KehidupanJanuary 2, 2009 3:13 pm

Soal kreatifitet - seperti istilah Koentjaraningrat, orang Ngayogyakarta memang jagonya. Bukan semata sukses membanjiri Pulau Dewata dengan aneka produk kreatif (sehingga banyak pelancong terkecoh karena membeli buah tangan yang seolah-olah made in Bali). Dari kaos bergambar pohon nyiur di tepi pantai dengan tulisan ‘b a l i’ hingga aneka lukisan becorak ‘Bali’ dipasok dari Kota Bakpia pula.

So, jangan pernah menganggap orang-orang yang mengais rejeki di alun-alun selatan itu gemar menganiaya, apalagi menuduhnya tak memiliki rasa perikebinatangan. Justru di situlah hebatnya mereka menangkap peluang, seperti dengan menyewakan gerobik (sebab gerobak itu kalau ukuran besar :p) yang ditarik seekor kambing… eh, wedhus gembel.

Dengan ukuran mini, gerobik hanya bisa memuat satu penumpang anak-anak, tentu saja yang tidak mengidap obesitas. Apalagi, wedhus gembel termasuk hewan pemalas, tak kencang berlari (kecuali kalau kepergok harimau!), dan tak terlalu bertenaga. Lagi pula, bukan merupakan kelaziman kalau jenis kambing ternak seperti itu diberdayakan menjadi alat pengangkut.

Tapi, ya begitulah orang Yogya. Kreatip, kata orang Sunda. Wedhus gembel saja diangkat derajadnya, dimuliakan menjadi penghibur orang tua lewat keceriaan anaknya. Naik kuda, mungkin biasa. Nebeng gerobak atau delman, juga bukan hal aneh. Tak jelas benar, apakah para pemilik wedhus-wedhus itu terinspirasi oleh ide-ide nakal pelaku seni peran eks-Asdrafi yang tak jauh dari tempat mereka menawarkan jasa tunggangan sekarang.

Bukan sebatas gerobik wedhus saja kita bias menyaksikan tingkat kreatifitet warga Yogya. Lihatlah keceriaan anak-anak saat mengayuh becik (ingat, becak itu lebih besar ukurannya) sewaan di lokasi yang sama. Tawa lepas hanyalah sejumput contoh ekspresi kepolosan kanak-kanak.

Bagi pelancong asal Jakarta, naik becak saja sudah bisa memberikan pengalaman luar biasa. Bahkan mengguratkan rasa kangen untuk kembali mengenang sensasi. Dan itu, bisa ditemukan di ‘Jawa’. Ya, J..A..W..A, sebuah kata untuk menunjuk yang bukan Jakarta. Yang udik, yang eksotis…

Bagi anak-anak, pengalaman mengayuh becik mungkin akan sama luar biasanya dengan para orang tua atau mereka yang lebih dewasa saat keliling kota diantar abang becak, yang mungkin enggan atau malu-malu menyebut angka bila ditanya ongkos setiap sekali mengantar.


Ah, Yogya… Kota yang indah, yang selalu menggoda saya untuk kembali bertandang. Sayang, perilaku para pengguna jalan raya membuat jalanan kerap ruwet dan macet sehingga aku selalu enggan menyusuri jalan-jalan protokolmu….

KehidupanJanuary 11, 2008 9:49 am

Becak, bisa menjadi simbol kegagalan sekaligus potret kegigihan seseorang dalam berjuang memperpanjang hidup. Bagi kaum yang lebih beruntung, becak juga bisa jadi sarana rekreasi menikmati suasana kota, meski tak jarang justru memancing rasa curiga. Surakarta punya banyak cerita….

Seorang teman menuliskan pengalamannya di koran tempat dia bekerja. Ditulis teman itu, di Surakarta dan Semarang, para penarik becak bisa jadi pemandu wisata kelamin. “Mau cari selimut, Pak?” kata penarik becak yang –saya yakin- ditumpangi oleh teman tadi. Selimut yang dimaksud adalah kiasan, yakni seseorang yang bisa menghangatkan suasana di kamar.

Di Surakarta, sejumlah tukang becak yang kebetulan satu tongkrongan dengan saya sering diledek dengan sebutan penghulu. Bila mentari tenggelam, para penarik becak itu cenderung ogah-ogahan narik penumpang kebanyakan, kecuali sudah kenal. Sebagian dari mereka lebih memilih menunggu kedatangan lelaki yang menginap di hotel, tak jauh tempat mangkal mereka.

Ya, dari para tamu khusus itu, mereka berharap dapat uang berlipat dibanding membawa penumpang baik-baik. Mereka tangkas menghampiri tamu hotel, lalu menawarkan diri mencari pendamping sesaat. Bila kemudian mereka tampak bergegas menginjak pedal becak, berarti sudah terjadi kesepakatan harga dan kriteria selimut dengan sang tamu.

Kata salah seorang dari ‘penghulu’ itu, dari satu selimut, ia akan memperoleh fee setidaknya Rp 25 ribu. Dan, kalau lagi ‘beruntung’, ia bisa ‘mengawinkan’ lima orang dalam semalam. Paling sial, satu pasangan terkawinkan sudah cukup.

Tapi, kalau kebetulan Anda penggemar selimut demikian, hati-hatilah bila ‘berbelanja’ di Surakarta. Terlebih bila Anda mengandalkan para penghulu partikelir itu. Tak jarang, mereka mengambil sekenanya. Bahkan, perempuan kebanyakan yang tak hirau dengan hygiene pun didandani secantik mungkin lalu dibumbui dengan parfum ala kadarnya. Yang penting bisa mendongkrak harga. Malah, di Surakarta ada istilah RENDAN, alias kere dandan!

Tapi, percayalah. Tak semua pengemudi becak berkelakuan seperti para ‘penghulu’ itu. Banyak yang baik, seperti Perry! Sopir becak yang biasa mangkal di sekitar Monumen Pers itu bisa memijat. Pijatannya juga lumayan enak, selain tahu banyak ‘rumus urat’. Sambil wedangan menikmati jahe panas atau the tape, kita bisa memintanya memijat dengan upah Rp 20.000.

Beda Surakarta, beda pula di Jepara. Saat kedatangan atau keberangkatan KM Muria yang melayani rute Jepara-Karimunjawa –dua kali dalam sepekan, puluhan becak hilir mudik hingga ke ujung dermaga. Orang Karimunjawa banyak belanja di Jepara. Karena jumlah belanjaannya sangat banyak karena untuk persediaan berhari-hari, maka jasa becak diperlukan untuk mengangkutnya. Sebaliknya, dari Karimunjawa, banyak orang membawa kelapa untuk dijual di kota.

Tapi, nasib mereka tetap tak selalu baik. Kadang banyak penumpang datang tanpa tentengan, apalagi belanjaan. Dengan demikian, tak banyak rupiah yang bisa diharap dari para pengguna jasanya. Di kota yang nyaris sepi pelancong seperti Jepara, becak hanya hilir mudik menyusuri kota tanpa penumpang. Mendapat rejeki Rp 15 ribu saja sudah bagus dalam sehari. Apalagi, tak ada ‘sambilan’ pekerjaan seperti rekan-rekan mereka di Surakarta atau Semarang.

Tapi, status ekonomi dan profesi mereka tetap mulia. Setidaknya, ‘kegagalan’ hidup mereka bisa jadi tempat berkaca. Seperti dilakukan oleh ibu teman saya. Belum lama ini, si ibu membeli sebuah becak dan ditaruh di ‘garasi’ rumahnya. Saat anak-cucunya ngumpul, mereka asyik becak-becakan keliling kampung. Padahal, seluruh anaknya lumayan sukses secara ekonomi. Ada yang bekerja mapan di Hongkong, ada yang jadi pimpinan perwakilan perusahaan Amerika di Jakarta, ada pula yang sukses membuka usaha rias pengantin.

“Saya cuma ingin ngajari anak-cucu. Hidup itu berat, tapi kalau tak mau berusaha, pasti akan sia-sia. Becak saya beli untuk mengingatkan anak-cucu supaya mereka punya semangat dan selalu ingat, supaya kelak tak sampai jadi pengayuh pedal becak!” ujar sang ibu.

KehidupanJanuary 9, 2008 6:37 am

Setiap mendengar Soeharto, bekas penguasa Orde Baru itu, masuk rumah sakit, maka yang muncul di benak saya adalah pertanyaan konyol: sedang ada perkara apa di Cendana? Soeharto, telah mengajarkan kepada saya (juga banyak orang), untuk tidak mudah percaya pada apa yang bisa dilihat dan didengar. Bagi saya, Soeharto adalah pembuat cerita terbaik di dunia. Kalau saja Shakespeare, Beckett, Chekov atau Tolstoy masih hidup, beliau-beliau pasti memilih pensiun dini jadi pujangga.

Soeharto, terlalu sering memancing kita untuk selalu menerapkan ilmu othak-athik gathuk, menghubung-hubungkan berbagai peristiwa atau kejadian untuk membuat kesimpulan yang seolah-olah menjadi benar. Teka-teki selalu ditebar. Gerak bibir dan raut wajah The Smiling General itu, pun selalu melahirkan multitafsir. Hanya orang-orang yang paham kultur Jawa ningratlah yang bakal paham apa maunya Pak Harto.

Karena itulah, teori konspirasi seolah-olah menjadi pantas dan satu-satunya alat yang bisa dipakai sebagai pijakan menganalisa berbagai persoalan. Batuk pun bisa memiliki banyak makna. Sehingga, sakit atau kunjungan ke rumah sakit pun cenderung saya prasangkai sebagai tindakan pura-pura, apalagi bila kunjungan berobat itu terjadi hampir berdekatan dengan rencana persidangan kasus-kasus masa lalunya.

Secara pribadi, saya ingin Soeharto segera sehat, dan segar bugar kembali. Syukur, penyakit short memory syndrom-nya segera hilang. Kesehatan menjadi penting, karena faktor itu yang selalu dijadikan sebagai alibi untuk penghentian proses peradilan seperti dimaui orang-orang Partai Golkar . Soal dosa dan kesalahan masa lalunya lantas dimaafkan, itu soal lain. Dalam hal ini, saya ma’mum apa kata Gus Dur saja.

Kini, saya sudah paham. Tak ada indikasi Pak Harto pura-pura sakit. Kondisi kesehatannya, bahkan memang agak mengkuatirkan alias gawat , sehingga Bu Menteri Kesehatan pun menyatakan siaga satu bagi Tim Dokter . Belum ditambah lagi informasi yang saya peroleh Selasa (8/1) siang, bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Tengah sudah menggelar rapat persiapan, kalau-kalau Pak Harto wafat dalam waku dekat.

Rapat dadakan yang digelar di Semarang, Minggu (5/1) siang, bahkan sudah sampai pada tahap bagi-bagi tugas. Kabarnya, rapat dilakukan karena Markas Besar TNI sudah mengirimkan surat berisi protokoler bila sewaktu-waktu Pak Harto berpulang.

Kota Surakarta, misalnya, kebagian mengurus ketersediaan kamar bagi tamu-tamu penting, termasuk langkah-langkah pengamanan para kepala negara, duta besar dan wakil-wakil pemerintah asing yang akan datang takziah. Juga, mengkoordinasikan pengusaha bunga segar yang bakal ketiban pekerjaan dadakan, membuat karangan bunga dalam jumlah sangat besar, dalam waktu yang –pasti- sangat singkat!

Begitulah kerepotan banyak pihak menyikapi kondisi kesehatan Pak Harto. Suka atau tidak, dia termasuk orang superpenting di republik ini. Masa lalunya yang otoriter membuat banyak pihak dirugikan. Pelanggaran hak asasi manusia banyak terjadi, utang luar negeri juga meninggi. Namun, ia juga memiliki banyak prestasi. Indonesia pernah gemilang dan kaya raya pada masa booming minyak, meski banyak pula keuntungan yang diselewengkan banyak orang.

