SorotJanuary 21, 2009 7:32 am

Menjadi seorang Obama tidaklah mudah. Menyaksikan siaran pesta inaugurasinya lewat saluran HBO Signature dan pelantikan melalui siaran langsung di CNN, yang terbayang adalah rasa takut, cemas. Cemas bila sewaktu-waktu peluru nyasar merobohkan Obama, yang dimuntahkan dari senapan otomatis dari tangan-tangan orang Amerika yang belum siap menerima naiknya seorang Afro-Amerika dalam tampuk kekuasaan. Beruntung, Amerika kini sudah bukan lagi Amerika yang W-A-S-P.

Obama, kini dinanti dunia. Harapan besar ditumpukan kepadanya. Dari penyelesaian Palestina-Israel, penarikan pasukan multinasional di Irak, hingga dialog Amerika dan Barat dengan komunitas Islam internasional. Obama yang tidak rasis (meski pernah jadi korban rasialisme) adalah pembaru tata hubungan global di masa depan.

Harapan besar itu, rupanya masih harus diuji sang waktu. Apakah Obama benar-benar bisa membawa angin perubahan, atau dia sendiri yang bakal jadi korban. Sejujurnya, saya takut Obama tak tuntas memimpin. Bisa jadi ia diserang kelompok-kelompok yang masih yakin kelompok kulit putih adalah ras unggul, atau militan Islam yang tidak puas dengan pola penyelesaian ketimpangan Barat-Timur, Utara-Selatan dalam segala bentuknya.

Kita semua berharap, Obama benar-benar hadir bersama perubahan yang ingin diciptakannya bersama masyarakat internasional. Mari kita sambut dialog baru versi Obama……..

KasusJanuary 19, 2009 8:40 am

Neon box berwarna terang itu sudah lama terpampang gagah di depan pos polisi perempatan Beran, Kabupaten Sleman. Setahun bahkan lebih. Pesan pada iklan rokok Star Mild itu lugas dan tegas, dan bermakna tunggal melecehkan polisi! Obsesi: Siap Melayani Masyarakat.

Saya geregetan, marah setiap kali melintasi jalan itu. Entah kenapa, baru sekarang saya ingin memuntahkan kemarahan saya di sini. Mungkin karena saya menjumpai banyak neon box yang sama, menyatu dengan bangunan-bangunan pos polisi seperti di perempatan Monumen Yogya Kembali dan pertigaan ring road Maguwo.

Dalam perjalanan pulang dari temu blogger Wonosobo, Sabtu (17/1) malam lalu, saya benar-benar diliputi amarah. Begitu tololkah polisi-polisi dan masyarakat kita, sehingga bentuk pelecehan terbuka semacam itu dibiarkan, bahkan hingga bertahun-tahun?

Saya sering menjumpai oknum polisi dengan perilaku tak terpuji seperti saat menangani kasus penganiayaan di Klaten atau razia lalu lintas di Surakarta. Tapi, seperti pernah dipesankan Gus Dur, kita harus mendorong agar polisi kita tumbuh menjadi polisi yang profesional. Mereka adalah alat negara dalam mengawal proses demokrasi di Indonesia.

Sebuah negara akan menjadi demokratis bila hak-hak dan kewajiban sipilnya seimbang. Polisilah yang menjadi ujung tombak bagi proses penegakan hukum, salah satu instrumen penting menuju demokrasi. Dimana tentara? Tentara adalah angkatan bersenjata –yang juga harus profesional dan berdaya, karena bertugas mengamankan negara dari ancaman asing. Pengalaman menunjukkan, manajemen ala militer selalu gagal menciptakan demokrasi, sebab demokrasi tak mengenal hirarki komando.

Bagi yang berselera humor satir, copy writing iklan Star Mild itu akan dianggap sebagai jitunya di pembuat iklan dalam memotret keadaan. Apalagi, sebagian besar masyarakat masih sering menemui kenyataan yang terbalik-balik. Semboyan resmi polisi yang berbunyi melayani dan melindungi sering bertolak belakang pada prakteknya, sampai-sampai muncul ungkapan: lapor kehilangan ayam malah kehilangan kambing.

