SosokNovember 13, 2006 8:27 am

Aku mendengar rumor yang menyatakan bahwa aku akan memperoleh penghargaan sastra dari Pusat Bahasa Depdiknas (Departemen Pendidikan Nasional, Pen.). Tapi sampai kini, aku belum tahu kepastiannya. Mungkin ini memang rumor.

Kalimat itu meluncur begitu dari mulut Sitok Srengenge, ketika kami sama-sama menunggu saat boarding di Bandar Udara Adi Sutjipto, Yogyakarta, Rabu (8/11) pagi. Selanjutnya, perbincangan kami lantas terfokus pada sistem protokoler di departemen itu. Sitok misalnya, mengkritik proses administrasi, sebab menurut informasi yang dia dengar, pengumuman sekaligus penyerahan sertifikat penghargaan akan dilakukan keesokan harinya, 9 November, bertepatan dengan puncak resepsi perayaan Bulan Bahasa.

Sitok sendiri mendengar rumor penghargaan itu dari sang anak, Laire Siwi Mentari. Kebetulan, Laire sedang diminta Pusat Bahasa untuk berceramah tentang pegalaman proses kreatifnya sebagai penulis novel (dan belakangan mulai menulis skenario sinetron) di hadapan ratusan siswa-siswi sekolah lanjutan yang berasal dari seluruh Indonesia. Siswa-siswi itu sengaja dikumpulkan di Jakarta oleh Pusat Bahasa, dalam rangka mencari bibit-bibit muda penulis Indonesia. “Laire diminta datang menemani saya saat peyerahan penghargaan itu,” tutur Sitok.

Yang membuat Sitok tidak habis mengerti adalah, mengapa pemberitahuan langsung -baik melalui surat maupun telepon, belum diterimanya hingga sehari menjelang pengumuman. “Bagaimana kalau ternyata pada hari yang dijadwalkan, saya atau penerima hadiah lainnya sedang berhalangan karena memiliki kegiatan yang tidak bisa ditinggalkan?” ujar Sitok.

Lazimnya, pemberitahuan semacam itu sudah dilakukan beberapa hari sebelumnya, minimal memperhitungkan waktu yang harus dialokasikan oleh pihak penerima penghargaan, seandainya yang bersangkutan memang diharapkan kehadirannya.

Mungkin, Pusat Bahasa ingin memberi kejutan kepada Sitok, atas dedikasi dan komitmennya memajukan sastra di Indonesia, serta kontribusi lelaki kelahiran Desa Dorolegi, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah memperkenalkan dunia sastra di berbagai forum, baik nasional maupun internasional. Karena itu, Pusat Bahasa memberikan anugerah sastra 2006 untuk kumpulan kumpulan puisinya berjudul Kelenjar Bekisar Jantan.

Selepas dari Bengkel Teater, alumnus IKIP Jakarta (kini Universitas Negeri Jakarta) mendirikan komunitas Gorong-gorong Budaya yang bergerak dalam bidang sastra dan penulisan. Ia juga aktif menjadi kurator sastra di Teater Utan Kayu serta menjadi salah satu redaktur Jurnal Kalam, sambil mengelola penerbitan KataKita. Beberapa karyanya telah dibukukan, di antaranya antologi puisi Persetubuhan Liar (1992, 1994), Kelenjar Bekisar Jantan (2000), Anak Jadah (2000), Nonsens (2000), Ambrosia (2005) dan On Nothing, Selected Poems (2005). Karya prosanya juga terbit dalam antologi Para Pembohong (1996), novel Menggarami Burung Terbang (2004), dan trilogi Kutil yang dimuat bersambung di harian Suara Merdeka (2005).

Sebagai penyair, Sitok sudah sering tampil pada forum-forum internasional, seperti Indische Festival (diselenggarakan oleh Rotterdam International Poetry Reading, 1995), Winternachten Festival (sebanyak tiga kali, tahun 1995, 1997, dan 2000), ,em>Sydney International Arts Festival dan Adelaide Festival (2002), Crossing the Sea di Kepulauan Karibia (2003), International Literary Festival Suriname (2004), WordStorm Festival di Northen Teritory (2005), dan lain-lain.