Kini, ada baiknya kita mendoakan Soeharto agar segera sembuh, sehat total seperti 20 tahun silam. Kita menanti senyum dan lambaian tangan Pak Harto di tengah-tengah proses persidangannya. Salah atau benar, biarlah proses peradilan yang menentukan. Dengan begitu, Pak Harto bisa tenang selama madeg pandhita kanthi tentrem, kalis ing sambikala dan menikmati pensiun dengan riang sambil ngemong anak-putu. Dan, kalau sewaktu-waktu takdir Allah sudah jatuh tempo, maka Pak Harto juga mencapai tataran khusnul khotimah

KehidupanDecember 19, 2007 10:51 am

Kuburan, bagi saya, bukan semata tempat jasad dipendam, tempat ruh menanti proses penimbangan dosa dan amal baik. Kuburan juga merupakan cermin maya bagi mereka yang masih berpijak pada tanah. Bagi pendosa seperti saya, melintas di dekat kuburan bisa menggelorakan rasa takut, meski bagi kaum sufi seperti Jalaludin Rumi, kematian justru merupakan peristiwa yang sangat dinanti.

Pernah pada suatu masa, saya menyukai rumah sakit dan kuburan sebagai tempat pelarian. Ketika kalut mendera atau sedih sedang singgah, saya selalu segera memacu sepeda motor ke dua tempat itu. Melihat orang berduka di lorong rumah sakit, sudah cukup menawarkan hati yang risau. Begitu pula saat mengunjungi kuburan –apalagi pada malam hari, rasa takut segera menyergap sehingga ketenangan kembali datang.

Tapi itu hanyalah cerita masa lalu. Kini, ketika menjumpai kuburan, ingatan yang melintas hampir selalu didominasi oleh tangisan pilu ditingkah deru buldozer. Kuburan segera berubah jadi gedung pencakar langit atau pusat perbelanjaan. Kadang, hati terusik pada cekcok tak perlu karena berziarah dicurigai sebagai perilaku syirik, menyekutukan Tuhan. Berkunjung ke kuburan dianggap meminta sesuatu dari yang mati.

Kuburan, dengan kacamata apapun kita melihatnya, bagi saya tetap sesuatu yang menarik. Mungkin sama tertariknya dengan Arbain Rambey, meski wartawan KOMPAS itu lebih menyukai kuburan tua sebagai subyek fotonya.

Di Jawa pedalaman seperti Surakarta dan sekitarnya, misalnya, sebagian besar masyarakatnya masih mengagungkan hubungan dengan leluhurnya, bahkan hingga sekian generasi di atasnya. Ritual nyadran adalah salah satunya. Dalam tradisi ini, orang berduyun-duyun ke pusara leluhur dan kerabat untuk mendoakan arwahnya. Ada yang dengan membaca surat Yasin dan tahlil bagi sebagian umat Islam, ada pula yang mendoakan dengan keyakinan agamanya sendiri-sendiri.

Kuburan memang hanya sebuah nisan atau gundukan tanah yang diberi tanda. Tapi derajad penghormatannya bisa beraneka rupa. Ada yang dibuat rumah-rumahan sederhana, ada yang dikelilingi tirai putih seperti makam para wali, ada pula yang dikitari lantai marmer yang mewah dengan bangunan mewah berbahan kayu jati tebal berukir seperti makam keluarga Soeharto di Giribangun.

Namun, ada pula pemakaman yang sederhana seperti yang saya jumpai di sebuah desa di Jepara. Di atas sebidang tanah tak seberapa luas, saya hanya menjumpai sedikit makam bernisan. Selebihnya, hanya kayu-kayu penanda yang ‘ditanam’ pada tanah yang nyaris datar. Pada setiap Kamis menjelang senja, bergiliran orang datang membaca doa. Di tepian kuburan, terdapat puluhan dingklik, semacam bangku kecil untuk duduk seraya berdoa, yang memakan waktu rata-rata 30 menit pada setiap makam yang dikunjungi.

Saya hanya bisa menebak-nebak, jangan-jangan bentuk kuburan itu merupakan kompromi kaum muslim di sana. Ada puritanisme yang harus diperjuangkan, yakni untuk tidak mengotori makam leluhur dengan nisan yang dipersepsikan sebagai peninggalan kebudayaan animisme-dinamisme, namun tetap datang berziarah dengan membacakan surat Yasin dan mengumandangkan tahlil sebagai pengamalan ajaran Islam tradisional sebagaimana dibawa Wali Songo.

KehidupanJuly 11, 2007 8:19 am

Pemanasan global membuat kemiskinan kian menjamur. Di Juwangi, Boyolali, mayoritas petani ladang memperoleh penghasilan kurang dari Rp 100 ribu dalam satu musim tanam jagung. Sebuah penghasilan yang sangat tidak memadai untuk memenuhi kebutuhan minimal empat jiwa dalam satu sekeluarga. Jauh dari indikator kemiskinan versi World Bank yang besarnya US$ 1 perhari. Berikut potret sekilas kehidupan mereka.

Jerukan, Pilangrejo dan Kayen hanyalah noktah kecil dalam sebuah peta besar bernama Indonesia. Sangat tak tampak, namun cukup memberi gambaran betapa kerakusan orang-orang kaya di kota –bahkan di luar Indonesia- memberi kontribusi pada keabadian kemiskinan mereka.

Mereka tak tahu apa itu global warming. Kalaupun pernah mendengar climate change, paling juga tak paham maksudnya. Bukan meremehkan mereka, tapi begitulah realitasnya, karena rata-rata pendidikan di sana hanya sampai setingkat SMP. “Bagaimana mungkin kami menyekolahkan anak-anak kami sampai SLTA kalau biaya transportasinya saja sudah Rp 10 ribu?” tutur Purwadi, seorang warga Kayen.

Satu hal yang mereka tahu dan rasakan hanyalah musim tak pernah lagi mau berjanji. Pranotomongso tak lagi bisa dijadikan patokan bercocok tanam. Warisan leluhur itu hanya relevan hingga sepuluh tahun silam, ketika kertas tisu sudah menjadi produk murahan yang selalu ada di setiap ruang kehidupan kaum kaya: di toilet, ruang makan, ruang tamu, tas hingga mobil, hingga warung tegal di sudut-sudut jalan perkotaan.

Teriakan para aktivis lingkungan agar pembabatan hutan dihentikan, tak pernah digubris. Yang terjadi justru sebaliknya, kongkalikong penguasa-pengusaha mencukur hutan secara semena-mena, tanpa mau tahu tindakan itu merusak lapisan ozon, filter alami yang menyelamatkan penghuni bumi.

Sejujurnya, saya curiga. Program bersama ratusan negara di bawah PBB seperti tertuang dalam Millenium Development Goals hanyalah akal-akalan pemimpin negara-negara kaya di Utara. Pengurangan jumlah penduduk miskin, perhatian pada perluasan akses air bersih bagi penduduk miskin dan sebagainya hanyalah lips service semata.

Kehidupan penduduk Juwangi hanyalah potret kecil kegagalan negara dan badan-badan kemanusiaan dunia mengurangi ketimpangan Utara-Selatan. Mana mungkin seseorang bisa hidup sehat bila saat tidur saja harus bersanding dengan kambing-kambing mereka? Bagaimana pertumbuhan anak-anak di sana bisa maksimal ketika untuk makan dan minum saja harus menyaring air sungai yang hanya tersedia seusai musim hujan yang tak seberapa lama?

Konon, 60 tahun mendatang, permukaan laut di utara Jakarta bakal naik 10 meter sehingga sebagian Jakarta sudah tertelan samudera. Kuningan sudah tak lagi ada. Pada kurun waktu yang sama, kabarnya London juga sudah tenggelam akibat perubahan iklim dan mencairnya es di kutub utara. Jangan-jangan, Konferensi Perubahan Iklim di Bali, Desember mendatang, juga tak terselenggara manakala London tak terancam hilang dari peta dunia. Wallahu a’lam

KehidupanFebruary 8, 2007 8:33 am

Seorang sahabat bertutur, ayahnya yang seorang pembina mental narapidana berganti agama lantaran melihat kesalehan seorang tahanan. Bahkan, anak-anaknya lantas disekolahkan di pondok pesantren. Pemuda nakal di desa saya sesumbar, tak takut masuk penjara lantaran yakin bakal ‘naik kelas’ bila di biodatanya berisi pengalaman mondok di losmen prodeo. Sementara, di kantor polisi para polisi yang masih berstatus magang juga belajar kekerasan dari senior-seniornya. Para tahanan sementara pun dijadikan obyek kekerasan sambil menunggu berkas perkaranya disetor ke kejaksaan.

Itulah potret sekolah alternatif di negeri kita. Dengan caranya sendiri-sendiri, mereka bisa memaknai penjara. Sepupu saya yang sempat mondok sepekan di kantor polisi, misalnya, menjadi takut luar biasa bertindak gegabah dan emosional. Ia menyesali tindakannya bersama tiga temannya menganiaya remaja berandalan yang tinggal bertetangga. Bahkan, ia merasa hidupnya menjadi sia-sia karena ketakutan tak bakal memperoleh surat pernyataan berkelakuan baik alias SKKB di kemudian hari. Apalagi, ia sudah menganggur setahun lantaran habis masa kontrak dengan sebuah perusahaan asing di Cikarang. Untuk bisa survive dengan menjadi buruh, ia memerlukan SKKB untuk senjata.

Nasi telah menjadi bubur, mentalnya kerasnya menjadi lembek lantaran salah bertindak. Kini, yang tersisa hanyalah kenangan pahit di balik jeruji kamar tahanan. Ada yang getir, ada pula yang lucu superkonyol. Ia berkisah, kakinya sering ditindih dengan kaki kursi yang lantas diduduki seorang polisi. Kepala diraih dan dibenturkan ke terali besi ia alami berulang kali. Ditinju, juga sudah belasan kali. “Setiap pergantian piket, mereka pasti memukul atau menganiaya saya,” tutur sepupuku.

Usai memukul, sang polisi -baik yang magang maupun yang senior, akan menanyakan sakit atau tidaknya dihajar. Kalau menjawab lirih, tindakan yang sama akan diulang. Tapi kalau menjawab dengan lantang, maka tindakan itu akan dianggap menantang. Buk! Pukulan atau tendangan, akan segera mengenai bagian tubuh yang mana saja sesuai selera.

Apapun kasusnya, tak ada perbedaan perlakuan. Lex specialis seperti istilah plesetan. Kejahatan sistemik dan komunal, sepertinya sudah menjadi hukum tersendiri di lembaga kepolisian (meski saya yakin sesungguhnya polisi-polisi baik hati jumlahnya masih mendominasi). Makanan, rokok atau air mineral yang dibawa sanak-saudara tahanan sementara misalnya, tak pernah sampai ke tangan yang berhak. Semua itu berubah menjadi setoran’ untuk para petugas jaga. Mungkin agar tak ngantuk atau bete, karena yang dilihatnya hanya yang itu-itu saja.

Sepupuku berceritera, kalau pagi-pagi dihidangkan nasi urap (makanan mewah di tahanan), itu berarti isyarat. Sebab pada siang harinya, masing-masing tahanan akan kebagian giliran: entah pukulan, tendangan atau tindakan kekerasan lainnya. Saya baru paham, ternyata polisi juga belajar ilmu gizi. Dengan makan nasi gudhangan, stamina fisik akan menjadi lebih prima dari hari biasa. Karena itu, pukulan sekeras apapun akan bisa diterima tubuh lantaran adanya suntikan vitamin, protein dan karbohidrat memadai.

Yang superkonyol, pun tak lupa dituturkan sepupu saya sembari tertawa. Seorang pendatang baru tinggal di sel sebelahnya. Remaja 18 tahun itu ditangkap polisi lantaran melakukan pemerkosaan gadis belia. Di sel itu, sang remaja dipaksa tahanan kriminal lainnya (rata-rata residivis) untuk melakukan onani dengan balsam. Setiap malam, ia disuruh menyanyi sampai para tahanan mengantuk. “Kalau telinga kanan dijewer, orang itu harus menyanyi dan baru boleh berhenti kalau telinga kiri sudah dijewer,” tutur sepupuku. Ia ngeri menyaksikan kuping menjadi saklar switch on dan switch off.

Kekerasan demikian, ternyata lumrah saja di penjara. Alih-alih mencegahnya, polisi jaga justru tertawa dan ikut menikmati peristiwa demikian. Sebuah papan putih mencolok bertuliskan larangan menganiaya tahanan yang terpampang di samping petugas jaga, rupanya hanyalah hiasan semata. Mungkin, maksudnya baik, agar para keluarga tahanan tak memiliki rasa kuatir akan keselamatan sanak-saudaranya selama ‘bersekolah’ di sana.

