nomor baru untuk keperluan komunikasinya.

Sang CSO, rupanya terlalu gegabah, lalu terlalu mudah melakukan simplifikasi dalam membuat kesimpulan. Nggebyah uyah, kata orang Jawa.

Ia lupa, trust adalah modal utama bisnis perbankan. Ketika kami mendatangi Bank Mandiri untuk membuka account baru, sejatinya mesti dibaca bahwa kami punya kepercayaan tertentu pada Bank Mandiri. Sebaliknya, mestinya kami juga memperoleh kepercayaan yang sepadan, sehingga kami diperlakukan secara baik-baik, dan kalau perlu ditambahkan asas praduga tak bersalah. Sikap CSO yang menyatakan nomor telepon seluler bisa diganti-ganti, secara implisit, sama dengan menuduh kami sebagai orang bermasalah, sehingga harus berganti-ganti nomor telepon.

Sang CSO juga lupa pada satu hal: nomor telepon merupakan salah satu identitas masyarakat modern!

KasusOctober 14, 2008 6:25 am

Dua pengalaman pada bank berbeda, namun intinya sama: kami jadi korban kejahatan! Saya pernah ditolak menarik dana oleh petugas Bank BCA lantaran tidak membawa kartu ATM. Sedang Bank Mandiri, menolak pembukaan rekening baru untuk istri saya gara-gara tidak punya nomor telepon rumah.

Saya sungguh tidak bisa menerima alasan penolakan kedua bank. Apakah hal demikian sudah menjadi ketentuan umum dari Bank Indonesia bagi seluruh perbankan, atau sebaliknya, hal itu disebabkan semata-mata karena kegenitan manajemen kedua bank. Kalau Bank BCA dan Bank Mandiri merasa dirinya putri jelita yang digandrungi banyak pria lantas jual mahal, mungkin saya bisa maklum.

Singkat cerita, Bank BCA Cabang Pembantu Purwosari, Solo, menolak penarikan dana lantaran saya tidak membawa kartu ATM yang kebetulan hilang beberapa waktu sebelumnya. Kejadian itu, kira-kira berlangsung sekitar bulan Juli. Hanya demi mengambil uang kurang dari Rp 100 ribu, saya antri hampir satu jam. Begitu sampai di loket teller, transaksi ditolak.

Saya protes, sang teller hanya bilang itu sudah ketentuan manajemen Bank BCA. Kejengkelan saya didengar seorang perempuan, yang ternyata kepala di kantor itu. Saya tanya kenapa ada ketentuan demikian, dia hanya menjawab sekadar menjalankan keputusan pimpinan.

Sejak kapan ada ketentuan itu? Kenapa tidak ada pengumuman?

Sudah lama, Pak. Itu kebijakan dari pusat.

Apa alasannya harus bawa buku tabungan dan ATM sekaligus?

Untuk pencocokan saja, Pak. Soalnya, banyak buku tabungan nasabah yang hilang, sehingga harus diverifikasi ulang.

Bukankah bisa dicocokkan data dari kartu identitas lain? Saya, kan juga punya KTP dan SIM…

Maaf, Pak. Itu sudah jadi ketentuan perusahaan….

Begitulah, hanya untuk urusan mengatasi perut keroncongan sekitar jam 11-an, saya harus meminta surat keterangan kehilangan kartu ATM ke kantor polisi, lalu ke kantor Bank BCA tempat saya membuka rekening, dan…. antri lagi! Akhirnya, hari itu aku minta ditraktir makan kepada teman.

***

Pengalaman lain yang kalah menyebalkan terjadi di Bank Mandiri Cabang Jakarta Cimanggis, Senin (13/10) kemarin. Antri dari jam 12.00, giliran kami tiba pada pukul 13.30-an. Meski ber-KTP Pekayon –yang berjarak cuma dua kilometer dari sana, tetap saja istri saya tak bisa membuka rekening, alias ditolak. Alasannya (menurut saya) sederhana: tak punya telepon rumah!

Kata customer service officer, setiap calon nasabah harus memiliki nomor telepon rumah. Dikasih nomor handphone pun, dia tetap ogah memproses. Alasannya lucu, dan menurut saya sangat TOLOL!