Pada 2001, Sitok mengikuti International Writing Program di University of Iowa, USA, dan setahun berikutnya, ia menjadi Artist in Residence di Australia atas sponsor Asialink. Pada November-Desember 2005, ia diundang sebagai Visiting Writer di Hong Kong Baptist University, Hongkong dan di sana, Sitok memberikan workshop bagi para peserta International Creative Writing Workshop.

Beberapa penghargaan internasional yang telah diperolehnya antara lain Sih Award pada 2003, menyusul penobatan dirinya sebagai salah satu dari 20 Exepcional People in Asia pada 2000 oleh majalah Asiaweek sebagai leader for the millenium in sociaty and culture.

SosokSeptember 17, 2006 2:01 pm

Namanya Sumiati, usianya belum separuh baya. Lahir di Pacitan, besar di Jakarta, dan melalui masa dewasanya di Hongkong. Hampir tujuh belas tahun, Mia -begitu sapaan akrabnya, menggeluti profesi sebagai kanca wingking, alias orang yang selalu berada di ‘belakang’. Berprofesi sebagai pembantu rumah tangga di Hongkong pada sebuah keluarga asal Kanada, Mia menjalani hidupnya penuh gairah. Hari-hari liburnya selalu ‘hidup’, jauh lebih intelek dibanding saat di rumah walau sang majikan seorang dosen Bahasa Inggris di Hongkong.

Ia dan kawan-kawan, biasa nongkrong di Shelter, semacam flat yang dijadikan sebagai pos pertemuan para buruh migran, atau kerap disebut sebagai TKI. Di sana, ia tak hanya melahap majalah Tempo yang dia beli (seharga HK$35) pada setiap Kamis, tapi sibuk mengurus teman seperantauan yang kebetulan bermasalah dengan majikan. “Saya selalu menganjurkan teman-teman untuk melarikan diri ke Shelter. Sambil dicarikan upaya penyelesaiannya, mereka kami tampung di sana,” ujar Mia kepada blontypix di sela-sela Intenational Peoples Forum di Batam, 17 September petang.

Mia, memang tampak cerdas. Bahasa Inggrisnya bagus, pronounciation-nya oke. Bahasa Kanton juga jago. Di perantauan, ia tampak sangat berdaya, tidak seperti ketika awal-awal hijrah, yang dibayar kurang dari separuh standar gaji pembantu rumah di sana. (Asal tahu saja, Hongkong termasuk sedikit dari banyak negara yang menghargai hak-hak pembantu rumah tangga setara dengan profesi lainnya. Bahkan, pemerintah di sana sudah menetapkan upah minimal untuk pembantu rumah tangga sebesar HK$ 3.620 per bulan, dengan hak cuti dua pekan per tahun plus off pada hari setiap libur)

Bukti betapa berdayanya Sumiati dan 7.000-an temannya sesama pembantu rumah tangga asal Indonesia di Hongkong, adalah ketika mereka mampu menunjukkan bargaining power dengan Garuda Indonesia. Rupanya, kawan-kawan Mia mulai ogah naik maskapai penerbangan nasional lantaran awak pesawat itu terlalu sering meremehkan mereka. “Mungkin para awak Garuda Indonesia terbiasa memperlakukan pembantu rumah mereka sebagai warga kelas bawah, sehingga mereka jengah melayani kami-kami,” tuturnya. Lalu, mereka pun ramai-ramai beralih ke Cathay Pacific atau China Airlines, bahkan Singapore Airlines setiap kali mudik atau hendak balik.