Baca juga: Setitik Nila pada Susu Polisi

KehidupanNovember 28, 2006 5:12 am

Bahasa bisa dijadikan sebagai alat untuk mengidentifikasi kwalitas sebuah bangsa. Bahwa bangsa Indonesia layak disebut permisif, sudah pernah dibuktikan secara massif, terutama pada kurun 1980-an hingga akhir 199o-an seiring dengan surutnya kekuasaan Soeharto. Alih-alih mengkampanyekan berbahasa Indonesia dengan baik dan benar, yang kita jumpai justru perilaku imitasi yang dilakukan oleh birokrat resmi pemerintahan, hingga yang tak resmi semisal para Ketua RT atau RW.


Garuda Indonesia, maskapai penerbangan milik negara pun tak luput dari ‘dosa’ memberi contoh berbahasa yang salah

Jangankan pidato-pidato atau sambutan resmi sebuah peristiwa di sebuah instansi, dalam rapat-rapat kampung, pun Pak RT dan Pak RW (sebutan untuk para ketua) latah mengucapken puluhan kosa kata yang baek dan bener. Para ahli bahasa dibuat repot. Mengkritik atau meluruskan perilaku berbahasa Pemimpin Tertinggi republik berarti bunuh diri. Namun, sikap diam bisa dianggap membenarkan sebuah kesalahan, yang berarti melawan moralitas intelektualnya.

Sudah sewindu Panglima Orde Baru lengser keprabon, tapi kesalahan berbahasa telanjur merebak kemana-mana dan meliputi seluruh kelompok masyarakat, baik yang masuk kategori ‘rakyat’ maupun ‘warga negara’. Pada kelompok ‘rakyat’, kita bisa menjumpainya dimana-mana: papan nama usaha (tambal ban atau jual-beli tanah), spanduk penutup warung kakilima dan sebagainya.


Papan nama sebuah toko di Pekalongan pun tak luput dari kekeliruan

Pada kelompok ‘warga negara’ kita bisa menemukan beragam kesalahan melalui teks-teks pidato atau sambutan pejabat sebuah instansi, bahkan pada papan nama, billboard atau spanduk yang terbentang di jalan-jalan utama kota yang dipasang oleh sebuah instansi tertentu. Situasi demikian diperparah lagi oleh banyaknya ‘ajaran’ berbahasa yang tidak benar melalui layar kaca (silakan pilih nama stasiunnya, semua pasti ada!), terutama pada penulisan subtittle dialog film berbahasa non-Indonesia dan kalimat-kalimat yang terpajang lewat running text.

Rasanya ada perbedaan makna, antara kata pejabat dengan penjabat

Mungkin, kita tak butuh polisi bahasa, sebab itu akan memberi kesan seram dan represif (maklum, kita telanjur alergi dengan aksi-aksi ekstrapolisioner oleh berbagai institusi negara yang menimbulkan dampak traumatik bagi rakyatnya). Tapi, bahwa Pusat Bahasa dan para ahli-ahli bahasa harus lebih intens mengkampanyekan berbahasa yang sungguh-sungguh baik dan benar, itu harus didukung oleh sepenuhnya oleh para penyelenggara pemerintahan. Dari presiden hingga kepala desa, orang-orang di parlemen hingga seluruh pejabat di institusi pemerintahan.

Kalaupun gagasan demikian terkesan top-down, tak lain dilatari oleh kenyataan mentalitas sebagian besar masyarakat kita yang sudah terbiasa mengganggap kaum birokrat dan kelompok berada sebagai teladan. Mungkin, itulah yang dimaksud dengan budaya paternalistik.

Yang sudah jelas, kita teramat mudah menjumpai kesalahan-kesalahan berbahasa, terutama dalam bahasa tulis. Silakan cari di situs-situs (juga blog-blog) favorit Anda, saya yakin banyak bertebaran kesalahan yang saya maksud, termasuk sejumlah penerbitan (surat kabar, majalah, tabloid) papan atas kita.

KehidupanOctober 6, 2006 7:33 am

Teman saya seorang senirupawan terapan. Berlatar belakang pendidikan seni grafis, sempat menjadi desainer, namun kini ’terdampar’ sebagai ahli air brush, khususnya untuk produk-produk media luar ruang. Untuk pekerjaan yang satu ini, bisa dibilang ia sebagai salah satu jagoan di Surakarta.

Sayang, ia terkungkung dalam ketidaktahuannya. Ia polos, tidak neka-neka. Mungkin karena hampir seluruh hidupnya dihabiskan di lingkungan komunitas seniman ’underdeveloped culture’, sehingga tidak paham perkembangan praktek jual-beli benda-benda seni.

Contoh paling nyata adalah ketia ia berusaha mewujudkan niat baiknya dengan cara yang keliru. Ia, misalnya, berupaya memperbaiki lukisan Raden Sajid (kalau tak salah buatan tahun 1893. Lihat: Foto A) yang sudah robek. Ia lalu menjahitnya dan menambal kerusakannya dengan cat baru (Foto B). Hal itu ’harus’ dilakukannya sebab ia ingin menjual lukisan itu.

Teman itu sama sekali tak menyadari, niat baiknya justru merusak ’nilai’ lukisan itu sendiri. Membiarkannya tetap rusak akan membuat lukisan itu tetap bernilai dibanding ia sendiri yang memperbaikinya. Apalagi, secara keseluruhan, lukisan itu masih bagus. Warna cat, kualitas kanvas, begitu pula dengan goresan-goresan Raden Sajid, masih utuh. Detilnya pun masih terjaga otentisitasnya walau lukisan itu sudah melintasi waktu tak tak bisa dibilang pendek.

Kini, sang teman hanya bisa menyesali perbuatannya. Apalagi ketika ia menyadari, dunia perdagangan benda-benda seni (di belahan bumi manapun juga) menuntut sejumlah syarat yang tak ringan, yang tak cuma menyangkut keaslian barang dagangan. Profil dan sejarah hidup pelukis, usia lukisan, jelas menjadi faktor penentu nilai jual lukisan, walaupun praktek goreng-menggoreng lukisan bisa saja dilakukan, tergantung kepiawaian sang dealer, atau populer dengan sebutan kolekdol, koleksi sementara lalu adol alias menjualnya.

Memang, nilai jual lukisan, dalam banyak kasus masih lebih obyektif dibanding benda-benda tosan aji, seperti benda-benda pusaka atau praktek perdagangan ikan Louhan, hingga jual-beli saham perusahaan. Walaupun, praktek goreng-menggoreng juga sama dahsyatnya, tergantung kepiawaian dan kelicinan silat lidah sang dealer, benda seperti lukisan memiliki parameter yang lebih jelas.

Pernahkah Anda bertemu dengan dealer tosan aji atau broker Louhan atau saham? Hati-hati, jangan mudah percaya kepada bumbu-bumbu manis mereka. Tiga jenis barang dagangan itu, sering dijajakan dengan cara seperti penjual mebel antik. Disebut barang tua, pernah dipakai keluarga raja ini atau pangeran itu, namun sesungguhnya barang baru namun dibuat seolah-olah berusia ratusan tahun dengan cara merendamnya di sungai selama berbulan-bulan lantas menjemurnya berhari-hari. Begitu terus berulang kali sampai muncul efek visual sebagaimana dikehendaki, misalnya cat akan tampak mengelupas dan sebagainya.

Anda pasti akrab dengan cerita harga Louhan bisa berpuluh-puluh juta hanya karena pada tubuh sang ikan muncul simbol-simbol tertentu? Cobalah sesekali Anda membelinya lalu menjualnya kembali. Saya berani bertaruh, uang Anda tak pernah kembali seperti sedia kala, apalagi memperoleh untung darinya. Sebab, nilai penjualan besar hanya diembuskan oleh para anggota sebuah jaringan semata-mata untuk mengail keuntungan.

KehidupanOctober 3, 2006 6:08 pm

Ini kisah kehidupan di Negeri Kambing, dimana antara kambing dan manusia tiada beda. Di negeri itu, tak ada istilah perikemanusiaan. Juga tak dijumpai kata perikehewanan (mungkin karena peri tidak masuk dalam kategori benda, dalam pengertian yang mewujud). Egaliter. Semua makhluk sama derajadnya!

Karena sederajad itulah, maka kambing dan manusia yang mendiami Desa Jerukan, nun di pedalaman Kadipaten Bajulkesupen, Jawi Madya, bisa bekerjasama, meski tidak bahu-membahu. (Sebab kata bahu-membahu di desa itu masih terpengaruh kebudayaan Jawa yang adiluhung nan hegemonik. Sebab kata bahu akan bermakna konotatif dan menunjuk pada strata sosial rendahan, yakni semacam budak atau minimal sebagai pihak yang dijadikan obyek untuk disuruh-suruh).

Kambing dan manusia, misalnya, sama-sama menggunakan air yang sama untuk keperluan masing-masing. Dan, kambing-kambing di sana cukup tahu diri, tak pernah menceburkan diri demi membersihkan tubuh. Karena itu, bau tubuh kambing tak jadi polusi. Sebab air hujan yang membentuk genangan di dasar kali, dengan luas tak lebih dari setengah lapangan badminton (yang biasa dipakai untuk sarana olahraga manusia beradab), itu menjadi andalan sekitar 200-an manusia yang tinggal di sekitar dusun itu.


Bukan saja untuk mandi (yang hanya sekali dalam sehari), namun juga untuk minum dan memasak, meski harus mengendapkan minimal semalam suntuk agar kembali jernih. Tanpa proses pengendapan, air jelas berasa. Minimal pahit! Sebab pada setiap sore, pasti ada puluhan perempuan (dari anak-anak hingga lanjut usia) yang silih berganti mencuci pakaan dan perkakas dapur, lengkap dengan deterjen yang diyakini sebagai pembersih (asal tahu saja, beraneka merek dan jenis deterjen sudah diperdagangkan orang-orang kota di pedusunan itu).

Aneh, memang. Setahun lalu, sejumlah manusia yang ‘lebih beradab’ pernah mengunjungi dusun itu, dan memberitakan secara gencar tentang nasib manusia di situ. Ada yang lewat televisi, ada pula melalui surat kabar tercetak. Sementara, orang-orang kota (yang pasti lebih beradab) sama sekali tak terpengaruh pemberitaan yang lumayan gencar waktu itu. Padahal, penduduk Negeri Kambing sudah yakin, manusia kota yang diharapkan bisa mengubah nasib mereka (sesuai sabda Tuhan yang menjanjikan perubahan nasib manusia hanya bisa dilakukan melalui ikhtiar dan usaha), ternyata lebih dungu dan bebal dibanding kambing-kambing di desanya.

Tapi, boleh jadi ketiadaan perubahan itu juga merupakan akibat dari kesalahan manusia-manusia di sana. Terlalu percaya pada berita yang dibuat wartawan (baca: manusia kota) akan mengubah kedunguan manusia kota penentu kebijakan semesta raya, membuat mereka lupa diri untuk menuntut secara langsung. Atau sebaliknya, mereka sudah menjadi makhluk berfilosofi narima ing pandum lan pepesthi (orang Betawi menyebutnya dengan menerima jatah dan takdir), sehingga mereka tak sudi lagi menuntut paksa perbaikan hidup mereka.

Mungkin, mereka lebih asyik berkaca pada tabiat kambing. Yakni, menerima apa adanya, berbagi makanan secara adil –sama rasa (walau hanya bisa) agak rata, meski rumput nyaris enggan tumbuh di dasar kali dengan bebatuan putih berkapur campur cadas. Kalau kambing saja bisa tabah, kenapa manusia tidak?!?. Begitu kira-kira mereka menggumam.

Apalagi, kambing yang bagi manusia kota hanya dianggap hewan tak berguna (meski lahap menyantap dagingnya), adalah sosok penyelamat kelangsungan hidup mereka. Saat ladang tak membuahkan bahan makanan, mereka bisa menuntunnya hingga ke pinggir kota. Kambing bisa ditukar menjadi beras, garam dan deterjen (walau mereka tahu, saat kaki belum lagi menginjak halaman rumah, Sang Kambing sudah dibantai, dan serpihan tubuh Sang Kambing sudah sampai pankreas orang kota, bahkan sudah berubah wujud menjadi gumpalan pekat –MAAF- berwarna kuning kecoklatan).