“Kalau handphone, orang bisa ganti-ganti nomor. Telepon mesti yang ada kabelnya,” kata Sang CSO.

“Berarti, orang miskin tak berhak membuka rekening di sini, dong,” sergah saya, dengan suara meninggi.

“Tidak begitu, Pak. Kami perlu nomor telepon rumah untuk verifikasi. Kalau tak ada telepon rumah, boleh pakai nomor tetangga, kok…” ujarnya.

Ya sudah. Saya segera mengajak istri meninggalkan meja CSO. Tak hanya diskriminatif, petugas itu juga tak ramah, selain kelihatan tolol. Dia tak bisa memperlakukan calon nasabahnya dengan baik.

Beberapa bulan lalu, saya juga sempat ingin membuka rekening di kantor Bank Mandiri Cabang Purwosari, Solo. Ketika itu, saya hanya membawa SIM karena KTP sembunyi entah dimana. Proses aplikasi tertunda, sebab disyaratkan harus menggunakan KTP, bukan SIM atau keterangan lurah/kepala desa. Untuk kasus itu, saya mafhum.

Tapi, kasus Cimanggis, menurut saya tetaplah kejahatan. Saya tidak membayangkan, orang-orang yang tinggal di pedesaan, dimana tidak ada saluran Telepon Kabel, menjadi tidak berhak menjadi nasabah Bank Mandiri. Betapapun kayanya mereka, uang tetap harus disimpan di bawah bantal, sambil menunggu perampok datang.

Tak bisa saya bayangkan, bagaimana manajemen bank sering main pat-gulipat menyalurkan kredit secara tak wajar kepada kaum berdasi, tapi orang kebanyakan diremehkan. Semoga bank kalian menyusul Lehman Brothers…. Biar tahu rasa!

Ilustrasi: Bank BCA dan Bank Mandiri

TariOctober 12, 2008 9:55 am

Tak cuma piawai menyutradarai film cerita, Garin Nugroho juga pintar bersandiwara soal kisah ranjang. Siapa Siti, perempuan cantik yang diajaknya ke Swiss pada pertengahan Agustus lalu? Menurut penuturan Kang Gareng, eh, Garin kepada saya, Siti itu adalah sosok yang dikenalnya sebagai perempuan anggun. Namun dalam urusan seks, bisa mendua. Bahkan, praktek perselingkuhan pernah dilakukannya di samping suaminya, yang tertidur pulas di ranjang.

Dua wajah Siti yang bertolak-belakang itu, rupanya hanyalah sebutir zarah, debu dunia. Bukan monopoli masyarakat perkotaan, namun sudah menyelusup ke pedalaman. Lelaki atau perempuan, sama saja. Sama-sama memiliki potensi menunjukkan wajah gandanya: baik-buruk bisa saja ditampilkan pada saat hampir bersamaan.

Kembali ke soal Siti, jangan buru-buru berprasangka kalau Siti adalah perempuan selingkuhan Kang Gareng. Kisah seputar ranjang Siti adalah rekaan Mas Garin untuk menandai debutnya sebagai sutradara tari. Dalam karya ini, ia dibantu dua koreografer alumnus UCLA, Martinus Miroto dan Eko Supriyanto.

Sebagai penikmat seni pertunjukan, karya Mas Garin berjudul The Iron Bed -menurut saya- itu sangat bagus. Meski lama tak sempat menyaksikan pertunjukan tari di Jakarta dan Bandung, saya sangat yakin The Iron Bed akan menyita perhatian media massa dan para kritikus tari. Apalagi, karya perdana seorang sutradara film itu sampai diundang untuk tampil dalam kategori penampilan khusus dalam Indonesian Dance Festival (IDF) 2008, 28 Oktober mendatang.

Bukan hanya karena Garin lebih dikenal sebagai sutradara film dan tidak memiliki catatan perjalanan seni sebagai koreografer sehingga karyanya bakal disorot banyak pihak. Lebih dari itu, karena bagusnya garapanlah yang menurut prediksi saya, bakal menyentak dunia tari di Indonesia.

