KehidupanJanuary 11, 2008 9:49 am

Becak, bisa menjadi simbol kegagalan sekaligus potret kegigihan seseorang dalam berjuang memperpanjang hidup. Bagi kaum yang lebih beruntung, becak juga bisa jadi sarana rekreasi menikmati suasana kota, meski tak jarang justru memancing rasa curiga. Surakarta punya banyak cerita….

Seorang teman menuliskan pengalamannya di koran tempat dia bekerja. Ditulis teman itu, di Surakarta dan Semarang, para penarik becak bisa jadi pemandu wisata kelamin. “Mau cari selimut, Pak?” kata penarik becak yang –saya yakin- ditumpangi oleh teman tadi. Selimut yang dimaksud adalah kiasan, yakni seseorang yang bisa menghangatkan suasana di kamar.

Di Surakarta, sejumlah tukang becak yang kebetulan satu tongkrongan dengan saya sering diledek dengan sebutan penghulu. Bila mentari tenggelam, para penarik becak itu cenderung ogah-ogahan narik penumpang kebanyakan, kecuali sudah kenal. Sebagian dari mereka lebih memilih menunggu kedatangan lelaki yang menginap di hotel, tak jauh tempat mangkal mereka.

Ya, dari para tamu khusus itu, mereka berharap dapat uang berlipat dibanding membawa penumpang baik-baik. Mereka tangkas menghampiri tamu hotel, lalu menawarkan diri mencari pendamping sesaat. Bila kemudian mereka tampak bergegas menginjak pedal becak, berarti sudah terjadi kesepakatan harga dan kriteria selimut dengan sang tamu.

Kata salah seorang dari ‘penghulu’ itu, dari satu selimut, ia akan memperoleh fee setidaknya Rp 25 ribu. Dan, kalau lagi ‘beruntung’, ia bisa ‘mengawinkan’ lima orang dalam semalam. Paling sial, satu pasangan terkawinkan sudah cukup.

Tapi, kalau kebetulan Anda penggemar selimut demikian, hati-hatilah bila ‘berbelanja’ di Surakarta. Terlebih bila Anda mengandalkan para penghulu partikelir itu. Tak jarang, mereka mengambil sekenanya. Bahkan, perempuan kebanyakan yang tak hirau dengan hygiene pun didandani secantik mungkin lalu dibumbui dengan parfum ala kadarnya. Yang penting bisa mendongkrak harga. Malah, di Surakarta ada istilah RENDAN, alias kere dandan!

Tapi, percayalah. Tak semua pengemudi becak berkelakuan seperti para ‘penghulu’ itu. Banyak yang baik, seperti Perry! Sopir becak yang biasa mangkal di sekitar Monumen Pers itu bisa memijat. Pijatannya juga lumayan enak, selain tahu banyak ‘rumus urat’. Sambil wedangan menikmati jahe panas atau the tape, kita bisa memintanya memijat dengan upah Rp 20.000.

Beda Surakarta, beda pula di Jepara. Saat kedatangan atau keberangkatan KM Muria yang melayani rute Jepara-Karimunjawa –dua kali dalam sepekan, puluhan becak hilir mudik hingga ke ujung dermaga. Orang Karimunjawa banyak belanja di Jepara. Karena jumlah belanjaannya sangat banyak karena untuk persediaan berhari-hari, maka jasa becak diperlukan untuk mengangkutnya. Sebaliknya, dari Karimunjawa, banyak orang membawa kelapa untuk dijual di kota.

Tapi, nasib mereka tetap tak selalu baik. Kadang banyak penumpang datang tanpa tentengan, apalagi belanjaan. Dengan demikian, tak banyak rupiah yang bisa diharap dari para pengguna jasanya. Di kota yang nyaris sepi pelancong seperti Jepara, becak hanya hilir mudik menyusuri kota tanpa penumpang. Mendapat rejeki Rp 15 ribu saja sudah bagus dalam sehari. Apalagi, tak ada ‘sambilan’ pekerjaan seperti rekan-rekan mereka di Surakarta atau Semarang.

Tapi, status ekonomi dan profesi mereka tetap mulia. Setidaknya, ‘kegagalan’ hidup mereka bisa jadi tempat berkaca. Seperti dilakukan oleh ibu teman saya. Belum lama ini, si ibu membeli sebuah becak dan ditaruh di ‘garasi’ rumahnya. Saat anak-cucunya ngumpul, mereka asyik becak-becakan keliling kampung. Padahal, seluruh anaknya lumayan sukses secara ekonomi. Ada yang bekerja mapan di Hongkong, ada yang jadi pimpinan perwakilan perusahaan Amerika di Jakarta, ada pula yang sukses membuka usaha rias pengantin.

“Saya cuma ingin ngajari anak-cucu. Hidup itu berat, tapi kalau tak mau berusaha, pasti akan sia-sia. Becak saya beli untuk mengingatkan anak-cucu supaya mereka punya semangat dan selalu ingat, supaya kelak tak sampai jadi pengayuh pedal becak!” ujar sang ibu.