Sayang, hanya gara-gara air, manusia menjadi jauh kurang berharga dibanding seekor kambing (sementara orang kota, telah menjadikan air sebagai komoditas yang bisa diperjualbelikan secara semena-mena).

Kehidupan 6:55 am

Lain ladang, lain belalang. Beda negara, tak sama pula cara bersikap terhadap bahaya asap rokok. Setidaknya, kita bisa membandingkan cara negara memperingatkan bahaya asap buatan itu melalui kemasan rokok. Secara eufemistik dan setengah hati, Pemerintah Indonesia mewajibkan penulisan peringatan bahaya itu dengan teks “Merokok dapat menyebabkan kanker……..”. Dengan kalimat begitu, seolah-olah asap rokok hanya berbahaya jika… (begini atau begitu).

Bandingkan dengan sikap Pemerintah Kuba yang lebih tegas. (Karena tak tahu arti bahasa peringatan dalam sebuah kemasan rokok cerutu filter –oleh-oleh dari seorang teman, maka saya mengambil contoh simbol larangan merokoknya saja). Di Kuba, tingkat bahaya asap rokok bahkan ditonjolkan melalui pencantuman kadar senyawa kimia karbonmonoksida pada kemasan rokok. Jadi, tak Cuma mencantumkan kadar tar dan nikotin saja.

Itulah misteri rokok. Banyak orang menentang keras peredaran rokok dan tindakan merokok, namun tak berdaya ketika dihadapkan pada persoalan mencari solusi bila industri rokok ditutup. Maju-mundurnya dunia olahraga dan industri musik di Indonesia, misalnya, sangat bergantung pada partisipasi sponsorship industri rokok. (Coba tunjukkan, adakah cabang olahraga dan artis mana yang terbebas dari ‘campur tangan’ industri yang satu ini?)

Jangankan atlet dan artis, Presiden pun akan dibuat pusing seribu keliling kalau industri rokok kita gulung tikar. Menteri Tenaga Kerja akan pusing memikirkan ratusan ribu buruh linting yang harus menganggur (hitung pula jumlah jiwa yang tergantung pada satu pekerja) tiba-tiba. Sementara Menteri Keuangan juga bingung menyusun APBN karena puluhan triliun potensi penerimaan cukai akan melayang sia-sia, dan kebingungan mesti menutup dengan cara apa. Sementara, beban utang negara sudah mencapai Rp 1.300 triliun.

Ya, begitulah rokok. Ia selalu penuh misteri. Dibenci, sekaligus diakrabi. Pencantuman kadar tar dan nikotin pada kemasan rokok, misalnya, dicurigai para pengusaha rokok kretek di Kudus, Jawa Tengah sebagai praktek ‘curang’ industriawan rokok raksasa dunia –seperti Phillip Morris Inc., British American Tobacco/BAT, yang hanya memproduksi rokok putih.

Phillip Morris Inc., British American Tobacco/BAT, dan lain-lain, dianggap melakukan kampanye habis-habisan melawan peredaran rokok kretek dengan membawa isu-isu kesehatan, karena tingginya kadar tar dan nikotin pada rokok kretek. Di Indonesia, para pengusaha rokok kretek bahkan sempat marah kepada Presiden Habibie karena penerbitan Peraturan Pemerintah No. 81 Tahun 1999 dicurigai sebagai hasil lobi raksasa rokok dunia itu.

Catatan:
Atas masukan dan saran Bangsari , ralat sudah dilakukan pada Rabu (4/10) pukul 11.20 WIB

KehidupanAugust 15, 2006 8:14 am

Koran Tempo edisi 14 Agustus 2006 menurunkan sebuah tulisan menarik. Mengutip sejumlah sumber -termasuk majalah TIME sebagai rujukan utama, koran itu mengabarkan pesan penting dan menyejukkan. Yakni, kisah seorang muslim bernama Wajeeh Nuseibeh yang menjaga Gereja Makam Kudus di Yerusalem. (Mungkin yang dimaksud ‘makam’ di sini adalah penyederhanaan istilah untuk menyebut tempat itu sebagai lokasi penyaliban Yesus dan tempat kebangkitan Isa Almasih -Penulis)

Lelaki berusia 55 tahun, itu menjadi juru kunci secara turun-temurun. Kata koran itu, moyang Nuseibeh adalah orang Arab, prajurit Khalifah Umar bin Khaththab yang ditugasi menjaga gereja itu semasa khalifah yang terkenal arif bijaksana itu menguasai Yerusalem pada 638 masehi. Uniknya, Nuseibeh dan generasi-generasi sebelumnya juga bertindak sebagai ‘wasit’, sebab gereja itu diperebutkan oleh tujuh sekte dalam Kristen.

Namun, kendati bertikai memperebutkan gereja, tujuh sekte itu ‘kompak’ dalam menggaji Wajeeh Nuseibeh rata-rata sekitar Rp 45 ribu per bulan sehingga pendapatan resminya menjadi sebesar Rp 315 ribu dalam sebulan. Meski berpendapatan resmi cukup kecil, namun Nuseibeh bisa memperoleh pendapatan lebih besar, karena ia berhak memperoleh tambahan dari tip atau honornya sebagai pemandu bagi wisatawan/pengunjung gereja itu. Ladang zaitun yang luas milik keluarganya -yang menjadi sandaran hidup mereka, sudah musnah akibat perang, ketika Israel menjajah Yordania pada 1967.

Foto: Katherine Kiviat for TIME >>>>>

Nuseibeh mengaku memperoleh kepercayaan dari orang-orang Kristen dari sekter yeng berbeda itu, yang sudah berabad-abad dihinggapi kecurigaan dan kebencian antarsesama. “Kaum Kristen menilai aku netral,” katanya. Ia pun tegas menjawab ketika ada orang yang mempertanyakan ‘kadar’ ke-Islam-annya gara-gara menjadi juru kunci makam suci umat Kristiani itu. “Kami tidak fanatik. Kami menghormati kaum Kristen,” ujar Nuseibeh.

Sikap Nuseibeh adalah teladan yang sangat baik. Tak hanya untuk umat Islam atau Kristen, tapi seluruh umat manusia di muka bumi, bahkan mereka yang tidak beragama sekalipun. Dunia mesti dirawat, pesan damai harus selalu disemaikan seperti halnya kita bernafas.

Ketika saya tunjukkan tulisan di Koran Tempo, itu kepada seorang kiai di Surakarta, sang kiai yang juga aktivis kerukunan umat beriman itu justru menyodorkan contoh kerjasama Islam-Kristen lainnya. “Markas Bunda Theresa di Calcutta itu juga wakaf keluarga muslim, lho,” ujarnya.

Saya tersipu. Ternyata yang saya ketahui barulah salah satu contoh saja yang semula kuanggap berita besar. Tapi, saya tetap berusaha menenangkan diri, sambil menghibur hati sekadar untuk memanipulasi fakta cubluk ing pangertosan. “Coba kalau berita-berita semacam itu dipublikasikan secara massif, tentu aku tak bakal jadi korban ketidaktahuan,” gumamku, anglelipur ati.

Saya jadi teringat masa-masa pascakerusuhan Mei 1998 di Surakarta, ketika mengajak seorang kiai mengunjungi GKI Sangkrah, ngobrol ngalor-ngidul dengan beberapa remaja di gereja itu. Eh, ternyata responnya luar biasa. Beberapa hari berselang, sang kiai diminta tampil di mimbar gereja di hadapan jemaat seusai kebaktian. Sungguh peristiwa menyejukkan dan membahagiakan, sebab kebanyakan jemaat gereja itu adalah keturunan Tionghoa yang baru saja dianiaya, entah oleh kekuasaan apa. Rumah-rumah mereka dibakar, toko-toko mereka juga dijarah lalu dimusnahkan.

*Terima kasih pada Pdt. Mungki A. Sasmita, Amir Sidharta, Goenawan Mohamad, Trisno S. Sutanto, KH. M Dian Nafi’, dr. Sofyan Tan dan teman-teman Jaring, MADIA dan Teater Gidag-gidig

KehidupanAugust 11, 2006 7:22 am


Dua pemuda di Surakarta sedang mengisi formulir pendaftaran pasukan jihad Libanon/Palestina, Jumat (11/2) pagi

Seorang sahabat, sebut saja namanya Adjat. Hampir sepekan ia berada di Libanon, tepatnya di perbatasan negara itu dengan Israel. Kami sering bertukar kabar, bahkan frekwensinya jadi lebih tinggi dibanding ketika Adjat berada di Surakarta atau di Jakarta. Mungkin, dia bukan siapa-siapa bagi kita, terlebih bila kita mendudukkan posisinya sebagai pekerja. Tapi, semua kesaksian darinya bisa kita lihat di layar kaca televisi kita, sambil asyik mengunyah kacang atau menyeruput teh panas

Kita tegang menyaksikan kekerasan demi kekerasan yang dilakukan pasukan Israel di Libanon, termasuk serangan membabi buta yang tak hanya mengenai tentara musuhnya, namun termasuk menewaskan anak-anak dan perempuan sipil tak bersalah. Tapi, sang kawan -yang kutahu sudah kehilangan saraf takut itu sejak bertahun-tahun lalu, justru minta bercanda meminta kiriman makanan dari Indonesia.

Begini bunyi pesan yang dikirim Rabu, 9 Agustus pukul 22.19 WIB (sekitar pukul 7 malam waktu Beirut):

mungkin serangan israel akan lebih dahsyat malam ini, roket yg diluncurkan hisbullah hari ini menghajar kota kfar giladi di israel dan membunuh 12 orang. skrg aku lg istirahat dan berfikir….lho, aku kan blom kemasukan makanan dr tadi pagi…..kirim soto gading bisa?

Saya bingung menjawabnya. Mau kujawab serius, takut dianggap tak tahu diri atau tidak mau ‘menemani’, tapi kalau kujawab cengengesan, takutnya dituduh menganggap persoalan di sana tak serius. Repot memang. Akhirnya, aku berlagak bijak tapi memilih kalimat standar untuk membalasnya dengan menyatakan selalu berdoa untuk keselamatannya.

Adjat, memang akrab dengan perang -bahkan mungkin seperti kedekatan kita dengan keyboard komputer. Tapi, kadang-kadang saya merenung, mikir jero. Kenapa orang suka berperang, seperti halnya yang baru saja saya saksikan Jumat (11/8) pagi, ketika ratusan pemuda dan orang-orang berusia mendekati separuh baya, bersemangat ingin turut berperang di Libanon atau Palestina.

Saya tahu, keinginan mereka berperang tak lebih sekadar dilatari alasan emosional semata (entah karena dendam terhadap Israel), kendati beberapa dari mereka saya yakini didorong oleh panggilan jiwa dan semangat solidaritas seiman-seagama. Tapi, kenapa harus terlibat perang? Bukankah lebih baik melakukan ‘jihad’ kemanusiaan, misalnya menggalang dana untuk mensuplai obat-obatan, makanan dan pakaian bagi para korban perang?

Mungkin, mereka sudah imun dengan kekerasan. Atau, sebaliknya justru karena belum pernah mengalami perasaan tertekan yang mendalam seperti pengalaman Adjat di medan perang.

aku br pulang..(disortir)……penguburan. suasananya emosional banget. satu keluarga, ibu dan 4 anaknya meninggal. salah satunya hancur lan gosong segede fino(nama anak bontot Adjat, baru masuk Sekolah Dasar, bulan lalu), aku hampir nangis shootingnya….. moga2 kegilaan ini cepet selesai ya…. [Rabu, 9 Agustus pukul 22.19 WIB (sekitar pukul 7 malam waktu Beirut)]

Semoga, mereka mengurungkan niatnya untuk ikut berperang dan memilih jihad dalam bentuk yang lebih konkret dan bermanfaat, termasuk mencarikan solusi damai demi tata kehidupan lebih bermartabat pada masa yang akan datang.

STOP PERANG, HENTIKAN KEKERASAN!

