Bank BCA dan Bank Mandiri Jahat!
Dua pengalaman pada bank berbeda, namun intinya sama: kami jadi korban kejahatan! Saya pernah ditolak menarik dana oleh petugas Bank BCA lantaran tidak membawa kartu ATM. Sedang Bank Mandiri, menolak pembukaan rekening baru untuk istri saya gara-gara tidak punya nomor telepon rumah.
Saya sungguh tidak bisa menerima alasan penolakan kedua bank. Apakah hal demikian sudah menjadi ketentuan umum dari Bank Indonesia bagi seluruh perbankan, atau sebaliknya, hal itu disebabkan semata-mata karena kegenitan manajemen kedua bank. Kalau Bank BCA dan Bank Mandiri merasa dirinya putri jelita yang digandrungi banyak pria lantas jual mahal, mungkin saya bisa maklum.
Singkat cerita, Bank BCA Cabang Pembantu Purwosari, Solo, menolak penarikan dana lantaran saya tidak membawa kartu ATM yang kebetulan hilang beberapa waktu sebelumnya. Kejadian itu, kira-kira berlangsung sekitar bulan Juli. Hanya demi mengambil uang kurang dari Rp 100 ribu, saya antri hampir satu jam. Begitu sampai di loket teller, transaksi ditolak.
Saya protes, sang teller hanya bilang itu sudah ketentuan manajemen Bank BCA. Kejengkelan saya didengar seorang perempuan, yang ternyata kepala di kantor itu. Saya tanya kenapa ada ketentuan demikian, dia hanya menjawab sekadar menjalankan keputusan pimpinan.
Sejak kapan ada ketentuan itu? Kenapa tidak ada pengumuman?
Sudah lama, Pak. Itu kebijakan dari pusat.
Apa alasannya harus bawa buku tabungan dan ATM sekaligus?
Untuk pencocokan saja, Pak. Soalnya, banyak buku tabungan nasabah yang hilang, sehingga harus diverifikasi ulang.
Bukankah bisa dicocokkan data dari kartu identitas lain? Saya, kan juga punya KTP dan SIM…
Maaf, Pak. Itu sudah jadi ketentuan perusahaan….
Begitulah, hanya untuk urusan mengatasi perut keroncongan sekitar jam 11-an, saya harus meminta surat keterangan kehilangan kartu ATM ke kantor polisi, lalu ke kantor Bank BCA tempat saya membuka rekening, dan…. antri lagi! Akhirnya, hari itu aku minta ditraktir makan kepada teman.
***
Pengalaman lain yang kalah menyebalkan terjadi di Bank Mandiri Cabang Jakarta Cimanggis, Senin (13/10) kemarin. Antri dari jam 12.00, giliran kami tiba pada pukul 13.30-an. Meski ber-KTP Pekayon –yang berjarak cuma dua kilometer dari sana, tetap saja istri saya tak bisa membuka rekening, alias ditolak. Alasannya (menurut saya) sederhana: tak punya telepon rumah!

Kata customer service officer, setiap calon nasabah harus memiliki nomor telepon rumah. Dikasih nomor handphone pun, dia tetap ogah memproses. Alasannya lucu, dan menurut saya sangat TOLOL!
“Kalau handphone, orang bisa ganti-ganti nomor. Telepon mesti yang ada kabelnya,” kata Sang CSO.
“Berarti, orang miskin tak berhak membuka rekening di sini, dong,” sergah saya, dengan suara meninggi.
“Tidak begitu, Pak. Kami perlu nomor telepon rumah untuk verifikasi. Kalau tak ada telepon rumah, boleh pakai nomor tetangga, kok…” ujarnya.
Ya sudah. Saya segera mengajak istri meninggalkan meja CSO. Tak hanya diskriminatif, petugas itu juga tak ramah, selain kelihatan tolol. Dia tak bisa memperlakukan calon nasabahnya dengan baik.
Beberapa bulan lalu, saya juga sempat ingin membuka rekening di kantor Bank Mandiri Cabang Purwosari, Solo. Ketika itu, saya hanya membawa SIM karena KTP sembunyi entah dimana. Proses aplikasi tertunda, sebab disyaratkan harus menggunakan KTP, bukan SIM atau keterangan lurah/kepala desa. Untuk kasus itu, saya mafhum.
Tapi, kasus Cimanggis, menurut saya tetaplah kejahatan. Saya tidak membayangkan, orang-orang yang tinggal di pedesaan, dimana tidak ada saluran Telepon Kabel, menjadi tidak berhak menjadi nasabah Bank Mandiri. Betapapun kayanya mereka, uang tetap harus disimpan di bawah bantal, sambil menunggu perampok datang.
Tak bisa saya bayangkan, bagaimana manajemen bank sering main pat-gulipat menyalurkan kredit secara tak wajar kepada kaum berdasi, tapi orang kebanyakan diremehkan. Semoga bank kalian menyusul Lehman Brothers…. Biar tahu rasa!
Ilustrasi: Bank BCA dan Bank Mandiri


kok misuh-misuh…..?? ha ha
Comment by wisnu — October 21, 2008 @ 12:27 am
Mas Blontank, kagak ada jaminan di negari ini. Nyang ade, mesti tuntut terus!!!. Hanya satu kata ….
(Salam kangen. Salam takzim utk Nyonye di rokum. Kapan bisa gabung dg “ngaji” kita di Jaksa?)
Comment by Slamet — October 22, 2008 @ 9:51 am
untuk kasus BCA, IMHO, sekarang ini ada kebijakan bank2 untuk transaksi dibawah 5 juta harus dengan ATM (katanya siy untuk memberdayakan ATM). klo pakai buku harus bayar “hukuman”.
tapi klo ditolak … weleeehhh, aneh bin ajaib. apalagi aplikasi ditolak Mandiri karena ga ada no telepon …. hahahahhaha itu kayaknya njenengan sedang sial menghadapi CSO yang sedang PMS!!!
Comment by granitaz — October 22, 2008 @ 7:47 pm
Rubriknya komplit euy… Tp kok kagak ada hukum, kriminalitas, ame indonesiana, ame laporan khusus…:D
Boleh numpang tanya, kenapa sih pakai nama blontank?
Comment by Kopeng — October 23, 2008 @ 9:10 am
“Semoga bank kalian menyusul Lehman Brothers…. Biar tahu rasa!”
mantap! begitulah manajemen bank. mangkanya orang-orang bank (level manajerial) biasanya angkuh dan cenderung meremehkan orang.
apalagi orang-orang bank sentral itu. Huh! bikin kepala mendidih saja.
Comment by bangsari — December 12, 2008 @ 1:24 am
Sebenarnya, itu ujian kesabaran untuk njenengan mas…
Comment by retni — December 18, 2008 @ 11:31 am