Bagi saya, institusi negara harus dihormati, betatapun kita tak suka dengan kinerjanya, atau perilaku sebagian orangnya, yang sering kita sebut sebagai oknum itu. Tapi, semua pihak yang terkait dengan iklan itu harus bertanggung jawab. Dari Star Mild sebagai pemilik produk yang butuh beriklan, ad agency yang membuat copy writing hingga rekanan lokal –biasanya jasa iklan outdoor yang memasang neon box-neon box itu.

Secara langsung atau tidak langsung, mereka telah bertindak dan perbuatan yang secara terang-terangan mengajak publik untuk mendiskreditkan institusi kepolisian. Melalui tulian ini, saya juga ingin menyarankan agar perusahaan iklan yang memproduksi neon box itu untuk mengirim copy writer(s) dan art director(s)-nya ke Pusat Bahasa untuk belajar kaidah-kaidah berbahasa Indonesia yang baik dan benar.

Kepada pimpinan Kepolisian Negara Republik Indonesia , saya sarankan pula untuk menambah wawasannya dalam berbahasa Indonesia. Cermati baik-baik makna copy writing: Obsesi: Siap Melayani Masyarakat! Dengan demikian, aparat Anda juga bisa memahami tugas dan fungsi kepolisian, yang menurut saya melayani dan melindungi merupakan sebuah tindakan aktif yang menyiratkan makna tanggung jawab, sebuah kewajiban dan amanat konstitusional. Bukan sekadar o-b-s-e-s-i.

Jujur, saya kuatir, pemasangan neon box pada pos-pos polisi semacam itu merupakan hasil ‘kerja sama’ oknum polisi dan orang-orang periklanan. Sebab di lapangan masih bisa kita jumpai, iklan akan terbebas dari pajak reklame bila bekerja sama dengan ‘pihak-pihak tertentu’ meski lokasinya pada ‘tempat-tempat tertentu’ pula.

Star Mild mestinya konsisten, sebelum mengajak orang/pihak lain lebih berselera dan berjuang membuat hidup lebih baik, lebih baik Star Mild memahami jargonnya sendiri, sehingga orang seperti saya akan tahu bahwa kalian memang Lebih Punya Taste, Lebih Terobsesi. Paham?

SorotJanuary 7, 2009 3:19 am

Keluarga munyuk sedang beruntung. Operator seluler XL menggunakan jenis satwa itu sebagai modelnya, bahkan menggusur Luna Maya. Tak mau kalah, AXIS pun melibatkan seekor munyuk lola, tanpa sanak-saudara demi mengejar pengakuan publik akan kedermawanan operator asal Timur Tengah itu, apalagi kalau buka dalam kontes pulsa murah. Baik, ya?

Munyuk pun manggut-manggut, mengamini pernyataan manusia yang mengapitnya. (Maaf ya, Nyuk, saya tak menyebutmu Si Pongo Pygmaeus atau siapa. Bagi saya, sebutan munyuk lebih egaliter untuk semua keluarga besarmu).

Kita tahu, munyuk tak bisa berpikir seperti manusia. Mereka tak beruntung sebab Tuhan tidak memberikan karunia-Nya berupa daya nalar. Meski demikian, mereka masih memiliki budi baik. Seperti dalam iklan dua operator itu, keluarga munyuk menuruti semua kemauan, bukan saja sutradara iklan, tapi juga sang pemberi order, yakni operator seluler itu.

Anehnya, sebagian dari kita, sepertinya justru lebih mudah diyakinkan oleh makhluk yang derajadnya di bawah manusia. Sepuluh tahun sebagai pengguna nomor 0817040xxxx keluaran XL, saya merasakan betul dampaknya. Panggilan keluar sering nyambung , tapi lawan bicara tak bisa menangkap suara saya. Sebaliknya, komplain lebih sering datang setelah terdengar nada sambung namun panggilan mereka tak kunjung saya terima. Padahal, tak ada tanda panggilan di layar handphone saya.