KehidupanJuly 26, 2006 9:18 am

Kiat sebuah toko marmer di Surakarta, Jawa Tengah dalam menpromosikan produknya melalui spanduk ini bisa dibilang cerdik . Unik dan menggelitik, meski sedikit norak. Yang jelas, pilihan warna dan tipografinya eye catching. Apalagi, penempatannya agak strategis di proliman Banjarsari yang padat, dan bisa dilihat dari tiga arah utama.

Kata Kijing -yang padanan katanya adalah nisan- ditulis dengan ejaan lama, seolah menyiratkan pesan bahwa iklan itu ditujukan untuk kalangan usia di atas 40 tahun. Sementara kata ‘Ruwah’ yang berarti bulan Sya’ban dalam penanggalan Islam merujuk pada tradisi nyadran, yakni tradisi ziarah kubur ke makam leluhur dan keluarga, yang hingga kini masih dipegang teguh oleh kebanyakan masyarakat di sekitar Surakarta yang sinkretis.

Nyadran, kemungkinan adalah ‘modifikasi’ para wali ketika memperkenalkan agama Islam di tanah Jawa. Langkah itu ditempuh para wali, karena untuk melakukan persuasi yang efektif terhadap orang Jawa (agar mau mengenali dan masuk Islam) harus menggunakan strategi yang tepat dan mesti hati-hati. Maka, ketemulah formulanya. Karena kebanyakan orang Jawa masih menganut animisme yang mengagungkan arwah leluhurnya, maka simbol-simbol kematian harus diadaptasi sedemikian rupa. Hasilnya, adalah kompromi berupa penempatan nisan di atas mayat yang dikuburkan, sekaligus untuk penanda jatidiri si mayat agar generasi penerus sang mayat bisa mendatangi untuk mendoakan sang arwah sewaktu-waktu.

Kenapa Ruwah? Mungkin saja karena bulan itu mendekati Ramadhan, saat orang Islam harus bersuci dengan cara berpuasa, berpantang makan-minum dan mengendalikan hawa nafsu, baik dalam pengertian sekadar ritual makan-minum, ‘manajemen’ emosi dan amarah hingga perilaku seksual.

Maka, bukan hal aneh kalau tradisi nyadran sengaja dikaitkan dengan kewajiban berpuasa yang berpuncak pada hari kemenangan, yakni hari raya Idul Fitri.

Asal tahu saja, bagi sebagian masyarakat Jawa di perantauan, nyadran kerap diposisikan lebih tinggi dibanding hari lebaran. Apalagi, ketika kemudian tradisi mudik lebaran juga berarti masa perjuangan penuh risiko untuk bertemu dengan sanak-saudara, sebagian memilih pulang kampung saat nyadran. Pada saat-saat demikian, biasanya pula orang-orang Jawa di perantauan akan berusaha mengalokasikan anggaran untuk perbaikan batu nisan atau kompleks makam keluarga, terutama para leluhur yang dihormati.

Jadi, iklan Beli Kidjing Dapat Hadiah Kidjing bisa disebut sebagai strategi jitu pula dalam upaya menggaet konsumen. Si pemilik toko, rupanya mengerti betul tradisi dan psikologi kaum perantau Jawa yang hingga kini, pun masih banyak yang mewarisi tradisi sinkretis animisme-Islam itu…..

KehidupanJuly 23, 2006 6:34 am


Yang mengetam dan yang menyabit…

Derep yang kini kumengerti ternyata bukan derep seperti yang kukenal ketika masih kanak-kanak dulu. Adalah Mbok Mayang yang mengenalkan makna baru atas kata itu. Perempuan berusia paruh baya itu kutemui di sebuah sawah, di Desa Trangsan, Sukoharjo, sekitar 15 kilometer arah tenggara dari pusat kota Surakarta.

Sabtu (22/7) siang itu, bersama lima orang lainnya, Mbok Mayang ‘mengais’ rejeki di sawah. Berbekal tenggok dan ani-ani, mereka menyisir bulir-bulir padi yang terlewat dari sabitan para buruh tani, jengkal demi jengkal. Efisiensi, rupanya sudah menjadi kesadaran, bahkan kebutuhan bagi kaum pedesaan. Untuk menyingkat waktu, padi dipanen dengan cara ditebas memakai sabit.

Ani-ani atau ketam, sudah menjadi simbol kelas baru sekaligus penanda perubahan relasi sosial, yang dulu pernah diagungkan sebagai watak dasar bangsa. Kelas buruh tani, pun seolah terpecah lagi. Pemegang sabit adalah buruh upahan, sementara pemilik ketam adalah (maaf) pemulung! Prestasi penyabit dihargai Rp 6.000 untuk setiap 100 kilogram padi yang dihasilkan.


Ketam atau ani-ani

Bila masa panen tiba hampir berbarengan, seorang penyabit bisa memperoleh upah antara Rp 25 ribu hingga Rp 50 ribu setiap hari. Sementara mereka yang bersenjatakan ketam, hanya beroleh satu hingga dua kilogram beras untuk bekerja seharian, ditambah waktu untuk proses pengeringan dan menumbuk padi supaya berubah menjadi bulir-bulir beras. Hanya kuasa Tuhan-lah yang menyebabkan masih adanya padi yang luput dari tebasan sabit, sehingga masih ada harapan hidup bagi ‘pemulung’.

Aku jadi ingat masa kanak-kanak di desa. Dulu, setiap masa panen tiba, nenek mengirim sesaji untuk Dewi Sri di sawah yang disebut wiwit. Wiwit artinya memulai masa panen. Upacara yang biasanya diikuti belasan anak-anak (karena sesaji berupa nasi tumpeng kecil, jajan pasar, sayur gudhangan, telur rebus dan ingkung berupa seekor ayam bakar tanpa bumbu dibagi rata) berarti sebuah undangan. Biasanya, keesokan harinya akan ada belasan ibu-ibu yang terdiri para tetangga sudah turut nyawah bersama.

Mereka akan memanen dengan peralatan berupa ani-ani dan tenggok atau bakul selama sehari penuh. Mereka pula yang bergiliran mengangkut padi dari sawah sampai rumah. Biasanya, bila hasil panen sudah terkumpul di rumah, nenek akan membagi rata sekitar seperlimanya (biasa disebut bawon, semacam upah natura) untuk para tetangga yang ikut derep. Sebuah kebersamaan yang indah. Guyub yang berbuah pemerataan atas dasar solidaritas sosial.


Mengais harapan…..

Dan, ada konsensus yang tak bisa ditinggalkan, yakni melarang tetangga ikut derep akan dicap sebagai orang pelit, kikir. Para pelanggar konsensus sosial itu akan menuai hasil tragis: diasingkan bersama! Kalau sampai terjadi yang demikian, maka seseorang akan memanen sendirian sampai batas waktu yang tak terhingga. Atau meminta maaf secara terbuka untuk mengakhiri sanksi sosial.

KehidupanMay 22, 2006 8:04 am


Mbah Maridjan sedang diwawancarai belasan media, termasuk sejumlah stasiun televisi asing seperti CNN, ABC News, Reuters dan lain-lain

Kebanyakan orang sering salah kaprah menerjemahkan makna kata modern. Modernitas seolah-olah menjadi nilai akhir sebuah skala, dimana tradisionalitas diposisikan secara berlawanan. Dan, Mbah Maridjan adalah contoh menarik. Lelaki berusia 79 tahun itu diperintah Sultan Hamengkubuwono IX menjadi juru kunci Gunung Merapi. Karena posisinya itu, nama Maridjan lantas diidentikkan dengan klenik atau hal-hal mistis lainnya.

Karena terjebak pada citra, latar belakang pendidikan seseorang lantas seolah-olah menentukan status sosial, dan ujung-ujungnya, orang yang tak mengenyam pendidikan formal diposisikan sebagai orang terbelakang. Mbah Maridjan, tentu tak masuk dalam perkecualian, sehingga ia selalu dikalahkan oleh sosok-sosok yang memiliki atribut formal, baik yang berupa gelar kesarjanaan maupun strata jabatan dan kekuasaan.


Lava pijar meluncur sejauh hampir empat kilometer dari puncak Merapi, Senin 15 Mei 2005 pukul 05:03:07 WIB

Semakin berkuasa (secara politik maupun akademis) seseorang, maka ia cenderung memiliki hak untuk menentukan posisinya sendiri, yang tentu akan memilih lebih tinggi dibanding orang yang tak mengenyam pendidikan formal memadai. Ujungnya, orang cenderung meremehkan nilai-nilai tradisional yang diyakini sebagian kelompok masyarakat, betapapun sebenarnya nilai-nilai tradisi itu memiliki bobot kearifan lokal.

Mbah Maridjan, misalnya, pantang menyebut awan panas Merapi dengan nama wedhus gembel. Begitu pula dengan sebutan lainnya seperti mbledhos, njeblug dan sebagainya yang maknanya sama, yakni meletus. Gunung Merapi disebutnya dengan Eyang Merapi karena ia dianggap sebagai pusat kehidupan dan asal mula Pulau Jawa. Sementara aktivitas Merapi cukup disebutnya sebagai reaksi sang Eyang atas perilaku manusia yang hidup di sekitarnya.


Awan panas (wedhus gembel) meluncur ke arah Kali Boyong dan Kali Krasak pada Senin, 15 Mei 2006 pukul 05:53:10 WIB

Kearifan lokal semacam itulah yang disebut ngelmu, sebuah pengetahuan yang merujuk pada gabungan pengalaman empiris dan keyakinan mistis yang lantas mengendap menjadi pemahaman spiritual. “Kalau sekarang Eyang Merapi marah, tak lain karena banyak manusia terlalu rakus menumpuk kekayaan duniawi dengan merusak alam di sekitar Merapi. Dulu, ketika orang mengambil pasir Merapi sebatas untuk makan dan hidup layak, Eyang Merapi tidak marah,” ujar Maridjan.

“Lihat, apa yang terjadi kini? Karena kerakusan, orang mendatangkan banyak backhoe (alat berat sejenis escavator untuk mengeruk pasir) untuk memindahkan pasir berbagai luar kota, dari harga belasan ribu menjadi ratusan ribu. Pemerintah juga begitu, membiarkan perusakan alam terus berlangsung sehingga kini diperingatkan dengan bencana,” ujar Maridjan. Juru kunci Merapi itu yakin, masyarakat di daerah-daerah yang bebas penambangan pasir dengan alat berat akan selamat.

Sudah waktunya, pemerintah dan kaum terpelajar mulai belajar pada nilai-nilai dan kepercayaan lokal. Tidak harus menjadi klenik atau percaya mistik, namun cukup dengan kerelaan untuk menangkap pesan-pesan universal dari orang-orang semacam Mbah Maridjan, atau masyarakat di sekitar Merapi, yang meyakini Sang Eyang tidak akan berulah kalau tak disakiti.


Warga Belang, Desa Tlogolele, Kecamatan Selo, Boyolali sedang merawat tanaman di ladang. Meski hanya berjarak kurang dari tiga kilometer dari Merapi, 400-am warga di sana merasa tetap aman sehingga enggan mengungsi

Coba hitung, berapa miliar rupiah uang rakyat telah dikeluarkan untuk membiayai para pengungsi –juga untuk membiayai perjalanan rombongan Presiden dan Wakil Presiden yang melakukan peninjau lapangan ke lokasi-lokasi pengungsian di sekitar Merapi, sejak status Merapi ditetapkan dari waspada menjadi awas. (Jangan lupa, hitung pula ekses mobilisasi pengungsi seperti korupsi bahan makanan hingga pungutan liar para oknum petugas yang mengutip uang rokok kepada rombongan pers dan wisatawan lokal yang hendak melihat Merapi dari jarak lebih dekat dan harus melewati portal dan barikade aparat).

Mbah Maridjan telah memberi contoh menarik. Ia berterima kasih, Badan Penelitian dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian serta Badan Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Kegunungapian telah siaga dan memberi peringatan dini kepada publik sesuai kapasitas dan tanggung jawab keilmuan mereka. Namun, karena Merapi dianggapnya sebagai makhluk yang ‘hidup’, Maridjan juga mengajak banyak pihak untuk mengakrabi dan lebih bersahabat dengan Eyang Merapi. Caranya, ya itu tadi, jangan merusak alam di sekitar gunung berapi teraktif di dunia itu.

