Selalu ada buku baru setiap tahun ajaran baru. Dan, buku baru adalah lahan bisnis sampingan bagi guru. Diskon dan bonus yang ditawarkan para sales executive membuat para orang tua ngelu.

Seharusnya, generasi muda kita tumbuh dewasa dengan penuh keceriaan. Tugas pemerintahlah untuk mengawal semangat belajar mereka.
Ngelu atau pusing juga bakal melanda kita bila terlalu serius mikirin praktek bisnis di lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia. Apa yang dilakukan para guru –meski tidak semua, sejatinya hanyalah pola imitasi, praktek meniru kelakuan atasan mereka dalam sebuah birokrasi.
Mas Yono, sepupu saya, menyebut praktek semacam itu sebagai bentuk perlawanan terhadap perilaku penyalahgunaan kekuasaan oleh para kepala sekolah. Satu-satunya ‘peluang’ nyari tambahan pendapatan bagi guru, ya hanya nyambi jualan buku sekali dalam setahun. Kalau mau repot sedikit, memberi les privat atau kelompok bisa jadi tambahan lahan untuk mengais rejeki.

Kasihan bila untuk belajar saja, para murid harus membawa meja dari rumah
Sebagai guru SMP, Mas Yono sangat paham kelakuan para kolega dan atasannya. Para kepala sekolah, katanya, punya banyak sumber pemasukan tambahan. Baju sekolah, pakaian olahraga, pramuka, sepatu hingga ikat pinggang adalah lahan utama pejabat sekolah, selain komisi belanja barang dari kucuran dana BOS, bantuan operasional sekolah.
“Membantu jualan buku terpaksa dilakukan karena jarang ada cipratan dari kepala sekolah,” ujar Mas Yono. Diskonnya lumayan, berkisar pada angka 25 persen. Bila jumlahnya muridnya banyak, bonusnya juga melonjak. Jaket merupakan bonus paling jamak.
Baju seragam hingga ikat pinggang, kini jadi ‘wewenang’ kepala sekolah, bukan lagi paket dari Kepala Dinas Pendidikan. Karena itu, modusnya pun seragam: baju, kaos, sepatu dan ikat pinggang selalu beridentitas sekolah bersangkutan.
Meski tak pantas dicontoh, sikap sepupu saya terhitung cukup lumayan. Ia mengaku tak pernah memaksa murid-muridnya membeli buku yang ditawarkannya. Ia tak mengejar omzet dan selalu meminta muridnya berkonsultasi dengan orang tuanya. Kepada setiap murid diberikan contoh buku dan ditawarkan dengan pola angsuran yang harus lunas dalam tiga bulan. Jika enggan membeli, maka buku sampel harus segera dikembalikan.

Cerita tentang bisnis buku, memang tak ada habisnya. Banyaknya kepala dinas hingga bupati/walikota diperiksa kejaksaan atau dipenjara tak kunjung membuat mereka jera. Pendidikan murah, rupanya masih sebatas bebasnya uang SPP. Buku-buku yang dibeli dengan dana pemerintah, hanya menjadi pajangan di perpustakaan.
Saya teringat peristiwa beberapa tahun silam, ketika seorang makelar buku meminta saya mempertemukannya dengan seorang Ketua DPRD, yang kebetulan teman sepermainan saat kuliah. Karena ingin melindungi kehormatan teman yang jadi pejabat, saya meminta makelar itu terbuka, berapa diskon maksimal yang bisa diberikannya. Saya malu, bila pertemuan diisi dengan tawar-menawar seperti di pasar.
Singkat kata, diskon mencapai 47,5 persen. “Saya pertemukan, tapi silakan bicarakan sendiri dengan dia. Empat mata saja, saya tak mau ikut-ikutan,” kata saya. Saya kuatir, keberadaan saya akan membuat sungkan, apalagi baik sang makelar maupun Ketua DPRD sama-sama teman sekampus.
Lama saya tak mendengar kabar kelanjutannya. Rupanya gagal, sebab sang makelar kerap menggerutu. Belakangan, samar terdengar, sang Ketua Dewan yang kini jadi bupati itu juga tersangkut kasus dugaan penyelewengan dana belanja buku ajar.
Seorang kawan lama, yang kebetulan kini menjabat bupati, pernah menantang saya untuk melakukan investigasi. Sebuah penerbit besar milik negara, katanya, selalu menanggung biaya penginapan pejabat daerah –seperti Bupati/Walikota, Ketua DPRD, di sebuah hotel mewah di Jl. Thamrin, Jakarta.
“Asal menginap di hotel itu, pasti gratis. Seluruh biaya akomodasinya akan ditagihkan ke penerbit,” ujar kawan, yang saat itu masih berstatus wakil bupati. Ia sendiri memilih membeli voucher diskon kamar di KAHA.
Kalau diskon saja bisa diberikan sebanyak itu, ditambah bonus gratis menginap setiap perjalanan dinas (atau plesiran) ke ibukota, lantas berapa nilai buku yang sesungguhnya? Kita tahu, seorang makelar pasti akan mengambil untung, meski sering disebutnya sebagai uang lelah belaka.

