Sejak Juli lalu, bahkan hingga beberapa hari silam, banyak teman berolok-olok kepada saya. Kalimatnya beragam. Muaranya jelas, mereka mempertanyakan alasan sikap diam saya terhadap pelaksanaan Solo International Ethnic Music (SIEM) Festival . Emangnya saya siapa?
Mungkin, teman-teman menilai saya berubah. Saya tidak lagi secerewet sebelumnya, yang menyebut SIEM sebagai festival asal-asalan , festival nonkomponis dan sebagainya. Karena perubahan sikap itulah, maka muncul tafsir dan tuduhan, bahwa saya memperoleh sesuatu atau terlibat dalam kepanitiaan.
Aneh juga rasanya, seseorang begitu mudahnya menghakimi orang lain, meski sejatinya saya paham, bahwa dunia kesenian tak berbeda jauh dengan politik. Banyak intrik, bejibun gosip. Makanya, anggap saja sudah lazim kalau di antara mereka lalu saling intip.
Mungkin Anda akan bertanya, dimana posisi saya? Maka, saya akan menjawab begini: saya berada di antara mereka.
Kebetulan saya berkawan dengan mereka semua, maka komplitlah gosip yang saya terima. Setidaknya, lebih banyak dibanding gosip yang dipunya orang pada masing-masing blok, kubu, atau apapun namanya.
Sejatinya, saya hanyalah penonton yang punya harapan manfaat terhadap peristiwa semacam itu. Mungkin berlebihan, mungkin pula terlalu mengangankan sesuatu yang ideal, sehingga terkesan sangat emosional. Monggo saja bila Anda ingin menilai saya. Memaki-maki sikap saya, pun silakan saja.
Umpatan, cacian bahkan ancaman seperti terlihat pada komentar-komentar pembaca tulisan saya terdahulu, toh itu juga ekspresi kemarahan sesaat. Bagi komentator yang kebetulan panitia SIEM
, tentu saja mereka tidak rela bila kerja kerasnya dikritik secara terbuka.
Baik saya, panitia, publik seni dan masyarakat awam sekalipun, pasti memilik harapan yang sesungguhnya baik. Yang membedakan dan kadang membuat seolah-olah berbenturan, biasanya karena alasan kepentingan yang memang beraneka ragam.
Kendang Rampak, karya tari yang menempatkan musik sebagai tempelan sajian.
Bagi yang tidak suka terhadap saya, kali ini, Anda punya kesempatan tertawa sepuasnya. Mau nyukur-nyukurin juga boleh. Ceritanya begini:
Pada tengah hari, 6 Agustus 2008 silam, wajah saya disiram air teh sebanyak satu gelas. Yang menyiram seorang teman pula, yang tersinggung atas tanggapan saya terhadapnya atas sebuah perkara. Ternyata, nama SIEM dibawa-bawa, karena saya dianggap mempengaruhi seseorang, sehingga pelaksanaan SIEM pertama itu menjadi ternoda, hanya oleh sebuah kata-kata. Padahal, demi Allah, tak pernah saya menyuruh atau memanfaatkan seseorang untuk menyerang atau mengganggu kepentingan orang lain.
Tak perlu saling curiga. Penyiram teh itu bukan anggota kelompok orang-orang di dalam kepanitiaan, yang pernah mencerca, menyerang dan mengancam-ancam saya melalui tanggapannya di blog saya.
Kalau sudah puas tertawa, mari kembali ke pokok persoalan semula. Asal Anda tahu saja, saya termasuk salah satu dari (mungkin) sekian orang yang mendorong Mas Bambang Sutejo untuk kembali mengadakan SIEM Festival. Alasan saya sederhana saja, saya tak rela kalau Mas Bambang dipojokkan seperti layaknya seorang tersangka. Apalagi, gosipnya dia tidak transparan dalam keuangan, meski yang saya dengar pula, dia mesti nombok atas kekurangan biaya. Makanya, dia memilih tidak membuka posisi keuangan akhir penyelenggaraan festival pertama.
Catatan saya atas dua kali pelaksanaan SIEM Festival sederhana saja. Pertama, dibentuk dewan kurator yang sifatnya tetap untuk jangka waktu tertentu. Anggota dewan kurator berjumlah ganjil, sedikitnya terdiri dari tiga orang. Kalau perlu, dari dua atau tiga kelompok yang berseberangan. Sebab, terdapat kecenderungan seorang kurator memilih teman-teman dan anggota jaringannya sendiri.
