PeristiwaFebruary 14, 2009 3:27 pm

Sepulang Jum’atan, saya mampir di warung tempat teman-teman biasa nongkrong. Belum sempat duduk, seorang teman mengajak motret perayaan Hari Kasih Sayang di sebuah supermarket. Pada saat yang hampir bersamaan, sebuah unjuk rasa menentang perayaan Valentine’s Day juga terjadi di Solo, Jumat siang itu.

Saya memilih yang pertama. Menyaksikan, apalagi meliput ajakan kedua, tak menarik bagi saya. Mereka punya sikap, demikian pula saya.

Diselenggarakan oleh sebuah komunitas gereja, perayaan itu cukup unik. Pesertanya orang-orang lanjut usia, bahkan ada yang untuk berjalan pun harus ditopang tongkat, juga kotak penyangga. Kehangatan dan kasih sayang mereka terpancar. Sebagian bahkan menangis ketika pasangannya menyatakan cinta kasih (dan suka duka hidup) mereka dengan pengeras suara, dan di depan banyak orang.

Sepanjang perjalanan, saya membayangkan ungkapan kasih sayang seperti apa yang nantinya akan saya saksikan. Sekadar peluk cium, atau malah ada yang bergaya ala teenagers nan metropolis: lips kissing.

Macam-macam rupanya. Ada perempuan yang menunjukkan kasih sayangnya dengan cara mengelap wajah pasangan dengan sapu tangan. Ada yang menuntun istrinya, jalan pelan-pelan karena nenek renta sudah tak sanggup tegak menapak red carpet, arena utama kontes pengungkapan kasih sayang.

Saya tersenyum geli, kadang tergelak menyaksikan sebagian ulah para manula yang tampil sambil bercanda. Tapi juga iri, sebab saya merasa bukanlah seorang lelaki yang romantis. Mungkin ini kelemahan seorang yang baru menapaki jalan baru, meninggalkan gaya hidup bohemian yang lama saya jalani.

Kalaupun saya tak merayakan Valentine’s Day, itu lebih karena hati kecil belum bisa menerima. Nalar juga menggiring saya pada kesadaran, bahwa kasih sayang yang berbeda, yang penuh kejutan, tak perlu dibuktikan dengan perayaan sekali dalam setahun itu. Bukan lantaran agama, bukan pula oleh sebab sentimen budaya.

Jujur, saya tak suka dengan gerakan menentang perayaan Valentine’s Day. Karena itu, saya juga akan ikut menentang, bila ada kelompok yang memaksakan kehendak, lalu melibatkan instrumen negara untuk turut campur pada wilayah privat dengan cara membuat kebijakan pelarangan perayaan Hari Kasih Sayang.

Bagimu agamamu, bagiku agamaku. Begitu Allah memerintahkan umatNYA agar menjunjung tinggi dan menghargai perbedaan dan keragaman. Karena Islam, maka saya percaya dan menjalankan sepenuhnya. Islam juga menyuruh agar manusia saling mengasihi dan menyayangi, terhadap sesama, juga yang berbeda. Terhadap alam saja disuruh Tuhan untuk merawat, apalagi sesama manusia?!? Begitulah keyakinan saya.

Dari Valentine’s Day, justru saya menemukan kaca. Cermin untuk melihat diri saya, yang ternyata bukanlah orang yang romantis. Menyatakan kasih sayang kepada istri pun, saya masih sering kedodoran. Hehehe…..

Happy Valentine, pakDHE……….

SorotFebruary 13, 2009 9:48 am

Meski bukan muslim yang saleh, saya paling risih dengan bunyi dering telepon saat shalat berjamaah di masjid. Apalagi, pada momentum Jum’atan alias shalat Jum’at. Soal ketidakpedulian seseorang mengaktifkan nada panggil telepon genggam, saya sudah sangat sering menjumpai.

Sama dengan abai dan dungunya orang-orang yang membiarkan bunyi nada panggil teleponnya terdengar banyak orang di tengah-tengah pertunjukan tari, musik atau drama di gedung-gedung kesenian. Orang dungu, memang tak sanggup mengenal ruang dan waktu, apalagi soal harmoni sosial!

Muslim elementary level semacam saya saja tahu, bagaimana saya tak menyebut orang-orang demikian sebagau dungu nan tolol?!? Memang, Al Qur’an tidak melarang orang berlaku demikian. Lahirnya ayat-ayat Allah yang terlampau jauh dengan perkembangan teknologi kini tak bisa dijadikan alasan berkilah alias ngeles. Kalau bercakap-cakap saat khatib berkotbah saja dilarang, tentu kita harus pandai-pandai mengembangkan tafsir.

Datang ke masjid demi niat menunjukkan cinta dan patuhnya pada perintah Tuhan, bisa berbuah fatal, apalagi bagi orang-orang dengan tataran keimanan yang serba pas pada ambang batas. Sering, jujur saja, saya jadi marah dengan keadaan demikian. Malah, kebiasaan buruk yang mengumpat sering terpicu, meski kemudian saya mengucap syukur. Sebab, jebul saya masih muslim yang tahu adab dan semisaleh.