Sepanjang pengamatan saya, The Iron Bed sangat enak ditonton. Kisahnya mengalir, mudah dicerna, sehingga penonton mudah memahami pesan yang hendak disampaikan Garin. Bahkan, saya berani menyebut The Iron Bed lebih bagus dibanding versi filmnya, Opera Jawa, yan menjadi induk cerita. Maka, tak aneh pula kalau The Iron Bed memukai publik Swiss saat dipertunjukkan dalam Zurcher Theater Spektakel 2008, sebuah festival seni yang melibatkan puluhan seniman dari 40 negara di Asia, Amerika Latin dan Afrika.

Mungkin karena tak terlalu banyak pretensi, sehingga Garin tidak terbebani dalam proses penyusunan karya. Sehingga, dari dirinya lahir karya tari yang nyaris sempurna. Padahal, tiga bulan latihan –tiga hari setiap pekan, bukanlah waktu yang memadai untuk menyusun sebuah karya sarat pesan. Enam bulan pun belumlah layak disebut sebagai waktu yang cukup untuk berproses.

Uniknya, tiga pekan sebelum mereka terbang ke Swiss, The Iron Bed belum matang betul. Saat menyaksikan presentasi pertama karya itu di ISI Surakarta, target 70 menit belum kesampaian. Malah, durasinya molor hingga hampir setengah jam. Yang terbayang saat itu, Mas Garin kesulitan memenggal adegan yang tak perlu. Ia larut dalam visualisasi yang memang indah. Bahkan, saat ia meminta komentar, saya menjawabnya secara sinis.

”Saya paham apa yang mau sampeyan sampaikan!” ujar saya.

”Asem! Bagaimana menurutmu? Aku serius,” tukas Kang Garin.

”Saya juga serius, kok. Intinya, saya wis mudheng,” jawab saya.

Dua pekan kemudian, undangan kembali datang. Dengan pembenahan di sana-sini dan memotong adegan yang semula panjang, akhirnya jadilah The Iron Bed sebagai karya tari yang bagus, enak ditonton dan perlu. Saya pun tercengang! Padahal saya tahu, menyutradarai Mas Miroto itu bukan soal gampang.

Melalui tulisan ini, saya sarankan Anda untuk menontonnya. Siapa tahu Anda sependapat dengan saya, bahwa The Iron Bed cukup bisa mengisi keringnya karya-karya tari bagus, yang diciptakan oleh seniman-seniman tari Indonesia, setidaknya sejak lima tahun terakhir.

Update :

Menyaksikan The Iron Bed ini, kita seperti sedang berada di dalam sebuah gedung bioskop. Mata benar-benar dimanjakan oleh visual-visual yang cantik, eksotis, seperti film-film Garin sebelumnya. Rasa ‘Jawa’-nya menjadi kabur, tidak seperti dalam Bulan Tertusuk Ilalang yang sarat unsur bedaya Surakarta (yang dimainkan oleh Mbak Hadawiyah) dan tembang-tembang klasik lantunan almarhum Ki Sutarman.

Jejak Garin sebagai sineas sangat terasa pada penyusunan koreografi The Iron Bed ini. Pendekatan editing pada film layar lebar sangat mendominasi model penyutradaraan. Alhasil, bagi yang tak memiliki referensi langendriyan, maka seseorang seperti dibawa ke alam teater-tari gaya Surakarta itu. Untuk yang film minded, bolehlah Anda mengasosiasikannya dengan film bisu, meski sebagian adegan ada ‘insert‘ tetembangan oleh pengrawit, yang juga masuk ke tengah arena pertunjukan.

Tak tahulah, saya seperti terlalu bernafsu menceritakan The Iron Bed kepada Anda. Habis, baru kali ini saya terpuaskan oleh sebuah pertunjukan tari karya orang Indonesia. Beberapa kali nonton pertunjukan pada event sekaliber Indonesian Dance Festival (IDF) dan Art Summit Indonesia sekalipun, saya baru terpuaskan oleh penampilan Yin Mei, Takiko Iwabuchi, dan Min Tanaka.