KehidupanJanuary 9, 2008 6:37 am

Setiap mendengar Soeharto, bekas penguasa Orde Baru itu, masuk rumah sakit, maka yang muncul di benak saya adalah pertanyaan konyol: sedang ada perkara apa di Cendana? Soeharto, telah mengajarkan kepada saya (juga banyak orang), untuk tidak mudah percaya pada apa yang bisa dilihat dan didengar. Bagi saya, Soeharto adalah pembuat cerita terbaik di dunia. Kalau saja Shakespeare, Beckett, Chekov atau Tolstoy masih hidup, beliau-beliau pasti memilih pensiun dini jadi pujangga.

Soeharto, terlalu sering memancing kita untuk selalu menerapkan ilmu othak-athik gathuk, menghubung-hubungkan berbagai peristiwa atau kejadian untuk membuat kesimpulan yang seolah-olah menjadi benar. Teka-teki selalu ditebar. Gerak bibir dan raut wajah The Smiling General itu, pun selalu melahirkan multitafsir. Hanya orang-orang yang paham kultur Jawa ningratlah yang bakal paham apa maunya Pak Harto.

Karena itulah, teori konspirasi seolah-olah menjadi pantas dan satu-satunya alat yang bisa dipakai sebagai pijakan menganalisa berbagai persoalan. Batuk pun bisa memiliki banyak makna. Sehingga, sakit atau kunjungan ke rumah sakit pun cenderung saya prasangkai sebagai tindakan pura-pura, apalagi bila kunjungan berobat itu terjadi hampir berdekatan dengan rencana persidangan kasus-kasus masa lalunya.

Secara pribadi, saya ingin Soeharto segera sehat, dan segar bugar kembali. Syukur, penyakit short memory syndrom-nya segera hilang. Kesehatan menjadi penting, karena faktor itu yang selalu dijadikan sebagai alibi untuk penghentian proses peradilan seperti dimaui orang-orang Partai Golkar . Soal dosa dan kesalahan masa lalunya lantas dimaafkan, itu soal lain. Dalam hal ini, saya ma’mum apa kata Gus Dur saja.

Kini, saya sudah paham. Tak ada indikasi Pak Harto pura-pura sakit. Kondisi kesehatannya, bahkan memang agak mengkuatirkan alias gawat , sehingga Bu Menteri Kesehatan pun menyatakan siaga satu bagi Tim Dokter . Belum ditambah lagi informasi yang saya peroleh Selasa (8/1) siang, bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Tengah sudah menggelar rapat persiapan, kalau-kalau Pak Harto wafat dalam waku dekat.

Rapat dadakan yang digelar di Semarang, Minggu (5/1) siang, bahkan sudah sampai pada tahap bagi-bagi tugas. Kabarnya, rapat dilakukan karena Markas Besar TNI sudah mengirimkan surat berisi protokoler bila sewaktu-waktu Pak Harto berpulang.

Kota Surakarta, misalnya, kebagian mengurus ketersediaan kamar bagi tamu-tamu penting, termasuk langkah-langkah pengamanan para kepala negara, duta besar dan wakil-wakil pemerintah asing yang akan datang takziah. Juga, mengkoordinasikan pengusaha bunga segar yang bakal ketiban pekerjaan dadakan, membuat karangan bunga dalam jumlah sangat besar, dalam waktu yang –pasti- sangat singkat!

Begitulah kerepotan banyak pihak menyikapi kondisi kesehatan Pak Harto. Suka atau tidak, dia termasuk orang superpenting di republik ini. Masa lalunya yang otoriter membuat banyak pihak dirugikan. Pelanggaran hak asasi manusia banyak terjadi, utang luar negeri juga meninggi. Namun, ia juga memiliki banyak prestasi. Indonesia pernah gemilang dan kaya raya pada masa booming minyak, meski banyak pula keuntungan yang diselewengkan banyak orang.

Kini, ada baiknya kita mendoakan Soeharto agar segera sembuh, sehat total seperti 20 tahun silam. Kita menanti senyum dan lambaian tangan Pak Harto di tengah-tengah proses persidangannya. Salah atau benar, biarlah proses peradilan yang menentukan. Dengan begitu, Pak Harto bisa tenang selama madeg pandhita kanthi tentrem, kalis ing sambikala dan menikmati pensiun dengan riang sambil ngemong anak-putu. Dan, kalau sewaktu-waktu takdir Allah sudah jatuh tempo, maka Pak Harto juga mencapai tataran khusnul khotimah

KehidupanDecember 19, 2007 10:51 am

Kuburan, bagi saya, bukan semata tempat jasad dipendam, tempat ruh menanti proses penimbangan dosa dan amal baik. Kuburan juga merupakan cermin maya bagi mereka yang masih berpijak pada tanah. Bagi pendosa seperti saya, melintas di dekat kuburan bisa menggelorakan rasa takut, meski bagi kaum sufi seperti Jalaludin Rumi, kematian justru merupakan peristiwa yang sangat dinanti.

Pernah pada suatu masa, saya menyukai rumah sakit dan kuburan sebagai tempat pelarian. Ketika kalut mendera atau sedih sedang singgah, saya selalu segera memacu sepeda motor ke dua tempat itu. Melihat orang berduka di lorong rumah sakit, sudah cukup menawarkan hati yang risau. Begitu pula saat mengunjungi kuburan –apalagi pada malam hari, rasa takut segera menyergap sehingga ketenangan kembali datang.