Akibat ‘boikot’ itu, manajemen Garuda Indonesia kelabakan, sebab semangat nasionalisme kaum pekerja migran itu tak beroleh respon sepadan. Lantas, kata Mia, dimulailah program ‘rekonsiliasi’ antara Garuda Indonesia dengan mereka. Para pengurus organisasi kaum migran (ada tujuh di Hongkong) mulai didekati, dan diundang ke beberapa acara yang diselenggarakan oleh Garuda Indonesia, plus bantuan sponsorship setiap kali organisasi mereka punya hajatan. Juga, pemberian diskon tiket penerbangan bagi para aktivis buruh migran yang memang kerap diundang pada pertemuan-pertemuan organisasi serupa di berbagai negara.

Hasilnya memuaskan. Sejak setahun terakhir, kaum pekerja migran sudah kembali menggunakan Garuda Indonesia. Apalagi, perusahaan milik negara yang sedang dibelit utang itu, mulai rajin memberi diskon hingga 50 persen untuk tamu-tamu buruh migran di Hongkong, termasuk ketika mengundang Sheila on 7 bersama rombongan untuk menghibur mereka. “Kami diberi satu tiket gratis setiap ada pembelian 10 tiket. Dan tiket itu bisa dipakai teman-teman ketika harus menghadiri pertemuan pekerja migran,” ujarnya.

Harapan Mia dan kawan-kawan terhadap Garuda Indonesia tinggal satu: yakni perusahaan itu mau membuka rute penerbangan langsung Hongkong -Surabaya. Sebab, provinsi Jawa Timur merupakan penyumbang devisa dolar Hongkong terbanyak kepada Indonesia.

SosokMarch 30, 2006 10:38 am

Mas Tom Jualan Minyak? Jangan keliru dengan judul monolog yang dibawakan Butet Kartaredjasa. Mas Tom yang satu ini adalah pemilik kerajaan bisnis bernama PT. Humpuss, yang akhir-akhir ini sering kita dengar minta ‘cuti’ agar bisa keluar dari Nusakambangan. Tentu saja, dengan alasan paling logis: sakit! (Meski sesungguhnya lebih tepat bila diungkapkan dengan kata wallahualam)


Tommy Soeharto sedang keluar kompleks penjahat kakap menuju ‘kamar pribadi’, seusai melakukan shalat Idul Fitri di masjid yang terletak di kompleks LP Batu, Nusakambangan, 14 Nopember 2004

Harap maklum, hidup serba berkecukupan sejak orok pasti akan membuatnya tidak nyaman tinggal di balik jeruji besi seperti LP Batu, Nusakambangan. (Padahal, kamar Mas Tom paling enak, lho. Terpisah dari narapidana kakap lainnya, bahkan memungkinkan ‘pergi’ tanpa diketahui Bang Napi yang lain, tentu kecuali para sipir). Yang pasti, beberapa meter dari ruangan Mas Tom terdapat saluran telepon tetap (PSTN), sementara sinyal telepon seluler yang bisa
nyangkut di sana antara lain Telkomsel dan proXL (pengalaman berkunjung pada akhir 2004). Telepon satelit? Jelas oke banget!

Dengan keberadaan sinyal itu, tentu Mas Tom tak bakal kesulitan memperoleh akses informasi dari luar sehingga bisa sedikit terhibur. Apalagi, konon ada kabar dari orang dalam sendiri, yang menyatakan bahwa Mas Tom kerap dikunjungi beberapa sosok selebritis, orang-orang Humpuss, kerabat atau orang dekat, minimal dua kali dalam sepekan. Pasti, mereka membawa beragam oleh-oleh: dari makanan ringan hingga gosip ekonomi-politik tingkat tinggi.

Jadi, hidup di Nusakambangan bagi Mas Tom, pasti tak seseram atau semenderita para narapidana lainnya, apalagi yang dibayangkan banyak orang. Bisa jadi, orang terjebak pada image yang sengaja diciptakan, seolah-olah Nusakambangan bagai Alcatraz-nya Indonesia (meski aku juga tak tahu, apakah nama Alcatraz juga seseram namanya :p). Tak jelas pula, apakah Mas Tom yang satu ini juga seperti ‘napi kakap nan baik’ lainnya, turut dipekerjakan di kebun nan luas di sekitar LP Batu.