[Sejatinya, ada beberapa koreografer Indonesia yang berbakat. Tapi, ya begitulah dunia kesenian kita. Ada beberapa anak muda yang memiliki karya-karya bagus, kadang cuma diikutsertakan dalam showcase atau dimasukkan kategori emerging, sementara yang tua-tua sudah pada kehabisan ide, sehingga karyanya cuma begitu-begitu saja. Kalau kuratornya dibuat variatif antargenerasi, kira-kira kok bakal lebih bagus dinamika kesenian kita. Hehehe…..] Updated: 16 Okt 2008 12:49 PM

Peristiwa 8:41 am

Alhamdulillah, telepon genggam saya jadi baru kembali. Saya memperoleh segalanya dari Mas Mansyur, pria berdarah Jawa-Kalimantan yang sangat baik hati. Kecuali cover depan yang imitasi, semua saya peroleh versi original-nya. Dia pernah bersinggungan dengan pemasaran telepon genggam asal Perancis itu, dan kini seperti jadi ketua penggemar Alcatel di Indonesia.

Selain saya, dia juga pernah mengerjakan perbaikan dan jasa lainnya dari pengguna Alcatel dari berbagai kota, tak terbatas Jakarta. Ada dari Surabaya, ada pula yang dar Jambi, nun di seberang lautan sana. Tak cuma asyik dan ramah, Mas Mansyur juga baik hati. Saya diberinya headset baru, asli bikinan Alcatel pula. Katanya, dia masih punya 150 biji!

Sejatinya, dua tahun silam saya sudah sms-an dengannya, namun tak kunjung ada kecocokan waktu bertemu. Barulah Sabtu (11/10) kemarin, saya sengaja menjumpainya di daerah Sunda Kelapa. Kebetulan, Alcatel seri OT-535 yang saya pakai sejak delapan tahun silam itu tak bisa digunakan untuk panggilan keluar. Incoming call pun tak pernah nyambung. Praktis, hanya bisa untuk kirim-terima pesan pendek.

Di Solo, tak satu pun tukang reparasi yang sanggup. Jangankan memperbaiki, membuka casing pun tak ada yang berani. Jadi, Mas Mansyur bagai juru selamat saya. Saya tak bisa memindahkan data-data di dalamnya ke komputer, sebab tak punya kabel datanya. Kebetulan, saya tak bisa mengoperasikan fasilitas infra merahnya. Maka, lengkaplah penderitaan saya bila telepon jadul itu sampai almarhum.

Asal tahu saja, 800 memori telepon dan data pendukungnya tak bisa disebut sedikit. Apalagi, satu entry nama dilengkapi 23 opsi nomor telepon utama, kantor, rumah, alamat (rumah/surat elektronik), homepage, dll. Pokoknya, rambut bakal memutih bisa sukses memindahkan semua data di dalamnya secara manual.

Rupanya, penyebab rusaknya telepon saya hanya sederhana: terjadi crash program antara software pesawat dengan SIM Card. Tak lebih dari 10 menit, telepon saya berfungsi kembali.

Selebihnya, pertemuan pertama yang berlangsung hampir dua jam di sebuah rumah makan Padang itu sangat mengasyikkan. Semua aksesoris asli dibawanya, dan saya bisa membelinya dengan harga sangat murah. Termasuk, sebuah baterai cadangan yang juga asli punya. Masih baru pula!

Sayangnya, Mas Mansyur berhati terlalu baik. Untuk membuat baru telepon saya, dia hanya meminta biaya pengganti sebesar Rp 150 ribu. Sebagai bentuk apresiasi kepuasan, dia tak mau menerima ongkos tambahan. Sebaliknya, saya malah diberi headset secara cuma-cuma. Aneh!

Bila mengacu pada hukum pasar, mestinya dia bisa menjualnya dengan harga mahal. Apalagi, telepon genggam keluaran Alcatel sudah tak beredar lagi di Indonesia, sehingga barang yang saya punya pun masuk kategori langka….

Matur nuwun, Mas Mansyur….. Kini, telepon saya sudah tak bisa diremehkan teman-teman saya lagi. Dulu, setiap diejek, saya selalu bilang bahwa telepon milik saya itu sangat Islami. Akronimnya asyik, Alcatel = Alhamdulillah Kayak Telepon!