Baik, ya? Baik apanya, monyeeetttttttt!!! Kata seorang teman, sih, XL kebanjiran pelanggan baru dan –menurut bahasa bisnis, di luar ekspektasi sehingga base transceiver station/BTS tak sanggup menampung traffic yang mahapadat alias overload. Tak cuma pada lalu lintas percakapan, transfer data pun terganggu karenanya. Beberapa kali saya alami, akses internet program Xplor dengan BandLuxe yang berkemampuan hingga kecepatan 7,2 MBps pun terasa lelet.

Apa mau dikata, saya pasrah saja. Saya berpikir positip, mungkin Tuhan sedang melatih kesabaran saya. (Aneh juga, ya… Kenapa sikap tawakkal malah sering muncul lewat sentuhan kalbu dari operator seluler? Kenapa saat mengarungi kehidupan yang senyatanya, saya malah lupa pada Dia, padahal saya juga hafal beberapa syair Bimbo, termasuk Tuhan?)

Otak-atik gathuk pun lantas menjadi jalan pintas untuk lari dari kenyataan. Eskapis? Mungkin. Disebut klenik juga tak apa-apa, sebab kadang melintas di benak saya, jangan-jangan kehadiran munyuk-munyuk itu merupakan sasmita, semacam petunjuk atau tanda-tanda jaman, seperti yang pernah dinyatakan Rangawarsita sebagai jaman edan.

Memilih operator seluler bisa saja dianggap remeh. Tentu jika hal itu dibandingkan dengan aspirasi politik. Kita –ratusan juta manusia Indonesia, seperti sedang dihadapkan pada urusan gadai-menggadai, praktek mengagunkan masa depan.

Pemilu kian dekat, tak ada calon legislator yang bisa memikat, padahal sudah dikaruniai Tuhan akal sehat. Kemanapun kita pergi, di kanan-kiri banyak wajah-wajah asing yang nampang, minta dipilih dengan janji akan memperjuangkan aspirasi rakyat sebagai dalih.

Saya bingung. Tapi tawaran mereka, para politikus (yang masih karbitan atau sudah bangkotan) itu kadang memancing sikap congkak yang pinginnya saya sembunyikan dalam-dalam agar tak ketahuan. Desain dan isi pesan pada poster/spanduk/stiker mereka membuat saya muak. Jaka Sembung main gasing, gak nyambung, Cing!

Sudah begitu, mereka suka menganiaya lingkungan. Pepohonan, nyaris berubah menjadi milik partai atau calon legislator. Rambu-rambu lalu lintas pun tak luput dari atribut kampanye. Bayar pajak? So, pasti mereka tidak mau dengan dalih tak mampu.

Coba kita renungkan baik-baik, pantaskah mereka, politisi yang tak punya etika, tata krama dan kemampuan komunikasi itu kita pilih? Kalau berbicara saja tak mampu, masih percayakah kita akan kemampuan debat mereka dalam sidang-sidang di parlemen?

Kadang-kadang saya berpikir naif, tapi masuk akal meski terkesan sadis. Coba para calon legislator itu agak cerdas dan kreatif. Sedikiiiiiiiit saja….. Saya yakin mereka bisa menekan laju pertumbuhan kepadatan penduduk Indonesia.

Bagaimana bisa???

Mudah saja: kalau pesan dan desain-desain mereka menarik dan bersaing terpasang di setiap sisi jalan, dijamin akan menyita perhatian banyak orang. Dampaknya bisa diduga, angka kecelakaan akan meningkat drastis! Semoga para munyuk tak dieksploitasi orang sehingga tidak berjejalan di sepanjang jalan.

Eh, ntar nyoblos gambar munyuk aja, yuuu……kkkkkkkkkk!

Baik, ya?!?

SorotJanuary 6, 2009 7:36 am

Rasa peduli, sejatinya adalah karunia Tuhan yang diberikan kepada manusia. Tapi kerap kali orang tak kuasa menghadapi kerasnya lingkungan sosial-politik yang mengelilinginya. Atau, gagal berakselerasi dengan sistem nilai/budaya, sehingga memaksa kita tumpul hati, majal rasa. Sering kita dengar berseliweran gosip tentang pencatutan bantuan, manipulasi data korban untuk mengeruk keuntungan, dan banyak lagi.