Tapi itu hanyalah cerita masa lalu. Kini, ketika menjumpai kuburan, ingatan yang melintas hampir selalu didominasi oleh tangisan pilu ditingkah deru buldozer. Kuburan segera berubah jadi gedung pencakar langit atau pusat perbelanjaan. Kadang, hati terusik pada cekcok tak perlu karena berziarah dicurigai sebagai perilaku syirik, menyekutukan Tuhan. Berkunjung ke kuburan dianggap meminta sesuatu dari yang mati.

Kuburan, dengan kacamata apapun kita melihatnya, bagi saya tetap sesuatu yang menarik. Mungkin sama tertariknya dengan Arbain Rambey, meski wartawan KOMPAS itu lebih menyukai kuburan tua sebagai subyek fotonya.

Di Jawa pedalaman seperti Surakarta dan sekitarnya, misalnya, sebagian besar masyarakatnya masih mengagungkan hubungan dengan leluhurnya, bahkan hingga sekian generasi di atasnya. Ritual nyadran adalah salah satunya. Dalam tradisi ini, orang berduyun-duyun ke pusara leluhur dan kerabat untuk mendoakan arwahnya. Ada yang dengan membaca surat Yasin dan tahlil bagi sebagian umat Islam, ada pula yang mendoakan dengan keyakinan agamanya sendiri-sendiri.

Kuburan memang hanya sebuah nisan atau gundukan tanah yang diberi tanda. Tapi derajad penghormatannya bisa beraneka rupa. Ada yang dibuat rumah-rumahan sederhana, ada yang dikelilingi tirai putih seperti makam para wali, ada pula yang dikitari lantai marmer yang mewah dengan bangunan mewah berbahan kayu jati tebal berukir seperti makam keluarga Soeharto di Giribangun.

Namun, ada pula pemakaman yang sederhana seperti yang saya jumpai di sebuah desa di Jepara. Di atas sebidang tanah tak seberapa luas, saya hanya menjumpai sedikit makam bernisan. Selebihnya, hanya kayu-kayu penanda yang ‘ditanam’ pada tanah yang nyaris datar. Pada setiap Kamis menjelang senja, bergiliran orang datang membaca doa. Di tepian kuburan, terdapat puluhan dingklik, semacam bangku kecil untuk duduk seraya berdoa, yang memakan waktu rata-rata 30 menit pada setiap makam yang dikunjungi.

Saya hanya bisa menebak-nebak, jangan-jangan bentuk kuburan itu merupakan kompromi kaum muslim di sana. Ada puritanisme yang harus diperjuangkan, yakni untuk tidak mengotori makam leluhur dengan nisan yang dipersepsikan sebagai peninggalan kebudayaan animisme-dinamisme, namun tetap datang berziarah dengan membacakan surat Yasin dan mengumandangkan tahlil sebagai pengamalan ajaran Islam tradisional sebagaimana dibawa Wali Songo.

KehidupanJuly 11, 2007 8:19 am

Pemanasan global membuat kemiskinan kian menjamur. Di Juwangi, Boyolali, mayoritas petani ladang memperoleh penghasilan kurang dari Rp 100 ribu dalam satu musim tanam jagung. Sebuah penghasilan yang sangat tidak memadai untuk memenuhi kebutuhan minimal empat jiwa dalam satu sekeluarga. Jauh dari indikator kemiskinan versi World Bank yang besarnya US$ 1 perhari. Berikut potret sekilas kehidupan mereka.

Jerukan, Pilangrejo dan Kayen hanyalah noktah kecil dalam sebuah peta besar bernama Indonesia. Sangat tak tampak, namun cukup memberi gambaran betapa kerakusan orang-orang kaya di kota –bahkan di luar Indonesia- memberi kontribusi pada keabadian kemiskinan mereka.

Mereka tak tahu apa itu global warming. Kalaupun pernah mendengar climate change, paling juga tak paham maksudnya. Bukan meremehkan mereka, tapi begitulah realitasnya, karena rata-rata pendidikan di sana hanya sampai setingkat SMP. “Bagaimana mungkin kami menyekolahkan anak-anak kami sampai SLTA kalau biaya transportasinya saja sudah Rp 10 ribu?” tutur Purwadi, seorang warga Kayen.

Satu hal yang mereka tahu dan rasakan hanyalah musim tak pernah lagi mau berjanji. Pranotomongso tak lagi bisa dijadikan patokan bercocok tanam. Warisan leluhur itu hanya relevan hingga sepuluh tahun silam, ketika kertas tisu sudah menjadi produk murahan yang selalu ada di setiap ruang kehidupan kaum kaya: di toilet, ruang makan, ruang tamu, tas hingga mobil, hingga warung tegal di sudut-sudut jalan perkotaan.

Teriakan para aktivis lingkungan agar pembabatan hutan dihentikan, tak pernah digubris. Yang terjadi justru sebaliknya, kongkalikong penguasa-pengusaha mencukur hutan secara semena-mena, tanpa mau tahu tindakan itu merusak lapisan ozon, filter alami yang menyelamatkan penghuni bumi.

Sejujurnya, saya curiga. Program bersama ratusan negara di bawah PBB seperti tertuang dalam Millenium Development Goals hanyalah akal-akalan pemimpin negara-negara kaya di Utara. Pengurangan jumlah penduduk miskin, perhatian pada perluasan akses air bersih bagi penduduk miskin dan sebagainya hanyalah lips service semata.

