Memarut kelapa itu asyik, meski bisa mendorong mulut jadi berisik kalau jari tergores lantaran kurang hati-hati. Saya baru tahu, ternyata ada trik khusus dalam memarut kelapa. Arah parutan harus berbeda, antara untuk dibuat santan atau untuk bikin srundeng alias abon nira.
Kalau saja hujan masih menimpa Surakarta dan sekitarnya, mungkin tulisan semacam ini tak akan pernah ada di blog saya. Langit yang cerah sejak Jumat sore membuat saya tak punya alasan lain untuk tidak pulang kampung, sampai akhirnya saya harus menunjukkan solidaritas saya, mencungkil lantas memarut kelapa. Tengah malam itu, saya harus menemani istri memasak, membuat hidangan bersahaja untuk sebuah rapat kampung esok hari.
Malam itu, istriku memerlukan santan. Baru satu teratasi, ibuku menyela. Mengingatkan akan arah parutan agar saya tak salah. Karena akan diperas untuk memperoleh santan, bidang putih harus berada di bawah. Sebaliknya, bidang kekuningan alias kulit kelapa harus berada di bawah bila ampas hendak di-srundeng-kan.
Tapi, bukan soal parut-memarut yang menarik. Lebih dari itu, justru pengetahuan baru terkait dengan kegunaan hasil parutan, sekaligus bangkitnya kenangan lamalah yang saya dapat. Memori jadul muncul kembali.
Dulu, sewaktu masih duduk di bangku SMA, saya paling suka di dapur. Membuat telor dadar dan telor mata sapi adalah kesukaan saya, selain mengiris tipis-tipis beberapa biji kentang sebelum saya goreng lalu saya simpan dalam kaleng biskuit. Satu kaleng biskuit penuh kentang, biasanya akan habis dalam dua hari. Agar crispy, saya dikasih tahu bapakku agar direndam beberapa saat terlebih dahulu ke dalam banyu injet, air kapur.
Keasyikan suasana dapur itu terus ada dan sering saya lakukan hingga kini. Memasak mi instan menjadi mahir, apalagi sejak berstatus sebagai anak kos, 22 tahun silam. Selain, oleh sebab dipaksa keadaan.
Bikin wedang kopi dan teh, saya juga berani mengklaim sebagai rada jagoan. Hehehe… Saya punya resep menyeduh kopi menjadi lebih enak meski dengan kualitas kopi yang pas-pasan. Meramu beberapa merek teh pun saya bisa, sebab banyak teman berkomentar enak seusai menyeduh teh buatanku (bisa jadi, mereka berbohong karena tak enak hati).
Kembali ke urusan parut-memarut kelapa, yang paling mengasyikkan adalah ketika saya menyantap sisa-sisa parutan. Uenak dan……


dan…???
njenengan nggih pun tau sma tho pakdhe….
kulo kinten langsung dadi tuo (lmao)
Comment by bias — February 8, 2009 @ 3:11 pm
uenak dan.. bisa ‘krawiten’
Comment by sayur asem — February 8, 2009 @ 3:41 pm
Sampeyan memang bapak rumah tangga yang baik, wekekeke
*Siap2 dibalang sandal
Comment by Dony Alfan — February 8, 2009 @ 4:42 pm
Trus kapan angkringanmu dadi?
Comment by mr.bambang — February 8, 2009 @ 6:17 pm
boleh tuh pak, rahasia seduhan kopinya dibagi
Comment by mpokb — February 9, 2009 @ 6:40 am
“Kembali ke urusan parut-memarut kelapa, yang paling mengasyikkan adalah ketika saya menyantap sisa-sisa parutan. Uenak dan……”
kok sampeyan agak nggragas ya, pak? ha3.
Comment by haris — February 9, 2009 @ 8:01 am
akankah ini menjadi menu andalan wetiga solo ?..
Comment by iman brotoseno — February 10, 2009 @ 3:59 am
@ mpokb: bikin kopi itu gampang: taruh kopi secukupnya, ditimbun gula secukupnya pula, lantas dituangkan air mendidih (jang dari termos/dispenser). diamkan sekita lima menit, baru diaduk. dijamin uenak…! kalau teh, saya biasa mencampur teh cap Sintren dan teh cap Nyapu, 1:1. itu campuran paling minimal. lainnya masih rahasia untuk wetiga :p
@imanbrotoseno: sudah terjawabkah?
Comment by blonty — February 10, 2009 @ 8:10 am
oooh… ternyata resepnya air mendidih langsung ya pak.. kirain ada campuran apa juga gitu.. hehe
Comment by mpokb — February 10, 2009 @ 3:42 pm
punapa panjenengan saget nylumbat? ibu kula wasis lho…
Comment by paman tyo — February 10, 2009 @ 6:00 pm
kala wau enjang jawah maleh, pak…
kapan2 boleh dong dibikinin kopi racikan panjenengan
Comment by mayssari — February 12, 2009 @ 6:12 am
weh, marut kambil pakde? ndisik yo sering aku dikon mbokku marut kambil…
Comment by grubik — February 12, 2009 @ 1:10 pm
marut, nylumbat, nguleg, ngaru, ngadang, saya lumangyan mahir juga lho. setidaknya menurut saya. hihihi
Comment by bangsari — February 16, 2009 @ 3:32 am
Ngomong-ngomong, niku photone luwih apik kalau panjenengan sendiri sing marut lho mas he..hehhe… Resep kopinya boleh juga dicoba…
Comment by bibi criwis — February 21, 2009 @ 11:11 am