Maaf. Jangan terkecoh dengan pengantar di atas. Secara pribadi, saya sangat mendukung gagasan Gerakan Blogger Peduli. Karena itu, melalui halaman ini, saya akan urun rembug, sekadar memberdayakan sisa akal-budi yang dipadu dengan keberadaan cangkem saya, yang hingga kini berstatus freelance, seenaknya sendiri!

Pertama, bencana sering datang tiba-tiba. Dalam kasus tsunami Aceh/Nias, kerusakan infrastruktur menjadi kendala distribusi bantuan, baik medis maupun bahan makanan dan pakaian. Pada gempa Klaten/Jogja, infrastruktur tak terlalu parah sehingga orang berbondong-bondong datang mengirim bantuan, terutama banyak bahan makanan dan pakaian. Akibatnya, kedua jenis bantuan itu menumpuk. Sebagian mubazir.

Saya ingat, sebagian korban gempa di Klaten sejak hari kedua hingga kelima justru pusing menghadapi tumpukan mie instan dan beragam pakaian. Rupanya, meski sedang ’sengsara’ mereka lebih senang dan terhibur ketika beberapa teman saya menyumbang bawang, cabe, minyak goreng, garam dan sayuran mentah. Itu cukup menghibur.

Saya pun menjadi paham, lidah mereka tak bisa dipaksa menerima menu yang sama selama beberapa hari. Ini soal kecil, tapi menarik untuk diperhatikan.

Kedua, jangan sekali-sekali menggelontor duit kepada para korban bencana. Bisa ribet dan memancing perselisihan di antara mereka sendiri. Kalau memiliki jaringan di lapangan, lebih baik wait and see. Melihat situasi lapangan baru memberikan bantuan. Tapi kalau kepepet, bolehlah disalurkan ke lembaga-lembaga semacam Palang Merah Indonesia atau pos-pos bantuan kemanusiaan. (Jujur, saya kurang percaya kalau bantuan diserahkan melalui pos-pos yang dikelola pegawai negara. Banyak bohong dan sunatannya).

Ketiga, dalam situasi lapangan yang pasti crowded, mendingan kita mengambil peran keliling lapangan lalu melaporkan dengan perangkat komunikasi yang kita miliki. Asal tahu saja, manajemen bencana kita masih sangat buruk. Polisi, tentara, aparatur negara suka ke lapangan, lalu membuat laporan sendiri-sendiri sesuai temuan mereka di lapangan. Data sering tumpang-tindih tak karuan.

Seandainya mereka berangkat dari satu titik (posko bersama?) lalu berpencar setelah berbagi tugas, ada harapan data mendekati valid, sehingga tak ada lagi cerita desa A memperoleh bantuan berlimpah, sedang desa B kekurangan atau ta tersentuh sama sekali.

Komunitas BloggerPeduli bisa mengambil peran (di luar nyumbang harta) lewat kemampuan, kecakapan dan kelebihan (teknologi) yang dimiliki.

Keempat, jangan sampai kita meniru kelompok-kelompok yang suka cari muka di tengah bencana. Sejauh pengalamanku nyambangi beberapa kasus bencana speerti tanah longsor Banjarnegara, Gunung Merapi, gempa Klaten/Jogja, longsor Tawangmangu, banjir di Solo dan sebagainya, PKS termasuk partai yang paling banyak memasang bendera dan atribut partai, disusul PDI Perjuangan, lalu partai-partai lain seperti Golkar, PAN, PKB dan banyak lagi.

Sejauh mata memandang, lokasi bencana menjadi zona promosi atau kampanye. Nah, peran blogger adalah mari beramai-ramai mengolok-olok partai apa saja yang lebih suka masang gambar daripada mengotori tangan untuk menangani korban. (Dengan begini, bisa juga memudahkan kita masuk surga, karena kita mengingatkan agar menyumbang itu ikhlas, tanpa pamrih. Kalau nyumbang pakai tangan kanan, tangan kiri gak boleh tahu).

