Becak, bisa menjadi simbol kegagalan sekaligus potret kegigihan seseorang dalam berjuang memperpanjang hidup. Bagi kaum yang lebih beruntung, becak juga bisa jadi sarana rekreasi menikmati suasana kota, meski tak jarang justru memancing rasa curiga. Surakarta punya banyak cerita….

Seorang teman menuliskan pengalamannya di koran tempat dia bekerja. Ditulis teman itu, di Surakarta dan Semarang, para penarik becak bisa jadi pemandu wisata kelamin. “Mau cari selimut, Pak?” kata penarik becak yang –saya yakin- ditumpangi oleh teman tadi. Selimut yang dimaksud adalah kiasan, yakni seseorang yang bisa menghangatkan suasana di kamar.
Di Surakarta, sejumlah tukang becak yang kebetulan satu tongkrongan dengan saya sering diledek dengan sebutan penghulu. Bila mentari tenggelam, para penarik becak itu cenderung ogah-ogahan narik penumpang kebanyakan, kecuali sudah kenal. Sebagian dari mereka lebih memilih menunggu kedatangan lelaki yang menginap di hotel, tak jauh tempat mangkal mereka.
Ya, dari para tamu khusus itu, mereka berharap dapat uang berlipat dibanding membawa penumpang baik-baik. Mereka tangkas menghampiri tamu hotel, lalu menawarkan diri mencari pendamping sesaat. Bila kemudian mereka tampak bergegas menginjak pedal becak, berarti sudah terjadi kesepakatan harga dan kriteria selimut dengan sang tamu.
Kata salah seorang dari ‘penghulu’ itu, dari satu selimut, ia akan memperoleh fee setidaknya Rp 25 ribu. Dan, kalau lagi ‘beruntung’, ia bisa ‘mengawinkan’ lima orang dalam semalam. Paling sial, satu pasangan terkawinkan sudah cukup.
Tapi, kalau kebetulan Anda penggemar selimut demikian, hati-hatilah bila ‘berbelanja’ di Surakarta. Terlebih bila Anda mengandalkan para penghulu partikelir itu. Tak jarang, mereka mengambil sekenanya. Bahkan, perempuan kebanyakan yang tak hirau dengan hygiene pun didandani secantik mungkin lalu dibumbui dengan parfum ala kadarnya. Yang penting bisa mendongkrak harga. Malah, di Surakarta ada istilah RENDAN, alias kere dandan!
Tapi, percayalah. Tak semua pengemudi becak berkelakuan seperti para ‘penghulu’ itu. Banyak yang baik, seperti Perry! Sopir becak yang biasa mangkal di sekitar Monumen Pers itu bisa memijat. Pijatannya juga lumayan enak, selain tahu banyak ‘rumus urat’. Sambil wedangan menikmati jahe panas atau the tape, kita bisa memintanya memijat dengan upah Rp 20.000.