Banyak pemilik telepon seluler tak paham, ulah mereka membuat banyak tembok masjid jadi kotor tak karuan sebab takmir masjid terpaksa memasang pengumuman (yang kadang) asal-asalan hingga merusak keindahan. Malah, sepekan silam, saya menjumpai seseorang lelaki berusia 30-an meninggalkan tempat duduknya saat kotbah berlangsung demi menjawab panggilan. Lucu, tapi begitulah adanya.

Kualitas iman boleh pas-pasan, asal mengupayakan peningkatan meski hanya sebatas kemampuan. Tanpa ajaran agama pun, sepanjang masih waras, mestinya seseorang berupaya bertindak, berperilaku dan menciptakan perubahan yang lebih baik keesokan hari dan seterusnya.

Menilik tipografi yang sama persis dengan yang dipatenkan, saya yakin papan ini dibuat dengan perencanaan matang dan melibatkan tim kreatif profesional dan jempolan

Tapi, yang namanya manusia memang banyak warna. Anda tak banyak perilaku dungu ditunjukkan di banyak tempat dan kesempatan, saya yakin Telkomsel tidak perlu melihatnya sebagai peluang untuk beriklan secara murah tapi mengena (eh, yang begituan itu bikinan Telkomsel sendiri atau produk Ad Agency-nya, ya?). Entahlah.

Yang pasti, kehadiran peringatan a-la Telkomsel seperti yang saya lihat di Masjid Al Khoir, Timuran, Solo seperti itu cukup menarik. Sambil mengingatkan perlunya menjaga kekhusyukan ibadah (karenanya bakal beroleh pahala karena amal jariyah-nya), Telkomsel bisa beriklan secara murah sekaligus. Murah, sebab Telkomsel tak perlu membayar pajak reklame. Soal menyumbang uang kebersihan atau tidaknya terhadap masjid yang dipasangi iklannya, hanya Allah yang tahu.

Yang mengganjal di batin saya hanya satu. Copywriting yang berbunyi: Apalagi bagi pengguna kartuHALO & Simpati yang sinyalnya ada di mana-mana, menurut saya mengandung unsur kesombongan, riya’ sebab ada kesan merendahkan operator lain yang sinyalnya byar-pet (meski harus diakui, coverage operator yang satu ini memang terluas dengan pelanggan terbesar di Indonesia).

Kalau sombong saja dilarang oleh Islam, bagaimana menyusun teks yang baik supaya tidak dimurkai Allah, ya?

(Maaf, relijiusitas saya sedang kambuh)

PeristiwaFebruary 8, 2009 3:01 pm

Memarut kelapa itu asyik, meski bisa mendorong mulut jadi berisik kalau jari tergores lantaran kurang hati-hati. Saya baru tahu, ternyata ada trik khusus dalam memarut kelapa. Arah parutan harus berbeda, antara untuk dibuat santan atau untuk bikin srundeng alias abon nira.

Kalau saja hujan masih menimpa Surakarta dan sekitarnya, mungkin tulisan semacam ini tak akan pernah ada di blog saya. Langit yang cerah sejak Jumat sore membuat saya tak punya alasan lain untuk tidak pulang kampung, sampai akhirnya saya harus menunjukkan solidaritas saya, mencungkil lantas memarut kelapa. Tengah malam itu, saya harus menemani istri memasak, membuat hidangan bersahaja untuk sebuah rapat kampung esok hari.

Malam itu, istriku memerlukan santan. Baru satu teratasi, ibuku menyela. Mengingatkan akan arah parutan agar saya tak salah. Karena akan diperas untuk memperoleh santan, bidang putih harus berada di bawah. Sebaliknya, bidang kekuningan alias kulit kelapa harus berada di bawah bila ampas hendak di-srundeng-kan.

Tapi, bukan soal parut-memarut yang menarik. Lebih dari itu, justru pengetahuan baru terkait dengan kegunaan hasil parutan, sekaligus bangkitnya kenangan lamalah yang saya dapat. Memori jadul muncul kembali.

Dulu, sewaktu masih duduk di bangku SMA, saya paling suka di dapur. Membuat telor dadar dan telor mata sapi adalah kesukaan saya, selain mengiris tipis-tipis beberapa biji kentang sebelum saya goreng lalu saya simpan dalam kaleng biskuit. Satu kaleng biskuit penuh kentang, biasanya akan habis dalam dua hari. Agar crispy, saya dikasih tahu bapakku agar direndam beberapa saat terlebih dahulu ke dalam banyu injet, air kapur.

Keasyikan suasana dapur itu terus ada dan sering saya lakukan hingga kini. Memasak mi instan menjadi mahir, apalagi sejak berstatus sebagai anak kos, 22 tahun silam. Selain, oleh sebab dipaksa keadaan.

Bikin wedang kopi dan teh, saya juga berani mengklaim sebagai rada jagoan. Hehehe… Saya punya resep menyeduh kopi menjadi lebih enak meski dengan kualitas kopi yang pas-pasan. Meramu beberapa merek teh pun saya bisa, sebab banyak teman berkomentar enak seusai menyeduh teh buatanku (bisa jadi, mereka berbohong karena tak enak hati).

