Banyak peziarah Wali Songo dari Jawa Timur mengakhiri rutenya dengan singgah di makam Pak Harto. Kata mereka, beliau dianggap manusia luar biasa semasa hidupnya, sehingga mereka merasa perlu mendoakannya.
Kalimat itu meluncur dari bibir Pak Sukirno, penanggung jawab Astana Giribangun, kompleks makam keluarga mantan Presiden Soeharto di Matesih, Karanganyar. Jumat pagi, dua pekan silam, merupakan kali pertama kedatangan saya setelah jasad Soeharto bersemayam di sana. Kali ini, saya datang mewakili kantor berita asing yang mengutus saya mencarikan bahan untuk sebuah story tentang mantan penguasa Orde Baru itu.

Agak mencengangkan memang. Soeharto bahkan masih dielu-elukan bak pahlawan. Pada hari libur, pengunjung bahkan mencapai 4.000 orang, sedang pada hari-hari biasa ‘hanya’ berkisar pada angka (minimal) 200 orang!
Ada banyak indikator, betapa Soeharto masih memiliki pesona. Puluhan pedagang kakilima, kini memenuhi area parkir B, yang terletak di bawah parkir utama. Aneka makanan dan minuman dijajakan. Juga oleh-oleh. Populasi tukang ojek pun melimpah –hingga seratus lebih, pertanda ada banyaknya orang yang tak sanggup berjalan mendaki demi menghampiri makam. Asal tahu saja, hanya mobil bermesin prima yang sanggup mencapai area parkir utama, yang terletak nyaris di puncak bukit.
Cinderamata pun tak kurang banyaknya dijajakan. Bahkan, di samping kantor pengelola, kini dibuat semacam toko aneka macam souvenir bergambar Pak Harto. Omzet toko ini, pun lumayan besar, rata-rata di atas Rp 1 juta dalam sehari. Ada kaos, kalender, jam dinding, gantungan kunci hingga buku-buku tentang….siapa lagi kalau bukan Si Mbah?!?

Sebagai bentuk apresiasi terhadap keikhlasan peziarah yang sengaja datang mendoakan ayahnya, Tommy pun rela menguras kocek pribadinya. Ia membangun jalan baru sepanjang 300 meter di sebelah utara makam, yang terhubung dengan area parkir baru yang sanggup menampung 50 bus besar sekaligus. Masjid yang semula hanya cukup untuk 300 jamaah, kini diperlebar sehingga sanggup menampung 800 orang.
“Keluarga tak sanggup membalas kebaikan mereka, sehingga diwujudkan dengan membuat sarana yang memudahkan bagi peziarah,” tambah Pak Kirno.
Soeharto luar biasa?
Kalau saya yang ditanya, maka jawaban saya singkat saja: biasa-biasa aja. Bagi saya, Soeharto hanya luar biasa dalam sedikit hal, seperti suksesnya membangun imperium kekuasaan yang ditopang tentara superperkasa, sekaligus membagun pamor kerajaan bisnis bagi orang-orang di lingkaran terdekatnya.

Kendati demikian, saya harus menghargai pendapat seorang peziarah dari Kalimantan namun asli mBantul, pada pagi itu. “Kalau tak ada Pak Harto , tak ada transmigrasi. Kalau tak ada transmigrasi, mungkin banyak tetangga saya di Bantul yang sekarang masih hidup miskin di tanah kelahiran mereka sendiri,” ujar lelaki 40-an tahun itu, yang datang bersama istri dan kedua anaknya.
Ia mengaku sengaja mampir untuk mendoakan Soeharto. Kebetulan, ia baru saja menengok keluarganya dan hendak bertolak ke Kalimantan melalui bandara Juanda, Surabaya. “Saya tahu persis, banyak transmigran asal Jawa yang kini hidup makmur, anak-anaknya sudah bergelar sarjana,” kata lelaki yang bekerja sebagai pegawai negeri itu.
Kembali ke soal peziarah wali, sejujurnya ada perasaan tak percaya. Kalau sekadar piknik sambil mendoakan, sih, mongga-monggo saja. Toh, sebagai sesama muslim, mendoakan merupakan teladan kemuliaan, yang berbuah pahala. Kekuatiran saya justru bila sampai tersesat, lantas menempatkan Soeharto bak wali, seperti halnya para sunan penyebar Islam di masa lampau.

Penggusuran dan penganiayaan warga sekitar Waduk Kedungombo, tragedi Tanjung Priok, terbunuhnya tokoh-tokoh agama dengan dalih dukun santet dan sebagainya, tak lain merupakan sisi buruk yang menodai ‘kewalian’ Soeharto dengan sekian banyak kebaikan yang telah diperbuatnya.
Mau mendoakan silakan, tapi jangan sampai menempatkannya berlebihan. Kasihan…(deh, lu…)
(Biarkan Soeharto jadi urusan orang-orang partai politik yang gatal dukungan pada pemilu mendatang)


wah, makamnya pak harto ini apa lebih rame ya daripada makamnya bung karno? aku belom pernah mampir nengok astana giri bangun, tapi kalo ke makamnya bung karno pernah, ada museumnya. sayang nggak boleh moto
Comment by fahmi! — February 5, 2009 @ 11:27 am
sifat bangsaku kombinasi dari pemaaf dan pelupa … jadi begini deh kejadiaannya
Comment by granitaz — February 5, 2009 @ 2:33 pm
32 tahun yo mestine sedikit banyak bisa menciptakan pengikutlah.
Comment by bangsari — February 6, 2009 @ 7:28 am
selalu begitu, mas. tokoh penguasa yang mungkin dibenci banyak orang pun akan selalu ada yg mencintai mereka, mas. itu mengingatkan kita, seseorang tak pernah2 benar2 menjadi hitam atau[un sebaliknya: tak pernah benar2 menjadi putih.
Comment by haris — February 6, 2009 @ 2:02 pm
Neng ndi to? Aku kok belum pernah ke sana?
Comment by gajah_pesing — February 6, 2009 @ 5:48 pm
sayangnya poto yang dipajang diatas pusaranya kok yang pake baju militer, coba kalau yang pake blangkon atau beskap plus tempat bakar menyan di depan pusara pasti lebih ‘greng’ lagi, lalu para pemujanya menyebut namanya dengan awalan kanjeng gusti pangeran swargi.. he..he..
Comment by sayurs — February 6, 2009 @ 6:42 pm
Badhe tanglet, makam ipun Eyang Harto nopo saget kagem pados pesugihan?
Comment by Dony Alfan — February 7, 2009 @ 8:11 am
wali yang hobinya breidel media boleh kan blon…????
blonty: Boleh-boleh saja, Mas. tapi, kalau gak ada Wali Breidel, mungkin kita juga gak pernah bertemu lho….. Ya, to?
Comment by Budiono Darsono — February 8, 2009 @ 1:33 am
weleh, kok segitunya….
mungkin perbandingannya bahwa jaman suharto dulu beras masih murah sedang jaman sekarang beras mahal lagi susah di dapat.
Saya setuju, untuk mendoakan Suharto secara kita sama2 muslim dan di anjurkan olehNya, tetapi tidak untuk menyebutnya berlebihan.
Comment by Rie Rie — April 30, 2009 @ 10:33 pm
gak habis pikir kok bisa ? tapi yang namanya kepercayaan ?
Comment by sam — May 30, 2009 @ 3:49 am
wah.. jadi bingung saya. banyak bener orang yang melankolis yang pikirannya berubah seiring dengan berubahnya keadaan..
:(
Comment by morishige — June 21, 2009 @ 11:42 am