Beda Surakarta, beda pula di Jepara. Saat kedatangan atau keberangkatan KM Muria yang melayani rute Jepara-Karimunjawa –dua kali dalam sepekan, puluhan becak hilir mudik hingga ke ujung dermaga. Orang Karimunjawa banyak belanja di Jepara. Karena jumlah belanjaannya sangat banyak karena untuk persediaan berhari-hari, maka jasa becak diperlukan untuk mengangkutnya. Sebaliknya, dari Karimunjawa, banyak orang membawa kelapa untuk dijual di kota.
Tapi, nasib mereka tetap tak selalu baik. Kadang banyak penumpang datang tanpa tentengan, apalagi belanjaan. Dengan demikian, tak banyak rupiah yang bisa diharap dari para pengguna jasanya. Di kota yang nyaris sepi pelancong seperti Jepara, becak hanya hilir mudik menyusuri kota tanpa penumpang. Mendapat rejeki Rp 15 ribu saja sudah bagus dalam sehari. Apalagi, tak ada ‘sambilan’ pekerjaan seperti rekan-rekan mereka di Surakarta atau Semarang.
Tapi, status ekonomi dan profesi mereka tetap mulia. Setidaknya, ‘kegagalan’ hidup mereka bisa jadi tempat berkaca. Seperti dilakukan oleh ibu teman saya. Belum lama ini, si ibu membeli sebuah becak dan ditaruh di ‘garasi’ rumahnya. Saat anak-cucunya ngumpul, mereka asyik becak-becakan keliling kampung. Padahal, seluruh anaknya lumayan sukses secara ekonomi. Ada yang bekerja mapan di Hongkong, ada yang jadi pimpinan perwakilan perusahaan Amerika di Jakarta, ada pula yang sukses membuka usaha rias pengantin.
“Saya cuma ingin ngajari anak-cucu. Hidup itu berat, tapi kalau tak mau berusaha, pasti akan sia-sia. Becak saya beli untuk mengingatkan anak-cucu supaya mereka punya semangat dan selalu ingat, supaya kelak tak sampai jadi pengayuh pedal becak!” ujar sang ibu.
Setiap mendengar Soeharto, bekas penguasa Orde Baru itu, masuk rumah sakit, maka yang muncul di benak saya adalah pertanyaan konyol: sedang ada perkara apa di Cendana? Soeharto, telah mengajarkan kepada saya (juga banyak orang), untuk tidak mudah percaya pada apa yang bisa dilihat dan didengar. Bagi saya, Soeharto adalah pembuat cerita terbaik di dunia. Kalau saja Shakespeare, Beckett, Chekov atau Tolstoy masih hidup, beliau-beliau pasti memilih pensiun dini jadi pujangga.
Secara pribadi, saya ingin Soeharto segera sehat, dan segar bugar kembali. Syukur, penyakit short memory syndrom-nya segera hilang. Kesehatan menjadi penting, karena faktor itu yang selalu dijadikan sebagai alibi untuk penghentian proses peradilan seperti dimaui 


Kuburan, dengan kacamata apapun kita melihatnya, bagi saya tetap sesuatu yang menarik. Mungkin sama tertariknya dengan 
Pemanasan global membuat kemiskinan kian menjamur. Di Juwangi, Boyolali, mayoritas petani ladang memperoleh penghasilan kurang dari Rp 100 ribu dalam satu musim tanam jagung. Sebuah penghasilan yang sangat tidak memadai untuk memenuhi kebutuhan minimal empat jiwa dalam satu sekeluarga. Jauh dari indikator kemiskinan versi 


Rasanya ada perbedaan makna, antara kata pejabat dengan penjabat
Memang, nilai jual lukisan, dalam banyak kasus masih lebih obyektif dibanding benda-benda tosan aji, seperti benda-benda pusaka atau praktek perdagangan ikan Louhan, hingga jual-beli saham perusahaan. Walaupun, praktek goreng-menggoreng juga sama dahsyatnya, tergantung kepiawaian dan kelicinan silat lidah sang dealer, benda seperti lukisan memiliki parameter yang lebih jelas.
Ini kisah kehidupan di Negeri Kambing, dimana antara kambing dan manusia tiada beda. Di negeri itu, tak ada istilah perikemanusiaan. Juga tak dijumpai kata perikehewanan (mungkin karena peri tidak masuk dalam kategori benda, dalam pengertian yang mewujud). Egaliter. Semua makhluk sama derajadnya!

Apalagi, kambing yang bagi manusia kota hanya dianggap hewan tak berguna (meski lahap menyantap dagingnya), adalah sosok penyelamat kelangsungan hidup mereka. Saat ladang tak membuahkan bahan makanan, mereka bisa menuntunnya hingga ke pinggir kota. Kambing bisa ditukar menjadi beras, garam dan deterjen (walau mereka tahu, saat kaki belum lagi menginjak halaman rumah, Sang Kambing sudah dibantai, dan serpihan tubuh Sang Kambing sudah sampai pankreas orang kota, bahkan sudah berubah wujud menjadi gumpalan pekat –MAAF- berwarna kuning kecoklatan).
Lain ladang, lain belalang. Beda negara, tak sama pula cara bersikap terhadap bahaya asap rokok. Setidaknya, kita bisa membandingkan cara negara memperingatkan bahaya asap buatan itu melalui kemasan rokok. Secara eufemistik dan setengah hati, Pemerintah Indonesia mewajibkan penulisan peringatan bahaya itu dengan teks “Merokok dapat menyebabkan kanker……..”. Dengan kalimat begitu, seolah-olah asap rokok hanya berbahaya jika… (begini atau begitu). 
Foto: Katherine Kiviat for
