@rtWork, DaganganDecember 20, 2008 9:22 am

Buat teman-teman yang rindu dengan dagangan saya, kini kembali ditawarkan desain kaos baru, dengan tema yang masih aktual (di Surakarta) dan menggelitik syaraf keberpihakan kita pada upaya pelestarian benda-benda cagar budaya. Meski saya yang jualan, ide desain dan produksi sepenuhnya dibiayai oleh seorang teman.

Dia punya keprihatinan yang sama dengan saya. Sama-sama sayang terhadap Benteng Vastenburg bila harus berubah bentuk menjadi hotel. Bukan saja merusak wajah situs yang sebenarnya, tapi upaya mengubah bentuk Vastenburg sama saja menghilangkan memori kolektif akan sejarah kelam, ketika Indonesia masih dijajah oleh kolonialis Belanda.

Sulit untuk mengatakan siapa yang bersalah. Pemilik sekarang, Robby Sumampouw, tak bisa disalahkan begitu saja. Logika pemodal dimana-mana sama: mencari keuntungan atas sejumlah investasi yang telah dikeluarkan. Apalagi, Robby bukan pembeli langsung dari pemilik sesungguhnya, yang ketika itu adalah (kalau tak salah) Departemen Pertahanan.

Robby hanyalah pembeli dari pemilik sebelumnya, konon keluarga pemilik kelompok usaha Batik Keris. De facto atau de jure, dia memang pemilik sah. Maka ketika ia ingin mengubah asetnya menjadi hotel, kita bisa memahami sebatas dengan kelakar: ya, begitulah logika saudagar.

Maka, posisi Walikota pun jadi sulit. Kalau tak memberi ijin atas permohonan yang diajukan Robby, maka ia bisa digugat lewat Peradilan Tata Usaha Negara (PTUN), apalagi semua syarat telah dipenuhi oleh pemohon. Misalnya, adanya surat lolos analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal) dan rekomendasi dari Direktur Jenderal Peninggalan Purbakala (?).

(Persoalan kredibilitas tim Amdal, itu soal lain. Kekecewaan akan kecerobohan instansi yang seharusnya melindungi aset sejarah dan ilmu pengetahuan, itu juga soal yang berbeda pula).

Yang pasti, di sini saya ingin jualan kaos. Kalau mau beli, yang monggo saja. Polanya masih sama dengan ketika saya berjualan kaos Pornography? dan Poligami yang pernah saya jual sebelumnya.

Kalau Anda berminat, silakan kirim email atau mencatatkan pesanan Anda, lengkap dengan pilihan ukuran dan warnanya. Harga masih sama (krisis ekonomi dunia belum jadi pertimbangan kami): Rp 50.000 per buah, dan ditambah ongkos kirim (untuk pesanan lima kaos, gratis ongkos kirim untuk wilayah Pulau Jawa). Tersedia pula bagi Anda yang menginginkan lengan panjang, asal sanggup menambah biaya cetak sebesar Rp 5.000 per buah.

Ongkos kirim untuk kota-kota seperti Jakarta plus (Jabodetabek) dan Bandung tarifnya Rp 15 ribu, sedang Yogyakarta, Semarang dan Surabaya ongkosnya dipatok Rp 10 ribu. Semua pengiriman akan menggunakan jasa paket kilat TIKI.

Silakan tinggalkan pesan atau kirim email pribadi dengan mencantumkan nomor telepon seluler untuk pemberitahuan teknis transfer pembayaran. Kaos sudah siap dikirimkan mulai tanggal 25 Desember 2008. Hanya tersedia satu pilihan warna: HITAM! Ukuran, sementara tersedia allsize (L), extra large (XL) dan superjumbo (XXL).

Bila Anda memesan, kami akan menghubungi via sms (kalau menyertakan nomor telepon) atau ke email pribadi Anda. Prinsipnya, begitu Anda tertarik, segera hubungi saya. Jangan lupa menyebutkan ukuran kaos yang Anda inginkan.