Dengan perbedaan sikap dan jaringan antarkurator, maka materi penampil akan lebih beragam. Dengan demikian, publik menjadi punya banyak pilihan.
Kedua, untuk posisi-posisi tertentu, panitia mesti diisi oleh orang-orang yang punya pengalaman pengorganisasian memadai, kredibel, dan memiliki sikap mental yang baik sehingga bisa melayani tamu dengan baik pula. Kalau tak ada pilihan, tak usah ragu melibatkan event organizer yang profesional.
Innisisri, satu-satunya kelompok musik yang tampil dalam pembukaan festival
Ketiga, festival musik etnik adalah forum bagi penggiat dan pelaku world music. Mereka bukan berasal dari kategori musik mainstream, sehingga penyikapan penyelenggaraan tidak mengacu pada festival rock atau pertunjukan-pertunjukan sejenis, yang ukuran kesuksesannya hanya pada berjubelnya penonton. Percayalah, asal gratisan, sebuah tontonan apapun pasti bakal ramai.
Dengan materi penampil yang beragam dan berkualitas, kepanitiaan yang andal dan profesional, serta sikap penyelenggaraan yang benar, maka peristiwa SIEM Festival bisa menjadi calendar of event Surakarta, sejalan dengan gebrakan Walikota Jokowi yang mengarahkan Surakarta menjadi daerah tujuan wisata yang mendunia.
Lambang Sari, tari gaya Bali yang diiringi musik rekaman
Dengan demikian, tak bakal terjadi pula, sebuah festival musik etnik namun dibuka dengan tari-tarian, seperti saat pembukaan SIEM Festival, 28 Oktober 2008. Dalam karya tari berjudul Kendang Rampak itu, komponis dan musisi hanya berperan sebagai pengiring tarian karya Irawati Kusumorasri.
Atau, supaya penonton tidak terkecoh nama besar Guruh Soekarnoputro yang menyajikan tarian gaya Bali berjudul Lambang Sari, dengan iringan…………musik rekaman!!!
Sayang duitnya, sayang peristiwanya. Bila Anda berasal dari luar kota dan telanjur terlalu berharap pada festival ini, tetaplah sudi berkunjung ke Surakarta. Jangan kapok karena SIEM .
Silakan baca pula kritik dari KOBOI URBAN, yang menyebut SIEM Etnik Bohongan


1) saya tidak sepakat kalau “….gosipnya dia tidak transparan dalam keuangan, meski yang saya dengar pula, dia mesti nombok atas kekurangan biaya. Makanya, dia memilih tidak membuka posisi keuangan akhir penyelenggaraan festival pertama.”.
Kalau semuanya duit dia sendiri sih ndak masalah, tapi kalau ada pihak lain, ya mesti ditransparasikan, khususnya yang berasal dari pihak lain (entah sponsor atau donatur).
2) Pemerintah kota solo konon mengalokasikan bantuan dana yang diambil dari APBD. Lagi-lagi, saya berharap, juga ada transparasi. Jangan menganggap karena dana itu sifatnya bantuan, lantas publik tidak diberi penjelasan.
3) Sebagaimana event2 lain yang ditujukan untuk promosi kota Solo, SIEM semestinya juga memiliki alat ukur yang jelas dalam arti kontribusinya untuk “menjual” kota Solo itu bisa diverifikasi. Harus tersedia tools agar dalam jangka menengah, panjang diketahui manfaatnya bagi kota solo sehingga tidak akan muncul klaim, SIEM atau event apapun sudah memberikan efek (ekonomi??) pencitraan sebagaimana yang menjadi tujuan kegiatan itu.
blonty: Setuju! Yang saya maksudkan, mungkin dalam forum rapat evaluasi, baru ketahuan ternyata pendapatan dan pengeluarannya tak seimbang. Nombok. Bisa jadi, Mas Bambang maunya tak perlu membuka nilai tomboknya di forum, sementara sebagian mengira kalau gemerlapnya acara dan ramainya dukungan banyak pihak diyakini sebagai mendapat banyak pemasukan. Saya kira, memang di situ letak permasalahannya.