Kehidupan penduduk Juwangi hanyalah potret kecil kegagalan negara dan badan-badan kemanusiaan dunia mengurangi ketimpangan Utara-Selatan. Mana mungkin seseorang bisa hidup sehat bila saat tidur saja harus bersanding dengan kambing-kambing mereka? Bagaimana pertumbuhan anak-anak di sana bisa maksimal ketika untuk makan dan minum saja harus menyaring air sungai yang hanya tersedia seusai musim hujan yang tak seberapa lama?

Konon, 60 tahun mendatang, permukaan laut di utara Jakarta bakal naik 10 meter sehingga sebagian Jakarta sudah tertelan samudera. Kuningan sudah tak lagi ada. Pada kurun waktu yang sama, kabarnya London juga sudah tenggelam akibat perubahan iklim dan mencairnya es di kutub utara. Jangan-jangan, Konferensi Perubahan Iklim di Bali, Desember mendatang, juga tak terselenggara manakala London tak terancam hilang dari peta dunia. Wallahu a’lam

KehidupanFebruary 8, 2007 8:33 am

Seorang sahabat bertutur, ayahnya yang seorang pembina mental narapidana berganti agama lantaran melihat kesalehan seorang tahanan. Bahkan, anak-anaknya lantas disekolahkan di pondok pesantren. Pemuda nakal di desa saya sesumbar, tak takut masuk penjara lantaran yakin bakal ‘naik kelas’ bila di biodatanya berisi pengalaman mondok di losmen prodeo. Sementara, di kantor polisi para polisi yang masih berstatus magang juga belajar kekerasan dari senior-seniornya. Para tahanan sementara pun dijadikan obyek kekerasan sambil menunggu berkas perkaranya disetor ke kejaksaan.

Itulah potret sekolah alternatif di negeri kita. Dengan caranya sendiri-sendiri, mereka bisa memaknai penjara. Sepupu saya yang sempat mondok sepekan di kantor polisi, misalnya, menjadi takut luar biasa bertindak gegabah dan emosional. Ia menyesali tindakannya bersama tiga temannya menganiaya remaja berandalan yang tinggal bertetangga. Bahkan, ia merasa hidupnya menjadi sia-sia karena ketakutan tak bakal memperoleh surat pernyataan berkelakuan baik alias SKKB di kemudian hari. Apalagi, ia sudah menganggur setahun lantaran habis masa kontrak dengan sebuah perusahaan asing di Cikarang. Untuk bisa survive dengan menjadi buruh, ia memerlukan SKKB untuk senjata.

Nasi telah menjadi bubur, mentalnya kerasnya menjadi lembek lantaran salah bertindak. Kini, yang tersisa hanyalah kenangan pahit di balik jeruji kamar tahanan. Ada yang getir, ada pula yang lucu superkonyol. Ia berkisah, kakinya sering ditindih dengan kaki kursi yang lantas diduduki seorang polisi. Kepala diraih dan dibenturkan ke terali besi ia alami berulang kali. Ditinju, juga sudah belasan kali. “Setiap pergantian piket, mereka pasti memukul atau menganiaya saya,” tutur sepupuku.

Usai memukul, sang polisi -baik yang magang maupun yang senior, akan menanyakan sakit atau tidaknya dihajar. Kalau menjawab lirih, tindakan yang sama akan diulang. Tapi kalau menjawab dengan lantang, maka tindakan itu akan dianggap menantang. Buk! Pukulan atau tendangan, akan segera mengenai bagian tubuh yang mana saja sesuai selera.

Apapun kasusnya, tak ada perbedaan perlakuan. Lex specialis seperti istilah plesetan. Kejahatan sistemik dan komunal, sepertinya sudah menjadi hukum tersendiri di lembaga kepolisian (meski saya yakin sesungguhnya polisi-polisi baik hati jumlahnya masih mendominasi). Makanan, rokok atau air mineral yang dibawa sanak-saudara tahanan sementara misalnya, tak pernah sampai ke tangan yang berhak. Semua itu berubah menjadi setoran’ untuk para petugas jaga. Mungkin agar tak ngantuk atau bete, karena yang dilihatnya hanya yang itu-itu saja.

Sepupuku berceritera, kalau pagi-pagi dihidangkan nasi urap (makanan mewah di tahanan), itu berarti isyarat. Sebab pada siang harinya, masing-masing tahanan akan kebagian giliran: entah pukulan, tendangan atau tindakan kekerasan lainnya. Saya baru paham, ternyata polisi juga belajar ilmu gizi. Dengan makan nasi gudhangan, stamina fisik akan menjadi lebih prima dari hari biasa. Karena itu, pukulan sekeras apapun akan bisa diterima tubuh lantaran adanya suntikan vitamin, protein dan karbohidrat memadai.

Yang superkonyol, pun tak lupa dituturkan sepupu saya sembari tertawa. Seorang pendatang baru tinggal di sel sebelahnya. Remaja 18 tahun itu ditangkap polisi lantaran melakukan pemerkosaan gadis belia. Di sel itu, sang remaja dipaksa tahanan kriminal lainnya (rata-rata residivis) untuk melakukan onani dengan balsam. Setiap malam, ia disuruh menyanyi sampai para tahanan mengantuk. “Kalau telinga kanan dijewer, orang itu harus menyanyi dan baru boleh berhenti kalau telinga kiri sudah dijewer,” tutur sepupuku. Ia ngeri menyaksikan kuping menjadi saklar switch on dan switch off.