Saya tunggu pesanan Anda. Saya sudah rindu akan keuntungan dari kedermawanan Anda.

SorotDecember 5, 2008 9:38 am

Kalau ada polling warung internet mana paling lelet di Solo, mungkin saya akan menempatkan SoloNet di Jl. Slamet Riyadi di urutan teratas. Anda bisa membayangkan, seberapa besar kecepatan aksesnya, bila 19 menit lebih, login di Facebook pun tak kesampaian. Ironisnya, warnet yang satu ini bukan tak punya modal untuk menaikkan bandwith, sebab inti usahanya memang jualan akses. SoloNet, bahkan merupakan satu pionir internet service provider di Solo.

Tapi, ya dasar pelit. Mungkin, begitulah itung-itungan bisnis kapitalis. Sudah lambat, bayarnya tetep sama: mahal!

Sepanjang yang bisa saya pahami, SoloNet seperti putri cantik yang tampak pemalu, meski sejatinya sombong. Merasa dicari banyak orang karena lokasinya strategis dan memang enak untuk nongkrong, tapi tetap saja jual mahal. Sang Putri merasa, masih banyak lelaki bakal datang meski ia o’on, gak nyambung kalau diajak ngobrol.

Sudah lama pelanggan protes soal kecepatan akses, alasannya tetap sama klisenya. Kadang dibilang akses internasionalnya ngadat, lain kali dijawab sedang banyak yang download atau streaming. Pokoknya, macam-macam kalimatnya, namun maknanya tetap sama. Kalau mau positive thinking, memang ada hikmahnya: bisa untuk latihan sabar.

Sejatinya, saya tak tega menulis demikian. Tapi, ya mau bagaimana lagi, wong kesabaran itu juga ada batasnya. Hitung-hitung, curhat terbuka ini sekaligus untuk mengingatkan pemiliknya, supaya bisa memperbaiki performa usaha jasanya, sehingga para petugas jaganya tidak menjadi sasaran uring-uringan pelanggan.

Asal tahu saja, SoloNet yang di Jl. Slamet Riyadi ini memang enak buat nongkrong. Ada warung makan dan mie ayam yang enak di dekatnya. Dan mulai petang hingga dinihari, ada angkringan penjaja sego-kucing yang selalu rela hati mengantar pesanan hingga bilik terdalam SoloNet.

Saya berkenalan dengan internet juga di SoloNet, tapi kantor pusatnya, Jl. Arifin, Kepatihan. Jauh sebelum ada warnet, bahkan ketika SoloNet masih ‘berjuang’ mencari user baru untuk akses secara dial up. Ketika itu -akhir 1990-an, pelanggan korporat masih membayar sangat mahal karena harus menyewa saluranleased line dari Telkom. Teknologi Wi-Fi belum semarak kini.

Memperoleh akses gratis kapanpun saya mau, sungguh menyenangkan. Sesekali, saya ikut ‘membayar’ kebaikan SoloNet dengan ikut mengisi -baik foto maupun tulisan, pada halaman SoloLama. Juga, turut mengisi buletin SoloNetter pada awal-awal penerbitannya.

Kedekatan itu pula yang sejatinya membuat saya masih setia nongkrong di SoloNet. Walaupun terus kecewa dengan lambatnya akses warnetnya, namun tetap saja saya kembali ke sana. Aneh. Bahkan, kadang saya merasa aneh dengan sikap saya itu. Dikecewakan, tapi tetap saja sayang.

Bagi yang belum telanjur sayang, ada baiknya Anda menimbang untuk datang. Meski tak ada salahnya, untuk mencoba sesekali, meski cuma sekadar ngecek, apakah yang saya sampaikan di atas sesuai faktanya.

Saya cuma bisa berharap, semoga ke depan bisa ada perbaikan. (Walau saya tak yakin bakal kesampaian)

PeristiwaDecember 3, 2008 7:12 am

Seumur-umur, baru sekali itu saya melihat bulan tersenyum begitu indahnya. Tulus, tak ada yang disembunyikan. Dengan posisi melintang, bentuk sabit sang bulan menyerupai bibir, yang indahnya tak ditemukan pada artis manapun yang film atau sinetronnya pernah saya tonton.