KehidupanMay 13, 2006 7:00 pm

Terhadap Gunung Merapi, siapapun harus awas. Meskipun ia ‘hanya’ berwujud gundukan tanah, namun geliatnya siap memakan korban. Salah satu calon ‘korban’ yang selamat adalah Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Stasiun Metro TV, selama dua hari melansir rencana Wakil Presiden mengumumkan status Gunung Merapi dari status ‘waspada’ menjadi ‘awas’ lewat running text. Masih menurut stasiun televisi milik Surya Paloh itu, disebutkan bahwa Kalla akan mengumumkan status baru itu pada Kamis (11/5) saat dirinya mengunjungi sejumlah pos pengungsian ‘calon korban potensial’ letusan Merapi di Sleman dan Magelang.


Foto diambil dari Deles, Klaten, Sabtu (13/5) pukul 18.34 WIB

Entah kenapa, Daeng Kalla tak jadi mengumumkan status baru itu, yang rencananya dilakukan di Pendopo Kabupaten Magelang. Sebab, kalau hal itu dilakukan, maka kewibawaan Jusuf Kalla beserta lembaga yang diwakilinya -Istana wakil Presiden, akan terkena getahnya. Sebab, keputusan status Merapi bukanlah keputusan politik, melainkan keputusan ilmiah yang mendasarkan pada situasi terakhir keadaan perut Merapi dengan rujukan fakta dan data akurat menyangkut isi ‘gundukan raksasa’ itu.

Untung, Daeng Kalla awas terhadap dampak keputusannya atas perubahan status Merapi. Jadi, dia tak jadi kecolongan. Sebab, ratusan ilmuwan (bahkan ribuan kaum intelektual di seluruh dunia) sedang memantau setiap gerak-gerik Merapi, apalagi sebagian dari mereka akan berkumpul di Yogyakarta untuk menggelar hajatan besar, memperingati 1.000 tahun letusan dahsyat Merapi, yang ketika itu, 1006, telah menelan korban sedikitnya 3.000 nyawa melayang sia-sia. Bukan tak mungkin, majalah National Geographic akan mengangkat isu Gunung Merapi sebagai laporan utamanya pada bulan-bulan itu.


Foto diambil dari Deles, Klaten, Sabtu (13/5) pukul 19.18 WIB

Saya geli ketika membaca running text di Metro TV itu dan berharap kesalahan semata-mata ‘berada pada pihak redaksi Metro TV‘ dibanding Istana Wakil Presiden. Sebab, kesan yang muncul, status bahaya Gunung Merapi bisa disejajarkan dengan kasus politik kenegaraan sehingga memerlukan keputusan politik untuk mengubah statusnya, bahkan melalui pernyataan resmi seorang wakil presiden. [Kadar geli itu hampir sejajar dengan peristiwa beberapa waktu silam, ketika Presiden Megawati Soekarnoputri diberitakan oleh banyak media massa akan menggelar sujud syukur (maaf, saya lupa peristiwa persisnya). Sebab, sepanjang yang saya tahum sujud syukur adalah ungkapan spontanitas atas rahmat Tuhan, bukan sesuatu yang direncanakan, apalagi diatur oleh sebuah aturan protokoler].

Daeng, selamat ya….. Kali kemarin, Anda tak kebablasan. Sebab kini Anda tahu, status AWAS untuk Merapi baru diumumkan pemilik otoritas ilmiah/akademisnya, pada Sabtu (13/5) pukul 8.30 WIB atau dua hari setelah kunjungan Anda ke lokasi pengungsian.

KehidupanMay 10, 2006 9:54 am

20 April 2006 adalah hari membahagiakan bagi seorang sahabat. Pada Kamis siang itu, ia resmi menikahi perempuan pujaannya, setelah dua tahun berpacaran dan separuh waktunya dihabiskan untuk menyetarakan frekwensi religiusitasnya. Keduanya sama-sama berproses. Yang lelaki, mencoba mengerti dan mengikuti spirit Kristiani pada kekasihnya, sebaliknya sang perempuan juga berusaha mengerti keyakinan pasangannya.

Singkat kata, keduanya menikah secara Islam, setelah beberapa pekan sebelumnya sang perempuan mengikrarkan diri menjadi muslimah. Selesai. Tak ada gejolak dalam keluarga sang perempuan. Kedua orangtua dan adiknya tetap seorang Kritiani yang taat, namun menerima paham Islam dalam keluarga mereka.

Tak ada yang aneh memang. Memilih Islam adalah pilihan. Tak ada paksaan dari calon suami. Bukan pula terpengaruh ‘intimidasi’ laskar-laskar Islam yang akhir-akhir ini cenderung ofensif menyerang pemeluk agama lain, termasuk mengharamkan pernikahan beda agama. Saya tahu betul, sahabat saya itu seorang apolitis, bukan pula penganut Kejawen. Kalaupun ada yang ‘mengalah’ dalam proses ‘penyatuan’ mereka, semata-mata dilandasi kerelaan demi perjuangan besar mereka: membentuk keluarga baru dengan tujuan dan harapan baru.

Dalam kebanyakan keluarga Jawa, mudah kita jumpai adanya perbedaan keyakinan dalam sebuah keluarga. Bukan hanya terdiri pemeluk Islam dan Kristen, tak jarang ada pula pemeluk Buddha di dalamnya. Meski harus diakui, jejak Jawanisasi Islam yang diwariskan para wali masih berpengaruh kuat, yang salah satu ‘ekses’-nya adalah muncul kesan seolah-olah ada dominasi Islam dalam keluarga demikian. Seperti terjadi pada setiap perayan Idu Fitri, yang Kristen dan Buddha pun mengunjungi keluarga muslim untuk bersilaturahmi. Ucapan selamat Natal, pun akan dilontarkan yang muslim pada setiap menjelang pergantian tahun.

Seperti terjadi saat mengantar sahabat yang hendak menikah itu, tanpa sadar terlihat adanya salib dan kaligrafi tergantung pada spion dalam mobil mempelai. Rupanya, dalam keluarga besar sahabat saya itu pun terdapat ‘populasi seimbang’, antara yang muslim dan Kristiani berjumlah sama empat-empat. Tak ada percekcokan, tak ada permusuhan.

Berpijak pada beberapa potret demikian, rasanya sulit menerima adanya permusuhan berdarah-darah seperti terjadi di Ambon, Poso dan beberapa daerah lain. Kebanyakan pemeluk Islam dan Kristen di Indonesia bukanlah kelompok masyarakat yang mengagungkan Perang Salib sepanjang masa, sehingga selalu menegakkan pedang untuk kemudian diayunkan demi ‘membela’ agama.

Saya yakin, wajah Islam yang sesungguhnya tidak sedemikan buruk karena brutalisme sebagian kecil kaum muslim (juga Kristen) di Indonesia lebih merupakan korban politisasi agama, entah oleh siapa. Kalau saja umat Islam Indonesia –yang mayoritas itu, mau meniru teladan Nabi Muhammad SAW seperti terlihat pada Piagam Madinah, mustahil konflik antarpemeluk agama bisa terjadi, apalagi sampai berkepanjangan.

KehidupanMay 2, 2006 8:39 am

Kewajiban belajar memang tak mengenal batas waktu. Begitu pun dengan sumber belajar yang tak pula terbatas. Sejak pagi hingga datang pagi pada esok hari, kita boleh terus belajar –asal kuat fisik dan mental. Cuma, jangan sekali pun Anda bernafsu menyekolahkan anak, keponakan, cucu, adik, atau apapun Anda menyebutnya, ke SMP yang satu ini. Walau buka 24 jam, ‘sekolah alam’ ini sama sekali tak cocok untuk keluarga Anda.

‘Sekolah alam’ yang menurut papan penunjuk disebut SMP 24 JAM tak lain adalah sekolah yang sesungguhnya, yang cocok dan hanya cocok untuk pemerhati lingkungan, peneliti sosial, aktivis lembaga swadaya masyarakat atau pejabat pemerintahan.

Di SMP 24 JAM ini, seorang pejabat pemerintah bisa menguji kecakapannya dalam berhitung. Misalnya, total pemasukan bulanan atas pungutan retribusi sebesar Rp 2.000 setiap truk berisi pasir atau batu kali yang melewati pos penjagaan, yang frekwensinya bahkan dua truk per menit! Dari angka rupiah tadi, bisa pula dijadikan dasar untuk mengutak-utik anggaran, misalnya berapa biaya yang harus dialokasikan untuk perbaikan aspal dan sebagainya. (Tentu saja, ukuran kemahiran berhitung tetap akan ditentukan oleh kepandaian menyulap angka dalam pembukuan dan menyelipkan sebagian angka ke dalam buku tabungan, dan lolos dari penelusuran petugas PPATK)

Bagi pemerhati lingkungan, peneliti atau NGO-wan/NGO-wati, menghitung jumlah pasir yang diangkut sekian ratus atau ribuan truk per hari bisa melahirkan banyak gagasan baru nan kreatif. Misalnya, bisa dijadikan bahan untuk menggertak pemerintah agar mengalokasikan sebagian dana untuk perbaikan tingkat kesehatan masyarakat di sepanjang jalan yang dilalui truk-truk pengangkut pasir, sebab debu tebal terus beterbangan menyelusup melalui mulut, hidung lalu ke paru-paru dari pagi hingga pagi kembali. (Saya yakin, banyak pejabat lebih suka mencari keuntungan pribadi daripada berbuat baik untuk rakyatnya, meski tak perlu mengeluarkan dana dari saku pribadi)

Namun, kerusakan lingkungan yang berdampak pada ketidakseimbangan ekologis bisa pula dimanfaatkan sebagai senjata bagi banyak pihak (tak peduli aparat negara, peneliti maupun aktivis Lembaga Sedot Money, atau kolaborasi antarmereka) untuk memupuk keuntungan pribadi (dan kelompok). Tentu, banyak cara bisa dipilih, termasuk menggedor para cukong pemilik alat-alat berat di lokasi penambangan untuk sekadar ‘berbagi keuntungan’.

Tanpa mengurangi rasa hormat penulis kepada banyak pihak dalam kategori yang sudah saya sebut di atas, ada baiknya kalau ‘geliat’ Gunung Merapi kali ini dijadikan sebagai momentum untuk menebar kebajikan. Pasir dan bebatuan yang disediakan alam sebanyak 1,2 juta meter kubik per tahun, tentu sudah mendatangkan banyak keuntungan (tak usah jauh-jauh membandingkan pendapatan dan manfaat yang diperoleh para sopir truk, kernet, tukang bongkar-muat beserta keluarganya, sebab mereka benar-benar memeras keringat untuk memperolehnya).

Tapi, bagaimana nasib anak-anak di sekitar lokasi penambangan dan di sepanjang jalan yang telah menjadi korban debu beterbangan? Ketika berangkat sekolah, mereka sudah dipaksa menghirup debu dengan beragam partikel yang dikandungnya. Begitu pula saat mereka pulang sekolah. Adakah yang peduli dengan kondisi kesehatan ibu-ibu yang sedang menyusui, sementara bagi di gendongan pun turut menghisap udara yang penuh kotoran?

Gunung Merapi dan penambangan pasir Kali Woro adalah guru, yang selama 24 jam penuh mengajarkan kepada kita agar selalu berkaca, berpikir dan berbuat, untuk orang lain dan untuk masa depan peradaban. Sekali-kali, jangan salah membaca! Penambangan yang beroperasi selama 24 jam nonstop berarti pelajaran yang tak pernah jemu menggedor nurani dan akal sehat kita.

KehidupanMay 1, 2006 9:57 am

Hari-hari menjelang bahaya Gunung Merapi adalah hari-hari pusing pagi aparat pemerintah daerah dan relawan di sekitar gunung yang sedang menggeliat itu. Sementara, dibanding Magelang, Sleman dan Boyolali, Klaten termasuk yang sukses mengurus warganya. Meski semua sama-sama percaya klenik — tahayul bahwa letusan Merapi tak akan terjadi tanpa wangsit sebelumnya, namun warga sekitar Deles, Kecamatan Kemalang lebih siap dan rela mengungsi barang beberapa hari.

Tapi, yang namanya masalah tetap saja menjadi problem (upfff!, ya sudah jelas!). Orang-orang gunung, yang memang akrab dengan alam berikut tanda-tanda alam, selalu diliputi kecemasan ketika dipaksa harus menganggur -dalam pengertian hanya disuruh duduk, makan, tidur dan seterusnya selama berhari-hari- hanya menunggu kabar yang belum pasti, kapan Merapi nakal memuntahkan amarah.