Kekerasan demikian, ternyata lumrah saja di penjara. Alih-alih mencegahnya, polisi jaga justru tertawa dan ikut menikmati peristiwa demikian. Sebuah papan putih mencolok bertuliskan larangan menganiaya tahanan yang terpampang di samping petugas jaga, rupanya hanyalah hiasan semata. Mungkin, maksudnya baik, agar para keluarga tahanan tak memiliki rasa kuatir akan keselamatan sanak-saudaranya selama ‘bersekolah’ di sana.

Baca juga: Setitik Nila pada Susu Polisi

KehidupanNovember 28, 2006 5:12 am

Bahasa bisa dijadikan sebagai alat untuk mengidentifikasi kwalitas sebuah bangsa. Bahwa bangsa Indonesia layak disebut permisif, sudah pernah dibuktikan secara massif, terutama pada kurun 1980-an hingga akhir 199o-an seiring dengan surutnya kekuasaan Soeharto. Alih-alih mengkampanyekan berbahasa Indonesia dengan baik dan benar, yang kita jumpai justru perilaku imitasi yang dilakukan oleh birokrat resmi pemerintahan, hingga yang tak resmi semisal para Ketua RT atau RW.


Garuda Indonesia, maskapai penerbangan milik negara pun tak luput dari ‘dosa’ memberi contoh berbahasa yang salah

Jangankan pidato-pidato atau sambutan resmi sebuah peristiwa di sebuah instansi, dalam rapat-rapat kampung, pun Pak RT dan Pak RW (sebutan untuk para ketua) latah mengucapken puluhan kosa kata yang baek dan bener. Para ahli bahasa dibuat repot. Mengkritik atau meluruskan perilaku berbahasa Pemimpin Tertinggi republik berarti bunuh diri. Namun, sikap diam bisa dianggap membenarkan sebuah kesalahan, yang berarti melawan moralitas intelektualnya.

Sudah sewindu Panglima Orde Baru lengser keprabon, tapi kesalahan berbahasa telanjur merebak kemana-mana dan meliputi seluruh kelompok masyarakat, baik yang masuk kategori ‘rakyat’ maupun ‘warga negara’. Pada kelompok ‘rakyat’, kita bisa menjumpainya dimana-mana: papan nama usaha (tambal ban atau jual-beli tanah), spanduk penutup warung kakilima dan sebagainya.


Papan nama sebuah toko di Pekalongan pun tak luput dari kekeliruan

Pada kelompok ‘warga negara’ kita bisa menemukan beragam kesalahan melalui teks-teks pidato atau sambutan pejabat sebuah instansi, bahkan pada papan nama, billboard atau spanduk yang terbentang di jalan-jalan utama kota yang dipasang oleh sebuah instansi tertentu. Situasi demikian diperparah lagi oleh banyaknya ‘ajaran’ berbahasa yang tidak benar melalui layar kaca (silakan pilih nama stasiunnya, semua pasti ada!), terutama pada penulisan subtittle dialog film berbahasa non-Indonesia dan kalimat-kalimat yang terpajang lewat running text.

Rasanya ada perbedaan makna, antara kata pejabat dengan penjabat

Mungkin, kita tak butuh polisi bahasa, sebab itu akan memberi kesan seram dan represif (maklum, kita telanjur alergi dengan aksi-aksi ekstrapolisioner oleh berbagai institusi negara yang menimbulkan dampak traumatik bagi rakyatnya). Tapi, bahwa Pusat Bahasa dan para ahli-ahli bahasa harus lebih intens mengkampanyekan berbahasa yang sungguh-sungguh baik dan benar, itu harus didukung oleh sepenuhnya oleh para penyelenggara pemerintahan. Dari presiden hingga kepala desa, orang-orang di parlemen hingga seluruh pejabat di institusi pemerintahan.

Kalaupun gagasan demikian terkesan top-down, tak lain dilatari oleh kenyataan mentalitas sebagian besar masyarakat kita yang sudah terbiasa mengganggap kaum birokrat dan kelompok berada sebagai teladan. Mungkin, itulah yang dimaksud dengan budaya paternalistik.

Yang sudah jelas, kita teramat mudah menjumpai kesalahan-kesalahan berbahasa, terutama dalam bahasa tulis. Silakan cari di situs-situs (juga blog-blog) favorit Anda, saya yakin banyak bertebaran kesalahan yang saya maksud, termasuk sejumlah penerbitan (surat kabar, majalah, tabloid) papan atas kita.

KehidupanOctober 6, 2006 7:33 am

Teman saya seorang senirupawan terapan. Berlatar belakang pendidikan seni grafis, sempat menjadi desainer, namun kini ’terdampar’ sebagai ahli air brush, khususnya untuk produk-produk media luar ruang. Untuk pekerjaan yang satu ini, bisa dibilang ia sebagai salah satu jagoan di Surakarta.

Sayang, ia terkungkung dalam ketidaktahuannya. Ia polos, tidak neka-neka. Mungkin karena hampir seluruh hidupnya dihabiskan di lingkungan komunitas seniman ’underdeveloped culture’, sehingga tidak paham perkembangan praktek jual-beli benda-benda seni.