Ratusan orang antri minyak tanah di Gading, Surakarta, 19 September 2005

Yang pasti, Mas Tom tak peduli pada nasib kaum kecil di berbagai kota di Indonesia, yang harus antri panjang untuk memperoleh minyak dan bahan bakar sepanjang tiga bulan pada akhir tahun lalu. Seorang kakek berusia 75 tahun harus berjalan kaki sejauh lima kilometer dari rumahnya menuju sebuah pangkalan minyak tanah di Kota Surakarta. Di pangkalan itu, sang kakek menanti selama tuju jam untuk memperoleh jatah minyak sebanyak enam liter! (Pangkalan minyak itu berjarak tiga kilometer dari Dalem Kalitan, kediaman resmi keluarga Mas Tom di Surakarta.

Jangankan peduli terhadap perjuangan para pencari minyak untuk memasak. Hak penguasaan Blok Cepu yang diperolehnya dengan mudah dari Sang Romo saja diperjualbelikan, kok… Dengan enteng, pula! Makanya, tak perlu kaget kalau gegeran ExxonMobil vs Pertaminan dalam pengelolaan Blok Cepu (yang pasti didengar dan diketahuinya) pun tak digubrisnya. Yang penting, dia bisa memetik keuntungan besar dari praktek jual-beli ‘hak’ dengan Ampolec, yang ujung-ujungnya dibeli Exxon juga.

Mas Tom… Mas Toommmmm…………………………………………. Hidupmu nyaman benar!

SosokMarch 23, 2006 12:02 pm

Kamis, 23 Maret 2006 pukul 18.31 WIB. Sebuah pesan pendek yang dikirim oleh orang dekat sang obyek pesan, muncul di layar telepon genggamku.

Gus Dur masuk RSCM lagi. Kali ini kliatannya serius… Ada kmungkinan gagal ginjal… jadi prlu prsiapan utk cuci darah…

Seperti banyak orang, aku mencemaskan keadaan kesehatan Gus Dur. Berita singkat lewat telepon genggam itu pasti bukan guyonan seperti kata Kang Sobary di Solo, sepekan lalu, bahwa Gus Dur kerap menjadikan rumah sakit sebagai ‘alat untuk’ merenungkan sesuatu atau menghindari dari keinginan banyak orang untuk bertemu.


Kak Blonty ikut makan malam bersama Gus Dur di Solo (Foto: Kang Ngishom)

Ada banyak hal yang belum selesai dikerjakannya. Juga, belum tuntas ilmunya tersebar pada beberapa orang yang kelak bisa menggantikan kedudukannya, setidaknya menjadi pemikir Islam yang moderat, toleran, cerdas, bisa mengayomi (dan memperjuangkan kaum minoritas yang ditindas), namun tetap menjadi rujukan bagi siapapun pengambil keputusan penting di negeri ini.

Semoga lekas sembuh, Kiai Durrahman…..

SosokFebruary 14, 2006 10:20 am

Slamet Gundono, harus diakui sebagai dalang muda yang kreatif. Semula, sebagai pengagum almarhum Ki Nartosabdho, ia ingin menjadi dalang wayang kulit yang bergaya klasik. Kemampuan dan karakter vokalnya (antawacana, Jw.) cukup bagus, bahkan bisa disebut reinkarnasinya Ki Narto. Soal olah gerak boneka wayang alias sabet juga standar.

Cuma, dia kalah dalam persaingan antar-dalang. Lobi dan jaringan dengan konsumen dan broker sudah dikuasai dalang-dalang mainstream, yaitu Ki Manteb Sudharsono dan Ki Anom Suroto untuk gaya Surakarta dan Ki Hadi Sugito untuk gaya Yogyakarta. Karena itulah, ia mengembangkan gaya pertunjukan sendiri, seperti wayang suket yang boneka wayangnya terbuat dari rumput atau wayang gremeng yang dimainkan tanpa boneka wayang kulit. Nyatanya, dia sukses dengan hasil eksplorasi kreatifnya. Baik ditilik secara eksistensialis maupun dari sudut pandang ekonomis.