Mereka bukan semata bete lantaran tak lagi bisa pergi merumput hingga jauh ke arah lereng gunung, lebih dari itu, mereka diliputi rasa cemas, kalau-kalau harta benda miliknya (termasuk ternak lembu kesayangannya) dijarah orang-orang jahil. Pengalaman petaka Merapi pada 1994, misalnya, membuat warga Dusun Belang, desa terakhir di sekitar Tlogolele, Selo, Boyolali, yang hanya berjarak ’sepelemparan batu’ dengan punggung Merapi, harus berhati-hati sebelum memutuskan mengungsi.

Pasalnya, mengiringi amuk Merapi tahun itu, mereka hanya menjumpai puluhan kepala sapi berikut kaki-kaki yang berserakan sepulang dari pengungsian. Sedang bagian tubuh yang berdaging sudah dibawa lari entah kemana, oleh ‘maling tiban’, gerombolan pencuri sapi yang merangkap profesi sebagai jagal dan pedagang daging.

Namun, satu hal yang hampir luput dari perhatian banyak pihak adalah soal nasib pendidikan anak-anak di pengungsian. Di Klaten, ratusan murid dari tiga sekolah yang daerahnya rawan harus digabung dengan murid di lokasi penampungan. Padahal, ruang kelas SD di lokasi pengungsian justru berubah fungsi menjadi barak. Alhasil, mereka pun sama-sama mengungsi ke rumah-rumah penduduk, belajar secara lesehan dan para guru pun bergantian mengajar.

KehidupanApril 20, 2006 2:35 am

Usai berkeliling mengunjungi sejumlah tempat di lereng Gunung Merapi -sekitar Cangkringan-Sleman dan Dukun-Magelang, Rabu (19/4) siang, Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah singgah di Selo, Boyolali. Panjang lebar ia bercerita mengenai rencana penanganan para korban bila Merapi benar-benar meletus. Cuma, Pak Menteri tak bisa menjawab ketika ditanya soal nasib 3.000 lebih warga dua desa di sekitar obyek wisata Deles, Klaten.


Bendera PMI yang menjadi penanda titik kumpul warga Desa Deles, Klaten, rupanya menarik perhatian bagi seorang bocah, sehingga ia memperlakukannya sebagai barang mainan yang mengasyikkan

Terletak di lereng selatan Merapi, desa tertinggi berada empat kilometer di bawah Merapi. Di desa ini, bahkan terdapat satu dusun kecil yang dihuni 24 jiwa, yang untuk keluar dusun saja memerlukan waktu satu jam untuk menyusuri jalan setapak. Tak ada akses jalan sama sekali, apalagi alat transportasi. Rupanya, dua desa di Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten ini belum masuk ‘agenda’ alias daerah yang harus diperhitungkan oleh pemerintah, walaupun sejumlah penduduk di sana mengaku sudah beberapa kali melihat lelehan lava, dan selalu berjaga semalaman secara bergantian, sejak senja tiba.


Di kala senggang, warga memanfaatkan waktu untuk bersantai. Tak ada kecemasan terhadap perkembangan Gunung Merapi

Demi kemanusian, berbagai langkah harus dilakukan untuk menekan potensi kerugian harta benda dan jumlah korban manusia. Sebab, otoritas Merapi pun rupanya tak bisa memprediksi, ke mana arah dampak letusan berupa lahar bakal mengalir… Kalau menyimak banyaknya lokasi penambangan dengan frekwensi pengambilan pasir dan batu sebanyak satu truk per menit, tak diragukan lagi bahwa wilayah itu memiliki potensi aliran lava dan lahar dingin yang disemburkan Merapi. Sementara di Deles, Klaten, jalan aspal -dan satu-satunya akses transportasi- selebar 10 meter rusak parah, sepanjang hampir empat kilometer. Evakuasi korban akan sulit dilakukan kalau muntahan Merapi mengarah ke selatan.


Seorang jurnalis televisi sibuk mengumpulkan stok gambar di sebuah pos ronda yang oleh orang iseng disebut sebagai Produk Gagal. Entah, apa maksud pesan yang disampaikan si pembuat grafiti usil itu

Untung belum terlambat. Setelah mengaku belum tahu-menahu situasi dan kondisi geografis dan demografis wilayah itu, Pak Menteri berjanji segera menyambangi Deles seusai dari kunjungan ke Boyolali. Sehingga, pemerintah setempat bisa memperbaiki jalan yang dirusak oleh truk-truk pengangkut pasir di sana, sementara pemasukan daerah dari sektor pertambangan jenis ini cukup besar. Jadi, warga tak jadi korban sia-sia andai Merapi benar-benar jadi marah.

KehidupanApril 6, 2006 8:29 am

Tingkah laku kaum bangsawan dan kalangan the have selalu menarik perhatian orang kebanyakan –termasuk penulis. Peristiwa yang sesungguhnya (mungkin saja) wajar bagi kelompok mereka, bisa menjadi lucu atau aneh bagi kelompok yang lain. Yang sudah pasti dan banyak bukti, perilaku kaum the have memiliki kontribusi besar secara psikologis, terhadap mayoritas manusia penghuni planet bumi.

Ada banyak contoh di sekitar kita. Gosip skandal asmara seorang artis yang dibeber melalui tabloid hiburan atau program entertainment di semua saluran televisi, misalnya, membuat banyak orang bisa melepas penat akibat sulitnya mengais rejeki untuk menyambung hidup. Orang jadi terhibur, sehingga kulit wajah tak mudah berkerut. Penuaan dini kaum jelata bisa dihambat oleh tontonan perilaku selebritis –entah itu artis sinetron, penyanyi dangdut atau pejabat (re-)publik.

Peran menghibur yang tak kalah dahsyatnya dibanding skandal asmara para artis, juga sudah ditunjukkan dengan sempurna oleh Krisnina Maharani, istri mantan Ketua DPR Akbar Tandjung. Tak kurang dari 100 ibu-ibu –termasuk Ibu Megawati, didatangkannya dari Jakarta. Mereka (terdiri atas para istri pejabat, pengusaha dan istri diplomat) menyesaki restoran Roemahkoe, miliknya di Surakarta, Rabu (5/4) malam. Dalam keterangan pers sehari sebelumnya, Nina menyebut mereka ingin berwisata ke Laweyan, pusat kerajinan batik yang pernah menjadi simbol kejayaan pengusaha pribumi pada awal abad XX.

Untung, Menteri Pariwisata Jero Wacik buka kartu. Rupanya, acara pesta malam itu dalam rangka ulang tahun Nina, yang kelahiran Surakarta, 46 tahun lalu. Makanya, sebelum acara pelesiran dimulai, mereka dijamu dengan pesta meriah dengan aneka menu tradisional, khas Surakarta. Untuk melengkapi pelesiran, karena para ibu-ibu itu mau mengunjungi sejumlah rumah usaha batik, Nina membagikan buku sejarah yang diterbitkan yayasannya (dan di-launching malam itu pula), yang berjudul Mbok Mase: Pengusaha Batik di Laweyan Solo Awal Abad 20.

Dalam sambutannya yang sangat datar, Nina menunjukkan rasa bangganya bisa menerbitkan buku karangan Soedarmono, sejarawan Universitas Sebelas Maret Surakarta itu. Dengan buku itu, ia mengaku ingin memberi kontribusi pengetahuan yang bermanfaat bagi generasi mendatang. Tentu, cita-cita mulia semacam itu harus diberi apresiasi. Setidaknya, turut membesarkan hatinya karena menandai ulang tahunnya secara lebih bermutu.

Namun sayang, Ibu Nina lupa kalau penerbitan buku itu terkesan ‘keburu nafsu’ sehingga kontribusi kepada generasi mendatang bisa berarti mengajarkan keteledoran. Salah cetaknya terlalu banyak, penggalan katanya serampangan, bahkan untuk penulisan abad pada judul buku pun menjadi sangat kelihatan ngawurnya, padahal buku itu diangkat dari tesis program master Soedarmono di Universitas Gadjah Mada.

Jangan-jangan, anggaran alokasi dana pesta lebih besar dari alokasi biaya penerbitan buku, sehingga Ibu Nina telanjur kehabisan dana untuk membayar penyunting dan ahli bahasa untuk menyempurnakan ‘kontribusi’-nya.

Coba tanyakan contoh pertanyaan berikut kepada anak Ibu Nina (yang dulu , kata koran-koran, ngaku pernah malu karena nama ayahnya ditulis dalam buku karangan Nurlaila):

Anakku, lingkari huruf di depan jawaban yang benar (boleh lebih dari satu):
a.Abad 20
b.Abad XX
c.Abad ke-20
d.Abad ke-XX
e.Semua benar
f.Semua salah

Selamat mengerjakan pekerjaan rumah!

KehidupanApril 3, 2006 9:05 am

Menjadi pemulung adalah nasib. Dan, kata hadits, nasib bisa diubah dengan usaha. Ikhtiar. Mungkin, dalam kerangka mengubah nasib itulah, Bapak Tua yang kebetulan bernasib menjadi pemulung mencoba belajar. Selama setengah jam lebih, ia tekun menyimak kata demi kata yang meluncur dari mulut sejumlah wakil demonstran, yang berteriak lantang dari atas truk di Bundaran Gladag, Surakarta, Jumat (24/3) sore.

Ungkapan bernada nasionalistis, deras meluncur dari mulut orator yang silih berganti. Mereka sedang berbagi peran, membangun kesan (eh, maksudnya image building), supaya kuat kesan bahwa tuntutan mereka menolak kehadiran ExxonMobil sebagai pengelola Blok Cepu cukup beralasan dan didukung banyak pihak.

Sebagai orang yang terpinggirkan, Bapak Tua bernasib menjadi pemulung, itu pasti bangga. Generasi seusia anak-cucunya silih berganti memaki penguasa, karena menggadaikan Pasal 33 UUD 1945. Setidaknya, Bapak Tua itu bisa bernapas lega karena kini ia bisa punya harapan. Minimal anak-cucunya, kelak tak bernasib serupa dirinya, yang harus berjalan menyusuri penjuru kota, mendatangi pusat keramaian sambil berharap ada berkah meski berupa koran bekas alas duduk para demonstran, atau kemasan kosong air mineral yang telah ludes ditenggak orator yang sering kehausan. Sang Tua Pemulung tentu tak tahu asal-usul hitungan, bahwa dalam sebulan, operasi Blok Cepu bisa menambal kocek dua kabupaten dan dua provinsi yang berbatasan di sekitar Blok Cepu, hingga sedikitnya Rp 11 miliar dalam sebulan.

Harapan yang pasti segera mewujud hari itu, adalah banyaknya botol bekas air kemasan yang bisa dipungut untuk kemudian ditukar dengan sejumlah uang. Sebab tak jauh dari tempatnya berdiri mematung, bakal berserakan pula kardus bekas dan botol-botol bekas. Apalagi, hari itu puluhan jurnalis memperoleh perlakuan istimewa -meski meninggalkan rasa penasaran, karena liputan hari itu, mereka disuguhi beragam makanan ringan berikut air teh dalam kemasan, dan konferensi pers digelar di bawah tenda pesta yang mewah, yang didirikan secara paksa di tengah-tengah jalan raya.

Bapak Tua Pemulung itu pasti heran, karena ratusan orang bisa dan mau dengan sukarela berpanas-panas ‘membela’ nasib orang-orang kecil seperti dia. Rasa yang sama, tentu juga dialami para jurnalis peliput perjuangan para demonstran: Tumben, liputan unjuk rasa diberi hidangan istimewa. Jangan-jangan, demonstrasi para santri, pun sudah mengenal penggalangan dana dari donatur dan funding?!? Entah. Hanya Allah yang tahu.

KehidupanMarch 18, 2006 6:20 am

Air virtual kurang lebih diartikan sebagai jumlah air yang dibutuhkan untuk memproduksi bahan makanan, seperti padi, sayur-sayuran, buah-buahan dan sebagainya, sejak pembibitan hingga dipanen untuk kemudian dikonsumsi. Hitung-hitungan para ahli tanaman itu, kini digunakan sebagai acuan para kapitalis pedagang air dunia untuk lebih memberi nilai pada air.