Contoh paling nyata adalah ketia ia berusaha mewujudkan niat baiknya dengan cara yang keliru. Ia, misalnya, berupaya memperbaiki lukisan Raden Sajid (kalau tak salah buatan tahun 1893. Lihat: Foto A) yang sudah robek. Ia lalu menjahitnya dan menambal kerusakannya dengan cat baru (Foto B). Hal itu ’harus’ dilakukannya sebab ia ingin menjual lukisan itu.

Teman itu sama sekali tak menyadari, niat baiknya justru merusak ’nilai’ lukisan itu sendiri. Membiarkannya tetap rusak akan membuat lukisan itu tetap bernilai dibanding ia sendiri yang memperbaikinya. Apalagi, secara keseluruhan, lukisan itu masih bagus. Warna cat, kualitas kanvas, begitu pula dengan goresan-goresan Raden Sajid, masih utuh. Detilnya pun masih terjaga otentisitasnya walau lukisan itu sudah melintasi waktu tak tak bisa dibilang pendek.

Kini, sang teman hanya bisa menyesali perbuatannya. Apalagi ketika ia menyadari, dunia perdagangan benda-benda seni (di belahan bumi manapun juga) menuntut sejumlah syarat yang tak ringan, yang tak cuma menyangkut keaslian barang dagangan. Profil dan sejarah hidup pelukis, usia lukisan, jelas menjadi faktor penentu nilai jual lukisan, walaupun praktek goreng-menggoreng lukisan bisa saja dilakukan, tergantung kepiawaian sang dealer, atau populer dengan sebutan kolekdol, koleksi sementara lalu adol alias menjualnya.

Memang, nilai jual lukisan, dalam banyak kasus masih lebih obyektif dibanding benda-benda tosan aji, seperti benda-benda pusaka atau praktek perdagangan ikan Louhan, hingga jual-beli saham perusahaan. Walaupun, praktek goreng-menggoreng juga sama dahsyatnya, tergantung kepiawaian dan kelicinan silat lidah sang dealer, benda seperti lukisan memiliki parameter yang lebih jelas.

Pernahkah Anda bertemu dengan dealer tosan aji atau broker Louhan atau saham? Hati-hati, jangan mudah percaya kepada bumbu-bumbu manis mereka. Tiga jenis barang dagangan itu, sering dijajakan dengan cara seperti penjual mebel antik. Disebut barang tua, pernah dipakai keluarga raja ini atau pangeran itu, namun sesungguhnya barang baru namun dibuat seolah-olah berusia ratusan tahun dengan cara merendamnya di sungai selama berbulan-bulan lantas menjemurnya berhari-hari. Begitu terus berulang kali sampai muncul efek visual sebagaimana dikehendaki, misalnya cat akan tampak mengelupas dan sebagainya.

Anda pasti akrab dengan cerita harga Louhan bisa berpuluh-puluh juta hanya karena pada tubuh sang ikan muncul simbol-simbol tertentu? Cobalah sesekali Anda membelinya lalu menjualnya kembali. Saya berani bertaruh, uang Anda tak pernah kembali seperti sedia kala, apalagi memperoleh untung darinya. Sebab, nilai penjualan besar hanya diembuskan oleh para anggota sebuah jaringan semata-mata untuk mengail keuntungan.

KehidupanOctober 3, 2006 6:08 pm

Ini kisah kehidupan di Negeri Kambing, dimana antara kambing dan manusia tiada beda. Di negeri itu, tak ada istilah perikemanusiaan. Juga tak dijumpai kata perikehewanan (mungkin karena peri tidak masuk dalam kategori benda, dalam pengertian yang mewujud). Egaliter. Semua makhluk sama derajadnya!

Karena sederajad itulah, maka kambing dan manusia yang mendiami Desa Jerukan, nun di pedalaman Kadipaten Bajulkesupen, Jawi Madya, bisa bekerjasama, meski tidak bahu-membahu. (Sebab kata bahu-membahu di desa itu masih terpengaruh kebudayaan Jawa yang adiluhung nan hegemonik. Sebab kata bahu akan bermakna konotatif dan menunjuk pada strata sosial rendahan, yakni semacam budak atau minimal sebagai pihak yang dijadikan obyek untuk disuruh-suruh).

Kambing dan manusia, misalnya, sama-sama menggunakan air yang sama untuk keperluan masing-masing. Dan, kambing-kambing di sana cukup tahu diri, tak pernah menceburkan diri demi membersihkan tubuh. Karena itu, bau tubuh kambing tak jadi polusi. Sebab air hujan yang membentuk genangan di dasar kali, dengan luas tak lebih dari setengah lapangan badminton (yang biasa dipakai untuk sarana olahraga manusia beradab), itu menjadi andalan sekitar 200-an manusia yang tinggal di sekitar dusun itu.


Bukan saja untuk mandi (yang hanya sekali dalam sehari), namun juga untuk minum dan memasak, meski harus mengendapkan minimal semalam suntuk agar kembali jernih. Tanpa proses pengendapan, air jelas berasa. Minimal pahit! Sebab pada setiap sore, pasti ada puluhan perempuan (dari anak-anak hingga lanjut usia) yang silih berganti mencuci pakaan dan perkakas dapur, lengkap dengan deterjen yang diyakini sebagai pembersih (asal tahu saja, beraneka merek dan jenis deterjen sudah diperdagangkan orang-orang kota di pedusunan itu).