SorotOctober 10, 2008 11:36 am

Operator seluler atau perusahaan pengelola base transceiver station (BTS) mulai melirik masjid sebagai lokasi penempatan perangkat kerasnya. Antena dan mesin pembangkit diletakkan begitu saja di atap masjid, tak peduli tindakan semacam itu merusak keindahan arsitektur bangunan. Maka, kubah pun disandingkan dengan menara pemancar.

Entah mau nyari gampang atau ngejar murahnya, begitulah kenyataannya. Seperti tampak dalam foto yang menyertai tulisan ini, adalah ‘ciri arsitektur’ sebuah masjid di Rawamangun, tepatnya di belakang RS Dharma Nugraha. Sebuah ciri baru yang diperkenalkan para pebisnis, ketika lahan untuk pemancar kian mahal, bahkan di pelosok pedesaan.

Sebelum menjumpai BTS di Rawamangun itu, saya sudah melihat tren asitektur baru serupa itu di Pekayon, Pasar Rebo, Jakarta Timur. Tiga tahun silam, masjid Al Maghfiroh itu masih dalam tahap renovasi. Kini, menara masjid sudah menjulang, dengan kaligrafi tergrafir di kaca, juga kaca warna-warni dari bawah hingga puncak menara. Secara desain, arsitektur masjidnya cukup bagus, megah dan fungsional. Sayangnya, lagi-lagi, penempatan menara BTS lantas tampak merusak keindahannya.

Benar, uang sewa penempatan menara (konon di atas Rp 250 juta untuk masa 10 tahun) sangat bermanfaat untuk biaya maintenance gedung yang memang mahal. Tapi, saya yakin itu hanyalah kiat akal-akalan bagi perusahaan operator telepon seluler untuk menekan cost produksi. Kecurigaan saya, kira-kira begini: si penyewa menyatakan hendak memberi layanan terbaik bagi pelanggan, sekaligus beramal dan men-support takmir masjid dalam memperbaiki dan meningkatkan sarana dan prasarana ibadah. Sekilas, memang terasa klop.

Tapi, umumnya takmir masjid merasa risih kalau melakukan tawar-menawar harga, apalagi mencermati secara saksama isi kontrak perjanjiannya. Kecenderungan umumnya, pengurus masjid merasa akan berdosa kalau tidak menyambut baik sebuah niat baik. Apalagi, memuliakan tamu adalah kewajiban bagi seorang muslim, bahkan hingga tiga hari lamanya. Repotnya, bila sang tamu, yang bisa jadi karena pingin urusan cepat beres dan maunya praktis-pragmatis, maka unsur keindahan diabaikan, apalagi urusan arsitektural.

Tapi, ya mau bagaimana lagi? Para pelaku usaha yang membutuhkan menara, sudah lama terdidik untuk tidak menghargai hal-hal yang berbau arsitektural. Tak hanya di Jakarta, pemerintah di berbagai daerah sudah terlalu lama merobohkan bangunan bersejarah lalu menggantikannya dengan mal-mal atau hotel. Di Bandung, gedung-gedung kuno juga berganti wajah, menjadi factory outlet.

Di Surakarta, bahkan belum lama ada tragedi. Seorang seniman papan atas Indonesia (bahkan namanya sudah mendunia), yang juga pendiri Solo Heritage Society memindahkan bangunan berupa pendapa kuno ke Jakarta, untuk kediaman pribadinya.

Ya sudah, mau apalagi? Semoga ke depan ada regulasi yang memadai soal penempatan menara-menara pemancar. Kebijakan pemerintah mengenai satu menara untuk banyak operator telepon seluler memang bermanfaat untuk mencegah laju peradaban kota yang berciri hutan menara. Tapi, bagaimana dengan bangunan lain seperti tempat-tempat peribadatan yang biasanya juga mengedepankan pertimbangan-pertimbangan keindahan arsitektur?