Sosok 10:01 am

Sutradara merangkap pimpinan Teater Mandiri, Jakarta. Karya-karya dramanya unik. Maksudnya, aku sering bingung menangkap maksudnya. Selalu miskin kata! Tentu harus dimaklumi, karena aku lahir dan dibesarkan dalam lingkungan yang lebih memajukan tradisi lisan, dan sangat jauh dari keinginan mengembangkan tradisi membaca –baik teks maupun simbol.

Begitulah aku, yang karena latar belakangku, menjadi lebih suka menyimak pertunjukan oleh kelompok-kelompok yang lebih suka berkomunikasi dengan teks seperti Teater Gandrik, Studiklub Teater Bandung (STB), Actors Unlimited (AUL) atau Teater Gidag-gidig. Kalaupun ada kelompok yang pelit berbagi kalimat, pertunjukan Kelompok Payung Hitam masih mudah dan enak dinikmati.

Sosok 9:33 am

A. Muhaimin Iskandar, Ketua Umum DPP Partai Kebangkitan Bangsa versi Muktamar Semarang, pusing menghadapi perlawanan pengurus pusat tandingan yang dibentuk oleh Saifullah Yusuf, sepupunya sendiri. Saling gugat antara kedua kelompok yang berseberangan, hingga kini masih berlangsung kendati secara politis, PKB versi Muhaimin memperoleh dukungan politik dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

SosokFebruary 8, 2006 5:41 am

Golf, jelas bukan jenis olah raga yang cocok untuk orang sibuk seperti Aburizal Bakrie, Menteri Koordinator bidang Kesejahteraan Rakyat dalam kabinet revised edition pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. Tapi jalan kaki, apalagi sejauh hampir 10 kilometer di bawah terik matahari juga bukan hal yang tepat untuk seorang menteri.

Namun, itulah kenyataan yang harus dihadapi Ical, panggilan akrab untuk pemilik kelompok usaha Grup Bakrie itu. Jalan macet karena puluhan ribu manusia tumpah ruah ingin ‘menyaksikan’ proses evakuasi jenazah korban bencana tanah longsor Desa Sijeruk, Banjarnegara, 5 Januari lalu, membuat mobil yang ditumpangi Ical harus diparkir lima kilometer dari lokasi bencana. Akibatnya, Ical yang disertai Menteri Percepatan Derah Tertinggal Saifullah Yusuf dan Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah harus rela jalan kaki, berdesakan dengan rakyat kebanyakan.

SosokFebruary 6, 2006 11:20 am

Tanpa embel-embel Madonna sang superstar, Eko Supriyanto sesungguhnya seorang koreografer muda bertalenta kuat. Perkenalan dengan seni tari dimulai pada masa kecilnya di Magelang, saat ia berguru pada seorang guru tari tradisional yang memperkenalkannya pada tarian jenis Kuda Lumping dan Kubro Siswo, dua jenis tarian khas setempat.

Minatnya pada dunia tari kian kuat hingga ia melanjutkan jenjang pendidikan formalnya di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta. Belajar pada sejumlah koreografer senior di Solo dan sekitarnya, membuatnya kian matang dalam olah gerak dan mencipta sejumlah komposisi dan koreografi. Ia beruntung bisa mengikuti program pertukaran penari tingkat internasional dalam forum APPEX di Amerika.

Dari Amerika, ia berkenalan dengan sutradara opera ternama, Peter Sellars yang merekrutnya sebagai salah satu pendukung opera karya Sellars. Ia juga beruntung bisa meneruskan jenjang akademisnya hingga memperoleh gelar Master of Fine Arts/MFA dari University of California Los Angeles (UCLA) dalam bidang seni tari.

SosokFebruary 4, 2006 6:00 am

Artika Sari Devi, pemain Sinta dalam Sinta Obong, film terbaru Garin Nugroho yang dipersiapkan khusus untuk festival seni dalam rangka memperingati 250 tahun Wolfgang Amadeuz Mozart