Aneh, memang. Setahun lalu, sejumlah manusia yang ‘lebih beradab’ pernah mengunjungi dusun itu, dan memberitakan secara gencar tentang nasib manusia di situ. Ada yang lewat televisi, ada pula melalui surat kabar tercetak. Sementara, orang-orang kota (yang pasti lebih beradab) sama sekali tak terpengaruh pemberitaan yang lumayan gencar waktu itu. Padahal, penduduk Negeri Kambing sudah yakin, manusia kota yang diharapkan bisa mengubah nasib mereka (sesuai sabda Tuhan yang menjanjikan perubahan nasib manusia hanya bisa dilakukan melalui ikhtiar dan usaha), ternyata lebih dungu dan bebal dibanding kambing-kambing di desanya.

Tapi, boleh jadi ketiadaan perubahan itu juga merupakan akibat dari kesalahan manusia-manusia di sana. Terlalu percaya pada berita yang dibuat wartawan (baca: manusia kota) akan mengubah kedunguan manusia kota penentu kebijakan semesta raya, membuat mereka lupa diri untuk menuntut secara langsung. Atau sebaliknya, mereka sudah menjadi makhluk berfilosofi narima ing pandum lan pepesthi (orang Betawi menyebutnya dengan menerima jatah dan takdir), sehingga mereka tak sudi lagi menuntut paksa perbaikan hidup mereka.

Mungkin, mereka lebih asyik berkaca pada tabiat kambing. Yakni, menerima apa adanya, berbagi makanan secara adil –sama rasa (walau hanya bisa) agak rata, meski rumput nyaris enggan tumbuh di dasar kali dengan bebatuan putih berkapur campur cadas. Kalau kambing saja bisa tabah, kenapa manusia tidak?!?. Begitu kira-kira mereka menggumam.

Apalagi, kambing yang bagi manusia kota hanya dianggap hewan tak berguna (meski lahap menyantap dagingnya), adalah sosok penyelamat kelangsungan hidup mereka. Saat ladang tak membuahkan bahan makanan, mereka bisa menuntunnya hingga ke pinggir kota. Kambing bisa ditukar menjadi beras, garam dan deterjen (walau mereka tahu, saat kaki belum lagi menginjak halaman rumah, Sang Kambing sudah dibantai, dan serpihan tubuh Sang Kambing sudah sampai pankreas orang kota, bahkan sudah berubah wujud menjadi gumpalan pekat –MAAF- berwarna kuning kecoklatan).

Sayang, hanya gara-gara air, manusia menjadi jauh kurang berharga dibanding seekor kambing (sementara orang kota, telah menjadikan air sebagai komoditas yang bisa diperjualbelikan secara semena-mena).

Kehidupan 6:55 am

Lain ladang, lain belalang. Beda negara, tak sama pula cara bersikap terhadap bahaya asap rokok. Setidaknya, kita bisa membandingkan cara negara memperingatkan bahaya asap buatan itu melalui kemasan rokok. Secara eufemistik dan setengah hati, Pemerintah Indonesia mewajibkan penulisan peringatan bahaya itu dengan teks “Merokok dapat menyebabkan kanker……..”. Dengan kalimat begitu, seolah-olah asap rokok hanya berbahaya jika… (begini atau begitu).

Bandingkan dengan sikap Pemerintah Kuba yang lebih tegas. (Karena tak tahu arti bahasa peringatan dalam sebuah kemasan rokok cerutu filter –oleh-oleh dari seorang teman, maka saya mengambil contoh simbol larangan merokoknya saja). Di Kuba, tingkat bahaya asap rokok bahkan ditonjolkan melalui pencantuman kadar senyawa kimia karbonmonoksida pada kemasan rokok. Jadi, tak Cuma mencantumkan kadar tar dan nikotin saja.

Itulah misteri rokok. Banyak orang menentang keras peredaran rokok dan tindakan merokok, namun tak berdaya ketika dihadapkan pada persoalan mencari solusi bila industri rokok ditutup. Maju-mundurnya dunia olahraga dan industri musik di Indonesia, misalnya, sangat bergantung pada partisipasi sponsorship industri rokok. (Coba tunjukkan, adakah cabang olahraga dan artis mana yang terbebas dari ‘campur tangan’ industri yang satu ini?)

Jangankan atlet dan artis, Presiden pun akan dibuat pusing seribu keliling kalau industri rokok kita gulung tikar. Menteri Tenaga Kerja akan pusing memikirkan ratusan ribu buruh linting yang harus menganggur (hitung pula jumlah jiwa yang tergantung pada satu pekerja) tiba-tiba. Sementara Menteri Keuangan juga bingung menyusun APBN karena puluhan triliun potensi penerimaan cukai akan melayang sia-sia, dan kebingungan mesti menutup dengan cara apa. Sementara, beban utang negara sudah mencapai Rp 1.300 triliun.

Ya, begitulah rokok. Ia selalu penuh misteri. Dibenci, sekaligus diakrabi. Pencantuman kadar tar dan nikotin pada kemasan rokok, misalnya, dicurigai para pengusaha rokok kretek di Kudus, Jawa Tengah sebagai praktek ‘curang’ industriawan rokok raksasa dunia –seperti Phillip Morris Inc., British American Tobacco/BAT, yang hanya memproduksi rokok putih.