SorotOctober 3, 2008 8:01 pm

PT Kereta Api mulai ramah dan sadar kebutuhan penumpang. Setidaknya, begitulah yang saya rasakan saat berada di dalam gerbong kereta Argo Dwipangga yang membawa saya ke Surakarta. Mungkin karena terbiasa memperoleh layanan alakadarnya (bahkan sampai imun), maka colokan listrik pun sanggup membuat saya takjub. Hebat dan menghibur!

Ketakjuban itu, mungkin sangat personal. Karena tak bisa tidur, maka saya harus membunuh waktu dengan kegiatan yang lebih berfaedah. Saya bisa bermain Solitaire saat akses internet dari XL menghilang di wilayah blankspot, tanpa kuatir batre Latitude saya ngedrop.

Sungguh, baru kali ini saya bisa ‘tulus’ memuji layanan transportasi publik milik negara itu. Sepanjang pengalaman saya sebagai konsumen kereta api sejak pertengahan 1990-an, saya hanya menyukai kereta yang melayani rute ke Bandung. Entah yang dari Surabaya, Surakarta atau Jakarta. Saya menduga, layanan ke dan dari Bandung rata-rata lebih bagus dibanding rute lain, karena di Kota Kembang itulah para direksi berkantor.

Saat Argo Wilis diluncurkan, menurut saya, fasilitas dan pelayanannya jauh lebih bagus dibanding Argo Dwipangga, Argo Lawu, atau Argo Muria. Bahkan Argo Bromo Anggrek yang saat diluncurkan diklaim sebagai kereta termewah dan tercepat, pun menurut saya masih kalah dibanding Argo Wilis. Kereta jurusan Jakarta itu, toiletnya rata-rata berkualitas standar: kotor dan berbau. Pintunya, kalaupun ada yang bisa buka-tutup secara otomatis, biasanya sensornya ngadat.

Singkat kata, terlalu banyak dosa yang akan saya tanggung kalau harus menyebut seluruh kekurangannya. (Kalau saja Soeharto masih hidup dan berkuasa, bisa-bisa saya sudah dipenjara gara-gara mengabsen kekurangan dalam layanan PT Kereta Api. Selain tak nasionalis, saya bisa dikenai pasal menjatuhkan kewibaawan karya anak negeri!)

Kembali ke colokan listrik. Pada gerbong kepresidenan sekalipun, saya tak menjumpainya. (Entah sekarang, wong saya berkesempatan menumpang gerbong mewah begituan juga pada awal 2001, kok).

Sayang, gerbong dengan fasilitas colokan listrik baru terdapat pada Argo Dwipangga yang kebetulan saya naiki sepulang dari ‘mudik’ lebaran di Jakarta. Sayangnya lagi, satu rangkaian kereta yang gerbongnya berfasilitas colokan listrik akan segera dikandangkan kembali ke Madiun, ke PT INKA.

Rupanya, gerbong yang saya naiki belum siap dioperasikan sepenuhnya. Petunjuknya, sih cukup kuat: bau cat masih terasa menyengat, wallpaper-nya pun masih kelihatan baru keluar dari gudang, dan pintu otomatisnya masih ‘underconstruction!’ Buka-tutupnya masih perlu dukungan otot bagi yang menginginkan membuka atau menutupnya.

Ketika orang bepergian perlu dukungan daya listrik untuk telepon seluler, laptop, videogame atau perangkat elektronik lainnya, pemasangan colokan listrik yang terdapat di samping setiap bangku memang layak memperoleh apresiasi yang sepadan. Hanya saja, kalau suatu ketika ada fasilitas hotspot di setiap gerbong dan semua orang bawa laptop, jangan-jangan setiap rangkaian akan ada satu gerbong khusus untuk genset?!?

Menurut saya, ya tidak apa-apa. Toh selama ini PT Kereta Api juga suka curang, mau menangnya sendiri. Setiap akhir pekan, harganya dinaikkan. Setiap libur panjang, tarifnya juga dibuat setinggi bintang. PT Kereta Api seolah-olah menjadi preman tukang palak: memaksa bayaran mahal mentang-mentang dibutuhkan, sementara pelayanan tak ada beda: antara low season atau peak season.