Memang, kalau transparan dan dibuka apa adanya, persoalan tak akan muncul. Tak bakal ada intimidasi dan tindak kekerasan. Dan, saya kira sebaiknya dilakukan evaluasi semacam itu. Publik telanjur berharap pada SIEM, walau masih sebatas pada sisi keramaiannya, bukan mengacu pada definisi ethnic music-nya.
Saya pun, yakin juga telah menjadi korban gosip, sehingga cenderung ‘membela’ Mas Bambang.
Comment by pakne salwa — October 30, 2008 @ 4:56 pm
ah, ngagas mas…. kalau bagi saya, apapun bentuknya, mau musik, mau tari, mau teater, asal masih memiliki imbas bagi kebudayaan etnik, ya oke-oke saja. tidak ada uang atau tenaga yang terbuang, karena hadirnya SIEM toh paling tidak memberi imbas positif pada keberlangsungan kebudayaan yang tradis itu (sebagai Counter Cultur). kalau untuk saya sih lebih baik jangan terlalu merisaukan “judul” (definisi), tetapi manfaatnya . mau judulnya SIEM, Si-Blonty, atau yang lainnya, kalau maaatnya hanya sebatas “cemen”, uh… malah lebih ngeri. Artinya, SIEM kemaripun walau masih banyak kekurangan, tetapi berarti, baik bagi yang nonton, bagi kota solo, atau secara luas lingkup kebudayaan.
blonty: Sepakat. Prinsipnya, dua kali diselenggarakan, SIEM sudah cukup menarik perhatian publik. Festival yang dalam percaturan musik global disebut world music dalam kemasan semacam itu, toh nyatanya belum ada di Indonesia.
Pada pertengahan 1990-an, sebenarnya banyak diselenggarakan festival musik yang diselenggarakan Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia (MSPI). Di Surakarta, Bandung, Flores, juga daerah-daerah lain. Bedanya, festival ala MSPI masih berformat dari-untuk-oleh komponis. Kalaupun ada ‘orang luar’ yang bisa menikmati, ya sebatas masyarakat di sekitar lokasi diselanggarakannya acara.
Ke depan, SIEM bisa saja dibuat format pertunjukan yang ‘akomodatif’. Yang cenderung mainstream tetap dihadirkan, setidaknya bisa untuk menggaet penonton, sementara yang ‘murni’ diberikan porsi lebih besar. Sehingga ada proses pembelajaran bersama, baik antarmusisi/komponis, hingga kepada publik. Karena itu, keberadaan dewan kurator menjadi penting dan sangat mendesak dibentuk, tidak temporer, tidak dadakan.
Comment by sof — November 1, 2008 @ 6:48 am
salam mas, tampaknya kita berbagi keresahan yang serupa
Comment by koboiurban — November 4, 2008 @ 12:19 pm
Wow, dari cerita mas Blontank yang disiram air teh dan dianggap mempengaruhi seseorang, brarti blog telah membuktikan kekuatannya. Hidup blogger!
Saya sepakat dengan Firman (Koboi Urban), SIEM lebih condong ke musik kontemporer daripada musik etnik.
Semoga kawan saya si koboi urban itu tidak ikut disiram teh seperti sampeyan, tapi disiram bir, haha!
Oya, di TBS ada pertunjukan musik tradisi ya? Apakah ingin meng-counter SIEM?
Comment by Dony Alfan — November 5, 2008 @ 2:34 pm
saya kasih komentar sebagai orang awam, penikmat seni.
SIEM kemarin memang agak kurang warna ethnic musiknya, meski di satu sisi bolehlah memberi warna kepada SOLO selama beberapa hari.
Comment by mayssari — November 13, 2008 @ 2:37 am
sepertinya SIEM memang sebaiknya ganti nama menjadi Solo International Contemporary Music Festival saja mas. .. he3..
Comment by sang lintang lanang — November 13, 2008 @ 7:52 am
teh sing di siramke nasgitel ora Thank?
Comment by wisnu — November 17, 2008 @ 3:58 am
Wah saya terlambat menemukan tulisan Jenengan ini. Saya mengikuti SIEM kemarin dengan antusias lho mas, karena masih terbawa kesan SIEM tahun sebelumnya. Setelah membaca blog Jenengan, saya jadi ngelus dada. Btw Salam Kenal mas
Comment by Kawulo Alit — December 22, 2008 @ 4:15 am