Saya yakin, para politisi itu cuma lalai atau lupa-lupa ingat saja, bahwa beramal itu harus ikhlas, tanpa pamrih agar Tuhan melimpahkan pahala-Nya.

Hehehehe…………… Bingung saya mesti ngomong apa. Harap maklum, namanya juga cangkem freelance!

(Daripada diam, malah nanti disalahin PamanTyo. Lebih baik mengikuti saran beliau, daripada ngumpet)

SosokJanuary 4, 2009 1:17 pm

Kampanye antikorupsi memang harus digalakkan. Kemana saja, kepada siapa saja, oleh siapa saja. Kalau perlu ke pusat-pusat perbelanjaan hingga tempat hiburan, tak cuma ke kantor-kantor atau sekolahan seperti selama ini mulai dilakukan oleh KPK. Lihat saja yang dilakukan oleh manajemen Hypermart di mal Solo Square, Surakarta dengan memajang kotak (kok bulet?) sampah berisi pesan antikorupsi.

Tak sedikit yang dipajang. Puluhan kotak sampah dipajang pada tempat mencolok, dua lapis pula. Sehingga, bagi saya, itu menjadi langkah maju dimana dunia usaha ikut berpartisipasi menyebarkan pesan-pesan antikorupsi. Kita tahu, pengunjung mal dan pusat perbelanjaan mewah didominasi oleh kelompok masyarakat yang secara ekonomi relatif lebih mapan. Anak-anak hingga kaum tua tumpah ruah di sana.

Di mal pula, pengusaha, birokrat, pejabat berbaur dengan rakyat. Tak jarang, pejabat dan kaum berduit menghabiskan waktu di mal sambil memborong aneka kebutuhan bersama kekasih gelapnya. Dimana duit mereka berasal? Hampir pasti, bukan uang keluarga (resmi) yang dibelanjakan. Duit haram? Bisa jadi!

Menurut peneliti korupsi Universitas Gadjah Mada, Denny Indrayana, pejabat pemerintah daerah (indeks 29) menempati urutan kedua dalam peringkat aktor korupsi di Indonesia pada 2007. Mereka terpaut beberapa angka di bawah bupati yang menempati angka 47 dari skala 50, sementara swasta memperoleh angka 23. (Sumber: kertas kerja diskusi Good Governance, Otonomi Daerah dan Korupsi di Palangkaraya, 3 Juni 2008).

Menurut temuan ahli Hukum Tata Negara itu, dari 66 kasus korupsi Pemda sepanjang 2007 mencapai angka Rp 4.165.626.370.000. Sebuah nilai, yang kalau dibagi rata kepada 220 juta penduduk Indonesia, maka setiap orang akan kebagian kira-kira setara dengan empat liter bensin!

Tapi, memasukkan koruptor ke tong sampah bukan persoalan mudah. Lembaga-lembaga superbody semacam KPK atau Timtas Tipikor pun, kita tahu, sering tak berdaya membasmi tikus-tikus penggerogot uang rakyat. Wangsit atau tanda-tanda jaman mudah kita temukan dalam dunia nyata: kucing kini mulai takut terhadap tikus-tikus. Sepele penyebabnya: banyak tikus lebih gemuk dibanding kucing.

Bagi saya, sebaiknya kita memulai dari diri kita sendiri untuk melawan praktik korupsi. Ketika belanja di mal misalnya, usahakan agar jumlah belanja kita masuk hitungan genap, supaya tak ada peluang kasir menyodori permen sebagai pengganti uang kembalian yang seharusnya kita terima. Bila berurusan dengan polisi di jalan, jangan sekali-sekali membayar sogokan, begitu pula di peradilan.

Hasil survey Transparansi Internasional Indonesia pada 2007 memberi petunjuk mencengangkan (meski sejatinya kita tak terlalu kaget), dimana ranking tertinggi tingkat inisiatif meminta suap diduduki oleh sektor peradilan (100 persen), disusul Bea dan Cukai (95 persen), Imigrasi (90 persen), Badan Pertanahan Negara (84 persen). ‘Terendah’ ditempati sektor pajak (70 persen) baru disusul kepolisian dengan angka 78 persen!

