EsaiMarch 1, 2006 6:17 am


Merias. Setiap pemain harus memiliki ketrampilan merias diri

Tak jemu menggeber promosi, berulangkali menggelar pertunjukan dengan bintang tamu artis-artis dan pejabat tak kunjung mendongkrak pamor Wayang Orang Sriwedari. Kejayaan wayang orang telah berakhir sejak paruh kedua 1980-an, ketika beragam jenis hiburan modern marak di Solo, Jawa Tengah. Masuknya seniman-seniman muda dari Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta ke kelompok itu, pun seolah tak berarti


Penuangan. Pemain menerima arahan dari sutradara berupa garis-garis besar adegan dan kunci-kunci pergantian adegan

Enam kali seminggu (kecuali hari Minggu) pertunjukan berlangsung, tak genap 50 pengunjung mampu dicatatkan. Padahal, tiket termahal hanya Rp 3.000 untuk menyaksikan pertunjukan berdurasi 90 menit hingga 180 menit, dengan fasilitas kursi empuk dengan gedung berpendingin ruangan


Menunggu giliran. Setiap pemain harus menyimak pergantian adegan, dan cukup menunggu di samping panggung

Andai 70-an seniman tari dan karawitan yang bekerja di sana tak berstatus pegawai negeri dan karyawan kontrak (di bawah naungan Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya), boleh jadi mereka sudah beralih profesi, entah apa. Pemasukan dari tiket, tentu tak layak bila harus dibagi rata sebagai honor. Untuk menyalakan lampu panggung modern berkekuatan 50 ribu watt lebih yang diperoleh dari hibah Pemerintah Jepang pun, jauh dari mencukupi


Menonton ayah. Seorang anak serius menyaksikan akting sang ayah

Beruntung, para seniman Wayang Orang Sriwedari masih memiliki dedikasi, sehingga jenis kesenian Jawa itu tak lekas masuk catatan sejarah….


Bersandar pada papan. Setiap pemain harus tahu garis besar materi dialog. Pembagian babak pun cukup dibaca pada sebuah papan

EsaiFebruary 6, 2006 3:46 am


Rapuhnya Sekolah Kami…..

Jauh dari kota tak lantas menyurutkan warga Desa Kendel, Kecamatan Kemusu, Boyolali, Jawa Tengah, dalam urusan menuntut ilmu. Semangat menuntut ilmu, bukan saja ditunjukkan saat kegiatan belajar-mengajar dilangsungkan. Di luar alat tulis dan buku pelajaran, sebagian bahkan terpaksa mengangkut meja belajar dari rumah, demi mengejar cita-cita.

Hampir seluruh penduduk di pelosok desa –tak jauh dari genangan Waduk Kedungombo, itu memiliki tingkat pendidikan memadai, minimal tamatan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA). Meski jenjang pendidikan dasar yang menjadi penentu dilalui dengan berkelesot di serambi masjid akibat ketiadaan ruang kelas.

Religiusitas, rupanya menjadi faktor kunci keberhasilan pendidikan di desa itu. Spirit bahwa mencari ilmu merupakan kewajiban bagi seorang muslim, membuat desa itu bebas buta huruf. Uniknya, mayoritas penduduk masih mempercayakan jenjang pendidikan dasar anak-cucu mereka ke satu-satunya Madrasah Ibtidaiyah (MI) “Al Ma’arif” yang ada di desa itu. Kecenderungan memadukan ilmu duniawi dengan ilmu agama itu, bahkan mengakibatkan dua sekolah dasar negeri di sana, nyaris gulung tikar akibat kekurangan murid.

Ironisnya, bangunan fisik MI “Al Ma’arif” yang didirikan pada 1969 itu kian rapuh. Ketiadaan dana, baik yang berasal dari Nahdlatul Ulama sebagai induk organisasinya maupun Departemen Agama yang membawahkannya, membuat gedungnya nyaris runtuh. Beberapa ruangan, bahkan harus disekat dengan papan untuk menampung 140 siswa/siswi dari Kelas I hingga Kelas VI. Untung, keceriaan selalu mewarnai kelas-kelas kumuh mereka………..