Petani di Andong, Boyolali, ini berpikir bahwa hanya dengan bercocok tanam pada, keluarga mereka bisa makan, meski para ahli tanaman menganggap perilaku bertani itu sama saja dengan tindakan mengekploitasi air

Kesimpulannya, tanaman pangan rata-rata menyerap air jauh lebih banyak daripada kebutuhan manusia untuk hidup sehari-hari, seperti untuk minum maupun keperluan mandi dan sanitasi. Mendasarkan pada menipisnya cadangan air dunia, kini banyak orang beramai-ramai memikirkan bagaimana usaha menghemat air. Sebuah pemikiran mulia andaikata kaum miskin dan orang tak berpunya benar-benar terbukti telah diposisikan sebagai pihak yang harus memperoleh prioritas pertama.

Yang umum terjadi, para pedagang air dunia telah berkolusi dengan lintah darat berwajah malaikat seperi IMF, World Bank, ADB dan sebagainya. Lembaga-lembaga ini, lebih sering menempatkan diri sebagai fasilitator para mafia air terutama di negara-negara sedang berkembang. Utang digelontorkan terus ke PDAM-PDAM tanpa melalui pertimbangan potensi dan kemampuan membayar utangnya. Targetnya, bila utang itu kemudian default, maka masuklah para mafia air untuk mengakuisisi PDAM.

Simak saja perdebatan yang muncul dalam 4th World Water Forum di Mexico, 16-22 Maret ini. Pasti, pemikiran mantan bos IMF Michel Camdessus akan mendominasi agenda konferensi yang dipenuhi para broker, lintah darat hingga boneka-boneka kapitalis seperti para menteri urusan air. Camdessus Paper yang diperkenalkan sejak konferensi serupa di Kyoto, 2003, antara lain berisi skema pembiayaan (dengan utang) dalam rangka ‘pengaturan’ distribusi air.

KehidupanMarch 15, 2006 4:52 am

Dunia anak-anak adalah dunia bermain. Untuk belajar pun, tak seharusnya orang tua memaksa, supaya belajar tidak menjadi beban/kewajiban. Biarkan mereka tumbuh sesuai fase perkembangan kejiwaannya. Munculnya berita anak lari dari rumah, ingin mencari kebebasan -bahkan dengan menjadi gelandangan atau pengamen cilik- sesungguhnya banyak dipicu masih adanya pemaksaan kehendak orang tua untuk merekayasa masa depan anak-anaknya. Biarkan mereka tumbuh secara alamiah….. STOP kekerasan terhadap anak!

KehidupanMarch 3, 2006 10:24 am

Ratusan pedagang Pasar Gede Solo menyelengarakan kenduri untuk meminta keselamatan dan kemurahan rejeki. Upacara selamatan itu sekaligus menandai ulang tahun ke-76 pasar yang dulu bernama Pasar Hardjonagoro itu. Pasar itu dibuat pada 1930 semasa pemerintahan Pakubuwono X dengan arsitek Thomas Karsten. Sejak berdiri, pasar itu telah mengalami dua kali kebakaran. Pertama, pada 1949 sengaja dibakar oleh para Republiken untuk mencegah penguasaan kota oleh Belanda yang ingin kembali berkuasa . Sedang kebakaran kedua, pada 1999, sempat memunculkan beragam spekulasi, termasuk kemungkinan unsur kesengajaan demi sebuah proyek. Wallahua’lam

KehidupanFebruary 23, 2006 10:01 am


Babakan Ciwaringin, Cirebon, 8 Oktober 2004

Menganyam tali kasih, mungkin merupakan hal biasa bagi manusia-manusia gaul. Tapi bagi komunitas santri, apalagi yang mendalami ilmu agama di pondok-pondok salafy, berduaan bukanlah peristiwa mudah. Ada banyak kaidah fiqh yang mesti dijadikan rujukan dan bahan pertimbangan. Beruntung, kedua sejoli itu sudah terbebas dari segala dalil yang membatasi mereka berduaan. Ada banyak orang di sekitar mereka. Selamatlah mereka di dunia dan akhirat. Amin

KehidupanFebruary 14, 2006 10:45 am

Ratusan warga Desa Pancot, Karanganyar, Jawa Tengah melakukan ritual tahunan Suryo Jawi, berupa ruwatan untuk kuda tunggangan di Taman Balekambang, Tawangmangu, Selasa siang, 14 Pebruari 2006. Ruwatan itu diperuntukkan bagi sedikitnya 120 kuda yang biasa digunakan sebagai sarana transportasi wisata di Tawangmangu yang terletak di lereng Gunung Lawu. Ruwatan itu dilakukan setiap bulan Suro atau Muharram dalam kalender Islam, yang bermakna memohon kecukupan rejeki dan kesehatan, baik untuk si kuda maupun pemiliknya.

Meski sebagai peristiwa bisa dinikmati, prosesi ritual itu bagai api yang membara dalam sekam. Keinginan Pemerintah Kabupaten Karanganyar cukup mulia. Untuk mendongkrak kesejahteraan masyarakat dan pemasukan daerah melalui event wisata, pemerintah mendorong dihidupkannya kembali kekayaan budaya subkultur yang memang sangat beragam. Ada perayaan Dhukutan, Wahyu Kliyu dan banyak lagi yang sengaja dipromosikan sebagai event tetap.

Anehnya, ada sekelompok penganut paham keagamaan tertentu yang menganggap kebijakan itu sebagai tindakan yang mendukung praktik syiri’, sinkretis dan sebagainya, sehingga mereka menggunakan caranya sendiri, tentu atas nama agama, untuk menentang dan menggagalkan. Anehnya, cara yang ditempuh tidak berbudaya, bahkan cenderung mengandalkan kekuatan fisik dan massa.

KehidupanFebruary 8, 2006 6:58 am

Prinsip umum pelaku seni tradisi: tak ada penonton, anjing pun jadi…..

Kehidupan 5:18 am

Bagi delapan keluarga (56 jiwa) penduduk Dusun Tegalsari, Desa Kayen, Kecamatan Juwangi, Boyolali, Jawa Tengah, sumur masih merupakan barang mewah. Pada musim penghujan, mereka mengandalkan sungai kecil yang selalu mengalirkan air jernih. Tapi, ketika musim kemarau tiba, sungai mengering.

Beruntung, dasar sungai itu masih memungkinkan digali lagi. Maka, warga di sana membuat cekungan-cekungan kecil untuk menampung rembesan air permukaan yang tak seberapa. Dalam satu jam, air jernih yang tersaring alamiah oleh batuan kapur akan terkumpul hingga 25 liter. Dari rembesan itu, mereka bisa memasak dan minum secukupnya. Cuma, untuk urusan mandi, mereka masih sanggup bertahan hingga dua hari tanpa guyuran air jernih nan mahal itu.

Boleh jadi, mereka akan marah bila kelak, tahu bila Si Emas Biru sudah mulai diperdagangkan, menyusul diberlakukannya Undang-undang tentang Sumber Daya Air yang memang memandang air sebagai komoditas baru yang boleh diperdagangkan. Ironis! Sebab tak jauh dari tempat tinggal mereka, air selalu menggenang di Waduk Kedungombo.

KehidupanFebruary 6, 2006 4:32 am

Sajadah. Dialah salah satu dari sedikit yang tersisa dalam bencana tanah longsor di Desa Sijeruk, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, 4 Januari lalu. Hanya 15 meter dari sajadah, sedikitnya 40 orang terkubur hidup-hidup saat menjalankan shalat subuh. 75 orang dinyatakan mati sia-sia akibat tebing curam menggelontorkan tanahnya ke pemukiman warga di lembah

Kehidupan 4:22 am

Ratusan abdi dalem Puro Mangkunegaran, Surakarta melakukan kirab mengeliling kompleks kerajaan itu di Solo, Jawa Tengah, Senin malam, 30 Januari 2006. Terdapat dalam kotak yang ditandu adalah rompi kebesaran Pangeran Sambernyawa alias Raden Mas Said, pendiri Puro Mangkunegaran yang bergelar Mangkunegara I (1757-1795).

Kehidupan 4:13 am

Seorang anak menjerit ketakutan ketika boneka kodok menghampiri. Kodok lucu yang selalu muncul saat perayaan Imlek. Banyak orang, tak terbatas pada komunitas keturunan China, berebut tempat untuk bisa memberikan angpau kepada sang kodok (juga boneka naga), sebagai lambang kedermawanan dan pengharapan akan limpahan rejeki di kemudian hari

KehidupanJanuary 30, 2006 9:31 am

Kerbau Bule adalah sebutan untuk kerbau berwarna albino koleksi Kraton Surakarta Hadiningrat. Sebagian masyarakat menganggapnya sebagai hewan keramat, sehingga memperlakukan kerbau-kerbau itu melebihi manusia. Pada malam 1 Syura (1 Suro) dalam penanggalan Islam, kerbau dan sejumlah pusaka koleksi kerajaan diarak mengelilingi kompleks kraton.

Sebagian masyarakat, bahkan rela berebut kotoran (tinja) yang dibuang soleh sang kerbau karena dianggap bertuah. Kotoran itu, konon, bisa dijadikan obat bagi penderita sakit, bahkan dianggap bisa mendatangkah berkah penglarisan bagi para pedagang tradisional. Karena dikeramatkan pula, kerajaan mengangkat abdi dalem yang khusus menangani si kerbau. Tentu, menjadi pawang kerbau keramat juga menimbulkan kebanggan tersendiri bagi abdi dalem. Tak aneh, seorang abdi dalem rela menciumi si kerbau.

Kehidupan 9:07 am

Kehadiran stoomwals di pedesaan menjadi pusat perhatian anak-anak. Kendati menjadikan alat pengeras jalan itu sebagai obyek bermain, kehadiran ’sarana perubahan’ itu juga bisa memicu semangat belajar anak-anak, setidaknya bisa menerbitkan cita-cita untuk menjadi tukang insinyur!

KehidupanJanuary 29, 2006 2:20 pm

Seorang nenek harus melakukan antri untuk memperoleh santunan dari negara. Sebuah perjuangan panjang untuk memperoleh ‘daya hidup’ yang hanya Rp 100 ribu per bulan. Semoga, beliau masih sanggup menjadi pemain sandiwara bernama proyek belas kasih penguasa kepada si miskin, pada tahap pencairan keempatnya.

Kehidupan 2:15 pm

Bekal Meja untuk Sekolah…..

Jauh dari kota tak lantas menyurutkan niat warga Desa Kendel, Kecamatan Kemusu, dalam urusan menuntut ilmu. Hampir seluruh penduduk di pelosok desa –tak jauh dari genangan Waduk Kedungombo, itu memiliki tingkat pendidikan memadai. Setidaknya, orang-orang di sana malu bila ada anggota keluarga yang tak tamat Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA).

Spirit agama –yang mewajibkan setiap manusia menuntut ilmu, rupanya menjadi faktor penentu keberhasilan pendidikan di desa itu, sehinggaseluruh warganya bebas buta huruf. Orang boleh saja sinis dengan menyebut penduduk wilayah Boyolali, Jawa Tengah itu primordial –lantaran menempuh jenjang pendidikan dasar dan menengah di Madrasah Ibtidaiyah (MI, setingkat SD) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs, setingkat SLTP) milik Nahdlatul Ulama di desa. Atau mengaitkan dengan kenyataan tak ‘lakunya’ dua sekolah dasar negeri yang ada di sana, sehingga nyaris gulung tikar lantaran kekurangan murid.

Ironis memang. Bangunan MI “Ma’arif” yang didirikan pada 1969 itu kian rapuh mengikuti usia. Ketiadaan dana, baik yang berasal dari Nahdlatul Ulama sebagai induk organisasinya maupun Departemen Agama yang membawahkannya, membuat gedungnya nyaris runtuh. Beberapa ruangan, bahkan harus disekat dengan papan untuk menampung 140 siswa-siswi dari Kelas I hingga Kelas VI. Untung, keceriaan selalu mewarnai kelas-kelas kumuh mereka, kendati sebagian mesti belajar di masjid, membawa meja sendiri pula………..

KehidupanJanuary 27, 2006 10:28 am

Subuh yang menyiratkan amarah (Banjarnegara, Jan 5, 2006)