Phillip Morris Inc., British American Tobacco/BAT, dan lain-lain, dianggap melakukan kampanye habis-habisan melawan peredaran rokok kretek dengan membawa isu-isu kesehatan, karena tingginya kadar tar dan nikotin pada rokok kretek. Di Indonesia, para pengusaha rokok kretek bahkan sempat marah kepada Presiden Habibie karena penerbitan Peraturan Pemerintah No. 81 Tahun 1999 dicurigai sebagai hasil lobi raksasa rokok dunia itu.

Catatan:
Atas masukan dan saran Bangsari , ralat sudah dilakukan pada Rabu (4/10) pukul 11.20 WIB

KehidupanAugust 15, 2006 8:14 am

Koran Tempo edisi 14 Agustus 2006 menurunkan sebuah tulisan menarik. Mengutip sejumlah sumber -termasuk majalah TIME sebagai rujukan utama, koran itu mengabarkan pesan penting dan menyejukkan. Yakni, kisah seorang muslim bernama Wajeeh Nuseibeh yang menjaga Gereja Makam Kudus di Yerusalem. (Mungkin yang dimaksud ‘makam’ di sini adalah penyederhanaan istilah untuk menyebut tempat itu sebagai lokasi penyaliban Yesus dan tempat kebangkitan Isa Almasih -Penulis)

Lelaki berusia 55 tahun, itu menjadi juru kunci secara turun-temurun. Kata koran itu, moyang Nuseibeh adalah orang Arab, prajurit Khalifah Umar bin Khaththab yang ditugasi menjaga gereja itu semasa khalifah yang terkenal arif bijaksana itu menguasai Yerusalem pada 638 masehi. Uniknya, Nuseibeh dan generasi-generasi sebelumnya juga bertindak sebagai ‘wasit’, sebab gereja itu diperebutkan oleh tujuh sekte dalam Kristen.

Namun, kendati bertikai memperebutkan gereja, tujuh sekte itu ‘kompak’ dalam menggaji Wajeeh Nuseibeh rata-rata sekitar Rp 45 ribu per bulan sehingga pendapatan resminya menjadi sebesar Rp 315 ribu dalam sebulan. Meski berpendapatan resmi cukup kecil, namun Nuseibeh bisa memperoleh pendapatan lebih besar, karena ia berhak memperoleh tambahan dari tip atau honornya sebagai pemandu bagi wisatawan/pengunjung gereja itu. Ladang zaitun yang luas milik keluarganya -yang menjadi sandaran hidup mereka, sudah musnah akibat perang, ketika Israel menjajah Yordania pada 1967.

Foto: Katherine Kiviat for TIME >>>>>

Nuseibeh mengaku memperoleh kepercayaan dari orang-orang Kristen dari sekter yeng berbeda itu, yang sudah berabad-abad dihinggapi kecurigaan dan kebencian antarsesama. “Kaum Kristen menilai aku netral,” katanya. Ia pun tegas menjawab ketika ada orang yang mempertanyakan ‘kadar’ ke-Islam-annya gara-gara menjadi juru kunci makam suci umat Kristiani itu. “Kami tidak fanatik. Kami menghormati kaum Kristen,” ujar Nuseibeh.

Sikap Nuseibeh adalah teladan yang sangat baik. Tak hanya untuk umat Islam atau Kristen, tapi seluruh umat manusia di muka bumi, bahkan mereka yang tidak beragama sekalipun. Dunia mesti dirawat, pesan damai harus selalu disemaikan seperti halnya kita bernafas.

Ketika saya tunjukkan tulisan di Koran Tempo, itu kepada seorang kiai di Surakarta, sang kiai yang juga aktivis kerukunan umat beriman itu justru menyodorkan contoh kerjasama Islam-Kristen lainnya. “Markas Bunda Theresa di Calcutta itu juga wakaf keluarga muslim, lho,” ujarnya.

Saya tersipu. Ternyata yang saya ketahui barulah salah satu contoh saja yang semula kuanggap berita besar. Tapi, saya tetap berusaha menenangkan diri, sambil menghibur hati sekadar untuk memanipulasi fakta cubluk ing pangertosan. “Coba kalau berita-berita semacam itu dipublikasikan secara massif, tentu aku tak bakal jadi korban ketidaktahuan,” gumamku, anglelipur ati.

Saya jadi teringat masa-masa pascakerusuhan Mei 1998 di Surakarta, ketika mengajak seorang kiai mengunjungi GKI Sangkrah, ngobrol ngalor-ngidul dengan beberapa remaja di gereja itu. Eh, ternyata responnya luar biasa. Beberapa hari berselang, sang kiai diminta tampil di mimbar gereja di hadapan jemaat seusai kebaktian. Sungguh peristiwa menyejukkan dan membahagiakan, sebab kebanyakan jemaat gereja itu adalah keturunan Tionghoa yang baru saja dianiaya, entah oleh kekuasaan apa. Rumah-rumah mereka dibakar, toko-toko mereka juga dijarah lalu dimusnahkan.

*Terima kasih pada Pdt. Mungki A. Sasmita, Amir Sidharta, Goenawan Mohamad, Trisno S. Sutanto, KH. M Dian Nafi’, dr. Sofyan Tan dan teman-teman Jaring, MADIA dan Teater Gidag-gidig