Dua bintang yang kebetulan bertengger di atasnya, menyerupai mata yang tak kalah indahnya. Kedua mata itu menyempurnakan senyum sang bulan, mengawali bulan Desember, yang saya harap membawa ceria. Kebetulan, ia menyapa tepat pada tanggal 1, sejak menjelang magrib hingga beberapa saat selepas waktu isya.

Saya yang ketika itu sedang uring-uringan, dibuat tak berdaya ketika istriku berteriak histeris. Menjelang kami pergi jalan-jalan, ia menunjuk kolaborasi bulan-bintang, seraya mengejekku: “Orang, kok tak pernah tersenyum. Lihat tuh, si bulan!”

***

Kita tahu, Desember lantas menjadi bulan aneh dalam enam tahun belakangan. Sejak peristiwa Bom Bali 2002 (menyusul tragedi gedung WTC di New York dua tahun sebelumnya), lembaga kepolisian dan intelijen, dari Jakarta hingga Washington tak pernah alpa mengingatkan betapa Natal dan Tahun Baru adalah saat-saat krusial. Para menteri luar negeri –terutama negara-negara barat, juga begitu kompak mengingatkan warganya yang ingin pelesiran, kalau perlu dalam bentuk travel warning.

Desember lantas berubah menjadi bulan suram bagi siapapun. Semua persoalan seperti ditarik pada situasi yang saling berhadapan, bahwa Islam dan Kristen adalah musuh. Usaha-usaha kerjasama antarbangsa dan antarmasyarakat yang selama ini sudah mengabaikan unsur-unsur primordialisme, seperti dipancing dengan stimulus berupa pesan singkat: ‘Awas Ada Islam!’

Siapa yang sejatinya berkepentingan dengan situasi ‘ketidakrukunan’? Saya, kok justru curiga kepada para pihak-pihak yang semestinya bertanggung jawab pada penciptaan rasa aman, baik dalam sebuah negara maupun antarbangsa. Intelijen, sebagai institusi pengumpul data kecenderungan keamanan, saya yakin telah bekerja profesional. Persoalannya, bila analisis intelijen dipublikasikan dengan kemasan pesan menyeramkan.

Aparat keamanan, mestinya tak perlu membawa publik ikut serta dalam wilayah kerja dan tanggung jawab mereka. Pajak dan kewajiban-kewajiban lain yang sudah ditunaikan oleh warga negara, sudah seharusnya ditukar dengan hasil kerja yang bermutu, yang menenteramkan oleh penyelenggara negera melalui para aparaturnya.

Tentu, kalau kita sepaham, bahwa ketidakamanan, instabilitas dan semacamnya tidak boleh dimanipulasi sebagai sebuah proyek. Kita tahu, instabilitas dan kekacauan sangat mudah melahirkan ‘pahlawan’ selain memberi peluang bisnis persenjataan, apapun bentunya.

Saya percaya, ketika tatanan sebuah bangsa sudah mapan dan warganya sejahtera, tak bakal ada peluang munculnya keributan. Protes, apapun bentuknya, biasa dikelola menjadi seolah-olah berdasar, sepanjang klop dengan alasan pembenar.

Saatnya kita tersenyum, menyongsong peradaban lebih damai dan adil. Sehingga, kombinasi bulan dan bintang bisa menghasilkan senyum tulus, damai dan penuh kasih. Jangan lagi bulan-bintang (yang kerap diasosasikan dengan Islam) menjadi momok bagi umat Kristiani, atau apapun latar belakang agama, kultur, ras dan semacamnya.

Biarkan umat Kristiani merayakan Natal dengan damai dan dalam kasih Tuhan, tanpa ditakut-takuti dengan ancaman si bulan dan si bintang.