Kembali ke urusan parut-memarut kelapa, yang paling mengasyikkan adalah ketika saya menyantap sisa-sisa parutan. Uenak dan……

SorotFebruary 5, 2009 10:08 am

Banyak peziarah Wali Songo dari Jawa Timur mengakhiri rutenya dengan singgah di makam Pak Harto. Kata mereka, beliau dianggap manusia luar biasa semasa hidupnya, sehingga mereka merasa perlu mendoakannya.

Kalimat itu meluncur dari bibir Pak Sukirno, penanggung jawab Astana Giribangun, kompleks makam keluarga mantan Presiden Soeharto di Matesih, Karanganyar. Jumat pagi, dua pekan silam, merupakan kali pertama kedatangan saya setelah jasad Soeharto bersemayam di sana. Kali ini, saya datang mewakili kantor berita asing yang mengutus saya mencarikan bahan untuk sebuah story tentang mantan penguasa Orde Baru itu.

Agak mencengangkan memang. Soeharto bahkan masih dielu-elukan bak pahlawan. Pada hari libur, pengunjung bahkan mencapai 4.000 orang, sedang pada hari-hari biasa ‘hanya’ berkisar pada angka (minimal) 200 orang!

Ada banyak indikator, betapa Soeharto masih memiliki pesona. Puluhan pedagang kakilima, kini memenuhi area parkir B, yang terletak di bawah parkir utama. Aneka makanan dan minuman dijajakan. Juga oleh-oleh. Populasi tukang ojek pun melimpah –hingga seratus lebih, pertanda ada banyaknya orang yang tak sanggup berjalan mendaki demi menghampiri makam. Asal tahu saja, hanya mobil bermesin prima yang sanggup mencapai area parkir utama, yang terletak nyaris di puncak bukit.

Cinderamata pun tak kurang banyaknya dijajakan. Bahkan, di samping kantor pengelola, kini dibuat semacam toko aneka macam souvenir bergambar Pak Harto. Omzet toko ini, pun lumayan besar, rata-rata di atas Rp 1 juta dalam sehari. Ada kaos, kalender, jam dinding, gantungan kunci hingga buku-buku tentang….siapa lagi kalau bukan Si Mbah?!?

Sebagai bentuk apresiasi terhadap keikhlasan peziarah yang sengaja datang mendoakan ayahnya, Tommy pun rela menguras kocek pribadinya. Ia membangun jalan baru sepanjang 300 meter di sebelah utara makam, yang terhubung dengan area parkir baru yang sanggup menampung 50 bus besar sekaligus. Masjid yang semula hanya cukup untuk 300 jamaah, kini diperlebar sehingga sanggup menampung 800 orang.

“Keluarga tak sanggup membalas kebaikan mereka, sehingga diwujudkan dengan membuat sarana yang memudahkan bagi peziarah,” tambah Pak Kirno.

Soeharto luar biasa?

Kalau saya yang ditanya, maka jawaban saya singkat saja: biasa-biasa aja. Bagi saya, Soeharto hanya luar biasa dalam sedikit hal, seperti suksesnya membangun imperium kekuasaan yang ditopang tentara superperkasa, sekaligus membagun pamor kerajaan bisnis bagi orang-orang di lingkaran terdekatnya.

Kendati demikian, saya harus menghargai pendapat seorang peziarah dari Kalimantan namun asli mBantul, pada pagi itu. “Kalau tak ada Pak Harto , tak ada transmigrasi. Kalau tak ada transmigrasi, mungkin banyak tetangga saya di Bantul yang sekarang masih hidup miskin di tanah kelahiran mereka sendiri,” ujar lelaki 40-an tahun itu, yang datang bersama istri dan kedua anaknya.

Ia mengaku sengaja mampir untuk mendoakan Soeharto. Kebetulan, ia baru saja menengok keluarganya dan hendak bertolak ke Kalimantan melalui bandara Juanda, Surabaya. “Saya tahu persis, banyak transmigran asal Jawa yang kini hidup makmur, anak-anaknya sudah bergelar sarjana,” kata lelaki yang bekerja sebagai pegawai negeri itu.

Kembali ke soal peziarah wali, sejujurnya ada perasaan tak percaya. Kalau sekadar piknik sambil mendoakan, sih, mongga-monggo saja. Toh, sebagai sesama muslim, mendoakan merupakan teladan kemuliaan, yang berbuah pahala. Kekuatiran saya justru bila sampai tersesat, lantas menempatkan Soeharto bak wali, seperti halnya para sunan penyebar Islam di masa lampau.

Penggusuran dan penganiayaan warga sekitar Waduk Kedungombo, tragedi Tanjung Priok, terbunuhnya tokoh-tokoh agama dengan dalih dukun santet dan sebagainya, tak lain merupakan sisi buruk yang menodai ‘kewalian’ Soeharto dengan sekian banyak kebaikan yang telah diperbuatnya.

Mau mendoakan silakan, tapi jangan sampai menempatkannya berlebihan. Kasihan…(deh, lu…)

(Biarkan Soeharto jadi urusan orang-orang partai politik yang gatal dukungan pada pemilu mendatang)