Bila Waduk Gajah Mungkur tak meluap atau air sengaja digelontor sebab overload, maka tikar plastik segera mengantar lelap. Saat pagi tiba, yang ogah antri, cukup mengucek mata dengan punggung tangan. Saat sekitar sudah kembali terlihat jelas, barulah mereka beranjak. Menanti jatah nasi bungkus, suplai energi untuk kembali mengais remah-remah di rumah yang tampak sudah jadi bekas.
Dan, hari kedua dan sesudahnya, lokasi bencana lebih pantas disebut zona iklan. Bantuan memang diberikan, atas nama kemanusiaan. Ada makanan dan pakaian yang dibagikan, ada pula layanan kesehatan meski sebatas check up sederhana dan pemberian obat-obatan. “Kami tak bisa minta disuntik. Katanya, alatnya tidak ada,” tutur seorang kakek warga Kenteng, Joyosuran. Tiga hari sudah ia menderita demam, sementara tidur pun masih berjejalan di tenda setengah terbuka.
Meski mengungsi, warga Kampung Sewu tetap berusaha merayakan pergantian tahun, meski hanya dengan api unggun dan lilin ===>


Persoalan itu sempat mencemaskan sejumlah jurnalis di Surakarta. Laporan penganiayaan oleh korban ke Polres Sragen dikuatirkan akan membal lantaran selama ini polisi merasa ‘sangat terbantu’ oleh jurnalis televisi. Bahkan, di beberapa daerah, jurnalis televisi memperoleh perlakuan lebih istimewa dibanding reporter koran atau majalah. Polisi misalnya, belum mau bicara sebuah kasus (terutama kriminal), bila belum ada jurnalis televisi di sebuah ruangan. Polisi tak (mau) tahu, apakah sang pembawa handycam itu koresponden resmi atau suruhan seorang stringer/koresponden resmi.
Munculnya nama Hashim Djojohadikusumo sebagai pemilik terakhir lima arca asli yang raib dari Radya Pustaka (Ciwa Mahadewa, Durga Mahisasuramardhini, Agastya, Mahakala, dan arca Durga Mahisasuramardhini II) tentu saja membuat saya kaget. Apakah dia pemain yang baru saya dengar namanya dalam dunia jual-beli benda-benda yang dilindungi Undang-undang tentang Cagar Budaya?
Sebagian arca yang masih tersimpan di kompleks museum. Sebuah tim ahli yang terdiri dari arkeolog dan ahli naskah-naskah kuno sedang diterjunkan untuk menginventarisasi koleksi museum yang didirikan sejak 1890-an –> 

(Saya sudah sering tersinggung ketika mendengar umpatan banyak orang yang kecewa karena hanya menjumpai ‘menu’ yang itu-itu saja, baik pada saat Festival Sriwedari, Festival Bonrojo maupun festival-festival dan bentuk keramaian lainnya, tahun demi tahun. Bagaimana industri pariwisata bakal berkembang kalau pendatang selalu dikecewakan?)
Beberapa pekan berselang, saya mengalami celaka kecil. Sebuah foto yang saya kirim untuk sebuah majalah, dimuat dengan kredit yang salah. Nama saya digantikan sebuah nama kantor berita. Tapi tak apa, mungkin itu kesalahan orang di bagian pracetak.
Serius! Lawakan panjenengan sungguh memukau. Sebagai profesor di fakultas ilmu sosial-politik, Anda sukses menggelitik mahasiswa untuk lebih serius mengkaji model komunikasi politik yang Anda pilih saat ‘bertinju’ melawan Presiden SBY dalam kaitan dana kampanye calon presiden dari Departemen Kelautan dan Perikanan. Kaum pro-reformasi pun bisa memperoleh pijakan baru untuk melakukan tafsir ulang atas makna kata ‘reformasi’ ketika Anda, secara tiba-tiba berdamai menyusul gertakan reaksioner Sang Presiden.
Polisi melakukan razia kendaraan dalam rangka mengejar pelaku tindak pidana terorisme
Hingga lima bulan pertam, Risma merasakan nyeri bukan kepalang. Memasuki bulan keenam, ia tak sanggup lagi berjalan. Ia hanya bisa berbaring di rumahnya yang sederhana di kompleks Perumahan Mutiara Blok A-4 nomor 6, Cibarusah. “Belum genap setahun, benjolan itu membesar hingga seberat 27 kilo” tutur Anrias, ayah Risma.
Seperti nasihat dokter Adi, bahwa orang seperti Risma harus ‘dituruti semua kemauannya selagi bisa” karena tingkat harapan hidupnya yang ‘tak akan lama lagi’, tak ada salahnya saya mengajak teman-teman pembaca tulisan ini untuk membantu meringankan beban orang tua dan keluarganya. Silakan Anda mengirimkan bantuan ke rekening BCA Cabang Jababeka, Cikarang nomor 876 034 6871 atas nama Anrias. Untuk konfirmasi, silakan hubungi ayah Risma di nomor 0852 1652 5067.