Uniknya, meski korupsi merebak kemana-mana, bahkan hingga ke pelosok Papua, episentrum korupsi masih berkutat pada ‘dunia yang empat’ yakni istana negara, Cendana, perdagangan senjata dan pengusaha naga alias raksasa-raksasa bisnis Indonesia!

Siapa berani melawan empat episentrum yang demikian kuat? Jawabannya, sederhana. Itulah sebabnya kita menjadi ‘maklum’ kenapa KPK, Timtas Tipikor, Kejaksaan, Kepolisian, perdilan dan sebagainya pada tunduk, takluk dan selalu berjalan menunduk. Mereka takut ditanduk?

Belum tentu. Siapa tahu, justru karena mereka merasa nyaman dipeluk!

KehidupanJanuary 2, 2009 3:13 pm

Soal kreatifitet - seperti istilah Koentjaraningrat, orang Ngayogyakarta memang jagonya. Bukan semata sukses membanjiri Pulau Dewata dengan aneka produk kreatif (sehingga banyak pelancong terkecoh karena membeli buah tangan yang seolah-olah made in Bali). Dari kaos bergambar pohon nyiur di tepi pantai dengan tulisan ‘b a l i’ hingga aneka lukisan becorak ‘Bali’ dipasok dari Kota Bakpia pula.

So, jangan pernah menganggap orang-orang yang mengais rejeki di alun-alun selatan itu gemar menganiaya, apalagi menuduhnya tak memiliki rasa perikebinatangan. Justru di situlah hebatnya mereka menangkap peluang, seperti dengan menyewakan gerobik (sebab gerobak itu kalau ukuran besar :p) yang ditarik seekor kambing… eh, wedhus gembel.

Dengan ukuran mini, gerobik hanya bisa memuat satu penumpang anak-anak, tentu saja yang tidak mengidap obesitas. Apalagi, wedhus gembel termasuk hewan pemalas, tak kencang berlari (kecuali kalau kepergok harimau!), dan tak terlalu bertenaga. Lagi pula, bukan merupakan kelaziman kalau jenis kambing ternak seperti itu diberdayakan menjadi alat pengangkut.

Tapi, ya begitulah orang Yogya. Kreatip, kata orang Sunda. Wedhus gembel saja diangkat derajadnya, dimuliakan menjadi penghibur orang tua lewat keceriaan anaknya. Naik kuda, mungkin biasa. Nebeng gerobak atau delman, juga bukan hal aneh. Tak jelas benar, apakah para pemilik wedhus-wedhus itu terinspirasi oleh ide-ide nakal pelaku seni peran eks-Asdrafi yang tak jauh dari tempat mereka menawarkan jasa tunggangan sekarang.

Bukan sebatas gerobik wedhus saja kita bias menyaksikan tingkat kreatifitet warga Yogya. Lihatlah keceriaan anak-anak saat mengayuh becik (ingat, becak itu lebih besar ukurannya) sewaan di lokasi yang sama. Tawa lepas hanyalah sejumput contoh ekspresi kepolosan kanak-kanak.

Bagi pelancong asal Jakarta, naik becak saja sudah bisa memberikan pengalaman luar biasa. Bahkan mengguratkan rasa kangen untuk kembali mengenang sensasi. Dan itu, bisa ditemukan di ‘Jawa’. Ya, J..A..W..A, sebuah kata untuk menunjuk yang bukan Jakarta. Yang udik, yang eksotis…

Bagi anak-anak, pengalaman mengayuh becik mungkin akan sama luar biasanya dengan para orang tua atau mereka yang lebih dewasa saat keliling kota diantar abang becak, yang mungkin enggan atau malu-malu menyebut angka bila ditanya ongkos setiap sekali mengantar.


Ah, Yogya… Kota yang indah, yang selalu menggoda saya untuk kembali bertandang. Sayang, perilaku para pengguna jalan raya membuat jalanan kerap ruwet dan macet sehingga aku selalu enggan menyusuri jalan-jalan protokolmu….