Soal kreatifitet - seperti istilah Koentjaraningrat, orang Ngayogyakarta memang jagonya. Bukan semata sukses membanjiri Pulau Dewata dengan aneka produk kreatif (sehingga banyak pelancong terkecoh karena membeli buah tangan yang seolah-olah made in Bali). Dari kaos bergambar pohon nyiur di tepi pantai dengan tulisan ‘b a l i’ hingga aneka lukisan becorak ‘Bali’ dipasok dari Kota Bakpia pula.

So, jangan pernah menganggap orang-orang yang mengais rejeki di alun-alun selatan itu gemar menganiaya, apalagi menuduhnya tak memiliki rasa perikebinatangan. Justru di situlah hebatnya mereka menangkap peluang, seperti dengan menyewakan gerobik (sebab gerobak itu kalau ukuran besar :p) yang ditarik seekor kambing… eh, wedhus gembel.
Dengan ukuran mini, gerobik hanya bisa memuat satu penumpang anak-anak, tentu saja yang tidak mengidap obesitas. Apalagi, wedhus gembel termasuk hewan pemalas, tak kencang berlari (kecuali kalau kepergok harimau!), dan tak terlalu bertenaga. Lagi pula, bukan merupakan kelaziman kalau jenis kambing ternak seperti itu diberdayakan menjadi alat pengangkut.
Tapi, ya begitulah orang Yogya. Kreatip, kata orang Sunda. Wedhus gembel saja diangkat derajadnya, dimuliakan menjadi penghibur orang tua lewat keceriaan anaknya. Naik kuda, mungkin biasa. Nebeng gerobak atau delman, juga bukan hal aneh. Tak jelas benar, apakah para pemilik wedhus-wedhus itu terinspirasi oleh ide-ide nakal pelaku seni peran eks-Asdrafi yang tak jauh dari tempat mereka menawarkan jasa tunggangan sekarang.
Bukan sebatas gerobik wedhus saja kita bias menyaksikan tingkat kreatifitet warga Yogya. Lihatlah keceriaan anak-anak saat mengayuh becik (ingat, becak itu lebih besar ukurannya) sewaan di lokasi yang sama. Tawa lepas hanyalah sejumput contoh ekspresi kepolosan kanak-kanak.
Bagi pelancong asal Jakarta, naik becak saja sudah bisa memberikan pengalaman luar biasa. Bahkan mengguratkan rasa kangen untuk kembali mengenang sensasi. Dan itu, bisa ditemukan di ‘Jawa’. Ya, J..A..W..A, sebuah kata untuk menunjuk yang bukan Jakarta. Yang udik, yang eksotis…
Bagi anak-anak, pengalaman mengayuh becik mungkin akan sama luar biasanya dengan para orang tua atau mereka yang lebih dewasa saat keliling kota diantar abang becak, yang mungkin enggan atau malu-malu menyebut angka bila ditanya ongkos setiap sekali mengantar.

Ah, Yogya… Kota yang indah, yang selalu menggoda saya untuk kembali bertandang. Sayang, perilaku para pengguna jalan raya membuat jalanan kerap ruwet dan macet sehingga aku selalu enggan menyusuri jalan-jalan protokolmu….

Kalo yang naik itu saya, pasti wedhusnya sudah lempoh, matek
Kenapa tidak pakai ‘wedhus balap’ saja? Pasti larinya lebih kenceng kan? Hehe
Comment by Dony Alfan — January 2, 2009 @ 7:16 pm
Selamat tahun baru mas..
Semoga segala harapan dan doa yang baik bakal segera terwujud di tahun yang baru ini, aminn…
Comment by masiqbal — January 3, 2009 @ 5:09 am
ngopo ya podo2 jowone kok disebut jowo wegah, jowo mungkin identik dengan jawa tengah nggih pak
Comment by bias — January 3, 2009 @ 1:08 pm
wah wedhus e nurut yooo,btw yo opo nek wedhuse ngambek ..alaaa
Salam KoMpaaaK
Comment by GOMBLOH — January 3, 2009 @ 10:37 pm
selamat tahun baru Mas.
betul sekali, mereka kreatif sekali…
Comment by afie — January 4, 2009 @ 2:59 am
mulai dari ngikik sampai ngakak baca postingmu kali ini ..
Comment by granitaz — January 5, 2009 @ 10:52 am
Blonty,tulisanmu cukup menghibur dan enak dibaca. Di Belanda becak disewakan mahal banget, sewa sehari € 95 , bahkan harus bayar borg (jaminan) sebesar € 250. Mereka biasa dipakai buat nostalgia, bahkan ada temenku yg acara kawinan sewa becak buat jemput manten perempuan.
Di Leiden sono becak juga dipasang sebagai ikon sebuah agen pariwisata.Untuk sewa becak lengkap bisa dilihat di web
http://www.devervoering.nl
salam
Comment by ismail — January 6, 2009 @ 8:36 pm
setuju, yang paling gak kuat n betah d jogja adalah para pengendara motornya yang kayak gak pnya otak aja
Comment by satria — August 20, 2009 @ 5:48 am
People deserve wealthy life time and home loans or college loan will make it much better. Just because freedom bases on money.
Comment by ADELEWalker18 — November 19, 2011 @ 2:55 pm